Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2013

Definisi Menurut Global Initiative for Asthma (GINA) 2002:

 

Asma adalah kelainan inflamasi kronik saluran napas. Proses inflamasi ini melibatkan berbagai sel inflamasi antara lain sel mast, eosinofil, limfosit T, dan neutrofil. Pada individu yang sensitif kelainan inflamasi ini menyebabkan gejala-gejala yang berhubungan dengan obstruksi saluran napas yang menyeluruh dengan derajat yang bervariasi, yang sering membaik (reversible) secara spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi kronik ini juga menyebabkan hiperreaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan.

 

Epidemiologi dan Insidensi:

  • anak laki-laki lebih sering daripada perempuan,
  • setelah pubertas, perempuan sedikit lebih sering, sekitar 8% dari populasi orang dewasa di Amerika Serikat memiliki tanda dan gejala yang konsisten dengan diagnosis asma (300 juta di seluruh dunia),
  • biasanya terjadi sejak kecil,
  • prevalensi meningkat lebih dari 45% sejak akhir 1970-an,
  • peningkatan cepat terjadi pada negara yang baru mengadopsi gaya hidup industrial.

 

 

Etiologi:

belum diketahui pasti,

diperkirakan disebabkan oleh interaksi antara faktor genetik dan faktor yang didapat (pencetus dapat berupa infeksi, polusi, dan alergi).

 

Faktor Risiko Umum:

  • paparan alergen (tungau debu rumah, bulu binatang, kecoa, serbuk sari, dan jamur >> hipersensitivitas tipe I),
  • pekerjaan (toluen diisosianat >> pembuatan plastik; metilik anhidrida >> resin untuk lem, cat, dan lain-lain)
  • iritasi (asap rokok, GERD)
  • infeksi saluran pernapasan (virus >>  menurunkan ambang rangsang vagal subepitelial),
  • olahraga (CO2 >> kemoreseptor pada arcus aorta dan sinus caroticus – medula oblongata – korteks – medula spinalis – saraf efektor – otot pernapasan; suhu >> termoreseptor N. Vagus – otak – N. Vagus motorik – asetilkolin – depolarisasi Ca – pecahnya sel mast karena deposit kalsium bertambah di dalam sel itu – histamin – merupakan amin vasoaktif – bronkokonstriksi dan edema bronkus karena peningkatan permeabilitas vaskular),
  • ekspresi emosional yang kuat (meningkatkan rangsangan vagal >> parasimpatis),
  • bahan kimia dan obat-obatan (aspirin >> jalur siklooksigenase dihambat – jalur lipoksigenase berlebihan – leukotrien; beta-blocker – menghambat adrenoreseptor beta-2 di paru-paru yang berfungsi untuk bronkodilatasi, reseptor beta-1 terdapat di jantung).
Advertisements

Read Full Post »

 

  • Enzim ACE adalah kininase II. Penghambat ACE akan mencegah degradasi bradikinin sehingga akan meningkatkan kadar zat tersebut pada endotel vaskuler lokal (saluran napas atau paru-paru).
  • Proses tersebut melibatkan jalur kalikrein-bradikinin-prostaglandin.
  • Bradikinin bekerja lokal pada reseptor BK2 di sel endotel dan menstimulasi produksi nitrit oksida (NO) dan prostaglandin. Prostaglandin sendiri memiliki efek vasodilator. Dengan demikian, akumulasi bradikinin yang terus menerus akan menyebabkan angioedema: mukosa tampak agak edema dan pada faring posterior tampak sedikit sekret mukoid jernih.
  • Bradikinin juga merangsang kemoreseptor pada saluran napas dan menimbulkan rasa tergelitik dan gatal. Oleh karena itu, refleks batuk akan terangsang.
  • Melalui saraf aferen N. Vagus impuls diteruskan menuju pusat batuk di otak (nukleus traktus solitarius pada medula batang otak) hingga akhirnya terkoneksi dengan generator pernapasan pusat (medulla oblongata).
  • Setelah itu impuls akan meninggalkan medula melalui saraf eferen N. Vagus menuju laring dan daerah trakeobronkial.
  • Melalui saraf motorik phrenicus C3-S2, impuls akan disampaikan menuju m. intercostalis, dinding abdomen, dan diafragma.
  • Mula-mula udara akan diinspirasi secara cepat (2,5 L). Epiglotis menutup erat-erat untuk menjerat udara dalam paru-paru. Otot-otot abdomen berkontraksi dengan kuat mendorong diafragma. Otot-otot ekspirasi seperti m. intercostalis internus juga berkontraksi dengan kuat.
  • Tekanan dalam paru-paru akan meningkat secara cepat sampai lebih dari 100 mmHg.
  • Pada akhirnya, pita suara dan epiglotis tiba-tiba membuka lebar dan udara bertekanan tinggi dalam paru-paru pun meledak ke luar.

Rasa gatal yang ditimbulkan oleh bradikinin juga memberikan kecenderungan pada pasien untuk berdeham sewaktu berbicara.

Deviasi septa pada pasien merupakan suatu deformitas nasal unilateral yang disebabkan oleh gangguan proses pertumbuhan mesodermal.

Daftar Pustaka:

Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI.

Guyton, A.C. and Hall, J.E., 2006. Textbook of Medical Physiology. 11 th ed.  Philadelphia, PA, USA: Elsevier Saunders.

http://journal.publications.chestnet.org/article.aspx?articleid=1084251&issueno=1_suppl

http://www.coughjournal.com/content/7/1/10

Read Full Post »

abbott-fuller-graves-roses

 

Latin

Vos flores rosarum,

qui in effusione sanguinis vestri

beati estis,

in maximis gaudiis redolentibus

et sudantibus in emptione

que fluxit

de interiori mente consilii

manentis ante evum:

In illo, in quonon erat  in constitutio

a capite

Sit honor in consortio vestro,

qui estis instrumentum ecclesie

et qui in vulneribus

vestri sanguinis undatis:

In illo, in quonon erat  in constitutio

a capite

 

 

English

You, who are rose blossoms,

who in the flowing of blood are blessed,

exuding the greatest scent of joy

and giving off the grace which flows

from the knowing of the inner mind,

enduring from before eternity,

through that One who has no beginning.

In your companionship may there be honor,

you who are instruments of the sacred gathering.

And through whose wounds life-blood streams with that One,

Who has no beginning.

