Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2013

 

Disadur dari:

http://suluk.wordpress.com/2009/09/16/introvert/#comment-4936

Oleh Jonathan Rauch, diterjemahkan oleh Hery Mardian

http://www.theatlantic.com/doc/200303/rauch

Pernah kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau skill basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu menghabiskan waktu sisanya untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah?

 

Kalau iya, apa menurut anda orang ini “terlalu serius”? Atau perlu ditanya, “kamu baik-baik aja?” Atau mungkin dia memang sengaja menjaga jarak, angkuh, tak sopan atau tidak bisa membawa diri? Bahkan diperlukan usaha dua kali lebih keras lagi untuk membuatnya mau menjelaskan ada apa sebenarnya.

 

Kalau jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “ya”, maka hampir pasti anda sudah bertemu dengan seorang introvert—dan hampir pasti pula bahwa anda tidak memperlakukan dia sebagaimana seharusnya.

 

Di tahun-tahun belakangan ini, sains sudah mempelajari banyak hal tentang perilaku maupun kebutuhan para introvert. Bahkan sudah diketahui pula—melalui pemindaian otak—bahwa otak orang-orang introvert mengolah informasi dengan cara yang berbeda dengan orang lain (saya tidak sedang mengada-ada!).

 

Kalau anda ternyata belum tahu fakta ini, anda memang tidak sendirian. Keberadaan orang-orang introvert mungkin sangat umum, tapi di Amerika, termasuk di dunia, mereka adalah golongan yang paling banyak disalahpahami dan dibuat merasa tertekan .

 

Saya sungguh-sungguh tahu itu. Nama saya Jonathan, dan saya seorang introvert.

 

Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya mengingkari ini. Lagipula saya adalah orang yang memiliki kemampuan sosial yang baik. Saya sama sekali bukan orang yang pemurung atau tidak suka orang lain. Umumnya, saya jauh dari pemalu. Saya sangat menyukai obrolan-obrolan panjang tentang pemikiran-pemikiran mendalam, atau tentang hal-hal menarik yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Namun akhirnya saya mengenali hal itu pada diri saya, dan tetap tampil dengan membuka diri sebagai seorang introvert pada teman-teman maupun rekan kerja. Dengan cara ini saya terbebas dari banyak sekali kesalahpahaman atau labelisasi yang menyakitkan.

 

Kini, saya ingin menjelaskan apa yang harus anda ketahui sehingga anda bisa memberikan respon yang tepat sekaligus mendukung pada keluarga, teman maupun rekan kerja anda yang introvert. Perhatikan: pasti ada dari mereka yang anda kenal, anda hormati, atau yang dengannya anda berinteraksi setiap hari, adalah seorang introvert; sementara bisa jadi anda malah “menyiksanya” bila tak paham rambu-rambunya.

 

 

Apa Itu Introversi?

Dalam tampilan modernnya, konsep ini diperkenalkan tahun 1920-an oleh Carl Jung, psikolog yang terkenal itu. Hari ini introversi adalah salah satu tiang utama dalam banyak tes identifikasi kepribadian, termasuk tes Myers-Briggs Type Indicator yang sangat banyak digunakan itu.

 

Para introvert tidak mesti pemalu. Orang pemalu merasa cemas, takut, atau mengutuki dirinya sendiri dalam lingkungan sosial; sedangkan para introvert biasanya tidak demikian. Para introvert juga bukan orang yang misantropik atau pembenci umat manusia, walaupun ada beberapa dari kami yang sepakat dengan kata-kata Sartre, “Neraka adalah adanya orang lain ketika sarapan.” Namun akan lebih tepat jika dikatakan bahwa (berinteraksi dengan) orang lain itu melelahkan bagi para introvert.

 

Para ekstrovert menjadi “hidup” dengan kehadiran orang lain, dan akan layu serta kehilangan kecemerlangan mereka jika sendirian. Ekstrovert kerap tampak seperti bosan dengan dirinya sendiri. Tinggalkan seorang ekstrovert sendirian selama dua menit, maka ia akan segera meraih ponselnya. Sebaliknya, setelah satu atau dua jam bersosialisasi, kami para introvert membutuhkan saat-saat off sejenak untuk mengisi ulang batere kami. Saya sendiri, rumus kebutuhan saya adalah dua jam off untuk setiap satu jam bersosialisasi.

