Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2014

saint-peter

Sejarah Gereja Katolik meliputi rentang waktu selama hampir dua ribu tahun. Sejarah Gereja Katolik merupakan bagian integral sejarah kekristenan secara keseluruhan. Istilah Gereja Katolik yang digunakan secara khusus untuk menyebut Gereja yang didirikan di Yerusalem oleh Yesus dari Nazaret (sekitar tahun 33 Masehi) dan dipimpin oleh suatu suksesi apostolik yang berkesinambungan melalui Santo Petrus Rasul Kristus, dikepalai oleh Uskup Roma sebagai pengganti St. Petrus, yang kini umum dikenal dengan sebutan Paus.

“Gereja Katolik” diketahui pertama kali digunakan dalam surat dari Ignatius dari Antiokhia pada tahun 107, yang menulis bahwa: “Di mana ada uskup, hendaknya umat hadir di situ, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, Gereja Katolik hadir di situ.”

Di pusat doktrin-doktrin Gereja Katolik ada Suksesi Apostolik, yakni keyakinan bahwa para uskup adalah para penerus spiritual dari kedua belas rasul mula-mula, melalui rantai konsekrasi yang tak terputus secara historis. Perjanjian Baru berisi peringatan-peringatan terhadap ajaran-ajaran yang sekedar bertopengkan kekristenan, dan menunjukkan bahwa para pimpinan Gereja diberi kehormatan untuk memutuskan manakah yang merupakan ajaran yang benar. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja Katolik adalah keberlanjutan dari orang-orang tetap setia pada kepemimpinan apostolik (rasuli) dan episkopal (Keuskupan) serta menolak ajaran-ajaran palsu.

Gereja Katolik yang Satu

“Allah telah berkenan menghimpun orang-orang yang beriman akan Kristus menjadi Umat Allah (lih 1Ptr 2:5-10)”, dan membuat mereka menjadi satu Tubuh (lih. 1Kor 12:12) dan (AA 18). “Pola dan prinsip terluhur misteri kesatuan Gereja ialah kesatuan Allah yang tunggal dalam tiga pribadi, Bapa, Putra dan Roh Kudus” (UR 2).

Landasan Hukum Gereja yang Satu dapat kita lihat dalam Katekismus Gereja Katolik dibawah ini :

“Itulah satu-satunya Gereja Kristus, yang dalam syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik” (LG 8). Keempat sifat ini, yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lain, melukiskan ciri-ciri hakikat Gereja dan perutusannya. Gereja tidak memilikinya dari dirinya sendiri. Melalui Roh Kudus, Kristus menjadikan Gereja-Nya itu satu, kudus, katolik, dan apostolik. Ia memanggilnya supaya melaksanakan setiap sifat itu. (KGK 811)

Hanya iman dapat mengakui bahwa Gereja menerima sifat-sifat ini dari asal ilahinya. Namun akibat-akibatnya dalam sejarah merupakan tanda yang juga jelas mengesankan akal budi manusia. Seperti yang dikatakan Konsili Vatikan I, Gereja “oleh penyebarluasannya yang mengagumkan, oleh kekudusannya yang luar biasa, dan oleh kesuburannya yang tidak habis-habisnya dalam segala sesuatu yang baik, oleh kesatuan katoliknya dan oleh kestabilannya yang tak terkalahkan, adalah alasan yang kuat dan berkelanjutan sehingga pantas dipercaya dan satu kesaksian yang tidak dapat dibantah mengenai perutusan ilahinya” (DS 3013). (KGK 812)

