Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2013

Definisi Menurut Global Initiative for Asthma (GINA) 2002:

 

Asma adalah kelainan inflamasi kronik saluran napas. Proses inflamasi ini melibatkan berbagai sel inflamasi antara lain sel mast, eosinofil, limfosit T, dan neutrofil. Pada individu yang sensitif kelainan inflamasi ini menyebabkan gejala-gejala yang berhubungan dengan obstruksi saluran napas yang menyeluruh dengan derajat yang bervariasi, yang sering membaik (reversible) secara spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi kronik ini juga menyebabkan hiperreaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan.

 

Epidemiologi dan Insidensi:

  • anak laki-laki lebih sering daripada perempuan,
  • setelah pubertas, perempuan sedikit lebih sering, sekitar 8% dari populasi orang dewasa di Amerika Serikat memiliki tanda dan gejala yang konsisten dengan diagnosis asma (300 juta di seluruh dunia),
  • biasanya terjadi sejak kecil,
  • prevalensi meningkat lebih dari 45% sejak akhir 1970-an,
  • peningkatan cepat terjadi pada negara yang baru mengadopsi gaya hidup industrial.

 

 

Etiologi:

belum diketahui pasti,

diperkirakan disebabkan oleh interaksi antara faktor genetik dan faktor yang didapat (pencetus dapat berupa infeksi, polusi, dan alergi).

 

Faktor Risiko Umum:

  • paparan alergen (tungau debu rumah, bulu binatang, kecoa, serbuk sari, dan jamur >> hipersensitivitas tipe I),
  • pekerjaan (toluen diisosianat >> pembuatan plastik; metilik anhidrida >> resin untuk lem, cat, dan lain-lain)
  • iritasi (asap rokok, GERD)
  • infeksi saluran pernapasan (virus >>  menurunkan ambang rangsang vagal subepitelial),
  • olahraga (CO2 >> kemoreseptor pada arcus aorta dan sinus caroticus – medula oblongata – korteks – medula spinalis – saraf efektor – otot pernapasan; suhu >> termoreseptor N. Vagus – otak – N. Vagus motorik – asetilkolin – depolarisasi Ca – pecahnya sel mast karena deposit kalsium bertambah di dalam sel itu – histamin – merupakan amin vasoaktif – bronkokonstriksi dan edema bronkus karena peningkatan permeabilitas vaskular),
  • ekspresi emosional yang kuat (meningkatkan rangsangan vagal >> parasimpatis),
  • bahan kimia dan obat-obatan (aspirin >> jalur siklooksigenase dihambat – jalur lipoksigenase berlebihan – leukotrien; beta-blocker – menghambat adrenoreseptor beta-2 di paru-paru yang berfungsi untuk bronkodilatasi, reseptor beta-1 terdapat di jantung).

Read Full Post »

 

  • Enzim ACE adalah kininase II. Penghambat ACE akan mencegah degradasi bradikinin sehingga akan meningkatkan kadar zat tersebut pada endotel vaskuler lokal (saluran napas atau paru-paru).
  • Proses tersebut melibatkan jalur kalikrein-bradikinin-prostaglandin.
  • Bradikinin bekerja lokal pada reseptor BK2 di sel endotel dan menstimulasi produksi nitrit oksida (NO) dan prostaglandin. Prostaglandin sendiri memiliki efek vasodilator. Dengan demikian, akumulasi bradikinin yang terus menerus akan menyebabkan angioedema: mukosa tampak agak edema dan pada faring posterior tampak sedikit sekret mukoid jernih.
  • Bradikinin juga merangsang kemoreseptor pada saluran napas dan menimbulkan rasa tergelitik dan gatal. Oleh karena itu, refleks batuk akan terangsang.
  • Melalui saraf aferen N. Vagus impuls diteruskan menuju pusat batuk di otak (nukleus traktus solitarius pada medula batang otak) hingga akhirnya terkoneksi dengan generator pernapasan pusat (medulla oblongata).
  • Setelah itu impuls akan meninggalkan medula melalui saraf eferen N. Vagus menuju laring dan daerah trakeobronkial.
  • Melalui saraf motorik phrenicus C3-S2, impuls akan disampaikan menuju m. intercostalis, dinding abdomen, dan diafragma.
  • Mula-mula udara akan diinspirasi secara cepat (2,5 L). Epiglotis menutup erat-erat untuk menjerat udara dalam paru-paru. Otot-otot abdomen berkontraksi dengan kuat mendorong diafragma. Otot-otot ekspirasi seperti m. intercostalis internus juga berkontraksi dengan kuat.
  • Tekanan dalam paru-paru akan meningkat secara cepat sampai lebih dari 100 mmHg.
  • Pada akhirnya, pita suara dan epiglotis tiba-tiba membuka lebar dan udara bertekanan tinggi dalam paru-paru pun meledak ke luar.

Rasa gatal yang ditimbulkan oleh bradikinin juga memberikan kecenderungan pada pasien untuk berdeham sewaktu berbicara.

Deviasi septa pada pasien merupakan suatu deformitas nasal unilateral yang disebabkan oleh gangguan proses pertumbuhan mesodermal.

Daftar Pustaka:

Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI.

Guyton, A.C. and Hall, J.E., 2006. Textbook of Medical Physiology. 11 th ed.  Philadelphia, PA, USA: Elsevier Saunders.

http://journal.publications.chestnet.org/article.aspx?articleid=1084251&issueno=1_suppl

http://www.coughjournal.com/content/7/1/10

Read Full Post »

abbott-fuller-graves-roses

 

Latin

Vos flores rosarum,

qui in effusione sanguinis vestri

beati estis,

in maximis gaudiis redolentibus

et sudantibus in emptione

que fluxit

de interiori mente consilii

manentis ante evum:

In illo, in quonon erat  in constitutio

a capite

Sit honor in consortio vestro,

qui estis instrumentum ecclesie

et qui in vulneribus

vestri sanguinis undatis:

In illo, in quonon erat  in constitutio

a capite

 

 

English

You, who are rose blossoms,

who in the flowing of blood are blessed,

exuding the greatest scent of joy

and giving off the grace which flows

from the knowing of the inner mind,

enduring from before eternity,

through that One who has no beginning.

In your companionship may there be honor,

you who are instruments of the sacred gathering.

And through whose wounds life-blood streams with that One,

Who has no beginning.

Read Full Post »

background-visuel

Solidaritas Sosial: Wujud Iman yang Hidup

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa V, 9/10 Februari 2013)

 

Saudari-saudara, Umat Katolik Keuskupan Bandung yang terkasih dalam Kristus,

 Hari ini kita memasuki Minggu terakhir menjelang dimulainya Masa Prapaskah, yaitu masa tobat dan puasa sebagai persiapan kita merayakan Paskah. Kita akan memulai peziarahan tobat menuju paskah dengan menandai diri kita dengan abu pada hari Rabu Abu yang akan datang. Masa Prapaskah adalah waktu khusus bagi kita untuk memurnikan diri. Selama 40 hari Masa Prapaskah secara khusus kita diajak untuk mengingat kembali jati diri dan panggilan hidup kita sebagai orang kristiani. Pertobatan yang kita lakukan sesungguhnya merupakan upaya kita untuk kembali kepada kehidupan dan iman kristiani. Dengan demikian, Masa Prapaskah adalah masa pembaharuan diri karena perjumpaan dengan Tuhan. Pengampunan Tuhan yang kita terima akan menjadi saat kehidupan baru bagi kita. Seperti bacaan pertama yang kita dengar pada hari ini, Nabi Yesaya mendapatkan anugerah kehidupan baru karena kesalahannya dihapus dan dosanya diampuni. Buah dari kehidupan baru itu tidak lain ialah kesiapsediaan untuk diutus. ”Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6: 7-8) Itulah kata-kata Nabi Yesaya setelah dirinya berjumpa dengan Tuhan dan mendapatkan pengampunan dosa.

Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan itu juga dialami oleh Simon dan teman-temannya di danau Genesaret. Para murid pertama itu mendapatkan kehidupan dan semangat baru setelah pengalaman kegagalan dan kekecewaan. Sepanjang malam mereka bekerja keras mencari ikan, tetapi gagal. Namun, kegagalan mereka menjadi keberhasilan, kekecewaan mereka menjadi sukacita karena mereka berjumpa dengan Tuhan. Lebih dari itu, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan membuat Simon dan teman-temannya semakin menyadari bahwa diri mereka adalah orang berdosa. ”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” (Luk. 5:8) Bagi Simon dan teman-temannya, buah dari perjumpaan dengan Tuhan adalah pertobatan; dan buah pertobatan adalah kesiapsediaan untuk diutus menjadi penjala manusia. ”Merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.” (Luk. 5:11)

 

Saudari-saudara yang terkasih,

 Perutusan untuk mewartakan iman itulah juga yang menjadi pesan Bapa Paus Benediktus XVI sewaktu beliau mencanangkan Tahun 2012-2013 sebagai Tahun Iman. Selama Tahun Iman ini kita diajak untuk menggali, menghidupi, dan mewartakan iman kepercayaan kita di tengah dunia yang senantiasa berubah, penuh tantangan dan permasalahan. Tahun iman adalah saat dimana kita memupuk kembali semangat perutusan kita. Untuk itu, Bapa Paus mengingatkan bahwa kita semua yang hidup di zaman sekarang ini memerlukan sumber air hidup seperti perempuan Samaria yang berjumpa dengan Yesus di pinggir sumur Yakub. Percakapan dan perjumpaannya dengan Yesus menjadi sumber air hidup bagi perempuan Samaria itu. (bdk. Yoh 4:1-42) Buah dari perjumpaan itu ialah ”kegembiraan dalam beriman dan kegairahan dalam mewartakannya.” (Porta Fidei, 7)

Iman apakah yang menjadi suka cita kita sehingga kita bergairah dalam mewartakannya? Dalam Surat Apostolik pembukaan Tahun Iman Porta Fidei (Pintu menuju Iman), Bapa Paus juga menekankan bahwa beriman kepada Allah Tritunggal berarti beriman kepada Allah yang adalah kasih. (Yoh. 4:8). Itulah iman yang kita pegang dan kita wartakan. Pewartaan iman bahwa Allah adalah kasih, kita lakukan baik melalui percakapan, tetapi terlebih pula lewat perbuatan-perbuatan kasih. Dengan demikian, amal kasih yang kita lakukan merupakan wujud perutusan kita. Pengampunan dan kemurahan hati yang kita pancarkan merupakan pewartaan iman kita. Melalui kehidupan dan pewartaan iman semacam ini, iman kita akan semakin bertumbuh dan hidup kita akan semakin berbuah.

