Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2018

ISTC (International Standards for TB Care) telah disepakati oleh organisasi profesi untuk diterapkan dalam penanganan tuberkulosis di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, ISTC ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada demi kepentingan terbaik pasien. Beberapa masukan dari Perhimpunan Dokter Spesialis dan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia untuk penerapan di Indonesia dicantumkan sebagai addendum.

 

Standar untuk Diagnosis

Standar 1

Untuk memastikan diagnosis dini, pemberi layanan kesehatan harus mengetahui faktor risiko tuberkulosis (TB) untuk individu dan kelompok serta melakukan evaluasi klinis cepat dan uji diagnostik yang tepat untuk orang dengan gejala dan temuan yang mendukung TB.

Standar 2

Semua pasien, termasuk anak, dengan batuk yang tidak diketahui penyebabnya yang berlangsung dua minggu atau lebih atau dengan temuan lain pada foto toraks yang tidak diketahui penyebabnya yang mendukung ke arah TB harus dievaluasi untuk TB

*)Lihat addendum

Standar 3

Semua pasien, termasuk anak, yang dicurigai memiliki TB paru dan mampu mengeluarkan dahak, harus memberikan sedikitnya dua spesimen dahak untuk pemeriksaan mikroskopis atau satu spesimen dahak untuk pemeriksaan Xpert® MTB/RIF sebagai pemeriksaan diagnostik awal.

Uji serologi darah dan interferon-gamma release assays tidak boleh digunakan untuk diagnosis TB aktif.

*)Lihat addendum

Standar 4

Untuk semua pasien, termasuk anak, yang diduga memiliki TB ekstraparu, spesimen yang tepat dari bagian tubuh yang sakit sebaiknya diambil untuk pemeriksaan mikrobiologi dan histologi.

Mengingat pentingnya diagnosis cepat pada terduga meningitis TB, maka pemeriksaan Xpert® MTB/RIF cairan serebrospinal direkomendasikan sebagai uji mikrobiologi awal untuk pasien yang diduga meningitis TB.

*)Lihat addendum

Standar 5

Pada pasien yang diduga memiliki TB paru dengan BTA negatif, perlu dilakukan pemeriksaan Xpert® MTB/RIF dan/atau biakan dahak.

Pada pasien dengan BTA negatif dan Xpert® MTB/RIF negatif tetapi bukti-bukti klinis mendukung kuat ke arah TB, maka pengobatan dengan anti TB harus dimulai setelah dilakukan pengumpulan spesimen untuk pemeriksaan biakan.

Standar 6

Untuk semua anak yang diduga menderita TB intratoraks (misalnya paru, pleura, dan kelenjar getah bening mediastinum atau hilus), konfirmasi bakteriologis perlu dilakukan melalui pemeriksaan sekresi saluran pernapasan (dahak ekspektorasi, dahak hasil induksi, bilas lambung) untuk pemeriksaan mikroskopik, Xpert® MTB/RIF, dan/atau biakan.

*)Lihat addendum

 

Standar untuk Pengobatan

Standar 7

Untuk memenuhi kewajiban terhadap kesehatan masyarakat dan kewajibannya terhadap pasien, pemberi pelayanan kesehatan harus memberikan paduan pengobatan yang tepat, memantau kepatuhan terhadap paduan obat, dan jika diperlukan, membantu mengatasi berbagai faktor yang menyebabkan putusnya atau terhentinya pengobatan.

Untuk memenuhi kewajiban ini diperlukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat dan/atau organisasi lainnya.

Standar 8

Semua pasien yang belum pernah diobati dan tidak memiliki faktor risiko untuk resistensi obat harus mendapatkan pengobatan lini pertama yang sudah disetujui oleh WHO dengan menggunakan obat yang terjamin kualitasnya.

Fase intensif harus mencakup dua bulan pengobatan dengan menggunakan Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol.

Pada fase lanjutan harus diberikan Isoniazid dan Rifampisin selama 4 bulan. Dosis pengobatan harus mengikuti rekomendasi WHO. Penggunaan obat kombinasi dosis tetap dapat mempermudah pemberian obat.

*)Lihat addendum

Standar 9

Pada pengobatan semua pasien, perlu dibangun pendekatan yang berpusat pada pasien, dalam rangka mendorong kepatuhan, meningkatkan kualitas hidup, dan meringankan penderitaan.

