Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2015

clo_tet2

1. Penatalaksanaan terhadap Invasi Toksin

  • Antibiotik: memberantas kuman tetanus bentuk vegetatif
  • Beta laktam: penisilin G, ampisilin, karbenisilin, tikarsilin, dan lain-lain
  • Kloramfenikol, metronidazol, aminoglikosida, sefalosporin generasi III
  • Drug of choice: penisilin atau metronidazol

Penisilin G: 100.000 U/kgBB/hari IV (10-14 hari)
Metronidazole: loading dose 15 mg/kgBB (1 jam I), dilanjutkan 7,5 mg/kgBB selama 1 jam per infus (tiap 6 jam)
Sebelum diagnosis ditegakkan dapat diobati lebih dahulu dengan: ampisilin 150mg/kg/hari, kanamisin 15 mg/kgbb/hari

Perawatan Luka

  • Debridement: dibersihkan dari benda asing (setelah pemberian antitoksin dan sedatif)
  • Luka dibiarkan terbuka
  • Tali pusat dapat dibersihkan dengan hidrogen peroksida
  • Omfalektomi (bila perlu)

2. Netralisasi Toksin

  • Serum Antitetanus
    • Dosis: 50.000-100.000 U, setengah dosis secara IM, setengahnya diberikan IV
    • Neonatus: 10.000 unit IV
  • Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG)
    • Dosis: 3000-6000 U secara IM
    • Pengobatan utama, harus diberikan sesegera mungkin

3. Menekan Efek Toksin pada SSP

  • Benzodiazepin (drug of choice)
    • Diazepam: penenang, antikejang, pelemas otot yang kuat
    • Neonatus: 0,3-0,5 mg/kgBB/kali
    • 0,1-0,3 mg/kgBB/kali tiap 2-4 jam IV
  • Barbiturat
    • Fenobarbital IM: 30 mg tiap 8-12 jam
    • Fenobarbital IV: 5 mg/kgBB/hari, dilanjutkan 1 mg/kgBB tiap 10 menit hingga otot perut relaksasi dan spasme berkurang
    • Bersama diazepam: 10 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis (nasogastrik)
  • Fenotiazin
    • Klorpromazin: 12,5 mg IM 4x sehari

Penatalaksanaan Umum

Dirawat di rumah sakit

  • Ruangan yang tenang: unit perawatan intensif neonatus dengan stimuli minimal
  • Letakkan penderita di bawah penghangat dengan suhu 36,2-36,5 °C
  • Infus glukosa 10%
  • Elektrolit 100-125 ml/kgBB/hari
  • Nutrisi: ASI 50 mg/kgBB/hari atau 120 kal/kgBB/hari, dinaikkan bertahap
  • Pemberian oksigen melalui kateter hidung
  • Isap lendir dari hidung dan mulut
  • Trakeostomi bila terjadi obstruksi saluran napas atas akibat spasme atau sekret yang tidak hilang dengan pengisapan, dilakukan pada bayi > 2bulan
  • Neonatus: intubasi endotrakea

Sumber:

Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak edisi 3, FKUP/RSHS
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Infeksi dan Penyakit Tropis, edisi 1, IDI

Read Full Post »

Luka Akut

  • Cedera kulit yang terjadi secara tiba-tiba, bukan dari waktu ke waktu
  • Terjadi proses penyembuhan yang dapat diprediksi sesuai dengan penyembuhan luka yang normal

Metode Konvensional

  • Membersihkan luka dengan normal salin (NaCl 0,9 %)
  • Untuk luka tusuk dapat dilakukan cross incision terlebih dahulu dan luka dibersihkan dengan menggunakan H2O2
  • Kemudian ditutup dengan kasa kering

Wound Bed Preparation

  • Pengelolaan luka untuk mempercepat penyembuhan endogen atau untuk memfasilitasi efektivitas tindakan terapi lainnya.
  • Tujuan: identifikasi penyebab, melaksanakan program perawatan untuk mencapai luka yang stabil, jaringan granulasi yang baik, dan dasar luka yang tervaskularisasi dengan baik

