Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2011

John Dewey: berpikir kritis merupakan proses berpikir yang reflektif

Berpikir kritis merupakan pertimbangan yang aktif, persisten (terus menerus), dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dipandang dari sudut alasan-alasan yang mendukungnya dan kesimpulan-kesumpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya (Dewey, 1909, hlm. 9).

Langkah-langkah berpikir kritis (Glaser, 1941, hlm. 6):

1. Mengenal masalah

2. Menemukan cara-cara yang dipakai untuk menangani masalah-masalah itu

3. Mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan

4. Mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan

5. Memahami dan menggunakan bahasa yang tepat, jelas, dan khas

6. Menganalisis data

7. Menilai fakta dan mengevaluasi pernyataan

8. Mengenal adanya hubungan yang logis antara masalah-masalah

9. Menarik kesimpulan dan kesamaan yang diperlukan

10. Menguji kesamaan dan kesimpulan yang diambil

11. Menyusun kembali pola-pola keyakinan berdasarkan pengalaman yang lebih luas

12. Membuat penilaian yang tepat tentang hal-hal dan kualitas-kualitas tertentu dalam kehidupan sehari-hari

Keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam berpikir kritis:

a) Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan- alasan dan kesimpulan-kesimpulan.

b) Mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi-asumsi

c) Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan-gagasan (grafik, bagan, teks, pidato, tindakan, bahasa tubuh, dan lain-lain)

d) Menilai akseptibilitas, khususnya kredibilitas klaim-klaim

e) Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya

f) Menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan penjelasan-penjelasan

g) Menganalisis, mengevaluasi, dan membuat keputusan-keputusan

h) Menarik inferensi-inferensi

i) Menghasilkan argumen-argumen

Penarikan kesimpulan atas argumen-argumen:

<alasan 1> dan <alasan 2> dan <alasan …> sehingga <kesimpulan>

<alasan 1> sehingga <kesimpulan 1> oleh karena itu <kesimpulan 2>

Akseptibilitas alasan:

Akseptibilitas juga meliputi kredibilitas, yaitu sejauh mana kita dapat mempercayai suatu sumber. Melalui berpikir secara kritis, kita akan dapat menilai kredibilitas sumber dengan terampil.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menilai kualitas sumber adalah sebagai berikut:

I) Pribadi/sumber yang kredibilitasnya ingin kita nilai

II) Keadaan atau konteks ketika klaim itu dibuat yang mempengaruhi kredibilitasnya

III) Pembenaran yang diberikan oleh sumber untuk mendukung klaim

IV) Sifat dan dasar klaim

V) Adanya bukti-bukti yang menguatkan dari sumber-sumber lain

Mengevaluasi inferensi:

1. Evaluasi inferensi dapat dilandaskan pada kesahihan deduktif dan alasan lain. Inferensi sendiri berarti perpindahan yang kita buat dari alasan hingga kesimpulan. Klaim pertama akan membenarkan klaim kedua. Dari klaim kedua tersebut, kita dapat menarik sebuah kesimpulan melalui silogisme.

Semua A adalah B

C adalah bagian dari A

Kesimpulan: C adalah B

2. Asumsi dan argumen-argumen lain yang relevan juga merupakan kriteria evaluasi inferensi.

Membuat keputusan:

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat keputusan adalah opsi, konsekuensi, nilai dan risiko.

Disadur dari:

Fisher, Alec. 2008. Berpikir Kritis: Sebuah Pengantar dlm. Gugi Sagara. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Advertisements

Read Full Post »

Adieu, forêts, adieu, prairies couvertes de fleurs, champs d’or.

Et vous, vallées paisibles, adieu!

Jeanne dit adieu aujourd’hui.

Au revoir à jamais. Oui, à jamais, à jamais, au revoir!

 

Mes prairies couvertes de fleurs et mes forêts ombragées,

Vous fleurirez pour les autres, pas pour moi.

Adieu forêts, eau claire de source:

Je pars, et je ne vous verrai jamais plus.

Jeanne fuit de vous, à jamais, oui, à jamais.

 

Oh vallée sucrée où j’ai connu de la joie!

Aujourd’hui je vous laisse, vallée sucrée!