 

Ini sama sekali bukan anti-sosial. Ini juga bukan tanda depresi, dan tidak membutuhan tindakan medis apa pun. Bagi para introvert, dibiarkan sendiri menyelami pikirannya itu sama menyegarkannya dengan tidur, dan sama bergizinya seperti makan. Motto kami, “Saya senang, kamu senang, sama-sama senang—sedikit tapi sering.”

 

 

Berapa Banyak Orang Introvert?

Saya melakukan riset mendalam untuk menjawab pertanyaan ini, di Google. Jawabannya: sekitar 25 persen dari seluruh populasi. Atau kurang dari setengah. Atau, —favorit saya—“Kelompok minoritas di kalangan umum, tapi mayoritas di kalangan manusia berbakat”.

 

Apakah Para Introvert Kerap Disalahpahami?

Sangat, di mana-mana. Seakan-akan itu memang sudah jadi porsi kami. “Sangat sulit bagi seorang ekstrovert untuk memahami introvert,” tulis pakar pendidikan Jill D. Burruss dan Lisa Kaenzig (mereka jugalah yang menjadi sumber kutipan kalimat favorit di akhir paragraf sebelumnya). Namun para introvert mampu memahami ekstrovert dengan sangat mudah, karena para ekstrovert menggunakan begitu banyak waktu mereka untuk berusaha keras menunjukkan siapa dirinya—dengan pembicaraan yang begitu banyak dan kadang tak bisa dihindari—ketika berinteraksi dengan orang lain. Mereka begitu terbukanya, seperti seekor anak anjing yang sedang lucu-lucunya.

 

Namun sayangnya jalan ini hanya jalan satu arah. Para ekstrovert hanya memiliki pemahaman yang sedikit, atau bahkan sama sekali tidak memahami, persoalan introversi. Mereka berasumsi bahwa kebersamaan, khususnya jika bersama mereka (yang ekstrovert), adalah hal yang selalu lebih menyenangkan bagi semua orang. Mereka tidak mampu membayangkan bagaimana mungkin ada manusia yang butuh untuk sendirian; bahkan kerap justru merasa tersinggung kepada mereka yang mengemukakan kebutuhan menyendirinya ini. Sesering saya berusaha menjelaskan hal ini kepada para ekstrovert, saya belum pernah benar-benar merasa yakin bahwa mereka sungguh-sungguh memahami. Biasanya mereka cuma mendengarkan sesaat, lalu kembali menggonggong dan mendengking lucu.

 

 

Apa Para Introvert Tersisih?

Apa boleh buat, saya harus mengatakan “ya”. Lihat satu hal, bahwa para ekstrovert sudah terlalu banyak terwakili dalam dunia politik, profesi yang sangat menyenangkan hanya bagi mereka yang gemar bicara kesana kemari. Lihat George W. Bush. Lihat Bill Clinton. Mereka seperti sangat penuh daya hidup ketika keberadaannya disekitar orang lain. Jika mengingat kembali beberapa introvert yang berhasil menyentuh puncak di dunia politik—Calvin Coolidge, Richard Nixon—justru menegaskan hal tersebut. Pengecualian, mungkin Ronald Reagan, yang terkenal menjaga jarak emosional maupun kehidupan pribadinya, bisa jadi merupakan tanda adanya garis introvert yang dalam (saya pernah baca, banyak sekali aktor adalah introvert; dan banyak introvert, ketika bersosialisasi, merasa seperti sedang akting), para introvert tidak dipandang “berbakat alami” dalam dunia politik.

 

Maka, ekstrovert lebih mendominasi dunia publik. Ini sebenarnya patut disayangkan. Jika para introvert yang menjalankan kepemimpinan di dunia, agaknya dunia akan menjadi tempat yang lebih tenang, lebih waras dan lebih damai. Konon Coolidge pernah bilang, “Tahukah anda, bahwa empat dari lima persoalan hidup akan hilang jika kita bisa duduk diam dan tenang?” (Ia juga konon pernah bilang, “Kalau seseorang diam, maka ia tidak akan diminta untuk mengulangi.” Satu hal yang paling tidak disukai introvert selain berbicara tentang dirinya, adalah mengulangi apa yang diucapkannya).