Tahun iman, dengan demikian, menjadi kesempatan bagi kita untuk lebih meningkatkan amal kasih dan bela rasa kita. Sejalan dengan hal ini, Gereja Keuskupan Bandung telah mencanangkan tahun 2013 sebagai Tahun Solidaritas Sosial. Dalam tahun ini, kita semua diajak untuk ikut terlibat dalam pemulihan martabat manusia dan keutuhan ciptaan. Untuk itu, Aksi Puasa Pembangunan 2013 Keuskupan Bandung juga mengajak kita untuk hidup dalam semangat solidaritas sosial itu. Solidaritas sosial merupakan perwujudan iman yang hidup. Dengan demikian, iman dan solidaritas sosial bukanlah dua hal yang terpisah. Kita bisa ingat nasehat Santo Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati. Dalam Tahun Iman dan Tahun Solidaritas Sosial kita hendaknya menunjukkan iman kita lewat perbuatan-perbuatan. (bdk. Yak. 2:14-18)

 

Saudari-Saudara yang terkasih,

 Kita semua menyadari bahwa kita hidup di tengah dunia yang membutuhkan kasih dan kemurahan hati. Banyak orang di sekitar kita yang hidup dalam kemiskinan dan kesakitan, keputusasaan dan kelaparan. Banyak orang yang mengalami musibah, baik karena bencana alam maupun bencana sosial. Banyak orang yang menderita karena kekerasan dan keserakahan. Ada pula yang menjadi kurban kejahatan dan ketidakadilan. Mereka adalah orang-orang yang merindukan uluran kasih dan kemurahan hati. Itulah realitas dunia, tempat kita tinggal; dunia yang sedang sakit dan menderita, tetapi tetap dicintai Allah.

Namun, di tengah dunia yang menderita ini, saya bersyukur bahwa muncul banyak orang yang dengan suka hati memberikan kemurahan hati dan kasih. Pada waktu bencana banjir terjadi, banyak dari antara kita dengan ketulusan hati memberikan bantuan dengan berbagai cara. Pada saat banyak anak yang tidak dapat bersekolah, beberapa orang berkumpul untuk bersama-sama mengumpulkan dana. Banyak umat yang juga terlibat dengan tekun dan setia dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan juga pendampingan bagi mereka yang sakit dan putus asa. Tentu, ini semua hanyalah contoh kecil dari sekian banyak kemurahan dan kasih yang telah diberikan oleh Umat Allah Keuskupan Bandung. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan kemurahan hati Anda. Semuanya itu semakin memancarkan iman kita, bahwa Allah adalah kasih.

Marilah kita melanjutkan karya baik kita itu sambil pula mencari bentuk-bentuk lain untuk mengembangkan karya-karya kita. Kita berdoa agar semakin banyak orang mau terlibat dalam karya amal kasih. Marilah kita jadikan masa Prapaskah sebagai masa pembaharuan perutusan iman kita untuk mewartakan kasih dan kebaikan Tuhan. Semoga di masa Prapaskah ini, kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang mengubah hidup kita. Mengakhiri surat ini, bersama-sama dengan para imam, diakon dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/ adik-adik kaum muda, remaja dan anak-anak semua yang dengan satu dan lain cara ikut terlibat dalam perutusan Gereja Keuskupan Bandung, baik untuk kebaikan Gereja sendiri maupun untuk kebaikan bersama dalam masyarakat yang lebih luas. Seperti Simon Petrus dan teman-temannya, kita pun dengan cara yang berbeda-beda, dipanggil dan diutus untuk menjadikan siapa pun yang kita jumpai dalam hidup kita, semakin berkembang dalam solidaritas sosial. Selamat memasuki masa tobat. Salam dan berkat Tuhan menyertai Anda sekalian beserta segenap keluarga dan komunitas Anda.

 

Bandung, 4 Februari 2013

 

Ignatius Suharyo

Administrator Apostolik

Keuskupan Bandung

(http://keuskupanbandung.org/)

Read Full Post »

stperegrine

Santo Peregrine, pembuat keajaiban yang mulia, engkau menjawab panggilan ilahi dengan satu semangat menolak semua bentuk kesenangan hidup dan semua kehormatan duniawi yang hampa, guna mengabdikan dirimu kepada Allah. Engkau bekerja dengan semangat dan tanpa kenal lelah bagi keselamatan jiwa-jiwa. Dalam kesatuan dengan Yesus yang tersalib, engkau dengan sabar menanggung penderitaan-penderitaan yang sangat menyakitkan.

Dalam kesabaranmu yang luar biasa itu engkau disembuhkan secara ajaib dari kanker pada kakimu dengan sentuhan tangan ilahi Yesus sendiri.

Aku berdoa kepadamu, perolehlah bagiku rahmat untuk menanggapi setiap panggilan Allah. Bangkitkanlah dalam hatiku semangat haus akan keselamatan jiwa-jiwa.

Bebaskanlah aku dari kelemahan-kelemahan yang begitu sering menyakitkan tubuhku yang lemah. Dan perolehlah bagiku rahmat kesediaan menerima penderitaan-penderitaan yang dikehendaki Allah bagiku.

Semoga aku, dengan meneladani keutamaan-keutamaan dan mencintai Tuhan yang tersalib dan BundaNya yang berdukacita, mendapatkan kemuliaan kekal di surga. Amin.

1x Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan

(Santo Peregrine adalah pelindung para penderita kanker dan penyakit yang sulit disembuhkan serta gangguan kaki)

Read Full Post »

 

Tchaikovsky1

Meskipun bukan seorang pianis konser, Tchaikovsky menggubah salah satu konserto yang paling hebat, Piano Concerto in B Flat. Ia mempersembahkan konserto ini untuk temannya Nicholas Rubinstein, yang memberitahunya bahwa karya itu mustahil untuk dimainkan. Tchaikovsky tidak yakin. Ia beralih mempersembahkan karya itu kepada pianis dan dirigen Jerman Hans von Bülow yang tidak berani memainkan karya itu di Eropa, tetapi memainkannya dengan sukses untuk pertama kalinya di Boston. Dengan penguasaan Tchaikovsky atas efek orkestra, kekuatan ritmis, bakatnya untuk menciptakan efek dramatis, dan kebesaran gerakan, tepatlah jika Piano Concerto in B Flat menjadi karya yang sangat populer dan sering dimainkan. Karya itu merupakan suatu pertunjukan melodi yang indah – adikarya pertama Tchaikovsky.

Pyotr Ilyich Tchaikovsky dilahirkan pada tanggal 7 Mei 1840 di Vonkinsk, Rusia, tetapi dari mana ia mewarisi bakat musik merupakan suatu misteri. Ia mendapat sedikit pengetahuan tentang musik saat masih kecil bersama-sama dengan saudara-saudaranya, tetapi ia tak pernah mengira memiliki talenta musik yang istimewa. Tak ada jejak-jejak musik dalam keluarganya. Ia menuntut ilmu untuk menjadi pengacara dan kemudian bekerja sebagai jurnalis di Ministry of Justice, namun akhirnya talentanya yang kreatif mulai tampak jelas. Mendengarkan musik Mozart Don Giovanni membantunya memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk musik.

Pada usia 23 tahun ia mendaftarkan diri di Konservatori St. Petersburg yang baru didirikan oleh Anton Rubinstein. Tchaikovsky merupakan orang Rusia pertama yang mendapatkan pelatihan sistematis mengenai dasar-dasar musik. Setelah bekerja keras akhirnya ia menyelesaikan studinya ini dalam waktu tiga tahun. Selanjutnya ia dianjurkan oleh Rubinstein untuk mengisi posisi guru di Konservatori Moskwa pada tahun 1866, dan sekitar waktu itu ia mulai menggubah musik dengan serius. Ia tetap di sana selama dua belas tahun sebagai profesor harmoni, dan ia sangat dihormati sebagai guru. Meski melewatkan waktu-waktu yang panjang dan bekerja keras, ia terus menggubah musik.

Temperamen Tchaikovsky yang melankolis dan mawas diri tercermin dengan jelas dalam musiknya. Ia menyayangi ibunya dengan segenap kegairahan seorang anak yang sangat sensitif, dan tatkala sang ibu meninggal karena kolera manakala ia berusia empat belas tahun, emosinya sangat terpengaruh. Untuk mengurangi kesedihannya karena kematian ibunya yang mendadak dan karena sikap ayahnya yang santai yang tampak tidak peduli terhadap peristiwa itu, Tchaikovsky menggubah waltz pendek. Menenggelamkan diri dalam musik tatkala dirundung kesedihan menjadi sebuah pola dalam hidupnya. Ia menciptakan beberapa balet yang paling riang pada masa mengalami penderitaan batin.

Kehidupan Tchaikovsky diwarnai kekasaran dan naluri seksual yang tidak normal. Ia tersiksa oleh homoseksualitasnya. Ia juga menderita epilepsi, migrain, insomnia, dan serangan depresi. Hidupnya mengandung semua unsur tragedi, tetapi ia tetap menghasilkan musik dengan gairah yang tak terkendali, dan ia menjalani kehidupan yang selalu dipenuhi dengan prestasi artistik yang senantiasa meningkat. Dalam buku biografi Bowen dan Meck, Beloved Friend, mereka memasukkan kutipan dari salah satu surat Tchaikovsky: “Saya mengalami beberapa kali masa yang sangat tidak menggairahkan, tetapi kehausan yang tak terpuaskan untuk bekerja menghibur saya…. Jika seseorang tidak memiliki suasana hati yang benar, ia harus memaksa diri untuk bekerja, kalau tidak, tidak ada sesuatu pun yang dapat dicapai.” Di waktu yang lain ia pernah menulis, “Tanpa pekerjaan, hidup tidak ada artinya bagi saya.” Ia seorang yang sangat rendah hati yang jarang yakin akan keunggulan karyanya.

Sementara masih mengajar di Konservatori Moskwa, Tchaikovsky dalam usia 29 tahun menggubah fantasinya Romeo and Juliet. Ini merupakan salah satu karya terbaiknya yang menandai awal kariernya. Mengingat betapa terlambatnya Tchaikovsky mempelajari musik secara serius, maka kecepatan ia mengembangkan teknik bermusiknya sungguh menakjubkan. Ia sangat mengagumi Shakespeare dan Dickens, terutama Pickwick Papers. Tchaikovsky mendapatkan kepuasan yang besar dalam kesusastraan dan teater. Bentuk Romeo and Julietnya serupa dengan overture Mendelssohn, A Midsummer Night’s Dream. Pada mulanya Romeo and Juliet disambut dingin oleh khalayak, tetapi kini menjadi karya favorit di dunia internasional. Di dalamnya kita akan mendengar beberapa melodi Tchaikovsky yang hebat, khususnya tema sepasang kekasih, harmoninya yang matang, dan ritme yang penuh semangat.

