Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Buku Catatan Medis’ Category

Obesitas saat ini semakin banyak ditemui di masyarakat. Pada tahun 2008 tercatat sekitar 35% populasi dewasa di dunia menderita obesitas dan sekitar 6,7% populasi anak di dunia mengalami overweight dan obesitas pada tahun 2010.

Obesitas pada masa anak-anak (0-18 tahun) perlu diwaspadai, terutama bila obesitas terjadi pada masa remaja.
Mengapa? Karena kemungkinan besar dapat berlanjut hingga dewasa.

Obesitas ternyata memiliki dampak buruk bagi kesehatan karena dapat menyebabkan gangguan fungsi metabolisme tubuh di kemudian hari.

Beberapa contoh penyakit yang disebabkan oleh obesitas adalah penyakit jantung, stroke, dan juga diabetes atau kencing manis.
Penyakit-penyakit ini apabila tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, yuk cegah obesitas pada anak dan remaja sejak dini.

Apa itu Obesitas?
Obesitas adalah lemak tubuh yang berlebihan yang disimpan dalam tubuh. Obesitas disebabkan oleh energi (kalori) yang masuk lebih banyak dari energi (kalori) yang keluar.

Bagaimana Mendiagnosis Obesitas pada Remaja?

Obesitas didiagnosis berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) seseorang.
Cara menghitung IMT adalah berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan (dalam meter).

IMT = Berat Badan (kg) / (Tinggi Badan (m))^2

Setelah nilai IMT didapatkan, maka plotkan atau tentukan titiknya pada grafik IMT CDC 2000 (khusus untuk anak usia 2-20 tahun) sesuai usia dan jenis kelamin.
Jika usia di bawah 2 tahun, maka grafik yang dipakai adalah grafik IMT WHO.
Anak usia > 2 tahun disebut overweight jika nilai IMT sedangkan untuk anak < 2 tahun disebut overweight jika nilai IMT anak berada di atas Z-skor +2, dan obesitas jika di atas Z-skor +3.

Contoh soal : Anak M, perempuan, usia 13 tahun, berat badan 55 kg, tinggi badan 160 cm.

Hitung IMT terlebih dahulu, dengan rumus di atas didapatkan IMT = 21,5 kg/m2, lalu plot di grafik IMT CDC 2000 untuk perempuan.

Buatlah 2 garis, garis pertama ditarik ke atas dari garis usia (pada soal ini, garis ditarik dari angka 13 karena usia anak 13 tahun). Garis kedua ditarik ke kanan dari garis BMI (pada soal ini, garis ditarik dari angka 21,5 karena IMT anak 21,5 kg/m2). Titik potong kedua garis tersebut merupakan titik plot.

Lalu, lihat titik plot berada di antara persentil berapa.

Pada soal ini, nilai IMT 21,5 kg/m2 terletak di antara persentil-75 dan 85, artinya normal.

Apa Penyebab Obesitas pada Remaja?
1. Pola makan yang tidak sehat
Anak yang pola makannya tidak teratur dengan asupan gizi berlebih akan berisiko mengalami obesitas.

Konsumsi makanan tinggi kalori dan lemak seperti makanan fast food atau cepat saji, sosis, baso, pizza, dan softdrink juga dapat memicu terjadinya obesitas.
Hal ini diperparah dengan tidak ada atau kurangnya asupan buah dan sayur/sumber serat pada makanan sehari-hari.

Pola makan yang sering terjadi pada anak obesitas adalah makan utama >3x/hari (umumnya porsi besar) ditambah dengan camilan yang tidak sehat (contoh: kentang goreng, makanan ringan dalam kemasan, gorengan), serta minum teh manis atau softdrink setiap makan.

2. Kurangnya aktivitas fisik
Tuntutan sekolah yang tinggi, jadwal dan tugas sekolah yang begitu padat secara tidak langsung membatasi waktu olahraga anak/remaja. Selain itu, dengan adanya gawai aktivitas fisik menjadi berkurang. Remaja lebih tertarik untuk bermain dengan gawai di dalam ruangan dibandingkan bermain dengan teman di luar rumah seperti bermain bola atau bersepeda.

3. Memiliki keluarga yang obesitas
Kebiasaan makan anak/remaja cenderung mengikuti orang-orang di sekitarnya. Tak heran jika banyak anak obesitas berasal dari keluarga yang obesitas.

Bagaimana cara menghindari obesitas?
Pola makan yang sehat
Sebaiknya makanan yang kita makan sehari-hari mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Untuk lebih mudahnya, terdiri dari sayur, buah, lauk-pauk, dan nasi/roti. Sayur (warna hijau) harus dikonsumsi paling banyak di antara yang lain. Hampir setengah piring harus diisi oleh sayur-sayuran. Setengah piring lagi dibagi dua untuk nasi (warna cokelat) dan juga lauk-pauk (warna oranye). Lalu, sisanya diisi oleh buah.

Sebaiknya pilih nasi merah dibandingkan nasi putih dan roti gandum dibandingkan roti putih. Perbanyak konnsumsi daging putih seperti ayam dan ikan dibandingkan daging merah yang lemaknya tinggi seperti daging sapi, kambing, & daging olahan. Ganti minyak goreng kelapa sawit (palm) keluarga anda dengan minyak goreng zaitun (olive oil) atau minyak goreng kanola.
Selain itu, pemberian susu harus dibatasi menjadi 2 gelas ukuran 2per hari untuk anak usia >2 tahun.

Terakhir jangan lupa untuk minum air putih minimal 2L setiap harinya dan hindari minuman manis termasuk jus buah yang berlebihan. Asupan jus untuk anak usia 1 – 6 tahun adalah 120-180 mL per hari, sedangkan untuk anak usia >6 – 18 tahun adalah 240-360 mL per hari.

Modifikasi perilaku makan
Anak harus dapat menahan keinginan untuk makan di luar jam makan, misalnya pada saat menonton televisi diusahakan untuk tidak makan karena menonton televisi dapat menjadi pencetus keinginan makan. Orang tua diharapkan dapat meniadakan semua stimulus di sekitar anak yang dapat merangsang keinginan untuk makan.

Mengubah perilaku makan, misalnya belajar mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi, serta mengurangi makanan camilan.
Camilan diganti dengan buah-buahan segar, berikan dalam bentuk buah potong, bukan jus buah.

Pemberian jus buah menggoda anak mengonsumsi dalam jumlah banyak sehingga pada akhirnya asupan kalori bertambah.
Jika ada rencana berpergian atau pesta, pilihlah makanan yang berkalori rendah seperti sayur, buah, dan makanan yang tidak digoreng.

Hindari karbohidrat berlebih dan kue-kue manis. Apabila makanan-makanan tersebut tidak dapat dihindari, imbangi dengan melakukan olahraga tambahan sebelum atau sesudah berpergian.

Aktivitas fisik teratur
Anak harus tetap aktif melakukan kegiatan fisik. Lakukan olahraga minimal 60 menit setiap hari dengan intensitas sedang, misalnya jalan cepat.

Ajak anak untuk lari pagi atau sore minimal 3x dalam seminggu. Motivasi anak untuk terlibat dalam kegiatan olahraga di sekolah, seperti sepak bola dan basket.
Olahraga permainan akan lebih mudah disukai oleh anak dibandingkan olahraga lain.

Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari untuk membuat anak tetap aktif secara fisik adalah ajak anak untuk lebih memilih naik dan turun tangga daripada menggunakan lift, saat mengantar ke sekolah turunkan anak beberapa meter dari gerbang sekolah, atau ajak anak berkeliling di mall selama minimal 1 jam tanpa duduk.

Monitor pertumbuhan
Anak praremaja diharapkan dapat mengawasi sendiri berat badan, masukan makanan, dan aktivitas fisik, serta mencatat perkembangannya sehingga pola hidup sehat dapat tercipta hingga dewasa.