TIME

  • Tissue
  • Infection
  • Moisture
  • wound Edge

1. Tissue

  • Pengelolaan Jaringan
  • Debridement (episodik atau kontinu)
    • autolitik: proses alami, ditunjang dengan penggunaan balutan oklusif atau semioklusif dan lingkungan yang lembab
    • surgikal (tajam)
    • enzimatik: enzim eksogen + enzim endogen
    • mekanikal: dengan irigasi atau balutan kering, sekarang jarang digunakan karena dapat menimbulkan nyeri
    • agen biologis: sekret larva steril

Tujuan: restorasi dasar luka

2. Inflammation

Kontrol infeksi dan inflamasi

  • Tanda: nyeri, eritema, edema, sekret purulen, suhu hangat
  • Menyingkirkan fokus terinfeksi, pembersihan luka
  • Sistemik topikal: antimikrobial (iodin, silver), antiinflamasi, inhibitor protease

Tujuan: mengontrol pertumbuhan bakteri dan mengurangi inflamasi

3. Moisture

Menjaga keseimbangan kelembaban

  • Menggunakan balutan untuk menjaga kelembaban
  • Kompresi, tekanan negatif, atau metode lain untuk menyingkirkan cairan

Balutan pada eksudat: foam, hidrokoloid, alginat, hydrofibre, cadexomer iodine

Luka nekrosis kering: pemelihara kelembaban (hidrokoloid, semipermeabel)

Luka tertutup bernanah: pemelihara kelembaban, penyerap air (hidrokoloid, alginat)

Luka terinfeksi: hindari balutan semioklusif (alginat atau hidrokoloid untuk eksudat yang banyak)

Luka gores, abrasi, bersih: film, tule, balutan kering atau fiksasi

Luka gores, abrasi, kotor: balutan kering atau tule

Luka tusuk atau gigit: balutan terbuka atau kering

Laserasi dengan jahitan: terbuka atau kering

Luka bakar minor: film, tule dengan medikasi, fiksasi

Luka bakar mayor: tule dengan medikasi, balutan plastik

Luka kronik: hidrokoloid, alginat, foam

Hidrokoloid

hydrocolloid-w1205.01.fig6

Hidrogel

dressing2-hydrogel

Foam

hartmann-permafoam-comfort-adhesive-409408-hrtm409408-409

4. Edge

Perbaikan epitel di daerah tepi luka

  • Cari penyebab atau lakukan terapi korektif:
    • debridement
    • skin grafts: penutupan daerah luka dengan kulit pada bagian lain dari tubuh pasien 
    • agen biologis
    • terapi adjuvan

 

Sumber:

http://www.woundsinternational.com/media/issues/122/files/content_86.pdf

http://www.woundcarecenters.org/article/wound-types/acute-wounds

http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/Wound_dressings_acute_traumatic_wounds/

Read Full Post »


About the 19th Century


The 19th Century is noted for its industrial Revolution. Feudalism slowly turns into industry, thus enabling manual labor became easier. Technology became the essential aspect of this era.

This era is divided into two ages: the Romantic period and the Victorian period.


Romantic Period, Early 19th Century


romanticism4-large

Poetry flourished during this period, influenced by the French and the American Revolutions. Poets from this age longed for the chivalry from the Medieval Age, and emphasizes on their imaginations, feelings, and intuition. It is noted that beginning from this age, the poets are known for their individual expressions.

This era is known for their Lake Poets. Lake poets are a group of people living on Lake District, located in northwestern part of England. Mostly they deal with naturalistic works, influenced by their beautiful surroundings.

Examples of Lake Poets are William Wordsworth and Samuel T. Coleridge.

  • William Wordsworth
    • Known for his simple language on his poems.
    • He is known for making ordinary things beautiful by his poems.
    • His notable works are The Daffodils, Lucy, The Prelude, and London.
  • Samuel Coleridge
    • Able to create mysterious events to be logically accepted by the readers.
    • He is known for The Rime of Ancient Mariner, Kubla Khan, and Christabel.