 

Karena kebutuhan akan bicara dan perhatian yang tak habis-habisnya, para ekstrovert lebih dominan dalam kehidupan sosial sehingga standar-standar pun ditetapkan secara ekstrovert. Dalam masyarakat ekstrovertis kita ini, orang yang terbukalah yang dianggap normal, sehingga orang semua orang ingin menjadi terbuka. Sifat “terbuka” menjadi ciri kebahagiaan, percaya diri, atau kemampuan memimpin. Orang yang ekstrovert kerap disebut dengan kata-kata “besar hati”, “menularkan kebahagiaan”, “hangat”, “empatik”. “Sosok yang disukai semua” menjadi sebuah pujian. Introvert, sebaliknya, umumnya dideskripsikan dengan kata-kata seperti “terlalu berhati-hati”, “penyendiri”, “lambat”, “tak suka bicara”, “tak butuh orang lain”, “pilih-pilih teman”—kata-kata yang sempit, tak ramah, kata-kata yang bermakna miskin secara emosional, atau kepribadian yang kerdil.

 

Para perempuan introvert, menurut saya, adalah yang paling menderita. Dalam lingkungan tertentu, khususnya di dunia barat, seorang pria bisa tidak terlalu bermasalah dengan julukan-julukan yang menggambarkan sifat-sifat yang “kukuh tapi diam”. Namun perempuan introvert, karena tidak memiliki alternatif itu, akan lebih cenderung dianggap sebagai tidak percaya diri, menarik diri, atau angkuh.

 

 

Apakah Para Introvert Sombong atau Arogan?

Sangat jarang. Agaknya kesalahpahaman umum ini disebabkan oleh para introvert yang cenderung lebih cerdas, lebih perenung, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan lebih sensitif dibandingkan ekstrovert. Juga, karena kurangnya kemampuan introvert dalam berbasa-basi, kekurangan yang kerap menjadi bahan celaan oleh para ekstrovert. Introvert cenderung berpikir sebelum berbicara, sementara ekstrovert cenderung berpikir dengan bicara. Ini menjadi sebab kenapa rapat orang ekstrovert tidak akan bisa memakan waktu kurang dari enam jam.

 

“Para introvert”, tulis seorang pintar bernama Thomas P. Crouser dalam sebuah resensi onine dari buku berjudul “Why Should Extroverts Make All the Money?” (judul itu juga tidak saya buat-buat), “seringkali dikacaukan konsentrasinya dan dibuat bingung oleh dialog-dialog ‘setengah internal’ yang biasanya ditampilkan para ekstrovert. Sementara para introvert tidak akan mengeluhkan hal ini secara terbuka, mereka hanya akan mengalihkan pandangan mata dan ‘diam-diam mengutuki kegelapan’.” Begitulah memang.

 

Yang terburuk adalah, ekstrovert benar-benar tak menyadari tekanan yang mereka timpakan kepada para introvert. Kadang, sambil megap-megap mencari nafas di dalam tebalnya asap pembicaraan ekstrovert yang 98-persen-bebas-kandungan-makna itu, seorang introvert bisa bertanya-tanya apakah para ekstrovert benar-benar pernah mencoba untuk mendengarkan dirinya sendiri berbicara. Namun demikian, introvert dengan teguh kukuh berlapis baja tetap berupaya menahan dan menanggung derita ini, karena buku-buku etiket—tak ragu lagi, pasti ditulis oleh ekstrovert—menulis bahwa tidak balik membalas candaan itu tidak sopan, dan membiarkan adanya jeda diam di tengah pembicaraan adalah hal yang menimbulkan kecanggungan.

 

Kami hanya bisa berharap bahwa kelak, ketika keadaan kami ini sudah bisa dipahami secara lebih luas, ketika gerakan “tegakkan hak asasi kaum introvert” ternyata sudah berkembang dan berbuah, bukan lagi dianggap sebagai suatu hal yang tidak sopan jika seseorang mengatakan, “Saya introvert. Anda orang yang menyenangkan, dan saya senang bersama anda. Tapi sekarang, tolong diam, ssssshhht.”

 

 

Bagaimana Cara menunjukkan pada Para introvert di Kehidupan Saya, bahwa Saya Mendukung dan Menghargai Pilihannya?

Pertama, mohon dipahami bahwa itu bukan pilihan. Itu bukan sebuah gaya hidup yang dipilih. Itu adalah orientasi kepribadian.

 

Kedua, ketika melihat seorang introvert sedang diam dan menyelami pikirannya sendiri, tidak perlu bertanya, “Ada apa?” atau “Kamu baik-baik saja?”