Peran orang-orang di sekitarnya seperti orang tua, anggota keluarga, teman, dan guru sangat menentukan keberhasilan pencegahan obesitas. Oleh karena itu, yuk bersama-sama cegah obesitas!

 

Sumber: Grup Promosi Kesehatan

Advertisements

Read Full Post »

Salah satu momen terindah bagi orang tua adalah melihat anak mulai bisa berbicara, meskipun hanya satu kata. Biasanya, kata pertama akan keluar pada saat anak berusia 12 bulan. Dan sejak kata pertama itulah, kemampuan bicara anak mulai berkembang seiring bertambahnya usia.
Di sekitar usia 15 bulan, biasanya anak akan belajar kosakata sederhana seperti “mama”, “papa”, dan lainnya. Lalu, sekitar usia 18 bulan, kosakata dan kemampuan berbicara mereka akan semakin berkembang.
Sebagai orang tua, tentunya Anda tidak sabar untuk mendengar kata pertama yang keluar dari mulut anak Anda. Kabar baiknya adalah, Anda bisa membantu meningkatkan kemampuan bicara anak Anda dengan beberapa cara, yaitu:
1. Perhatikan Gerak Tangan Anak
Anak berusia 1 tahun sebenarnya telah mengerti banyak kata, mereka hanya belum bisa mengatakannya pada Anda. Oleh karena itu, Anda bisa meningkatkan kemampuan bahasa anak Anda memerhatikan gerak tangan anak Anda untuk membantu mereka mengaitkan gerak tangan dengan tindakan.
Misalnya, saat anak Anda melambaikan tangan, Anda bisa mengatakan, “Dadah, adik!” Atau, saat mereka menunjuk sebuah benda, Anda bisa mengatakan, “Adik mau mainan? Yang mana? Ini?”
2. Gunakan Kosakata yang Sebenarnya
Oleh karena kemampuan berbicaranya masih terbatas, anak cenderung menyebut sebuah objek yang dilihatnya dengan kosakata mereka sendiri, sesuai dengan kemampuan pengucapannya. Ini sering dikenal dengan baby talk alias bahasa bayi.
Namun, sebagai orang tua, untuk membantu memperbanyak kosakata anak Anda dan membantu mereka belajar berbicara, Anda perlu menggunakan kosa kata yang sebenarnya, bukannya ikut-ikutan pakai bahasa bayi. Misalkan, saat anak Anda menyebut makan dengan “mamam”, Anda bisa menanggapinya dengan, “Oh, mau makan.” Atau saat si kecil menyebut mobil dengan “obim”, Anda bisa menanggapi dengan, “Iya, ada mobil, ya?”
3. Rutin Bacakan Cerita
Salah satu cara untuk memperbanyak kosa kata anak Anda adalah dengan membacakan cerita. Anda bisa memulainya dengan membacakan buku cerita yang anak Anda sukai, lalu mendeskripsikan setiap gambar yang ada di buku tersebut atau menceritakan cerita tersebut (story telling).
4. Ajak Jalan-jalan untuk Memperbanyak Kosakata
Selain untuk menyegarkan pikiran, jalan-jalan (misalnya ke kebun binatang, museum, taman bunga, atau lainnya) bisa membantu anak Anda belajar kosakata sambil melihat bentuk fisiknya secara langsung. Atau, Anda juga bisa merencanakan waktu bermain bersama anak-anak lainnya, untuk membantu anak Anda belajar bersosialisasi dan memberikan kesempatan mereka untuk berinteraksi dengan teman-temannya.
5. Selalu Respons Ucapan Anak Anda
Jika Anda ingin meningkatkan kemampuan bicara anak, Anda perlu memberikan respon untuk setiap kata yang anak Anda ucapkan. Tidak perlu mengoreksi setiap kata yang anak Anda ucapkan, jika ada yang salah; Anda hanya perlu merespon setiap ucapan anak Anda.
Misalnya, saat anak Anda mengucapkan “da … da …”, Anda bisa meresponnya dengan, “Ayah mau pergi … dadah, Ayah!” Atau, Anda juga bisa mengulangi ucapan anak Anda sebagai tanda bahwa Anda mendengar dan memahami apa yang anak Anda ucapkan.
Sumber: Grup Promosi Kesehatan

Read Full Post »

 

Diare (Mencret)

Apakah yang disebut diare ?
Diare atau mencret adalah buang air besar yang lebih sering (lebih dari 3 kali sehari) dan tinja yang dikeluarkan lebih lunak dari biasanya (dianggap tidak normal oleh ibu).

Apa penyebab diare?

Penyebab diare bermacam-macam, antara lain sebagai berikut:

  1. Virus
  2. Kuman/bakteri
  3. Parasit
  4. Susu yang tidak cocok (biasanya pada bayi)

Hal-hal apa saja yang dapat menimbulkan diare?

  • Makan tanpa cuci tangan yang bersih
  • Minum air dan makan makanan mentah
  • Makan makanan yang dihinggapi lalat
  • Lingkungan rumah yang kotor
  • Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) pada bayi di bawah 6 bulan

Pendapat/anggapan di bawah ini TIDAK BENAR:

  1. Diare adalah tanda bahwa anak akan bertambah besar
  2. Diare adalah tanda bahwa anak akan tumbuh gigi
  3. Diare adalah tanda bahwa anak akan segera bisa berjalan
  4. Diare disebabkan oleh roh jahat

INGAT!

  • Diare adalah salah satu penyebab utama kematian pada balita
  • Apa pun sebabnya, diare adalah gejala penyakit yang harus segera ditangani
  • Apa pun sebabnya, diare sangat berbahaya
  • Bila tidak diatasi dengan tepat DIARE dapat mengakibatkan kematian

Bagaimana mengatasi diare?
Prinsip pengobatan diare adalah:

1. Mengganti cairan yang keluar.
Oleh karena itu berikan:

  • Larutan oralit/larutan gula garam, atau
  • Cairan dari bahan makanan, seperti sup, air tajin dan minuman yogurt (susu asam), atau
  • Air putih masak
  • Bila anak berusia kurang dari 6 bulan dan masih diberi ASI, teruskan pemberian ASI
  • Sebagai tambahan berikan larutan oralit atau air putih masak

DIARE merupakan suatu masalah kesehatan yang harus diatasi dengan segera. Bila tidak, bisa timbul gangguan kesehatan yang serius, bahkan bisa berakibat kematian. Jangan anggap enteng diare walaupun hanya mengeluarkan cairan.

Cara membuat larutan gula garam (LGG):

  • Gula 1 sendok teh penuh
  • Garam ¼ sendok teh
  • Air masak 1 gelas (atau air teh 1 gelas)
  • Campuran bahan-bahan tersebut diaduk sampai larut benar

Cara membuat oralit:

  • Bubuk oralit 1 bungkus dilarutkan ke dalam 1 gelas air masak (atau 1 gelas air teh)
  • Aduk sampai semua bubuk larut
  • Baca petunjuk lebih lanjut pada bungkus oralit

2. Teruskan pemberian makanan

  • Berikan ASI lebih sering
  • Bila tidak minum ASI, berikan susu yang biasa diminum
  • Bila anak berumur 6 bulan atau lebih dan/atau sudah makan makanan padat, berikan juga:
    • Tepung beras merah, Bubur atau makanan dari tepung lainnya yang dicampur dengan kacang-kacangan (kacang hijau), buah, sayuran, daging atau ikan dan ditambah sedikit minyak.
    • Sari buah segar atau pisang yang dihaluskan, makan yang baru dibuat, dimasak dan ditumbuk atau dihaluskan dengan baik
    • Pemberian makanan sedikit demi sedikit tapi sering (paling kurang 6 kali sehari)
    • Anak diberi makan dengan jumlah yang lebih banyak setiap hari selama 2 minggu setelah diare berhenti
    • Bila tidak diberikan oleh petugas kesehatan, jangan berikan obat-obatan

Segera bawa ke dokter atau puskesmas, jika salah satu tanda di bawah ini ditemui pada bayi atau anak:

  • Tidak membaik dalam 1×24 jam
  • Tinja cair keluar amat sering (lebih dari 3x sehari)
  • Muntah berulang-ulang
  • Tidak mau makan atau minum seperti biasanya
  • Demam
  • Ada darah dalam tinja
  • Anak terlihat sangat lemah
  • Didapati satu atau lebih tanda-tanda dehidrasi (kekurangan cairan)

Bagaimana mencegah terjadinya diare?

