Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2018

Obesitas saat ini semakin banyak ditemui di masyarakat. Pada tahun 2008 tercatat sekitar 35% populasi dewasa di dunia menderita obesitas dan sekitar 6,7% populasi anak di dunia mengalami overweight dan obesitas pada tahun 2010.

Obesitas pada masa anak-anak (0-18 tahun) perlu diwaspadai, terutama bila obesitas terjadi pada masa remaja.
Mengapa? Karena kemungkinan besar dapat berlanjut hingga dewasa.

Obesitas ternyata memiliki dampak buruk bagi kesehatan karena dapat menyebabkan gangguan fungsi metabolisme tubuh di kemudian hari.

Beberapa contoh penyakit yang disebabkan oleh obesitas adalah penyakit jantung, stroke, dan juga diabetes atau kencing manis.
Penyakit-penyakit ini apabila tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, yuk cegah obesitas pada anak dan remaja sejak dini.

Apa itu Obesitas?
Obesitas adalah lemak tubuh yang berlebihan yang disimpan dalam tubuh. Obesitas disebabkan oleh energi (kalori) yang masuk lebih banyak dari energi (kalori) yang keluar.

Bagaimana Mendiagnosis Obesitas pada Remaja?

Obesitas didiagnosis berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) seseorang.
Cara menghitung IMT adalah berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan (dalam meter).

IMT = Berat Badan (kg) / (Tinggi Badan (m))^2

Setelah nilai IMT didapatkan, maka plotkan atau tentukan titiknya pada grafik IMT CDC 2000 (khusus untuk anak usia 2-20 tahun) sesuai usia dan jenis kelamin.
Jika usia di bawah 2 tahun, maka grafik yang dipakai adalah grafik IMT WHO.
Anak usia > 2 tahun disebut overweight jika nilai IMT sedangkan untuk anak < 2 tahun disebut overweight jika nilai IMT anak berada di atas Z-skor +2, dan obesitas jika di atas Z-skor +3.

Contoh soal : Anak M, perempuan, usia 13 tahun, berat badan 55 kg, tinggi badan 160 cm.

Hitung IMT terlebih dahulu, dengan rumus di atas didapatkan IMT = 21,5 kg/m2, lalu plot di grafik IMT CDC 2000 untuk perempuan.

Buatlah 2 garis, garis pertama ditarik ke atas dari garis usia (pada soal ini, garis ditarik dari angka 13 karena usia anak 13 tahun). Garis kedua ditarik ke kanan dari garis BMI (pada soal ini, garis ditarik dari angka 21,5 karena IMT anak 21,5 kg/m2). Titik potong kedua garis tersebut merupakan titik plot.

Lalu, lihat titik plot berada di antara persentil berapa.

Pada soal ini, nilai IMT 21,5 kg/m2 terletak di antara persentil-75 dan 85, artinya normal.

Apa Penyebab Obesitas pada Remaja?
1. Pola makan yang tidak sehat
Anak yang pola makannya tidak teratur dengan asupan gizi berlebih akan berisiko mengalami obesitas.

Konsumsi makanan tinggi kalori dan lemak seperti makanan fast food atau cepat saji, sosis, baso, pizza, dan softdrink juga dapat memicu terjadinya obesitas.
Hal ini diperparah dengan tidak ada atau kurangnya asupan buah dan sayur/sumber serat pada makanan sehari-hari.

Pola makan yang sering terjadi pada anak obesitas adalah makan utama >3x/hari (umumnya porsi besar) ditambah dengan camilan yang tidak sehat (contoh: kentang goreng, makanan ringan dalam kemasan, gorengan), serta minum teh manis atau softdrink setiap makan.

2. Kurangnya aktivitas fisik
Tuntutan sekolah yang tinggi, jadwal dan tugas sekolah yang begitu padat secara tidak langsung membatasi waktu olahraga anak/remaja. Selain itu, dengan adanya gawai aktivitas fisik menjadi berkurang. Remaja lebih tertarik untuk bermain dengan gawai di dalam ruangan dibandingkan bermain dengan teman di luar rumah seperti bermain bola atau bersepeda.

