Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2016

BATUK AKUT PADA ANAK

Definisi

Batuk adalah refleks penting yang dirancang untuk meningkatkan pembukaan saluran napas atas. Bahan yang dibatukkan mungkin sebagai konsekuensi dari banyak kondisi – dari infeksi paru-paru atau sinus hingga benda asing yang tak sengaja terhirup (misalnya, makanan atau mainan kecil). Batuk juga bisa merupakan gejala dari gangguan fungsi paru (misalnya, mengi) atau mencerminkan kondisi yang langka (misalnya, malformasi anatomis).

Semua anak akan batuk sesekali. Namun batuk berulang, kesulitan bernapas dengan batuk atau batuk purulen atau berdarah memerlukan evaluasi menyeluruh dan tepat waktu. Batuk yang bersifat “basah” atau “berlendir” akan terdengar berbeda dari batuk “kering” atau “gatal” atau “menyalak”.

Kebanyakan spesialis paru akan mengkategorikan gejala batuk sebagai “akut” – yang berlangsung kurang dari dua minggu dan “kronis” – yang berlangsung lebih dari dua minggu.

Durasi Batuk

Berdasarkan durasinya, batuk dapat digolongkan menjadi (Shields, Bush, Everard, McKenzie, & Primhak, 2008):

  • Batuk akut
    • Batuk dengan onset cepat dan berlangsung selama kurang dari tiga minggu
  • Batuk subakut (prolonged acute cough)
    • Batuk yang mereda dengan perlahan selama 3-8 minggu.
  • Batuk kronis
    • Batuk yang terjadi selama lebih dari 8 minggu
  • Batuk rekuren
    • Episode batuk tanpa demam yang berulang selama lebih dari dua kali dalam setahun. Batuk rekuren ini tidak berhubungan dengan common cold, dan setiap episodenya berlangsung lebih dari 7-14 hari.

Etiologi Batuk Berdasarkan Usia

 

 cough_characteristics

Gambar 1. Etiologi Batuk Berdasarkan Usia.

Sumber: https://ainotes.wikispaces.com/

Etiologi Batuk Akut

            Penyebab batuk akut antara lain (Worrall, 2011):

  • Infeksi

Penyebab nomor satu batuk pada anak-anak adalah common cold (infeksi saluran pernapasan atas). Umumnya batuk yang diakibatkannya bersifat sekunder karena drainase lendir ke bagian belakang tenggorok sehingga merangsang pusat refleks batuk. Sebagian besar anak-anak kurang dari delapan tahun tidak bisa batuk secara efisien. Umumnya refleks batuk mereka bersifat mendorong drainase dari satu daerah dari belakang tenggorok ke tempat lain. Anak-anak umumnya akan menelan lendir setelah batuk dan saat tidur. Anak-anak biasanya akan batuk dengan kencang, dan mungkin sampai muntah, untuk mengeluarkan materi berlendir sebelumnya tertelan.

Iritasi dan pembengkakan pada daerah pita suara yang disebabkan oleh infeksi virus dapat menghasilkan karakteristik batuk menyalak. Infeksi virus seperti ini disebut croup.

Croup melibatkan gejala prodromal yang mirip dengan infeksi saluran napas atas yang semakin memburuk saat malam hari, stridor, pernapasan cuping hidung, retraksi, dan takipnea (Consolini, 2013).

Infeksi sinus umumnya merupakan komplikasi dari infeksi saluran napas atas dan mungkin terkait dengan drainase lendir dengan konsistensi tebal dan purulen (hijau atau kuning) baik ke daerah wajah atau di bagian belakang tenggorok. Drainase ini juga akan merangsang pusat batuk seperti dijelaskan di atas.

Infeksi saluran napas bagian bawah (yaitu yang berada di dalam rongga dada) termasuk penyakit virus (pneumonia, bronkitis, dan lain-lain) atau penyebab bakteri (pneumonia, pertusis batuk rejan), dan lain-lain) (Meneghetti, 2015).

Trakeitis bakterial menunjukkan gejala prodromal yang mirip seperti infeksi saluran napas atas, stridor, batuk menyalak, demam tinggi, distres pernapasan, dan sekresi yang purulen.

Bronkiolitis ditandai dengan rhinorrhea, takipnea, wheezing, crackles, retraksi, dan pernapasan cuping hidung. Dapat terjadi muntah setelah batuk (posttussive emesis). Bronkiolitis sering pada bayi berumur hingga 24 bulan dan paling sering terjadi pada bayi berusia 3-6 bulan.

Epiglotitis memiliki onset yang tiba-tiba atau mendadak, demam tinggi, iritabilitas, ansietas yang cukup jelas, stridor, dan distres pernapasan. Anak dapat tampak pucat, sianosis, atau mengalami letargi

Pneumonia viral memiliki gejala prodromal, demam, wheezing, batuk staccato atau paroksismal, nyeri otot, dan nyeri dada pleuritik. Pneumonia menyebabkan anak-anak membutuhkan usaha lebih untuk bernapas, rales difus, rhonchi, ataupun wheezing. Pneumonia bakterial ditandai dengan adanya demam, tampak lemas, nyeri dada, napas pendek. Nyeri perut ataupun muntah dapat ditemukan pula sebagai gejala pneumonia bakterial. Tanda-tanda konsolidasi fokal termasuk rales yang terlokalisasi, rhonchi, suara napas yang meredup, egofoni, dan bunyi pekak saat perkusi.