Both of these famous Lake Poets created a collection of poems contained in a book, entitled Lyrical Ballads.

Other notable poets from the Romantic Period are:

  • George Byron
    • He used classical form, influenced by Alexander Pope.
    • His works are usually satires.
    • Notable for Don Juan and Childe Harold.
  • Percy Bycshe Shelly
    • Considered as one of the finest lyrical poet.
    • He is an atheist, and Mary Shelly’s husband.
    • His works are Adonais (describing John Keats’ death), Ozymondias (a sonnet), and Promotheus Unbound (a play)
  • John Keats
    • He loved beauty, and famous for his odes and ballads.
    • His works usually branches from Greek’s myth.
    • His famous works are Endymion and La Belle Dame Sans Merci (believed by people for satirizing his Tuberculosis).

Victorian Period, Late 19th Century


Victorian Period

The poems on this era has became more melancholic than before, and individual expressions are developed much more than it was from the earlier Romantic Period.

Some of the names include:

  • Alfred, Lord Tennyson
    • He struggles to change the ideas of this period.
    • His shorter poems are usually better than the longer ones.
    • His works include The Idylls of the King and Ulysses.
  • Robert Browning
    • His views stated that the content of the poem is more important than its form.
    • His writing style is noted to be difficult.
    • He gained his fame in literary world thanks to his works, The Pied Piper of Hamelin and Pauline.
  • Elizabeth Barett Browning
    • She is considered as one of the greatest English poetess who ever lived.
    • She never gave title to her works, and their themes are usually sad and full of suffering.
    • Some of her popular works are Sonnet from Portuguese and Casa Guild Windows.
  • Dante Gabriel Rosetti
    • His works are mostly musical, known as “fleshly school”, which is considered as “immoral” on that age.
    • He wrote in alliteration, a literary style which has repeated sound of the first consonant in a series of multiple words.
    • He is known for writing A Last Confession, Sudden Light, and Saul’s Beauty.
  • Christina Georgina Rosetti
    • Her poems’ theme are usually sad and religious.
    • She is considered the best in writing excellent sonnet of an unhappy love.
    • Her poems, Goblin Market and Other Poems, made her to be considered as one of the best sonnet writers.
  • Mathew Arnold
    • Also a philosopher, his works are mainly sad and melancholic.
    • He is influenced greatly by Wordsworth and Shakespeare.
    • He is notable through his works, Rugby Chapel and The Scholar Gipsy.
  • Algernon Charles Swinburne
    • Spend his time writing on political verse.
    • Her poems, just like Dante Rosetti’s, are considered controversial by that era’s society.
    • His popular works are Poems and Ballads, Tristam, and Lyonesse.

Read Full Post »

Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus. Mrk 1:8

Bacaan Injil

Markus 1:7-11

1:7  Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.  1:8  Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” 1:9  Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. 1:10  Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. 1:11  Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Renungan

Pembaptisan adalah hal yang sangat penting. Karena saat dibaptis, selain kita menjadi warga kerajaan Allah yang berarti kita memiliki hak sebagai anak Bapa untuk pengampunan dosa dan janji-janji-Nya, kita juga menerima Roh Kudus dalam hidup kita.

Banyak orang bertanya mengapa Yesus sebagai Anak Allah masih perlu dibaptis. Jawabannya, Yesus itu 100% Allah dan 100% manusia. Sebagai manusia, Ia perlu mengalami pembaptisan. Kisah pembaptisan inilah yang meneguhkan bahwa pembaptisan adalah sebuah bagian dalam kekristenan yang sangat penting artinya.

Kisah pembaptisan dan turunnya Roh Kudus juga mencatat betapa pentingnya peran Roh Kudus dalam kehidupan dan pelayanan umat Allah. Yesus belum memulai pelayanan apa pun sebelum Ia dibaptis. Sampai ketika Ia telah dibaptis, Yesus baru memulai pelayanan yang diberikan Bapa kepada-Nya.