Untuk komposisinya Francesca da Ramini yang matang dan unggul, Tchaikovsky memilih sebuah subjek dari Divine Comedy karya Dante. Kisahnya adalah tentang cinta antara Francesca dan Paolo yang Dante tempatkan di Inferno [neraka] di mana mereka dipandang sebagai dua manusia yang terhilang yang mengembara dengan penuh kesedihan. Tchaikovsky mengungkapkan kisah ini lewat musik dengan kepekaan dan penghiburan yang dalam.

Karena mengharapkan kestabilan dalam hidupnya, pada usia 37 tahun Tchaikovsky menikahi Antonina, salah seorang siswa di Konservatori Moskwa. Dengan licik Antonina mengejar Tchaikovsky, dan pernikahan mereka adalah suatu bencana. Antonina seorang yang bermusuhan dengan lingkungannya dan meninggal di rumah sakit jiwa. Ketika nyaris terkena gangguan saraf, Tchaikovsky mencoba bunuh diri. Pada saat yang sangat membutuhkan bantuan ini, Madame Nadejda von Meck, seorang janda kaya dengan sebelas anak, yang telah mendengarkan beberapa musik Tchaikovsky dan sangat tergugah dengan keindahan dan sensitivitas musiknya, menugasinya untuk menciptakan karya-karya lainnya.

Pada tahun 1877 dukungan ini mengambil bentuk yang lebih substansial berupa gaji tahunan sehingga ia bebas untuk menggubah musik. Hasil langsung dari dukungan wanita itu adalah Fourth Symphony Tchaikovsky. Madame von Meck sangat musikal dalam cara Rusia di mana seseorang tenggelam dalam musik. (Untuk waktu yang singkat ia pernah meminta Claude Debussy datang ke rumahnya yang seperti istana untuk mengajarkan musik kepada anak-anaknya.)

Dengan demikian dimulailah korespondensi yang luar biasa antara Nadejda dan Tchaikovsky yang berlangsung selama tiga belas tahun dan menjadi sumber utama dalam biografi Tchaikovsky. Beloved Friend, buku bermutu tentang Tchaikovsky, memuat surat-surat mereka yang menarik. Abad ke-19 merupakan masa orang suka menulis surat. Tchaikovsky seorang penulis surat yang kompulsif. Ia juga menyimpan buku harian yang sebagian di antaranya sudah ia musnahkan. Madame von Meck dan Tchaikovsky saling sepakat untuk tidak saling bertemu, tetapi cinta di antara mereka menjadi mendalam. Ia menghargai Madame von Meck yang memahami kebutuhannya akan privasi dan kesendirian. Melalui korespondensi mereka dan pemberian uang, Madame von Meck memberikan dorongan dan kepercayaan yang sangat dibutuhkannya. Ini merupakan salah satu persahabatan yang paling terkenal dalam sejarah, namun berakhir tragis.

Di sepanjang hidupnya Tchaikovsky terobsesi dengan pikiran bahwa ia tengah bertempur melawan nasib. Dalam Fourth Symphony, yang dipersembahkannya untuk Madame von Meck dan merupakan salah satu karya terbaiknya, kita menjumpai adanya fatalisme yang mencerminkan pesimisme keduanya. Rusia adalah daratan yang penuh penderitaan dan tragedi, yang tercermin dalam literatur dan musik negara itu. Seperti banyak orang Rusia lainnya, Tchaikovsky mempunyai kebiasaan mabuk-mabukan sebagai pelarian sementara dari dunia yang menyesakkan ini, tetapi ia bukanlah seorang alkoholik. Ia seorang yang sensitif, berperasaan halus, yang mudah tertekan dengan hidup dan pekerjaannya.

Tchaikovsky memasukkan banyak unsur Rusia dalam musiknya. Stravinsky berkata, “Tchaikovsky memang seorang Rusia yang paling sejati di antara kami semua.” Michael Glinka, yang membuat opera-opera pada awal tahun 1800-an, dipandang sebagai bapak musik Rusia yang serius. Setelah kematian Glinka, saudara perempuannya memakai lima puluh tahun hidupnya menyebarkan propaganda untuk musik Glinka. Rumah saudara Glinka ini menjadi salon untuk “The Five” – Balakirev, Cui, Rimsky-Korsakov, Borodin, dan Mussgorsky, yang hidup sezaman dengan Tchaikovsky. Mereka semua amatir kecuali pemimpin mereka, Balakirev. Balakirev mendesak Tchaikovsky untuk menciptakan Romeo and Juliet, namun kemudian menuduhnya terlalu mengagumi budaya Barat.

Seperti Dvorak dan beberapa komponis lainnya, Tchaikovsky sangat mencintai alam dan negara asalnya. Pada tahun 1885 ia membeli rumah di sekitar Moskwa setelah bertahun-tahun mengembara. Ia tinggal di sana hingga tahun sebelum kematiannya ketika ia pindah ke kota Klin di dekat situ. Rumahnya yang di Moskwa itu kini dikenal sebagai Tchaikovsky House Museum [Museum Rumah Tchaikovsky]. Selalu sebagai seorang yang dermawan, ketika mendengar bahwa tidak ada sekolah bagi anak-anak di desa, ia segera menyumbang uang untuk mendirikan sebuah sekolah. Tchaikovsky sangat patriotik, meskipun ia malu dengan kekontrasan hidup Rusia dan ketidakadilan yang diakibatkan kesalahan pemerintahan kekaisaran.

Segera setelah Madame von Meck membebaskannya dari pekerjaan mengajar, Tchaikovsky membentuk kebiasaan kerja yang terus diikutinya hingga akhir hayatnya. Bahkan ketika sedang melakukan perjalanan ia berusaha mengikuti rutinitas yang sama meski tidak selalu berhasil. Dari pukul 8 hingga 9 pagi ia akan minum teh dan membaca Alkitabnya. Kemudian dilanjutkan dengan bekerja. Pada siang harinya, ia akan keluar berjalan kaki. Setelah membaca bahwa agar tetap sehat orang seharusnya berjalan kaki dua jam sehari, hal ini ia lakukan dengan saksama. Berulang kali pada saat berjalan-jalan itulah, pekerjaan komposisinya dimulai, ide-ide diuji coba dan ditulis dengan cepat di buku catatan kecil. Ia sangat yakin bahwa seorang seniman tidak boleh mengalah pada sifat kemalasan manusia yang kuat. Seperti kebanyakan seniman, Tchaikovsky menginginkan kesendirian agar ide-idenya tidak hilang dalam perbincangan yang ramai dan kurang bermutu.

Tchaikovsky mempersembahkan Serenade for Strings untuk Madame von Meck. Pada gerakan pertama, ia mencoba mengadopsi gaya Mozart, komponis favoritnya. Gerakan keduanya menjadi contoh dari bakatnya yang menakjubkan dalam membuat melodi. Sebagaimana yang dikatakan seorang kritikus, “Selalu ada waltz dalam musiknya.” Gerakan kedua ini sesungguhnya merupakan sebuah valse triste [waltz sedih] dan mengingatkan kita pada salon abad ke-19 dengan kegembiraannya yang dangkal yang bercampur dengan sedikit melankolis.

Seperti banyak seniman dan musisi lainnya, Tchaikovsky mencintai Venesia dan Florence. Ia juga melewatkan waktu di Swis di desa Clarens dekat Montreux. Sementara orang berjalan menyusuri danau, kadang berhenti untuk memandangi pegunungan dan bunga-bunga serta memberi makan angsa-angsa, mudahlah untuk membayangkan Tchaikovsky melakukan hal yang sama. Ia selalu menggubah musik, bahkan ketika sedang dalam perjalanan ke sana kemari untuk memimpin pertunjukan musiknya. Sewaktu Carnegie Hall dibangun, Tchaikovsky diundang untuk memimpin musik di New York City dan meraih kesuksesan yang banyak dibicarakan orang. Daya tarik pribadinya yang besar dan penampilannya yang tampan membuatnya memiliki banyak teman di berbagai negara. Saint-Saëns berkata, “Ia seorang yang paling lembut dan baik hati.”

Musik Tchaikovsky merupakan perpaduan lagu rakyat, opera Italia yang kosmopolitan, balet Prancis, dan simfoni Jerman, tetapi masih sangat bergaya Rusia. Popularitasnya yang sangat luas dikarenakan kemerduan suara dan melodi indah yang menghanyutkan pendengarnya bagaikan gelombang ombak, dan juga orkestrasinya yang brilian. Ia merupakan salah seorang pembuat orkestrasi terbaik sepanjang zaman, dan Tchaikovsky paling bagus dalam menggarap musik balet. Bahkan simfoni-simfoninya memiliki sentuhan yang menyerupai musik balet. Kurangnya bentuk musik yang tampak jelas dalam simfoni-simfoninya yang awal, merupakan cacat musikalnya yang terburuk. Tchaikovsky adalah komponis Rusia pertama yang memperoleh kemashyuran internasional.

Rumah saudara perempuannya Alexandra dan suaminya beserta anak-anak mereka menyediakan tempat yang stabil dan menghibur bagi Tchaikovsky. Ia mencintai anak-anak dengan tulus. Musik baletnya yang pertama, Swan Lake, semula direncanakan sebagai hiburan untuk keponakan-keponakannya. Namun selalu di lubuk hatinya, pria yang lembut ini merasa kesepian dan frustrasi. Ia berkata, “Menyesali masa lalu dan mengharapkan masa depan tanpa pernah merasa puas dengan masa sekarang – itulah cara saya menjalani hidup.”

Tiga musik baletnya menjadi karya klasik. Dalam Swan Lake (1875-1876) Tchaikovsky berusaha keras menggabungkan gaya dongeng sederhana dengan kepiawaian teaternya agar memenuhi persyaratan balet Rusia klasik. Teknik orkestranya yang hebat dan kehalusan sentuhan membuat komposisi itu menjadi sebuah adikarya.

Pada tahun 1888 dan 1889 ia menciptakan Sleeping Beauty. Waltz di dalamnya, yang sudah selayaknya menjadi terkenal, memiliki gaya yang melodius dan beremosi kuat. Salah satu musik paling menyenangkan yang pernah diciptakannya terdapat dalam Sleeping Beauty. Tchaikovsky sangat menggemari waltz sepanjang hidupnya. Itulah caranya untuk lari dari realitas kehidupan yang sulit dan masuk ke dalam dunia balet dan musik yang menyenangkan namun semu.

