Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2015

2.8  Penatalaksanaan Postpartum Blues

 

Postpartum blues umumnya sembuh sendiri dalam jangka waktu antara 2 minggu hingga 3 bulan. Gejala klinis dari kondisi tersebut biasanya dapat menghilang sendiri. Dukungan sosial memiliki peranan penting dalam terapi. Medikasi biasanya tidak diperlukan.

Seperti bentuk lain dari depresi, depresi postpartum dapat bertahap dan kelanjutan. Gejala dapat berkembang progresif, mulai dari depresi ringan, sedang, lalu menjadi berat. Pendekatan terapi haruslah berdasarkan keparahan gejala dan derajat pemburukan.

Terapi lini pertama adalah psikoterapi. Dua metode terapi yang telah terbukti bermanfaat adalah terapi interpersonal dan terapi kognitif-perilaku (cognitive-behavioral therapy (CBT)) jangka pendek. Terapi interpersonal memiliki durasi waktu tertentu dan berorientasi pada hubungan interpersonal. Terapi ini mungkin efektif untuk wanita dengan depresi ringan. Terapi kognitif-perilaku mendidik klien untuk mengenali dan menyadari ketidakakuratan mereka dalam berpikir sehingga mereka dapat memiliki sudut pandang yang lebih realistik terhadap dunia. Terapi ini lebih bermanfaat pada klien dengan gejala-gejala cemas yang menonjol. Terapi gabungan antara psikoterapi dan medikasi akan membawa manfaat yang lebih baik bagi banyak pasien.

Terapi lini kedua adalah terapi farmakologis. Beberapa pasien memang membutuhkan perawatan medis tersebut. Belum ada ketetapan dalam pengobatan postpartum blues. Maka itulah, depresi postpartum seringkali diterapi sebagai depresi mayor. Dosis dan periode pengobatan pada kondisi klinis ini sama dengan waktu dan dosis yang digunakan untuk depresi mayor.

Beberapa klinisi cenderung melakukan terapi yang kurang agresif untuk depresi postpartum, bila dibandingkan dengan gangguan afektif lainnya. Namun demikian, pengobatan yang tidak memadai untuk depresi postpartum akan meningkatkan risiko timbulnya gejala sisa dari gangguan afektif tersebut. Depresi dapat menjadi kronis, rekuren dan/atau refrakter. Sebagaimana gangguan afektif lainnya, penggunaan farmakoterapi harus dikombinasikan dengan konseling, kelompok dukungan, atau keduanya. Ibu yang mengalami depresi postpartum harus melanjutkan pengobatan hingga 6 sampai 12 bulan setelah melahirkan untuk memastikan pemulihan sempurna.

Tidak ada antidepresan yang telah disetujui sebagai agen kategori A untuk digunakan selama kehamilan atau laktasi. Bagaimana pun juga, antidepresan diindikasikan pada pasien dengan tanda-tanda depresi, termasuk gangguan pola tidur dan pola makan, konsentrasi lemah, atau perubahan psikomotor.

Hanya terdapat beberapa studi yang telah mengevaluasi antidepresan pada pasien postpartum. Dalam semua studi ini, jadwal dan pemberian dosis yang digunakan untuk depresi jenis lain memiliki efek terapi dan dapat ditoleransi dengan baik. Setiap wanita dalam masa laktasi harus diberi informasi bahwa semua antidepresan disekresikan dalam ASI pada kadar yang bervariasi. Paparan pada masa neonatal tampaknya memiliki tingkat efek samping yang rendah. Meski begitu, efek jangka panjang terhadap otak yang sedang berkembang belum diketahui.

Dengan adanya perubahan besar dalam faktor hormonal pada periode postpartum, maka terapi hormonal memiliki kemungkinan untuk mengobati depresi postpartum. Beberapa penulis menyarankan terapi progesteron, tetapi belum ada data yang mendukung. Penelitian terbaru telah menjelaskan manfaat pemberian estrogen transdermal, baik sebagai terapi tunggal ataupun dalam kombinasi dengan antidepresan.

Menurut Cohen dan Rosenbaum, penggunaan antidepresan trisiklik tidak menimbulkan risiko apabila digunakan pada masa kehamilan. Antidepresan trisiklik tidak berefek teratogenik, bahkan pada trimester pertama. Mereka berpendapat bahwa medikasi yang paling aman digunakan pada masa tersebut adalah nortriptilin, imipramin, dan fluoksetin. Pemilihan antidepresan untuk setiap pasien haruslah sesuai dengan gejala yang paling menonjol, seperti halnya dalam depresi berat. Jadwal dan pemberian dosis setara dengan dosis yang digunakan pada terapi depresi mayor dan tidak terkait dengan kehamilan  atau masa postpartum. Regimen pengobatan awal dapat ditingkatkan sesuai dengan simptomatologi.

Pada pasien dengan risiko bunuh diri, atau dengan ide bunuh diri, rujukan dan rawat inap diperlukan. Depresi postpartum yang telah parah menunjukkan respons yang cepat terhadap terapi elektrokonvulsif.

Pengobatan optimal untuk pasien saat ini adalah psikoterapi. Jika hasil yang optimal tidak tercapai dalam waktu yang ditentukan, medikasi akan menjadi lini terapi berikutnya. Bila gejala memburuk sebelum jangka waktu terapi telah habis, pemberian medikasi haruslah dipertimbangkan. Terapi interpersonal terbukti memperbaiki keadaan pasien. Pemberian fluoksetin dimulai dari dosis 10 mg per hari. Pasien yang telah diterapi dengan kombinasi obat dan terapi interpersonal mengalami perbaikan pola tidur, pola makan, dan energi. Libido tetap pada tingkat rendah. Semua gejala membaik dengan peningkatan dosis fluoksetin sebanyak 20 mg per hari dan dilanjutkan dengan beberapa minggu psikoterapi.