  • Rebus dahulu botol susu atau dot sebelum diberikan kepada bayi
  • Cuci tangan dengan sabun sebelum makan
  • Sayuran, buah, dan bahan makanan harus dicuci sebelum dimasak atau dimakan
  • Jangan makan makanan mentah
  • Selalu minum air yang telah dimasak (air matang)
  • Makanan harus dilindungi dari hinggapan lalat dan kecoa
  • Cuci tangan sebelum Anda menyiapkan susu atau makanan bayi atau anak

Disadur dari:

Yayasan Spiritia. 2016. Pahami dan Dukunglah Kami (Panduan untuk Pengasuh). Seri Buku Kecil.

 

Read Full Post »

baby-lips

Apa saja jenis masalah pada mulut?

  1. Infeksi jamur (kandidiasis)
  2. Mulut kering
  3. Sariawan dan nyeri mulut
  4. Bau mulut

Apa saja faktor penyebab masalah mulut?

  • Kurang minum
  • Tidak memerhatikan kebersihan mulut (jarang sikat gigi)
  • Mulut kering (efek samping terapi obat ARV & terapi oksigen)
  • Dehidrasi
  • Ada jamur pada area mulut

Bagaimana melakukan perawatan dasar mulut?

  • Jaga kelembaban mulut -> banyak minum air putih (minimal 10 gelas sehari)
    dan berkumurlah dengan air matang setelah makan
  • Menggosok gigi secara teratur khususnya setelah makan dan sebelum tidur
  • Berkumurlah dengan air garam (1 sendok teh garam yang dilarutkan dalam 200 ml air matang) untuk membantu mengurangi kotoran pada mulut dan tidak menimbulkan rasa sakit.
  • Membersihkan lidah dengan sikat gigi atau kassa steril
  • Memberi krim atau pelembab pada bibir

Bagaimana Penanganan Masalah-Masalah Mulut?

A. Infeksi Jamur (Kandidiasis)

Perawatan mulut pada kondisi kandidiasis:

  • Mengurangi kotoran pada mulut -> menggunakan air dingin yang
    ditambahkan baking soda
  • Membersihkan mulut -> mengunyah nanas
  • Memberi vitamin C
  • Segeralah bawa ke dokter jika terjadi perdarahan di mulut dan tidak mengalami perbaikan setelah melakukan perawatan dasar dan anak sulit makan karena kondisi lidahnya yang kotor.
  • Berikan obat yang dianjurkan oleh dokter secara rutin dan teratur hingga kondisi lidah dan mulut kembali normal

B. Mulut Kering

Perawatan:

  1. Minum air dingin secara perlahan-lahan
  2. Mengisap es batu
  3. Mengunyah buah nanas
  4. Mengolesi pelembab pada bibir

C. Sariawan dan Nyeri Mulut

Penyebab:

  • Infeksi
  • Luka di mulut misalnya karena tergigit
  • Kekurangan zat besi dan vitamin C
  • Mulut kering
  • Masalah gigi

Perawatan:

  • Lakukan perawatan mulut dasar dengan baik
  • Menghindari makanan yang memicu nyeri pada mulut seperti makanan yang asam, beralkohol (misalnya tape singkong)
  • Untuk mengatasi nyeri berkumurlah dengan air garam atau larutan penyegar mulut
  • Segeralah ke dokter gigi, bila nyeri mulut semakin hebat dan tidak membaik.

D. Bau Mulut
Bau mulut dapat disebabkan oleh infeksi bakteri.

Perawatan:

  • Lakukanlah perawatan mulut dasar untuk mengurangi bau mulut
  • Segera periksakan diri ke dokter gigi bila bau mulut sangat mengganggu

Kesehatan Gigi dan Mulut

Kesehatan gigi dan mulut yang baik adalah penting bagi setiap anak, dan lebih penting lagi untuk anak-anak dengan HIV. Gigi anak harus dibersihkan secara lembut dua kali sehari. Sangat penting untuk melihat tanda-tanda infeksi, peradangan atau nyeri yang dapat menjadi indikasi masalah kesehatan yang lebih serius. Anak harus dibawa ke dokter gigi untuk melakukan pemeriksaan gigi secara teratur.

Pastikan anak Anda tidak berbagi sikat gigi dengan orang lain. Menyikat gigi kadang-kadang bisa membuat mereka berdarah dan meskipun risiko terinfeksi sangat kecil, kebersihan umum yang baik berarti bahwa memastikan semua orang memiliki sikat gigi sendiri.

Sumber:

Yayasan Spiritia. 2016. Pahami dan Dukunglah Kami (Panduan untuk Pengasuh). Seri Buku Kecil.

Read Full Post »

ISTC (International Standards for TB Care) telah disepakati oleh organisasi profesi untuk diterapkan dalam penanganan tuberkulosis di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, ISTC ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada demi kepentingan terbaik pasien. Beberapa masukan dari Perhimpunan Dokter Spesialis dan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia untuk penerapan di Indonesia dicantumkan sebagai addendum.

 

Standar untuk Diagnosis

Standar 1

Untuk memastikan diagnosis dini, pemberi layanan kesehatan harus mengetahui faktor risiko tuberkulosis (TB) untuk individu dan kelompok serta melakukan evaluasi klinis cepat dan uji diagnostik yang tepat untuk orang dengan gejala dan temuan yang mendukung TB.

Standar 2

Semua pasien, termasuk anak, dengan batuk yang tidak diketahui penyebabnya yang berlangsung dua minggu atau lebih atau dengan temuan lain pada foto toraks yang tidak diketahui penyebabnya yang mendukung ke arah TB harus dievaluasi untuk TB

*)Lihat addendum

Standar 3

Semua pasien, termasuk anak, yang dicurigai memiliki TB paru dan mampu mengeluarkan dahak, harus memberikan sedikitnya dua spesimen dahak untuk pemeriksaan mikroskopis atau satu spesimen dahak untuk pemeriksaan Xpert® MTB/RIF sebagai pemeriksaan diagnostik awal.

Uji serologi darah dan interferon-gamma release assays tidak boleh digunakan untuk diagnosis TB aktif.

*)Lihat addendum

Standar 4

Untuk semua pasien, termasuk anak, yang diduga memiliki TB ekstraparu, spesimen yang tepat dari bagian tubuh yang sakit sebaiknya diambil untuk pemeriksaan mikrobiologi dan histologi.

Mengingat pentingnya diagnosis cepat pada terduga meningitis TB, maka pemeriksaan Xpert® MTB/RIF cairan serebrospinal direkomendasikan sebagai uji mikrobiologi awal untuk pasien yang diduga meningitis TB.

*)Lihat addendum

Standar 5

Pada pasien yang diduga memiliki TB paru dengan BTA negatif, perlu dilakukan pemeriksaan Xpert® MTB/RIF dan/atau biakan dahak.

