Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2013

1. Pemeriksaan Fungsi Paru (Spirometri)

  • Gangguan restriksi: Vital Capacity (VC) < 80% nilai prediksi; FVC < 80% nilai prediksi.
  • Gangguan obstruksi: FEV1 < 80% nilai prediksi; FEV1/FVC < 75% nilai prediksi.
  • Gangguan restriksi dan obstruksi: FVC < 80% nilai prediksi; FEV1/FVC < 75% nilai prediksi.

2. Foto toraks:

  • Bayangan luscent, corakan paru bertambah atau masih ada,
  • Dinding toraks membesar (ICS melebar, barrel chest, costa mendatar, diafragma mendatar),
  • Jantung kelihatan kecil (tear drop appearance),
  • Puncak inspirasi diafragma > ICS V.

emfisema_ro

3. Kadar Hb:

meningkat karena hipoksemia kronis.

4. Analisis gas darah:

seringnya normal, pada kasus yang berat dapat ditemukan hipoksemia.

5. Apusan sampel dahak, kultur, dan tes sensitivitas antibiotik:

berguna pada kasus dengan eksaserbasi yang dipicu oleh bakteri.

6. EKG:

bila ada komplikasi cor pulmonale maka dapat ditemukan gelombang P pulmonal, right bundle branch block, dan right ventricular hypertrophy (dapat terjadi karena hipoksemia kronis).

7. Ekokardiografi:

mengamati fungsi jantung bila terdapat komplikasi.

8. Level α1 antitripsin dan genotipnya:

kadar normal α-1 antitripsin 100-300 mg/dl (defisiensi merupakan salah satu etiologi).

Advertisements

Read Full Post »

tuberkulosis_pa

< 3 minggu:

  • M. tuberculosis memasuki makrofag melalui ikatan antara lipoarabinomanan (glikolipid dinding sel bakteri) dan reseptor manosa pada makrofag.
  • M. tuberculosis melakukan replikasi dalam makrofag dengan menghambat fusi fagosom dan lisosom. Fusi fagolisosom tersebut dicegah dengan menghambat sinyal kalsium dan protein mediator.
  • Pada penderita yang belum tersensitasi terjadi bakteriemia dan penyemaian di berbagai tempat.
  • Penderita dapat asimptomatik atau mengalami penyakit mirip flu.
  • Polimorfisme gen NRAMP1 (protein transmembran pada endosom dan lisosom) menjadi salah satu penyebab respon imun tidak efektif. Pada keadaan normal lisosom akan memompa kation divalen (misal. Fe) yang akan menurunkan jumlah ion yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri.

> 3 minggu:

  • T-helper 1 mengaktivasi makrofag menjadi bakterisidal. Respons tersebut diinisiasi oleh presentasi antigen mikobakterial oleh makrofag alveolar. Makrofag sendiri akan menghasilkan IL-12 karena M. tuberculosis menghasilkan beberapa molekul protein yang merupakan ligan untuk TLR2. IL-12 inilah yang menyebabkan diferensiasi sel T menjadi T-helper 1.
  • Th1 akan memproduksi IFN-γ. IFN-γ menstimulasi pembentukan fagolisosom dalam makrofag yang terinfeksi dan ekspresi iNOS (inducible nitric oxide synthase), yang akan menghasilkan nitrit oksida dan ROS (reactive oxygen species).
  • IFN-γ juga mengakibatkan diferensiasi makrofag menjadi sel epiteloid, atau bahkan berfusi sebagai giant cell, yang merupakan karakteristik respons granulomatosa.
  • Makrofag teraktivasi akan menghasilkan TNF yang merekrut lebih banyak lagi sel monosit.

 

Pada tuberkulosis laten dapat terbentuk cavitasi/caverne karena efek sitokin terhadap jaringan. Kuman Mycobacterium tidak dapat bertumbuh di lingkungan ekstraselular yang bersifat asam dan rendah oksigen. Residu akhir dari infeksi primer adalah sikariks yang mengalami kalsifikasi pada parenkim paru-paru dan nodus limfatik di hilus. Bila terjadi erosi pembuluh darah, maka dapat terjadi hemoptisis.

Sumber:

Kumar V, Abbas KA, Fausto N. 2010. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease 8th Edition. Elsevier Saunders.

Read Full Post »