 

Sumber:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC181045/

Advertisements

Read Full Post »

JezuUfamTobie

Koronka berasal dari bahasa Polandia, artinya mahkota kecil atau untaian manik-manik indah yang kita hadiahkan kepada orang yang kita kasihi secara istimewa. Pada tahun 1935, Santa Faustina mendapat suatu penglihatan akan seorang malaikat yang diutus Tuhan untuk melaksanakan murka Allah atas dunia. Santa Faustina mulai berdoa mohon belas kasihan Tuhan, namun doanya tanpa kuasa di hadapan murka ilahi. Sekonyong-konyong ia melihat Tritunggal Mahakudus dan merasakan kuasa rahmat Yesus melingkupinya. Pada saat yang sama ia mendapati dirinya memohon dengan sangat belas kasih Tuhan dengan kata-kata yang ia dengar dalam batinnya. Sementara ia terus-menerus memanjatkan doa yang diinspirasikan kepadanya, malaikat pelaksana murka ilahi menjadi tak berdaya dan tak kuasa melaksanakan hukuman yang memang sudah sepantasnya. Keesokan harinya, sementara Santa Faustina memasuki kapel, lagi ia mendengar suara dalam batinnya, “Setiap kali engkau masuk ke dalam kapel, ucapkanlah segera doa yang kemarin Ku-ajarkan kepadamu.”

Selanjutnya Yesus mengajarkan Koronka (= Rosario) Kerahiman Ilahi kepada Santa Faustina:

“Doa ini dimaksudkan sebagai sarana untuk memadamkan murka-Ku. Hendaknya engkau mendaraskannya selama sembilan hari pada rosario biasa dengan cara ini: Pertama-tama hendaknya engkau mengucapkan satu Bapa Kami, satu Salam Maria dan satu Aku Percaya, kemudian,

pada manik-manik “Bapa kami” hendaknya engkau berdoa:
`Bapa yang kekal,
kupersembahkan kepada-Mu
Tubuh dan Darah
Jiwa dan Ke-Allah-an
Putra-Mu yang terkasih,
Tuhan kami Yesus Kristus,
sebagai pemulihan dosa-dosa kami
dan dosa seluruh dunia.’

pada manik-manik “Salam Maria” hendaknya engkau berdoa:
`Demi sengsara Yesus yang pedih,
tunjukkanlah belas kasih-Mu
kepada kami dan seluruh dunia’

Sebagai penutup hendaknya engkau mendaraskan tiga kali doa berikut:
`Allah yang Kudus,
Kudus dan berkuasa,
Kudus dan kekal,
kasihanilah kami
dan seluruh dunia’ (474-476).”

Dalam penampakan-penampakan selanjutnya, Yesus menjelaskan bahwa Koronka ini tidak hanya diperuntukkan baginya, melainkan bagi seluruh dunia.

“Doronglah jiwa-jiwa untuk mendaraskan Koronka yang telah Aku berikan kepadamu (1541)…. Barangsiapa mendaraskannya akan menerima rahmat berlimpah di saat ajal (67)…. Apabila koronka ini didaraskan di hadapan seorang yang di ambang ajal, Aku akan berdiri di antara Bapa-Ku dengan dia, bukan sebagai Hakim yang adil, melainkan sebagai Juruselamat yang Penuh Belas Kasih (1541)…. Para imam akan menganjurkannya kepada para pendosa sebagai harapan keselamatan mereka yang terakhir. Bahkan andai ada seorang pendosa yang paling keras hati sekalipun, jika ia mendaraskan koronka ini sekali saja, ia akan menerima rahmat dari belas kasih-Ku yang tak terhingga (687)…. Aku hendak menganugerahkan rahmat-rahmat yang tak terbayangkan kepada jiwa-jiwa yang percaya kepada kerahiman-Ku (687)…. Melalui Koronka ini, engkau akan mendapatkan segala sesuatu, jika yang engkau minta itu sesuai dengan kehendak-Ku (1731).”

Koronka Kerahiman Ilahi adalah doa permohonan yang merupakan kelanjutan dari Kurban Ekaristi, jadi teristimewa tepat jika didaraskan setelah kita ikut ambil bagian dalam Misa Kudus. Koronka dapat didaraskan kapan saja, tetapi Tuhan kita secara khusus mengatakan kepada Santa Faustina untuk mendaraskannya selama sembilan hari berturut-turut menjelang Pesta Kerahiman Ilahi yang jatuh pada hari Minggu pertama sesudah Paskah (yaitu Minggu Paskah II). “Dengan Novena [Koronka Kerahiman Ilahi], Aku akan menganugerahkan segala rahmat yang mungkin bagi jiwa-jiwa (796).”

Tepat juga mendaraskan Koronka pada “Jam Kerahiman Ilahi” – setiap jam tiga siang, guna mengenangkan wafat Kristus di salib.