Read Full Post »

background-visuel

Solidaritas Sosial: Wujud Iman yang Hidup

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa V, 9/10 Februari 2013)

 

Saudari-saudara, Umat Katolik Keuskupan Bandung yang terkasih dalam Kristus,

 Hari ini kita memasuki Minggu terakhir menjelang dimulainya Masa Prapaskah, yaitu masa tobat dan puasa sebagai persiapan kita merayakan Paskah. Kita akan memulai peziarahan tobat menuju paskah dengan menandai diri kita dengan abu pada hari Rabu Abu yang akan datang. Masa Prapaskah adalah waktu khusus bagi kita untuk memurnikan diri. Selama 40 hari Masa Prapaskah secara khusus kita diajak untuk mengingat kembali jati diri dan panggilan hidup kita sebagai orang kristiani. Pertobatan yang kita lakukan sesungguhnya merupakan upaya kita untuk kembali kepada kehidupan dan iman kristiani. Dengan demikian, Masa Prapaskah adalah masa pembaharuan diri karena perjumpaan dengan Tuhan. Pengampunan Tuhan yang kita terima akan menjadi saat kehidupan baru bagi kita. Seperti bacaan pertama yang kita dengar pada hari ini, Nabi Yesaya mendapatkan anugerah kehidupan baru karena kesalahannya dihapus dan dosanya diampuni. Buah dari kehidupan baru itu tidak lain ialah kesiapsediaan untuk diutus. ”Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6: 7-8) Itulah kata-kata Nabi Yesaya setelah dirinya berjumpa dengan Tuhan dan mendapatkan pengampunan dosa.

Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan itu juga dialami oleh Simon dan teman-temannya di danau Genesaret. Para murid pertama itu mendapatkan kehidupan dan semangat baru setelah pengalaman kegagalan dan kekecewaan. Sepanjang malam mereka bekerja keras mencari ikan, tetapi gagal. Namun, kegagalan mereka menjadi keberhasilan, kekecewaan mereka menjadi sukacita karena mereka berjumpa dengan Tuhan. Lebih dari itu, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan membuat Simon dan teman-temannya semakin menyadari bahwa diri mereka adalah orang berdosa. ”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” (Luk. 5:8) Bagi Simon dan teman-temannya, buah dari perjumpaan dengan Tuhan adalah pertobatan; dan buah pertobatan adalah kesiapsediaan untuk diutus menjadi penjala manusia. ”Merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.” (Luk. 5:11)

 

Saudari-saudara yang terkasih,

 Perutusan untuk mewartakan iman itulah juga yang menjadi pesan Bapa Paus Benediktus XVI sewaktu beliau mencanangkan Tahun 2012-2013 sebagai Tahun Iman. Selama Tahun Iman ini kita diajak untuk menggali, menghidupi, dan mewartakan iman kepercayaan kita di tengah dunia yang senantiasa berubah, penuh tantangan dan permasalahan. Tahun iman adalah saat dimana kita memupuk kembali semangat perutusan kita. Untuk itu, Bapa Paus mengingatkan bahwa kita semua yang hidup di zaman sekarang ini memerlukan sumber air hidup seperti perempuan Samaria yang berjumpa dengan Yesus di pinggir sumur Yakub. Percakapan dan perjumpaannya dengan Yesus menjadi sumber air hidup bagi perempuan Samaria itu. (bdk. Yoh 4:1-42) Buah dari perjumpaan itu ialah ”kegembiraan dalam beriman dan kegairahan dalam mewartakannya.” (Porta Fidei, 7)

Iman apakah yang menjadi suka cita kita sehingga kita bergairah dalam mewartakannya? Dalam Surat Apostolik pembukaan Tahun Iman Porta Fidei (Pintu menuju Iman), Bapa Paus juga menekankan bahwa beriman kepada Allah Tritunggal berarti beriman kepada Allah yang adalah kasih. (Yoh. 4:8). Itulah iman yang kita pegang dan kita wartakan. Pewartaan iman bahwa Allah adalah kasih, kita lakukan baik melalui percakapan, tetapi terlebih pula lewat perbuatan-perbuatan kasih. Dengan demikian, amal kasih yang kita lakukan merupakan wujud perutusan kita. Pengampunan dan kemurahan hati yang kita pancarkan merupakan pewartaan iman kita. Melalui kehidupan dan pewartaan iman semacam ini, iman kita akan semakin bertumbuh dan hidup kita akan semakin berbuah.

Tahun iman, dengan demikian, menjadi kesempatan bagi kita untuk lebih meningkatkan amal kasih dan bela rasa kita. Sejalan dengan hal ini, Gereja Keuskupan Bandung telah mencanangkan tahun 2013 sebagai Tahun Solidaritas Sosial. Dalam tahun ini, kita semua diajak untuk ikut terlibat dalam pemulihan martabat manusia dan keutuhan ciptaan. Untuk itu, Aksi Puasa Pembangunan 2013 Keuskupan Bandung juga mengajak kita untuk hidup dalam semangat solidaritas sosial itu. Solidaritas sosial merupakan perwujudan iman yang hidup. Dengan demikian, iman dan solidaritas sosial bukanlah dua hal yang terpisah. Kita bisa ingat nasehat Santo Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati. Dalam Tahun Iman dan Tahun Solidaritas Sosial kita hendaknya menunjukkan iman kita lewat perbuatan-perbuatan. (bdk. Yak. 2:14-18)

 

Saudari-Saudara yang terkasih,

 Kita semua menyadari bahwa kita hidup di tengah dunia yang membutuhkan kasih dan kemurahan hati. Banyak orang di sekitar kita yang hidup dalam kemiskinan dan kesakitan, keputusasaan dan kelaparan. Banyak orang yang mengalami musibah, baik karena bencana alam maupun bencana sosial. Banyak orang yang menderita karena kekerasan dan keserakahan. Ada pula yang menjadi kurban kejahatan dan ketidakadilan. Mereka adalah orang-orang yang merindukan uluran kasih dan kemurahan hati. Itulah realitas dunia, tempat kita tinggal; dunia yang sedang sakit dan menderita, tetapi tetap dicintai Allah.

Namun, di tengah dunia yang menderita ini, saya bersyukur bahwa muncul banyak orang yang dengan suka hati memberikan kemurahan hati dan kasih. Pada waktu bencana banjir terjadi, banyak dari antara kita dengan ketulusan hati memberikan bantuan dengan berbagai cara. Pada saat banyak anak yang tidak dapat bersekolah, beberapa orang berkumpul untuk bersama-sama mengumpulkan dana. Banyak umat yang juga terlibat dengan tekun dan setia dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan juga pendampingan bagi mereka yang sakit dan putus asa. Tentu, ini semua hanyalah contoh kecil dari sekian banyak kemurahan dan kasih yang telah diberikan oleh Umat Allah Keuskupan Bandung. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan kemurahan hati Anda. Semuanya itu semakin memancarkan iman kita, bahwa Allah adalah kasih.

Marilah kita melanjutkan karya baik kita itu sambil pula mencari bentuk-bentuk lain untuk mengembangkan karya-karya kita. Kita berdoa agar semakin banyak orang mau terlibat dalam karya amal kasih. Marilah kita jadikan masa Prapaskah sebagai masa pembaharuan perutusan iman kita untuk mewartakan kasih dan kebaikan Tuhan. Semoga di masa Prapaskah ini, kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang mengubah hidup kita. Mengakhiri surat ini, bersama-sama dengan para imam, diakon dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/ adik-adik kaum muda, remaja dan anak-anak semua yang dengan satu dan lain cara ikut terlibat dalam perutusan Gereja Keuskupan Bandung, baik untuk kebaikan Gereja sendiri maupun untuk kebaikan bersama dalam masyarakat yang lebih luas. Seperti Simon Petrus dan teman-temannya, kita pun dengan cara yang berbeda-beda, dipanggil dan diutus untuk menjadikan siapa pun yang kita jumpai dalam hidup kita, semakin berkembang dalam solidaritas sosial. Selamat memasuki masa tobat. Salam dan berkat Tuhan menyertai Anda sekalian beserta segenap keluarga dan komunitas Anda.