Tiga tahun setelah Sleeping Beauty, Tchaikovsky menggubah The Nutcracker Suite. Ini merupakan balet malam Natal yang mengisahkan tentang seorang gadis kecil yang bermimpi bahwa hadiah alat pemecah kacang-kacangannya telah berubah menjadi seorang pangeran tampan. Dalam “Dance of The Flowers” kita mendapati orkestra modern dalam kualitas nada tersendiri dan Tchaikovsky melakukannya dengan sangat baik.

Orang dapat melihat dengan jelas betapa ia mendapatkan penghiburan untuk penderitaan pribadinya melalui menciptakan musik yang riang dan memikat, karena tak lama sebelum menggubah The Nutcracker Suite, Madame von Meck dengan cara yang kejam dan tak terduga memutuskan hubungan persahabatan mereka. Putra kesayangan Madame von Meck sakit keras, dan ia mengira bahwa ia telah mengabaikan putranya karena terlalu memberi perhatian kepada Tchaikovsky. Penulis biografi yang lain menjelaskan bahwa ia berhenti memberi gaji kepada Tchaikovsky karena berpikir bahwa dirinya bangkrut, yang sebenarnya merupakan khayalan murni. Waktu itu Tchaikovsky tidak lagi benar-benar membutuhkan uang, tetapi ia sangat terluka dengan cara wanita itu mengakhiri persahabatan mereka. Hanya dalam beberapa bulan ia tampak tua, dan menjelang kematiannya tiga tahun kemudian ia memanggil-manggil terus nama Madame von Meck. Wanita itu meninggal dunia tak lama setelah Tchaikovsky meninggal.

Madame von Meck adalah seorang ateis yang teguh, wanita yang kuat dan suka menguasai. Ia bangga atas ketidakbergantungannya pada Allah dan masyarakat dan kerap kali mencaci Tchaikovsky yang rindu untuk merasakan kebenaran kekristenan dengan lebih sungguh untuk memiliki iman yang lebih kokoh. Dalam biografi Tchaikovsky yang ditulis oleh Bowen dan Meck, mereka memasukkan kutipan berikut yang diambil dari sepucuk surat Tchaikovsky untuk Madame von Meck, “Di satu sisi pikiranku menolak untuk diyakinkan oleh dogma … di sisi lain, pendidikan yang kuperoleh dan kebiasaan yang telah mendarah daging sejak kecil, dipadukan dengan kisah tentang Kristus dan pengajaran-Nya, semuanya mempengaruhiku untuk berpaling kepada-Nya dalam doa tatkala aku bersusah hati, dan bersyukur tatkala aku berbahagia.”

Tchaikovsky menciptakan delapan opera, tetapi hanya Eugene Onegin dan The Queen of Spades yang kini dipentaskan secara tetap. Eugene Onegin, dengan adegan suratnya yang terkenal di Babak I, hanyalah keberhasilan kecil dalam pertunjukan perdananya di Moskwa, tetapi meraih popularitas yang besar di St. Petersburg berkat kekaguman sang kaisar pada karya ini. Violin Concerto merupakan salah satu karya paling populer dan salah satu yang terbaik. Dari lagu-lagu yang diciptakannya, “None but the Lonely Heart” paling terkenal. Tiga simfoni terakhir Tchaikovsky merupakan simfoni yang penting. Simfoni-simfoni itu kaya dalam isi, tekanan, dan melodi. Kecintaannya pada alat musik perkusi patut diperhatikan.

Berkenaan dengan Sixth Symphony, Tchaikovsky berkata, “Aku telah mencurahkan segenap jiwaku untuk karya ini.” Ia menggubah simfoni ini setelah mengalami keretakan hubungan yang menghancurkan dengan Madame von Meck. Lagi-lagi untuk mencari perlindungan dari penderitaan hidup, Tchaikovsky menciptakan musik terbaiknya. Dengan kehadiran Symphony No. 6, abad ke-19 lengkap sudah – mulai dari optimisme dan masa akhir kejayaan simfoni-simfoni Beethoven hingga penderitaan yang tak terpahami dari pernyataan musikal Tchaikovsky yang terakhir. Modeste, saudara lelaki Tchaikovsky, memberinya nama Pathetique.

Setelah menyelesaikan simfoni terakhirnya, ia pergi ke St. Petersburg untuk memimpin pertunjukan musiknya itu, tetapi masyarakat tidak menghargainya. Simfoni yang agung ini mendapat sambutan dingin dan acuh tak acuh, tetapi penilaian itu berbalik dengan cepat – namun terlambat bagi Tchaikovsky yang meninggal akibat kolera seperti ibunya dahulu. Saat itu ia berusia 53 tahun. Symphony No. 6 merupakan salah satu simfoni paling populer abad ke-19, dengan klimaks-klimaksnya yang menghanyutkan dan keindahannya yang tragis. Musik Tchaikovsky dengan semua kekuatan dan keindahannya bagaimana pun juga mengungkapkan pesimisme yang mewarnai tahap akhir gerakan Romantik.

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Capriccio Italien

Concerto in B Flat Minor – Piano and Orchestra

Concerto in D Major – Violin and Orchestra

Eugene Onegin – Selections

Francesca da Ramini

Marche Slave

Nutcracker Suite

1812 Overture

Romeo and Juliet

Serenade in C for Strings

Sleeping Beauty Ballet

Swan Lake Ballet

Symphony No. 4

Symphony No. 5

Symphony No. 6, Pathetique

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books)

 

Read Full Post »

chopin1

Musik senantiasa berkumandang dalam rumah Chopin, dan orang tua Frédéric merasa sedih ketika melihat bayi laki-laki mereka menangis tatkala mendengar suara nyanyian atau permainan piano dan alat musik lainnya. Mereka mengira ia membenci musik; namun suatu hari ketika ia menaiki piano dan dengan jari-jari mungilnya menekan beberapa nada, mereka mengerti dengan tawa dan air mata bahwa putra mereka itu menangis karena sukacita. Tak heran jika Frédéric Chopin tumbuh dewasa menjadi “penyair piano.” Dengan pendirian yang sangat teguh, hampir semua yang dia ciptakan adalah untuk dimainkan dengan piano. Ia menciptakan dunianya sendiri yang unik berkenaan dengan kesemarakan bunyi.

Chopin menghabiskan setengah dari kehidupannya yang singkat di Polandia dan setengahnya lagi di Paris. Seperti halnya banyak anak muda cerdas lainnya, ia mendambakan petualangan. Oleh karenanya, ia pergi ke Wina, Berlin, Munich, dan beberapa tempat lainnya, tetapi Paris adalah tempat tujuannya, dan ia tiba di sana tahun 1831. Ketika berada di Berlin ia bertemu dengan Mendelssohn tetapi terlalu malu untuk memperkenalkan dirinya. Dalam salah satu perjalanannya sebelum menuju Paris, ia mendengar “Ode for St. Cecilia’s Day” karya Handel. Ia menulis surat ke rumah, “Karya itu hampir mendekati idealku tentang musik yang agung.”

Chopin dilahirkan dekat Warsawa. Ayahnya, orang Prancis, datang ke Polandia untuk bekerja, namun setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, ia bekerja sebagai guru privat dan akhirnya mulai mendirikan kursus miliknya sendiri yang sukses. Banyak muridnya berasal dari kalangan bangsawan, dan sejak awal Frédéric suka bergaul dengan mereka yang berasal dari kalangan teratas. Ibunya adalah dayang seorang countess, dan ia sendiri adalah keturunan bangsawan.

Suasana di rumah Chopin penuh kasih sayang, sopan, dan artistik. Ada empat anak, dan keempatnya berbakat musik. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, pilihan Frédéric untuk kariernya sudah pasti. Pada usia enam tahun ia sudah menjadi pianis andal, dan dipanggil banyak orang sebagai Mozart yang lain. Pada usia delapan tahun ia melihat komposisinya yang pertama dicetak. Komposisi itu merupakan sebuah polonaise, tarian tradisional Polandia, yang semula dilakukan oleh kaum bangsawan.

Guru pertama Chopin, seorang musisi yang andal, memperkenalkan murid mudanya yang luar biasa ini kepada Bach dan juga mengizinkannya membuat improvisasi dengan bebas pada piano. Dalam tahun-tahun berikutnya Chopin memainkan bagian-bagian dari Well-Tempered Clavier karya Bach sebagai pemanasan sebelum memulai suatu konser. Ia menguasai semua komposisi itu di luar kepala.

Dengan guru berikutnya, Joseph Elsner, Chopin belajar komposisi. Ini merupakan saat yang sangat penting dalam pendidikan musiknya. Sangat wajar bagi musisi dengan pendidikan lengkap seperti Elsner untuk mendesak murid-muridnya menggubah sonata, simfoni, opera, dan bentuk-bentuk musik lainnya untuk memperluas pemahaman mereka tentang banyak kemungkinan yang ada bagi seorang komponis. Namun Elsner memiliki keputusan yang sangat bagus. Ia tidak pernah memaksa gaya bermusik Chopin dan melakukan apa saja yang ia mampu supaya bakat unik Chopin berkembang secara alami.

Di L’Abri Fellowship kami sering ditanya, “Apa maksudnya menjadi kreatif? Bagaimana Anda mendefinisikan seorang seniman yang kreatif?”

Chopin merupakan contoh yang menarik. Ia sangat berkonsentrasi pada sudut pandangnya sendiri yang khusus dan terbatas. Dalam usia muda ia memutuskan menciptakan musik semata-mata untuk alat musik yang ia cintai. Musik tidak mengalir begitu saja dengan mudah dari dirinya. Ia harus bekerja keras dan kadangkala disertai penderitaan yang berat untuk menuntaskan tujuannya. Ia lebih menyukai bentuk musik yang pendek; dan seperti tukang perhiasan mengerjakan permata yang langka, Chopin akan memoles hasil komposisinya yang relatif sedikit hingga mendekati sempurna, sesuai yang ia sanggup lakukan.

Penulis lain mengatakannya demikian, “Ia mengolah dan menanami kebunnya sendiri.” Siapa pun yang pernah melakukan persiapan menanam akan mengerti kerja keras yang harus ia lakukan untuk mengolah dan menanam bunga dan sayuran.

Saat Chopin meninggalkan Polandia dan keluarganya yang tercinta sebagai seorang pemuda berusia dua puluh tahun, tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ia tak akan kembali ke sana lagi. Penulis biografi, Huneker, berkata, “Dengan penuh dukacita Chopin meninggalkan rumah, orang tua, teman … dan pergi ke dunia dengan keyboard dan otak yang dipenuhi musik nan indah sebagai senjata satu-satunya.” Kasihnya yang tidak berubah kepada keluarganya merupakan salah satu sifatnya yang terbaik.