Pendekatan ini dilakukan berdasarkan kebutuhan pasien dan rasa saling menghormati antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.

Standar 10

Respons terhadap pengobatan pada pasien dengan TB paru (termasuk pada pasien yang didiagnosis dengan pemeriksaan molekular cepat) harus dimonitor dengan pemeriksaan mikroskopis lanjutan pada saat selesainya fase intensif (dua bulan).

Jika apusan dahak masih positif di akhir fase intensif, pemeriksaan mikroskopis dilakukan lagi pada akhir bulan ketiga dan jika tetap positif, pemeriksaan kepekaan obat molekular cepat (line probe assays atau Xpert® MTB/RIF) atau biakan dengan uji kepekaan obat harus dilakukan.

Pada pasien dengan TB ekstraparu dan pada anak, respons pengobatan dinilai secara klinis.

*)Lihat addendum

Standar 11

Penilaian untuk kemungkinan resistensi obat, berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya atau pajanan dari kasus yang mungkin merupakan sumber penularan organisme resisten obat, dan survei prevalens resistensi obat di komunitas (jika diketahui), perlu dilakukan untuk semua pasien.

Uji resistensi obat perlu dilakukan saat pengobatan dimulai untuk semua pasien dengan risiko memiliki TB resisten obat. Pasien dengan BTA tetap positif setelah menyelesaikan tiga bulan pengobatan, pasien dengan pengobatan yang gagal, dan pasien yang putus pengobatan atau kambuh setelah menyelesaikan satu atau lebih pengobatan harus diperiksa untuk kemungkinan resistensi obat.

Pada pasien yang diduga memiliki resistensi obat, pemeriksaan dengan Xpert® MTB/RIF perlu dilakukan sebagai pemeriksaan diagnostik awal. Jika ditemukan resistensi terhadap Rifampisin, biakan dan uji kepekaan terhadap Isoniazid, Fluorokuinolon, dan obat-obatan suntik lini kedua harus segera dilakukan.

Konseling dan edukasi pasien dan pengobatan empiris dengan paduan lini kedua harus segera dimulai untuk meminimalisasi potensi penularan.

Perlu dilaksanakan tindakan yang sesuai kondisi untuk pengendalian infeksi.

*)Lihat addendum

Standar 12

Pasien dengan atau yang sangat mungkin memiliki TB yang disebabkan oleh organisme yang resisten dengan obat (terutama MDR/XDR) harus diobati dengan paduan khusus yang mengandung obat anti TB lini kedua yang terjamin kualitasnya. Dosis pengobatan harus sesuai dengan rekomendasi WHO. Paduan yang dipilih dapat distandarkan atau berdasarkan dugaan atau hasil konfirmasi pola kepekaan obat. Sedikitnya diberikan lima jenis obat, Pirazinamid dan empat obat lainnya yang organismenya diketahui atau diduga masih peka, termasuk obat suntik, harus digunakan pada 6-8 bulan fase intensif, dan gunakan setidaknya 3 jenis obat yang organismenya diketahui atau diduga masih peka pada fase lanjutan.

Terapi harus diberikan 18-24 bulan setelah terjadinya konversi biakan dahak. Berbagai tindakan yang berpusat kepada pasien termasuk observasi pengobatan, diperlukan untuk memastikan kepatuhan.

Konsultasi dengan dokter spesialis yang berpengalaman dalam pengobatan MDR/XDR harus dilakukan.

Standar 13

Untuk semua pasien perlu dibuat catatan yang mudah diakses dan disusun secara sistematis mengenai: obat-obatan yang diberikan, respons bakteriologis, hasil akhir pengobatan, dan efek samping.

 

Standar untuk Penanganan TB dengan Infeksi HIV dan Kondisi Komorbid Lain

Standar 14

Konseling dan tes HIV perlu dilakukan untuk semua pasien dengan, atau yang diduga TB kecuali sudah ada konfirmasi hasil tes yang negatif dalam dua bulan terakhir. Karena hubungan yang erat antara TB dan HIV, pendekatan yang terintegrasi untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan baik infeksi TB maupun HIV direkomendasikan pada daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi.