Gereja itu satu menurut asalnya. “Pola dan prinsip terluhur misteri itu ialah kesatuan Allah tunggal dalam tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus” (UR 2 §5). Gereja itu satu menurut Pendiri-Nya. “Sebab Putra sendiri yang menjelma … telah mendamaikan semua orang dengan Allah, dan mengembalikan kesatuan semua orang dalam satu bangsa dan satu tubuh” (GS 78,3). Gereja itu satu menurut jiwanya. “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu, dan sedemikian erat menghimpun mereka sekalian dalam Kristus, sehingga menjadi prinsip kesatuan Gereja” (UR 2 §2). Dengan demikian, kesatuan termasuk dalam hakikat Gereja: “Sungguh keajaiban yang penuh rahasia! Satu adalah Bapa segala sesuatu, juga satu adalah Logos segala sesuatu, dan Roh Kudus adalah satu dan sama di mana-mana, dan juga ada hanya satu Bunda Perawan; aku mencintainya, dan menamakan dia Gereja” (St. Klemens dari Aleksandria, Pæd. 1,6,42:PG 8,300). (KGK 813)

Namun sejak awal, Gereja yang satu ini memiliki kemajemukan yang luar biasa. Di satu pihak kemajemukan itu disebabkan oleh perbedaan anugerah-anugerah Allah, di lain pihak oleh keanekaan orang yang menerimanya. Dalam kesatuan Umat Allah berhimpunlah perbedaan bangsa dan budaya. Di antara anggota-anggota Gereja ada keanekaragaman anugerah, tugas, syarat-syarat hidup dan cara hidup; “maka dalam persekutuan Gereja selayaknya pula terdapat Gereja-gereja khusus, yang memiliki tradisi mereka sendiri” (LG 13). Kekayaan yang luar biasa akan perbedaan tidak menghalang-halangi kesatuan Gereja, tetapi dosa dan akibat akibatnya membebani dan mengancam anugerah kesatuan ini secara terus-menerus. Oleh karena itu, Santo Paulus harus menyampaikan nasihatnya, “supaya memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (Ef 4:3). (KGK 814)

Manakah ikatan-ikatan kesatuan? Terutama cinta, “ikatan kesempurnaan” (Kol 3:14). Tetapi kesatuan Gereja peziarah juga diamankan oleh ikatan persekutuan yang tampak berikut ini:

  • pengakuan iman yang satu dan sama, yang diwariskan oleh para Rasul;
  • perayaan ibadat bersama, terutama Sakramen-sakramen;
  • suksesi apostolik, yang oleh Sakramen Tahbisan menegakkan kesepakatan sebagai saudara-saudari dalam keluarga Allah. (KGK 815)

 

“Itulah satu-satunya Gereja Kristus … Sesudah kebangkitan-Nya, Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan. Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para Rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing … Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam [subsistit in] Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya” (LG 8). Dekrit Konsili Vatikan II mengenai ekumene menyatakan: “Hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petrus-lah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh Kristus di dunia. Dalam Tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk Umat Allah” (UR 3). (KGK 816)

Gereja Katolik yang Kudus

Kekudusan Gereja dibicarakan dalam Konsili Vatikan II, konstitusi Lumen Gentium pada bab V. Kekudusan Gereja bukanlah suatu sifat yang seragam, yang sama bentuknya untuk semua, mealinkan semua mengambil bagian dalam satu kesucian Gereja, yang berasal dari Kristus, yang mengikutsertakan Gereja dalam gerakan-Nya kepada Bapa oleh Roh Kudus.

Pada taraf misteri ilahi Gereja sudah suci : “Di dunia ini gereja sudah ditandai oleh kesucian yang sesungguhnya, meskipun tidak sempurna” (LG 48). Ketidaksempurnaan ini menyangkut pelaksanaan insani, sama seperti kesatuannya. Dalam hal kesucian pun yang pokok bukanlah bentuk pelaksanaannya, melainkan sikap dasarnya.

“Suci” sebetulnya berarti yang dikhususkan bagi Tuhan. Jadi yang pertama-tama menyangkut seluruh bidang sakral atau keagamaan. Yang suci bukan hanya tempat, waktu, barang yang dikhususkan bagi Tuhan, atau orang. Malah sebenarnya harus dikatakan bahwa “yang kudus” adalah Tuhan sendiri. Semua yang lain, barang maupun orang, disebut “kudus” karena termasuk lingkup kehidupan Tuhan.

