Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2014

Pembuluh Darah Mammae

Mammae mendapat darah dari:

  • Cabang a. thoracica lateralis yang memberi darah untuk bagian lateral mammae
  • Cabang a. thoracica interna untuk sebagian kecil bagian medial mammae
  • Cabang-cabang a. intercostalis posterior dan dari truncus thoracoacromialis
  • Darah vena dialirkan menuju vena axillaris, vena thoracica interna, vena thoracica lateralis, dan vena intercostalis

Terdapat variasi pada suplai darah mammae pada wanita. Pada 18% individu, mammae diperdarahi oleh a. thoracica interna, a. axillaris, dan a. intercostalis. Pada 30% individu, tidak ada suplai berarti dari a. axillaris. Pada 50% individu, a. intercostalis hanya berkontribusi sedikit.

mammary-blood

Keterangan gambar:

  • Internal mammary artery: nama lain dari a. thoracica interna
  • A. thoracalis lateralis: merupakan cabang dari a. axillaris, pada gambar tidak diberi keterangan
  • Pembuluh darah paling lateral: arteri dan vena subscapular, yang lebih medial: arteri dan vena thoracalis lateralis

Aliran Limfatik Mammae

  • Aliran limfe dimulai dari papilla mammae dan menuju areola mammae
  • Sebagian besar getah bening melalui pembuluh-pembuluh interlobularis menuju plexus subareolaris 
  • Lateroinferior (75%): melalui vasa thoracoacromialis & vasa thoracica lateralis menuju nodi axillares
  • Medial: vasa intercostalis menuju nodi parasternales (terletak di sepanjang a. thoracica interna)
  • Sebagian kecil dari superior: nodi supraclavicularis
  • Superfisial: menyeberang garis tengah menuju mamma kontralateral atau menuju dinding depan abdomen

 

lymphatic-drainage_mammae

Faktor Risiko Karsinoma Mammae

Pengaruh estrogen terhadap jaringan payudara dapat berupa: (1) stimulasi pembelahan sel, (2) peran pada pertumbuhan dan perkembangan payudara, (3) efek terhadap hormon lain yang menstimulasi pembelahan sel kelenjar payudara, dan (4) mendukung pertumbuhan tumor yang responsif terhadap estrogen.

Faktor habituasi dan pola makan — misal yang berlemak — dapat berpengaruh secara langsung dengan meningkatkan level estrogen dalam sirkulasi darah. Efek indirek dengan menyebabkan obesitas. Kanker yang terjadi setelah masa menopause terpengaruh oleh hormon estrogen yang terbentuk dari jaringan lemak tubuh karena ovarium tak lagi menghasilkan hormon tersebut. Fitoestrogen yang didapatkan dari makanan nabati seperti kacang kedelai, gandum utuh, sayur, dan buah-buahan bersifat protektif terhadap kanker. Fitoestrogen tidak disimpan di dalam tubuh, melainkan cepat dinonaktifkan dan diekskresikan melalui urin. Fitoestrogen merupakan estrogen lemah yang mencegah estrogen manusia (yang berdalamefek lebih kuat) untuk berikatan dengan reseptornya. Fitoestrogen merupakan estrogen yang lemah karena mengakibatkan pembelahan sel yang lebih sedikit.

Berat badan juga berpengaruh dalam pembentukan keganasan. Setelah menopause, sumber estrogen didapatkan dari lemak tubuh. Pada orang dengan obesitas, proporsi lemak tubuh cenderung tinggi. Salah satu gaya hidup yang penting untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan olahraga atau aktivitas fisik. Olahraga akan berefek secara langsung dengan menurunkan kadar estrogen dalam darah. Selain juga membantu menurunkan berat badan. Gaya hidup lain yang perlu diperhatikan adalah alkoholisme. Alkohol akan meningkatkan kadar estrogen dalam sirkulasi.

Pil KB juga berpengaruh dalam perjalanan penyakit kanker. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa penggunaan pil KB akan meningkatkan insidensi keganasan pada sel kelenjar payudara. Hal ini dimungkinkan karena adanya kandungan hormon estrogen dalam pil tersebut. Akan tetapi, penelitian lain mengemukakan bahwa kanker payudara pada pengguna pil KB kurang parah bila dibandingkan dengan pasien yang tidak menggunakan pil KB.

Bahan kimia juga berpengaruh dalam proses keganasan. Bahan kimia tersebut antara lain; pestisida, pengawet BHT dan BHA, residu detergen industrial berupa nonyl-octaphenol, zat-zat dalam pengolahan plastik, pewarna makanan, dan formaldehida yang sering digunakan dalam pembuatan karpet.

Estrogen yang paling kuat dalam tubuh manusia adalah 17-beta estradiol. Namun demikian jenis ini bisa berubah menjadi bentuk yang lebih poten, yaitu 16a-OHE. Estrogen berperan sebagai messenger dan proses gembok-anak kunci. Apabila estrogen dan reseptornya bergabung, maka unit estrogen dan reseptornya ini akan dapat berikatan dengan tempat regulasi spesifik pada DNA sel. Hal ini akan mengaktifkan fungsi gen yang responsif terhadap estrogen. Gen yang aktif akan menjalankan proses trankripsi, translasi, dan pembentukan protein yang menjadi suatu sinyal bagi sel untuk membelah. Estrogen juga akan mendukung pembuatan reseptor untuk hormon lain seperti progresteron. Dalam hal ini progresteron bersifat sama, yaitu mencetuskan pembelahan sel. Progesteron cenderung mempengaruhi perkembangan lobulus-lobulus kelenjar payudara. Estrogen cenderung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jaringan stromal (jaringan ikat), pertumbuhan sistem duktus yang luas, serta deposit lemak.

Sebelum kehamilan, sel-sel kelenjar payudara bersifat imatur dan sangat aktif membelah. Sel yang imatur ini memiliki respons yang lebih tinggi terhadap estrogen bila dibandingkan dengan sel matur. Pada saat kehamilan, sel kelenjar payudara akan mengalami maturasi. Kehamilan pertama di usia lebih dari 30 tahun bisa menjadi faktor risiko karena selama itu siklus menstruasi terus berjalan. Kadar hormon estrogen terus tinggi dan sel kelenjar payudara tak kunjung mengalami maturasi.

Pada ibu yang menyusui lebih dari 1 tahun, faktor risiko terkena kanker payudara akan berkurang. Penghasilan ASI dikatakan dapat membatasi kemampuan sel untuk mengalami penyimpangan fungsional. Dengan menyusui, jumlah siklus menstruasi yang dialami wanita akan berkurang. Dengan demikian, level estrogen dalam sirkulasi juga akan berkurang. Hormon prolaktin yang dihasilkan saat masa laktasi akan memberikan umpan balik negatif menuju hipotalamus sehingga terjadi pengurangan sekresi hormon GnRH (Gonadotropin-releasing hormone).  Melalui mekanisme ini, maka produksi LH dan FSH oleh hipofisis anterior akan terhambat. Produksi estrogen oleh ovarium juga akan menurun.

