Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2014

Patogenesis dan Patofisiologi

  • Faktor risiko dan faktor pencetus menyebabkan gangguan biokimia (neurotransmiter dopamin, serotonin, norepinefrin)
  • Gangguan sistem limbik (peran dopamin <)
    • Gangguan mood: afek depresi, kehilangan minat dan kegembiraan, lack of energy (tidak berenergi)
    • Gejala tambahan pada depresi: penurunan konsentrasi, kehilangan rasa percaya diri, rasa bersalah, pesimis, gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, gangguan tidur, gangguan makan
    • Gangguan somatik (dalam bentuk disfungsi seksual): penurunan libido, fungsi ereksi berkurang
  • Respons terhadap stres: CRF (Corticotropin-Releasing Factor) di korteks frontalis meningkat
    • Aksis HPA (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal) >> : pelepasan kortisol, epinefrin, norepinefrin
    • Simpatis >> : peningkatan tonus otot polos corpus spongiosum, relaksasi terhambat
    • Reseptor CRF pada amigdala dan nukleus basolateral: mengatur perilaku dan respons terhadap stres

Teori penghambatan ereksi psikogenik:

  • Inhibisi direk dari pusat ereksi spinal di otak -> berlebihan
  • Penurunan dopamin pada nukleus preoptika medialis: libido <, kapasitas dan frekuensi kopulasi <<
  • Penjalaran impuls simpatis berlebihan dan peningkatan katekolamin -> peningkatan tonus otot polos corpus spongiosum -> relaksasi terhambat
  • Penurunan dopamin -> peningkatan prolaktin -> fungsi ereksi terganggu
  • Penurunan dopamin -> pelepasan oksitosin berkurang -> mekanisme perifer ereksi terganggu

Gejala Klinis

  • Aktivitas seksual <
  • Tidak mampu terangsang
  • Dispareunia pada wanita
  • Infertilitas
  • Pria: tidak mampu ereksi, tidak mampu mempertahankan ereksi, terlambat atau tidak ada stimulasi untuk ejakulasi, tidak mampu mengontrol ejakulasi
  • Wanita: tidak mampu merelaksasikan atau mengendurkan otot vagina untuk hubungan seks, kurangnya lubrikasi vagina, tidak mampu mencapai orgasme

 

Sumber:

Depkes RI, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia Edisi III.

Kaplan HI dan Sadock BJ. 1998. Synopsis of Psychiatry (8 ed.). Maryland: Baltimore.

Nieschlag E, et al. 2010. Andrology: Male Reproductive Health and Dysfunction (3 ed.). London: Springer.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16423710

http://www.nature.com/ijir/journal/v18/n1s/pdf/3901509a.pdf

http://www.medscape.com/viewarticle/551562_4

http://www.hawaii.edu/hivandaids/The%20Relationship%20Between%20Depression%20and%20Erectile%20Dysfunction.pdf

Advertisements

Read Full Post »

screen_shot_2012-05-16_at_43820_pm1337150314477

Patogenesis Skizofrenia

  • Hipotesis
    • Neurodegeneratif
    • Neurodevelopmental
  • Psikososial
    • Teori psikoanalitik
    • Teori dinamika keluarga

Hipotesis Degeneratif Saraf (Neurodegeneratif)

  • Apoptosis abnormal yang diprogram secara genetik
  • Degenerasi dari neuron-neuron yang kritis
    • Pemaparan prenatal terhadap anoksia
    • Toksin-toksin, infeksi, atau malnutrisi 
    • Proses kehilangan neuronal (eksotoksisitas glutamat) —  neuron- neuron tereksitasi ketika memperantarai gejala-gejala positif, kemudian mati akibat proses toksik yang disebabkan eksitasi neurotransmisi yang berlebihan; hal ini membawa ke stadium burn out residual dan  gejala-gejala negatif

Hipotesis Perkembangan Saraf (Neurodevelopmental)

  • Masalah didapatkan dari lingkungan janin
  • Komplikasi obstetrik saat dalam rahim ibu (infeksi virus, kelaparan, autoimun, dan lain-lain)
  • Gangguan otak di awal perkembangan janin
  • Mengurangi faktor pertumbuhan saraf: sitokin, infeksi virus, hipoksia, trauma, kelaparan atau stres

Teori Psikoanalitik (menurut Sigmund Freud)

  • Perkembangan yang terfiksasi -> defek perkembangan ego
  • Kelemahan ego: sebab psikogenik maupun somatik
  • Superego dikesampingkan: tidak berpengaruh lagi
  • Id yang berkuasa: terjadi suatu regresi ke fase narsisisme.