Et je laisse mes agneaux dans les prairies vertes,

La demander en vain qui les a menés.

 

Je dois mener des hommes courageux sur le champ d’honneur,

Rassembler les dépouilles sanglantes de victoire!

Je vais où les voix m’appellent.

Voix sacrées, voix sacrées qui m’appellent!

 

Ah Seigneur !, vous voyez dans les profondeurs de mon âme! ( pour Seigneur ah… pour montagne oh)

Mon coeur se casse, mon âme souffre,

Mon coeur se casse, mon coeur saigne!

 

Ah Seigneur , vous voyez dans les profondeurs de mon âme!

Mon coeur se casse, mon âme souffre,

Mon coeur se casse, mon coeur saigne!

 

Oh montagnes bien-aimées, adieu, adieu, forêts ombragées,

Et vous, vallées paisibles, adieu!

Jeanne dit adieux aujourd’hui à jamais,

À jamais au revoir! Oui, à jamais, à jamais, adieu

 

Read Full Post »

Hari Minggu Biasa ke-31

Bacaan Injil

Matius 23 : 1 – 12 

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;

mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;

mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan:

Sebelum kita masuk ke dalam analisis Injil, saya hendak memberikan sebuah cerita pendahuluan.

Kita tentu mengetahui bahwa para dokter muda seringkali ditugaskan di daerah pedalaman. Dokter-dokter muda itu ada yang selalu saja mengenakan jas putih setiap kali bepergian ke sana kemari di daerah tersebut. Kira-kira mengapa? Ternyata beberapa di antaranya beralasan ingin dilihat sebagai dokter. Dalam hal ini, gengsi berperan. Padahal, dokter-dokter spesialis yang sudah senior di rumah-rumah sakit internasional jarang mengenakannya. Mereka hanya memakai jas di ruang praktik. Di luar itu, mereka tampak seperti orang biasa. Tidak menunjukkan atribut atau seberapa hebat mereka.

Di dalam bacaan di atas, kita melihat Yesus yang mengkritisi para ahli Taurat. Namun, inti pengajarannya kali itu bukan pada koreksi-koreksi tersebut.

Yang ingin ditekankan oleh Yesus adalah:

“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”

Siapa pun yang merasa diri besar haruslah lebih melayani daripada orang lain. Kalimat ini bukan sebuah pengandaian. Bukan berarti bahwa agar kita menjadi orang besar, maka harus melayani orang lain. Kalimat ini begitu lugas ditujukan untuk kita semua.

Untuk menyikapinya, pertama-tama kita harus merefleksikan perbuatan diri kita sendiri. Mungkin, selama ini kita selalu ingin dihormati; disanjung; dipuji-puji; dikenal banyak orang. Yesus tidak ingin kita mengejar kekuasaan diri. Dia tidak ingin kita menjadi orang yang merasa diri terlalu hebat dan berjasa bagi kehidupan orang lain. Yesus tidak mau kita mengejar status “idola”. Ia mau supaya kita menjadi orang-orang yang rendah hati.

Dari sana, Yesus mengajak kita menjadi orang yang biasa. Dengan menjadi orang yang sederhana, kita akan lebih leluasa dalam melayani orang lain. Sudah tidak ada lagi rasa tinggi hati yang membuat kita merendahkan orang lain. Hidup kita tidak terfokus pada keagungan kita sendiri. Semua perbuatan baik yang kita lakukan adalah bagi kemuliaan Allah, bukan kemuliaan kita.

Banyak para pemusik ternama dunia – Bach, Mozart, Beethoven, Chopin, Dvorak, dan lain sebagainya – adalah orang-orang yang diilhami oleh Tuhan. Mereka menggubah bukan untuk ketenaran diri mereka sendiri. Para komposer hebat itu mengerti bahwa segala karunia dan talenta mereka yang luar biasa  merupakan pemberian Tuhan. Dari situlah berasal kerendahan hati yang meliputi karya-karya abadi mereka.

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Read Full Post »

Tetanus: gangguan neurologi yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.

Clostridium tetani: bakteri gram positif berbentuk batang yang selalu bergerak dan merupakan bakteri anaerob obligat yang menghasilkan spora. Tetanospasmin merupakan eksotoksin yang terdiri dari rantai polipeptida tunggal.

