Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2013

patgen-patfis-gk_konjungtivitis-bakterial

Gejala Klinis:

  • Injeksi konjungtiva baik segmental ataupun menyeluruh
  • Sekret purulen
  • Pada kasus ringan sering dijumpai edema pada kelopak mata
  • Ketajaman penglihatan biasanya tidak mengalami gangguan, mungkin sedikit kabur karena adanya sekret dan debris pada lapisan air mata
  • Reaksi pupil masih normal
  • Khas: kelopak mata yang saling melekat pada pagi hari sewaktu bangun tidur.
Advertisements

Read Full Post »

Jenis-jenis lensa koreksi:

lens

300px-CylindricalLenses_2

Miopi

  • Koreksi dengan lensa negatif: konkaf
  • Karakteristik: membuat gambaran yang lebih jauh dan lebih kecil sehingga dapat terlihat jelas oleh mata
  • Lensa sferis minus terkecil yang memberikan tajam penglihatan terbaik (misal S -2.50 dan S -2.75 memberi visus 6/6 dipilih S -2.50)

Contoh:

OD S -2.50 D

OS S -2.00 D

 myopia1

Hipermetropi

  • Koreksi dengan lensa positif: konveks
  • Karakteristik: membuat gambaran lebih besar dan lebih dekat sehingga dapat terlihat jelas oleh mata
  • Lensa sferis positif terbesar yang memberikan tajam penglihatan terbaik (misal S +2.75 dan S +2.50 memberikan visus 6/6, dipilih S +2.75)

Contoh:

OD S +2.75 D

OS S +2.50 D

hypermetropia1

Presbiopi

  • Koreksi dengan lensa bifokal
  • Karakteristik: memiliki dua kekuatan lensa yang berbeda
  • Ukuran lensa yang memberikan ketajaman penglihatan dekat sempurna merupakan ukuran lensa yang diperlukan untuk adisi kacamata baca
  • Hubungan lensa adisi dan umur biasanya:
    • 40-45 tahun S +1.00 dioptri
    • 45-50 tahun S +1.50 dioptri
    • 50-55 tahun S +2.00 dioptri
    • 55-60 tahun S +2.50 dioptri
    • > 60 tahun S +3.00 dioptri

Jarak baca biasanya 30 cm sehingga adisi +3.00 D adalah lensa positif terkuat yang dapat diberikan pada seseorang. Pada keadaan ini mata tidak melakukan akomodasi bila membaca pada jarak 33 cm karena benda yang dibaca terletak pada titik api lensa +3.00 D sehingga sinar yang keluar akan sejajar.

Adisi untuk membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan jarak pasien pada waktu membaca. Pemeriksaan sangat subjektif sehingga angka-angka di atas tidak merupakan angka yang tetap.

Contoh:

OD S -0.75 D

OS S -1.00 D

ADD S +2.00 D

02_bifocal_type

bifocal2

presbiopy1

Astigmatisme

  • Koreksi dengan lensa silindris atau lensa silindris dan sferis
  • Lensa silinder memiliki dua meridian yang tegak lurus satu sama lain
  • Meridian yang tidak memiliki kekuatan lensa disebut aksis
  • Meridian lainnya memiliki kekuatan lensa
  • Derajat astigmatisme sama dengan ukuran lensa silinder negatif yang dipakai sehingga gambar kipas astigmatisme tampak jelas

 FIGURE30-706341

450px-Cylinder_clock

astigmatism1

 

Lensa sferosilindris

Kombinasi lensa silindris dan lensa sferis

Contoh:

S -2.00 D

C -1.00 D X 90°

sphero-cylindrical

Transposisi Lensa

Tujuan: mengubah silinder negatif menjadi silinder positif atau sebaliknya tanpa mengubah kekuatan lensa tersebut

Metode:

Sferis: merupakan penjumlahan secara aljabar nilai sferis dan silindris

Silindris: ubah tanda kekuatan lensa, ubah aksis dengan menambahkan 90°

Contoh: S +2.00 D C +1.00 D x 90° -> S +3.00 D C -1.00 D x 180°

 

 

Read Full Post »

patgen-patfis-gk_pitiriasis-rosea

Sinar matahari (UV) dapat menjadi pencetus karena mengurangi elastisitas dan merangsang degenerasi sel kulit. Kulit yang kering akan lebih mudah terinfeksi. Juga infeksi laten herpesvirus dapat mengalami reaktivasi karena jejas penyinaran.