Sumber: 1. “The Divine Mercy Message and Devotion” by Fr Seraphim Michalenko, MIC and Vinny Flynn; published by the Archdiocesan Divine Mercy Devotion, Singapore; 2. Marians of the Immaculate Conception; http://www.marian.org/divinemercy; 3.The Divine Mercy; http://www.thedivinemercy.org; 4. “Yesus Engkaulah Andalanku – Devosi kepada Kerahiman Ilahi” oleh Stefan Leks; penerbit Kanisius 1993; 5. “Rasul Kerahiman Ilahi – Devosi kepada Kerahiman Ilahi” oleh P. Ceslaus Osiecki, SVD, “Kemah Tabor”, Pos Mataloko 86461 – Flores; 6. tambahan dari berbagai sumber

Disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya

Yesus Kau Andalanku

Read Full Post »

Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia. – Mrk 1:17

Bacaan Injil

Markus 1:14-20

Yesus tampil di Galilea

1:14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, 1:15 kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Yesus memanggil murid-murid yang pertama

1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 1:17 Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” 1:18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 1:19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. 1:20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Renungan

Salah seorang sahabat saya adalah seorang full-timer. Ia lahir dari keluarga yang sangat religius. Orang tuanya aktif pelayanan dan saling mengingatkan untuk selalu berdoa dan ke gereja. Kakak dan adiknya semuanya menjadi full-timer. Jujur, saya merasa minder dan iri melihatnya.

Saya pernah mengatakan padanya, “Ah, kamu sih enak karena selalu didukung. Lah, kalau saya harus menanggung biaya orang tua dan lainnya. Rasanya terlalu berat kalau menjadi full-timer.” Mendengar itu, ia tertawa terbahak-bahak. Ia katakan bahwa setiap orang dipanggil untuk tugasnya masing-masing. Orang tuanya bekerja untuk biaya hidup, sekaligus biaya pelayanan anak-anaknya. Ibarat mobil, anak-anak mereka adalah mobil yang bergerak, dan bensinnya dari orang tua. Orang yang bukan full-timer memiliki tugas yang sama pentingnya dengan yang full-timer. Kalau semua jadi full-timer, siapa yang men-support?

Yesus memilih dan memanggil kedua belas murid untuk membantunya melaksanakan misinya di dunia. Kedua belas orang ini sebelumnya telah memiliki pekerjaan masing-masing. Ada kalanya panggilan Tuhan membuat kita “banting setir” dari profesi sebelumnya, seperti dari pemungut cukai menjadi murid-Nya. Namun ada pula panggilan Tuhan yang membuat kita tetap pada pekerjaan sekarang, hanya saja tujuannya menjadi lebih besar. Full-timer atau bukan, semua upahnya sama. Masing-masing satu dinar di mata Tuhan. (Ch)

Apa misi Tuhan dalam pekerjaan saya?

Sumber:

Renungan Harian Bahasa Kasih

12 Januari 2015

Read Full Post »

symptoms-panic_attack

2.7  Pemeriksaan Penunjang pada Gangguan Panik

2.7.1 Kepentingan Pemeriksaan Penunjang pada Gangguan Panik

 

Tidak ada prosedur invasif yang diperlukan untuk mendiagnosis gangguan panik. Meski begitu, hal tersebut mungkin berguna untuk menyingkirkan pertimbangan terhadap adanya kondisi lain dalam diagnosis diferensial. Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, riwayat pasien, informasi kolateral, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan status mental tetaplah cara diagnosis utama untuk gangguan panik (Memon, 2015).

Penggunaan elektrokardiografi (EKG) mungkin diperlukan untuk menilai tanda-tanda preeksitasi ventrikel yang ditandai dengan gambaran PR yang pendek dan gelombang delta. Pemeriksaan tersebut dapat juga dilakukan untuk melihat interval QT pada pasien dengan palpitasi. Hal ini juga berguna untuk menilai adanya iskemia, infark, ataupun perikarditis pada pasien dengan keluhan nyeri dada (Memon, 2015).

Pemantauan rawat jalan Holter atau perekam transtelefonik jarang diperlukan, tetapi harus dipertimbangkan pada pasien dengan keluhan palpitasi yang berhubungan dengan sinkop atau keadaan mendekati sinkop. Pasien yang mungkin berisiko untuk emboli paru memerlukan pemeriksaan penunjang yang sesuai. Misalnya, penentuan level D-dimer, CT scan spiral, scanning ventilasi-perfusi (V/Q), ultrasonografi Doppler, atau angiografi paru (Memon, 2015).

 

2.7.2 Pemeriksaan Laboratorium pada Gangguan Panik

 

Pemeriksaan laboratorium yang dapat menyingkirkan kemungkinan gangguan medis selain gangguan panik adalah sebagai berikut:

 

  • Elektrolit serum untuk mengecualikan hipoglikemia dan asidosis.
  • Glukosa serum untuk menyingkirkan hipoglikemia.
  • Enzim jantung pada pasien yang diduga mengalami sindrom koroner akut.
  • Hemoglobin serum pada pasien dengan keadaan mendekati sinkop.
  • Thyroid-stimulating hormone (TSH) pada pasien yang dicurigai hipertiroidisme.
  • Penapisan toksikologi urin untuk amfetamin, ganja, kokain, dan fensiklidin pada pasien yang diduga mengalami intoksikasi.
  • Uji D-dimer untuk mengecualikan emboli paru

 

Nilai oksimetri nadi biasanya dalam rentang referensi atau batas atas kisaran referensi. Nilai kapnografi pada akhir tidal biasanya kurang dari 30 torr selama hiperventilasi. Analisis gas darah berguna dalam mengkonfirmasi hiperventilasi (alkalosis respiratorius) dan mengecualikan hipoksemia atau asidosis metabolik. Adanya hipoksemia dengan hipokapnia atau gradien alveolar-arterial (A-a) yang melebar meningkatkan kecurigaan terhadap emboli paru (Memon, 2015).