Sebelum saya mengalami hidup yang baru, bisa dikatakan hidup kekristenan saya hanyalah sebatas ke gereja setiap hari Minggu. Tidak ada yang saya pikirkan dan lakukan selain itu. Kitab Suci tidak lebih menjadi jimat di pinggir ranjang saya yang membuat saya sedikit tenang saat tidur malam.

Namun saat mengalami hidup yang baru, saya baru menyadari bahwa saya punya Roh Kudus yang tinggal dalam diri saya. Saya berdoa dan membiarkan Roh Kudus memimpin hidup saya dan saat itulah saya diubahkan. Hidup saya berubah secara radikal. Dosa tidak lagi menjerat, hidup menjadi penuh sukacita dan damai sejahtera. Dulunya berdoa hanya sebatas mau makan dan tidur, sekarang menjadi suatu kebutuhan. Tanpa diduga, kerinduan untuk melayani Tuhan menjadi begitu besar dan menggebu-gebu. Alleluya. (Al)

Apa yang saya alami ketika dibaptis atau mengalami hidup yang baru?

Sumber: Renungan Harian Bahasa Kasih

11 Januari 2015 

Read Full Post »

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. – Yoh 3:30

Bacaan Injil

Yohanes 3:22-30

Kesaksian Yohanes tentang Yesus

3:22 Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. 3:23 Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, 3:24 sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. 3:25 Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. 3:26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” 3:27 Jawab Yohanes: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. 3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. 3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. 3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Renungan

Yohanes Pembaptis telah dipenuhi Roh Kudus sejak dalam kandungan ibunya dan telah dipersiapkan untuk berjalan mendahului Tuhan dan mempersiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.

Dalam perjalanannya mempersiapkan jalan bagi Tuhan, ia selalu menunjuk pada Yesus yang dilayaninya. Pada saat ia bersama muridnya melihat Yesus, ia mengatakan pada muridnya “Lihatlah Anak Domba Allah”, dan kedua murid yang mendengar itu pergi mengikuti Yesus. Bagi Yohanes, tak ada rasa tersaingi, cemburu, atau niat untuk menghalangi.

Yohanes juga terkenal sebagai pribadi yang berani dan tegas. Ia tidak kompromi dan selalu lurus jalannya. Dengan misi yang dibawa sejak masih dalam rahim ibunya, ia tumbuh dan bekerja sesuai misi tersebut. Ia teguh berjalan dalam roh memenuhi misi yang diembannya. Apa pun tantangan yang menghadang, dihadapinya dengan berani. Hingga akhir dalam menjalankan misinya ia harus dipenggal, ia tetap tidak goyah. Dengan semboyan “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”, Yohanes menyelesaikan misinya.

Apakah kita menjalankan misi yang Tuhan berikan bagi kita? Apakah kita melakukannya dengan teguh dan dengan semboyan seperti Yohanes, bahwa Tuhan harus semakin besar dan kita semakin kecil?

Marilah kita renungkan apa sebenarnya misi kita di dunia ini. Misi khusus yang Tuhan berikan sejak kita masih dalam rahim ibu kita. (Ev)

Apa yang menjadi prinsip atau motivasi saya dalam melayani?

Sumber: Renungan Harian Bahasa Kasih

10 Januari 2015 

Read Full Post »

Lirik Lagu Rohani: Bayu Senja

Sailing

 

Bait:

1. Hidup bagai biduk, di laut lepas
    Aku pelaut tunggal, siap melaju

2. Arus gelombang tantang, biduk tak daya
    Hati merayu Tuhan, nada dan cemas

3. Malam kabut nan pekat, bintang pun lenyap
     Setia kunanti Dikau, wujud tak nampak

 

Refrain:
O bayu senja, hembusan Sang Ilahi
Bawa bidukku ke tepian cerah,
pantai umat tebusan

Read Full Post »

Dibacakan pada Misa Minggu Biasa VI, 14/15 Februari 2015

Saudara-Saudari terkasih,
Kita akan memasuki masa Prapaskah yang dimulai pada hari Rabu Abu, 18 Februari 2015. Setiap tahun dahi kita ditandai salib dengan abu sebagai simbol hati dan budi yang mau bertobat dengan cara bermati raga untuk mengolah diri dan beramal bakti bagi sesama seraya mendekatkan diri pada Allah.