 

Bandung, 4 Februari 2013

 

Ignatius Suharyo

Administrator Apostolik

Keuskupan Bandung

(http://keuskupanbandung.org/)

Read Full Post »

stperegrine

Santo Peregrine, pembuat keajaiban yang mulia, engkau menjawab panggilan ilahi dengan satu semangat menolak semua bentuk kesenangan hidup dan semua kehormatan duniawi yang hampa, guna mengabdikan dirimu kepada Allah. Engkau bekerja dengan semangat dan tanpa kenal lelah bagi keselamatan jiwa-jiwa. Dalam kesatuan dengan Yesus yang tersalib, engkau dengan sabar menanggung penderitaan-penderitaan yang sangat menyakitkan.

Dalam kesabaranmu yang luar biasa itu engkau disembuhkan secara ajaib dari kanker pada kakimu dengan sentuhan tangan ilahi Yesus sendiri.

Aku berdoa kepadamu, perolehlah bagiku rahmat untuk menanggapi setiap panggilan Allah. Bangkitkanlah dalam hatiku semangat haus akan keselamatan jiwa-jiwa.

Bebaskanlah aku dari kelemahan-kelemahan yang begitu sering menyakitkan tubuhku yang lemah. Dan perolehlah bagiku rahmat kesediaan menerima penderitaan-penderitaan yang dikehendaki Allah bagiku.

Semoga aku, dengan meneladani keutamaan-keutamaan dan mencintai Tuhan yang tersalib dan BundaNya yang berdukacita, mendapatkan kemuliaan kekal di surga. Amin.

1x Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan

(Santo Peregrine adalah pelindung para penderita kanker dan penyakit yang sulit disembuhkan serta gangguan kaki)

Read Full Post »

 

Tchaikovsky1

Meskipun bukan seorang pianis konser, Tchaikovsky menggubah salah satu konserto yang paling hebat, Piano Concerto in B Flat. Ia mempersembahkan konserto ini untuk temannya Nicholas Rubinstein, yang memberitahunya bahwa karya itu mustahil untuk dimainkan. Tchaikovsky tidak yakin. Ia beralih mempersembahkan karya itu kepada pianis dan dirigen Jerman Hans von Bülow yang tidak berani memainkan karya itu di Eropa, tetapi memainkannya dengan sukses untuk pertama kalinya di Boston. Dengan penguasaan Tchaikovsky atas efek orkestra, kekuatan ritmis, bakatnya untuk menciptakan efek dramatis, dan kebesaran gerakan, tepatlah jika Piano Concerto in B Flat menjadi karya yang sangat populer dan sering dimainkan. Karya itu merupakan suatu pertunjukan melodi yang indah – adikarya pertama Tchaikovsky.

Pyotr Ilyich Tchaikovsky dilahirkan pada tanggal 7 Mei 1840 di Vonkinsk, Rusia, tetapi dari mana ia mewarisi bakat musik merupakan suatu misteri. Ia mendapat sedikit pengetahuan tentang musik saat masih kecil bersama-sama dengan saudara-saudaranya, tetapi ia tak pernah mengira memiliki talenta musik yang istimewa. Tak ada jejak-jejak musik dalam keluarganya. Ia menuntut ilmu untuk menjadi pengacara dan kemudian bekerja sebagai jurnalis di Ministry of Justice, namun akhirnya talentanya yang kreatif mulai tampak jelas. Mendengarkan musik Mozart Don Giovanni membantunya memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk musik.

Pada usia 23 tahun ia mendaftarkan diri di Konservatori St. Petersburg yang baru didirikan oleh Anton Rubinstein. Tchaikovsky merupakan orang Rusia pertama yang mendapatkan pelatihan sistematis mengenai dasar-dasar musik. Setelah bekerja keras akhirnya ia menyelesaikan studinya ini dalam waktu tiga tahun. Selanjutnya ia dianjurkan oleh Rubinstein untuk mengisi posisi guru di Konservatori Moskwa pada tahun 1866, dan sekitar waktu itu ia mulai menggubah musik dengan serius. Ia tetap di sana selama dua belas tahun sebagai profesor harmoni, dan ia sangat dihormati sebagai guru. Meski melewatkan waktu-waktu yang panjang dan bekerja keras, ia terus menggubah musik.

Temperamen Tchaikovsky yang melankolis dan mawas diri tercermin dengan jelas dalam musiknya. Ia menyayangi ibunya dengan segenap kegairahan seorang anak yang sangat sensitif, dan tatkala sang ibu meninggal karena kolera manakala ia berusia empat belas tahun, emosinya sangat terpengaruh. Untuk mengurangi kesedihannya karena kematian ibunya yang mendadak dan karena sikap ayahnya yang santai yang tampak tidak peduli terhadap peristiwa itu, Tchaikovsky menggubah waltz pendek. Menenggelamkan diri dalam musik tatkala dirundung kesedihan menjadi sebuah pola dalam hidupnya. Ia menciptakan beberapa balet yang paling riang pada masa mengalami penderitaan batin.

Kehidupan Tchaikovsky diwarnai kekasaran dan naluri seksual yang tidak normal. Ia tersiksa oleh homoseksualitasnya. Ia juga menderita epilepsi, migrain, insomnia, dan serangan depresi. Hidupnya mengandung semua unsur tragedi, tetapi ia tetap menghasilkan musik dengan gairah yang tak terkendali, dan ia menjalani kehidupan yang selalu dipenuhi dengan prestasi artistik yang senantiasa meningkat. Dalam buku biografi Bowen dan Meck, Beloved Friend, mereka memasukkan kutipan dari salah satu surat Tchaikovsky: “Saya mengalami beberapa kali masa yang sangat tidak menggairahkan, tetapi kehausan yang tak terpuaskan untuk bekerja menghibur saya…. Jika seseorang tidak memiliki suasana hati yang benar, ia harus memaksa diri untuk bekerja, kalau tidak, tidak ada sesuatu pun yang dapat dicapai.” Di waktu yang lain ia pernah menulis, “Tanpa pekerjaan, hidup tidak ada artinya bagi saya.” Ia seorang yang sangat rendah hati yang jarang yakin akan keunggulan karyanya.

Sementara masih mengajar di Konservatori Moskwa, Tchaikovsky dalam usia 29 tahun menggubah fantasinya Romeo and Juliet. Ini merupakan salah satu karya terbaiknya yang menandai awal kariernya. Mengingat betapa terlambatnya Tchaikovsky mempelajari musik secara serius, maka kecepatan ia mengembangkan teknik bermusiknya sungguh menakjubkan. Ia sangat mengagumi Shakespeare dan Dickens, terutama Pickwick Papers. Tchaikovsky mendapatkan kepuasan yang besar dalam kesusastraan dan teater. Bentuk Romeo and Julietnya serupa dengan overture Mendelssohn, A Midsummer Night’s Dream. Pada mulanya Romeo and Juliet disambut dingin oleh khalayak, tetapi kini menjadi karya favorit di dunia internasional. Di dalamnya kita akan mendengar beberapa melodi Tchaikovsky yang hebat, khususnya tema sepasang kekasih, harmoninya yang matang, dan ritme yang penuh semangat.