Epidemiologi

Penyebaran tetanus bersifat sporadis. Namun, banyak terjadi di daerah beriklim tropis dan negara berkembang.

Patogenesis

  1. Kontaminasi luka oleh spora C. tetani (inkubasi 3-14 hari)
  2. Toksin memasuki aliran darah yang kemudian berdifusi untuk terikat pada ujung-ujung saraf di seluruh tubuh
  3. Toksin ditransportasikan dalam akson dan secara retroged ke dalam badan sel di batang otak dan saraf spinal. Mulanya toksin akan menyerang saraf motorik, kemudian saraf sensorik, dan terakhir saraf otonom.
  4. Toksin ini akan mencegah pelepasan neurotransmitter

Manifestasi Klinis

  • Terjadi setelah suatu trauma
  • Kontaminasi luka dengan tanah, kotoran binatang, atau logam berkarat
  • Komplikasi luka bakar dan ulkus gangren
  • Nekrosis pada luka gigitan ular
  • Infeksi telinga
  • Aborsi aseptik
  • Persalinan yang tidak higienis
  • Injeksi intramuskular dan pembedahan

Tetanus Generalisata

Lebih umum terjadi daripada tetanus parsial.

Hal ini ditandai dengan: rigiditas (dapat menyebabkan opistotorus dan gangguan respirasi dengan menurunnya kelenturan dinding dada), spasme otot, dapat terjadi disfungsi otonomik pada kasus yang berat.

Gejala awal: kaku kuduk, nyeri tenggorokan, dan kesulitan membuka mulut karena terjadi trismus (rahang terkunci; spasme otot masseterica)

Tetanus Neonatus

Tetanus neonatus memiliki tipe generalisata (umum).

Faktor-faktor: ibu tidak diimunisasi secara adekuat, perawatan bekas potong tali pusat tidak steril (onset dalam 2 minggu pertama kehidupan)

Gejala: rigiditas (kaku), sulit menelan ASI, iritabilitas, spasme otot

90% penderita tetanus neonatus tidak dapat tertolong. Penderita yang selamat akan mengalami retardasi mental.

Perjalanan Klinis

Inkubasi selama 1-7 hari dengan rentang 1-60 hari. Gangguan otonomik terjadi beberapa hari setelah spasme dan bertahan selama 1-2 minggu. Gangguan otonomik akan berkurang setelah 2-3 minggu. Pemulihan tetanus berjalan selama 4 minggu.

Derajat Keparahan 

I. Trismus ringan sampai sedang, spastisitas umum, tanpa gangguan pernapasan, tanpa spasme, sedikit atau tanpa disfagia

II. Rigiditas, spasme ringan sampai sedang, gangguan pernapasan sedang (frekuensi > 30/menit), disfagia ringan

III. Trismus berat, spastisitas umum, frekuensi pernapasan > 40/menit, apnea, disfagia berat, takikardia lebih dari 120

IV. Semua gejala dalam Derajat III dan ditambah dengan gangguan otonomik berat yang melibatkan sistem kardiovaskuler*

*Hipertensi: tekanan arterial 220/120 mmHg

Takikardia: 50-90 kali/menit

Depresi berat hingga hipotensi: 70/30 mmHg

Penurunan tekanan vena ventralis
Komplikasi Tetanus

Jalan napas: aspirasi, laringospasme, obstruksi sedatif

Respirasi: apnea, hipoksia, gagal napas I (atelektasis, aspirasi, pneumonia), gagal napas II (spasme laringeal, spasme trunkal berkepanjangan, sedasi berlebihan), ARDS, komplikasi bantuan ventilasi seperti pneumonia

Kardiovaskuler: takikardia, hipertensi, iskemia, hipotensi, bradikardia, takiaritmia, bradiaritmia, asistol, gagal jantung

Ginjal: gagal ginjal curah tinggi, gagal ginjal oligouria, stasis urin, dan infeksi

Gastrointestinal: stasis gaster, ileus, diare, dan pendarahan

Lain-lain: penurunan berat badan, tromboembolus, sepsis dengan gagan organ multipel, fraktur vertebra, raptur tendon