Teori Dinamika Keluarga

  • Disfungsi keluarga: pola asuh buruk
    • Anak: kepercayaan diri rendah
    • Lebih suka masuk ke dalam khayalan daripada menghadapi kenyataan
  • Perilaku keluarga patologis: stres emosional
  • Ikatan ganda (double bind communication): pesan bertentangan dari orang tua tentang perilaku, sikap, dan perasaan anak.
  • Keretakan dan kecondongan keluarga (schisms and skewed family): keretakan menonjol antara dua orang tua, dominansi salah satu orang tua (terutama yang memiliki jenis kelamin berbeda dengan anak; ayah dan anak wanitanya; ibu dan anak lelakinya)
  • Keluarga yang saling mendukung secara semu dan bermusuhan semu (pseudomutual and pseudohostile families): komunikasi verbal yang terlalu unik
  • Emosi yang diekspresikan secara berlebihan: kritik, hostilitas, ikut campur berlebihan (dipengaruhi juga oleh cara penyampaian yang terlalu keras ketika memberi nasihat atau teguran pada anak)

Sumber:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41003/4/Chapter%20II.pdf

http://psikologi.or.id/psikologi-kognitif/skizofrenia.htm

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/12/02/mengenal-skizofrenia-507681.html

Read Full Post »

neurovenn

Menurut teori psikoanalis Sigmund Freud, kepribadian terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai id, ego dan superego yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks:

1. Id

Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis sehingga dapat disebut sebagai komponen utama kepribadian. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak langsung terpuaskan, hasilnya adalah kecemasan negara atau ketegangan.

Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. Id sangat penting pada awal kehidupan karena hal ini memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi.

Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan tak mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin akan merebut hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan mengganggu dan tidak dapat diterima secara sosial. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan tuntutan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan. Hal tersebut melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.

2. Ego

Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab agar manusia dapat menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Ego memiliki fungsi dalam pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar.

Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan berdasarkan nilai sosial yang sesuai. Prinsip realitas ini menimbang keuntungan dan kerugian dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atau mengurungkannya. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu dan tempat yang tepat.

Ego juga melepaskan ketegangan yang diciptakan oleh keinginan yang tak terpenuhi; melalui proses sekunder. Dalam hal ini, ego mencoba untuk menemukan objek di dunia nyata yang cocok dengan gambaran mental yang diciptakan oleh proses primer id.

3. Superego

Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.

Ada dua bagian superego:
1. Ego yang ideal: mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.

2. Hati nurani: mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat; perilaku yang sering dilarang dan menyebabkan keburukan, konsekuensi atau hukuman, perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam keadaan sadar, prasadar, dan tidak sadar.

Interaksi dari Id, Ego dan Superego

Kemungkinan timbul konflik antara ego, id, dan superego cukup besar. Freud menggunakan istilah kekuatan ego untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.

Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego, dan superego. Pada kasus depresi, ditengarai adanya unsur superego yang berlebihan. Hal ini berakibat pada penilaian diri yang rendah dan adanya suatu ideal yang belum tercapai.

Patofisiologi

Interaksi antara:

  • ketersediaan neurotransmiter
  • regulasi reseptor
  • sensitivitas

Neurotransmiter: serotonin, norepinefrin, dopamin, glutamat, brain-derived neurotrophic factor (BDNF)

Depresi -> gangguan jaringan neural yang memengaruhi regulasi emosi (jaras frontostriatal; sistem limbik: amygdala, hippocampus)

  • Serotonin < dan noradrenalin <: memengaruhi suasana hati depresi
  • Noradrenalin <: motivasi <
  • Serotonin <: gangguan tidur, penurunan nafsu makan, suasana hati sedih, roman muka murung (afek depresi), waham bersalah dan waham curiga
  • Asetilkolin: konsentrasi berkurang, penurunan kemampuan berpikir dan memori
  • Dopamin <: motivasi <, lebih banyak termenung, mengurung diri, tidak berminat pada aktivitas (retardasi tingkah laku), rapport inadekuat
  • NR2C (reseptor glutamat) >
  • Tidak seimbang antara dopamin dan glutamat: gejala psikosis (waham bersalah, waham curiga), autistik
  • GABA <: cemas