Infeksi saluran napas atas menunjukkan gejala rhinorrhea, mukosa nasal yang bengkak dan merah, demam dan nyeri tenggorokan, serta adenopati servikal yang terdiri dari beberapa nodul kecil tidak nyeri.

  • Alergi nasal

Jumlah drainase hidung dengan konsistensi berair diproduksi sebagai konsekuensi dari alergi hidung harus dipertimbangkan. Materi tersebut sering mengalir ke bagian belakang tenggorok (drainase postnasal) dan memicu pusat batuk di bagian belakang tenggorok (Meneghetti, 2015).

  • Benda asing

Setiap objek yang tidak dapat melewati bagian belakang mulut ke kerongkongan meningkatkan risiko aspirasi ke dalam tenggorok (trakea). Hal ini paling sering terjadi pada anak muda karena kesenangan mereka dengan benda-benda yang lebih kecil dan fiksasi oral mereka yang intens. Anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa yang tidak lengkap mengunyah makanan sebelum menelan mungkin juga mengalami aspirasi. Perawatan darurat yang efektif pada situasi seperti ini sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi. Saluran napas yang tersumbat akan mengakibatkan napas yang pendek dan cepat sebagai kompensasi (Worrall, 2011).

  • Mengi

Mengi merupakan akibat penyempitan diameter fungsional dari bronkus sehingga mempersulit proses pernapasan (ekshalasi lebih buruk daripada inhalasi) dan dapat menyebabkan suara yang khas selama respirasi. Mengi adalah konsekuensi dari dua fenomena – penyempitan saluran napas sekunder karena spasme otot-otot yang membungkus di kawasan sekitar paru-paru, serta penebalan lapisan jalan napas (bronkus) sebagai akibat peradangan. Pada anak-anak pemicu yang paling umum yang menghasilkan reaksi-reaksi ini adalah virus yang menyebabkan flu biasa (common cold). Virus tertentu (misalnya, respiratory syncytial virus) juga diketahui berperan dalam hal ini. Lingkungan (rumput, debu, jamur) juga dapat memicu reaksi serupa. Pada anak yang lebih aktif, aktivitas fisik yang intens atau udara dingin juga dapat memicu episode mengi (Meneghetti, 2015).

  • Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Regurgitasi isi lambung dan/atau asam dapat memicu refleks batuk dan harus dipertimbangkan ketika penyebab yang lebih umum dari batuk telah dieliminasi. Hal ini lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Anak-anak muda dan bayi mungkin tidak tampak jelas meludah dan memuntahkan cairan atau padatan selama episode tersebut. Namun, mereka dapat menjadi sangat iritabel ketika hal itu terjadi (Meneghetti, 2015).

  • Tik motorik sederhana

Anak-anak kadang-kadang memiliki klirens tenggorok berulang sebagai manifestasi dari tik. Mereka tampaknya tidak berada dalam kesulitan apa pun selama episode ini dan tik tersebut dapat berhenti dengan sendirinya. Hal ini pun tidak terjadi selama tidur. Orang tua akan sering menggambarkan batuk anak-anaknya akibat rasa tergelitik di dalam tenggorok (Robertson, 2015).

  • Penyebab yang jarang

Berbagai penyebab batuk yang jarang perlu diperhatikan ketika mekanisme yang lebih jelas atau rutin telah dieliminasi. Sebuah daftar parsial sebagai penyebab batuk yang jarang meliputi fibrosis kistik, penyakit jantung bawaan, gagal jantung, cacat bawaan dari jalan napas, paru-paru atau pembuluh darah utama dari dada, dan lain-lain (Worrall, 2011).

 

acute-cough_children1

acute-cough_children2

acute-cough_children3

Sumber: http://www.merckmanuals.com/professional/pediatrics/symptoms-in-infants-and-children/cough-in-children

 

Daftar Pustaka

Consolini, D. M. (2013, Agustus). Merck Manual Professional Version. Retrieved Mei 24, 2016, dari Merck Manual: http://www.merckmanuals.com/professional/pediatrics/symptoms-in-infants-and-children/cough-in-children#v1082868

Meneghetti, A. (2015, Juli 31). Upper Respiratory Tract Infection Clinical Presentation. (Z. Mosenifar, Editor) Diunduh pada Mei 17, 2016, dari Medscape: http://emedicine.medscape.com/article/302460-clinical

Robertson, W. C. (2015, September 15). Tourette Syndrome and Other Tic Disorders. Diunduh pada Mei 24, 2016, dari Medscape: http://emedicine.medscape.com/article/1182258-overview

Shields, M. D., Bush, A., Everard, M. L., McKenzie, S., & Primhak, R. (2008). Recommendations for the assessment and management of cough in children. Thorax , 63 (3), 1-15.

Worrall, G. (2011). Acute Cough in Children. Canadian Family Physician vol. 57, 315-318.

Advertisements

Read Full Post »