Penatalaksanaan Umum

  1. Netralisasi toksin yang bebas (dengan TIG)
  2. Menyingkirkan sumber infeksi (penisilin intravena, metronidazol)
  3. Pengendalian rigiditas dan spasme (sedase benzodiazepin)

Pencegahan

  • Imunisasi aktif
  • Penatalaksanaan luka: imuniasi pasif dengan TIG, imunisasi aktif dengan vaksin terutama Td untuk individu di atas 7 tahun
  • Neonatus neonatorum: vaksinasi maternal, bahkan selama kehamilan; meningkatkan proporsi kelahiran yang dilakukan di rumah sakit; pelatihan untuk penolong kelahiran non medis

Prognosis

Mortalitas telah berkurang dari 44% menjadi 15% sejak adanya ICU. Sebelum ada ICU, kebanyakan mortalitas karena gagal napas (80%). Tanpa perawatan, mortalitas > 50%.

Prognosis buruk pada usia tua, neonatus, dan pasien dengan periode inkubasi yang pendek.

Simpulan

Tetanus dapat dicegah dengan vaksinasi. Di negara-negara maju, beberapa kasus terjadi tiap tahun pada pasien-pasien tua yang tidak diimunisasi. Mortalitas pada kasus-kasus ini tetap tinggi. Penatalaksanaan intensif jangka panjang mungkin diperlukan, tetapi sebagian besar terapi disadarkan pada bukti-bukti yang terbatas. Tantangan terapi utama adalah pengendalian rigiditas dan spasme otot, terapi terhadap gangguan otonomik, dan pencegahan komplikasi berkaitan dengan masa kritis berkepanjangan. Pasien yang selamat dari tetanus dapat kembali ke fungsi normalnya.

Disadur dari: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III

Read Full Post »

Hari Minggu Biasa Kedua Puluh Sembilan

Bacaan Injil:

Matius 22:15-21

Sekali peristiwa, orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada Yesus, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapatMu: Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Ia lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepadaKu mata uang untuk pajak itu.” 

Mereka membawa satu dinar kepada Yesus. Yesus pun bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Renungan:

Orang-orang Farisi tahu bahwa Yesus adalah orang yang jujur dan tidak mencari muka. Mereka jelas secara sengaja ingin menjebak Yesus. Di sini Dia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat. Jika Yesus mengatakan bahwa orang-orang harus membayar pajak kepada kaisar, ia akan dimusuhi oleh para nasionalis. Jika Yesus mengatakan bahwa orang-orang tidak perlu membayar pajak pada kaisar, ia akan berhadapan dengan para pendukung Romawi. Para nasionalis di sini beranggapan bahwa tanah mereka adalah pemberian Allah. Jadi, untuk apa membayar pada kaisar?

Di sini kita dapat melihat bahwa seringkali manusia ingin menjatuhkan sesamanya. Kita kadang rela mencari segala cara, asalkan orang lain dapat dicelakakan demi kepentingan kita.

Yesus ingin mengajarkan pada kita bahwa integritas batin adalah sesuatu yang sangat penting. Ketika menghadapi serangan  berupa jebakan pertanyaan dari orang-orang Farisi, Yesus dapat berpikir dengan cerdas. Dia tidak ingin menyakiti hati kedua pihak yang tengah berseteru. Dengan mengatakan “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”, dia dapat menangkis jebakan orang-orang Farisi. Hati para nasionalis dan para pendukung Romawi, keduanya tidak tersakiti. Tidak juga timbul huru hara.

Melalui teladan Yesus ini, kita diajak untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang bijaksana. Setiap kata-kata kita jangan sampai merugikan orang lain maupun diri kita sendiri. Bila kita dapat berpikir dengan bijaksana, maka jebakan-jebakan dari orang yang berniat jahat pada diri kita pun dapat terhindarkan.

Bersyukurlah pada Tuhan karena Dia mau mengajarkan tentang kebijaksanaan ini pada kita.

Read Full Post »

Label organik: tumbuh dan dibesarkan tanpa pupuk kimia, pembunuh hama (pestisida), pembunuh rumput liar, atau obat-obatan.