Usia juga merupakan faktor risiko. Semakin lama seseorang hidup, maka semakin besar kesempatan untuk terjadinya mutasi dalam tubuh. Padahal dengan usia yang semakin menua, tubuh kita menjadi kurang cakap dalam memperbaiki kerusakan gen yang terjadi.

Sumber:

Wibowo D.S. & Paryana W. 2009. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta: Graha Ilmu Publishing.

April E.W. 1997. Clinical Anatomy 3rd Edition. London and Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38965/4/Chapter%20ll.pdf

http://www.vashishtsurgicalservices.co.uk/images/blood.jpg

http://www.breastcancer.org/risk/factors

http://envirocancer.cornell.edu/factsheet/general/fs10.estrogen.cfm

http://library.med.utah.edu/kw/human_reprod/lectures/prolactin/

Advertisements

Read Full Post »

Doa kepada Bunda Penolong Abadi

penolong-abadi

Bunda Penolong Abadi, perkenankanlah aku senantiasa menyebut namamu penuh kuasa, nama pelindung bagi yang hidup, keselamatan bagi yang meninggal. Maria yang termurni dan termanis, biarkanlah namamu selalu di bibirku. Jangan menunda, Perawan Terpuji, bila aku memanggilmu sebab dalam segala godaanku dan segala kebutuhanku, aku senantiasa mengulang namamu yang suci;

MARIA, MARIA

Jiwaku teresapi oleh hiburan, kemanisan, kepercayaan dan rasa perasaan yang agung, bila aku mengucapkan namamu yang suci, bahkan juga bila hanya memikirkan dikau. Aku bersyukur kepada Allah yang memberi dikau nama begitu baik, manis, kuasa, dan indah. Tetapi aku tak akan puas hanya mengucapkan namamu saja, biarlah kasihku padamu mendorongku selalu untuk menyalamimu:

BUNDA PENOLONG ABADI!

Untaian Doa, Bunda Penolong Abadi

Novena Bunda Penolong Abadi

Buatlah tanda salib dengan medali.

Pada manik tunggal, doakan:

“O, Bunda Penolong Abadi, aku datang untuk berdoa dan memohon bantuanmu untuk keperluanku saat ini. Bantulah aku, agar aku dapat menolong diri sendiri dan orang lain.” (Sebutkan permohonan)

Pada 50 manik-manik, doakan:

“Bunda Allah, hiburlah dan bantulah kami.”

Doa Penutup:

“Terima kasih, O Bunda Penolong Abadi, atas semua perhatian dan pemeliharaanmu pada waktu aku memerlukannya. Aku percaya bahwa dengan bantuanmu, doa-doaku didengarkan oleh Allah. Bunda Penolong Abadi, teruslah membantu kami demi Kristus, juruselamatku. Amin.”

Novena Bunda Penolong Abadi

Bunda Penolong Abadi, dengan penuh kepercayaan dan harapan, kami berlutut di hadapanmu. Belum pernah ada orang yang sia-sia mencari perlindunganmu. Semasa hidupmu sebagai ibu, engkau seringkali memberi pertolongan kepada Yesus Putramu. Dengan penuh kasih sayang, engkau melindungi dan membimbing-Nya selama masa muda-Nya.

Selama hidup-Nya di muka umum, engkau menghibur-Nya dan memberi dorongan kepada-Nya. Pada saat Dia menderita, engkau mendampingi dan menguatkan-Nya. Demikian juga, jadilah bagi kami seorang ibu yang selalu menolong kami. Bunda Maria, kami ini juga anakmu. Di kayu salib, Putra Ilahimu telah memberikan dikau sebagai ibu kami dan engkau telah menerima kami sebagai anakmu. Kami tahu engkau memberi anak-anakmu, khususnya mereka yang menghormatimu sebagai Bunda Penolong Abadi, rahmat dan berkat yang tak terhitung banyaknya untuk jiwa raga mereka. Dengan penuh syukur, kami ucapkan terima kasih atas segala perlindungan bagi kami dan bagi mereka semua.

Bunda Penolong Abadi, jangan biarkan kami pergi sekarang tanpa hiburanmu. Kami selalu memerlukan bantuanmu, teristimewa dalam kesulitan yang sekarang ini kami alami … . Bunda Maria, pandanglah kami dengan penuh kebaikan dan kasih sayang. Jadilah perantara kepada Putra Ilahimu, untuk memperoleh anugerah-anugerah … , yang kami mohon dengan sangat dalam doa ini. Kami berjanji akan berterima kasih kepadamu selama hidup kami, sampai kami datang bersyukur kepadamu di surga. Ibu yang kuasa, baik bagi kami, engkau dapat menolong kami, engkau pasti berkenan menolong kami, engkau bersedia menolong kami. O Ibu, Penolong Abadi yang setia, terimalah doa kami. Amin.

Disadur dari:

Doa adalah Sumber Kekuatan

Read Full Post »

Dasar-Dasar Onkogenesis

Kanker: penyakit yang disebabkan gangguan pada proses pertumbuhan, diferensiasi, dan apoptosis sel normal.

Karakteristik

  • Diferensiasi dan anaplasia (kehilangan diferensiasi)
  • Kecepatan pertumbuhan
    • Mitosis normal/bipolar dan atipik/multipolar
  • Bentuk pertumbuhan dan penyebaran
    • Tumor jinak: enkapsulasi (membran fibrosa), ekspansif (mendesak jaringan sekitarnya), mudah digerakkan (tidak terikat dengan jaringan sekitar)
    • Tumor ganas: infiltrasi (tumbuh bercabang-cabang), invasi (menyerang jaringan normal), destruksi

Perubahan Sel pada Neoplasma

  • Transformasi (perubahan fenotipik)
  • Hilangnya respons terhadap kontrol pertumbuhan
  • Perubahan morfologik: inti besar, pleomorfik, hiperkromasi
  • Mudah ditransplantasikan
  • Kurang sensitif terhadap kontak inhibisi
  • Perubahan pada membran (sel mudah lepas dari sel lain)
  • Perubahan pada antigen
  • Perubahan biokimiawi: peningkatan asam laktat karena pertumbuhan yang cepat
  • Perubahan pada kromosom

Faktor-Faktor Onkogenesis

  • Proto-onkogen (PDGF, KRAS–peran pada transduksi sinyal, pada tumor otak, MDM2–antagonis p53, Bcl2–antiapoptosis)
    • Mengkode protein
    • Mengatur proliferasi sel
    • Tiga mekanisme aktivasi onkogen yang utama:
      • Mutasi
      • Amplifikasi gen
      • Penyusunan ulang kromosom: translokasi, penyisipan promoter
  • Tumor-suppressor genes (NF-1 — neurofibroma, RB–peran pada retinoblastoma, BRCA1–peran pada karsinoma mammae, TP53–kode untuk protein p53)
    • Mengatur siklus sel
  • Enzim-enzim perbaikan DNA (tirosin kinase, telomerase, topoisomerase, polimerase)
    • Mutasi akan menyebabkan instabilitas genetik

 