Analisis elektrolit tak perlu dilakukan, meskipun beberapa kelainan mungkin dapat ditemukan pada hiperventilasi. Fosfor serum dan kalsium terionisasi dapat berkurang pada pasien dengan hiperventilasi dan spasme karpopedal, tanda Chvostek, atau tanda Trosseau. Kadar kalsium serum dapat berada dalam rentang referensi (Memon, 2015).

Subjek manusia dengan kecemasan panik mengalami peningkatan kadar orexin dalam cairan serebrospinal. Orexin, juga dikenal sebagai hipokretin, diduga memiliki peran penting dalam patogenesis serangan panik pada tikus percobaan. Hipokretin juga merupakan gen yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan panik (Memon, 2015).

 

2.7.3 Pemeriksaan Radiologi pada Gangguan Panik

 

Saat ini tidak ada temuan pada studi pencitraan yang spesifik untuk gangguan panik, meskipun studi ini dapat dilakukan untuk mengevaluasi bukti anatomis dari kemungkinan diagnosis lainnya. Pemeriksaan dapat termasuk elektroensefalogram (EEG) untuk mengecualikan kejang kompleks parsial. Neuroimaging fungsional tidak digunakan dalam praktik klinis rutin, baik untuk kepentingan diagnosis maupun penilaian respons pengobatan (Memon, 2015).

Namun demikian, pemindaian tomografi emisi positron (PET) menunjukkan adanya peningkatan aliran di wilayah parahipokampal dan berkurangnya pengikatan reseptor serotonin tipe 1A pada gyrus cinguli anterior dan posterior, serta raphe, pada pasien dengan gangguan panik. Beberapa studi yang menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) telah menunjukkan volume lobus temporalis yang lebih kecil, walau volume hipokampus normal, pada pasien dengan gangguan panik (Memon, 2015).

Daftar Pustaka

Memon, M. A. (2015, Januari 5). Panic Disorder. (I. Ahmed, Editor) Diakses pada Maret 13, 2015, dari Medscape: http://emedicine.medscape.com/article/287913-workup

 

Read Full Post »

Definisi

  • Gangguan psikiatrik mayor
  • Perubahan pada persepsi, afek, dan perilaku seseorang
  • Kesadaran dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara
  • Defisit kognitif tertentu dapat berkembang kemudian

Gejala Positif

  • Delusi
  • Halusinasi
  • Kekacauan pikiran
  • Gaduh gelisah
  • Perilaku aneh atau bermusuhan

Gejala Negatif

  • Alam perasaan (afek) tumpul atau mendatar
  • Menarik diri atau isolasi diri dari pergaulan
  • ‘Miskin’ kontak emosional (pendiam, sulit diajak bicara), pasif, apatis (acuh tak acuh)
  • Sulit berpikir abstrak
  • Kehilangan dorongan kehendak atau inisiatif

Epidemiologi

  • Semua kelompok masyarakat (hampir 1% populasi dewasa)
  • Onset: usia remaja akhir, awal masa dewasa
  • Laki-laki: 15-25 tahun
  • Perempuan: 25-35 tahun
  • Laki-laki > perempuan
  • Urban > rural

Etiologi

  • Genetik: quantitative trait loci (disebabkan beberapa gen yang berlokasi di tempat berbeda-beda) -> gradasi tingkat keparahan
  • Biokimia -> neurotransmiter tak seimbang (dopamin, norepinefrin, serotonin)
  • Psikologis dan sosial: hubungan orang tua – anak patogenik, trauma kejiwaan, interaksi patogenik dalam keluarga

Fase

  • Pramorbid -> kepribadian pramorbid odd/eccentric cluster (paranoid, skizoid, skizotipal)
  • Prodromal: cemas, gundah, gelisah, merasa diteror, depresi (hari-bulan)
  • Aktif: kekacauan perasaan, pikiran, dan perilaku
  • Residual: gejala sisa (menarik diri, perilaku aneh)

Pedoman Diagnostik Skizorenia (PPDGJ III)

Harus ada sedikitnya 1 gejala (biasanya 2/> bila gejala-gejala itu kurang tajam/ kurang jelas):

  • Thought of echo, thought insertion or withdrawal, thought broadcasting.
  • Delusion of control, delusion of influence, delusion of passivity, delusional perception.
  • Halusinasi auditorik
  • Waham-waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil.

Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini:

  • Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
  • Arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan, sehingga terjadi inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.
  • Perilaku katatonik.
  • Gejala-gejala negatif.
  • Selama kurun waktu 1 bulan atau lebih (tidak berlaku untuk fase nonpsikotik prodromal).
  • Halusinasi dan waham kurang menonjol.
  • Perilaku tanpa tujuan dan tanpa maksud.
  • Adanya preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat – buat mengenai agama, filsafat dan tema abstrak, yang membuat orang sukar memahami jalan pikiran pasien.
  • Afek dangkal dan tidak wajar yang disertai cekikikan atau perasaan puas diri, senyum sendiri, sikap tinggi hati, tertawa menyeringai, mengibuli atau bersenda gurau, kata yang diulang-ulang.
  • Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu dan inkoheren.
  • Perilaku tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diprediksi, menyendiri, hampa tujuan dan hampa perasaan.

Umumnya diperlukan pengamatan selama 2-3 bulan untuk memastikan menetap.