Pada pasien dengan BTA negatif dan Xpert® MTB/RIF negatif tetapi bukti-bukti klinis mendukung kuat ke arah TB, maka pengobatan dengan anti TB harus dimulai setelah dilakukan pengumpulan spesimen untuk pemeriksaan biakan.

Standar 6

Untuk semua anak yang diduga menderita TB intratoraks (misalnya paru, pleura, dan kelenjar getah bening mediastinum atau hilus), konfirmasi bakteriologis perlu dilakukan melalui pemeriksaan sekresi saluran pernapasan (dahak ekspektorasi, dahak hasil induksi, bilas lambung) untuk pemeriksaan mikroskopik, Xpert® MTB/RIF, dan/atau biakan.

*)Lihat addendum

 

Standar untuk Pengobatan

Standar 7

Untuk memenuhi kewajiban terhadap kesehatan masyarakat dan kewajibannya terhadap pasien, pemberi pelayanan kesehatan harus memberikan paduan pengobatan yang tepat, memantau kepatuhan terhadap paduan obat, dan jika diperlukan, membantu mengatasi berbagai faktor yang menyebabkan putusnya atau terhentinya pengobatan.

Untuk memenuhi kewajiban ini diperlukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat dan/atau organisasi lainnya.

Standar 8

Semua pasien yang belum pernah diobati dan tidak memiliki faktor risiko untuk resistensi obat harus mendapatkan pengobatan lini pertama yang sudah disetujui oleh WHO dengan menggunakan obat yang terjamin kualitasnya.

Fase intensif harus mencakup dua bulan pengobatan dengan menggunakan Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol.

Pada fase lanjutan harus diberikan Isoniazid dan Rifampisin selama 4 bulan. Dosis pengobatan harus mengikuti rekomendasi WHO. Penggunaan obat kombinasi dosis tetap dapat mempermudah pemberian obat.

*)Lihat addendum

Standar 9

Pada pengobatan semua pasien, perlu dibangun pendekatan yang berpusat pada pasien, dalam rangka mendorong kepatuhan, meningkatkan kualitas hidup, dan meringankan penderitaan.

Pendekatan ini dilakukan berdasarkan kebutuhan pasien dan rasa saling menghormati antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.

Standar 10

Respons terhadap pengobatan pada pasien dengan TB paru (termasuk pada pasien yang didiagnosis dengan pemeriksaan molekular cepat) harus dimonitor dengan pemeriksaan mikroskopis lanjutan pada saat selesainya fase intensif (dua bulan).

Jika apusan dahak masih positif di akhir fase intensif, pemeriksaan mikroskopis dilakukan lagi pada akhir bulan ketiga dan jika tetap positif, pemeriksaan kepekaan obat molekular cepat (line probe assays atau Xpert® MTB/RIF) atau biakan dengan uji kepekaan obat harus dilakukan.

Pada pasien dengan TB ekstraparu dan pada anak, respons pengobatan dinilai secara klinis.

*)Lihat addendum

Standar 11

Penilaian untuk kemungkinan resistensi obat, berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya atau pajanan dari kasus yang mungkin merupakan sumber penularan organisme resisten obat, dan survei prevalens resistensi obat di komunitas (jika diketahui), perlu dilakukan untuk semua pasien.

Uji resistensi obat perlu dilakukan saat pengobatan dimulai untuk semua pasien dengan risiko memiliki TB resisten obat. Pasien dengan BTA tetap positif setelah menyelesaikan tiga bulan pengobatan, pasien dengan pengobatan yang gagal, dan pasien yang putus pengobatan atau kambuh setelah menyelesaikan satu atau lebih pengobatan harus diperiksa untuk kemungkinan resistensi obat.

Pada pasien yang diduga memiliki resistensi obat, pemeriksaan dengan Xpert® MTB/RIF perlu dilakukan sebagai pemeriksaan diagnostik awal. Jika ditemukan resistensi terhadap Rifampisin, biakan dan uji kepekaan terhadap Isoniazid, Fluorokuinolon, dan obat-obatan suntik lini kedua harus segera dilakukan.

Konseling dan edukasi pasien dan pengobatan empiris dengan paduan lini kedua harus segera dimulai untuk meminimalisasi potensi penularan.

Perlu dilaksanakan tindakan yang sesuai kondisi untuk pengendalian infeksi.

*)Lihat addendum

Standar 12

Pasien dengan atau yang sangat mungkin memiliki TB yang disebabkan oleh organisme yang resisten dengan obat (terutama MDR/XDR) harus diobati dengan paduan khusus yang mengandung obat anti TB lini kedua yang terjamin kualitasnya. Dosis pengobatan harus sesuai dengan rekomendasi WHO. Paduan yang dipilih dapat distandarkan atau berdasarkan dugaan atau hasil konfirmasi pola kepekaan obat. Sedikitnya diberikan lima jenis obat, Pirazinamid dan empat obat lainnya yang organismenya diketahui atau diduga masih peka, termasuk obat suntik, harus digunakan pada 6-8 bulan fase intensif, dan gunakan setidaknya 3 jenis obat yang organismenya diketahui atau diduga masih peka pada fase lanjutan.

Terapi harus diberikan 18-24 bulan setelah terjadinya konversi biakan dahak. Berbagai tindakan yang berpusat kepada pasien termasuk observasi pengobatan, diperlukan untuk memastikan kepatuhan.

Konsultasi dengan dokter spesialis yang berpengalaman dalam pengobatan MDR/XDR harus dilakukan.

Standar 13

Untuk semua pasien perlu dibuat catatan yang mudah diakses dan disusun secara sistematis mengenai: obat-obatan yang diberikan, respons bakteriologis, hasil akhir pengobatan, dan efek samping.

 

Standar untuk Penanganan TB dengan Infeksi HIV dan Kondisi Komorbid Lain

Standar 14

Konseling dan tes HIV perlu dilakukan untuk semua pasien dengan, atau yang diduga TB kecuali sudah ada konfirmasi hasil tes yang negatif dalam dua bulan terakhir. Karena hubungan yang erat antara TB dan HIV, pendekatan yang terintegrasi untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan baik infeksi TB maupun HIV direkomendasikan pada daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi.

Pemeriksaan HIV terutama penting sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin di daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi pada populasi umum, pada pasien dengan gejala dan/atau tanda kondisi terkait HIV, dan pada pasien yang memiliki riwayat risiko tinggi terpajan HIV.

Standar 15

Pada pasien dengan infeksi HIV dan TB yang menderita imunosupresi berat (hitung CD4 kurang dari 50 sel/mm³), ARV harus dimulai dalam waktu 2 minggu setelah dimulainya pengobatan TB kecuali jika ada meningitis tuberkulosis.

Untuk semua pasien dengan HIV dan TB, terlepas dari hasil hitung CD4, terapi antiretroviral harus dimulai dalam waktu 8 minggu semenjak awal pengobatan TB. Pasien dengan infeksi TB dan HIV harus diberikan kotrimoksazol untuk pencegahan infeksi lain.

Standar 16

Pasien dengan infeksi HIV yang setelah dievaluasi secara saksama tidak memiliki TB aktif harus diobati sebagai infeksi TB laten dengan Isoniazid selama setidaknya 6 bulan.

Standar 17

Semua pemberi pelayanan kesehatan harus melakukan penilaian yang menyeluruh untuk mencari kondisi komorbid dan berbagai faktor lainnya yang dapat memengaruhi respons atau hasil akhir pengobatan TB dan mengidentifikasi pelayanan tambahan yang dapat mendukung hasil akhir pengobatan yang optimal bagi masing-masing pasien.

Berbagai pelayanan ini harus digabungkan menjadi rencana pelayanan individual yang mencakup penilaian dan rujukan untuk pengobatan penyakit lainnya.