Orang Polandia menganggap Chopin sebagai tokoh kebudayaan tertinggi yang pernah dihasilkan negara mereka. Ia adalah jiwa musiknya Polandia. Salah satu ledakan dramatis terbesar dalam literatur piano adalah Revolutionary Etude (Op. 10, No. 12). Ia menggubahnya dengan perasaan yang mendalam tatkala ia mendengar bahwa Warsawa jatuh ke tangan orang Rusia.

Ketika Chopin tiba di Paris pada musim gugur tahun 1831, saat itu Prancis dalam kondisi stabil sementara, dan kebangkitan dan kemakmuran nasional ditunjukkan dengan berkembangnya kesenian di sana. Chopin telah menikmati kesuksesan yang terbatas, tetapi sebagai komponis ia tahu bahwa “komposisi pianonya belaka” tidak akan terlalu digemari di tengah kehidupan musik masyarakat Paris. Jadi sebelum meninggalkan Warsawa, ia telah menyelesaikan banyak komposisi, termasuk Piano Concertos in F Minor and E Minor, juga mazurka [tarian Polandia] dan sebagian besar Etude [karya yang mengandung latihan untuk mengembangkan teknik main].

Ia hanya memiliki sedikit uang tetapi dengan cepat memiliki teman-teman dari kalangan bangsawan, dan ada berita yang mengatakan bahwa Chopin bersedia memberi les piano. Hampir dengan segera ia memiliki murid lebih banyak daripada beberapa guru besar terbaik di Paris. Muridnya – Pangeran ini, Countess itu, Duke itu, dan yang semacam itu – tidak pernah membayar Chopin untuk les yang diberikan. Sebagai gantinya, diam-diam mereka menaruh dua puluh atau tiga puluh franc pada rak di atas perapian saat Chopin memandang jendela atau mengikir kuku jarinya. Ia terlalu angkuh untuk menunjukkan kenyataan bahwa ia benar-benar membutuhkan uang itu.

Sisi pengajaran dari karier Chopin tercermin dalam banyak etudenya, termasuk etude yang dianggap oleh sebagian orang sebagai melodinya yang terhebat, yaitu Etude Op. 10, No. 3, dan komposisi-komposisi yang digubah untuk dimainkan murid-muridnya. Komposisi itu mencakup prelude, nocturne [komposisi yang bersifat tenang dan halus, melukiskan suasana malam yang romantik], waltz, impromptu [karya musik yang tampak seolah-olah diimprovisasi], mazurka, dan polonaise awal. Banyak dari komposisi ini dipersembahkan kepada murid-muridnya.

Dengan cepat Chopin menghasilkan uang yang cukup untuk merawat kudanya sendiri, hidup dengan nyaman, dan berpakaian seperti seorang count. Dengan demikian ia dikenal dan disenangi di kalangan yang lebih atas, meski ia hanya memiliki sedikit teman dekat. Schumann membantu memperluas kemashyurannya, namun terlepas dari Schumann sekalipun, Chopin sudah dikenal sebagai seorang jenius. Liszt, Berlioz, Hiller, Bellini, dan Meyerbeer juga menjadi teman-teman yang mengagumkan.

Ke mana pun Chopin pergi, ia diperlakukan istimewa layaknya seorang pangeran, dan kualitas yang mulia ini dibawa ke dalam musiknya. Komposisi-komposisinya tak pernah tidak menarik atau biasa-biasa saja. Chopin bukanlah pengekor komponis lain, ia seorang pemimpin.

Walau dikenal sebagai pianis besar (improvisasinya membangkitkan rasa takjub), kesehatannya yang lemah membatasi kenyaringan suara musiknya, dan sejak awal kariernya ia menyadari bahwa sebaiknya ia tidak bermain di ruang aula yang besar. Dalam sejarah permainan piano, tak ada contoh lain tentang reputasi yang melegenda sedemikian hebat. Hal ini didasarkannya pada hanya tiga puluh kali pertunjukan di muka umum yang Chopin berikan di sepanjang kariernya. Dalam salah satu konser terakhirnya, bunyi yang dihasilkannya nyaris seperti suara berbisik dan tepuk tangan penonton hampir sama lembutnya dengan permainannya.

Karya-karya Chopin menuntut pemain piano tidak hanya menguasai teknik dan mutu dalam menekan tuts piano dengan sempurna, tetapi juga penggunaan pedal secara imajinatif dan penggunaan “tempo rubato” dengan hati-hati. Chopin menggambarkan hal ini dengan sedikit mendorong atau menahan dalam memainkan bagian kalimat lagu di tangan kanan, sementara iringan tangan kiri terus dimainkan dalam kecepatan yang tepat.

Pada pesta-pesta musik pribadi di rumah-rumah yang indah milik teman-teman bangsawannya yang banyak inilah Chopin dikenal dan dicintai sebagai pianis sekaligus komponis. Saat-saat itu pasti merupakan malam yang menggembirakan. Kita dapat membayangkan Chopin dan Liszt memainkan musik empat-tangan dengan banyak improvisasi dan mungkin Mendelssohn atau Berliozlah yang membalikkan lembaran partiturnya.

Perlu disebutkan bahwa Chopin memiliki pegangan yang kuat dalam hidup meski kesehatannya buruk. Sikap optimisnya yang riang menolongnya. Di tengah-tengah frustrasi ia masih dapat tersenyum dan bahkan bercanda tentang apa pun yang sedang menjengkelkannya. Namun orang dapat mendengar aspek sedih dari hidupnya dalam musik Romantiknya yang melankolis.

Chopin suka berteman dengan wanita, dan mereka menghargainya, namun karena kelemahan fisiknya dan sifat pendiamnya yang ekstrem, ia tidak menikah. Sebelum datang ke Paris, ia berharap untuk menikahi wanita bangsawan yang telah dikenalnya sejak kecil, tetapi ayah si gadis keberatan karena tidak ingin punya menantu seorang musisi.

Chopin pernah menjalin hubungan cinta beberapa kali, dan kerinduannya akan kasih sayang tampak pada nocturnenocturne yang digubahnya. Ketika akhirnya ia menerima kenyataan bahwa hubungan cintanya dengan countess itu berakhir, kesehatannya terganggu, dan ia menjadi sangat depresi; namun sebelum meninggalkan Polandia, ia menggubah sebuah musik waltz untuknya, Op. 69, No. 1.

Dua orang teman mendesak Chopin ikut dengan mereka ke Inggris. Mereka meyakinkannya bahwa perubahan suasana akan memulihkan dan mengangkat rohnya yang tertekan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Gabungan antara cuaca Inggris dan vitalitasnya yang sudah rendah merusak paru-parunya yang lemah. Ia kembali ke Paris dengan pikiran dan tubuh yang menderita, dan mungkin ia akan menyerah dalam keputusasaan jika penulis George Sand, salah satu wanita yang luar biasa pada abad ke-19, tidak merasuki hidupnya. Mereka bertemu dengan perantaraan Liszt pada musim dingin tahun 1836, dan hampir segera setelah kedatangannya kembali dari Inggris, mereka tampak di mana-mana berdua.

Sand lebih tua dari Chopin, dan menjelang pertemuan mereka ia berada pada puncak kemashyurannya sebagai novelis dan tokoh feminis. Bagi orang yang melihat sepintas lalu, tampaknya ia, wanita yang mampu mengatur orang lain itu, bertanggung jawab atas sang musisi. Namun sebenarnya tidaklah demikian. Chopin hidup dengan kondisi fisik yang lemah dalam sebagian besar hidupnya dan belajar seni untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Karena kelemahan fisiknya yang parah kadang-kadang, ia terpaksa bergantung pada orang lain untuk mendapatkan bantuan, tetapi dalam karya seninya ia menunjukkan tingkat kepercayaan diri dan kemandirian yang mengagumkan.

Chopin sangat mengharapkan kesempurnaan, dan keinginan ini mendominasi keseluruhan hidupnya. Dalam hubungan yang tidak seperti biasanya dengan George Sand, niscaya ia mendapatkan kestabilan emosi yang ia butuhkan, dan ia diberi waktu dan ketenangan untuk membuat komposisi. Selama sembilan tahun berikutnya Chopin memasuki salah satu masa yang paling produktif dalam hidupnya. Dalam ballade [lagu yang isinya bersifat petualangan, berjiwa pahlawan atau romantis] yang penuh gairah, scherzo [komposisi yang bersifat lelucon, ringan hati dengan tempo yang cepat dan irama yang gesit] yang imajinatif, impromptu, dan karya-karya yang terinspirasi sedemikian rupa seperti Fantaisie in F Minor, Barcarolle, dan Berceuse, orang akan menemukan kesempurnaan yang ia perjuangkan.

Pada awal November 1838, Chopin dan Sand, bersama anak-anak Sand dan seorang pembantu, pergi ke Pulau Majorca mencari sinar matahari dan kehangatan. Namun sebaliknya, pulau itu basah, dingin, dan tidak menyenangkan, terutama karena mereka tinggal di sebuah biara Carthusian yang telah lama ditinggalkan. Seratusan tahun kemudian kami yang ada di L’Abri mengunjungi biara itu pada hari yang cerah dan indah. Meski demikian, bagian dalam biara tampak dingin dan suram. Bilik kecil yang lembab dan makanan yang buruk nyaris menamatkan riwayat Chopin, dan akhirnya pelancong-pelancong yang letih ini singgah di Marseilles hingga kondisi Chopin sudah cukup baik untuk meneruskan perjalanan ke Nohant, tempat George Sand memiliki rumah musim panas.

Kendati mengalami banyak kesulitan di Majorca, Chopin kembali ke Prancis setelah menciptakan dua polonaise, C Sharp Minor Scherzo, Prelude in A Major, No. 7 (salah satu komposisinya yang paling pedih), dan 24 prelude (Op. 28). Ia memiliki salinan prelude-prelude Bach dan dengan rendah hati ia mengatakan bahwa 24 preludenya “hanyalah tulisan cakar ayam” jika disandingkan dengan 48 prelude Bach. Chopin mencurahkan segenap hatinya untuk menggubah musiknya, dan mengunci dirinya dalam kamar (atau dalam bilik kecil biara) kadangkala selama beberapa hari, untuk mengerjakan dan mengulang sebuah komposisi.

Pada tahun 1847 persahabatannya dengan George Sand berakhir dengan tiba-tiba. Dalam sebuah pertengkaran antara George dan putrinya Solange, Chopin memihak Solange, dan akhirnya George Sand tak tahan lagi. Bagi Sand, perpisahan itu tidak terlalu mengganggunya karena ia sangat disibukkan oleh kegiatan menulisnya dan berbagai sebab lainnya. Namun bagi Chopin, peristiwa itu benar-benar merupakan pukulan yang mematikan dan menandai akhir dari kreativitasnya. Kondisi fisiknya memburuk dengan cepat, dan ia tak pernah menggubah musik lagi.