Plak Primer:

  • Herald patch (50-90% kasus)
    • Oval/bulat dengan pusat keriput (skuama)
    • Badan apoptosis
    • Degenerasi vaskular basal
    • Pola reaksi inflamasi: alterasi lichenoid
  • Warna fine pink (rosea) atau eritema
  • Zona perifer merah gelap

Erupsi Sekunder:

  • Serupa erupsi primer, tetapi lebih kecil
  • Distribusi sesuai sumbu panjang lipatan kulit (Christmas tree pattern)
  • Jumlahnya meningkat, predileksi semakin menuju perifer

 untitled

Figure_42_02_07

Gejala Klinik

  • Gejala prodromal (5% kasus)
  • Riwayat ISPA dan gangguan saluran cerna (20-50% kasus)
  • Herald patch
  • Christmas tree pattern
  • Gatal (intensitas dapat berbeda, hilang dalam 6-8 minggu)
  • Jarak waktu munculnya plak primer dan sekunder antara 2 hari-2 bulan (berhubungan dengan pembentukan IgM)

Read Full Post »

—patgen_dermatitis-atopik
Mengenai patogenesis dermatitis atopik terdapat dua teori:
  1. Reaksi Hipersensitivitas Tipe 1: melibatkan IgE dan sel mast, serta basofil. Namun, juga dapat melibatkan reaksi hipersensitivitas tipe 4 yang dimediasi oleh sitokin sel T
  2. Gangguan barier epitel
1. Reaksi Hipersensitivitas Tipe I (IgE-mediated)
  • —Fase inisial/segera:
    • Vasodilatasi
    • Kebocoran vaskular
    • Tergantung lokasi: spasme otot polos, sekresi glandular
  • —Fase reaksi lambat:
    • Infiltrasi jaringan oleh eosinofil, neutrofil, basofil, monosit, dan sel T CD 4+
    • Kerusakan jaringan, misalnya epitel mukosa
—
—Tiga Tahapan Utama Reaksi Hipersensitivitas Tipe I (Anafilaktik)
  • —Fase sensitisasi: waktu yang dibutuhkan untuk membentuk IgE sampai diikat silang oleh reseptor spesifik (Fcε-R) pada permukaan
  • —Fase aktivasi:—
    • Waktu antara pajanan ulang dengan antigen spesifik hingga terjadi degranulasi sel mast
    • Ion Ca masuk ke dalam sel mast >> ATP menjadi cGMP & cAMP >> degranulasi sel mast
  • Fase efektor: waktu terjadi respons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-mediator yang dilepas oleh sel mast/basophil

immediate_hypersensitivity

mast-cell_chemokins

Fungsi dari beberapa interleukin yang berperan antara lain:

  • IL-2: pertumbuhan, proliferasi, dan diferensiasi sel T naif
  • IL-4: stimulasi sel B aktif dan diferensiasinya menjadi sel plasma yang menghasilkan IgE, meningkatkan presentasi MHC kelas II, menurunkan produksi sel Th1
  • IL-5: stimulasi pertumbuhan sel B, meningkatkan sekresi imunoglobulin, aktivasi eosinofil

 Fungsi Th2 lebih dominan daripada Th1 pada dermatitis atopik. 

2. Gangguan Barier Epitel:

  • Hilangnya ceramide (molekul utama pengikat air di ruang ekstraselular stratum korneum): transepidermal water loss (TEWL) -> kulit  kering -> port d’entrée penetrasi alergen, iritasi, bakteri, dan virus
  • Infeksi bakteri: sering oleh Staphylococcus aureus
  • Variasi pH kulit: mengganggu maturasi badan lamellar/ granula lamellar yang akan disekresi keratinosit. Badan lamellar berperan dalam pembentukan membran kedap air yang mengandung lipid. Membran tersebut berfungsi sebagai penghalang air dan diperlukan untuk fungsi sawar kulit yang semestinya.
  • Mutasi gen filament-aggregating  protein filaggrin (1q21.3): abnormalitas template sitoskeleton keratin.

Read Full Post »