 Cancer_utveckling

fig3-cancer

Imunologi Tumor

  • Imunosurveilans: mekanisme yang digunakan oleh tubuh untuk bereaksi melawan setiap antigen yang diekspresikan oleh neoplasma.
  • Fungsi: mengenal dan mendegradasi antigen asing (nonself) yang timbul dalam tubuh.
  • Tumor specific antigen: diekspresikan oleh sel tumor tetapi tak diekspresikan oleh sel normal
    • Antigen tumor yang diproduksi karena mutasi pada: protein Ras, Bcr-Abl, p53
    • Tumor antigen yang berasal dari virus onkogen: EBV, HPV
  • Tumor associated antigen: diekspresikan sel tumor dan sel normal
    • Protein yang diekspresikan secara abnormal: tirosinase (sel melanosit, melanoma),  MAGE (sel gamet, trofoblas, dan berbagai tumor ganas)
    • Antigen onkofetal: CEA, AFP
    • Antigen glikoprotein: CA-125, CA-19-9– diekspresikan pada karsinoma ovarium, MUC1 — normal hanya ditemukan pada epitel duktus mammae
    • Tissue-specific differentiation antigens (molekul yang secara normal ditemukan pada sel punca): CD10, CD20–pada sel B

Sel Imun yang Berperan

  • Limfosit T
    • Th: meningkatkan ekspresi MHCI melalui produksi IFN-γ dan  TNF-α
    • Tc: melalui MHCI — perforin
  • Sel NK: ikatan reseptor KAR dan ligannya — mekanisme sitotoksisitas yang dimediasi perforin, NK2GD — reseptor aktivasi primer
  • Makrofag: lisis sel, kerjasama dengan limfosit T

 nk-cells1

Sumber:

http://eprints.undip.ac.id/28987/1/Agus_Ujianto_Tesis.pdf

http://science.education.nih.gov/supplements/nih1/cancer/guide/understanding2.htm

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11497234

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23528559

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14749125

http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/webcontent/002550-pdf.pdf

Murray R.K. 2003. Cancer, Oncogenes, and Growth Factors dalam Murray R.K. dkk. Harpers Biochemistry 25th ed.

Read Full Post »

Santo Rafael adalah salah satu dari tiga malaikat agung, yaitu para malaikat istimewa yang melayani tahta Allah. Dua malaikat agung lainnya yaitu Santo Mikael, sang panglima bala tentara  surgawi dan Santo Gabriel, sang pembawa kabar sukacita inkarnasi. Nama Rafael berasal dari bahasa Ibrani “rapha” (menyembuhkan) dan “El” (Allah). Maka nama Rafael bisa berarti ‘Allah menyembuhkan’, ‘Penyembuhan Allah’, atau ‘Penyembuh Ilahi’.

Dalam tradisi iman Katolik, Santo Rafael merupakan malaikat penyembuh dan malaikat pelindung, serta penuntun perjalanan. Ia juga dipercaya sebagai penolong bagi orang-orang yang mencari pasangan hidup dan penolong dari kekuatan jahat. Semua peranan Santo Rafael itu digambarkan jelas dalam Kitab Tobit. Kitab ini merupakan kitab yang menggambarkan kisah angelofani (penampakan malaikat) paling jelas dalam Kitab Suci. Melalui Santo Rafael, Allah akan mengulurkan tangan kepada setiap orang yang berseru kepada-Nya sehingga pada akhirnya orang akan memuji-muji nama Allah (Lih. Tob 12:17-22).

Kaplet Santo Rafael

Kaplet-St-Rafael

Kaplet ini terdiri dari medali Santo Rafael, 3 butir manik-manik untuk menghormati Santa Maria — ratu para malaikat,  dan 9 butir manik-manik untuk menghormati kesembilan paduan suara malaikat.

Pada medali, ucapkanlah doa ini:

Engkaulah Rafael sang penyembuh

Engkaulah Rafael sang penuntun

Engkaulah Rafael sang pendamping

Yang senantiasa menyertai manusia saat ia menderita

Pada ketiga butir manik-manik, daraskan 3 Salam Maria untuk menghormati Santa Maria — ratu para malaikat. Sedangkan untuk kesembilan butir manik-manik, daraskan doa berikut:

Kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa,

Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu.

Kemuliaan kepada Bapa, kemuliaan kepada Putra

Kemuliaan kepada Roh Kudus

Doa Penutup (pada medali pusat):

Santo Rafael, malaikat kesehatan, cinta, kegembiraan dan terang, doakanlah kami. Amin.

Disadur dari:

Doa adalah Sumber Kekuatan

Read Full Post »

Raffaele_Kalinowski

Pengantar

Santo Rafael Kalinowski adalah seorang biarawan dan imam Karmelit tak Berkasut. Ia dikanonisasi pada tanggal 17 November 1991 oleh Paus Yohanes Paulus II di Basilika St. Petrus, Vatikan. Santo Rafael Kalinowski dihormati karena kekudusannya selama ia hidup. Ia dikenal sebagai seorang yang setia memperjuangkan persatuan Gereja, ia juga dihormati sebagai seorang bapa pengakuan yang bijaksana dan penuh kasih.

Masa Kecil Hingga Remaja 

Rafael Kalinowski dilahirkan dalam sebuah keluarga bangsawan yang taat beribadah. Ia dilahirkan dengan nama Józef (Yosef) Kalinowski pada tanggal 1 September 1835 di Kota Vilna, Lithuania. Ayahnya bernama Andrzej (Andreas) Kalinowski sedangkan sang ibu bernama Józefa (Połońska) Kalinowski. Andrzej Kalinowski adalah seorang guru matematika di sebuah sekolah untuk bangsawan. Józef kecil tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang harmonis. Orang tuanya sangat mengasihi dia dan sejak kecil ia telah dididik dalam iman Katolik yang kuat. Semasa kecil Józef belajar di rumah sampai usia sembilan tahun. Setelah itu orang tuanya memasukkan dia di sebuah sekolah untuk bangsawan tempat ayahnya mengajar.

Józef yang memiliki otak cerdas itu lulus pada tahun 1850 dengan nilai yang sempurna. Oleh karena ia tumbuh dalam keluarga Katolik yang taat dan saleh, pada masa kecilnya Józef sudah mulai merasakan adanya panggilan khusus dalam dirinya. Ia merasa terpanggil untuk mengabdikan hidupnya sebagai seorang imam dan melayani Tuhan dan sesama. Niat dan pikiran itu kemudian disampaikannya kepada orang tuanya. Mendengar hal itu, sang ayah kemudian memberikan nasihat supaya ia belajar terlebih dahulu dan melanjutkan kuliahnya. Józef yang taat dan hormat kepada orang tuanya mengikuti nasihat sang ayah.

Masa Kuliah dan Penugasan

Pada masa itu untuk mencari universitas adalah hal yang tidak mudah bagi seorang Polandia. Ketika Rusia merebut Polandia dan Lithuania tahun 1795, pemerintahan Rusia menutup semua universitas Polandia dan satu-satunya universitas yang ada adalah universitas Rusia. Akhirnya pada tahun 1851 Józef kemudian memilih Institut Agronomi di Hory-Horki. Di sana ia belajar tentang ilmu kimia, pertanian dan perkembangbiakan lebah. Setelah beberapa waktu belajar di sana, Józef merasa bahwa ilmu tersebut bukan merupakan bidangnya karena ternyata ia mempunyai talenta yang sama seperti sang ayah. Menyadari hal itu, akhirnya pada tahun 1853 Józef pun segera beralih ke Akademi Teknik Militer Rusia Nicholayev di St. Petersburg. Ia masuk ke akademi itu bersama dengan seorang sepupunya, Lucian Polonski.