Kudus pertama-tama bukanlah termasuk kategori moral yang menyangkut kelakukan manusia, melainkan kategori teologis (ilahi), yang menentukan hubungan dengan Allah. Ini bukan berarti kelakuan moral tidak penting karena yang dikhususkan bagi Tuhan, harus “sempurna” (Im 1:3, Rm 6:19, 22).

“Gereja itu suci dan sekaligus harus dibersihkan, serta terus menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan “(LG 8). Kesucian Gereja adalah kesucian perjuangan, terus menerus.

Gereja yang Katolik

Di mana ada uskup, disitu ada jemaat, seperti di mana ada Kristus disitu ada Gereja Katolik (ungkapan St. Ignatius dari Anthiokia). Yang dimaksud ialah dalam perayaan Ekaristi, yang dipimpin oleh uskup, hadir bukanlah jemaat setempat tetapi seluruh Gereja. “Gereja katolik yang satu dan tunggal berada dalam gereja-gereja setempat dan terhimpun daripadanya (LG 23)”.

Gereja selalu “lengkap”, penuh. Tidak ada Gereja setengah-setengah atau sebagian. Gereja setempat, baik keuskupan maupun paroki bukanlah “cabang” Gereja Universal. Setiap Gereja setempat, bahkan setiap perkumpulan orang beriman yang sah, merupakan seluruh Gereja. Gereja tidak dapat dipotong-potong menjadi “Gereja-Gereja bagian”.

Kata “Katolik” selanjutnya juga dipakai untuk menyebut Gereja yang benar, Gereja universal yang dilawankan dengan sekte-sekte. Dengan demikian kata “katolik” mendapat arti yang lain: “gereja disebut Katolik, karena tersebar diseluruh muka bumi dan juga karena mengajarkan secara menyeluruh dan lengkap segala ajaran iman tertuju kepada sesama manusia, yang mau disembuhkan secara menyeluruh pula” (St. Sirilus dari Yerusalem).

Sejak itu kata “Katolik” tidak hanya mempunyai arti geografis, tersebar keseluruh dunia, tetapi juga “menyeluruh”, dalam arti “lengkap”, berkaitan dengan ajarannya, serta “terbuka” dalam arti tertuju kepada siapa saja. Pada abad ke-5 masih ditambahkan bahwa Gereja tidak hanya untuk segala bangsa, tetapi juga untuk segala Zaman.

Pada zaman reformasi kata “Katolik” muncul lagi untuk menunjuk pada Gereja yang tersebar di mana-mana, dibedakan dengan Gereja-gereja Protestan. Sejak itu pula kata “Katolik” secara khusus dimaksudkan umat kristen yang mengakui Paus sebagai pemimpin Gereja Universal, tetapi dalam syahadat kata “Katolik” masih mempunyai arti asli “universal” atau “umum”. Ternyata universal pun mempunyai dua arti, yang kuantitatif dan kualitatif.

Dalam Konsili Vatikan II tidak lagi memusatkan Gereja sebagai kelompok manusia yang terbatas, melainkan kepada Gereja sebagai sakramen Roh Kristus. “Kekatolikan” Gereja berarti bahwa pengaruh dan daya pengudus Roh tidak terbatas pada para anggota Gereja saja, melainkan juga terarah kepada seluruh dunia. Dengan sifat “katolik”, diharapkan Gereja mampu mengatasi keterbatasannya sendiri karena Roh yang berkarya di dalamnya. Oleh karena itu yang “katolik” bukanlah hanya Gereja universal, melainkan juga setiap anggotanya, sebab di dalam jemaat hadirlah seluruh Gereja.

Gereja Kristus itu sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang sah, yang mematuhi para gembala mereka, dan dalam Perjanjian Baru disebut Gereja (Lih. Kis 8:1; 14:22-23; 20:17). Gereja-Gereja itu ditempatnya masing-masing merupakan umat baru yang dipanggil oleh Allah, dalam Roh Kudus dan dengan sepenuh-penuhnya (lih 1Tes 1:5). Dalam jemaat-jemaat itu, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik (Lih. St. Agustinus, melawan Faustus, 12, 20: PL 42, 265; Khotbah 57,7: PL 38, 389) (LG 26).