Untuk komposisinya Francesca da Ramini yang matang dan unggul, Tchaikovsky memilih sebuah subjek dari Divine Comedy karya Dante. Kisahnya adalah tentang cinta antara Francesca dan Paolo yang Dante tempatkan di Inferno [neraka] di mana mereka dipandang sebagai dua manusia yang terhilang yang mengembara dengan penuh kesedihan. Tchaikovsky mengungkapkan kisah ini lewat musik dengan kepekaan dan penghiburan yang dalam.

Karena mengharapkan kestabilan dalam hidupnya, pada usia 37 tahun Tchaikovsky menikahi Antonina, salah seorang siswa di Konservatori Moskwa. Dengan licik Antonina mengejar Tchaikovsky, dan pernikahan mereka adalah suatu bencana. Antonina seorang yang bermusuhan dengan lingkungannya dan meninggal di rumah sakit jiwa. Ketika nyaris terkena gangguan saraf, Tchaikovsky mencoba bunuh diri. Pada saat yang sangat membutuhkan bantuan ini, Madame Nadejda von Meck, seorang janda kaya dengan sebelas anak, yang telah mendengarkan beberapa musik Tchaikovsky dan sangat tergugah dengan keindahan dan sensitivitas musiknya, menugasinya untuk menciptakan karya-karya lainnya.

Pada tahun 1877 dukungan ini mengambil bentuk yang lebih substansial berupa gaji tahunan sehingga ia bebas untuk menggubah musik. Hasil langsung dari dukungan wanita itu adalah Fourth Symphony Tchaikovsky. Madame von Meck sangat musikal dalam cara Rusia di mana seseorang tenggelam dalam musik. (Untuk waktu yang singkat ia pernah meminta Claude Debussy datang ke rumahnya yang seperti istana untuk mengajarkan musik kepada anak-anaknya.)

Dengan demikian dimulailah korespondensi yang luar biasa antara Nadejda dan Tchaikovsky yang berlangsung selama tiga belas tahun dan menjadi sumber utama dalam biografi Tchaikovsky. Beloved Friend, buku bermutu tentang Tchaikovsky, memuat surat-surat mereka yang menarik. Abad ke-19 merupakan masa orang suka menulis surat. Tchaikovsky seorang penulis surat yang kompulsif. Ia juga menyimpan buku harian yang sebagian di antaranya sudah ia musnahkan. Madame von Meck dan Tchaikovsky saling sepakat untuk tidak saling bertemu, tetapi cinta di antara mereka menjadi mendalam. Ia menghargai Madame von Meck yang memahami kebutuhannya akan privasi dan kesendirian. Melalui korespondensi mereka dan pemberian uang, Madame von Meck memberikan dorongan dan kepercayaan yang sangat dibutuhkannya. Ini merupakan salah satu persahabatan yang paling terkenal dalam sejarah, namun berakhir tragis.

Di sepanjang hidupnya Tchaikovsky terobsesi dengan pikiran bahwa ia tengah bertempur melawan nasib. Dalam Fourth Symphony, yang dipersembahkannya untuk Madame von Meck dan merupakan salah satu karya terbaiknya, kita menjumpai adanya fatalisme yang mencerminkan pesimisme keduanya. Rusia adalah daratan yang penuh penderitaan dan tragedi, yang tercermin dalam literatur dan musik negara itu. Seperti banyak orang Rusia lainnya, Tchaikovsky mempunyai kebiasaan mabuk-mabukan sebagai pelarian sementara dari dunia yang menyesakkan ini, tetapi ia bukanlah seorang alkoholik. Ia seorang yang sensitif, berperasaan halus, yang mudah tertekan dengan hidup dan pekerjaannya.

Tchaikovsky memasukkan banyak unsur Rusia dalam musiknya. Stravinsky berkata, “Tchaikovsky memang seorang Rusia yang paling sejati di antara kami semua.” Michael Glinka, yang membuat opera-opera pada awal tahun 1800-an, dipandang sebagai bapak musik Rusia yang serius. Setelah kematian Glinka, saudara perempuannya memakai lima puluh tahun hidupnya menyebarkan propaganda untuk musik Glinka. Rumah saudara Glinka ini menjadi salon untuk “The Five” – Balakirev, Cui, Rimsky-Korsakov, Borodin, dan Mussgorsky, yang hidup sezaman dengan Tchaikovsky. Mereka semua amatir kecuali pemimpin mereka, Balakirev. Balakirev mendesak Tchaikovsky untuk menciptakan Romeo and Juliet, namun kemudian menuduhnya terlalu mengagumi budaya Barat.

Seperti Dvorak dan beberapa komponis lainnya, Tchaikovsky sangat mencintai alam dan negara asalnya. Pada tahun 1885 ia membeli rumah di sekitar Moskwa setelah bertahun-tahun mengembara. Ia tinggal di sana hingga tahun sebelum kematiannya ketika ia pindah ke kota Klin di dekat situ. Rumahnya yang di Moskwa itu kini dikenal sebagai Tchaikovsky House Museum [Museum Rumah Tchaikovsky]. Selalu sebagai seorang yang dermawan, ketika mendengar bahwa tidak ada sekolah bagi anak-anak di desa, ia segera menyumbang uang untuk mendirikan sebuah sekolah. Tchaikovsky sangat patriotik, meskipun ia malu dengan kekontrasan hidup Rusia dan ketidakadilan yang diakibatkan kesalahan pemerintahan kekaisaran.

Segera setelah Madame von Meck membebaskannya dari pekerjaan mengajar, Tchaikovsky membentuk kebiasaan kerja yang terus diikutinya hingga akhir hayatnya. Bahkan ketika sedang melakukan perjalanan ia berusaha mengikuti rutinitas yang sama meski tidak selalu berhasil. Dari pukul 8 hingga 9 pagi ia akan minum teh dan membaca Alkitabnya. Kemudian dilanjutkan dengan bekerja. Pada siang harinya, ia akan keluar berjalan kaki. Setelah membaca bahwa agar tetap sehat orang seharusnya berjalan kaki dua jam sehari, hal ini ia lakukan dengan saksama. Berulang kali pada saat berjalan-jalan itulah, pekerjaan komposisinya dimulai, ide-ide diuji coba dan ditulis dengan cepat di buku catatan kecil. Ia sangat yakin bahwa seorang seniman tidak boleh mengalah pada sifat kemalasan manusia yang kuat. Seperti kebanyakan seniman, Tchaikovsky menginginkan kesendirian agar ide-idenya tidak hilang dalam perbincangan yang ramai dan kurang bermutu.

