Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2014

Pemeriksaan Penunjang

  • Apus darah tepi
    • Tetes darah tebal
    • Lebih mudah menemukan parasit (terinfeksi/tidak)
  • Apus darah tipis
    • Eritrosit tidak lisis, parasit tidak berubah bentuk
    • Identifikasi spesies
    • Hitung retikulosit dengan brilliant cresyl blue /1000 (%): menentukan derajat hemolisis (n: 0,5-1,5%)
  • Diulang 4-6 jam pewarnaan dengan Giemsa, Leishman, Wright, Field
  • Dapat juga dilihat dari adanya pigmen cokelat granular pada monosit dan leukosit

 

 

  • QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)
    • Tes fluoresensi: protein parasit dapat mengikat Acridine Orange (terinfeksi/tidak)
  • Dipstick Test (diagnostik)

  • Serologis (Imunokromatografi)
    • Antigen HRP-2 (histidine-rich protein)
    • Antigen enzim parasit laktat dehidrogenase (p-LDH)
  • PCR: diagnosis molekular
  • Menentukan adanya komplikasi akibat sekuestrasi:
    • SGOT/SGPT: fungsi hepar
    • Ureum, kreatinin: fungsi ginjal
    • Bilirubin direk, indirek (malaria biliosa)
    • Urinalisis: hemolisis berat, hemoglobinuria, gagal ginjal (black water fever)
    • Malaria serebral: gula darah
  • Pemeriksaan lain: prothrombine time (jalur ekstrinsik dan bersama yaitu: faktor V, VII, X, protrombin, fibrinogen), serum albumin < dan globulin > 
Advertisements

Read Full Post »

Definisi

Demam tifoid (typhus abdominalis, typhoid fever) adalah penyakit infeksi akut akibat infeksi Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B, atau C pada saluran pencernaan (usus halus, terutama jejunum dan ileum) dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

Etiologi

  • Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B, atau C
  • Bakteri berbentuk batang, Gram (-), tidak membentuk spora, motil, berkapsul dan mempunyai flagella
  • Dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan debu
  • Mati dengan pemanasan (suhu 60°C) selama 15 – 20 menit, pasteurisasi, pendidihan dan klorinisasi

Epidemiologi

  • Demam tifoid terjadi di seluruh dunia, terutama pada negara sedang berkembang karena sanitasi yang buruk
  • Endemik di Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan Oceania
  • 80% kasus dari Bangladesh, Cina, India, Indonesia, Laos, Nepal, Pakistan, atau Vietnam
  • Di Indonesia mengenai 900 per 100.000 penduduk
  • Lebih sering pada laki-laki
  • Lebih sering pada bayi, anak usia sekolah, dan dewasa muda (5-18 tahun)
  • Menginfeksi 21,6 juta orang (3,6 per 1.000 populasi)
  • Mortalitas 200.000 orang per tahun di seluruh dunia

 

Transmisi

  • Fecal-oral: makanan atau minuman yang terkontaminasi feses dari orang terinfeksi/karier kronik (jarang melalui urin), air terkontaminasi, kelalaian menjaga higiene tangan
  • Inokulum sebanyak 100.000 organisme sudah dapat menyebabkan penyakit
  • Inkubasi 7-14 hari

 

Faktor Risiko

  • Antasida, antagonis reseptor Histamin-2, proton pump inhibitors, gastrektomi, dan aklorhidria: asam lambung <<
  • Kepadatan penduduk yang tinggi
  • Sumber air dan sanitasi yang buruk
  • Kurangnya higiene pengolahan makanan
  • Kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat (mencuci tangan, jamban keluarga)

 

 

 http://emedicine.medscape.com/article/231135-overview

Read Full Post »

Diagnosis

  • Laki-laki, 24 tahun
  • Keluhan: ulkus multipel, nyeri, di daerah preputium dan meatus uretra eksterna sejak 7 hari lalu (bukan sifilis)
  • Papula eritem dengan pustula di tengahnya, kemudian pecah menjadi erosi (reaksi radang)
  • Erosi semakin lama bertambah banyak sampai ke daerah scrotum (penyebaran bakteri)
  • Ulkus bergaung, tepi ireguler, diskret dengan dasar yang rapuh, kotor, dan mudah berdarah (infeksi bakteri, toksin (cytolethal distending toxin dan hemolisin)
  • Disertai pembesaran KGB inguinal dextra dan sinistra, nyeri
  • Riwayat sosial: sering berganti pasangan sejak 20 tahun (faktor risiko)
  • Terakhir berhub seksual 2 minggu yang lalu dengan pasangan tak tetap tanpa memakai kondom (faktor risiko, lesi mukosa)
  • Penderita baru mengalami keluhan seperti ini (bukan herpes genitalis rekuren)