Tahun 1856 Józef lulus dengan jabatan letnan. Tahun 1857 dia juga ditunjuk sebagai asisten dosen matematika di akademi tersebut. Setahun kemudian ia dikirim untuk mengawasi pembangunan jalan kereta api antara Kursk, Kiev dan Odessa. Proyek pembangunan jalan kereta api ini terhenti dan tertunda pada tahun 1860. Letnan Józef kemudian ditugaskan kembali ke benteng di Brest Litovsk. Karena pekerjaannya yang baik dan pribadinya yang dewasa, pada tahun 1862 Józef dipromosikan sebagai kapten dalam kepemimpinan staf umum.

Selama tiga tahun Józef bertugas di benteng dan ia merasakan saat-saat yang menggelisahkan, ia merasa ada sesuatu yang kurang. Akhirnya, ia kemudian memulai mengajar sekolah minggu Katolik. Hal itu menyenangkan hatinya dan karena kepeduliannya yang amat tinggi kepada sesama, lebih-lebih yang menderita dan miskin maka Józef pun mulai mengurangi dan membatasi pengeluaran biaya untuk kepentingannya sendiri, sehingga ia bisa membantu kaum miskin di daerah itu. 

Masa Revolusi dan Pemberontakan

Tahun 1863, rakyat Polandia mulai bangkit untuk melawan penindasan Rusia. Saat itu Józef berada di posisi yang sulit. Dia tahu dan sadar bahwa pemberontakan dan revolusi itu akan mendatangkan banyak kerusakan dan kerugian di berbagai tempat, namun di lain pihak ia juga menyetujui tujuan dari revolusi itu untuk membebaskan rakyat Polandiaadari penindasan Rusia. Józef berpikir jika ia ikut dalam gerakan revolusi itu, mungkin ia dapat membantu untuk membatasi dan mengurangi kerusakan yang akan terjadi. Karena pertimbangan itu maka ia pun memutuskan untuk keluar dari kesatuan militer Rusia dan bergabung dengan para pemberontak Polandia. 

Józef pun meninggalkan Brest dan pergi menuju ke Warsawa. Di sana Józef diminta oleh dewan nasional untuk memimpin gerakan revolusi dan menjadi duta perang melawan Rusia untuk regio Vilna. Józef yang sangat mencintai tanah airnya sehingga menerima tugas tersebut walaupun dia sadar bahwa pemberontakan ini akan menimbulkan banyak kerugian. Dalam tugasnya kemudian Józef mengatakan bahwa ia tidak akan pernah menjatuhkan hukuman mati bagi siapapun.

Dengan keikutsertaannya dalam gerakan revolusi itu maka Józef kemudian pergi ke Vilna dan membangun markas besar di rumahnya sendiri yang tidak diketahui oleh orang lain. Di sana Józef berusaha untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Setiap hari ia pergi ke gereja, juga berdoa melalui perantaraan Bunda Maria. Ia memohon rahmat dan kekuatan dalam menjalani tugasnya sebagai duta perang.

Masa revolusi itu pun berjalan dan seperti yang telah diperkirakannya, satu persatu para pemimpin revolusi ditahan oleh orang-orang Rusia, diadili dan digantung di tengah-tengah kota. Mereka yang tertangkap dimasukkan ke dalam penjara yang dulunya adalah sebuah biara Dominikan. Józef dengan gigihnya berusaha menyelamatkan mereka. Melihat keberaniannya orang-orang Rusia pun mulai mengawasi gerak-gerik Józef. Akhirnya pada bulan Maret 1864, mereka pun menangkap Józef dan memenjarakannya.

Selama dalam penjara itu Józef menulis dalam riwayat hidupnya :

“Saya bangun setiap pagi pukul lima dan hal pertama yang terpikir olehku adalah doa kemudian meditasi. Ketika saya membaca buku meditasi, saya mendapatkan banyak penghiburan. Setiap hari saya dapat mendengarkan misa dari kejauhan. Jendela sel saya menghadap ke arah kebun yang merupakan sebuah alun-alun dan di seberangnya terletak Gereja Roh Kudus tempat misa diadakan setiap pagi. Saya kemudian membuka jendela sedikit dan saya pun dapat mengikuti seluruh perayaan Ekaristi kudus itu.”

 

Selang tiga bulan berikutnya pemerintahan Murawiew menjatuhkan hukuman mati untuk pejuang yang berani itu, namun karena Józef sangat dikenal dan mungkin akan mendapat sebutan sebagai martir jika dihukum mati maka kemudian mereka mengubah hukumannya menjadi hukuman 10 tahun kerja paksa di Siberia Timur.

 

Masa Hukuman dan Pembuangan

Pada tanggal 29 Juni 1864 Józef pun dikirim ke tempat pembuangan dan hukuman di Siberia. Ia pergi dengan berjalan kaki dan sampai di pertambangan Usolje-Sibirskoje tanggal 15 April 1864. Ia tinggal di sana sampai tahun 1868 dan pada tahun yang sama ia mendapat keringanan hukuman untuk meninggalkan daerah pembuangan. Ia kemudian dikirim ke Irkutsk dekat danau Bajkal di daerah perbatasan Mongolia. Di sinilah ia kemudian mengalami perubahan yang sangat besar dalam imannya. Józef mulai melakukan karya-karya kerasulannya, walaupun ia mendapat banyak sekali penindasan yang membuatnya menderita, baik fisik maupun batin, namun hal itu justru semakin membawanya untuk berserah pada Tuhan. Hubungan Józef dengan Tuhan pun semakin diperbaharui, semua penderitaan itu membuatnya semakin merasakan persatuan yang indah dengan Tuhan. Józef yang senantiasa mewarnai hidupnya dengan doa terus-menerus membawa dampak yang baik bagi sesama tawanan di sana. Mereka begitu senang dengan kehadiran Józef di antara mereka dan seringkali dalam doanya, mereka berseru, “Dengan perantaraan doa-doa Józef Kalinowski, bebaskanlah kami ya Tuhan.”

Tahun-tahunnya di Siberia dan di pembuangan adalah masa-masa penuh rahmat bagi Józef. Ia menunjukkan diri sebagai seorang pelayan Tuhan yang baik bagi sesamanya. Józef senantiasa menyediakan waktu untuk memberikan penghiburan bagi para tawanan dan orang-orang buangan di sana, ia menjadi seorang pembimbing rohani yang bijaksana, memberikan kekuatan melalui doa-doanya. Józef yang amat mengasihi Bunda Maria juga tidak pernah meninggalkan devosinya kepada Sang Perawan Tersuci ini. Ia percaya Bunda Maria senantiasa mendengarkan seruan anaknya dan menolong mereka.