Tchaikovsky mempersembahkan Serenade for Strings untuk Madame von Meck. Pada gerakan pertama, ia mencoba mengadopsi gaya Mozart, komponis favoritnya. Gerakan keduanya menjadi contoh dari bakatnya yang menakjubkan dalam membuat melodi. Sebagaimana yang dikatakan seorang kritikus, “Selalu ada waltz dalam musiknya.” Gerakan kedua ini sesungguhnya merupakan sebuah valse triste [waltz sedih] dan mengingatkan kita pada salon abad ke-19 dengan kegembiraannya yang dangkal yang bercampur dengan sedikit melankolis.

Seperti banyak seniman dan musisi lainnya, Tchaikovsky mencintai Venesia dan Florence. Ia juga melewatkan waktu di Swis di desa Clarens dekat Montreux. Sementara orang berjalan menyusuri danau, kadang berhenti untuk memandangi pegunungan dan bunga-bunga serta memberi makan angsa-angsa, mudahlah untuk membayangkan Tchaikovsky melakukan hal yang sama. Ia selalu menggubah musik, bahkan ketika sedang dalam perjalanan ke sana kemari untuk memimpin pertunjukan musiknya. Sewaktu Carnegie Hall dibangun, Tchaikovsky diundang untuk memimpin musik di New York City dan meraih kesuksesan yang banyak dibicarakan orang. Daya tarik pribadinya yang besar dan penampilannya yang tampan membuatnya memiliki banyak teman di berbagai negara. Saint-Saëns berkata, “Ia seorang yang paling lembut dan baik hati.”

Musik Tchaikovsky merupakan perpaduan lagu rakyat, opera Italia yang kosmopolitan, balet Prancis, dan simfoni Jerman, tetapi masih sangat bergaya Rusia. Popularitasnya yang sangat luas dikarenakan kemerduan suara dan melodi indah yang menghanyutkan pendengarnya bagaikan gelombang ombak, dan juga orkestrasinya yang brilian. Ia merupakan salah seorang pembuat orkestrasi terbaik sepanjang zaman, dan Tchaikovsky paling bagus dalam menggarap musik balet. Bahkan simfoni-simfoninya memiliki sentuhan yang menyerupai musik balet. Kurangnya bentuk musik yang tampak jelas dalam simfoni-simfoninya yang awal, merupakan cacat musikalnya yang terburuk. Tchaikovsky adalah komponis Rusia pertama yang memperoleh kemashyuran internasional.

Rumah saudara perempuannya Alexandra dan suaminya beserta anak-anak mereka menyediakan tempat yang stabil dan menghibur bagi Tchaikovsky. Ia mencintai anak-anak dengan tulus. Musik baletnya yang pertama, Swan Lake, semula direncanakan sebagai hiburan untuk keponakan-keponakannya. Namun selalu di lubuk hatinya, pria yang lembut ini merasa kesepian dan frustrasi. Ia berkata, “Menyesali masa lalu dan mengharapkan masa depan tanpa pernah merasa puas dengan masa sekarang – itulah cara saya menjalani hidup.”

Tiga musik baletnya menjadi karya klasik. Dalam Swan Lake (1875-1876) Tchaikovsky berusaha keras menggabungkan gaya dongeng sederhana dengan kepiawaian teaternya agar memenuhi persyaratan balet Rusia klasik. Teknik orkestranya yang hebat dan kehalusan sentuhan membuat komposisi itu menjadi sebuah adikarya.

Pada tahun 1888 dan 1889 ia menciptakan Sleeping Beauty. Waltz di dalamnya, yang sudah selayaknya menjadi terkenal, memiliki gaya yang melodius dan beremosi kuat. Salah satu musik paling menyenangkan yang pernah diciptakannya terdapat dalam Sleeping Beauty. Tchaikovsky sangat menggemari waltz sepanjang hidupnya. Itulah caranya untuk lari dari realitas kehidupan yang sulit dan masuk ke dalam dunia balet dan musik yang menyenangkan namun semu.

Tiga tahun setelah Sleeping Beauty, Tchaikovsky menggubah The Nutcracker Suite. Ini merupakan balet malam Natal yang mengisahkan tentang seorang gadis kecil yang bermimpi bahwa hadiah alat pemecah kacang-kacangannya telah berubah menjadi seorang pangeran tampan. Dalam “Dance of The Flowers” kita mendapati orkestra modern dalam kualitas nada tersendiri dan Tchaikovsky melakukannya dengan sangat baik.

Orang dapat melihat dengan jelas betapa ia mendapatkan penghiburan untuk penderitaan pribadinya melalui menciptakan musik yang riang dan memikat, karena tak lama sebelum menggubah The Nutcracker Suite, Madame von Meck dengan cara yang kejam dan tak terduga memutuskan hubungan persahabatan mereka. Putra kesayangan Madame von Meck sakit keras, dan ia mengira bahwa ia telah mengabaikan putranya karena terlalu memberi perhatian kepada Tchaikovsky. Penulis biografi yang lain menjelaskan bahwa ia berhenti memberi gaji kepada Tchaikovsky karena berpikir bahwa dirinya bangkrut, yang sebenarnya merupakan khayalan murni. Waktu itu Tchaikovsky tidak lagi benar-benar membutuhkan uang, tetapi ia sangat terluka dengan cara wanita itu mengakhiri persahabatan mereka. Hanya dalam beberapa bulan ia tampak tua, dan menjelang kematiannya tiga tahun kemudian ia memanggil-manggil terus nama Madame von Meck. Wanita itu meninggal dunia tak lama setelah Tchaikovsky meninggal.

Madame von Meck adalah seorang ateis yang teguh, wanita yang kuat dan suka menguasai. Ia bangga atas ketidakbergantungannya pada Allah dan masyarakat dan kerap kali mencaci Tchaikovsky yang rindu untuk merasakan kebenaran kekristenan dengan lebih sungguh untuk memiliki iman yang lebih kokoh. Dalam biografi Tchaikovsky yang ditulis oleh Bowen dan Meck, mereka memasukkan kutipan berikut yang diambil dari sepucuk surat Tchaikovsky untuk Madame von Meck, “Di satu sisi pikiranku menolak untuk diyakinkan oleh dogma … di sisi lain, pendidikan yang kuperoleh dan kebiasaan yang telah mendarah daging sejak kecil, dipadukan dengan kisah tentang Kristus dan pengajaran-Nya, semuanya mempengaruhiku untuk berpaling kepada-Nya dalam doa tatkala aku bersusah hati, dan bersyukur tatkala aku berbahagia.”

Tchaikovsky menciptakan delapan opera, tetapi hanya Eugene Onegin dan The Queen of Spades yang kini dipentaskan secara tetap. Eugene Onegin, dengan adegan suratnya yang terkenal di Babak I, hanyalah keberhasilan kecil dalam pertunjukan perdananya di Moskwa, tetapi meraih popularitas yang besar di St. Petersburg berkat kekaguman sang kaisar pada karya ini. Violin Concerto merupakan salah satu karya paling populer dan salah satu yang terbaik. Dari lagu-lagu yang diciptakannya, “None but the Lonely Heart” paling terkenal. Tiga simfoni terakhir Tchaikovsky merupakan simfoni yang penting. Simfoni-simfoni itu kaya dalam isi, tekanan, dan melodi. Kecintaannya pada alat musik perkusi patut diperhatikan.