Tanda vital dalam batas normal (afebris)

Status generalis dalam batas normal (tak ada gejala sistemik seperti pada herpes simplex)

Status venereologi:

  • Inguinal kiri dan kanan: pada palpasi teraba benjolan dengan diameter 1-2 cm, keras, nyeri tekan (+) (limfadenopati)
  • Scrotum: ulkus multipel, diameter 2-3 cm, batas tegas, indurasi (-), tepi tak rata, bergaung, dasar ditutupi pus, krusta pustulosa, krusta sanguinolenta (eksudat dan jaringan granulasi)
  • Penis: preputium dan meatus uretra eksterna erosi, ulkus seperti pada scrotum

 

Hasil Laboratorium

  • Bahan pemeriksaan: apus ulkus
  • Gram: PMN > 50/LPB (infeksi bakteri)
  • Batang Gram (-) berderet spt rantai (khas pd Haemophilus ducreyi (school of fish))

 

Diagnosis Kerja: ulcus molle et causa Haemophilus ducreyi

Pencegahan

  • Menjaga kebersihan pribadi
  • Penggunaan kondom
  • Menghindari sikap promiskuitas

Komplikasi

  • Mixed chancre / phagedenic chancroid (infeksi campuran dengan fusospirochaeta – bakteri Gram (-) anaerob dan Spirochaetaceae): ulkus masif, destruksi jaringan
  • Limfadenitis inguinal
  • Ruptur bubo
  • Fimosis atau parafimosis

 

Prognosis

Quo ad vitam: ad bonam

Quo ad functionam: ad bonam

Quo ad sanationam: dubia

 

Read Full Post »

Saudari-Saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

 

Bersama dengan seluruh Gereja, kita akan memasuki masa Prapaskah pada Hari Rabu Abu yang akan datang. Menjelang masa Prapaskah, kita terhenyak oleh rentetan bencana alam yang datang bertubi-tubi: banjir yang secara merata melanda banyak tempat baik di pulau Jawa maupun luar pulau Jawa; letusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang hingga saat ini masih mengancam keselamatan jiwa para warga; disusul kemudian dengan Gunung Kelud di Jawa Timur yang meletus dan memaksa ribuan warga untuk mengungsi. Bencana lain, seperti tanah longsor dan gempa bumi juga membuat kita semua prihatin dan berduka. Semua bencana itu menyisakan kesengsaraan ratusan ribu, bahkan jutaan orang yang kehilangan sanak-saudara, rumah, harta-benda, dan mata pencaharian. Hati kita sesak melihat saudari-saudara kita itu harus hidup di tenda-tenda pengungsian sambil menatap dengan khawatir masa depan hidup mereka. Belum lagi kalau kita berbicara mengenai bencana moral yang pasti tak kalah membahayakan dan menyengsarakan.

 

Sabda Tuhan pada hari ini berbicara mengenai kekhawatiran. ”Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai” (Mat 6:25). Bagaimanakah sabda Tuhan ini kita mengerti? Bukankah hidup kita senantiasa diwarnai dengan kekhawatiran? Bukankah kekhawatiran itu merupakan tanda kepedulian kita terhadap persoalan hidup? Para pengungsi mengkhawatirkan masa depan hidup mereka. Kita pun mengkhawatirkan mereka dan juga masa depan kita sendiri dan anak-anak kita. Kita khawatir akan hari ini dan hari esok, akan makanan dan pakaian, kesehatan dan pekerjaan. Kita khawatir akan kemiskinan yang semakin meningkat, kejahatan yang merajalela, moralitas yang semakin rendah dalam masyarakat. Kita khawatir akan krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan, dan juga krisis-krisis yang lain, termasuk krisis ekologi yang mengancam lingkungan hidup kita. Kekhawatiran semacam ini merupakan sikap peduli yang berasal dari Tuhan yang menyentuh hati kita, menggugah keprihatinan, dan mendorong kita untuk melakukan perubahan.