Gereja Katolik yang Apostolik

“Apostolik” atau rasuli berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu. Kesadaran bahwa Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”, sudah ada sejak zaman Gereja perdana sendiri (bdk Ef 2:20, Bdk Why 21:14), tetapi sebagai sifat khusus keapostolikan baru disebut akhir abad ke-4. Dalam perjanjian Baru kata “rasul” tidak hanya dipakai untuk kedua belas rasul yang namanya disebut dalam Injil (lih Mat 10:1-4).

Hubungan historis itu tidak boleh dilihat sebagai macam “estafet”, yang didalamnya ajaran benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. Yang disebut “Apostolik” bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengaku diri sama dengan gereja Perdana, yakni Gereja para rasul. Hubungan historis ini jangan dilihat sebagai pergantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan pengakuan.

Sifat apostolik tidak berarti bahwa Gereja hanya mengulang-ulangi apa yang sejak dulu kala sudah diajarkan dan dilakukan di dalam gereja, keapostolikan berarti bahwa dalam perkembangan hidup, tergerak Roh Kudus, Gereja senantiasa berpegang pada Gereja para rasul sebagai norma imannya. Bukan mengulangi, tetapi merumuskan dan mengungkapkan kembali apa yang menjadi inti hidup iman. Seluruh Gereja bersifat apostolik, maka seluruh Gereja dan setiap anggotanya, perlu mengetahui apa yang menjadi dasar hidupnya.

Sifat Apostolik (yang betul-betul dihayati secara nyata) harus mencegah Gereja dari segala rutinisme yang bersifat ikut-ikutan. Keapostolikan berarti bahwa seluruh Gereja dan setiap anggotanya tidak hanya bertanggungjawab atas ajaran gereja, tetapi juga atas pelayanannya. Sifat keapostolikan Gereja tidak pernah “selesai”, tetapi selalu merupakan tuntutan dan tantangan. Gereja, yang oleh Kristus dikehendaki satu, kudus, Katolik, apostolik, senantiasa harus mengembangkan dan menemukan kembali kesatuan, kekatolikan, keapostolikan, dan terutama kekudusannya. Sifat-sifat Gereja diimani, berarti harus dihayati, oleh Gereja seluruhnya dan oleh masing-masing anggotanya.

Disadur dari:

http://www.imankatolik.or.id/

Advertisements

Read Full Post »

Beata Imelda Lambertini

beata-imelda-domenicana

Imelda Lambertini dilahirkan di Bologna, Italia pada tahun 1322, sebagai putri pasangan Pangeran Egano Lambertini dan Castora Galuzzi. Sanak keluarganya terkenal religius, di antara mereka terdapat seorang pengkhotbah Dominikan, seorang moeder pendiri Fransiskan, dan seorang bibi yang mendirikan sebuah biara dengan peraturan yang ketat di Bologna.

Imelda adalah seorang gadis kecil yang lemah lembut, dikasihi dan disayangi seluruh keluarga. Lingkungan keluarganya religius, tak mengherankan bahwa ia tumbuh menjadi seorang gadis yang saleh. Imelda kecil suka sekali berdoa; kerap kali diam-diam ia menghilang ke suatu sudut rumah yang tenang, yang dihiasinya dengan bunga-bungaan dan gambar-gambar kudus menjadi sebuah pojok doa kecil baginya. Ia belajar membaca Mazmur dan sejak muda benar setia ikut ambil bagian dalam Misa dan Ibadat Sore di gereja Dominikan. Ibunya mengajarinya menjahit dan memasak bagi orang-orang miskin, juga mengajaknya ikut serta membantu dalam kegiatan amal kasih.