—

Heteroanamnesis

—Didapatkan pada Senin, 9 Maret 2015

—Dari:

  • Arif Warsito, SE , 51 tahun (ayah kandung)
  • Ny. Arif Warsito, 47 tahun (ibu kandung)

—Keluhan utama: sulit tidur, tidak nafsu makan, lebih sering mengurung diri di kamar, sering melamun sejak drop out dari universitas

—Keluhan tambahan:

  • —Bicara sendiri
  • —Ketika diajak bicara lebih sering senyum-senyum
  • —Kadang tertawa sendiri tanpa sebab
  • —Gampang tersinggung, merasa orang-orang membicarakannya

—

—Riwayat Penyakit Sekarang

  • —Sulit tidur, tidak nafsu makan, lebih sering mengurung diri di kamar, sering melamun
  • —Ditanyakan perubahan perilakunya -> menatap dan tidak banyak bicara
  • —Bicara sendiri, bicara tidak nyambung, ketika diajak bicara lebih sering senyum-senyum
  • —Cengengesan dan kadang tertawa sendiri tanpa sebab
  • —Pasien merasa dibicarakan dan mudah tersinggung

—

—Riwayat Penyakit Dahulu

  • 6 bulan yang lalu: pasien sulit tidur, tidak nafsu makan, lebih sering mengurung diri di kamar, sering melamun, merasa dibicarakan.
  • 2 bulan yang lalu: perilaku pasien semakin aneh, bicara sendiri, bicara tidak nyambung, cengengesan dan kadang tertawa sendiri tanpa sebab, apabila sedang sendirian sering melihat sesosok makhluk gelap di kamar yang berbicara pada dirinya.
  • 1 bulan yang lalu: tingkah seperti anak-anak, berpakaian rangkap, berlapis, tak sopan, jarang mandi, sensitif, apabila keinginannya tidak dituruti menjadi marah dan menangis.
  • 1 minggu yang lalu: berkata-kata kasar dan melempar-lempar barang serta mengatakan hal-hal aneh bahwa di dalam tubuhnya ada roh jahat
  • 5 Maret 2015: dirawat di RSJ.
  • Pasien pernah mengalami cedera kepala saat jatuh dari motor 2 tahun lalu, tidak pernah kejang-kejang. Tak memiliki riwayat asma, kencing manis, dan penyakit jantung.

—

Riwayat Keluarga

  • —Anak ke-3 dari 3 bersaudara, bungsu.
  • —Pasien kini tinggal dengan kedua orang tuanya dan kakaknya.
  • —Ayah karyawan swasta, ibu rumah tangga -> keluarga ekonomi cukup.

—Struktur keluarga yang tinggal serumah saat ini:

  • —Hubungan ayah dan ibu pasien cukup harmonis
  • —Pasien adalah anak bungsu yang paling disayang
  • —Ibunya sangat memanjakan pasien -> tidak mandiri
  • —Pasien adalah seorang pendiam, jarang menceritakan kehidupan sekolah dan pertemanannya pada kedua orang tua
  • —Tapi belakangan pasien bercerita bahwa ia dikucilkan oleh teman-temannya dan tak dapat mengikuti pelajaran

—Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga pasien yang pernah dirawat di rumah sakit karena gangguan jiwa. Tidak ada yang menggunakan obat-obatan terlarang ataupun minum alkohol.

—Riwayat Hidup Pasien

  • —Riwayat prenatal (0-1 tahun)
    • Pasien dikandung cukup bulan, merupakan anak yang diharapkan. Selama mengandung ibu pasien tidak mengalami masalah. Lahir di bidan dengan berat 3,2 kg secara normal. Tak pernah ada trauma kepala, tidak ada epilepsi.
  • —Masa kanak-kanak awal (1-3 tahun)
    • Perkembangan sesuai usia. Berjalan umur 1 tahun, berbicara 1,5 tahun.
    • —Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)
    • Masuk SD usia 6 tahun. Tak pernah tinggal kelas. Nilai rata-rata. Pasien menjadi anak kesayangan di keluarga. Ibu sangat memanjakan pasien. Pasien menjadi tidak mandiri.
  • —Masa kanak-kanak akhir (12-18 tahun)
    • Pasien melanjutkan pendidikan SMP lalu ke SMA tanpa masalah. Sehari-hari pasien adalah pribadi yang tertutup dan pendiam.  Apabila ada masalah pasien hanya diam saja, jarang sekali bercerita pada teman atau orang tuanya.

—

Pemeriksaan Fisik

—Keadaan Umum

  • Kesan sakit ringan, compos mentis
  • —Tinggi badan: 170 cm, berat badan: 70 kg
  • —Tanda vital: dbn
  • —Kepala dan leher: dbn
  • —Abdomen: dbn
  • —Belum dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya

—Psikodinamika

  • —Pasien adalah seorang anak laki-laki 19 tahun.  Anak ke-3 dari 3 bersaudara.
  • —Saat kecil, pasien lahir tanpa mengalami masalah, lahir normal.  Tak pernah ada trauma kepala, tidak ada epilepsi. Perkembangan sesuai usia.
  • —Masuk SD usia 6 tahun. Tak pernah tinggal kelas. Nilai rata-rata. Pasien menjadi anak kesayangan di keluarga. Ibunya terutama paling memanjakan pasien.
  • —Pasien melanjutkan pendidikan SMP lalu ke SMA tanpa masalah. Sehari-hari pasien adalah pribadi yang tertutup dan pendiam.  
  • —Apabila ada masalah pasien hanya diam saja, jarang sekali bercerita pada teman atau orang tuanya.
  • —Pasien tidak pernah menceritakan masalahnya di sekolah bahwa ia sering dikucilkan teman-temannya dan tidak dapat mengikuti pelajaran.