Berkenaan dengan Sixth Symphony, Tchaikovsky berkata, “Aku telah mencurahkan segenap jiwaku untuk karya ini.” Ia menggubah simfoni ini setelah mengalami keretakan hubungan yang menghancurkan dengan Madame von Meck. Lagi-lagi untuk mencari perlindungan dari penderitaan hidup, Tchaikovsky menciptakan musik terbaiknya. Dengan kehadiran Symphony No. 6, abad ke-19 lengkap sudah – mulai dari optimisme dan masa akhir kejayaan simfoni-simfoni Beethoven hingga penderitaan yang tak terpahami dari pernyataan musikal Tchaikovsky yang terakhir. Modeste, saudara lelaki Tchaikovsky, memberinya nama Pathetique.

Setelah menyelesaikan simfoni terakhirnya, ia pergi ke St. Petersburg untuk memimpin pertunjukan musiknya itu, tetapi masyarakat tidak menghargainya. Simfoni yang agung ini mendapat sambutan dingin dan acuh tak acuh, tetapi penilaian itu berbalik dengan cepat – namun terlambat bagi Tchaikovsky yang meninggal akibat kolera seperti ibunya dahulu. Saat itu ia berusia 53 tahun. Symphony No. 6 merupakan salah satu simfoni paling populer abad ke-19, dengan klimaks-klimaksnya yang menghanyutkan dan keindahannya yang tragis. Musik Tchaikovsky dengan semua kekuatan dan keindahannya bagaimana pun juga mengungkapkan pesimisme yang mewarnai tahap akhir gerakan Romantik.

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Capriccio Italien

Concerto in B Flat Minor – Piano and Orchestra

Concerto in D Major – Violin and Orchestra

Eugene Onegin – Selections

Francesca da Ramini

Marche Slave

Nutcracker Suite

1812 Overture

Romeo and Juliet

Serenade in C for Strings

Sleeping Beauty Ballet

Swan Lake Ballet

Symphony No. 4

Symphony No. 5

Symphony No. 6, Pathetique

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books)

 

Read Full Post »

chopin1

Musik senantiasa berkumandang dalam rumah Chopin, dan orang tua Frédéric merasa sedih ketika melihat bayi laki-laki mereka menangis tatkala mendengar suara nyanyian atau permainan piano dan alat musik lainnya. Mereka mengira ia membenci musik; namun suatu hari ketika ia menaiki piano dan dengan jari-jari mungilnya menekan beberapa nada, mereka mengerti dengan tawa dan air mata bahwa putra mereka itu menangis karena sukacita. Tak heran jika Frédéric Chopin tumbuh dewasa menjadi “penyair piano.” Dengan pendirian yang sangat teguh, hampir semua yang dia ciptakan adalah untuk dimainkan dengan piano. Ia menciptakan dunianya sendiri yang unik berkenaan dengan kesemarakan bunyi.

Chopin menghabiskan setengah dari kehidupannya yang singkat di Polandia dan setengahnya lagi di Paris. Seperti halnya banyak anak muda cerdas lainnya, ia mendambakan petualangan. Oleh karenanya, ia pergi ke Wina, Berlin, Munich, dan beberapa tempat lainnya, tetapi Paris adalah tempat tujuannya, dan ia tiba di sana tahun 1831. Ketika berada di Berlin ia bertemu dengan Mendelssohn tetapi terlalu malu untuk memperkenalkan dirinya. Dalam salah satu perjalanannya sebelum menuju Paris, ia mendengar “Ode for St. Cecilia’s Day” karya Handel. Ia menulis surat ke rumah, “Karya itu hampir mendekati idealku tentang musik yang agung.”

Chopin dilahirkan dekat Warsawa. Ayahnya, orang Prancis, datang ke Polandia untuk bekerja, namun setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, ia bekerja sebagai guru privat dan akhirnya mulai mendirikan kursus miliknya sendiri yang sukses. Banyak muridnya berasal dari kalangan bangsawan, dan sejak awal Frédéric suka bergaul dengan mereka yang berasal dari kalangan teratas. Ibunya adalah dayang seorang countess, dan ia sendiri adalah keturunan bangsawan.

Suasana di rumah Chopin penuh kasih sayang, sopan, dan artistik. Ada empat anak, dan keempatnya berbakat musik. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, pilihan Frédéric untuk kariernya sudah pasti. Pada usia enam tahun ia sudah menjadi pianis andal, dan dipanggil banyak orang sebagai Mozart yang lain. Pada usia delapan tahun ia melihat komposisinya yang pertama dicetak. Komposisi itu merupakan sebuah polonaise, tarian tradisional Polandia, yang semula dilakukan oleh kaum bangsawan.

Guru pertama Chopin, seorang musisi yang andal, memperkenalkan murid mudanya yang luar biasa ini kepada Bach dan juga mengizinkannya membuat improvisasi dengan bebas pada piano. Dalam tahun-tahun berikutnya Chopin memainkan bagian-bagian dari Well-Tempered Clavier karya Bach sebagai pemanasan sebelum memulai suatu konser. Ia menguasai semua komposisi itu di luar kepala.

Dengan guru berikutnya, Joseph Elsner, Chopin belajar komposisi. Ini merupakan saat yang sangat penting dalam pendidikan musiknya. Sangat wajar bagi musisi dengan pendidikan lengkap seperti Elsner untuk mendesak murid-muridnya menggubah sonata, simfoni, opera, dan bentuk-bentuk musik lainnya untuk memperluas pemahaman mereka tentang banyak kemungkinan yang ada bagi seorang komponis. Namun Elsner memiliki keputusan yang sangat bagus. Ia tidak pernah memaksa gaya bermusik Chopin dan melakukan apa saja yang ia mampu supaya bakat unik Chopin berkembang secara alami.

Di L’Abri Fellowship kami sering ditanya, “Apa maksudnya menjadi kreatif? Bagaimana Anda mendefinisikan seorang seniman yang kreatif?”

Chopin merupakan contoh yang menarik. Ia sangat berkonsentrasi pada sudut pandangnya sendiri yang khusus dan terbatas. Dalam usia muda ia memutuskan menciptakan musik semata-mata untuk alat musik yang ia cintai. Musik tidak mengalir begitu saja dengan mudah dari dirinya. Ia harus bekerja keras dan kadangkala disertai penderitaan yang berat untuk menuntaskan tujuannya. Ia lebih menyukai bentuk musik yang pendek; dan seperti tukang perhiasan mengerjakan permata yang langka, Chopin akan memoles hasil komposisinya yang relatif sedikit hingga mendekati sempurna, sesuai yang ia sanggup lakukan.

Penulis lain mengatakannya demikian, “Ia mengolah dan menanami kebunnya sendiri.” Siapa pun yang pernah melakukan persiapan menanam akan mengerti kerja keras yang harus ia lakukan untuk mengolah dan menanam bunga dan sayuran.