 

Lantas, apa yang dimaksud dengan ”khawatir’ ‘dalam sabda Tuhan hari ini? Pada bagian paling awal, kita mendengar mengenai kesetiaan kepada Allah yang tidak mungkin dilakukan bersamaan dengan kesetiaan kepada Mamon. ”Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24). Kekhawatiran yang dimaksud di dalam sabda Tuhan adalah kekhawatiran yang menggeser kepercayaan kita kepada Allah dan menggantikannya dengan Mamon, yaitu harta milik yang kita kumpulkan. Banyak orang begitu khawatir akan masa depannya sehingga bersikap serakah dengan mengambil keuntungan setinggi-tingginya dalam usaha dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta yang bisa dikumpulkan. Kekhawatiran yang membawa kepada keserakahan mencerminkan ketidakpercayaan kita kepada penyelenggaraan Allah. Hidup tidak lagi diabdikan untuk kesejahteraan bersama, tetapi untuk menimbun harta demi kepastian masa depannya sendiri. Dengan sikap seperti ini, kita bekerja bukan untuk hidup, tetapi untuk mengumbar keserakahan. Kepada orang-orang yang khawatir dan bersikap serakah semacam ini, Yesus bersabda: ”Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga” (Mat 6:26). Kekhawatiran yang memicu keserakahan tidak akan memunculkan rasa kepedulian, tetapi justru akan menumpulkan rasa sosial dan menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama. Keserakahan akan memancing tindakan korupsi dan manipulasi, dan melunturkan kejujuran dan kemurahan hati.

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

 

Tahun 2014 bagi Keuskupan Bandung merupakan Tahun Kebangsaan. Berkaitan dengan Tahun Kebangsaan itu, tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2014 pada masa Prapaskah ini ialah ”Muliakanlah Allah dengan Membangun Bangsa dan Negara.” Tema ini tentu saja merupakan ajakan bagi kita semua untuk semakin menyadari bahwa kita merupakan bagian dari suatu bangsa dan negara, yaitu Indonesia. Kita hidup di alam Indonesia sebagai satu bangsa, menggunakan satu bahasa pemersatu walaupun kita berbeda satu sama lain. Sebagai bangsa, kita dipersatukan oleh sejarah yang sama di masa lampau dan cita-cita yang sama mengenai masa depan. Kita semua tahu bahwa cita-cita bangsa Indonesia termuat dalam kelima sila Pancasila. Sila-sila tersebut berbunyi: Ketuhanan yang mahaesa; Kemanusiaan yang adil dan beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Itulah nilai-nilai Pancasila yang menjadi nilai-nilai kehidupan yang harus kita wujudkan bersama. ”Memuliakan Allah dengan Membangun Bangsa dan Negara” berarti ikut serta dalam mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu kehidupan bersama yang didasarkan atas kepercayaan kepada Tuhan, berorientasi kepada kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Secara singkat, nilai-nilai Pancasila itu merupakan kekuatan untuk mewujudkan persaudaraan di tengah perbedaan dan kesejahteraan bersama di tengah kesenjangan sosial saat ini. Nilai-nilai Pancasila itu merupakan daya untuk membela kehidupan dan kemanusiaan lebih daripada akumulasi kekayaan. Hal ini tidak akan bisa terwujud tanpa keterbukaan dan kepedulian. Kita hendaknya terbuka akan perbedaan dan terdorong membangun kebersamaan. Kita dipanggil untuk peduli akan persoalan dan terlibat dalam perubahan sosial demi tegaknya kemanusiaan dan terwujudnya kesejahteraan bersama.

 

Saudari-Saudaraku yang terkasih,

 

Mengakhiri Surat Gembala ini, saya hendak mengajak Anda semua untuk bersama-sama menghayati nilai-nilai Pancasila dan mewujudkannya dalam hidup kita sehari-hari. Perwujudan nilai-nilai Pancasila itu sesungguhnya juga merupakan perwujudan iman kristiani kita. Dalam masa tobat dan puasa ini, marilah kita pertajam rasa kemanusiaan dan kita kikis nafsu keserakahan. Janganlah kekhawatiran kita menjauhkan kita dari tindakan belas kasih. Marilah kita bangun komitmen keadilan sambil terus menerus memupuk kepedulian. Tidak lupa pula hendaknya kita menjauhi korupsi dan manipulasi, dan menggantinya dengan kemurahan hati. Hanya dengan sikap demikianlah kemanusiaan yang adil dan berabad akan terwujud dan kesejahteraan bersama akan bisa dirasakan. Terima kasih atas karya-karya baik yang telah kita upayakan dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Kita lanjutkan karya-karya itu sambil terus menerus mencari bentuk-bentuk keterlibatan sosial kita. Salam dan berkat Tuhan menyertai Anda semua, keluarga, dan komunitas Anda.

 

Bandung, 15 Februari 2014

 

 

Ignatius Suharyo

Administrator Apostolik

Keuskupan Bandung

Read Full Post »