—

Faktor predisposisi:

  • —Pasien memiliki sifat pendiam, tertutup dan sering memendam perasaan
  • —Pasien sangat dimanja ibunya

Faktor presipitasi:

  • —Pasien dikucilkan oleh teman-temannya
  • —Pasien enggan bersosialisasi
  • —Drop out

—

—Ringkasan

  • —Pasien seorang anak laki-laki, 19 tahun.
  • —Agama islam, pendidikan terakhir perguruan tinggi, belum menikah.
  • —Pasien dirawat di RSJ dengan keluhan: sulit tidur, tidak nafsu makan, lebih sering mengurung diri di kamar, sering melamun sejak drop out dari perguruan tinggi.
  • —Perilaku pasien semakin aneh, bicara sendiri, bicara tidak nyambung, cengengesan dan kadang tertawa sendiri tanpa sebab, apabila sedang sendirian sering melihat sesosok makhluk gelap di kamar yang berbicara pada dirinya.
  • —Tingkah seperti anak-anak, berpakaian rangkap, berlapis, tak sopan, jarang mandi, sensitif, apabila keinginannya tidak dituruti menjadi marah dan menangis.
  • —Berkata-kata kasar dan melempar-lempar barang serta mengatakan hal-hal aneh bahwa di dalam tubuhnya ada roh jahat.
  • —Gejala ini muncul setelah pasien drop out.
  • —RPD: pasien belum pernah dirawat di RSJ.
  • —Riwayat keluarga: pasien adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, merupakan anak yang paling disayang di rumah.
  • —Ibu pasien sangat memanjakannya. Pasien tidak mandiri. Tak ada yang mengalami gangguan jiwa seperti ini di keluarga. Tidak ada yang minum obat-obatan terlarang dan alkohol.

—Situasi sosial saat ini: pasien hanya diam dan melamun di rumah. Pasien tidak akrab dengan tetangga sekitar dan enggan bersosialisasi dengan teman-temannya karena merasa dibicarakan.

—Status fisik dalam batas normal.

—

Status Psikikus

  • —Roman muka: silly
  • —Rapport: +/ kurang adekuat
  • —Orientasi
    • Tempat: buruk
    • —Waktu: buruk
    • —Orang: buruk
  • —Perhatian: distraktibilitas
  • —Persepsi:  
    • Ilusi: tidak ada
    • —Halusinasi: auditorik (+), visual (+)
  • —Ingatan
    • Masa kini: tidak baik
    • Masa dulu: tidak baik
  • Daya ingat: tidak baik
  • Daya ulang: tidak baik
  • Paraamnesia: tidak dapat dinilai
  • Hiperamnesia: tidak dapat dinilai
  • —Intelegensia:
    • Kesan: tidak terganggu
  • —Pikiran:
    • Bentuk pikiran: autistik
    • Jalan pikiran: inkoheren (flight of idea)
    • Isi pikiran: waham bizzare (aneh)
  • Organisasi pikiran: disorganisasi proses berpikir
  • —Penilaian normo sosial: kurang baik
  • —Waham: bizzare
  • —Wawasan penyakit: buruk
  • —Afek: inappropiate (tidak wajar)
  • —Decorum
    • Sopan santun: kurang
    • Cara berpakaian: kurang
    • Kebersihan: kurang
  • —Kematangan jiwa: tidak matur
  • —Tingkah laku dan bicara:
    • Tingkah laku: autistik, infantilism
    • Bicara: inkoheren, flight of idea 

—

—Diagnosis kerja: skizofrenia hebefrenik (infantilisme, inkoheren)

 

—Diagnosis Multiaksial

Aksis I  : F 20.1 Skizofrenia hebefrenik

Diagnosis diferensial: F 25.1 Skizoafektif tipe depresif

Aksis II : tidak ada diagnosis

Aksis III: tidak ada diagnosis

Aksis IV: permasalahan sosial di sekolah

Aksis V : F 60-51 gejala sedang (moderate dan disabilitas sedang)

—

—Skizofrenia:

  • Halusinasi auditorik dan visual
  • Flight of idea
  • Inkoheren
  • Gejala negatif
  • Waham aneh
  • Gejala prodromal:  perilaku aneh, pramorbid:  pendiam

—

—Penatalaksanaan Fase Akut

  • Farmakoterapi
    • —Haloperidol 5 mg/injeksi, IM, diulang tiap setengah jam, dosis maksimum 20 mg/hari
    • —Diazepam 10 mg/injeksi, IV/IM, dosis maksimum 30 mg/hari
    • —Obat oral dari dosis anjuran lalu dinaikkan bertahap: haloperidol 0.5 mg – 2 mg, 2-3 kali sehari (5-20 mg per hari)
    • —Sampai dosis optimal yang mengendalikan gejala
  • —Psikoedukasi: mengurangi stimulus dan stressor—

—

Fase Stabilisasi

  • —Dosis optimal selama 8-10 minggu
  • —Psikoedukasi: meningkatkan keterampilan orang dengan skizofrenia, membantu keluarga dalam mengelola gejala, mengembangkan kepatuhan menjalani pengobatan

—Fase Rumatan

  • Farmakoterapi
    • —Dosis mulai diturunkan bertahap sampai diperoleh dosis minimal yang masih mampu mencegah kekambuhan
    • —Akut: 2 tahun
    • —Kronis dengan kekambuhan: 5 tahun sampai seumur hidup
  • —Psikoedukasi: mempersiapkan pasien kembali ke masyarakat
  • —Penatalaksanaan efek samping: turunkan dosis
    • Sindrom ekstrapiramidal -> << dosis, antikolinergik (triheksilfenidil, benztropin, sulfas atropin, difenhidramin)

—Prognosis

—Quo ad vitam : ad bonam

—Quo ad functionam: dubia ad malam

—Quo ad sanationam: dubia ad malam

—

Sumber:

Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan Pertama. 1993.