Klasifikasinya sebagai berikut:

  1. Menggunakan hanya pembunuh hama alami seperti minyak tumbuhan, sabun, bakteri pemakan jamur, dan serangga karnivora
  2. Menggunakan pupuk alami seperti pupuk kandang dan pupuk kompos
  3. Pakan hewan berasal dari makanan yang juga organik
  4. Hewan tidak diberi antibiotik atau hormon pertumbuhan
  5. Tanaman tidak diberi radiasi, sinar X, dan lain-lain; untuk membunuh hama mengubah cara tanaman tumbuh, atau menghasilkan dengan lebih cepat

Label “Organic”

Jangan berasumsi bahwa makanan berlabel “alami”, “bebas hormon”, “free range”, atau yang lainnya berarti organik.

 

USDA (United States Department of Agriculture) memiliki berbagai macam kategori untuk makanan organik:

  • 100% organik: “organic 100%
  • 95% – 100% dari bahan organik: segel “organic” akan ditampilkan. Zat non-pertanian yang digunakan di sini haruslah yang telah disetujui penggunaannya. Dalam artian, zat tersebut tidak begitu banyak terkandung dalam makanan dan minim risiko. Seringkali, hal ini juga menyangkut tanah yang digunakan. Jika ingin menjadi “100% organik”, tanah pertanian yang digunakan pun harus bebas dari bahan kimia; minimal sejak 10 tahun yang lalu.
  • 70% dari bahan organik: “made with organic ingredients
  • < 70% dari bahan organik: tidak bisa mendapatkan sertifikat

 

Mengapa makanan organik mahal?

  1. Pertanian organik jauh lebih kecil dari pada pertanian non-organik
  2. Dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja untuk pertumbuhan tanaman dan memelihara hewan, tanpa bantuan pupuk kimia, pertisida, dan obat-obatan
  3. Peternakan organik harus memberikan pakan organik pada ternak-ternaknya. Hasil pertanian organik yang mahal tentu akan berimbas pada peternakan organik juga
  4. Pertanian konvensional/non-organik sering mendapatkan bantuan subsidi dari pemerintah. Jumlah pertanian organik terlalu kecil untuk mendapatkan subsidi. Lagipula, pertanian juga harus memenuhi kebutuhan penduduk dengan cepat. Jika kita hanya bertumpu pada pertanian organik saja, maka dikhawatirkan kebutuhan makanan masyarakat tidak dapat terpenuhi

 

Bagaimana cara untuk menghemat biaya?

Makanan organik sebaiknya dibeli di pasar lokal

 

Alasan memilih makanan organik:

  • Khawatir tentang lingkungan: pestisida dapat mencemari tanah, air, maupun udara. Hal ini juga terbukti dapat mengganggu perkembangbiakan dan kelangsungan hidup hewan (contoh: burung-burung liar)
  •  Menghindari bahan kimia, terutama pestisida, dalam makanan mereka. Dalam daur energi, kadar pestisida akan semakin bertambah setipa kenaikan tingkat trofik rantai makanan. Anggap saja pada tanaman hanya mengandung 5% pestisida. Tanaman itu kemudian dikonsumsi oleh hewan herbivor. Pestisida dalam biomassa hewan itu tentu bertambah. Hewan tidak mungkin hanya memakan satu batang tanaman saja, bukan? Nah, akumulasi pestisida ini juga akan bertambah dalam biomassa hewan karnivor. Yang menjadi tempat akumulasi terakhir, bisa jadi manusia. Bayangkan, berapa kadar pestisida dalam tubuh manusia?

 

Lalu, apakah makanan organik lebih aman?

Tentu saja. Makanan organik tidak mengandung bahan-bahan kimia yang membahayakan kesehatan. Dampak dari bahan kimia dalam tubuh memang berlangsung dalam jangka panjang. Oleh karena itu, tidak dapat langsung terlihat. Perstisida dan bahan kimia lainnya kadangkala menyebabkan kanker.

 

Apakah lebih bergizi?

Tidak ada cukup bukti tentang ini. Menurut Soil Association Certification, Ltd. (Inggris), makanan organik lebih banyak mengandung antioksidan, vitamin, dan mineral. Akan tetapi menurut USDA, sebenarnya organik dan non-organik tidak perlu dipermasalahkan. Lebih baik mengkonsumsi sayur dan buah non-organik daripada tidak mengkonsumsi. Mereka lebih mengedepankan mengubah gaya hidup yang buruk; seperti pola makan yang serba instant dan sedentary life. Organik dan non-organik hanya sebatas soal pemasaran dan sertifikat.