 

Ketiga, tidak perlu berkata apa-apa juga, sih.

 

 

***

(Jonathan Rauch adalah korensponden untuk “The Atlantic” penulis senior di “National Journal”)

 

Lihat juga:

http://en.wikipedia.org/wiki/Extraversion_and_introversion

http://giftedkids.about.com/od/glossary/g/introvert.htm

http://psychology.suite101.com/article.cfm/the_introvert

Advertisements

Read Full Post »

patgen-malnutrisi

patfis-gk_kwashiorkor

 

patfis-gk_marasmus

 

Read Full Post »

Hari Raya Tritunggal MahaKudus

Minggu, 26 Mei 2013

Flemish heart - Trinity

Bacaan Injil

Yoh 16:12-15

Yoh 16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

Yoh 16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

Yoh 16:14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.

Yoh 16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”

Renungan

Menerangkan mengenai Tritunggal MahaKudus merupakan hal yang sungguh sulit. Seringkali orang bertanya-tanya mengenai Allah yang sekaligus Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Sebelum memikirkan perkara rumit itu, marilah kita menyadari bahwa dunia ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu dunia yang tercipta dan dunia yang tidak tercipta. Dunia yang tercipta adalah dunia yang mampu kita tangkap dengan panca indra. Dunia inilah yang dapat kita lihat, dengar, cium, kecap, dan raba. Berbeda dengan dunia yang tercipta, dunia yang tidak tercipta tidak dapat kita mengerti dengan panca indra. Meski begitu, Tuhan memberi kita indra keenam untuk mampu terhubung dengan dunia yang tidak tercipta itu. Apakah indra keenam itu? Indra keenam yang dianugerahkan Tuhan pada kita adalah iman.

Dengan iman, kita mampu merasakan kehadiran Allah. Iman itu mengantarkan kita pada pengenalan akan Allah, Tuhan yang tidak dapat kita cerna dengan panca indra dan otak kita yang terbatas.

Ketika mulai mengenal Tuhan, seringkali kita mengatakan bahwa Ia adalah kasih. Kasih yang seperti apa? Tentu saja kasih yang sungguh besar, jauh di atas segala rupa-rupa kasih yang ada dalam dunia ini. Lebih daripada kasih yang telah kita rasakan dari orang tua, kekasih, sahabat, teman, maupun kenalan-kenalan kita.

Tuhan adalah Bapa kita yang selalu hendak membimbing dan meluruskan jalan putra-putri-Nya. Ia mengerti bahwa kita tidak dapat selalu merasakan kehadiran-Nya. Oleh karena itu ia mengutus Yesus Kristus, Putra-Nya yang Tunggal. Yesus hadir di tengah-tengah kita sebagai wujud kasih Allah yang begitu besar pada manusia ciptaan-Nya. Ia pun mengutus Roh Kudus yang akan menghibur dan memelihara iman kita. Roh Kudus sendiri yang akan menuntun kita menghayati Tritunggal ini.

Pernah suatu ketika, ada seorang tunanetra yang sedang diajar mengenal bunga-bunga. Dia mengambil setangkai bunga. Diraba-rabanya setiap lekuk batangnya. Dirasakannya gores-gores lembut daun sang bunga. Lalu ia pun memegang kelopak dan putiknya.

Bagaimana dengan warna bunga itu? Tentu ia tidak tahu. Ia tak mengerti warna bunga yang dipegangnya itu merah, kuning, atau putih. Apabila sang tunanetra mengatakan warna-warna bunga itu tidak nyata dan tidak ada, benarkah warna-warna itu tidak ada? Tentu saja tidak demikian. Kita mengenal warna-warni itu. Warna-warna itu ada, meski sang tunanetra menganggapnya tidak ada karena tak mampu melihatnya.

Kita pun sama dengan orang tunanetra itu. Indra kita terbatas untuk mengenal Allah. Apabila kita tidak dapat melihat dan mendengar Allah secara langsung, apakah Ia tidak ada?

Semuanya bergantung pada iman kita!