Pemeriksaan HIV terutama penting sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin di daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi pada populasi umum, pada pasien dengan gejala dan/atau tanda kondisi terkait HIV, dan pada pasien yang memiliki riwayat risiko tinggi terpajan HIV.

Standar 15

Pada pasien dengan infeksi HIV dan TB yang menderita imunosupresi berat (hitung CD4 kurang dari 50 sel/mm³), ARV harus dimulai dalam waktu 2 minggu setelah dimulainya pengobatan TB kecuali jika ada meningitis tuberkulosis.

Untuk semua pasien dengan HIV dan TB, terlepas dari hasil hitung CD4, terapi antiretroviral harus dimulai dalam waktu 8 minggu semenjak awal pengobatan TB. Pasien dengan infeksi TB dan HIV harus diberikan kotrimoksazol untuk pencegahan infeksi lain.

Standar 16

Pasien dengan infeksi HIV yang setelah dievaluasi secara saksama tidak memiliki TB aktif harus diobati sebagai infeksi TB laten dengan Isoniazid selama setidaknya 6 bulan.

Standar 17

Semua pemberi pelayanan kesehatan harus melakukan penilaian yang menyeluruh untuk mencari kondisi komorbid dan berbagai faktor lainnya yang dapat memengaruhi respons atau hasil akhir pengobatan TB dan mengidentifikasi pelayanan tambahan yang dapat mendukung hasil akhir pengobatan yang optimal bagi masing-masing pasien.

Berbagai pelayanan ini harus digabungkan menjadi rencana pelayanan individual yang mencakup penilaian dan rujukan untuk pengobatan penyakit lainnya.

Perlu diberikan perhatian khusus pada penyakit atau kondisi yang diketahui dapat memengaruhi hasil akhir pengobatan, seperti diabetes mellitus, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, nutrisi yang buruk, dan pengguna rokok. Rujukan untuk dukungan psikososial lainnya atau pelayanan seperti pelayanan antenatal atau perawatan bayi juga perlu disediakan.

 

Standar untuk Kesehatan Masyarakat dan Pencegahan

Standar 18

Semua pemberi pelayanan kesehatan harus memastikan bahwa kontak erat dari pasien dengan TB yang menular harus dievaluasi dan ditatalaksana sesuai dengan rekomendasi internasional.

Prioritas tertinggi evaluasi kontak adalah:

  • Orang dengan gejala yang mendukung ke arah TB
  • Anak usia di bawah 5 tahun
  • Kontak dengan kondisi atau diduga memiliki kondisi imunokompromis, khususnya infeksi HIV
  • Kontak dengan pasien TB MDR/XDR

*)Lihat addendum

Standar 19

Anak usia di bawah 5 tahun dan semua individu berapa pun umurnya yang terinfeksi HIV yang merupakan kontak erat pasien TB menular dan setelah pemeriksaan secara cermat tidak memiliki TB aktif harus diobati sebagai terduga infeksi TB laten dengan Isoniazid selama sekurangnya enam bulan.

*)Lihat addendum

Standar 20

Setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang melayani pasien yang menderita atau diduga menderita TB harus mengembangkan dan menerapkan Program Pengendalian Infeksi (PPI) TB yang tepat untuk meminimalisasi kemungkinan penularan M. tuberculosis ke pasien dan tenaga kesehatan.

Standar 21

Semua penyelenggara pelayanan kesehatan harus melaporkan kasus TB baik baru maupun kasus pengobatan ulang serta hasil akhir pengobatannya ke Dinas Kesehatan setempat sesuai dengan peraturan hukum dan kebijakan yang berlaku.

*)Lihat addendum

 

Addendum

Standar 2

Untuk pasien anak, selain batuk, gejala lain sebagai kecurigaan awal ke arah TB adalah berat badan yang sulit naik dalam waktu kurang lebih 2 bulan terakhir, gizi buruk, demam ≥ 2 minggu tanpa penyebab yang jelas.

Standar 3

Untuk dua spesimen dahak, salah satunya harus berasal dari dahak pagi.

Standar 4

Pada pasien anak untuk membuktikan sudah pernah terinfeksi tuberkulosis dilakukan uji tuberkulin atau interferon gamma release assays (IGRA)

Pemeriksaan ke arah TB paru seharusnya tetap dilakukan yaitu pemeriksaan dahak dan foto toraks

Standar 6

Diimplementasikan pada fasilitas kesehatan yang sudah memiliki Xpert®

Standar 8

Pada TB ekstraparu (meningitis TB, TB tulang, TB milier, TB kulit, dan lain-lain) secara umum terapi TB diberikan minimal 9 bulan.