Perlu diberikan perhatian khusus pada penyakit atau kondisi yang diketahui dapat memengaruhi hasil akhir pengobatan, seperti diabetes mellitus, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, nutrisi yang buruk, dan pengguna rokok. Rujukan untuk dukungan psikososial lainnya atau pelayanan seperti pelayanan antenatal atau perawatan bayi juga perlu disediakan.

 

Standar untuk Kesehatan Masyarakat dan Pencegahan

Standar 18

Semua pemberi pelayanan kesehatan harus memastikan bahwa kontak erat dari pasien dengan TB yang menular harus dievaluasi dan ditatalaksana sesuai dengan rekomendasi internasional.

Prioritas tertinggi evaluasi kontak adalah:

  • Orang dengan gejala yang mendukung ke arah TB
  • Anak usia di bawah 5 tahun
  • Kontak dengan kondisi atau diduga memiliki kondisi imunokompromis, khususnya infeksi HIV
  • Kontak dengan pasien TB MDR/XDR

*)Lihat addendum

Standar 19

Anak usia di bawah 5 tahun dan semua individu berapa pun umurnya yang terinfeksi HIV yang merupakan kontak erat pasien TB menular dan setelah pemeriksaan secara cermat tidak memiliki TB aktif harus diobati sebagai terduga infeksi TB laten dengan Isoniazid selama sekurangnya enam bulan.

*)Lihat addendum

Standar 20

Setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang melayani pasien yang menderita atau diduga menderita TB harus mengembangkan dan menerapkan Program Pengendalian Infeksi (PPI) TB yang tepat untuk meminimalisasi kemungkinan penularan M. tuberculosis ke pasien dan tenaga kesehatan.

Standar 21

Semua penyelenggara pelayanan kesehatan harus melaporkan kasus TB baik baru maupun kasus pengobatan ulang serta hasil akhir pengobatannya ke Dinas Kesehatan setempat sesuai dengan peraturan hukum dan kebijakan yang berlaku.

*)Lihat addendum

 

Addendum

Standar 2

Untuk pasien anak, selain batuk, gejala lain sebagai kecurigaan awal ke arah TB adalah berat badan yang sulit naik dalam waktu kurang lebih 2 bulan terakhir, gizi buruk, demam ≥ 2 minggu tanpa penyebab yang jelas.

Standar 3

Untuk dua spesimen dahak, salah satunya harus berasal dari dahak pagi.

Standar 4

Pada pasien anak untuk membuktikan sudah pernah terinfeksi tuberkulosis dilakukan uji tuberkulin atau interferon gamma release assays (IGRA)

Pemeriksaan ke arah TB paru seharusnya tetap dilakukan yaitu pemeriksaan dahak dan foto toraks

Standar 6

Diimplementasikan pada fasilitas kesehatan yang sudah memiliki Xpert®

Standar 8

Pada TB ekstraparu (meningitis TB, TB tulang, TB milier, TB kulit, dan lain-lain) secara umum terapi TB diberikan minimal 9 bulan.

Khusus untuk anak, regimen yang diberikan terdiri atas RHZ, ditambah E bila penyakitnya berat (BTA positif, TB HIV, TB paru dengan lesi luas, TB ekstraparu berat seperti: TB milier, TB tulang, meningitis TB, dan lain-lain). Secara umum terapi TB pada anak diberikan selama 6 bulan, tetapi pada keadaan tertentu bisa lebih lama (9-12 bulan), seperti pada meningitis TB, TB tulang, MDR TB, dan lain-lain.

Standar 10

Selama menunggu hasil pemeriksaan biakan atau uji resistensi, pengobatan dilanjutkan sesuai dengan fase lanjutan.

Standar 11

  • Belum dapat dilakukan untuk uji resistensi Fluorokuinolon dan Pirazinamid
  • Kriteria suspek TB MDR pada anak:
    • Riwayat pengobatan TB 6-12 bulan sebelumnya
    • Kontak erat dengan pasien TB MDR
    • Kontak erat dengan sumber penularan yang baru meninggal akibat TB, gagal pengobatan TB atau tidak patuh dalam pengobatan TB
    • Tidak menunjukkan perbaikan (klinis, rediologis, atau mikrobiologis) setelah pengobatan dengan OAT lini pertama (kepatuhan minum obat teratur) selama 2-3 bulan
    • Anak dengan TB-HIV yang tidak respons terhadap pemberian OAT setelah penyebab lain disingkirkan.

Standar 18

Apabila menangani TB anak maka harus dicari sumber penularnya

Standar 19

Sebaiknya diberlakukan juga pada pasien dengan berbagai kondisi imunokompromis lainnya, contohnya: sepsis berat, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, pasien dengan transplantasi, kemoterapi, imunosupresan jangka panjang, dan lain-lain.

Standar 21

Pelaksanaan pelaporan akan difasilitasi dan dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan setempat, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat.

 

Sumber:

International Standards for TB Care Edisi 3

Read Full Post »

Kapan memulai pengobatan?

Semakin cepat anak yang terinfeksi memulai pengobatan HIV, semakin cepat ia bisa mendapatkan keuntungan dari pengobatan. Secara khusus, pengobatan HIV harus dimulai sebelum anak menjadi kurang sehat. Jika anak Anda menunjukkan tanda-tanda dari sistem kekebalan tubuh yang lemah (jika mereka sering tidak enak badan, misalnya), mereka harus memulai pengobatan HIV sesegera mungkin.

Pengobatan HIV

Pengobatan HIV sangat efektif pada anak dengan HIV, membuat HIV menjadi penyakit yang dapat dikelola dalam jangka panjang. Sama seperti orang lain yang hidup dengan HIV, bayi, anak-anak dan remaja dianjurkan untuk mengambil pengobatan HIV. Di Indonesia, standar pengobatan HIV untuk anak-anak ditetapkan dalam pedoman yang diterbitkan oleh Kemenkes. Pedoman terbaru diterbitkan pada tahun 2014.

Pengobatan menggunakan kombinasi obat anti-HIV yang berbeda. Kadang-kadang obat dapat digabungkan menjadi satu tablet atau sirup. Jika obat ini digunakan dengan benar, tingkat HIV dalam darah akan menurun ke tingkat yang sangat rendah. Hal ini sering disebut viral load (jumlah virus) tidak terdeteksi dan merupakan salah satu tujuan utama pengobatan HIV.

Pilihan obat yang digunakan untuk mengobati anak Anda akan tergantung pada sejumlah faktor, termasuk usia dan berat badan anak, dan apakah anak mempunyai penyakit lain. Dokter akan mempertimbangkan kombinasi obat yang paling mudah untuk digunakan anak Anda, untuk membantu tercapainya kepatuhan. Patuh berarti anak meminum obat dengan benar, pada waktu yang tepat, dan setiap hari.

Ada berbagai jenis atau kelas obat anti-HIV. Tiap jenis obat bekerja melawan HIV dengan cara berbeda. Untuk memastikan pengobatan HIV berhasil menekan virus, biasanya seseorang harus menggunakan kombinasi tiga obat anti-HIV dan tiga obat ini berasal dari dua kelas yang berbeda.

Infeksi HIV yang tidak diobati dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Memiliki viral load yang tidak terdeteksi bukan berarti seseorang telah sembuh dari HIV. Virus ini ‘ditidurkan’ oleh pengobatan HIV. Jika anak berhenti berobat, virus baru akan segera dibuat lagi. Namun jika anak teratur berobat, jumlah virus akan sangat sedikit dalam darah dan sistem kekebalan tubuh dapat kuat melawan infeksi. Ini berarti anak akan memiliki kesempatan untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Dosis

Dosis obat anti-HIV yang diberikan kepada anak-anak akan tergantung pada berat badan atau ukuran anak. Pengobatan akan dipantau secara berkala oleh klinik untuk memastikan anak Anda menerima dosis paling aman dan paling efektif dari pengobatan mereka. Ketika anak bertumbuh dan mengalami peningkatan berat badan, dosis obat akan berubah. Oleh karena itu, penting bagi anak untuk menghadiri semua janji temu dengan dokter sehingga mereka bisa menerima dosis pengobatan yang tepat.