Read Full Post »

Hipertensi pada Kehamilan Tanpa Proteinuria:
Tangani Secara Rawat Jalan:
  • Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), dan kondisi janin setiap minggu
  • Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia ringan
  • Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat untuk penilaian kesehatan janin
  • Beritahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala preeklampsia atau eklampsia
  • Jika tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal
Preeklampsia Ringan Kehamilan < 37 minggu:
Jika belum ada perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan:
  • Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), refleks, dan kondisi janin.
  • Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya preeklampsia dan eklampsia.
  • Lebih banyak istirahat
  • Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam)
  • Tidak perlu diberi obat-obatan
 
Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit:
  • Diet biasa
  • Pantau tekanan darah 2 kali sehari, dan urin (untuk proteinuria) sekali sehari.
  • Tidak perlu diberi obat-obatan
  • Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis, atau gagal ginjal akut 
Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan:
  • Nasihatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsia berat.
  • Kontrol 2 kali seminggu untuk memantau tekanan darah, urin, keadaan janin, serta gejala dan tanda-tanda preeklampsia berat
  • Jika tekanan diastolik naik lagi, rawat kembali
 
Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan, tetap rawat. Lanjutkan penanganan dan observasi kesehatan janin.
Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan. Jika tidak, rawat sampai aterm.
Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsia berat.
 
Preeklampsia Ringan Kehamilan > 37 Minggu:
Terminasi kehamilan:
  • Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin (misoprostol).
  • Jika serviks belum matang, lakukan pematangan dengan prostaglandin atau lakukan seksio sesarea.
 
Preeklampsia Berat dan Eklampsia
Penanganan preeklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.
 
Non Farmakologi:
  • Bersihkan jalan napas
  • Pasang sulip lidah
  • Rawat inap
  • Oksigen 4-6L/menit
  • Infus Ringer Laktat 5%
  • Pemasangan kateter untuk pemantauan diuresis
  • Observasi DJJ dengan non-stress test (kardiotokografi), periksa tanda vital ibu dan janin
  • Rujuk untuk rencana penatalaksanaan terminasi kehamilan
  • Edukasi pasien
 
Farmakologi:
  • MgSO4 40% 8 gr IM sebagai loading dose
  • MgSO4 20% 4 gr bolus IV secara perlahan
  • Dosis perawatan: MgSO4 40% 4 gr IM setiap 4 jam
 
Mekanisme kerja MgSO4 :
  • Menghambat potensial aksi selular
  • Berkompetisi dengan kalsium pada pengikatan reseptor
  • Menyebabkan kalsium interselular menurun dengan cara mengaktivasi adenilat siklase
  • Indikasi: mencegah atau mengendalikan kejang akibat eklampsia dan preeklampsia berat
 
Efek Samping:
  • Refleks patella hilang
  • Depresi pernapasan, dapat diatasi dengan kalsium glukonas 10% IV
  • Paralisis atau henti napas dan pada dosis tinggi dapat terjadi henti jantung
  • Mual, muntah
  • Mengantuk, bingung, otot lemah
  • Kolik, diare
 penatalaksanaanPreE-Eklampsia
Obat-obat Antihipertensi:
  • Metildopa
  • Hidralazin
  • Labetolol
 
Prinsip:
  • Mulailah pemberian antihipertensi, jika tekanan darah diastolik > 110 mmHg
  • Pertahankan tekanan darah diastolik 90-100 mmHg untuk mencegah perdarahan otak 
 
Rujuk ke fasilitas yang lebih lengkap bila:
  • Terdapat oligouria (<400 ml/24 jam)
  • Terdapat sindroma HELLP
  • Koma berlanjut lebih dari 24 jam setelah kejang

Read Full Post »

Kehamilan < 24 Minggu:
  • Konseling pasien
  • Terapi ekspektansi atau induksi persalinan
  • Profilaksis Streptococcus Grup B tidak direkomendasikan
  • Antibiotik
  • Kortikosteroid tidak direkomendasikan
 
Induksi persalinan: merangsang terjadinya kontraksi uterus sebelum onset persalinan yang terjadi secara spontan (misoprostol – analog E1 sintetik, oksitosin)
Terapi ekspektansi: terapi terhadap penyakit, dilakukan berdasarkan simptom (meningkatkan risiko korioamnionitis, persalinan Cesar, sepsis neonatal, kematian perinatal, kelahiran spontan)
 
Kehamilan Minggu Ke 24-31:
  • Terapi ekspektansi 
    • Kelahiran pada minggu ke-34
    • Risiko imaturitas paru-paru
  • Profilaksis Streptococcus Grup B
  • Antibiotik
  • Kortikosteroid tunggal
  • Tokolitik (belum ada konsensus)
 