Ketika Imelda berusia sembilan tahun, ia minta agar diperkenankan masuk Biara Dominikan di Valdi-Pietra di Bologna. Ia adalah anak satu-satunya dari pasangan yang sudah cukup lanjut usianya untuk berharap dapat memperoleh anak lagi; sungguh pilu membiarkannya pergi. Meski demikian mereka mengantarkannya juga ke biara dan mempersembahkannya kepada Tuhan dengan sukarela, walau hati remuk-redam.

Status Imelda dalam biara tidak cukup jelas. Ia mengenakan jubah, ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan biara sepanjang diijinkan. Ia belajar Offisi dari mendengarkan madah-madah yang dilantunkan para biarawati dan merenungkannya sedapat yang ia mampu. Disposisi batin biarawati kecil ini segera saja membuatnya disayangi, sementara semangat berkobar-kobar yang menghantarnya masuk ke dalam biara sungguh membawa dampak positif bagi para biarawati lainnya. Devosi istimewa Imelda adalah kehadiran Ekaristis Tuhan kita dalam perayaan Misa Kudus dan dalam tabernakel. Menyambut Tuhan kita dalam Komuni Kudus adalah kerinduan hatinya yang terdalam; sayang, pada masa itu, untuk menyambut Komuni Pertama seorang anak harus berusia sekurang-kurangnya duabelas tahun. Sekali waktu, apabila tak tahan menahan kerinduan hatinya, Imelda akan berseru, “Katakanlah padaku, dapatkah seorang menyambut Yesus masuk ke dalam hatinya dan tidak mati?”

Sungguh, suatu hidup yang sepi bagi seorang gadis kecil berusia sembilan tahun, dan seperti kebanyakan anak lainnya yang kesepian, ia membayangkan teman bermain bagi dirinya – tetapi dengan satu perbedaan ini – teman-teman bermainnya adalah para kudus! Ia teristimewa sangat sayang kepada St. Agnes, martir, yang berusia sedikit lebih tua dari dirinya. Seringkali ia membaca tentang St. Agnes dari buku-buku besar bergambar di perpustakaan, dan suatu hari, St. Agnes datang menampakkan diri kepadanya! Imelda sungguh bersukacita. Ia tidak dilibatkan dalam devosi-devosi orang dewasa, tetapi kini ia mempunyai sahabat sebaya yang dapat memberitahukan kepadanya segala hal yang paling ingin diketahuinya. Sesudah kunjungan ini, St. Agnes kerap datang menemuinya, dan mereka berdua bercakap akrab mengenai hal-hal surgawi.

Natal pertamanya di biara hanya membawa kepedihan dalam hati Imelda. Ia memendam harapan bahwa para biarawati akan berbelaskasihan dan mengijinkannya menyambut Komuni Suci. Namun, pada hari agung itu, ketika semua orang maju menyambut Yesus dalam Ekaristi Kudus, Imelda harus tinggal di tempatnya, memandang dengan berlinang air mata kepada Bayi Kudus dalam palungan. Imelda mulai berdoa bahkan dengan lebih khusyuk lagi agar ia diperkenankan menyambut Komuni Suci.

12 Mei 1333. Musim semi telah tiba di Bologna, dan dunia sedang bersiap merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Para biarawati sibuk mempersiapkan keperluan Misa; tak seorang pun dari antara mereka menaruh perhatian khusus pada gadis kecil yang tengah berlutut larut dalam doa. Walau ia telah memohon agar diperkenankan tinggal di kapel pada malam hari raya, permohonannya tak diindahkan; dan ia pun taat. Mereka tidak tahu betapa gigih ia mengetuk pintu gerbang surga, sembari mengulang-ulang bagi dirinya sendiri demi menguatkan keyakinannya, ayat ini, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Maka, pintu sungguh dibuka bagi Imelda pada pagi Hari Raya Kenaikan Tuhan. Ia telah memohon sekali lagi dengan sangat agar diberikan kepadanya hak istimewa untuk menyambut Komuni Suci, dan karena ia bersikeras, terpaksalah imam dipanggil. Imam menolak mentah-mentah; Imelda harus menunggu hingga cukup usianya. Imelda pergi ke tempatnya di kapel, dan dengan diam membisu memandang sementara para biarawati pergi menyambut Komuni.