Atas desakan teman Skotlandianya, Jane Stirling, salah seorang muridnya yang kaya, Chopin pergi ke Inggris dan Skotlandia di mana ia segera digemari oleh masyarakat modern. Ia berada dalam stadium terakhir penyakit tuberkulosis dan begitu kehabisan tenaga sehingga setelah memainkan musik di sebuah salon [pertemuan rutin tamu-tamu di rumah seorang wanita dari kalangan atas], ia harus dibopong menuju kamar tidurnya dan digantikan bajunya oleh pembantu prianya.

Ia kembali ke Paris di mana revolusi masih memanas. Ia hampir tidak mempunyai uang lagi, tetapi untungnya keluarga Stirling memberinya hadiah yang besar untuk menopangnya pada masa-masa akhir hidupnya. Saudara perempuannya Louise datang dari Polandia untuk merawatnya. Ia bertahan hidup dalam penderitaan yang sangat hingga dini hari tanggal 17 Oktober 1849. Negara Polandia yang selalu terbuka untuk Chopin sejak ia meninggalkan Warsawa tahun 1830 serasa ikut terkubur bersamanya. Kuburannya di Père-Lachaise Cemetery terletak di antara makam Cherubini dan Bellini.

Tak diragukan bahwa Chopin mendapatkan rasa aman dan kedamaian pikiran yang mempercepat kematangan akhir dari kejeniusannya karena kasih sayang dan perhatian George Sand. Masa yang baru dalam hidupnya diawali dengan B Flat Minor Sonata, G Major Nocturne, Op. 37, No. 2, dan F Sharp Impromptu, yang semuanya diciptakannya pada masa pertama kali ia tinggal di Nohant. Sejak itu hingga tahun 1846 saat-saat musim panasnya ia lewatkan di Nohant di mana ia tidak hanya menggubah tetapi juga menikmati kunjungan penyanyi besar Pauline Viardot dan pelukis Delacroix, yang lukisan dramatisnya atas diri Chopin kini tergantung di Louvre.

Di sepanjang hidupnya Chopin suka menyanyi, dan secara khusus ia memiliki kasih terbesar pada komponis opera Italia Bellini. Musik Frédéric Chopin menghendaki pembagian kalimat lagu yang halus dan nada yang bernyanyi. Karena keunikan gaya musiknya, orang dapat langsung mengenali musik Chopin, yang sudah sepantasnya disebut “penyair piano.”

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Ballades

Barcarolle

Concertos for Piano

Etudes, Op. 10 and 25

Mazurkas

Nocturnes

Polonaises

Preludes, Op. 28

Scherzos

Sonatas 2 and 3 for Piano

Waltzes

Fantaisie in F Minor

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books.)

Read Full Post »

 

portrait_of_ludwig_van_beethoven_while_composing_t_poster-r814fa9f2cb1343ce9b5fdfdc1128f3d5_aipsq_400

Konsep yang mengatakan bahwa apa yang diyakini seseorang akan mempengaruhi pekerjaannya benar-benar ditunjukkan dalam kehidupan dan musik tokoh yang luar biasa besarnya dalam sejarah, Ludwig van Beethoven. Motonya adalah “Kebebasan di atas segalanya.” Ia menjadi legenda pada masa hidupnya, dan keberadaannya mendominasi keseluruhan musik abad ke-19. Semboyan Jean Jacques Rosseau, “Diriku sendiri,” menjadi seruan pendukung dari semua gerakan baru dalam bidang tulisan, lukisan, dan musik. Anda takkan dapat membayangkan Goethe dan Beethoven tanpa Voltaire, Rosseau, atau seniman-seniman awal zaman Romantik. Dengan cepat Beethoven menjadi kekuatan pendorong dan pujaan para seniman zaman Romantik. Dengan adanya “manusia gagah berani” di tengah alam semesta ini, humanisme mencapai puncaknya pada zaman Beethoven dan Goethe.

Beethoven nyaris memuja Goethe, seorang penulis Jerman yang paling terkenal. Seperti si jenius di bidang sastra itu, Beethoven meyakini bahwa seniman memiliki tugas untuk mengungkapkan kegalauan sekaligus kedamaian dalam diri seseorang dan untuk mencari kesempurnaan orang itu sendiri. Musik Beethoven penuh dengan kontras-kontras yang tajam. Renoir, pelukis asal Prancis, mengamati bahwa Beethoven “sangat tidak sopan dalam caranya mengungkapkan diri kepada orang lain; ia tidak mengecualikan kita dari sakit jantungnya atau sakit perutnya.” Musik Beethoven memiliki energi luapan perasaan yang menggila. Musiknya terdengar meletup-letup dan mengandung luapan kegembiraan yang sangat besar dan kemudian tiba-tiba meleleh dalam kelembutan dan kesedihan, lalu kembali meledak dalam kedahsyatan. Ini merupakan pencurahan langsung dari kepribadiannya.

Beethoven merupakan salah seorang pemikir teragung dalam dunia musik. Sejak dini ia telah menjauhkan diri dari kesembronoan. Rasa ingin tahunya besar, dan ia terus belajar sepanjang hidupnya. Seandainya secara bawah sadar, ia menggabungkan kedua konsep dari zaman Pencerahan dan sikap mawas diri yang gelap dari gerakan Romantik. Keduanya tercermin dalam musiknya. Individualis yang kuat ini, yang merupakan seorang antagonis tulen, memang ditentukan untuk menaklukkan. Karena menjunjung tinggi martabat manusia, secara fanatik Beethoven meyakini kebebasan tanpa batas. Romain Rolland telah berkata, “Dalam dirinya terdapat manusia super seperti Nietzsche, jauh sebelum Nietzsche ada.”

Ludwig van Beethoven dilahirkan di Bonn, Jerman, tahun 1770. Ia mulai belajar musik pada usia empat tahun, namun di bawah kondisi yang traumatis. Ayahnya dan seorang rekan musisi akan pulang ke rumah larut malam setelah mengunjungi kedai-kedai minuman. Mereka akan membangunkan Beethoven dan memaksanya untuk belajar musik hingga dini hari. Minum-minuman keras sampai berlebihan merupakan kebiasaan yang dapat diterima di rumah Beethoven. Neneknya juga seorang alkoholik.

Beethoven muda adalah anak yang tidak bekerja menurut metode logis, dan bahkan sebagai anak-anak ia tampak melankolis. Namun ia mempunyai ambisi musik dan kekuatan fisik yang sangat besar. Saat masih sangat belia, ia dipekerjakan sebagai organis, meski selanjutnya ia termashyur sebagai orang yang piawai memainkan piano. Pada tahun 1787 di Wina ia bertemu dan memainkan musik untuk Mozart, yang meramalkan masa depan yang cerah baginya. Beethoven dipanggil kembali ke Bonn dengan berita menggelisahkan tentang kemunduran kesehatan ibunya. Ia meninggal karena sakit paru-paru pada usia empat puluh tahun, tak lama setelah Beethoven kembali ke rumah. Ibunya seorang yang baik hati, dan Beethoven mengasihinya. Rasa kehilangannya menghantarnya pada krisis pertama dari krisis-krisis emosional yang terjadi berulang kali sepanjang hidupnya. Ia senantiasa mencari seorang wanita yang seperti ibunya, tetapi tak pernah menemukannya. Ada banyak wanita dalam kehidupan Beethoven, terutama di antara kaum bangsawan. Seperti yang dikatakan seorang sejarawan, “Beethoven selalu jatuh cinta.” Beberapa kali ia pernah mempertimbangkan untuk menikah, tetapi karena berbagai alasan ia tetap membujang.

Lima tahun yang panjang setelah kunjungan pertamanya ke Wina, Beethoven kembali ke kota ini yang merupakan salah satu pusat dunia musik. Pada masa itu Mozart telah terbujur kaku di sebuah pekuburan orang miskin. Revolusi Prancis akan segera memasuki tahapan yang paling menakutkan, yakni masa Pemerintahan Teror. Goethe berada di Weimar sedang memimpin teater kaum bangsawan, dan Haydn sedang menikmati kemashyurannya di seluruh Eropa.

Beethoven belajar musik kepada Haydn di Wina, dan terus menggali pengetahuan secara mendalam, walau menurut pendapatnya Haydn seorang guru yang tidak cukup baik. Pastilah Haydn terlalu sibuk untuk berkonsentrasi mengajar, tetapi ia melakukan sesuatu yang baik untuk musisi muda yang tak dikenal ini. Ia mengirimkan beberapa komposisi Beethoven pada Elector of Cologne dan menganjurkan agar musisi muda ini dibiayai untuk melanjutkan kariernya sebagai komponis.

Beethoven belajar membuat komposisi seperti para pendahulunya sebelum akhirnya ia menemukan gayanya sendiri. Tidak seperti banyak komponis abad ke-20, Beethoven tak pernah memisahkan dirinya dari masa lalu. Sebagai seorang anak, ia telah menguasai Well-Tempered Clavier karya Bach, dan ia sangat menghormati musik Handel dan Mozart. Ia pernah berkata, “Handel adalah yang terbesar, yang paling terampil dari semua komponis. Sampai sekarang saya masih bisa belajar darinya.” Dan Beethoven masih belajar dari Handel pada tahun sebelum ia meninggal. Dengan selalu menjadi seorang murid, di antara semua komponis dialah yang paling tidak memiliki kecenderungan untuk mengulang karyanya. Seorang teman Beethoven pernah bertanya-tanya mengapa Beethoven tidak memiliki karya-karya Handel. Ia pun menjawab, “Bagaimana mungkin aku, orang miskin, mendapatkan karya-karyanya?” Temannya itu membutuhkan waktu dua tahun, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengirimkan musik Handel untuk Beethoven – semua karya yang dapat ia temukan. Pada bulan Desember 1826, edisi yang sangat indah karya Handel yang terdiri dari empat puluh volume tiba di rumah Beethoven. Sembari terbaring sakit beberapa bulan terakhir dari hidupnya, Beethoven menyandarkan buku-buku itu ke tembok, membuka halaman demi halaman, dan muncullah seruan sukacita dan pujian tatkala ia belajar tentang Handel.

Sir Julius Benedict menggambarkan pandangan pertamanya atas Beethoven, “Ia seorang pria pendek dan gemuk dengan wajah sangat merah, mata kecil yang tajam menusuk, dan alis lebat, serta mengenakan mantel sangat panjang yang nyaris sampai pergelangan kakinya.” Ia juga mempunyai rambut putih panjang yang menyentuh bahunya yang lebar.

