Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2015

sinusitis-1

Patogenesis dan Patofisiologi Rhinosinusitis

     Sinus biasanya steril dalam kondisi fisiologis. Produk sekresi yang dihasilkan dalam aliran sinus dikeluarkan dengan aktivitas silia melalui ostia dan ditiriskan ke dalam rongga hidung. Pada individu yang sehat, aliran sekresi sinus selalu searah (yaitu, menuju ostia), yang mencegah kontaminasi sinus kembali. Dalam sebagian besar individu, sinus maksilaris memiliki ostium tunggal (2,5 mm, 5 mm2 di daerah penampang) yang berfungsi sebagai satu-satunya saluran keluar untuk drainase. Saluran ramping ini terletak tinggi di dinding medial rongga sinus. Kemungkinan besar, edema mukosa di lubang ini dapat mencapai 1 sampai 3 mm yang akan menyebabkan kongesti dengan beberapa cara (misalnya, alergi, virus, dan iritasi kimia) yang mengakibatkan obstruksi saluran keluar dan stasis sekresi bertekanan negatif, yang mendukung terjadinya infeksi oleh bakteri (Brook, 2015).

     Lendir yang tertahan ketika pada saat infeksi dapat menyebabkan sinusitis. Mekanisme lain dikemukakan melalui hipotesis bahwa karena sinus kontinu dengan rongga hidung, bakteri yang membentuk koloni di nasofaring dapat mencemari sinus yang seharusnya steril. Bakteri ini biasanya disingkirkan oleh pembersihan mukosiliar. Dengan demikian, jika pembersihan mukosiliar mengalami gangguan, bakteri dapat mengalami inokulasi dan infeksi dapat terjadi, sehingga menyebabkan sinusitis (Brook, 2015).

     Data yang tersedia mendukung fakta bahwa sinus yang mulanya sehat dapat menjadi tempat berkembang biak kuman. Flora bakteri dari sinus tanpa inflamasi dipelajari untuk mengisolasi bakteri aerob dan anaerob pada 12 orang dewasa yang menjalani operasi korektif terhadap deviasi septum.  Organisme uji diambil dari semua aspirasi, dengan rata-rata 4 isolat per aspirasi sinus. Isolat anaerob yang dominan adalah Prevotella, Porphyromonas, Fusobacterium, dan spesies Peptostreptococcus. Bakteri aerob yang paling umum adalah Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, dan Haemophilus influenzae. Dalam studi lain, spesimen diproses untuk bakteri aerob saja, dan spesies Staphylococcus dan alpha-hemolytic Streptococcus berhasil diisolasi. Organisme itu ditemukan pada 20% dari sinus maksilaris pasien yang menjalani bedah reposisi rahang atas (Brook, 2015).

     Sebaliknya, laporan lain dari hasil aspirasi pada 12 relawan tanpa penyakit sinus tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri. Penelitian Jiang et al berhasil mengevaluasi bakteriologi dari sinus maksilaris dengan temuan endoskopi yang normal. Organisme didapat pada 14 dari 30 spesimen apusan (47%) dan 7 dari 17 spesimen mukosa (41%). Gordts et al melaporkan mikrobiologi dari meatus tengah pada orang dewasa normal dan anak-anak. Penelitian ini dicatat atas 52 pasien dengan 75%-nya memiliki bakteri pada isolat. Bakteri pada isolat yang paling sering ditemukan adalah Staphylococcus koagulase-negatif (35%), spesies Corynebacterium (23%), dan Staphylococcus aureus (8%) pada orang dewasa. Pada anak-anak, organisme yang paling umum adalah Haemophilus influenzae (40%), Moraxella catarrhalis (34%), dan Streptococcus pneumoniae (50%), berbeda jelas dengan temuan pada orang dewasa. Streptococcus nonhemolitik dan spesies Moraxella tidak didapatkan pada isolat dari orang dewasa (Brook, 2015).

     Patofisiologi rhinosinusitis terkait dengan 3 faktor, yaitu (Brook, 2015):

  • Obstruksi Jalur Drainase Sinus (Ostia Sinus)

     Obstruksi ostia sinus mencegah terjadinya drainase lendir normal. Ostia yang dapat diblokir oleh mukosa yang bengkak atau penyebab lokal (misalnya, trauma dan rhinitis), serta oleh gangguan inflamasi sistemik tertentu terkait dan gangguan kekebalan tubuh. Penyakit sistemik yang mengakibatkan penurunan bersihan mukosiliar, termasuk fibrosis kistik, alergi pada sistem pernapasan, dan diskinesia silia primer (sindrom Kartagener), dapat menjadi faktor predisposisi untuk sinusitis akut dalam kasus yang jarang. Pasien dengan imunodefisiensi (misalnya, agammaglobulinemia, dikombinasikan dengan imunodefisiensi variabel, dan imunodefisiensi dengan penurunan imunoglobulin G [IgG] – dan imunoglobulin A [IgA]) juga meningkatkan risiko perkembangan menjadi sinusitis akut.