Seusai Misa, hanya Imelda seorang yang tetap tinggal di tempatnya di bagian paduan suara. Suster yang bertugas di sakristi memadamkan lilin-lilin dan membenahi pakaian-pakaian Misa. Sekonyong-konyong suatu suara membuatnya membalikkan badan dan menengok ke bagian paduan suara; terlihatlah olehnya seberkas cahaya yang bersinar cemerlang di atas kepala Imelda dan sebuah Hosti melayang-layang dalam cahaya itu. Suster bergegas memanggil imam yang segera datang dengan patena di tangan guna menerima-Nya.

Imam tak punya pilihan lain; Tuhan Sendiri telah menyatakan bahwa Ia menghendaki untuk bersatu dengan Imelda. Maka, dengan penuh hormat imam mengambil Hosti dan memberikannya kepada gadis kecil yang sedang mengalami ekstasi itu, yang berlutut bagaikan sebuah patung yang bercahaya, tak sadar akan kehadiran para biarawati yang datang berkerumun di kapel, ataupun orang-orang awam yang berdesakan di balik terali-terali kapel untuk melihat apa yang terjadi.

Selang beberapa waktu setelah mengucap syukur, priorin datang memanggil gadis kecil itu untuk sarapan. Didapatinya Imelda masih berlutut; suatu senyum bahagia tersungging di bibirnya, tetapi ia telah wafat, dalam luapan kasih dan sukacita.

Sepanjang hidupnya Imelda begitu rindu menyambut Yesus dalam Komuni Kudus; dan sungguh, Tuhan tidak pernah mengecewakan. Tuhan telah merancang suatu rencana yang indah, yang tak terbayangkan oleh siapa pun, bagi mempelai kecil-Nya – membawa Imelda bersama-Nya ke dalam Kerajaan-Nya, sehingga mereka tidak akan pernah berpisah lagi untuk selamanya!

Imelda Lambertini dinyatakan sebagai beata pada tahun 1826 dan dimaklumkan sebagai pelindung para penerima Komuni Pertama oleh St. Paus Pius X. Jenazah Imelda yang tak rusak hingga sekarang disemayamkan di Gereja St. Sigismund di Bologna. Pesta B. Imelda Lambertini dirayakan pada tanggal 13 Mei.

Disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya

Read Full Post »

Oleh: Beata Elisabeth dari Tritunggal Mahakudus

21 November 1904

 

O Allah-ku, Tritunggal Mahakudus yang aku sembah; bantulah aku melupakan diriku sehabis-habisnya agar aku tinggal di dalam Engkau, dalam tenang dan damai, seolah-olah jiwaku telah berada dalam keabadian. Semoga tak suatu pun mengganggu damai sejahteraku ataupun membujukku meninggalkan Engkau. O Allahku yang Tak Pernah Berubah, kiranya setiap menit membawaku semakin jauh masuk ke kedalaman misteri-Mu. Berilah damai bagi jiwaku; jadikan jiwaku surga-Mu, tempat tinggal kesukaan-Mu, tempat peristirahatan-Mu. Semoga tak pernah aku meninggalkan Engkau sendiri di sana, melainkan sepenuhnya hadir di hadirat-Mu, sepenuhnya sadar dalam iman, sepenuhnya sujud menyembah, dan sepenuhnya berserah diri pada Kehendak Ilahi-Mu.

O Kristus terkasih, yang disalibkan demi cinta, aku rindu menjadi mempelai Hati-Mu; aku rindu menyelubungi-Mu dengan kemuliaan; aku rindu mencintai-Mu…, bahkan hingga mati! Namun demikian, sadar akan kelemahan-kelemahanku, aku mohon pada-Mu, “naungi aku dengan Diri-Mu Sendiri,” persatukan jiwaku dengan segala gerak Jiwa-Mu, curahilah aku, milikilah aku, gantilah diriku dengan Diri-Mu Sendiri, hingga seluruh hidupku tak lain adalah pancaran Hidup-Mu. Mari, datanglah kepadaku sebagai Pujaan-ku, sebagai Penebu-sku, sebagai Juruselamat-ku.

