Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2014

HEART-color-md

Sindrom Koroner Akut

  • Suatu spektrum penyakit dengan etiologi bermacam-macam, terdapat ketidakseimbangan antara pemberian dan kebutuhan oksigen miokardium (Kumar, 2007).
  • Meliputi STEMI, non-STEMI, dan angina tak stabil

Infark Miokard

  • Nekrosis miokardium ireversibel karena iskemia berkepanjangan
  • Diakibatkan ketidakseimbangan kebutuhan dan suplai oksigen karena ruptur plak, pembentukan trombus, pada arteri koroner,
  • Menyebabkan reduksi perfusi miokardium.

Epidemiologi dan Insidensi

  • Penyebab kematian tersering baik di dunia maupun Indonesia
  • Lebih banyak pada negara industri, di perkotaan, masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas
  • Pria : wanita = 5:1, risiko sama setelah menopause
  • Meningkat > 40 tahun, risiko tinggi > 50 tahun

Etiologi

Umumnya karena aterosklerosis:

  • Kurangnya aliran darah menuju arteri koroner
    • Proses aterosklerosis
    • Insufisiensi & stenosis aorta
    • Pemendekan fase diastolik (takikardi, emosi, aktivitas fisik yang berat)
    • Hipertrofi ventrikel
  • Berkurangnya suplai oksigen miokardium
    • Anemia
    • Viskositas darah >> (polisitemia vera: perfusi <<)
    • Daerah dengan tekanan udara rendah (dataran tinggi: < O2)
  • Peningkatan kebutuhan oksigen miokardium
    • Peningkatan tekanan miokardium (krisis hipertensi, stenosis aorta)
    • Peningkatan FDJ (takikardi, hipertiroid)

Faktor Risiko

  • Mayor (risiko mortalitas signifikan)
    • Merokok
    • Dislipidemia
    • Hipertensi
    • DM
    • Genetik (keluarga PJK usia muda, pria < 55 tahun, wanita < 65 tahun)
    • Homosistein (>10 mikromol/liter, penanda aterosklerosis)
    • Hs-CRP (penanda risiko penyakit kardiovaskular, tinggi > 3 mg/dL)
  • Minor:
    • Usia (pria > 45 tahun, wanita > 55 tahun)
    • Jenis kelamin (lebih sering pada pria)
    • Obesitas (BMI > 25, lingkar pinggang pria > 90 cm, wanita > 80 cm)
    • Hiperurisemia
    • Aktivitas fisik kurang
    • Stres

Klasifikasi SKA

  • Angina pektoris tak stabil (Braunwald, 1989)
    • I: berat, baru terjadi/bertambah berat, tak ada angina saat istirahat
    • II: angina timbul saat istirahat dalam 1 bln terakhir, tidak timbul dlm 48 jam (subakut)
    • III: angina timbul dalam waktu 48 jam (akut)
  • STEMI (ST elevation myocard infarct)
  • Non-STEMI

Sumber:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23084/4/Chapter%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34964/4/Chapter%20II.pdf
http://emedicine.medscape.com/article/155919

Advertisements

Read Full Post »

 

franz-und-marie

©2013-2014 josephinewidya

Teknik: cat minyak dan akrilik pada kanvas

Ilustrasi pribadi milik penulis untuk karya ‘Meine Seufzer’ (2014).

Read Full Post »

Penatalaksanaan

Tujuan utama: menurunkan morbiditas dan mortalitas.
Diperlukan pengobatan untuk:

  • Menekan replikasi virus
  • Mengatasi penyakit penyerta (jamur, TB, hepatitis, toksoplasma, sarkoma kaposi, limfoma, kanker serviks)
  • Suportif: gizi, gaya hidup, dan terapi psikososial

Anjuran WHO

  • Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda
  • Program penyuluhan sebaya (peer group education) untuk berbagai kelompok sasaran
  • Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik
  • Paket pencegahan komprehensif bagi pengguna narkotika, termasuk program pengadaan jarum suntik steril
  • Program pendidikan agama dan pelatihan keterampilan hidup, layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS), promosi kondom di lokalisasi pelacuran dan panti pijat
  • Pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling, dukungan untuk anak jalanan dan pengentasan prostitusi anak, integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan, dan dukungan untuk ODHA
  • Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV.

Terapi ARV

  • Tujuan terapi ARV (antiretroviral): mencapai supresi maksimum terhadap replikasi HIV, meningkatkan CD4 limfosit, memperbaiki kualitas hidup.
  • Terapi ARV direkomendasikan untuk individu terinfeksi HIV dengan gejala atau jumlah CD4 <350 sel/µL atau HIV RNA plasma 55.000 kopi/mL tanpa melihat jumlah CD4

Prinsip umum:
Pemantauan periodik dan teratur pemeriksaan jumlah RNA HIV plasma dan hitung jumlah CD4 (menentukan progresivitas infeksi HIV, penentuan pemberian terapi ARV)

Indikasi ARV:

  • HIV stadium I dan II dengan CD4 < 350/mm3
  • HIV stadium III dan IV tanpa memandang CD4
  • Tanpa melihat CD4: HIV + TB/kehamilan/hepatitis B kronis, pasangan serodiskordan, populasi kunci (penjaja seks, pengguna narkoba suntik, pria homoseksual).
  • Indikasi nonmedis: kesiapan pasien.