Khusus untuk anak, regimen yang diberikan terdiri atas RHZ, ditambah E bila penyakitnya berat (BTA positif, TB HIV, TB paru dengan lesi luas, TB ekstraparu berat seperti: TB milier, TB tulang, meningitis TB, dan lain-lain). Secara umum terapi TB pada anak diberikan selama 6 bulan, tetapi pada keadaan tertentu bisa lebih lama (9-12 bulan), seperti pada meningitis TB, TB tulang, MDR TB, dan lain-lain.

Standar 10

Selama menunggu hasil pemeriksaan biakan atau uji resistensi, pengobatan dilanjutkan sesuai dengan fase lanjutan.

Standar 11

  • Belum dapat dilakukan untuk uji resistensi Fluorokuinolon dan Pirazinamid
  • Kriteria suspek TB MDR pada anak:
    • Riwayat pengobatan TB 6-12 bulan sebelumnya
    • Kontak erat dengan pasien TB MDR
    • Kontak erat dengan sumber penularan yang baru meninggal akibat TB, gagal pengobatan TB atau tidak patuh dalam pengobatan TB
    • Tidak menunjukkan perbaikan (klinis, rediologis, atau mikrobiologis) setelah pengobatan dengan OAT lini pertama (kepatuhan minum obat teratur) selama 2-3 bulan
    • Anak dengan TB-HIV yang tidak respons terhadap pemberian OAT setelah penyebab lain disingkirkan.

Standar 18

Apabila menangani TB anak maka harus dicari sumber penularnya

Standar 19

Sebaiknya diberlakukan juga pada pasien dengan berbagai kondisi imunokompromis lainnya, contohnya: sepsis berat, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, pasien dengan transplantasi, kemoterapi, imunosupresan jangka panjang, dan lain-lain.

Standar 21

Pelaksanaan pelaporan akan difasilitasi dan dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan setempat, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat.

 

Sumber:

International Standards for TB Care Edisi 3

Advertisements

Read Full Post »

Kapan memulai pengobatan?

Semakin cepat anak yang terinfeksi memulai pengobatan HIV, semakin cepat ia bisa mendapatkan keuntungan dari pengobatan. Secara khusus, pengobatan HIV harus dimulai sebelum anak menjadi kurang sehat. Jika anak Anda menunjukkan tanda-tanda dari sistem kekebalan tubuh yang lemah (jika mereka sering tidak enak badan, misalnya), mereka harus memulai pengobatan HIV sesegera mungkin.

Pengobatan HIV

Pengobatan HIV sangat efektif pada anak dengan HIV, membuat HIV menjadi penyakit yang dapat dikelola dalam jangka panjang. Sama seperti orang lain yang hidup dengan HIV, bayi, anak-anak dan remaja dianjurkan untuk mengambil pengobatan HIV. Di Indonesia, standar pengobatan HIV untuk anak-anak ditetapkan dalam pedoman yang diterbitkan oleh Kemenkes. Pedoman terbaru diterbitkan pada tahun 2014.

Pengobatan menggunakan kombinasi obat anti-HIV yang berbeda. Kadang-kadang obat dapat digabungkan menjadi satu tablet atau sirup. Jika obat ini digunakan dengan benar, tingkat HIV dalam darah akan menurun ke tingkat yang sangat rendah. Hal ini sering disebut viral load (jumlah virus) tidak terdeteksi dan merupakan salah satu tujuan utama pengobatan HIV.

Pilihan obat yang digunakan untuk mengobati anak Anda akan tergantung pada sejumlah faktor, termasuk usia dan berat badan anak, dan apakah anak mempunyai penyakit lain. Dokter akan mempertimbangkan kombinasi obat yang paling mudah untuk digunakan anak Anda, untuk membantu tercapainya kepatuhan. Patuh berarti anak meminum obat dengan benar, pada waktu yang tepat, dan setiap hari.

Ada berbagai jenis atau kelas obat anti-HIV. Tiap jenis obat bekerja melawan HIV dengan cara berbeda. Untuk memastikan pengobatan HIV berhasil menekan virus, biasanya seseorang harus menggunakan kombinasi tiga obat anti-HIV dan tiga obat ini berasal dari dua kelas yang berbeda.