Kepatuhan

Meminum obat dengan benar disebut kepatuhan. Anak Anda akan mendapatkan manfaat besar dari pengobatan HIV jika digunakan dengan tepat.
Yang dimaksud dengan kepatuhan adalah:

  • Menggunakan obat yang benar
  • Pada waktu yang tepat
  • Dengan cara yang tepat (perhatikan obat yang harus dikonsumsi bersama makanan atau dalam perut kosong, atau tidak ada ada aturan makan)

Lupa minum obat atau tidak mengikuti petunjuk resep dapat mengakibatkan kerja obat tidak efektif dan jumlah virus dapat meningkat. Hal ini dapat menyebabkan perkembangan HIV yang resisten terhadap obat.

Para pemberi layanan kesehatan dapat memberikan beberapa tips atau cara memberikan obat-obatan kepada anak dan bagaimana meningkatkan peluang anak untuk menggunakan pengobatan dengan cara yang benar.

Berikut adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengajak anak meminum obat:

  • Libatkan anak Anda. Misalnya, biarkan anak Anda memilih cangkir yang digunakan untuk mengambil minuman untuk minum obat. Atau membuat bagan dan biarkan anak Anda menempel dengan stiker warna warni untuk setiap dosis obat yang digunakan;
  • Jelaskan kepada anak bahwa obat ini dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mereka;
  • Bangun rutinitas. Jika anak Anda menggunakan obat mereka pada waktu yang sama setiap hari, mereka akan terbiasa untuk melakukannya. Jelaskan bahwa kebiasaan ini sama seperti rutinitas menyikat gigi dan sesuatu yang harus dilakukan setiap hari supaya tetap kuat dan sehat di masa depan;
  • Puji anak setiap kali meminum obat;
  • Ajar anak untuk menelan pil. Pil lebih mudah digunakan dibandingkan dengan sirup. Misalnya, menaruh pil di belakang lidah kemudian meminum air yang banyak supaya pil cepat tertelan;
  • Anak dapat latihan beberapa hari sebelum menggunakan obat anti-HIV. Latih mereka untuk menelan permen yang berukuran sangat kecil dapat menjadi cara yang bermanfaat;
  • Jika anak menggunakan sirup, gunakan sendok takar obat atau pipet obat untuk memastikan anak mendapat takaran obat yang benar;
  • Jika Anda juga menjalani pengobatan HIV, Anda dan anak Anda dapat meminum obat pada waktu yang sama.

Penting bahwa Anda dan anak Anda berkomitmen untuk menjalani pengobatan dan memiliki pandangan yang positif terhadap pengobatan. Usahakan untuk tidak menekankan pada sisi negatif penggunaan obat, tetapi konsentrasikan pada manfaat pengobatan. Jika Anda merasa kesulitan membicarakan hal ini dengan anak Anda, diskusikan perasaan Anda dengan dokter, konselor atau pendukung sebaya.

Disadur dari:

Yayasan Spiritia. 2016. Pahami dan Dukunglah Kami (Panduan untuk Pengasuh). Seri Buku Kecil.

Read Full Post »

 

Dalam mengasuh dan merawat ADHA selain dukungan medis dalam hal pemantauan aspek kesehatannya, dukungan moral dan kasih sayang pun sangatlah penting dan merupakan salah satu aspek yang utama.

Mendampingi dan Mendukung ADHA

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam mendampingi anak adalah:

  1. Menyatakan cinta kepada anak
  2. Mengenal kelebihan dan kekurangan anak
  3. Membangun rasa percaya diri anak
  4. Mendukung anak menjadi tangguh dalam menghadapi hidup
  5. Membangun kemampuan berpikir kritis
  6. Membantu anak menetapkan cita-cita

Bagaimana Cara Menyatakan Cinta bagi Anak?

  1. Gunakanlah bahasa cinta tiap kali akan berkomunikasi dengan anak
  2. Berikanlah pelukan kasih sayang sesering mungkin kepada anak
  3. Jadilah teman bermain bagi anak
  4. Siapkan makanan kesukaannya, jangan lupa untuk memperhatikan nutrisinya
  5. Saat anak berbuat salah atau gagal, berikanlah senyum penerimaan dan temani anak untuk mencoba dan memperbaikinya lagi
  6. Sesekali ajaklah anak dan anggota keluarga lain untuk berlibur bersama, seperti bermain ke pantai, ke kebun binatang, atau ke taman bermain.

5 Bahasa Cinta (Gary Chapman)

  • Sentuhan fisik (posisi duduk yang berdekatan, memeluk, mencium, menggandeng, memijat, mengelus kepala, mengajak tos)
  • Ucapkan kata-kata mendukung (mengatakan “aku sayang kamu”, bangga, pujian, menghibur, menulis surat cinta, menggunakan panggilan kesayangan)
  • Berikan hadiah spesial (saat ulang tahun, hadiah prestasi, hadiah kejutan)
  • Waktu bersama (menemani tidur, bekerja bersama, membacakan cerita/dongeng)
  • Pelayanan (mengantar ke sekolah, menemani mengerjakan PR, merawat ketika sakit)

Hak Dasar Seorang Anak yang Harus Mereka Peroleh?

Setiap anak di dunia ini mempunyai hak-hak dasar yang dilindungi dan harusnya terpenuhi. Pada prinsipnya hak-hak itu adalah :

  1. Anak tidak boleh didiskriminasi /dibedakan berdasarkan keadaannya, contohnya ‘’Ih, kamu kok nggak bisa diam kayak anak yang lain sih!’’
  2. Anak berhak mendapatkan yang terbaik, contohnya mendapatkan perhatian cukup, mendapatkan makanan yang bernutrisi.
  3. Anak memiliki hak untuk hidup, bertumbuh, dan berkembang, misalnya anak didukung untuk bermain bola jika anak memang punya hobi bermain bola
  4. Anak memiliki hak untuk dihargai, contohnya saat anak telah merapikan mainannya sendiri orang tua memberikan pujian “Wah kamu hebat!’”

 

Membangun Rasa Percaya Diri pada Anak

  • Bantu anak untuk menuliskan kelebihan dan kekurangan dirinya.
  • Jika anak berhasil melakukan kebaikan, berilah pujian tulus atas kemampuannya tersebut, seperti ucapan “Terima kasih ya, Sayang”
  • Memuji anak ketika ia berhasil melakukan sesuatu seperti:
    • Membawa gelas minuman untuk tamu
    • Naik dan turun tangga dengan baik
    • Membuat pekerjaan rumah dengan benar
    • Membereskan mainan sendiri
    • Berhasil tidak mengompol
    • Menaruh piring dan gelas bekas makan di tempat cuci piring, dan lain-lain
    • Ucapkan “Wah, kamu hebat ya sudah bisa melakukannya dengan baik.”
    • Membuat buku Prestasi Hidup
      • Isilah buku tersebut dengan keberhasilan dan hal-hal baik yang dilakukan anak setiap hari atau setiap minggu seperti makan sendiri tanpa dibantu, mandi sendiri tanpa dibantu, tidak mengompol, dan lain-lain
    • Mendukung anak menjadi tangguh dalam menghadapi kesulitan
    • Jadilah teladan ketabahan bagi anak
    • Ceritakan kisah hidup orang tabah, misalnya seorang yang lahir tanpa kemampuan mendengar (tuli) bisa menjadi dosen sebuah universitas ternama karena semangatnya
    • Biarkan anak mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri, misalnya saat anak lupa menaruh di mana mainannya biarkan ia menemukannya dengan caranya sendiri
    • Berikan anak tugas atau tanggung jawab di rumah, misalnya merapikan mainan sendiri, membereskan tempat tidur
    • Dukung anak untuk menyelesaikan masalahnya dengan mengatakan “Ayo, kamu pasti bisa!”