3. Memiliki keluarga yang obesitas
Kebiasaan makan anak/remaja cenderung mengikuti orang-orang di sekitarnya. Tak heran jika banyak anak obesitas berasal dari keluarga yang obesitas.

Bagaimana cara menghindari obesitas?
Pola makan yang sehat
Sebaiknya makanan yang kita makan sehari-hari mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Untuk lebih mudahnya, terdiri dari sayur, buah, lauk-pauk, dan nasi/roti. Sayur (warna hijau) harus dikonsumsi paling banyak di antara yang lain. Hampir setengah piring harus diisi oleh sayur-sayuran. Setengah piring lagi dibagi dua untuk nasi (warna cokelat) dan juga lauk-pauk (warna oranye). Lalu, sisanya diisi oleh buah.

Sebaiknya pilih nasi merah dibandingkan nasi putih dan roti gandum dibandingkan roti putih. Perbanyak konnsumsi daging putih seperti ayam dan ikan dibandingkan daging merah yang lemaknya tinggi seperti daging sapi, kambing, & daging olahan. Ganti minyak goreng kelapa sawit (palm) keluarga anda dengan minyak goreng zaitun (olive oil) atau minyak goreng kanola.
Selain itu, pemberian susu harus dibatasi menjadi 2 gelas ukuran 2per hari untuk anak usia >2 tahun.

Terakhir jangan lupa untuk minum air putih minimal 2L setiap harinya dan hindari minuman manis termasuk jus buah yang berlebihan. Asupan jus untuk anak usia 1 – 6 tahun adalah 120-180 mL per hari, sedangkan untuk anak usia >6 – 18 tahun adalah 240-360 mL per hari.

Modifikasi perilaku makan
Anak harus dapat menahan keinginan untuk makan di luar jam makan, misalnya pada saat menonton televisi diusahakan untuk tidak makan karena menonton televisi dapat menjadi pencetus keinginan makan. Orang tua diharapkan dapat meniadakan semua stimulus di sekitar anak yang dapat merangsang keinginan untuk makan.

Mengubah perilaku makan, misalnya belajar mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi, serta mengurangi makanan camilan.
Camilan diganti dengan buah-buahan segar, berikan dalam bentuk buah potong, bukan jus buah.

Pemberian jus buah menggoda anak mengonsumsi dalam jumlah banyak sehingga pada akhirnya asupan kalori bertambah.
Jika ada rencana berpergian atau pesta, pilihlah makanan yang berkalori rendah seperti sayur, buah, dan makanan yang tidak digoreng.

Hindari karbohidrat berlebih dan kue-kue manis. Apabila makanan-makanan tersebut tidak dapat dihindari, imbangi dengan melakukan olahraga tambahan sebelum atau sesudah berpergian.

Aktivitas fisik teratur
Anak harus tetap aktif melakukan kegiatan fisik. Lakukan olahraga minimal 60 menit setiap hari dengan intensitas sedang, misalnya jalan cepat.

Ajak anak untuk lari pagi atau sore minimal 3x dalam seminggu. Motivasi anak untuk terlibat dalam kegiatan olahraga di sekolah, seperti sepak bola dan basket.
Olahraga permainan akan lebih mudah disukai oleh anak dibandingkan olahraga lain.

Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari untuk membuat anak tetap aktif secara fisik adalah ajak anak untuk lebih memilih naik dan turun tangga daripada menggunakan lift, saat mengantar ke sekolah turunkan anak beberapa meter dari gerbang sekolah, atau ajak anak berkeliling di mall selama minimal 1 jam tanpa duduk.

Monitor pertumbuhan
Anak praremaja diharapkan dapat mengawasi sendiri berat badan, masukan makanan, dan aktivitas fisik, serta mencatat perkembangannya sehingga pola hidup sehat dapat tercipta hingga dewasa.

Peran orang-orang di sekitarnya seperti orang tua, anggota keluarga, teman, dan guru sangat menentukan keberhasilan pencegahan obesitas. Oleh karena itu, yuk bersama-sama cegah obesitas!