     Obstruksi mekanik karena polip hidung, benda asing, deviasi septum, atau tumor juga dapat menyebabkan penyumbatan ostial. Secara khusus, variasi anatomi yang mempersempit kompleks ostiomeatal, termasuk deviasi septum, konka media paradoksikal, dan sel-sel Haller membuat daerah ini lebih sensitif terhadap obstruksi akibat peradangan mukosa. Biasanya, tepi mukosa yang mengalami edema memiliki penampilan bergigi, tetapi dalam kasus yang parah, lendir dapat benar-benar mengisi sinus sehingga sulit untuk membedakan proses alergi dari sinusitis infeksi. Khas, semua sinus paranasal yang terkena dan konka hidung yang berdekatan mengalami edema. Air-fluid level dan erosi tulang bukan merupakan fitur sinusitis alergi yang sederhana. Namun, mukosa yang membengkak pada drainase sinus yang buruk lebih rentan terhadap infeksi bakteri sekunder.

     Hipoksia dalam sinus terhalang diduga menyebabkan disfungsi silia dan perubahan dalam produksi lendir hingga merusak mekanisme normal untuk pembersihan mukus.

  • Gangguan Fungsi Silia

     Bertentangan dengan model sebelumnya dari sinus fisiologis, pola drainase sinus paranasal tidak tergantung pada gravitasi tetapi pada mekanisme transportasi mukosiliar. Koordinasi metakronus dari sel epitel kolumnar bersilia mendorong isi sinus menuju ostia sinus. Setiap gangguan fungsi silia menyebabkan akumulasi cairan dalam sinus. Fungsi silia yang buruk dapat diakibatkan dari hilangnya sel epitel bersilia; aliran udara yang tinggi; virus, bakteri, atau lingkungan siliotoksin; mediator inflamasi; hubungan antara 2 permukaan mukosa; bekas luka; dan sindrom Kartagener.

     Aktivitas silia dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, seperti sindrom Kartagener. Sindrom Kartagener dikaitkan dengan silia yang imobil dan karenanya terjadi retensi sekret dan ini menjadi predisposisi infeksi sinus. Fungsi silia juga berkurang dengan adanya pH rendah, anoksia, asap rokok, racun kimia, dehidrasi, dan obat-obatan (misalnya obat antikolinergik dan antihistamin).

     Paparan toksin bakteri juga dapat mengurangi fungsi silia. Sekitar 10% kasus sinusitis akut disebabkan oleh inokulasi langsung dari sinus dengan sejumlah besar bakteri. Abses gigi atau prosedur yang mengakibatkan komunikasi antara rongga mulut dan sinus dapat menyebabkan sinusitis dengan mekanisme ini. Selain itu, aktivitas silia dapat dipengaruhi setelah infeksi virus tertentu.

     Beberapa faktor lain dapat menyebabkan gangguan fungsi silia. Udara dingin dikatakan melumpuhkan epitel silia, yang mengarah pada gangguan gerakan silia dan retensi sekret dalam rongga sinus. Sebaliknya, menghirup udara kering akan mengiritasi palut mukosa sinus, yang menyebabkan berkurangnya sekresi. Setiap lesi massa pada saluran udara hidung dan sinus, seperti polip, benda asing, tumor, dan edema mukosa akibat rhinitis, dapat menghalangi ostia dan merupakan predisposisi terjadinya hambatan sekresi dan infeksi berikutnya. Trauma wajah atau inokulasi besar dari berenang dapat menghasilkan sinusitis juga. Minum alkohol juga dapat menyebabkan hidung dan sinus mukosa membengkak dan menyebabkan gangguan drainase lendir.

  • Perubahan Kuantitas dan Kualitas Lendir

     Sekresi sinonasal memainkan peran penting dalam patofisiologi rhinosinusitis. Palut lendir yang melapisi sinus paranasal mengandung mukoglikoprotein, imunoglobulin, dan sel-sel inflamasi. Lapisan ini terdiri dari 2 bagian: (1) lapisan serosa dalam (yaitu, fase sol) saat silia tidak dalam fase istirahat dan (2) lapisan luar, lapisan lebih kental (yaitu, fase gel), yang diangkut oleh silia yang bergerak. Keseimbangan yang tepat antara fase sol dalam dan fase gel luar adalah sangat penting untuk pembersihan mukosiliar normal.