Saat Chopin meninggalkan Polandia dan keluarganya yang tercinta sebagai seorang pemuda berusia dua puluh tahun, tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ia tak akan kembali ke sana lagi. Penulis biografi, Huneker, berkata, “Dengan penuh dukacita Chopin meninggalkan rumah, orang tua, teman … dan pergi ke dunia dengan keyboard dan otak yang dipenuhi musik nan indah sebagai senjata satu-satunya.” Kasihnya yang tidak berubah kepada keluarganya merupakan salah satu sifatnya yang terbaik.

Orang Polandia menganggap Chopin sebagai tokoh kebudayaan tertinggi yang pernah dihasilkan negara mereka. Ia adalah jiwa musiknya Polandia. Salah satu ledakan dramatis terbesar dalam literatur piano adalah Revolutionary Etude (Op. 10, No. 12). Ia menggubahnya dengan perasaan yang mendalam tatkala ia mendengar bahwa Warsawa jatuh ke tangan orang Rusia.

Ketika Chopin tiba di Paris pada musim gugur tahun 1831, saat itu Prancis dalam kondisi stabil sementara, dan kebangkitan dan kemakmuran nasional ditunjukkan dengan berkembangnya kesenian di sana. Chopin telah menikmati kesuksesan yang terbatas, tetapi sebagai komponis ia tahu bahwa “komposisi pianonya belaka” tidak akan terlalu digemari di tengah kehidupan musik masyarakat Paris. Jadi sebelum meninggalkan Warsawa, ia telah menyelesaikan banyak komposisi, termasuk Piano Concertos in F Minor and E Minor, juga mazurka [tarian Polandia] dan sebagian besar Etude [karya yang mengandung latihan untuk mengembangkan teknik main].

Ia hanya memiliki sedikit uang tetapi dengan cepat memiliki teman-teman dari kalangan bangsawan, dan ada berita yang mengatakan bahwa Chopin bersedia memberi les piano. Hampir dengan segera ia memiliki murid lebih banyak daripada beberapa guru besar terbaik di Paris. Muridnya – Pangeran ini, Countess itu, Duke itu, dan yang semacam itu – tidak pernah membayar Chopin untuk les yang diberikan. Sebagai gantinya, diam-diam mereka menaruh dua puluh atau tiga puluh franc pada rak di atas perapian saat Chopin memandang jendela atau mengikir kuku jarinya. Ia terlalu angkuh untuk menunjukkan kenyataan bahwa ia benar-benar membutuhkan uang itu.

Sisi pengajaran dari karier Chopin tercermin dalam banyak etudenya, termasuk etude yang dianggap oleh sebagian orang sebagai melodinya yang terhebat, yaitu Etude Op. 10, No. 3, dan komposisi-komposisi yang digubah untuk dimainkan murid-muridnya. Komposisi itu mencakup prelude, nocturne [komposisi yang bersifat tenang dan halus, melukiskan suasana malam yang romantik], waltz, impromptu [karya musik yang tampak seolah-olah diimprovisasi], mazurka, dan polonaise awal. Banyak dari komposisi ini dipersembahkan kepada murid-muridnya.

Dengan cepat Chopin menghasilkan uang yang cukup untuk merawat kudanya sendiri, hidup dengan nyaman, dan berpakaian seperti seorang count. Dengan demikian ia dikenal dan disenangi di kalangan yang lebih atas, meski ia hanya memiliki sedikit teman dekat. Schumann membantu memperluas kemashyurannya, namun terlepas dari Schumann sekalipun, Chopin sudah dikenal sebagai seorang jenius. Liszt, Berlioz, Hiller, Bellini, dan Meyerbeer juga menjadi teman-teman yang mengagumkan.

Ke mana pun Chopin pergi, ia diperlakukan istimewa layaknya seorang pangeran, dan kualitas yang mulia ini dibawa ke dalam musiknya. Komposisi-komposisinya tak pernah tidak menarik atau biasa-biasa saja. Chopin bukanlah pengekor komponis lain, ia seorang pemimpin.

Walau dikenal sebagai pianis besar (improvisasinya membangkitkan rasa takjub), kesehatannya yang lemah membatasi kenyaringan suara musiknya, dan sejak awal kariernya ia menyadari bahwa sebaiknya ia tidak bermain di ruang aula yang besar. Dalam sejarah permainan piano, tak ada contoh lain tentang reputasi yang melegenda sedemikian hebat. Hal ini didasarkannya pada hanya tiga puluh kali pertunjukan di muka umum yang Chopin berikan di sepanjang kariernya. Dalam salah satu konser terakhirnya, bunyi yang dihasilkannya nyaris seperti suara berbisik dan tepuk tangan penonton hampir sama lembutnya dengan permainannya.

Karya-karya Chopin menuntut pemain piano tidak hanya menguasai teknik dan mutu dalam menekan tuts piano dengan sempurna, tetapi juga penggunaan pedal secara imajinatif dan penggunaan “tempo rubato” dengan hati-hati. Chopin menggambarkan hal ini dengan sedikit mendorong atau menahan dalam memainkan bagian kalimat lagu di tangan kanan, sementara iringan tangan kiri terus dimainkan dalam kecepatan yang tepat.

Pada pesta-pesta musik pribadi di rumah-rumah yang indah milik teman-teman bangsawannya yang banyak inilah Chopin dikenal dan dicintai sebagai pianis sekaligus komponis. Saat-saat itu pasti merupakan malam yang menggembirakan. Kita dapat membayangkan Chopin dan Liszt memainkan musik empat-tangan dengan banyak improvisasi dan mungkin Mendelssohn atau Berliozlah yang membalikkan lembaran partiturnya.

Perlu disebutkan bahwa Chopin memiliki pegangan yang kuat dalam hidup meski kesehatannya buruk. Sikap optimisnya yang riang menolongnya. Di tengah-tengah frustrasi ia masih dapat tersenyum dan bahkan bercanda tentang apa pun yang sedang menjengkelkannya. Namun orang dapat mendengar aspek sedih dari hidupnya dalam musik Romantiknya yang melankolis.

Chopin suka berteman dengan wanita, dan mereka menghargainya, namun karena kelemahan fisiknya dan sifat pendiamnya yang ekstrem, ia tidak menikah. Sebelum datang ke Paris, ia berharap untuk menikahi wanita bangsawan yang telah dikenalnya sejak kecil, tetapi ayah si gadis keberatan karena tidak ingin punya menantu seorang musisi.

Chopin pernah menjalin hubungan cinta beberapa kali, dan kerinduannya akan kasih sayang tampak pada nocturnenocturne yang digubahnya. Ketika akhirnya ia menerima kenyataan bahwa hubungan cintanya dengan countess itu berakhir, kesehatannya terganggu, dan ia menjadi sangat depresi; namun sebelum meninggalkan Polandia, ia menggubah sebuah musik waltz untuknya, Op. 69, No. 1.

