Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2013

img_sinusitis_inn2

Anamnesis:

  • Laki-laki, 35 tahun
  • Keluhan keluar cairan berbau busuk dari lubang hidung kanan sejak 3 hari sebelum masuk RS (infeksi bakteri)
  • 1 minggu sebelum masuk RS: lubang hidung kanan tersumbat terus menerus (edema, produksi mukus), disertai nyeri di pipi kanan dan sakit kepala di bagian pelipis (persarafan sama oleh N. V2 (N. maxillaris))
  • Ada cairan yang mengalir ke tenggorok (post-nasal drip syndrome)
  • Demam (-), batuk (-)
  • 1 tahun yang lalu:
    • Sakit gigi geraham kanan atas (pulpitis)
    • Sekarang tidak berdenyut, tetapi nyeri waktu mengunyah terutama bila menggigit sesuatu yang keras (gangren, abses)
    • Tidak berobat ke dokter gigi, hanya mengkonsumsi obat penahan sakit
  • Riwayat kebiasaan: merokok sejak masih SMU, menyikat gigi hanya di pagi hari (mempercepat bentukan karies, rokok membuat keasaman mulut >>)

Pemeriksaan Fisik

  • Tanda vital:
    • S: 37,8°C (subfebris)
    • T: 135/85 mmHg (prehipertensi)
  • Status generalis dalam batas normal
  • Status lokalis:
    • Telinga, tenggorok, hidung bagian luar dbn
    • Cavum nasi kanan
      • Sekret mukopurulen berasal dari daerah meatus nasalis medius (infeksi sinus maxillaris)
      • Konka inferior: mukosa hiperemis (inflamasi)
    • Wajah: nyeri tekan dan nyeri ketuk daerah fossa canina kanan (sinusitis maxillaris)
    • Rongga mulut: gigi 16 didapatkan gangren radiks, nyeri ketuk (+), vitalitas (-) (gangrene, abses)
  • Transiluminasi kamar gelap: daerah pipi kanan gelap, pipi kiri terang (cairan, sinusitis maxillaris kanan)

Laboratorium

  • Relatif leukositosis (11.000/mm3)
  • Urinalisis normal

Pemeriksaan Foto Polos:

  • Waters: tampak perselubungan opak pada sinus maxillaris kanan, gambaran “air-fluid level”. Sinus lainnya cerah, septum nasi tidak deviasi (polip nasal, fibrosis kistik, rhinogen (-)), tulang-tulang wajah normal.
  • Foto panoramik: karies profunda gigi 16 (M1 kanan atas), daerah lusen berbatas tegas ireguler sekitar apeks radiks gigi (abses, asal infeksi)

Diagnosis Banding

  • Rhinosinusitis maxillaris dextra akut e.c. dentogen
  • Rhinosinusitis maxillaris dextra akut e.c. rhinogen
  • Fibrosis kistik
  • Sindrom Kartagener (diskinesia cilia primer)

Gejala Mayor:

Nyeri/rasa penuh pada wajah, obstruksi nasal, sekret nasal purulen

Tanda:

Nyeri tekan sinus, kongesti nasal, sekret nasal purulen

Gejala Minor:

Demam, nyeri kepala, sakit tenggorokan, anosmia/hiposmia, rasa penuh di telinga, sakit pada gigi

Diagnosis: faktor mayor ≥ 2 atau 1 faktor mayor dan ≥ 2 faktor minor

 

Diagnosis Kerja:

Rhinosinusitis maxillaris dextra akut e.c. dentogen

 

 

Advertisements

Read Full Post »

Immune_system_lg

sensitisasi_rhinitis-alergi

Pajanan ulang terhadap individu yang tersensitisasi akan menyebabkan degranulasi sel mast (dalam hal ini dapat dipengaruhi perubahan suhu juga). Gejala fase cepat umumnya berupa bersin, pruritus, dan rhinorrhea yang jernih. Gejala fase lambat biasanya berupa hidung tersumbat. Prostaglandin (PGD2) banyak terdapat di sekret hidung pada fase cepat, tetapi tidak pada fase lambat sebab mediator ini banyak dihasilkan sel mast. Fase cepat diperankan oleh sel mast dan basofil, sedangkan fase lambat lebih diperankan oleh basofil.