Seruan yang menyertai tanda salib pada dahi adalah:

”Bertobatlah dan percayalah pada Injil!” Bertobat berarti menyelaraskan hati dan budi kita dengan apa yang Allah kehendaki sehingga seluruh energi dan materi yang kita miliki dikembangkan dan dimanfaatkan demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia. Percaya pada Injil berarti meyakini dan mengamini warta Injil yang menyerukan ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat.” (Mrk 1: 15) Seruan pertobatan dan ajakan untuk mewujudnyatakan Kerajaan Allah bukanlah sekedar refren yang diulang-ulang, tetapi merupakan komitmen setiap murid Kristus. Mewujud-nyatakan Kerajaan Allah berarti menciptakan transformasi kehidupan, yaitu perubahan konkret entah di bidang material, sosial, mental maupun spiritual yang buahnya dirasakan baik secara personal maupun komunal.

Pertobatan kita ini perlu ditempatkan dalam konteks perubahan tersebut. Saat ini banyak orang mengalami masalah dengan berbagai kesusahan yang tak kunjung selesai. Kita menjumpai orang sulit, seakan tak akan pernah berubah. Kita bertemu orang sakit berkepanjangan, seolah tak akan sembuh. Kita melihat orang yang berkubang dalam kelemahan dan bergelimang dosa, sepertinya tak akan bertobat. Semua kesusahan, penyakit, dan dosa sesungguhnya dapat diatasi. Akan tetapi, sejauh manakah orang yang bermasalah (”sakit”) mau sembuh dan sungguh berusaha untuk sembuh. Banyak orang yang bermasalah hanya duduk diam tanpa asa dan menanti tanpa usaha seraya berteriak:

”Percuma! Saya tak mungkin sembuh!”

Dalam Injil hari ini, kita diingatkan bahwa awal dari perubahan positif adalah kemauan yang didukung oleh iman. Pertama, orang yang sakit kusta harus mempunyai keinginan untuk sembuh. Ia mencari siapa yang dapat menyembuhkannya sampai ia bertemu dengan Yesus. Kedua, ia percaya bahwa selain mempunyai kuasa penyembuhan, Yesus juga akan menerimanya. Orang tersebut harus memiliki pikiran positif dan harapan kuat. Ketiga, ia sungguh beriman bahwa Yesus adalah utusan Allah yang menjadikan segalanya baik. Ia yakin bahwa penyakitnya sekalipun menahun dapat disembuhkan. Keempat, ia terbuka dengan rendah hati; tak mau memaksakan kehendak diri apalagi mendikte Yesus. Ia berserah diri pada kehendak Tuhan. Maunya sembuh, tetapi Tuhan tahu yang terbaik. Maka, orang kusta itu datang kepada Yesus dengan terbuka penuh harapan: ”Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.” Melihat iman yang demikian besar itu, Yesus menjawab: ”Aku mau, jadilah sembuh!” Kesembuhan terjadi karena si sakit mau pulih dan Tuhan menghendakinya. Iman seperti ini mengingatkan kita akan iman Maria yang berseru kepada malaikat: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataaan-Mu itu.” Kepasrahan semacam ini menghantar kita pada doa Yesus di taman Getsemani: ”Janganlah seperti yang Kuhendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Akhirnya, semua ini membawa kita pada doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus sendiri: ”Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di dalam Surga.”

Perubahan positif, yaitu kepulihan dari segala ketidak-beresan sepantasnya merupakan bagian dari usaha tobat kita yang pada tahun ini mengambil tema ”Menjadi Manusia Ber-APP.” Manusia ber-Aksi-Puasa-Pembangunan adalah pribadi yang hati dan budi serta energi dan materinya tertuju pada pembangunan umat dan masyarakat. Ungkapan tobat ditempatkan dalam upaya mengembangkan umat dan menyejahterakan masyarakat. Kita diundang untuk terlibat dalam kehidupan dan perjuangan masyarakat; bagaimana kita makin menyejahterakan orang-orang di sekitar kita. Keberhasilan pertobatan kita juga diukur dari sejauh manakah Gereja makin mengumat dan memasyarakat.