Kehamilan Minggu Ke 32-33:
  • Terapi ekspektansi
    • Kelahiran pada minggu ke-34
    • Risiko imaturitas paru-paru fetus
  • Profilaksis Streptococcus Grup B
  • Antibiotik
  • Kortikosteroid dapat digunakan
 
Kehamilan Minggu Ke >= 34:
  • Lanjutkan hingga kelahiran
  • Induksi persalinan
  • Profilaksis Streptococcus Grup B
    • Penicillin G  i.v. 5 juta unit, dilanjutkan dengan 2,5 juta unit setiap 4 jam hingga kelahiran, atau
    • Ampicillin  i.v. 2 g, dilanjutkan dengan 1 g setiap 4 jam hingga kelahiran 
Antibiotik:
  • Memperpanjang periode laten
  • Profilaksis Streptococcus Grup B pada neonatus
  • Mengurangi risiko korioamnionitis dan sepsis neonatal
Kortikosteroid:
  • Meningkatkan maturasi paru-paru
  • Mengurangi risiko respiratory distress syndrome (atelektasis paru-paru), hemoragik intraventrikel, dan necrotizing enterocolitis 
Tokolitik:
  • Menunda proses kelahiran dengan melemahkan kontraksi uterus
  • Pada beberapa kasus tidak berpengaruh
Sumber:
APGO Medical Student Educational Objectives, 9th edition, (2009), Educational Topic 25 (p52-53).
Beckman & Ling: Obstetrics and Gynecology, 6th edition, (2010), Charles RB Beckmann, Frank W Ling, Barabara M Barzansky, William NP Herbert, Douglas W Laube, Roger P Smith. Chapter 22 (p213-217).
Hacker & Moore: Hacker and Moore’s Essentials of Obstetrics and Gynecology, 5th edition (2009), Neville F Hacker, Joseph C Gambone, Calvin J Hobel. Chapter 12 (p150-153).

Read Full Post »

uterus_adnexa

Uterus nongravid biasanya terletak dalam pelvis minor, dengan corpus uteri terletak di atas vesica urinaria dan cervix uteri di antara vesica urinaria dan rectum.

Pada manusia dewasa biasanya anteversio dan anteflexio, sehingga terletak di atas vesica urinaria.

Dibagi menjadi corpus uteri dan cervix uteri.

Corpus uteri membentuk dua pertiga superior, meliputi fundus uteri, yaitu bagian membulat yang terletak superior terhadap ostium uterinum tubae uterinae. Letaknya di antara lapisan lig. latum uteri dan dapat digerakkan bebas; mempunyai dua permukaan: facies vesicalis (anterior) dan facies intestinalis (posterior). Corpus dibatasi dari cervix oleh isthmus uteri.

 

Cervix: dibedakan menjadi portio supravaginalis cervicis yang berada di antara isthmus uteri dan vagina, dan portio vaginalis cervicis yang berprotrusi ke dalam vagina.

 

Cavitas uteri: berlanjut di inferior sebagai canalis cervicis uteri.

 

Dinding corpus uteri terdiri dari tiga lapisan:

Perimetrium: tunica serosa, peritoneum yang disokong oleh lapisan tipis jaringan ikat.

Myometrium: tunica muscularis (cabang utama vasa dan nervi uterus berada dalam lapisan ini)

Endometrium: tunica mucosa, terlibat aktif dalam siklus menstruasi

 

Ligamentum uterus: ligamentum latum, ligamentum teres uteri (bagian atas uterus, caudal dari insertie tuba), ligamentum suspensorium ovarii (infundibulo pelvicum), ligamentum cardinale, (kiri kanan cervix setinggi ostium uteri internum ke dinding panggul), ligamentum sacrouterinum, ligamentum vesicouterinum.

Vasa uterus: suplai darah berasal terutama dari a. uterina, dengan suplai kolateral potensial dari a. ovarica. Vena memasuki ligamentum latum bersama a. uterina dan dibentuk oleh plexus venosus uterinus pada tiap sisi cervix uteri. Vena uterina bermuara ke v. iliaca interna.

Persarafan: kontraksi dinding uterus adalah autonom, tidak memerlukan rangsang dari susunan saraf pusat. Uterus dipengaruhi oleh serat-serat saraf parasimpatis yang menuju ganglion servikal Frankenhauser yang terletak di pangkal ligamentum sacrouterinum.

Read Full Post »