Cancro R, Lehmann HE. Schizophrenia: Clinical features. Dalam Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry, Sadock BJ, Sadock VA, edit, seventh ed. Lippincott Williams & Wilkins, A Wolter Kluwer Company, 2000, hal. 1169-1198.

Marder SR. Schizophrenia: Somatic treatment. Dalam Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry, Sadock BJ, Sadock VA, edit, seventh ed. Lippincott Williams & Wilkins, A Wolter Kluwer Company, 2000, hal. 1199-1231.

PDSKJI, Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia, 2011.

PDSKJI, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa/Psikiatri, 2012.

Read Full Post »

BAGAIMANA PERANAN, TUGAS, DAN TANGGUNG JAWAB SAYA SEBAGAI KOASISTEN DI LINGKUNGAN KERJA DI RUMAH SAKIT

 

Dokter adalah suatu profesi yang amat mulia. Terkadang tidaklah berlebihan jika seorang dokter dianggap sebagai uluran tangan Tuhan yang menyembuhkan manusia dari sakit penyakit. Selain itu, dokter juga berkewajiban memelihara dan menjaga kesehatan setiap insan. Ilmu kedokteran pun senantiasa berkembang. Dahulu pasien datang ke dokter untuk sembuh. Di era sekarang, pasien ingin sembuh dan puas. Apabila kita dapat memahami kebutuhan pasien, tentunya pasien akan semakin antusias dan mudah menerima nasihat yang kita berikan dalam usaha pemeliharaan kesehatannya.

Kebutuhan pasien tersebut hanya dapat dipenuhi oleh seorang dokter yang baik. Untuk menjadi seorang dokter yang baik, ada beberapa unsur yang harus dimiliki oleh kita sebagai tenaga medis. Seorang dokter mesti memiliki kepribadian, ilmu, dan keterampilan yang baik. Kepribadian yang baik tercermin dari perilaku yang tulus dan ikhlas dalam menolong pasien. Seorang dokter harus mampu meletakkan kepentingan pasien di atas kepentingan dirinya sendiri.

Dalam lingkungan kerja rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Immanuel, tentu kita mengenal semboyan ‘heman, geten, ka papancen’. Artinya adalah penuh kasih sayang, perhatian, dan telaten dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Semboyan tersebut sudah sepantasnya menjadi semangat bagi kita semua sebagai tenaga kesehatan. Semboyan yang sungguh mengena ini juga sudah selayaknya mampu mempersatukan seluruh dokter, perawat, dan juga karyawan yang berada di lingkungan rumah sakit.

Seperti kita ingin diperlakukan, demikianlah kita harus memperlakukan orang lain. Kita wajib memperlakukan pasien, bahkan setiap orang, dengan penuh kasih. Bila kita mampu berempati dan berbicara dengan santun, orang lain pasti akan semakin menghargai kita. Sebagai seorang dokter, tentu kita juga harus perhatian dan telaten. Kita harus sabar dan teliti dalam menghadapi penyakit maupun kebutuhan pasien. Hanya melalui ketelitianlah, maka kita bisa mengerjakan sesuatu dengan paripurna.

Dokter yang baik juga harus memiliki ilmu yang bermanfaat dan berdaya guna. Kita tak boleh bosan untuk belajar dan belajar lagi. Kita patut mengakui dengan rendah hati bahwa masih ada banyak hal yang belum sempurna dalam diri kita. Ilmu merupakan suatu fondasi yang mendasari karya kita sebagai tenaga kesehatan. Melalui ilmu inilah, kita dapat menegakkan diagnosis dan merencanakan tatalaksana yang tepat untuk pasien. Semakin banyak diagnosis yang kita pelajari, semakin banyak pula penyakit yang dapat kita tangani.

Meski telah menguasai berbagai ilmu dan teori, kita masih membutuhkan satu hal lagi untuk menggenapi peranan kita sebagai seorang dokter. Apakah itu? Jawabannya sudah pasti keterampilan yang cakap dan kompeten. Keterampilan yang cakap dan kompeten tersebut hanya dapat dicapai apabila kita mau berlatih terus menerus tanpa kenal lelah. Kita tak boleh berputus asa, apalagi menghindari kewajiban.

Kita selalu diingatkan mengenai perumpamaan tanah liat. Untuk menjadi sebuah guci yang indah, segumpal tanah liat haruslah mau dibakar, ditempa, dan dibentuk sedemikian rupa oleh sang pengrajin. Demikian juga bila kita ingin menjadi seorang dokter yang sukses. Kita harus menerima untuk melalui suatu perjuangan yang panjang dan berat. Kita perlu ditempa oleh para dokter yang lebih berpengalaman.

Melihat sebegitu banyak kewajiban yang mesti diemban sebagai seorang koasisten, kami merasa begitu dihargai. Ini menjadi bukti bahwa kami telah dipercayai untuk turut bekerja dan berkarya di lingkungan Rumah Sakit Immanuel. Walau begitu, ada kalanya kami menjadi berkecil hati. Takut, bila kami tak bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh para dosen dan dokter. Cemas, kalau-kalau kami tak dapat membanggakan orang tua dengan hasil belajar kami. Khawatir, amat, bila kami sampai lalai dalam mengerjakan setiap kewajiban.