Beethoven memandang dirinya sebagai pencipta yang “terasingkan” dari orang-orang pada umumnya. Ia meremehkan apa pun atau siapa pun yang mencampuri kreativitasnya. Ia dapat memrotes dengan keras ejekan sekecil apa pun terhadap dirinya. Ia memandang rendah hampir semua orang – orang miskin, kaum aristokrat, mereka yang mengaguminya, mereka yang membencinya, rakyat biasa, dan kaum lemah. Marek berkata, “Misteri tentang kepribadian yang kompleks takkan pernah dapat terungkap secara menyeluruh, demikian pula dengan kepribadian pria sekompleks Beethoven.”

Di Wina Beethoven pindah ke tengah lingkungan kaum bangsawan, dan sederet panjang orang-orang berpengaruh menolong kariernya meski ia sombong dan sangat kasar. Pada awal kariernya, Beethoven merupakan pianis yang piawai. Dalam Second Piano Concerto, partitur orkestra paling awal yang ia anggap cocok untuk dipublikasikan, bagian terakhirnya mempunyai karakteristik yang mengingatkan kita pada musik Mozart dan Haydn.

Dari waktu ke waktu Beethoven mempunyai beberapa murid, tetapi ia pasti merupakan salah satu guru yang paling tidak sistematis yang pernah dikenal dunia, tidak sabaran, ceroboh, suka bertengkar, sensitif luar biasa, dan tak pernah tepat waktu. Pengatur musik yang mengagumkan itu adalah seorang yang paling tidak teratur. Saya katakan bahwa Mozart dan istrinya berpindah tempat tinggal dua belas kali dalam sembilan tahun; Beethoven, dalam 35 tahun di Wina, pindah setidaknya tujuh puluh kali. Dalam banyak lukisan yang menggambarkan komponis besar ini, seringkali ada grand piano di situ. Saya penasaran berapa banyak tangga yang dilalui saat menaikkan dan menurunkan piano itu selama perpindahan tempat tinggal yang sangat sering ini.

Beethoven, yang selalu bangun pagi (pukul 5 atau 6), suka bekerja di pagi hari dan mempunyai kebiasaan menggubah musik di luar ruangan sementara berjalan-jalan. Ia berkata, “Saya lebih suka pohon daripada manusia.” Beethoven menyukai dunia alam, tetapi sebagai penganut panteisme yang lebih memuja alam daripada Sang Pencipta. “Beethoven bukan orang yang mau tunduk kepada siapa pun, bahkan kepada Allah!” ungkap David Ewen. Rosseau, yang pemikiran-pemikirannya mempengaruhi Beethoven, percaya bahwa orang yang kreatif tidak akan merasa nyaman di tengah masyarakat, karena ia seharusnya mencari keheningan “untuk mengekspresikan dirinya, perasaannya” dan untuk menyelidiki alam bawah sadarnya, guna mengungkapkan misteri dalam dirinya. Pada suatu kesempatan, seorang teman membuatkan Beethoven salinan salah satu partitur musiknya. Musisi itu membubuhkan tulisan, “Berkat bantuan Allah.” Di sebelah bawahnya, Beethoven menulis dengan cakar ayam, “Oh teman, bantulah dirimu sendiri.”

Beethoven jarang harus menulis musik atas perintah orang lain. Ia dapat “berpikir dan berpikir” lalu merevisi sampai karya itu sesuai dengan keinginannya, karena ia tidak punya batas waktu penyelesaian yang harus ditepati. Namun ia menulis musiknya dengan kesulitan besar, dan ia memberikan dirinya sendiri kecaman yang keras. Ia mulai menulis dalam buku-buku catatan semasa mudanya, dan buku-buku itu penuh dengan campuran yang kacau dari ide-ide musiknya dalam semua tahapan perkembangan, sebanding dengan buku-buku catatan Leonardo da Vinci. Dalam dirinya, Beethoven merasakan suatu dorongan yang sangat besar untuk menciptakan musik. Kehidupannya merupakan satu kreativitas yang tak pernah berhenti.

Daya pendengaran Beethoven yang semakin berkurang, yang mulai terjadi awal tahun 1798 saat ia masih berusia 28 tahun, memaksanya untuk meninggalkan kariernya sebagai seorang pemain ahli dan mencurahkan segenap tenaganya untuk membuat komposisi. Gejala pertama ketuliannya pastilah membingungkan dan menakutkannya. Ia mencoba berbagai dokter dan pengobatan dan makin bertambah curiga kepada setiap orang. Sebagai penulis biografinya, Marek menceritakan bahwa Beethoven menulis surat kepada seorang temannya, “Pendengaranku yang buruk menghantuiku di mana pun aku berada; dan aku menghindari … semua masyarakat manusia.” Pada satu masa ia tergoda untuk bunuh diri. “Tapi hanya Seni yang membuatku bertahan,” jelasnya, ” karena tak mungkin bagiku untuk meninggalkan dunia ini sebelum aku menciptakan semua yang aku merasa terpanggil untuk menciptakannya.” Tak lama kemudian ketika keteguhan hatinya telah pulih, ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Aku akan mengalahkah nasib hidupku.” Ia meletakkan tantangan bagi dirinya sendiri dan sederet seniman Romantik setelahnya. “Nasib itu pasti tidak akan menundukkan dan menghancurkanku sama sekali,” ujarnya.

Pada sekitar tahun 1802 sampai 1816, Beethoven mencurahkan sangat banyak kreativitas. Keteguhan hatinya tidaklah langgeng. Ada masa-masa yang kelam, tetapi dalam empat belas tahun itu ia menggubah enam simfoni, Coriolan Overture, Fidelio, dua konserto piano terakhir, kuartet-kuartet, dan sonata-sonata piano melalui Op. 90, termasuk Appasionata.

Pada tahun 1816 ia ditunjuk sebagai wali bagi keponakannya, Karl. Walaupun ia mengasihi anak lelaki itu dengan caranya yang mendominasi dan temperamental, Karl menjadi sumber kesulitan yang terus menerus bagi Beethoven seumur hidupnya. Suatu kali Karl pernah mencoba bunuh diri. Akhirnya mereka bertengkar sangat hebat melalui waktu-waktu sebelumnya, dan Beethoven tak pernah lagi melihat keponakannya itu.

Pada tahun 1817 ia sudah tidak dapat mendengar sama sekali, tetapi kemungkinan besar ia masih mampu “mendengar” musik dengan merasakan vibrasinya. Beban dari ketuliannya itu membantunya memfokuskan perhatiannya pada apa yang menjadi salah satu tema di abad ke-19, yakni kesepian yang melanda manusia.

Tatkala Beethoven memimpin pementasan pertama Simfoni ke-9 karyanya, ia tidak dapat mendengar tepuk tangan penonton, dan seseorang harus memutar badannya agar ia dapat melihat antusiasme penonton. Sementara kreativitasnya semakin meningkat, ia pun semakin menarik diri dari pergaulan, bahkan dari teman-temannya. Kendati kemashyurannya meluas hingga ke seluruh Eropa, hidup Beethoven hampir seperti pertapa.

Dilihat dari sejarah, karya Beethoven dibangun di atas prestasi zaman Klasik, tetapi sosoknya menjulang tinggi seperti patung raksasa di abad ke-18 dan 19, yang menjadi jembatan menuju zaman Romantik. Ia merupakan orang terakhir dalam tiga serangkai komponis klasik dari Wina, yakni Haydn, Mozart, dan Beethoven. Sebelum Beethoven, para musisi menjadi pencipta-pencipta di tengah alam semesta yang teratur. Beethoven bergulat dengan takdir dan musiknya menjadi cara untuk mengekspresikan ide-idenya tentang kemanusiaan. Sebagian kritikus membicarakan dia sebagai nabi yang keras hati, dan kelemahannya adalah sifatnya yang sombong.

Pada umumnya orang sependapat bahwa musik Beethoven dapat dibagi dalam tiga periode: imitasi, eksternalisasi, dan refleksi. Periode pertama, imitasi, berlangsung sekitar tahun 1802, dan meliputi enam kuartet, Op. 18, sepuluh sonata piano pertama, dua simfoni pertama, dan dua konserto piano. Periode eksternalisasi berlangsung sekitar tahun 1802 sampai 1816. Seperti dikatakan sebelumnya, periode ini adalah tahun-tahun penuh kreativitas yang hebat. Pada periode yang terakhir, refleksi, yang berlangsung dari tahun 1817 hingga kematiannya, Beethoven menulis Missa Solemnis in D, Simfoni ke-9, sonata-sonata piano yang terakhir, dan lima kuartet terakhir. 

Piano menempati tempat yang utama dalam seni musik Beethoven. Ia menulis 32 sonata piano, yang bagi literatur piano sama artinya seperti karya-karya Shakespeare bagi drama. Bagi Beethoven, sonata piano merupakan saran untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran dalam batinnya yang terdalam dan paling berani.

Concerto No. 5 (The Emperor) ditulis saat meriam pasukan Napoleon menggempur pintu-pintu gerbang Wina. Dilaporkan bahwa Beethoven mengungsi di sebuah gudang bawah tanah dengan kepala dibenamkan di bawah bantal untuk menjaga daya pendengarannya yang tinggal sedikit.

Salah satu ciri utama musik Beethoven adalah kedalaman isinya yang emosional. Dalam Appasionata, ia menyadari sepenuhnya bahwa piano adalah alat musik perkusi. Karya itu berakhir dengan sejumlah besar trill [ragam nada hias, yaitu memainkan sebuah nada dengan mengikutsertakan satu nada di bawah nada pokok secara bergantian dengan kecepatan tinggi]. Yang khas adalah adanya kontras-kontras yang hebat antara pianissimo [sangat lembut] dan fortissimo. Hingga era Beethoven, kebanyakan musik memegang pola irama yang dapat diprediksi. Salah satu karakteristik musik yang terkenal dari Beethoven adalah adanya unsur kejutan.

Beethoven menulis sepuluh sonata biola, yang paling terkenal adalah Kreutzer Sonata. Di sini biola memiliki deklamasi perkusif. Karya ini semakin terkenal karena Tolstoy menulis sebuah novel berjudul The Kreutzer Sonata yang mengisahkan tentang suami yang suka cemburu yang membunuh istrinya.

Satu operanya, Fidelio, yang berada di tengah jajaran karya terbesar dunia, memberinya kesulitan yang lebih besar dibandingkan dengan karya-karyanya yang lain. Beethoven adalah seorang musisi drama yang hebat, tetapi ia jarang menulis dengan baik untuk musik vokal. Ia mengabaikan keterbatasan suara manusia dan menganggap suara manusia hanya merupakan alat musik lainnya. Ia sering menciptakan musik tak bervokal.

Mustahil untuk membahas simfoni-simfoni Beethoven dengan cukup lengkap dalam beberapa patah kata saja. Masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri yang utuh dan berbeda., tetapi kami akan memberi ulasan singkat untuk setiap simfoninya.