Kita makin mengumat kalau hidup kita sehati dan sejiwa bertekun dalam hidup persaudaraan, pewartaan, perayaan (liturgi), dan pelayanan dengan semangat berkorban. Kita makin memasyarakat kalau kita menjadi bagian dari masyarakat dengan cara aktif terlibat dalam kegiatan dan kehidupan masyarakat. Semoga berkat kehadiran Gereja yang sehati sejiwa, masyarakat sekitar mengalami perubahan positif: pangan, sandang, dan papannya makin baik; kehidupan mentalnya makin dewasa, sikapnya makin toleran dan solider; hidup keagamaannya makin takwa dan imannya makin teguh.

Sri Paus Fransiskus menekankan mutlaknya dimensi sosial dari pewartaan Injil dan dimensi komunal dari hidup spiritual. ”Iman sejati -yang tak pernah nyaman atau sepenuhnya individual selalu melibatkan hasrat mendalam untuk mengubah dunia …. Seluruh umat Kristiani, termasuk para pastor mereka, dipanggil untuk menunjukkan kepedulian membangun dunia yang lebih baik” (Evangelii Gaudium 183). Sri Paus menambahkan bahwa: ”Iman kita akan Yesus Kristus, yang menjadi miskin, dan selalu dekat dengan kaum miskin dan kaum tersingkir, adalah dasar kepedulian kita pada pengembangan seutuhnya para anggota masyarakat yang paling terabaikan.” (186) Di situlah orang yang bertobat dan percaya pada Yesus Kristus ditantang untuk secara konkret peduli dan terlibat dalam pengembangan masyarakat.

Marilah kita menjadi manusia ber-APP dengan penuh sukacita, bukan hanya melalui pantang dan puasa material (makanan dan minuman), tetapi juga secara spiritual dengan bermatiraga untuk memperbaiki diri, berdoa untuk makin dekat dengan Yang Ilahi, dan beramal untuk mengabdi sesama terutama yang membutuhkan. Semoga pantang dan puasa kita merupakan usaha untuk sehati sejiwa bersama umat terlibat dalam masyarakat. Dengan demikian, laku tobat kita pada masa Prapaskah ini membawa perubahan positif; bukan hanya diri sendiri yang disentuh dan disembuhkan, tetapi juga sesama dijamah dan diutuhkan. ”Tuhan, kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku! Jadikanlah aku manusia ber-APP!”

                   Bandung, 10 Februari 2015
                        Ut diligatis invicem

                                       
               
             Antonius Subianto Bunjamin OSC

Read Full Post »

Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. – Luk 5:16

Bacaan Injil

Lukas 5:12-16

Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta

5:12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” 5:13 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. 5:14 Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” 5:15 Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. 5:16 Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

Renungan

Ketika saya sedang mempersiapkan renungan ini, saya mendengar anak saya yang kecil dengan lantang menyerukan bahwa ia sedang membantu kakaknya mencari barangnya yang hilang. Karena sedang berkonsentrasi, saya pun tidak menghiraukannya. Saya tahu ia mengatakannya berulang-ulang dengan harapan mendapat pujian dari saya. Ketika saya sama sekali tak berkomentar, akhirnya ia pun menghampiri saya dan mengatakannya sekali lagi kepada saya. Karena tak ingin membuatnya kecewa, saya pun memberikan sedikit pujian bahwa apa yang dilakukannya baik.

Seringkali kita sebagai orang dewasa pun melakukan hal sama seperti yang dilakukan anak-anak. Ketika kita melakukan sesuatu, kita mengharapkan pujian atau tepukan tangan dari orang lain. Kita berharap orang lain memperhatikan diri dan perbuatan kita. Kita bahkan terkadang menunggu respons orang lain yang seolah bisa membuat kita lebih membusungkan dada lagi.