O Sabda yang Kekal, Sabda Allahku, aku rindu menghabiskan seluruh hidupku mendengarkan Engkau, belajar sehabis-habisnya dari-Mu. Lalu, melewatkan malam-malam gelap, melewatkan kekosongan jiwa dan segala ketakberdayaanku, aku hendak memandang Engkau senantiasa dan tinggal dalam terang-Mu yang mengagumkan. O Bintang-ku terkasih, Engkau begitu memikatku, tak dapat aku menarik diri dari cemerlang-Mu.

O Api yang membakar, Roh Cinta Kasih, “turunlah atasku,” ciptakan dalam jiwaku serupa inkarnasi sang Sabda: agar aku boleh menjadi rupa manusiawi-Nya yang lain di mana Ia dapat memperbaharui seluruh Misteri-Nya.

Dan Engkau, O Bapa, membungkuklah dengan mesra ke atas ciptaan kecil-Mu yang malang; “naungilah ia dengan bayang-bayang-Mu,” pandanglah ia hanya sebagai “Yang Terkasih, yang kepadanya Engkau berkenan.”

O Trinitas, Engkau segala-galanya bagiku, Kebahagiaan-ku, Keheningan tak terbatas, yang Mahabesar di mana aku lenyap di dalamnya, aku menyerahkan diri pada-Mu sebagai kurban-Mu. Benamkan Diri-Mu dalam aku agar aku boleh membenamkan diriku dalam Engkau, hingga aku lenyap dalam kontemplasi, dalam terang-Mu merenungkan jurang-jurang kebesaran-Mu.

Disadur dari: http://yesaya.indocell.net/id640.htm

Read Full Post »

Ketaatan: Kesempatan Beroleh Peninggian

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup (Edisi 15 Maret 2014)

 

children-jesus-170

Bacaan: Ibrani 4:14-16; 5:1-10

“Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.” (Ibrani 5:6)

Tuhan mendesain manusia dengan kehendak bebas (free will) agar manusia dapat belajar memahami akibat dari pilihan-pilihan hidup yang diambil. Tuhan sangat meninginkan manusia ciptaan-Nya membuat keputusan yang benar dalam hidupnya yaitu mengasihi Tuhan dengan sungguh dan menaati perintah-perintah-Nya, dan Tuhan tidak akan pernah berdiam diri melihat orang-orang yang hidup dalam ketaatan: Ia selalu menyediakan upah.

Hidup dalam ketaatan inilah kehendak Tuhan bagi manusia, sedangkan ketaatan itu sendiri untuk kebaikan dan mendatangkan manfaat bagi manusia. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Ia sendiri telah meninggalkan teladan ketaatan kepada kita. “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,” (Ibrani 5:8). Ketaatan yang ditunjukkan Yesus adalah ketaatan untuk mengalami penderitaan. Bagi kita, untuk taat saja terasa sulit apalagi taat yang menimbulkan penderitaan.

Tuhan Yesus harus mengalami penderitaan selama Ia hidup di dunia. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8). Ketaatan Yesus dalam menghadapi penderitaan membawa-Nya kepada kesempurnaan. “dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.” (Ibrani 5:9-10). Ketaatan-Nya dalam menyelesaikan dan menggenapi misi-Nya menjadikan Yesus sebagai pokok keselamatan kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:9-11).

Saat kita hidup dalam ketaatan itulah Tuhan berkata, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:14). Ketaatan menjadikan kita sebagai sahabat Tuhan.

Ketaatan menghasilkan promosi dari Tuhan!