Dahulu ketika duduk di bangku perkuliahan, kami cukup hanya mendengarkan dan mencatat teori yang diberikan oleh para dosen. Kami semata-mata harus banyak membaca untuk mencari ulasan terbaru dari suatu penyakit maupun metode pengobatannya. Lalu kami juga diberikan berbagai kasus rekaan. Tentunya kasus rekaan tersebut akan lebih mirip dengan teori dan kepustakaan yang telah ada. Namun kini berbeda, kami harus menghadapi pergumulan nyata. Kami mesti melihat kondisi pasien dan melakukan tindakan secara langsung. Ini semua supaya nantinya kami benar-benar mampu berperan sebagai seorang dokter di masyarakat.

Komunikasi yang baik adalah sarana paling efisien yang akan menghubungkan kami dengan pasien. Perilaku adalah pijakan kami dalam kehidupan sosial di lingkungan rumah sakit. Tanpa perilaku yang baik, segala macam ilmu pun tak akan berguna. Kesombongan adalah awal dari suatu kehancuran. Ketekukan akan merajut kesuksesan.

Walaupun ada begitu banyak tantangan, kami yakin bahwa tiada kesulitan yang dirancangkan Tuhan tanpa bisa kami selesaikan. Dari setiap hal yang dikurangkan bagi kita, akan ditambahkan oleh-Nya. Kami ingin terus berkarya dan memelihara kesehatan banyak orang. Saat ini kami memang tidak ada apa-apanya. Benar, kami hanyalah suatu hal sepele. Kami bagaikan segumpal tanah liat yang menanti untuk dibentuk menjadi guci yang indah oleh Sang Pengrajin.

Read Full Post »

josephine-widya-wijaya_meine-seufzer2-sanatorium-salju


Identitas Buku

Judul: Meine Seufzer Opus II, Sanatorium Salju
Penulis: Josephine Widya Wijaya
ISBN: 978-602-1375-85-3
Rilis: 2015
Halaman: 232
Penerbit: Kaifa Publishing
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

Marie tak berhasil menyelamatkan Lukas dari gagal jantung. Ia pun harus merelakan kepergian pria yang amat dicintainya itu dengan berat hati. Marie telah berusaha terlalu keras untuk menyembuhkan Lukas. Ia sendiri akhirnya jatuh sakit karena radang paru-paru.

Selama Marie dirawat di sanatorium, hanya Franz yang menjaga dan menemaninya dengan setia. Franz merawat gadis itu hingga sembuh. Dan pada bulan kedua musim dingin itulah, Marie hendak kembali menjadi tenaga bantuan rumah sakit.

Tugasnya dimulai dengan sulit. Sanatorium tersebut harus menangani pasien-pasien radang selaput otak. Pula dalam hari-hari di sanatorium itu, sebuah isu yang mengerikan mulai terdengar. Sanatorium tersebut ternyata dibuat oleh para dokter untuk penelitian obat baru.

 ***

Galeri

Marie von Haydn
(Anonim, lukisan oleh Charles Baxter)

(c) Gallery Oldham; Supplied by The Public Catalogue Foundation

Franz dari Stuttgart,

Putra Bupati Württemberg

(Anonim, 1775; Museo de la Real Academia de Bellas Artes)

 498EL MONTE-  71.
Irma
(Anonim; Lukisan oleh Edward Robert Hughes)
cc4f04277d098b625f872df959c14376
Erik
(Anonim; Lukisan oleh Henry Raeburn)

2697795by-henry-raeburn
Benjamin dan Isolde
(Sir Christoph and Lady Sykes; Lukisan oleh George Romney, 1786)

24.-Romney-George-Sir-Christopher-And-Lady-Sykes-1786
 
Annegret von Bayer
(Nyonya Lindow; Lukisan oleh George Romney)

Nyonya-Lindow-george-romney
 
Andreas Bruck
(The Doctor; Lukisan oleh Samuel Luke Fildes, 1891)
The Doctor exhibited 1891 by Sir Luke Fildes 1843-1927

***

Terima Kasih Istimewa Untuk:

 

Teresa dari Calcutta (1910-1997)

Johann Sebastian Bach (1685-1750)

Hildegard dari Bingen (1098 – 1179)
Martin Gotthard Schneider;
Ein Schiff, das sich Gemeinde nennt (1963)

***

Telah Hadir di Toko Buku Kesayangan Anda!

Togamas Supratman dan Buah Batu Bandung, BBC Palasari dan BBC Suci Bandung; Gramedia Merdeka, BSM, PVJ, IP Bandung; Gramedia Cirebon dan Tasikmalaya; TB. Elvira; Karunia Agung Sukabumi; Rumah Buku Bandung; Togamas Diponegoro; BBC Palembang; BBC Lampung; Merbabu Semarang; Uranus Surabaya; Togamas Malang; Togamas Bali; Togamas Depok; TM Bookstore Depok; Gunung Agung Kwitang 06, Kwitang 38, Atrium, Blok M Plaza, dan jaringan Gunung Agung Jabodetabek. Gunung Agung Delta Surabaya, GA Galaxy Surabaya, GA Libbi Denpasar, GA Citraland Semarang, GA Paragon Cirebon, GA Bandung Indah Plaza.

 josephine-widya-wijaya_meine-seufzer_sanatorium-salju

 

***

“Setialah pada perkara-perkara kecil karena dari situlah perkara-perkara besar akan dipercayakan padamu. Bila engkau setia hingga terasa menyakitkan, tidak akan ada lagi yang lebih menyakitkan, hanya ada damai.”
– Marie von Haydn, 1741

Marie-Franz

Read Full Post »

Older Posts »