Di tempat pembuangan ini juga Józef berteman baik dengan seorang imam Kapusin yang bernama Pastor Wacław (Wenceslaus) Novakowski, OFM Cap. Bersama dengan imam ini Józef kemudian mempersiapkan anak-anak para tawanan yang beragama Katolik untuk menerima komuni pertama. Józef dengan sabar dan penuh kasih mengajar mereka. Sementara itu Józef menyadari panggilan Tuhan yang pernah dirasakannya semasa kecil saat itu semakin tumbuh subur dan kuat. Panggilan Tuhan itu dirasakannya begitu indah dan kemudian ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah biara untuk menjadi seorang imam. 

Masa Pembebasan, Menjadi Seorang Guru 

Selama masa 10 tahun penderitaan itu Józef tidak pernah sekalipun meninggalkan meditasi dan doanya. Pada bulan April 1874 Józef dibebaskan. Pada hari pembebasannya itu, ia pertama-tama pulang ke rumahnya di Vilna, kemudian pergi ke Warsawa dan tinggal di sana dekat dengan Gabriel, saudaranya. Dari jendela rumahnya Józef dapat melihat gereja dan biara para frater Karmelit tak berkasut.

Saat itu seorang temannya semasa di pembuangan, Allesandro Oskierko menawarkan kepada Józef pekerjaan sebagai guru dan pembimbing bagi Pangeran muda Augustus Czartoryski. Józef menerima tawaran itu dan kemudian selama 3 tahun ia pun menjadi guru dan pembimbing. Pada tanggal 23 Oktober 1874 Józef bersama dengan Gucio (nama kecil dari Pangeran August) pergi ke Paris dan tinggal di sana. Selama tahun-tahun itu Józef membimbing Gucio. Ia melihat bahwa Gucio adalah seorang pemuda yang pandai namun sayangnya tubuhnya sangat lemah karena sakit. Selama itu Józef memainkan peran sebagai ayah, ibu, kakak, teman, dan perawat bagi Gucio. Dia melakukan semua itu dengan penuh perhatian dan kasih kepada pemuda itu. Józef menemani Gucio selama perjalanannya di Prancis, Polandia dan Italia, membimbing dia dengan kata-kata dan teladan hidup sebagai seorang Katolik.

Selama di Paris, Józef ikut serta dalam kegiatan sosial, bekerja bagi para pengungsi Polandia. Józef kemudian bertemu dengan seorang imam Karmelit tak berkasut, Pastor Augustine Mary dari Sakramen Mahakudus. Józef sangat mengagumi bakat musik imam ini dan terutama kehidupan rohaninya yang mendalam.

 

Menjadi Seorang Karmelit dan Imam

Sementara itu keinginannya untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengabdikan hidupnya bagi Tuhan semakin kuat. Panggilan menjadi seorang religius semakin matang dan akhirnya pada musim panas tahun 1876 ketika ia berada di Davos, Swis bersama Gucio, Józef membuat keputusan yang mengubah seluruh kehidupannya. Józef memutuskan untuk menjadi seorang Karmelit tak Berkasut. Ia didukung dan didoakan oleh Witoldowa Grocholska Czartoryska, bibi dari Gucio dan juga seorang biarawati Karmel yang bernama Sr. Mary Xavier dari Yesus. Dengan segala dukungan itu Józef semakin mantap akan pilihan hidupnya.

Pada bulan Juli 1877 Józef akhirnya meninggalkan kehidupan duniawi dan tepat tanggal 14 Juli ia masuk ke sebuah biara Karmel tak Berkasut di Linz, Austria. Tidak diingkarinya bahwa ada rasa sedih juga ketika harus berpisah dengan Gucio yang telah dibimbingnya beberapa tahun itu. Di kemudian hari Gucio bertemu dengan St. Don Bosco dan akhirnya menjadi seorang Salesian pada tahun 1887 dan meninggal dunia tahun 1893.

Tanggal 15 Juli 1877 Józef pergi ke Graz dan memulai masa novisiatnya di sana. Saat itu Józef berusia 42 tahun dan pada tanggal 26 November 1877 ia mendapat nama biara yaitu Fr. Rafael dari St. Józef Kalinowski. Dia mengucapkan kaul pertamanya setahun kemudian, setelah itu ia dikirim ke Hungaria untuk belajar filsafat dan teologi. Bulan November 1881 Józef mengucapkan kaul kekalnya dan kemudian ia dipindahkan ke Polandia ke sebuah biara tua di daerah Czerna. Di sana ia menyelesaikan studi teologinya dan akhirnya menerima tahbisan imamat pada tanggal 15 Januari 1882 oleh Uskup Krakow Albin Dunajewski.

Setelah pentahbisannya sebagai seorang imam, Pastor Rafael ditunjuk untuk menjadi pembimbing novis dan kemudian tahun 1883 ia menjadi pimpinan biara di Czerna. Selain itu Pastor Rafael juga menjadi anggota dewan provinsi dan pimpinan bagi para suster Karmel tak Berkasut dari biara di Krakow Wesola. Pastor Rafael juga dengan penuh kesabaran selalu menerima mereka yang datang untuk mengaku dosa. Ia sangat menaruh perhatian pada Sakramen pengakuan dosa. Karena perhatiannya ini maka di kemudian hari ia mendapat sebutan sebagai “martir pengakuan dosa”, seorang Bapak Pengakuan yang penuh perhatian dan bijaksana.

Pastor Rafael yang begitu bersemangat dalam pengabdian dan pelayanannya itu kemudian juga mendirikan biara-biara Karmel untuk pada suster. Atas segala usahanya akhirnya pada tahun 1884 sebuah biara Karmel Teresian berdiri di Przemysl dan pada tahun 1888 di Leopoli (Ukraina). Kemudian tahun 1990 Pastor Rafael menjadi Vikaris Provinsial dari semua biara-biara itu. 

Di kemudian hari ketika biara para frater Karmel tak Berkasut yang tadinya eksis di Berdyczow, Rusia dan Lublin hampir mati, Pastor Rafael mendirikan sebuah biara baru di Wadowice tahun 1892. Dia juga membangun sebuah gereja, pusat spiritualitas dan juga menjadi sebuah seminari yang membantu mengembangkan panggilan bagi para pemuda. 

Tahun-tahun Terakhir

Pastor Rafael dengan penuh semangat dan cinta terus memberikan dirinya dalam pelayanan bagi Tuhan dan sesama. Dia yang memancarkan kasih Tuhan itu sangat dikenal dan dikasihi oleh semua orang. Dia menyediakan waktunya untuk membimbing para pemuda dalam seminari yang dibangunnya. Dia juga tidak hentinya berdoa bagi persatuan seluruh Gereja di dunia. Pada tahun 1904 atas perintah dari superiornya, Pastor Rafael mulai menulis riwayat hidupnya. 

Pada tanggal 15 November 1907 di Wadowice Pastor Rafael meninggal dunia karena penyakit tuberkulosis. Ia meninggal dalam keadaan damai dan tenang. Berita tentang kematiannya itu dengan cepat tersebar di mana-mana dan ribuan orang datang untuk menghormati pria yang telah diramalkan akan menjadi seorang Santo. Jenazah Pastor Rafael kemudian dipindahkan ke makam biara di Czerna, Krakow.