Manifestasi Klinis

  • Mood dan afek: kesedihan, berkurangnya reaksi terhadap hal-hal menyenangkan, rasa hampa, apati, cemas, tegang, iritabel, marah
  • Pikiran dan kognisi: konsentrasi berkurang, sulit membuat keputusan, kurang percaya diri, rasa bersalah, rasa tak berdaya, keinginan mati, ide-ide bunuh diri
  • Aktivitas psikomotor: retardasi (melambatnya gerakan-gerakan tubuh, penurunan ekspresi wajah, berkurangnya komunikasi) atau agitasi (gelisah, tidak bisa diam, hiperaktivitas tak bertujuan dan tak terkendali)
  • Somatik: perubahan fungsi dasar (insomnia, hipersomnia, peningkatan/penurunan nafsu makan), sensasi tubuh (pegal, nyeri, rasa tertekan, kedinginan, tungkai berat), dan gejala-gejala viseral (keluhan-keluhan kardiovaskular dan saluran cerna)

PPDGJ III

Gejala utama:

  • Afek depresi
  • Kehilangan minat dan kegembiraan
  • Berkurangnya energi (mudah lelah, penurunan aktivitas)

Gejala tambahan:

  • Konsentrasi dan perhatian kurang
  • Harga diri dan kepercayaan diri kurang
  • Rasa bersalah dan rasa tak berguna
  • Pandangan masa depan suram dan pesimistis
  • Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
  • Gangguan tidur
  • Gangguan makan

 

Sumber:

Departemen Kesehatan R.I. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (ed. 1). Jakarta.

http://www.health.harvard.edu/newsweek/what-causes-depression.htm

http://emedicine.medscape.com/article/286759-overview#aw2aab6b2b3

http://www.livescience.com/35009-brain-chemicals-cooperate-to-cause-psychosis-study-suggests.html

http://treatautism.ca/brain-chemicals/

http://www.academia.edu/7098580/RUMAH_SAKIT_JIWA_DAERAH_DR._AMINO_GONDOHUTOMO_Gejala_dan_Diagnosis_Gangguan_Depresi_Referat_-_ILMU_KESEHATAN_JIWA

http://belajarpsikologi.com/struktur-kepribadian-id-ego-dan-superego-sigmund-freud/

Read Full Post »

Patogenesis

patgen_putus-obat

Patofisiologi

  • Reseptor spesifik µ inaktif (lokasi di otak dan medula spinalis), transmisi dan modulasi nyeri >, nyeri di seluruh badan (terutama sendi; penyebaran ujung saraf bebas)
  • Aktivitas protein G dan adenilat siklase >, cAMP >, pelepasan neurotransmiter >
  • Pelepasan norepinefrin >
    • Vasokonstriksi arteri & vena
    • Hipertensi, takikardi
  • Efek prostaglandin >, subfebris
  • Efek opiat < di SSP: psikosis
  • Pada korteks, hipokampus, talamus, hipotalamus, nigrostriatal, sistem mesolimbik, lokus koreleus, daerah periakuaduktal, medula oblongata, dan medula spinalis
    • disforia (transpor serotonin >, reuptake menuju presinaps >)
    • Roman muka depresif
    • Perhatian kurang, halusinasi auditorik
    • Emosi meninggi, disertai agitasi
    • Bicara mulai melantur
    • Pasien merasa dirinya dibicarakan orang sekitar
    • Dekorum kurang baik, sopan santun maupun kebersihan
  • Efek GABA <: sulit tidur, gelisah
  • Pernapasan >: rangsang pada pusat respirasi di batang otak (kerja norepinefrin yang hiperaktif)
  • Midriasis: stimulasi nukleus Edinger-Westphal N. III <
  • Pada organ viseral:
    • Pleksus myenterikus dan pleksus submukosus -> efek diare, motilitas usus
  • Pelepasan histamin <: vasokonstriksi pembuluh darah kulit -> kulit tampak pucat, menggigil, piloereksi
  • Asetilkolin >: mata berair, hidung banyak mengeluarkan ingus
  • Mata agak cekung -> dehidrasi

Gejala Klinis

  • Biasanya timbul dalam 6-10 jam setelah pemberian obat yang terakhir dan puncaknya pada 36-48 jam.
  • 6 – 12 jam: lakrimasi, rhinorrhea, sering menguap, gelisah
  • 12 – 24 jam: tidur gelisah, iritabel, tremor, midriasis, anoreksia
  • 24-72 jam: semua gejala di atas intensitasnya bertambah disertai adanya kelemahan, depresi, nausea, vomitus, diare, kram perut, nyeri pada otot dan tulang, kedinginan dan kepanasan yang bergantian, peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, gerakan involunter dari lengan dan tungkai
  • Dehidrasi dan gangguan elektrolit
  • Selanjutnya, gejala hiperaktivitas otonom mulai berkurang secara berangsur-angsur dalam 7-10 hari, tetapi penderita masih tergantung kuat pada obat.

 

Sumber:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1979/1/bedah-iskandar%20japardi9.pdf

http://emedicine.medscape.com/article/287790-overview#aw2aab6b2b2

Read Full Post »