Manfaat ARV: pulihnya sistem kekebalan akibat infeksi HIV dan kerentanan ODHA terhadap infeksi oportunistik/penyakit penyerta
Indikasi penggantian obat:

  • HIV RNA plasma turun kurang dari 1-log setelah 1 bulan mulai terapi
  • Terjadi peningkatan bermakna (3x lipat) HIV RNA plasma
  • Penurunan persisten hitung sel limfosit T CD4+
  • Perburukan gejala klinis
  • Efek samping yang tidak dapat ditoleransi

Agen Antiretrovirus

  • Menghambat replikasi virus dengan kombinasi agen ARV poten memberikan hasil yang baik untuk mengatasi infeksi HIV.
  • Golongan: nucleoside, nonucleoside reverse transcriptase inhibitors, protease inhibitors
  • Reverse transcriptase inhibitors: purin and pyrimidine-based nucleosides and nucleotides (NRTIs) dan yang bukan nucleoside or nucleotide based (NNRTIs).
  • Untuk lini 1 digunakan 2 NRTI dan 1 NNRTI
  • Untuk lini 2 digunakan 2 NRTI dan 1 PI
  • Tidak boleh menggunakan Zidovudin dan Stavudin bersamaan

1. Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI)

  • Zidovudine (AZT), didanosine (ddL), zal-citabine (ddC), stavudine (d4T), lamivudine (3TC), abacavir (ABC), tenofovir (TDF), dan emtricitabine (FTC).
  • Mekanisme kerja: melalui fosforilasi interselular membentuk trifosfat dan bergabung dalam DNA sehingga menghambat pemanjangan rantai RNA virus. Secara spesifik mirip dengan nukleosida.
  • Zidovudine: demensia AIDS.
  • Eliminasi melalui ginjal, tidak berinteraksi dengan obat lain yang melalui sitokrom p-450

2. Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI)

  • Nevirapine (NVP), Delavirdine (DLV), dan Efavirenz (EFV)
  • Mekanisme kerja: menghambat enzim reverse transcriptase melalui ikatan dengan tempat aktivitas enzim. Dapat menghambat atau menginduksi aktivitas sitokrom p-450 di hepar, berinteraksi dengan obat-obat lain yang melalui sitokrom p-450.
  • Reduksi metadon (gejala putus obat opiat)

3. Protease Inhibitors (PIs)

  • Indinavir (IDV), Nelfinavir (NFV), Saquinavir (SQV), Lopinavir/Ritonavir (LPV/r), Atazanavir (ATV).
  • Mekanisme kerja: menghalangi kerja enzim protease yang berfungsi memotong DNA yang dibentuk oleh virus dengan ukuran yang benar untuk memproduksi virus baru.

 

Selain obat-obat tersebut di atas, ada juga:

  • Fusion inhibitor: Enfuvirtide (T20) dan Maraviroc (MVC)
  • Integrase inhibitor: Raltegavir (RAL) dan Elvitegavir (EVG)

Pilihan regimen yang direkomendasikan WHO (2013):

  • TDF + 3TC + EFV
  • AZT + 3TC + EFV
  • AZT + 3TC + NVP
  • TDF + 3TC + NVP

 ARVs

 

Evaluasi pengobatan:

  • Monitoring CD4 tiap 6 bulan
  • Viral load

Medikasi untuk Penyakit Penyerta

  • Kandidiasis oral: Flukonazol 150 mg 1x/hari
  • Toksoplasmosis:
    • Klindamisin (4 x 600 mg) + Pirimetamin (loading dose 200 mg 1x, lanjut 50 mg/hari) (3-6 minggu)
    • Selanjutnya Klindamisin 4 x 300 mg + Pirimetamin 50 mg (3-5 minggu)
  • PCP: Kotrimoksazol (Trimetoprim 15-20 mg/kgBB/hari 2dd) selama 6 minggu. Alternatif: Klindamisin + Primakuin
  • Tuberkulosis: regimen OAT

Obati infeksi oportunis lebih dahulu selama 2 minggu – 2 bulan, lalu mulailah terapi ARV.

Profilaksis

  • Kotrimoksazol 1×960 mg
  • Tujuan: mencegah PCP, toksoplasmosis, diare, dan ISPA yang masih sensitif terhadap kotrimoksazol.
  • Indikasi: HIV stadium II, III, IV atau jika CD4 < 200/mm3 (WHO: < 350/mm3)
  • Diberikan sampai CD4 > 200/mm3 pada 2x pemeriksaan dengan selang 6 bulan.
  • Dihentikan bila sudah diberikan 2 tahun.

Read Full Post »