Dua orang teman mendesak Chopin ikut dengan mereka ke Inggris. Mereka meyakinkannya bahwa perubahan suasana akan memulihkan dan mengangkat rohnya yang tertekan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Gabungan antara cuaca Inggris dan vitalitasnya yang sudah rendah merusak paru-parunya yang lemah. Ia kembali ke Paris dengan pikiran dan tubuh yang menderita, dan mungkin ia akan menyerah dalam keputusasaan jika penulis George Sand, salah satu wanita yang luar biasa pada abad ke-19, tidak merasuki hidupnya. Mereka bertemu dengan perantaraan Liszt pada musim dingin tahun 1836, dan hampir segera setelah kedatangannya kembali dari Inggris, mereka tampak di mana-mana berdua.

Sand lebih tua dari Chopin, dan menjelang pertemuan mereka ia berada pada puncak kemashyurannya sebagai novelis dan tokoh feminis. Bagi orang yang melihat sepintas lalu, tampaknya ia, wanita yang mampu mengatur orang lain itu, bertanggung jawab atas sang musisi. Namun sebenarnya tidaklah demikian. Chopin hidup dengan kondisi fisik yang lemah dalam sebagian besar hidupnya dan belajar seni untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Karena kelemahan fisiknya yang parah kadang-kadang, ia terpaksa bergantung pada orang lain untuk mendapatkan bantuan, tetapi dalam karya seninya ia menunjukkan tingkat kepercayaan diri dan kemandirian yang mengagumkan.

Chopin sangat mengharapkan kesempurnaan, dan keinginan ini mendominasi keseluruhan hidupnya. Dalam hubungan yang tidak seperti biasanya dengan George Sand, niscaya ia mendapatkan kestabilan emosi yang ia butuhkan, dan ia diberi waktu dan ketenangan untuk membuat komposisi. Selama sembilan tahun berikutnya Chopin memasuki salah satu masa yang paling produktif dalam hidupnya. Dalam ballade [lagu yang isinya bersifat petualangan, berjiwa pahlawan atau romantis] yang penuh gairah, scherzo [komposisi yang bersifat lelucon, ringan hati dengan tempo yang cepat dan irama yang gesit] yang imajinatif, impromptu, dan karya-karya yang terinspirasi sedemikian rupa seperti Fantaisie in F Minor, Barcarolle, dan Berceuse, orang akan menemukan kesempurnaan yang ia perjuangkan.

Pada awal November 1838, Chopin dan Sand, bersama anak-anak Sand dan seorang pembantu, pergi ke Pulau Majorca mencari sinar matahari dan kehangatan. Namun sebaliknya, pulau itu basah, dingin, dan tidak menyenangkan, terutama karena mereka tinggal di sebuah biara Carthusian yang telah lama ditinggalkan. Seratusan tahun kemudian kami yang ada di L’Abri mengunjungi biara itu pada hari yang cerah dan indah. Meski demikian, bagian dalam biara tampak dingin dan suram. Bilik kecil yang lembab dan makanan yang buruk nyaris menamatkan riwayat Chopin, dan akhirnya pelancong-pelancong yang letih ini singgah di Marseilles hingga kondisi Chopin sudah cukup baik untuk meneruskan perjalanan ke Nohant, tempat George Sand memiliki rumah musim panas.

Kendati mengalami banyak kesulitan di Majorca, Chopin kembali ke Prancis setelah menciptakan dua polonaise, C Sharp Minor Scherzo, Prelude in A Major, No. 7 (salah satu komposisinya yang paling pedih), dan 24 prelude (Op. 28). Ia memiliki salinan prelude-prelude Bach dan dengan rendah hati ia mengatakan bahwa 24 preludenya “hanyalah tulisan cakar ayam” jika disandingkan dengan 48 prelude Bach. Chopin mencurahkan segenap hatinya untuk menggubah musiknya, dan mengunci dirinya dalam kamar (atau dalam bilik kecil biara) kadangkala selama beberapa hari, untuk mengerjakan dan mengulang sebuah komposisi.

Pada tahun 1847 persahabatannya dengan George Sand berakhir dengan tiba-tiba. Dalam sebuah pertengkaran antara George dan putrinya Solange, Chopin memihak Solange, dan akhirnya George Sand tak tahan lagi. Bagi Sand, perpisahan itu tidak terlalu mengganggunya karena ia sangat disibukkan oleh kegiatan menulisnya dan berbagai sebab lainnya. Namun bagi Chopin, peristiwa itu benar-benar merupakan pukulan yang mematikan dan menandai akhir dari kreativitasnya. Kondisi fisiknya memburuk dengan cepat, dan ia tak pernah menggubah musik lagi.

Atas desakan teman Skotlandianya, Jane Stirling, salah seorang muridnya yang kaya, Chopin pergi ke Inggris dan Skotlandia di mana ia segera digemari oleh masyarakat modern. Ia berada dalam stadium terakhir penyakit tuberkulosis dan begitu kehabisan tenaga sehingga setelah memainkan musik di sebuah salon [pertemuan rutin tamu-tamu di rumah seorang wanita dari kalangan atas], ia harus dibopong menuju kamar tidurnya dan digantikan bajunya oleh pembantu prianya.

Ia kembali ke Paris di mana revolusi masih memanas. Ia hampir tidak mempunyai uang lagi, tetapi untungnya keluarga Stirling memberinya hadiah yang besar untuk menopangnya pada masa-masa akhir hidupnya. Saudara perempuannya Louise datang dari Polandia untuk merawatnya. Ia bertahan hidup dalam penderitaan yang sangat hingga dini hari tanggal 17 Oktober 1849. Negara Polandia yang selalu terbuka untuk Chopin sejak ia meninggalkan Warsawa tahun 1830 serasa ikut terkubur bersamanya. Kuburannya di Père-Lachaise Cemetery terletak di antara makam Cherubini dan Bellini.

Tak diragukan bahwa Chopin mendapatkan rasa aman dan kedamaian pikiran yang mempercepat kematangan akhir dari kejeniusannya karena kasih sayang dan perhatian George Sand. Masa yang baru dalam hidupnya diawali dengan B Flat Minor Sonata, G Major Nocturne, Op. 37, No. 2, dan F Sharp Impromptu, yang semuanya diciptakannya pada masa pertama kali ia tinggal di Nohant. Sejak itu hingga tahun 1846 saat-saat musim panasnya ia lewatkan di Nohant di mana ia tidak hanya menggubah tetapi juga menikmati kunjungan penyanyi besar Pauline Viardot dan pelukis Delacroix, yang lukisan dramatisnya atas diri Chopin kini tergantung di Louvre.

Di sepanjang hidupnya Chopin suka menyanyi, dan secara khusus ia memiliki kasih terbesar pada komponis opera Italia Bellini. Musik Frédéric Chopin menghendaki pembagian kalimat lagu yang halus dan nada yang bernyanyi. Karena keunikan gaya musiknya, orang dapat langsung mengenali musik Chopin, yang sudah sepantasnya disebut “penyair piano.”

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Ballades

Barcarolle

Concertos for Piano

Etudes, Op. 10 and 25

Mazurkas

Nocturnes

Polonaises

Preludes, Op. 28

Scherzos

Sonatas 2 and 3 for Piano

Waltzes

Fantaisie in F Minor

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books.)

Read Full Post »

Older Posts »