Pada tahun 1983 oleh Paus Yohanes Paulus II ia dibeatifikasi dan pada tahun 1991 ia dikanonisasi menjadi seorang kudus, Santo Rafael Kalinowski. Pestanya diperingati setiap tanggal 19 November.

 

Teladan-teladan Hidupnya

Kehidupan rohani Santo Rafael telah dimulai sejak dini dan secara terus-menerus semakin berkembang dan berbuah. Sejak ia menyadari panggilannya dalam Karmel, ia adalah seorang Karmelit tak Berkasut yang senantiasa bersatu dengan Tuhan. Ia adalah seorang insan Allah dan selalu hidup dalam persatuan yang mesra dengan Allah. Dia adalah seorang pendoa yang tidak pernah berhenti mengingatkan para karmel yang lain bahwa kewajiban utama seorang Karmel adalah untuk melibatkan Tuhan dalam segala sesuatu. Artinya bahwa dalam segala hal, segala pekerjaan dan aktivitas, semua harus diawali dengan doa dan untuk seterusnya membawa Tuhan di dalamnya. Untuk itu maka Santo Rafael ingin memperbaharui kehidupan para suster Karmelit Teresian di Polandia. Ia ingin menekankan dasar-dasar pokok dalam kehidupan seorang Karmelit yaitu doa, kesederhanaan dalam materi dan ‘silentium’.

Selain itu ia juga menekankan hal penting lainnya yaitu: devosi dan kecintaan kepada Bunda Maria. Dia selalu mengingat Bunda Maria dalam tiap-tiap doanya, ia merasa bahwa Bunda Maria selalu mendengarkan dia dan menjadi perantara kepada Sang Putera Ilahi. Santo Rafael mengatakan kepada para suster dan fraternya bahwa menghormati Sang Perawan Suci adalah salah satu yang utama juga. Kita mengasihi dia dan meneladan keutamaan-keutamaannya yaitu: kesuciannya terutama kerendahan hati dan kesetiaannya dalam doa, serta iman dan penyerahan dirinya kepada Tuhan. Sebagai pengungkapan rasa cintanya kepada Bunda Maria, ia kemudian menulis 2 buku kecil tentang Maria yaitu “Maria zawsze i we wszyztkim” (Maria, selalu dan dalam segalanya; Krakow 1901) dan “Czesc Matki Boskiej w Karmelu Polskim” (Penghormatan kepada Bunda Allah dalam Karmel Polandia; Leopoli-Warsawa 1905).

Santo Rafael adalah orang yang bijaksana. Ia dikenal sebagai seorang pembimbing rohani yang ulung. Banyak orang dari berbagai tempat datang untuk meminta nasihat dan bimbingannya. Mereka datang karena mendengar tentang kekudusan pastor yang satu ini. Santo Rafael senantiasa mengambil kata-kata dari St. Paulus dalam Gal. 5:22 “…kasih, sukacita, damai…”. Dalam bimbingannya Santo Rafael selalu menunjukkan kasih dan perhatiannya yang besar, kata-kata yang diucapkannya memberikan ketenangan dan kedamaian bagi setiap orang yang datang, bahkan mereka yang bukan beragama Katolik pun dapat merasakan kesucian dari orang kudus ini. Dalam hal ini ia selalu mengingatkan para fraternya bahwa misi mereka adalah berdoa dan bekerja untuk persatuan Gereja dan bagi perubahan Rusia.

Sebagai seorang pembimbing rohani yang ulung, Santo Rafael juga dikenal sebagai Bapak Pengakuan yang baik. Ia dengan sukacita selalu menunggu setiap orang yang ingin mengaku dosa. Ia merasa bahwa Sakramen ini adalah salah satu yang terpenting karena dengan Sakramen Pengakuan Dosa maka hubungan kita dengan Tuhan yang rusak akibat dosa dipulihkan kembali. Ia adalah seorang “martir pengakuan dosa.”

Santo Rafael menjadi salah satu dari sekian banyak para kudus yang telah mewarnai kehidupan Gereja Katolik. Dengan kekudusannya itu ia menjadi perantara bagi banyak orang kepada Allah. Sejak kematiannya banyak kesaksian yang mengatakan bahwa doa yang dipanjatkan melalui perantaraannya seringkali terkabul. Kesucian dan kekudusan Santo Rafael telah dimulainya sejak ia masih hidup dan semakin nyata terlihat ketika ia telah meninggalkan dunia ini. Biarlah dengan bantuan doanya kita pun mau berusaha untuk mencapai kekudusan sejak dalam hidup di dunia ini.

 

“Santo Rafael Kalinowski, doakanlah kami…”

Oleh: Sr. Maria Rafaella P.Karm

Disadur dari:

http://www.carmelia.net/

Read Full Post »

mary_002

Devosi

Definisi dan inti devosi kepada
Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.

I. DEFINISI:
Devosi ‘marial’ (hyperdulia) adalah seluruh kebaktian kepada Maria Ibu Yesus dari Nazaret dalam bentuk puji-pujian, kagum, hormat, dan cinta dengan meneladani cara hidupnya sambil memohon bantuan pengantaraan doanya bagi Gereja yang masih sedang dalam perjalanan ziarah menuju persatuan dengan Allah di tanah air surgawi (bdk. LG No. 66) Setelah mendapat kabar gembira dari Malaikat Tuhan (Lukas 1:26-38), Maria amat bersukacita dan bernubuat: “Yes, from this day forward all generations will call me blessed, for the Almighty has done a great things for me” (Lukas 1:48).
Secara singkat kita dapat menyebut beberapa alasan pokok mengapa Maria dapat dihormati khusus dan dapat dimintakan pengantaraan doanya oleh umat beriman:

Pertama, Maria dipilih Tuhan secara istimewa untuk menjadi Bunda Tuhan Yesus Kristus juru selamat manusia. Pemilihan yang istimewa ini sangat dirasakan akibatnya yang membahagiakan oleh Gereja sepanjang masa.
Kedua, seperti yang dijelaskan oleh Lumen Gentium No.62, keibuan Maria dalam tata rahmat berlangsung terus tanpa putus, mulai dari persetujuan yang diberikannya dengan setia pada saat menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dan yang dipertahankannya tanpa ragu sampai di kaki salib sampai kepada kesempurnaan abadi semua orang beriman. Setelah diangkat ke surga, Maria tidak meninggalkan tugas ini, melainkan melanjutkannya melalui perantaraan limpah dengan memberikan kita anugerah keselamatan abadi. Hal itu menunjukkan bahwa peran Maria dalam tata penyelamatan tetap aktual sepanjang sejarah Gereja tanpa terhenti oleh hilangnya Maria secara fisik dari panggung sejarah dunia. Oleh karena itu, Maria sungguh melebihi segala makhluk di surga maupun di bumi, dan keunggulan ini sekaligus menjadi alasan bagi umat beriman untuk memuji, mencinta khusus, mengagumi dan menghormati Maria sambil meneladani dan memohon bantuan pengantaraan doanya pada Allah.