 

Apakah lebih baik untuk anak-anak?

Terbaik untuk anak-anak yang sensitif terhadap pestisida dan sedang tumbuh. Masa pertumbuhan membutuhkan asupan nutrisi yang cukup tinggi. Masa itu pasti sangat menentukan perkembangan mereka ke depan.

 

Tentang perbedaan rasa, lebih bersifat subjektif. Sebenarnya, makanan non-organik pun bisa terasa segar bila dibeli dari pasar lokal.

Tentang lingkungan, makanan organik lebih tidak mencemari lingkungan seperti yang telah dijelaskan di atas.

 

Bagaimana solusinya jika kita tidak bisa membeli bahan makanan organik?

  • Beli versi organik dari makanan yang paling sering dikomsumsi atau yang biasanya terpapar pestisida dengan kadar tinggi (seledri, peach, strawberry, apel, blueberry, nectarines, bell peppers, bayam, ceri, collard hijau, kentang, dan anggur impor)
  • Cuci buah dan sayuran mentah di bawah air mengalir. Bila memungkinkan, kupas kulitnya. Konsumsi buah apel sesungguhnya lebih baik apabila bersama dengan kulitnya.

 

Tanaman transgenik, apakah selalu organik?

Tanaman transgenik ada yang organik dan ada yang tidak. Jika tanaman transgenik itu memerlukan proses kimia, penyinaran misalnya, tanaman itu sudah tidak dapat dikategorikan sebagai makanan organik.

 

Sumber:

www.emedicinehealth.com

www.nytimes.com

 

 

 

Read Full Post »

Bacaan Injil

Matius 22: 1 – 14

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:

“Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan nikah itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan nikah ini.

Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.

Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan nikah telah tesedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan nikah itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruang perjamuan nikah itu dengan tamu.

Ketika raja itu masuk untuk melihat tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau bisa masuk kemari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

 

Renungan:

Yang ingin dikatakan Yesus dalam hal ini bukan menyangkut kondisi sosial seseorang. Memang di situ tertulis bahwa yang tidak berpakaian pesta, tidak boleh mengikuti perjamuan nikah.

Sekarang mari kita cermati dahulu konteksnya:

Tuhan mengundang kita semua untuk masuk dalam kebahagiaan abadi bersama Dia. Mulanya kesempatan itu hanya diberikan pada Bangsa Yahudi. Namun, Bangsa Yahudi menolaknya. Mereka bahkan membunuh hamba-hamba Tuhan yang berkarya dengan rela dan sepenuh hati. Tentu saja Tuhan menjadi murka dan sungguh kecewa. Ia pun memilih untuk memberikan kesempatan itu pada kita semua. Segala suku bangsa, segala penjuru dunia.

Dengan diundangnya kita, maka tentu diri kita harus layak untuk menjadi undangan. Kita harus memakai pakaian pesta, seperti saat menghadiri perjamuan nikah. Kita pasti tidak ingin tampil memalukan di depan banyak orang, bukan? Terutama si penyelenggara pesta.

Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan “pakaian pesta” itu?

Pakaian pesta itu adalah iman dan perbuatan baik kita di dunia. Juga termasuk sikap untuk tekun berdoa dan rela menolong orang lain. Hal-hal inilah yang pantas untuk membuat kita masuk dalam Kerajaan Surga.

Orang yang tidak bersiap-siap dan berjaga-jaga dalam kebaikan; sama saja dengan orang yang beragama, tetapi tidak beriman. Mungkin kita memang menerima agama tertentu. Lalu, sejauh manakah kita sudah menerapkan kepercayaan kita pada Tuhan dalam kehidupan nyata?

Jika kita hanya beragama, maka kita bisa saja kalah dengan seorang ateis yang baik hati; moralis. Lalu, apakah gunanya mengaku sebagai orang yang beragama? Beriman, tidak sebatas percaya bahwa Tuhan itu ada.

Read Full Post »

Older Posts »