 25931-0550x0475

Histamin merupakan mediator penting pada gejala alergi hidung. Mediator ini bekerja langsung pada reseptor histamin seluler. Kerjanya yang secara tidak langsung melalui pengaruh terhadap refleks bersin dan hipersekresi. Melalui sistem saraf otonom, histamin menimbulkan gejala bersin, gatal, vasodilatasi, dan peningkatan permeabilitas kapiler (menyebabkan rinorrhea berair dan edema lokal). Reaksi ini timbul segera setelah beberapa menit pasca pajanan alergen. Refleks bersin dan hipersekresi sebetulnya merupakan refleks fisiologik protektif terhadap antigen yang masuk melalui hidung. Iritasi sedikit saja pada mukosa hidung akan menimbulkan respons hebat di seluruh mukosa hidung.

 

Mediator yang dilepas setelah histamin adalah leukotrien (LTB4, LTC4), prostaglandin (PGD2), dan PAF (platelet-activating factor). Efek mediator-mediator ini berupa vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas vaskular sehingga terjadi gejala hidung tersumbat. Sekresi kelenjar yang meningkat menyebabkan gejala beringus kental (mucous rhinorrhea). Gejala rinitis alergik fase lambat seperti hidung tersumbat, kurangnya penciuman, dan hiperreaktivitas lebih diperankan eosinofil. Hal ini dipengaruhi adanya peningkatan kemotaksis (IL-5), ekspresi molekul adhesi, atau penambahan masa hidup eosinofil dalam jaringan (IL-4).

Read Full Post »

Anatomi Telinga

115Image_-_Anatomy_of_the_Ear(1)
Auris Externa
  • Auricula (daun telinga)
    • Tulang rawan elastik, melekat erat pada perichondrium
    • Helix
    • Antihelix
    • Tragus: tonjolan di bagian anterior auris externa, menutupi dan melindungi meatus acusticus externus
  • Canalis acusticus externus
    • Berbentuk huruf S mulai dari concha ke arah membrana tympani
  • Membrana tympanica
    • Memisahkan auris externa dan auris media
    • Jaringan ikat berbentuk agak konkaf
    • Membrana tympani melekat pada manubrium mallei
      • Umbo membranae tympanicae
      • Pars flaccida dan pars tensa
Persarafan:
  • Aspek posterior: n. auricularis magnus & n.occipitalis minus dari segmen spinalis C2 & C3
  • Aspek anterior: percabangan N-V3 dan N-VII
  • Canalis acusticus  externus: cabang N-IX & N-X
Auris Media
  • Cavitas tympani
    • Dinding lateral:
      • Membrana tympani
      • Chorda tympani
    • Atap (tegmen tympani/paries tegmentalis): memisahkan fossa cranii media dan recessus epithympanicus (caput mallei dan corpus inducis)
    • Dasar (paries jugularis): tulang yang memisahkan auris media dengan canalis jugularis
    • Posterior/paries mastoideu: berbatasan dengan antrum mastoideum
    • Dinding anterior/paries caroticus
      • Memisahkan cavum tympani dengan canalis caroticus
      • Didapatkan ujung tuba auditiva
    • Dinding medial/paries labyrinthicus
      • Promontorium (penonjolan cochlea)
      • Canalis facialis
      • Fenestra ovale (ditempati basis stapedis)
      • Fenestra cochlea (fenestra rotundum) tertutup selaput elastik
  • Tulang-tulang pendengaran: os malleus, os incus, os stapes

655

Auris Interna

Terletak di dalam pars petrosus os temporalis

  • Labyrinthus osseus
    • Saluran yang terbentuk oleh tulang, berisi perilymph
    • Cochlea, vestibulum, tiga canalis semicircularis (anterior, lateral, posterior)
  • Labyrinthus membranaceus
    • Berisi endolymph
    • Ductus cochlearis, utriculus dan sacculus, ductus semicircularis

1149

Read Full Post »