II. INTI DEVOSI KEPADA MARIA:

Kalau diperiksa dengan teliti, maka kita akan menemukan tiga elemen yang membentuk kesatuan inti devosi kepada Maria, yaitu: puja-puji Maria, mencontoh Maria dan memohon bantuan pengantaraan doa Maria.

  • Memuji Maria
    Puja-puji merupakan salah satu elemen inti devosi kepada Maria. Kitab Suci sendiri mencatat pujian Elisabet dan anak dalam rahimnya sebagai pujian paling pertama bagi Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai IBU TUHANKU datang mengunjungi aku? … anak di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia yang telah percaya” (Luk 1:42-45). Dalam devosi ‘marial’, umat beriman, sama seperti dilakukan Elisabet dan anak dalam rahimnya, mengagumi dan menghormati Maria karena perannya menjadi ibu Tuhan, Bunda Mesias. Bunda Maria dipuji karena karya agung Allah dalam diriNya. Maria tidak dihormati seakan dia berprestasi atas usaha-usahanya sendiri, melainkan karena di dalam dia Allah berkarya secara luar biasa. Santo Chrisostomus memberikan contoh tentang bagaimana dan apa alasan Maria dipuji: “Sungguh pantas dan wajarlah kami memuji dikau, o Bunda Allah yang amat kudus, suci murni dan bunda Tuhan kami. Kami menghormati engkau yang seharusnya dipuji melebihi Kerubim dan Serafim. Engkau yang tanpa kehilangan keperawananmu melahirkan Sabda Tuhan. Engkaulah sungguh-sungguh Bunda Allah.”
  • Mencontoh Maria
    Dalam devosi ‘marial’, kita tidak hanya cukup sampai pada sikap heran, kagum, dan puji Maria karena karya Agung Allah dalam dirinya, tetapi kita, umat beriman juga harus mencontoh Maria sebagai citra dalam hal iman, cinta kasih persatuan yang sempurna dengan Kristus. Gereja mengajarkan bahwa Maria adalah typos Gereja (gambaran Gereja), gambaran umat beriman dalam perjalanan menuju Allah. Itu berarti dalam usaha menjawab panggilan Allah, kita bisa belajar pada Maria tentang bagaimana menjawab panggilan Allah dan hidup seturut firman-Nya, tentang bagaimana mengikuti Yesus secara sempurna, dan bagaimana melaksanakan kehendak Allah dengan setia.
  • Memohon pengantaraan doa Maria:
    Di samping memuji dan mencontoh berbagai keutamaan Maria, umat beriman dapat berdoa kepada Maria. Akan tetapi, diusahakan sekian sehingga doa-doa itu tidak bercorak seakan-akan Maria dapat menganugerahi sesuatu tanpa diketahui Allah sendiri. Doa kepada Maria lebih berarti DENGAN ALLAH. Tentang ini Santo Thomas Aquinas menjelaskan, doa dalam artinya sebenarnya memang hanya ditujukan kepada Allah karena hanya Allah yang patut disembah. Selain itu doa kita dimaksudkan untuk memperoleh rahmat yang hanya bisa diberikan oleh Allah seorang diri. Namun, kalau doa-doa kita ditujukan kepada para malaikat dan orang kudus, maka hal itu terjadi karena mereka sudah dipersatukan secara erat dengan Allah dan doa-doa kita akan menjadi lebih efektif melalui doa-doa dan jasa kepengantaraan mereka. Jadi para kudus sendiri tidak mengabulkan doa kita, tetapi mereka dapat mendoakan kita pada Allah, atau menyampaikan doa-doa kita kepada Allah.

III. MACAM-MACAM GEJALA PRAKTIK DEVOSI ‘MARIAL’:

Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka diperkirakan bertumbuhlah kepercayaan akan perlindungan Maria dan bentuk-bentuk devosi kepadanya, seperti:

A. Doa kepada Maria

Seperti Doa Salam Maria, Sabtu sebagai Hari Maria, dan Mei sebagai Bulan Maria.

Doa Salam Maria:
Doa salam Maria berasal dari Salam Malaikat Gabriel (Lk 1:28) dan pujian Elisabet (Lk 1:42). Pada abad ke-6 untuk pertama kalinya di Gereja Timur (Yunani) “Salam Malaikat Gabriel dan pujian Elisabet” digabungkan: “Salam Maria penuh rahmat. Tuhan sertamu. Terpujilah Engkau di antara semua wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus”. Rumusan doa ini dijadikan sebagai doa antifon dan didaraskan secara berulang-ulang. Baru setelah beberapa tahun kemudian, antifon yang berasal dari salam malaikat dan Elisabet ini disatukan dengan doa permohonan Gereja (umat beriman): “Santa Maria Bunda Allah, doakan kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.”

Sabtu sebagai Hari Maria:
Pada abad yang sama, hari Sabtu juga dipersembahkan kepada Maria untuk memperingati kedukaan Maria yang sangat dalam atas kematian Putra-Nya Yesus Kristus.

Mei sebagai Bulan Maria:
Mei masih merupakan bagian musim semi untuk Eropa. Oleh karena itu, umat Eropa dulu mempersembahkan bulan Mei kepada Maria agar bunga-bunga yang bersemi pada bulan ini mendorong kita untuk merenungkan kelimpahan harta rohani Bunda Maria. Seperti bunga-bunga musim semi menghiasi bumi, demikian juga umat beriman diharapkan secara alamiah bagai bunga-bunga bersemi menghormati Maha Pencipta bersama Maria.

B. Empat Antifon Utama Maria:

1. Alma Redemptoris Mater: dinyanyikan pada masa Adven.
dalam lagu ini Maria dipuji sebagai “gerbang surga dan bintang laut” karena menerima salam malaikat Gabriel dan akan melahirkan penebus manusia.
2. Ave Regina Caelorum: dinyanyikan sejak masa natal sampai pekan suci.
Isinya: semacam ajakan atau rayuan umat beriman agar Maria sudi bergembira bersama Gereja atas karunia penebusan melalui Yesus Kristus.
3. Regina Caeli: dinyanyikan pada masa paskah.
Isinya: ajakan umat beriman agar Maria bergembira bersama Gereja atas kebangkitan Putranya Yesus Kristus dari kematian
4. Salve Regina: dinyanyikan pada masa biasa setelah masa paskah sampai sebelum adven.
Isinya: Maria dipuji sebagai bunda pemurah dan harapan umat beriman. Maria diyakini sebagai pembela umat beriman pada pengadilan terakhir di hadapan Kristus sebagai HAKIM pada akhir zaman.
C. Litani St. Maria:

Dalam doa litani, Maria diberi gelar dan nama yang bermacam-macam, dan kemudian dia dipuji berdasarkan gelar-gelar itu.

D. Doa Rosario

IV. DOA ROSARIO DAN SEJARAHNYA:

Definisi:
Doa Rosario: doa kepada atau melalaui Maria dengan mendaraskan 150 kali Salam Maria sambil merenungkan peristiwa-peristiwa inti hidup Yesus dan Maria sambil menghitung biji rosario.

Rosario dalam sejumlah agama:
Kebiasaan berdoa dengan menggunakan hitungan biji-bijian sudah sangat tua usianya.