Simfoni ke-1 adalah yang paling Klasik dari sembilan yang ada.

Simfoni ke-2 ditulis selama masa ia mulai menyadari bahwa ia akan menjadi tuli. Ia menulisnya di tengah keadaannya yang depresi. Simfoni ini memperlihatkan kesederhanaan dan secercah cahaya yang energik dan menyala-nyala.

Simfoni ke-3 merupakan ekspresi abadi dari kebesaran yang heroik. Ini merupakan hasil dari keagungan dan kehebatan. Beethoven mempersembahkan simfoni ini untuk Napoleon, yang ia puja sebagai seorang pahlawan yang memimpin umat manusia menuju zaman baru kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Namun ketika Beethoven mendengar bahwa Napoleon menobatkan dirinya sendiri sebagai kaisar, dengan marah ia merobek halaman dedikasi dan mengganti judul simfoni ini menjadi Eroica.

Dilihat dari musik, zaman Napoleon (1769-1821) merupakan zaman Beethoven. Zaman Revolusi terjadi selama masa kebangkitan besar ego manusia dalam filsafat dan kesenian. Para filsuf masa Pencerahan abad ke-18 mempersiapkan jalan menuju pergolakan politik yang dahsyat yang disebut Zaman Revolusi. Simbol abad Pencerahan adalah tanda tanya, dan orang yang menjadi tokoh abad Pencerahan adalah Voltaire, salah seorang yang terbesar dari semua penulis Prancis, yang mempertanyakan keabsahan Alkitab dan meletakkan keyakinannya pada pertimbangan akal sehat manusia. Musuh Voltaire adalah Rosseau, yang menaruh sedikit kepercayaan pada akal sehat manusia. Rosseau percaya akan adanya peran, kebebasan, dan kebaikan manusia, tetapi watak dan kehidupannya sendiri tidak mencerminkan itu. Istrinya mempunyai lima anak, dan Rosseau mengirim mereka semua ke panti asuhan.

Simfoni ke-4 merupakan simfoni yang energik. Di dalamnya Beethoven melepaskan kegemparan ledakan kegembiraan.

Simfoni ke-5 merupakan pelukisan musikal tentang perjuangan Beethoven dengan ketulian. Seperti halnya Goethe, Beethoven percaya akan nasib yang kejam.

Simfoni ke-6 atau Pastoral Symphony merupakan titik awal musik Romantik. Ini merupakan satu-satunya simfoni di mana Beethoven memberinya program. Masing-masing dari lima gerakan yang ada menunjukkan pemandangan kehidupan pedesaan. Beethoven memberi tahu temannya bahwa burung puyuh, burung bulbul, dan burung kecil berwarna kuning di sekitar Heiligenstadt, tempat ia melewatkan waktunya selama beberapa kali musim panas, menolongnya untuk menggubah simfoni ini.

Simfoni ke-7 berisi salah satu dari gerakan Beethoven yang paling terkenal, yaitu gerakan kedua, yang barangkali sangat berpengaruh pada komponis-komponis Romantik. Keseluruhan simfoni dikontrol oleh ide-ide ritmis yang tetap. Wagner menyebutnya “Perwujudan sempurna dari suatu tarian.” 

Simfoni ke-8 terdengar anggun dan rumit.

Simfoni ke-9 merupakan lagu pujian untuk persaudaraan manusia yang universal. Di dalamnya Beethoven menyatakan tentang datangnya sukacita melalui penderitaan. Hal baru yang paling mencolok dari simfoni ini adalah digunakannya paduan suara dan suara-suara solo seolah-olah orkestra telah sampai pada tahap perkembangan yang teratas sehingga tak dapat naik lebih tinggi lagi dan membutuhkan kolaborasi seni vokal.

Lima kuartet terakhir Beethoven, bersamaan dengan Great Fugue, dianggap sebagai puncak prestasinya. Burk berkata, “Lima kuartet terakhir dpaat dipandang sebagai puncak dari semua yang dikerjakannya selama ini, dan semua yang telah ada sebelumnya dapat dianggap sebagai persiapan.” Kuartet-kuartet ini  menyibukkan tiga tahun terakhir hidupnya. Roh Beethoven yang tersiksa dan tidak mau menyerah membutuhkan kesendirian dalam bekerja, dan kelima kuartet ini mengungkapkan pengasingan dirinya dan rasa kesepiannya yang tak terkatakan karena ia menutup dirinya dari orang lain. Musik, bagi Beethoven, menjadi masalah penarikan dirinya dari pergaulan.

Jika kita hidup di zaman seniman bertalenta luar biasa dan berdedikasi tinggi seperti Beethoven, maka kita tidak akan dapat lepas dari pengaruhnya. Grout menyatakan, “Beethoven merupakan kekuatan yang paling mengacaukan dalam sejarah musik. Karya-karyanya membuka pintu gerbang menuju dunia yang baru.” Dan menuju dunia yang hancur, jika saya boleh menambahkan. Dengan mengatakan ini, kami tidak bermaksud mengatakan bahwa musiknya tidak indah, tidak mengagumkan, tidak mulia, dan tidak agung. Allah adalah Sang Pemberi talenta, tetapi tidak semua orang yang bertalenta mengakui hal itu dan mengucap syukur kepada Allah. Baru-baru ini saya ditanya oleh seorang murid di L’Abri, “Apa hubungan filsafat dengan musik?” Salah satu tujuan penulisan buku ini adalah untuk menunjukkan betapa kepercayaan dan pemikiran kita mempengaruhi apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Fakta bahwa Beethoven menganut pandangan dunia yang meniadakan keutuhan rohani menyebabkan musiknya bergerak ke arah disintegrasi menjelang akhir hayatnya.

Sebagai komponis, ia melakukan pencarian yang tak kunjung berakhir untuk mendapatkan bentuk ideal yang akan mengekspresikan dengan lengkap kesatuan yang telah ia impikan sejak awal. Namun sebagaimana yang dijelaskan Francis Schaeffer dalam bukunya How Should We Then Live?, humanisme gagal mencapai kesatuan dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting dalam kehidupan. Kebenaran Alkitab yang dinyatakan tentang Allah Trinitas memberikan satu-satunya pandangan dunia yang menyediakan kesatuan antara hal-hal absolut yang universal dan fakta-fakta kehidupan manusia. Dalam Yesus Kristus, Allah memberikan kepada setiap orang percaya keutuhan rohani dan kepuasan intelektual yang memberi makna dan kepuasan untuk hidup.

Kuartet-kuartet terakhir Beethoven, yang konsisten dengan pandangan dunianya, berubah menjadi abstrak dan mistis. “Almarhum Beethoven,” menurut seorang penulis biografi, Alfred Einstein, “telah dipandang sebagai perusak bentuk.” Bahasa dari kuartet-kuartet terakhirnya terdengar keras dan sususannya tak dapat diprediksi. Sebagian gerakan tak biasanya dibuat panjang, dan lainnya secara mengherankan dibuat pendek. Disonansi yang sering muncul mendahului musik abad ke-20. Tatkala musik Beethoven  menjadi semakin mistis, musik itu kehilangan bentuk-bentuk tradisionalnya. Ciri lain dari karya terakhirnya adalah kontinuitas yang ia capai dengan cara mengaburkan garis-garis pembagi dengan sengaja. Seseorang akan merasakan awal dari hilangnya kategori musik.

Dalam kuartet-kuartet ini Beethoven menggunakan materi tematis yang terpisah-pisah dan tonalitas yang tidak jelas. Sebenarnya, penggunaan formal materi tematis telah ditinggalkan, dan sebagai gantinya dipakai tema yang menyela tema. Bagian-bagian melodinya divariasi, diubah bentuknya, lalu hampir dengan sengaja dihentikan dan dikembalikan. Prinsip variasi ini kemudian diambil dan diterapkan lebih lanjut oleh Arnold Schoenberg dalam variasi-variasinya yang sambung menyambung, topik yang akan dibahas di bab lain.

Kuartet-kuartet terakhir Beethoven disebut musik masa depan, dan banyak musik yang kita dengarkan sekarang merupakan hasil dari pengaruh Beethoven.

Beethoven dilahirkan sebagai seorang Katolik, tetapi ia tak pernah ke gereja. Saat terbaring dalam keadaan sekarat (ia meninggal karena komplikasi radang paru-paru, sirosis hati, dan busung air), ia menjalani sakramen terakhir, tetapi ia memandang semua pastor dengan sikap curiga. Marek menggambarkan kematian Beethoven demikian, “Hari terasa sangat dingin; salju telah turun. Sekitar pukul lima, tiba-tiba datanglah badai dahsyat di langit. Langit menjadi sangat gelap. Mendadak cahaya kilat yang besar menerangi kamar Beethoven, disertai dengan bunyi guntur yang keras. Waktu cahaya kilat itu menyambar, Beethoven membuka matanya, mengangkat tangan kanannya yang mengepal kuat-kuat, lalu tangan itu jatuh kembali, ia meninggal. Waktu itu sekitar pukul 17.15, 26 Maret 1827.” Kerumunan orang yang sangat banyak menghadiri pemakamannya. Franz Schubert adalah salah seorang pembawa obornya.

Orang-orang di seluruh dunia mengenal dan menghargai musik Beethoven. Dalam beberapa hal, musiknya menarik bagi kita karena banyak di antaranya yang mengungkapkan perjuangan dan penderitaannya, dan kita menyamakan diri dengannya. Dalam suratnya seringkali Beethoven bertanya, “Apa gunanya ini semua?” Namun ketika menggubah musik, ia jarang menanyakan hal itu hingga pada saat-saat terakhir hidupnya. Dalam banyak musiknya, Beethoven menyeimbangkan antara penderitaan dengan penghiburan sehingga memberi kesan adanya kekuatan.

Tentu saja kita perlu mendengarkan musik Beethoven. Musik itu menyatukan pikiran dan emosi yang sering kali lebih kuat daripada yang dapat kita hasilkan. Namun jangan pernah mendengarkan dengan acuh tak acuh dan tanpa kebijaksanaan. Nikmati dan hargai apa yang baik, tetapi ingatlah bahwa baik bagi para komponis maupun bagi kita semua berlaku hal ini: apa yang kita percayai mempengaruhi seluruh hidup kita.

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Five Piano Concertos

Concerto in D for Violin

Fidelio

Last Five Quartets

Piano Sonata No. 8, Pathetique

Piano Sonata No. 14, Moonlight

Piano Sonata No. 21, Waldstein

Piano Sonata No. 23, Appasionata

Violin Sonata No. 9, Kreutzer

Nine Symphonies

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books.)

Read Full Post »