 

Sumber: Grup Promosi Kesehatan

Advertisements

Read Full Post »

Salah satu momen terindah bagi orang tua adalah melihat anak mulai bisa berbicara, meskipun hanya satu kata. Biasanya, kata pertama akan keluar pada saat anak berusia 12 bulan. Dan sejak kata pertama itulah, kemampuan bicara anak mulai berkembang seiring bertambahnya usia.
Di sekitar usia 15 bulan, biasanya anak akan belajar kosakata sederhana seperti “mama”, “papa”, dan lainnya. Lalu, sekitar usia 18 bulan, kosakata dan kemampuan berbicara mereka akan semakin berkembang.
Sebagai orang tua, tentunya Anda tidak sabar untuk mendengar kata pertama yang keluar dari mulut anak Anda. Kabar baiknya adalah, Anda bisa membantu meningkatkan kemampuan bicara anak Anda dengan beberapa cara, yaitu:
1. Perhatikan Gerak Tangan Anak
Anak berusia 1 tahun sebenarnya telah mengerti banyak kata, mereka hanya belum bisa mengatakannya pada Anda. Oleh karena itu, Anda bisa meningkatkan kemampuan bahasa anak Anda memerhatikan gerak tangan anak Anda untuk membantu mereka mengaitkan gerak tangan dengan tindakan.
Misalnya, saat anak Anda melambaikan tangan, Anda bisa mengatakan, “Dadah, adik!” Atau, saat mereka menunjuk sebuah benda, Anda bisa mengatakan, “Adik mau mainan? Yang mana? Ini?”
2. Gunakan Kosakata yang Sebenarnya
Oleh karena kemampuan berbicaranya masih terbatas, anak cenderung menyebut sebuah objek yang dilihatnya dengan kosakata mereka sendiri, sesuai dengan kemampuan pengucapannya. Ini sering dikenal dengan baby talk alias bahasa bayi.
Namun, sebagai orang tua, untuk membantu memperbanyak kosakata anak Anda dan membantu mereka belajar berbicara, Anda perlu menggunakan kosa kata yang sebenarnya, bukannya ikut-ikutan pakai bahasa bayi. Misalkan, saat anak Anda menyebut makan dengan “mamam”, Anda bisa menanggapinya dengan, “Oh, mau makan.” Atau saat si kecil menyebut mobil dengan “obim”, Anda bisa menanggapi dengan, “Iya, ada mobil, ya?”
3. Rutin Bacakan Cerita
Salah satu cara untuk memperbanyak kosa kata anak Anda adalah dengan membacakan cerita. Anda bisa memulainya dengan membacakan buku cerita yang anak Anda sukai, lalu mendeskripsikan setiap gambar yang ada di buku tersebut atau menceritakan cerita tersebut (story telling).
4. Ajak Jalan-jalan untuk Memperbanyak Kosakata
Selain untuk menyegarkan pikiran, jalan-jalan (misalnya ke kebun binatang, museum, taman bunga, atau lainnya) bisa membantu anak Anda belajar kosakata sambil melihat bentuk fisiknya secara langsung. Atau, Anda juga bisa merencanakan waktu bermain bersama anak-anak lainnya, untuk membantu anak Anda belajar bersosialisasi dan memberikan kesempatan mereka untuk berinteraksi dengan teman-temannya.
5. Selalu Respons Ucapan Anak Anda
Jika Anda ingin meningkatkan kemampuan bicara anak, Anda perlu memberikan respon untuk setiap kata yang anak Anda ucapkan. Tidak perlu mengoreksi setiap kata yang anak Anda ucapkan, jika ada yang salah; Anda hanya perlu merespon setiap ucapan anak Anda.
Misalnya, saat anak Anda mengucapkan “da … da …”, Anda bisa meresponnya dengan, “Ayah mau pergi … dadah, Ayah!” Atau, Anda juga bisa mengulangi ucapan anak Anda sebagai tanda bahwa Anda mendengar dan memahami apa yang anak Anda ucapkan.
Sumber: Grup Promosi Kesehatan

Read Full Post »