Orang Peru kuno sudah memakai hitungan manil-manik dalam doa mereka.
Di Niniwe (abad ke-9 SM) ditemukan angka pahatan yang memperlihatkan sebuah untaian manik-manik.
Orang Islam, Hindu, Budha di Cina, India dan Jepang sudah lama mengenal kebiasaan berdoa sambil memakai hitungan biji-bijian.
Umat Islam khususnya mengenal doa yang disebut “doa tasbih”, yaitu doa yang terdiri atas sebuah untaian 99 butir untuk menyebut nama Allah yang Mahaesa.
Tasbih yang sama sudah ada pada umat Kristen Timur (Yunani) sejak lama yang mengulang-ulang doa pendek tertentu dengan menyebut nama Allah dan Yesus Kristus.
Rangkaian doa tasbih ditemukan dalam kubur Santa Getrudis dari Nivella pada abad ke-4.
Para pertapa di padang gurun dulu juga biasa memakai hitungan biji tasbih dalam doa mereka. Para pertapa itu mempunyai sebuah bakul yang berisikan kelereng yang berfungsi untuk menghubungkan doa-doa mereka yang mereka ucapkan setiap hari.
Itu berarti, pemakaian hitungan biji tasbih dalam doa-doa sudah sangat tua usianya dan merupakan suatu hal umum pada setiap agama, dan umumnya bertujuan untuk MENGHITUNG DOA-DOA TERTENTU SEHINGGA MUDAH DIDARASKAN BERSAMA DAN UNTUK MENCIPTAKAN KONSENTRASI WAKTU BERDOA.

Doa Rosario pada Abad Pertengahan:
“Rosario” berasal dari kata bahasa Latin “rosa”, artinya “bunga mawar”. Sedangkan “rosario” artinya “rangkaian atau untaian karangan bunga mawar”. Di Eropa dulu (dan sampai sekarang), bunga mempunyai arti yang sangat penting. Bunga bisa diberikan kepada seseorang sebagai tanda cinta, sayang atau hormat. Pada abad pertengahan khususnya, seorang hamba mempunyai kebiasaan merangkaikan karangan bunga mawar untuk kemudian dipersembahkan kepada tuannya. Diperkirakan bahwa umat Kristen pada zaman ini secara imitatif mengambil alih kebiasaan ini. Dalam devosi kepada Maria, umat Kristen menyadari diri sebagai hamba-hamba Maria. Lalu sebagai pelayaan Maria, mereka merangkaikan bunga mawar (wreaths and crowns of roses) untuk dipersembahkan kepada Maria. Demikianlah devosi ‘marial’ pada abad pertengahan berpusat pada simbol bunga mawar. Caranya: Umat Kristen merangkaikan bunga mawar itu semacam mahkota, lalu meletakannya di rumah ibadat di depan gambar atau patung St. Maria. Dalam proses merangkaikan bunga mawar itu, mereka mengucapkan litani pujian kepada Maria. Dengan itu tidak terlalu sulit untuk memahami bahwa biji tasbih atau manik-manik yang sekarang lebih dikenal dengan nama BIJI ROSARIO merupakan perkembangan untaian mahkota bunga mawar itu.

Hubungan Doa Rosario dan 150 Mazmur Daud:
Pada mulanya doa Gereja perdana berpusat sekitar 150 mazmur Daud. Pada Abad Pencerahan , umumnya umat beriman yang dapat membaca memiliki buku doa mazmur. Pada rahib biasanya membagi 150 mazmur itu atas tiga bagian berdasarkan atas tiga pembagian waktu doa yaitu pagi, siang dan malam sehingga menjadi 3 kali 50 mazmur. Sedangkan umat beriman, yang tidak dapat membaca, dapat mendaraskan 150 kali Doa Bapa Kami dan Salam Maria sebagai ganti 150 mazmur Daud (3 kali 50) dalam waktu sehari. Dan untuk menjamin konsentrasi dalam berdoa, mereka memakai bantuan hitungan tasbih. Dengan demikan, pada mulanya doa rosario menjadi doa pengganti doa mazmur bagi saudara-saudara yang tidak dapat membaca. Sebab itu, waktu kerap kali doa Rosario disebut “Kitab Mazmur Maria” (The Psalter of Our Lady). Doa Rosario dalam paralelitasnya dengan doa Mazmur dapat dirincikan sebagai berikut:

“Bapa Kami” sebagai pengganti Antifon mazmur,
Sepuluh kali doa “Salam Maria” berperan sebagai pengganti pendarasan Mazmur,
dan “kemuliaan kepada Bapa…” berperan sebagai doa tanggapan.

Bulan Oktober sabagai Bulan Rosario:
Semangat dan minat umat Kristen Katolik terhadap doa rosario mendorong sejumlah Paus untuk menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Paus Leo XIII yang secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai bulan rosario, menulis: “Kepada Bunda Surgawi ini kita telah mempersembahkan kembang-kembang mawar pada bulan Mei, maka kepadanya kita juga hendak mempersembahkan panen buah-buahan yang berlimpah di bulan Oktober dengan hati yang penuh ikhlas.” Pada tahun 1883, dalam ensikliknya “Supremasi Apostolatus” Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario bagai semua Gereja Kristen Katolik. Pada tahun 1885 malah Paus ini mengatakan bahwa umat dapat memperoleh indulgensi dengan berdoa Rosario pada bulan Oktober. Dalam sebuah suratnya, Paus Leo XIII lagi-lagi mengijinkan para petani, yang pada umumnya sangat sibuk mengumpulkan panenan pada bulan Oktober, untuk menunda berdoa Rosario pada bulan November atau Desember.

Doa rosario dan Tarekat Dominikan: Ada yang berpendapat bahwa Doa Rosario ditemukan (diciptakan) oleh Tarekat Dominikan di bawah pimpinan Alanus de Rupe. Pendapat ini tidak benar seluruhnya. Akan tetapi, yang jelas bahwa dalam sejarah Gereja, Tarekat Dominikan dikenal berjasa dalam menyebarluaskan dan mempopulerkan Doa rosario di sebagian besar wilayah Eropa pada Abad Pertengahan. Pada tahun 1470 Alanus de Rupe (Dominikan) mendirikan sebuah Tarekat Religius bernama “Serikat Mazmur Yesus dan Maria” (Conferternity of the Psalter of Jesus and Mary). Di dalam dan melalui tarekat ini Alanus de Rupe menunjukan semangat dan kecintaannya yang sangat besar kepada Bunda Maria. Pada abad yang sama di Eropa, terutama di Prancis dan Italia, muncullah sebuah kelompok heretis yang disebut Kaum Albigensis. Melalui kothbah yang berapi-api dan semangat doa yang tinggi, termasuk secara khusus doa-doa kepada Bunda Maria, Alanus de Rupe dan kaum biarawan Dominikan lainnya berhasil menobatkan kaum Albigensis dan membawa mereka kembali kepada ajaran Gereja yang benar.

Oleh Rm. Alex Jebadu, SVD

Disadur dari:

http://www.imankatolik.or.id/

Read Full Post »