Mungkin … ketika hal ini terjadi pada diri kita, saatnya bagi kita untuk mengambil langkah mundur dan melihat motivasi kita. Apakah kita melakukannya untuk kemuliaan Tuhan, ataukah kita mulai lalai dan mencari kemuliaan untuk diri sendiri? Dalam Injil diceritakan bahwa Yesus sendiri, setelah melakukan mukjizat penyembuhan, Ia malah mengundurkan diri ke tempat sunyi dan berdoa. Jika Yesus yang adalah Tuhan, yang memang mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai mukjizat tidak mencari popularitas bagi diri-Nya sendiri, lalu siapakah kita yang ingin membanggakan diri karena melakukan suatu hal yang kecil bagi Tuhan? Lupakah kita kalau tanpa Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa? (Jc)

Apakah saya masih sering mencari popularitas diri dalam melakukan sesuatu?

Sumber: Renungan Harian Bahasa Kasih

9 Januari 2015

Read Full Post »

watch_as_the_seeds_float_away-906441

Refrain:

Jika biji tidak mati, ia tetap tinggal biji.
Namun bila ia musnah, berbuah berlimpah-limpah.

Bait:

1. Pada suatu ketika, kaki murid dibasuh-Nya.

    Ia Raja hina dina, tanpa mahkota.

2. Ia sahabat sejati, demi kita Ia mati

    Hidup jadi penuh arti, dengan mengabdi.

3. Seperti roti dikunyah, menguatkan badan lemah.

    Seperti humus di tanah, menyubur sawah.

4. Siapa yang hilang nyawa, ia akan mendapatnya

    Siapa yang terkecil jadi terbesar. 

Lagu dan Syair: Bambang Sugiharto

Read Full Post »

Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku. – Luk 4:18

Bacaan Injil

Lukas 4:14-22a

Yesus kembali ke Galilea

4:14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. 4:15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.

Yesus ditolak di Nazaret

4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. 4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 4:18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” 4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”

Renungan

Tanggung jawab pertama Yesus adalah membawa Kabar Gembira bagi semua orang. Namun sebelum Ia melakukan karya-karya-Nya, Roh Kudus melakukan dua karya dalam kehidupan Yesus. Pertama, Roh Kudus turun ke atas-Nya melalui pembaptisan Yohanes di sungai Yordan. Kedua, Yesus dibawa ke padang gurun.

Untuk menerima kuasa Roh Kudus seperti yang terima Yesus dari Bapa, kita harus lebih dulu masuk ke kamar pengakuan agar menerima pembaharuan pembaptisan. Kemudian, kita harus pergi ke padang gurun pertobatan dengan ketaatan agar mengerti betapa tak terbatasnya kasih dan penyertaan Bapa.

Berbicara tentang kuasa Roh Kudus, memang benar bahwa kita tak punya kekuatan tanpa bantuan kuasa Tuhan melalui Roh Kudus. Pengalaman saya dalam pelayanan pujian mengajar banyak tentang hal itu. Ketika saya tidak melakukan persiapan yang benar sebagai seorang hamba Tuhan, saya mengalami kekeringan dalam pelayanan yang saya lakukan. Bukan soal saya tidak bisa menyanyi dengan baik, tapi saya tidak bisa merasakan hadirat Tuhan dalam pujian dan penyembahan yang saya naikkan. Hal ini tentu juga akan berdampak kepada umat, mereka juga tidak akan merasakan jamahan Tuhan. Hal itu terjadi karena pelayan-Nya tidak menyediakan tempat di dalam dirinya agar Tuhan hadir dan tinggal di dalamnya.

Jika kita ingin menjadi saksi-Nya dan pembawa Kabar Gembira-Nya, kita harus memiliki kuasa Roh Kudus. Untuk itu, kita perlu merendahkan hati di hadapan Tuhan dan membangun mezbah-Nya dalam diri kita agar kita dipenuhi oleh kuasanya sehingga setiap apa pun yang kita lakukan, hadirat Tuhan dapat kita rasakan. (In)

Apakah saya melayani dengan kuasa Tuhan?

Sumber: Renungan Harian Bahasa Kasih

8 Januari 2015 

Read Full Post »

Older Posts »