     Jika komposisi lendir berubah dan lendir yang dihasilkan lebih kental (misalnya, seperti pada fibrosis kistik), transportasi menuju ostia yang jauh melambat, dan lapisan gel terbukti menjadi lebih tebal. Hal ini menghasilkan kumpulan lendir tebal yang masih dipertahankan dalam sinus untuk periode yang bervariasi. Di hadapkan dengan kurangnya sekresi atau hilangnya kelembaban pada permukaan yang tidak dapat dikompensasi oleh kelenjar lendir atau sel goblet, lendir menjadi semakin kental dan fase sol dapat menjadi sangat tipis sehingga memungkinkan fase gel untuk memiliki kontak yang intens dengan silia dan menghambat gerakan mereka. Kelebihan lendir dapat membanjiri sistem pembersihan mukosiliar, sehingga hasil sekresi tertahan dalam sinus.

     Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serosa yang dianggap sebagai sinusitis nonbakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk pertumbuhan dan multiplikasi bakteri dan sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis sehingga membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat, maka keadaan ini bisa berlanjut dan terjadi hipoksia hingga bakteri anaerob akan semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista (Brook, 2015).

Gejala Subjektif

 

     Gejala subjektif dibagi dalam gejala sistemik dan gejala lokal. Gejala sistemik ialah demam dan rasa lesu. Gejala lokal pada hidung terdapat ingus kental yang kadang-kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Dirasakan hidung tersumbat, rasa nyeri di daerah sinus yang terkena, serta kadang-kadang dirasakan juga di tempat lain karena nyeri alih (referred pain) (Soepardi, Iskandar, Bashiruddin, & Restuti, 2011).

     Pada sinusitis maksilaris nyeri di bawah kelopak mata dan kadang-kadang menyebar ke alveolus sehingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan di depan telinga (Soepardi, Iskandar, Bashiruddin, & Restuti, 2011).

     Rasa nyeri pada sinusitis etmoidalis di pangkal hidung dan kantus medius. Kadang-kadang dirasakan nyeri di bola mata atau di belakangnya, dan nyeri akan bertambah bila mata digerakkan. Nyeri alih dirasakan di pelipis (parietal). Pada sinusitis frontalis rasa nyeri terlokalisasi di dahi atau dirasakan nyeri di seluruh kepala. Rasa nyeri pada sinusitis sfenoid di verteks, oksipital, di belakang bola mata, dan di daerah mastoid (Soepardi, Iskandar, Bashiruddin, & Restuti, 2011).

Gejala Objektif

 

     Pembengkakan pada sinusitis maksilaris terlihat di pipi dan kelopak mata bawah. Pada sinusitis frontalis di dahi dan kelopak mata atas. Pada sinusitis etmoidalis jarang timbul pembengkakan, kecuali bila ada komplikasi (Soepardi, Iskandar, Bashiruddin, & Restuti, 2011).

     Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksilaris, sinusitis frontalis, dan sinusitis etmoidalis anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis etmoidalis posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (postnasal drip) (Soepardi, Iskandar, Bashiruddin, & Restuti, 2011).

Daftar Pustaka 

Brook, I. (2015, Juli 29). Acute Sinusitis. Diunduh pada September 15, 2015, dari Medscape: http://emedicine.medscape.com/article/232670-overview

Soepardi, E. A., Iskandar, N., Bashiruddin, J., & Restuti, R. D. (2011). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher (Vol. 6). Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Advertisements

Read Full Post »

god-shaped-hole

Karena Aku Kau Cinta
Lirik: YR. Widadaprayitna SJ
Lagu/Arr: Soeliandari Retno, rev. Lukito
Do=C, 4/4

Tiada nada, tiada suara mampu mengungkapkan rasa bahagia tak terkira
Tiada sungai, tiada samudra mampu tandingi agung cinta-Mu
Lembut hati-Mu ubah hidupku

Tiada lembah tiada bukit kan menghalangi langkahku menyambut kasih-Mu
Tiada bimbang tiada ragu tak ingin aku jauh dari-Mu
Ku ingin hidup bagi-Mu Yesus

Reff:
Hadir-Mu dalam lubuk hatiku, tuk mencintaiku dengan segenap kasih-Mu
Ku bahagia slalu bersama-Mu Yesus karena aku Kau cinta

Read Full Post »

jesus_love

Jadikan Hatiku Istana Cinta-Mu
Lagu dan Tata Suara : L. Putut Pudyantoro
Do=Bes; 4/4; 1/4=80

Siapakah aku dihadapan-Mu Tuhan
Kau curahkan cinta-Mu
Apakah artiku bagi-Mu
Cinta-Mu setia selalu

Pantaskah ku menyambut tubuh darah-Mu
Karena banyak dosaku
Sering ku ingkari cinta-Mu
Dalam langkah hidupku

Ampunilah aku, ampuni kelemahanku
Ampuni dosaku dalam kerahiman-Mu
Agar ku mampu wartakan kasih-Mu
Di dalam hidupku

Bersihkan hatiku dengan sucinya cinta-Mu
Jadikan hatiku istana cinta-Mu
Tempat yang layak untuk bersemayam
Tubuh dan darah-Mu

Read Full Post »