Mengenalkan Rasa Syukur pada Anak

Rasa syukur membuat anak tidak mudah mengeluh dalam menjalani hidupnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mengenalkan rasa syukur pada anak:

  • Jadilah teladan syukur bagi anak. Tunjukkan rasa syukur untuk hal-hal sederhana, misalnya syukur untuk napas yang masih Tuhan beri, syukur untuk persediaan air yang dimiliki, syukur untuk sepasang baju yang masih dimiliki dan masih banyak hal sederhana lainnya.
  • Biasakan budaya berterima kasih bersama anak. Selalu mengucapkan terima kasih setiap kali anak melakukan sesuatu hal yang baik, dan mintalah anak untuk mengucapkan terima kasih setiap kali anak menerima bantuan.
  • Buatlah daftar syukur dalam hidup bersama anak. Menyebutkan 5 hal yang bisa disyukuri pada hari itu sebelum istirahat tidur malam.

Membangun Kemandirian pada Anak

  • Biarkan anak bermain
    • Anak-anak belajar banyak hal ketika mereka bermain. Biarkan sesekali anak berlama-lama mandi hanya untuk mengamati gelembung air yang jatuh dari kran, atau menuangkan sabun dan shampo ke ember-ember air untuk melihat manakah yang menghasilkan gelembung paling besar. Bermain di luar ruangan dan bermain peran (kucing dan tikus, atau maling dan polisi) juga akan membantu anak untuk mencoba sesuatu yang berbeda
  • Terbukalah pada pertanyaan anak
    • Saat anak bertanya, “Darimana keluarnya adik bayi?” jawablah bahwa bayi keluar dari tubuh seorang perempuan dan pancinglah anak dengan pertanyaan pancingan baru “Kalau telur ayam darimana ya keluarnya?
  • Jangan hentikan pertanyaan anak
    • Anak mempunyai banyak pertanyaan di kepalanya. Anak akan sering menyampaikan banyak pertanyaan secara berturut-turut misalnya, ‘’Kenapa buang sampah sembarangan itu tidak boleh?’’ Sebelum pertanyaan dijawab anak akan mengajukan pertanyaan yang baru ‘’Tapi kenapa temanku kemarin buang bungkus permen di selokan?’’ ‘’Kenapa ibu temanku itu membiarkan?’’
  • Terimalah cara pandang anak yang berbeda
    • Dukung anak Anda untuk memandang segala persoalan dari cara pandang yang berbeda. Saat ia bercerita tentang seorang teman sekelas yang nakal dan dijauhi kawan-kawannya, Anda bisa mengatakan “Oh mungkin ia ingin main sama-sama, tapi nggak tahu gimana caranya supaya teman-teman mau main sama dia.”
  • Mencari sumber lain
    • Saat anak bertanya tentang arti suatu kata dalam bahasa daerah atau bahasa Inggris yang sering ditemuinya, katakan, “Coba kita tanya pada Kakak. Mungkin Kakak tahu jawabannya.” Atau jika Anda punya koneksi internet di rumah, Anda bisa bilang,”Hmmm … Apa ya? Coba Adek cari di Google Translate.”
  • Mengenalkan hubungan sebab akibat
    • Waktu anak bertanya tentang mengapa kita tidak boleh membuang sampah sembarangan, Anda dapat menjawabnya dengan, “Gimana rasanya kalo Adek uang bungkus permen di tempat tidur Adek, trus Adek tidur di situ. Enak nggak rasanya?”

 

Membantu Anak Menetapkan Cita-cita

  • Anak menyukai dan mencintai sesuatu sehingga menjadikannya sebagai cita-cita (mengenali minat anak)
  • Anak mahir melakukan sesuatu sehingga memilih hal tersebut sebagai cita-citanya (mengenali bakat anak)
  • Cita-cita tersebut dibutuhkan oleh lingkungan sekitarnya
  • Anak dibayar untuk melakukan cita-citanya (profesi anak di masa depan)

 

Berbicara dengan Anak Anda mengenai HIV

Memberikan informasi anak Anda tentang HIV akan menjadi sebuah proses. Apa yang Anda katakan akan tergantung pada usia anak, tingkat pemahaman, dan kesiapan mereka untuk mengetahui tentang HIV. Sangat penting untuk berpikir tentang bagaimana dan kapan Anda akan memberikan informasi anak Anda tentang baik mereka sendiri dan/atau infeksi HIV Anda. Sangat penting bahwa Anda menggunakan bahasa yang mudah untuk dimengerti oleh anak. Cobalah untuk jujur dan konsisten. Menyembunyikan kebenaran bisa membuat Anda mengalami masalah di kemudian hari.

Diskusikan dengan tim pemberi layanan kesehatan termasuk dokter, perawat dan psikolog jika Anda mengalami kesulitan untuk membicarakan mengenai HIV dengan anak Anda. Orang tua atau pengasuh lain dari anak dengan HIV juga dapat membantu Anda dengan berbagi pengalaman mereka dengan Anda. Anda perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi reaksi yang mungkin terjadi dan dukungan yang mungkin
Anda butuhkan.

 

Menyediakan Informasi Seiring dengan Perkembangan Anak

Kita semua ingin mendukung anak untuk tumbuh bahagia dan sehat sampai dewasa. Pengasuh dipercayakan untuk melakukan pekerjaan yang sangat penting dalam pengungkapan HIV ke anak. Proses ini dapat menjadi pengalaman
positif atau negatif dan dapat memastikan apakah anak dengan HIV hidup secara positif atau tidak. Anak memiliki hak untuk mengetahui status kesehatan sehingga mereka dapat memperoleh dan mengelola pengobatan, tetapi proses ini harus dilakukan secara memadai.

Ada banyak alasan mengapa lebih baik bagi anak untuk mengetahui bahwa dirinya HIV positif dibandingkan menyembunyikan mengenai HIV dengan anak:

  • Memungkinkan anak memainkan peran aktif dalam perawatannya
  • Meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatannya
  • Mendukung penyesuaian emosional dan kemampuan untuk mengatasinya
  • Menghargai anak
  • Menguatkan kepercayaan dan hubungan antara anak dan pengasuh
  • Membantu menghindari kekhawatiran dan kecemasan yang terpendam
  • Memungkinkan anak mencari dukungan kebutuhan yang mungkin akan dibutuhkan
  • Memungkinkan anak menyatakan kesedihan dan ketakutannya, dan mengajukan pertanyaan
  • Memungkinkan anak memiliki pengetahuan dan informasi tentang HIV yang benar dan pada akhirnya memiliki kepercayaan diri untuk mengatasi permasalahannya
  • Mengetahui yang sebenarnya akan memberdayakan anak dalam membuat pilihan hidup
  • Mengungkapkan yang sebenarnya bisa melegakan, dan mungkin tidak seburuk dengan kekhawatiran yang terpendam
  • Dapat membantu anak untuk menyikapi dampak buruk yang akan terjadi nanti
  • Dapat membantu anak menghindari kinerja sekolah yang buruk
  • Menghormati hak anak (anak memiliki hak untuk tahu)

Pada usia yang masih sangat muda, dimana anak tidak mengerti mengenai HIV, menjelaskan dengan menggunakan kata “HIV” akan menyebabkan kebingungan. Anda dapat membantu menjelaskan dengan kalimat:

  • Kita mengunjungi dokter hari ini karena adik memiliki penyakit yang terkadang membuat adik merasa tidak enak badan
  • Dokter dan perawat ingin bertemu dan melihat keadaan adik
  • Obat yang adik gunakan akan membantu adik untuk merasa lebih baik/tetap sehat
  • Setelah anak mulai menginjak usia remaja dan menjelang usia dewasa, Anda harus memberikan informasi lebih lanjut. Misalnya, Anda mungkin ingin mengatakan sesuatu seperti:
    • Alasan adik harus pergi ke klinik karena ada sesuatu dalam darah adik
    • Tes darah yang dilakukan akan melihat apa yang ada di dalam darah adik dan apa yang harus dilakukan untuk membuat adik tetap sehat
    • Obat yang digunakan akan membuat tubuh adik bekerja sebagaimana mestinya dan mencegah adik menjadi sakit
    • Obat-obatan adik bekerja sangat baik, menjaga virus dalam darah adik tidur sehingga adik tidak sakit
    • Saya juga minum obat saya juga, dan virus saya tertidur juga dan kita berdua sehat

Kebanyakan anak siap untuk memiliki percakapan terbuka mengenai HIV saat mereka berada di sekolah dasar. Umumnya, mereka harus tahu bahwa mereka memiliki HIV pada saat mereka pergi ke sekolah menengah. Informasi yang Anda berikan pada saat mereka memasuki sekolah menengah harus menyebutkan HIV sebagai “HIV”. Pikirkan tentang apa yang Anda butuhkan untuk memberitahu anak Anda. Mereka tidak perlu mengetahui banyak detail tentang HIV atau tahu semua tentang langsung penyakit. Memberikan informasi terlalu banyak hanya dapat mempersulit mereka dan membuat mereka bingung dan khawatir.

Berbicara dengan anak Anda mungkin sulit atau bahkan menyakitkan bagi Anda. Tapi hal tersebut dapat membantu anak Anda untuk merasa terlibat dan memberikan mereka rasa memiliki kontrol atas pengobatan dan perawatan mereka. Hal ini juga dapat membantu membangun rasa percaya diri dan membantu mengurangi rasa takut dan kecemasan. Cobalah untuk memberikan waktu yang rutin untuk bercakap-cakap dengan anak Anda, karena pertanyaan anak atau masalah anak-anak cenderung berubah dari waktu ke waktu.

Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditanyakan meliputi:

  • Bagaimana saya bisa mendapatkan infeksi ini?
  • Berapa lama saya akan hidup?
  • Apakah aku akan mati?
  • Apa yang akan terjadi padaku?
  • Apakah Anda juga memiliki HIV ?
  • Bagaimana kau bisa terinfeksi HIV?
  • Dapatkah saya dapat menularkan orang lain?
  • Dapatkah saya memberitahu teman-teman saya mengenai hal in?
  • Akankah HIV pernah pergi?

 

Anda mungkin dapat memikirkan banyak pertanyaan lain yang mungkin ditanyakan oleh anak Anda. Pertanyaan akan bervariasi tergantung pada berapa usia anak Anda dan berapa banyak mereka pahami, dan apakah ada anggota keluarga yang telah meninggal karena HIV. Beberapa pertanyaan ini mungkin aneh, sulit atau memalukan, tetapi jika Anda berpikir tentang pertanyaan ini, Anda bisa merasa lebih siap jika pertanyaan ini benar-benar ditanyakan. Kadang-kadang orang tua merasa sangat sulit untuk mulai berbicara secara terbuka tentang HIV kepada anak mereka. Tim di layanan kesehatan anak Anda dapat membantu Anda dengan melakukan hal ini untuk pertama kalinya, dan  mendukung Anda dan anak Anda sebagaimana pengetahuan anak Anda tentang HIV berkembang.

Banyak orang tua takut bahwa anak-anak mereka kemudian akan memberitahu orang lain bahwa mereka memiliki HIV. Pada kenyataannya, anak-anak jarang melakukan hal ini, ketika mereka didukung oleh keluarga dan para pemberi layanan kesehatan mereka untuk mengeksplorasi mengapa informasi tertentu bersifat pribadi dan siapa yang perlu tahu. Orang tua mungkin takut bahwa anak mereka akan marah bahwa mereka telah “diberikan” HIV. Reaksi ini jarang terjadi dan dalam jangka panjang, Anda dapat membantu anak Anda mengelola dampak emosional dari HIV melalui percakapan yang terbuka dan mendukung sehingga akan membantu mengurangi perasaan marah.

Sebagian besar anak-anak dan orang tua benar-benar menjadi lebih dekat, dan merasa lebih kuat terhubung ketika mencoba untuk saling mendukung satu sama lain. Anda mungkin tergoda untuk menunda memberitahu anak Anda tentang HIV. Anak biasanya mulai sangat paham tentang keadaan kesehatan mereka ketika memasuki sekolah menengah, namun percakapan terbuka harus dimulai sejak usia yang lebih muda. Ketika anak menjadi lebih dewasa mereka akan lebih merasa marah jika informasi penting mengenai tubuh dan kesehatan mereka tidak diinformasikan kepada mereka, dan hal ini tidak membantu hubungan dengan orang tua.

Jadi Perlu untuk Diingat

  • Banyak anak dengan HIV memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah dengan sangat baik, termasuk ketika mengetahui bahwa ia terinfeksi
  • Jelaskan secara perlahan-lahan. Berikan informasi secara singkat dan jelas
  • Dorong mereka untuk mengajukan pertanyaan. Jika Anda memberi mereka selebaran atau brosur untuk dibaca, berikan waktu untuk bertanya apa yang mereka pikirkan tentang informasi tersebut dan apakah mereka mengerti informasi yang mereka baca
  • Anak-anak harus mengetahui bahwa Anda selalu bersedia untuk mendukung mereka—ini akan membantu mereka merasa bahwa HIV adalah sesuatu yang dapat dibicarakan dengan Anda
  • Bicarakan dengan staf di klinik/RS anak Anda atau kelompok dukungan sebaya untuk mengetahui apakah ada seseorang yang dapat Anda hubungi jika mereka perlu untuk mengajukan pertanyaan atau jika mereka ingin berbicara dengan seseorang di luar keluarga

Kesimpulan

  • Jika Anda seorang perempuan yang hidup dengan HIV, sangat penting bahwa anak-anak Anda dites untuk HIV
  • Perjalanan infeksi HIV pada anak-anak berbeda dengan yang terlihat pada orang dewasa. Kesehatan anak Anda harus dipantau secara teratur
  • Pengobatan untuk HIV sangat efektif, dan anak-anak dengan HIV yang mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan dapat berharap untuk hidup yang panjang, sehat.
  • Menggunakan pengobatan secara patuh sangat penting dan klinik dapat menyarankan cara untuk membantu pengasuh dalam hal ini
  • Anak-anak dengan HIV perlu diberi informasi tentang penyakit mereka sesuai dengan usia dan perkembangan mereka
  • Keputusan untuk memberitahu orang lain bahwa anak Anda memiliki HIV adalah keputusan Anda tetapi lebih baik untuk berhati-hati tentang hal ini sebelum membuat keputusan ini. Demikian juga ketika anak Anda bertambah dewasa, mereka dapat memutuskan siapa yang tahu dan bagaimana mereka memberi tahu orang-orang, tetapi mereka mungkin membutuhkan dukungan Anda untuk merencanakan hal ini.
  • Ada banyak dukungan yang tersedia untuk membantu Anda dan anak Anda hidup dengan baik dengan HIV.

Disadur dari:

Yayasan Spiritia. 2016. Pahami dan Dukunglah Kami (Panduan untuk Pengasuh). Seri Buku Kecil.

 

Read Full Post »

Older Posts »