Infeksi HIV yang tidak diobati dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Memiliki viral load yang tidak terdeteksi bukan berarti seseorang telah sembuh dari HIV. Virus ini ‘ditidurkan’ oleh pengobatan HIV. Jika anak berhenti berobat, virus baru akan segera dibuat lagi. Namun jika anak teratur berobat, jumlah virus akan sangat sedikit dalam darah dan sistem kekebalan tubuh dapat kuat melawan infeksi. Ini berarti anak akan memiliki kesempatan untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Dosis

Dosis obat anti-HIV yang diberikan kepada anak-anak akan tergantung pada berat badan atau ukuran anak. Pengobatan akan dipantau secara berkala oleh klinik untuk memastikan anak Anda menerima dosis paling aman dan paling efektif dari pengobatan mereka. Ketika anak bertumbuh dan mengalami peningkatan berat badan, dosis obat akan berubah. Oleh karena itu, penting bagi anak untuk menghadiri semua janji temu dengan dokter sehingga mereka bisa menerima dosis pengobatan yang tepat.

Kepatuhan

Meminum obat dengan benar disebut kepatuhan. Anak Anda akan mendapatkan manfaat besar dari pengobatan HIV jika digunakan dengan tepat.
Yang dimaksud dengan kepatuhan adalah:

  • Menggunakan obat yang benar
  • Pada waktu yang tepat
  • Dengan cara yang tepat (perhatikan obat yang harus dikonsumsi bersama makanan atau dalam perut kosong, atau tidak ada ada aturan makan)

Lupa minum obat atau tidak mengikuti petunjuk resep dapat mengakibatkan kerja obat tidak efektif dan jumlah virus dapat meningkat. Hal ini dapat menyebabkan perkembangan HIV yang resisten terhadap obat.

Para pemberi layanan kesehatan dapat memberikan beberapa tips atau cara memberikan obat-obatan kepada anak dan bagaimana meningkatkan peluang anak untuk menggunakan pengobatan dengan cara yang benar.

Berikut adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengajak anak meminum obat:

  • Libatkan anak Anda. Misalnya, biarkan anak Anda memilih cangkir yang digunakan untuk mengambil minuman untuk minum obat. Atau membuat bagan dan biarkan anak Anda menempel dengan stiker warna warni untuk setiap dosis obat yang digunakan;
  • Jelaskan kepada anak bahwa obat ini dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mereka;
  • Bangun rutinitas. Jika anak Anda menggunakan obat mereka pada waktu yang sama setiap hari, mereka akan terbiasa untuk melakukannya. Jelaskan bahwa kebiasaan ini sama seperti rutinitas menyikat gigi dan sesuatu yang harus dilakukan setiap hari supaya tetap kuat dan sehat di masa depan;
  • Puji anak setiap kali meminum obat;
  • Ajar anak untuk menelan pil. Pil lebih mudah digunakan dibandingkan dengan sirup. Misalnya, menaruh pil di belakang lidah kemudian meminum air yang banyak supaya pil cepat tertelan;
  • Anak dapat latihan beberapa hari sebelum menggunakan obat anti-HIV. Latih mereka untuk menelan permen yang berukuran sangat kecil dapat menjadi cara yang bermanfaat;
  • Jika anak menggunakan sirup, gunakan sendok takar obat atau pipet obat untuk memastikan anak mendapat takaran obat yang benar;
  • Jika Anda juga menjalani pengobatan HIV, Anda dan anak Anda dapat meminum obat pada waktu yang sama.

Penting bahwa Anda dan anak Anda berkomitmen untuk menjalani pengobatan dan memiliki pandangan yang positif terhadap pengobatan. Usahakan untuk tidak menekankan pada sisi negatif penggunaan obat, tetapi konsentrasikan pada manfaat pengobatan. Jika Anda merasa kesulitan membicarakan hal ini dengan anak Anda, diskusikan perasaan Anda dengan dokter, konselor atau pendukung sebaya.

Disadur dari:

Yayasan Spiritia. 2016. Pahami dan Dukunglah Kami (Panduan untuk Pengasuh). Seri Buku Kecil.

Read Full Post »