Read Full Post »

burn-degrees

 

Terapi Umum

  • Vaksin Pseudomonas polivalen
    • Bila kemungkinan terjadi sepsis
  • Vaksin Tetanus
    • Aktif (jarak injeksi I dan II: 2-4 minggu, III: 6-12 bulan)
    • Pasif (serum antitetanus toxin)
      • Berasal dari serum kuda: 1500-3000 IU/ml
      • Berasal dari serum manusia: 250-500 IU/ml

 

Debridement

  • Debridement melalui pembedahan -> penting, khususnya pada luka bakar sedang sampai berat
  • Menggunakan anestesi umum
  • Menyingkirkan jaringan tak sehat (terkontaminasi bakteri, benda asing, sel-sel mati, maupun krusta)
  • Mendorong penyembuhan

 

Obat Topikal

  • Silver sulfadiazine (AgSO) 1% krim -> Dermazine
    • Bakterisidal Gram (+) dan Gram (-)
    • Dapat terjadi pseudoeschar
    • Alternatif: basitrasin, polisporin, atau bactroban
    • Perak -> kemungkinan toksik terhadap ginjal
  • Daryant-Tulle (framisetin sulfat)
  • Mafenide
    • Lebih efektif
    • Untuk luka bakar daerah telinga
    • Juga sebagai alternatif bila tak membaik dengan AgSO
  • MEBO (Moist Exposed Burn Ointment)
    • Pengobatan: analgesik, antiinflamasi, antiinfeksi
    • Nutrisi: regenerasi dan perbaikan kulit
    • Biarkan luka terbuka
    • Kelembaban optimal
    • Pemberian salep harus teratur dan terus menerus, tiap 6-12 jam dibersihkan dengan kasa steril
    • Jangan sampai menimbulkan kesakitan / berdarah, maserasi / kering

 

Stress Ulcer

  • Ranitidine IV

 

Pembalutan

  • Pembalutan diganti setiap 1-2 kali sehari
  • Pada luka yang terinfeksi atau dengan eksudat berlebih -> 2 kali
  • Bersihkan setiap 1-2 hari dengan cairan antiseptik
  • Jaringan nekrotik dibuang
  • Sering diperlukan analgetik: Tramadol

 

Skin Grafting

  • Transplantasi kulit: mempercepat penyembuhan dan mengurangi kehilangan cairan/energi
  • Bila keadaan umum kritis dan terdapat bahaya syok
  • Autograft (sering digunakan) atau allograft (homograft, heterograft)
  • Teknik Skin Grafting
    • Split thickness
      • Thin (0,008-0,012 mm), intermediate (0,012-0,018 mm), thick (0,018-0,030 mm)
      • Epidermis dan sebagian dermis
      • Kemungkinan ambilan lebih besar, dapat sembuh sendiri, tetapi cenderung berubah warna
    • Full thickness
      • Meliputi epidermis dan seluruh ketebalan dermis
      • Secara estetik dan pemulihan lebih baik, tetapi ambilan terbatas

 

Nutrisi

  • Kebutuhan kalori (Harris-Benedict): 
    • EER (kkal/hari) = BMR x activity factor x injury factor
      • BMR
        • Laki-laki: 66+ (13,7 x BB dalam kg) + (5 x TB dalam cm) – (6,8 x usia)
        • Perempuan: 665 + (9,6 x BB dalam kg) + (1,8 x TB dalam cm) – (4,7 x usia)
      • Activity factor
        • Istirahat di tempat tidur: 1,2
        • Aktivitas minimal: 1,3
      • Injury factor:
        • < 20% TBSA: 1,5
        • 20-40% TBSA: 1,6
        • > 40% TBSA: 1,7
  • Karbohidrat parenteral: 5-7 mg/kgBB
  • Protein: 3 g/kgBB/24 jam
  • Vitamin C (2g/hari), B1 (50 g/hari), B2 (50 mg/hari)
  • Mulai pemberian kalori sedikit demi sedikit, lalu tingkatkan secara bertahap

 

 

Sumber:

http://www.med.nyu.edu/content?ChunkIID=14803

http://emedicine.medscape.com/article/1278244-overview

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3401/1/08E00894.pdf

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2013/11/Pustaka_Unpad_Dukungan_Nutrisi_-pada_-luka_-bakar.pdf.pdf

http://burn-recovery.org

 

Read Full Post »