Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Penyakit Infeksi’ Category

ISTC (International Standards for TB Care) telah disepakati oleh organisasi profesi untuk diterapkan dalam penanganan tuberkulosis di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, ISTC ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada demi kepentingan terbaik pasien. Beberapa masukan dari Perhimpunan Dokter Spesialis dan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia untuk penerapan di Indonesia dicantumkan sebagai addendum.

 

Standar untuk Diagnosis

Standar 1

Untuk memastikan diagnosis dini, pemberi layanan kesehatan harus mengetahui faktor risiko tuberkulosis (TB) untuk individu dan kelompok serta melakukan evaluasi klinis cepat dan uji diagnostik yang tepat untuk orang dengan gejala dan temuan yang mendukung TB.

Standar 2

Semua pasien, termasuk anak, dengan batuk yang tidak diketahui penyebabnya yang berlangsung dua minggu atau lebih atau dengan temuan lain pada foto toraks yang tidak diketahui penyebabnya yang mendukung ke arah TB harus dievaluasi untuk TB

*)Lihat addendum

Standar 3

Semua pasien, termasuk anak, yang dicurigai memiliki TB paru dan mampu mengeluarkan dahak, harus memberikan sedikitnya dua spesimen dahak untuk pemeriksaan mikroskopis atau satu spesimen dahak untuk pemeriksaan Xpert® MTB/RIF sebagai pemeriksaan diagnostik awal.

Uji serologi darah dan interferon-gamma release assays tidak boleh digunakan untuk diagnosis TB aktif.

*)Lihat addendum

Standar 4

Untuk semua pasien, termasuk anak, yang diduga memiliki TB ekstraparu, spesimen yang tepat dari bagian tubuh yang sakit sebaiknya diambil untuk pemeriksaan mikrobiologi dan histologi.

Mengingat pentingnya diagnosis cepat pada terduga meningitis TB, maka pemeriksaan Xpert® MTB/RIF cairan serebrospinal direkomendasikan sebagai uji mikrobiologi awal untuk pasien yang diduga meningitis TB.

*)Lihat addendum

Standar 5

Pada pasien yang diduga memiliki TB paru dengan BTA negatif, perlu dilakukan pemeriksaan Xpert® MTB/RIF dan/atau biakan dahak.

Pada pasien dengan BTA negatif dan Xpert® MTB/RIF negatif tetapi bukti-bukti klinis mendukung kuat ke arah TB, maka pengobatan dengan anti TB harus dimulai setelah dilakukan pengumpulan spesimen untuk pemeriksaan biakan.

Standar 6

Untuk semua anak yang diduga menderita TB intratoraks (misalnya paru, pleura, dan kelenjar getah bening mediastinum atau hilus), konfirmasi bakteriologis perlu dilakukan melalui pemeriksaan sekresi saluran pernapasan (dahak ekspektorasi, dahak hasil induksi, bilas lambung) untuk pemeriksaan mikroskopik, Xpert® MTB/RIF, dan/atau biakan.

*)Lihat addendum

 

Standar untuk Pengobatan

Standar 7

Untuk memenuhi kewajiban terhadap kesehatan masyarakat dan kewajibannya terhadap pasien, pemberi pelayanan kesehatan harus memberikan paduan pengobatan yang tepat, memantau kepatuhan terhadap paduan obat, dan jika diperlukan, membantu mengatasi berbagai faktor yang menyebabkan putusnya atau terhentinya pengobatan.

Untuk memenuhi kewajiban ini diperlukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat dan/atau organisasi lainnya.

Standar 8

Semua pasien yang belum pernah diobati dan tidak memiliki faktor risiko untuk resistensi obat harus mendapatkan pengobatan lini pertama yang sudah disetujui oleh WHO dengan menggunakan obat yang terjamin kualitasnya.

Fase intensif harus mencakup dua bulan pengobatan dengan menggunakan Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol.

Pada fase lanjutan harus diberikan Isoniazid dan Rifampisin selama 4 bulan. Dosis pengobatan harus mengikuti rekomendasi WHO. Penggunaan obat kombinasi dosis tetap dapat mempermudah pemberian obat.

*)Lihat addendum

Standar 9

Pada pengobatan semua pasien, perlu dibangun pendekatan yang berpusat pada pasien, dalam rangka mendorong kepatuhan, meningkatkan kualitas hidup, dan meringankan penderitaan.

Pendekatan ini dilakukan berdasarkan kebutuhan pasien dan rasa saling menghormati antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.

Standar 10

Respons terhadap pengobatan pada pasien dengan TB paru (termasuk pada pasien yang didiagnosis dengan pemeriksaan molekular cepat) harus dimonitor dengan pemeriksaan mikroskopis lanjutan pada saat selesainya fase intensif (dua bulan).

Jika apusan dahak masih positif di akhir fase intensif, pemeriksaan mikroskopis dilakukan lagi pada akhir bulan ketiga dan jika tetap positif, pemeriksaan kepekaan obat molekular cepat (line probe assays atau Xpert® MTB/RIF) atau biakan dengan uji kepekaan obat harus dilakukan.

Pada pasien dengan TB ekstraparu dan pada anak, respons pengobatan dinilai secara klinis.

*)Lihat addendum

Standar 11

Penilaian untuk kemungkinan resistensi obat, berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya atau pajanan dari kasus yang mungkin merupakan sumber penularan organisme resisten obat, dan survei prevalens resistensi obat di komunitas (jika diketahui), perlu dilakukan untuk semua pasien.

Uji resistensi obat perlu dilakukan saat pengobatan dimulai untuk semua pasien dengan risiko memiliki TB resisten obat. Pasien dengan BTA tetap positif setelah menyelesaikan tiga bulan pengobatan, pasien dengan pengobatan yang gagal, dan pasien yang putus pengobatan atau kambuh setelah menyelesaikan satu atau lebih pengobatan harus diperiksa untuk kemungkinan resistensi obat.

Pada pasien yang diduga memiliki resistensi obat, pemeriksaan dengan Xpert® MTB/RIF perlu dilakukan sebagai pemeriksaan diagnostik awal. Jika ditemukan resistensi terhadap Rifampisin, biakan dan uji kepekaan terhadap Isoniazid, Fluorokuinolon, dan obat-obatan suntik lini kedua harus segera dilakukan.

Konseling dan edukasi pasien dan pengobatan empiris dengan paduan lini kedua harus segera dimulai untuk meminimalisasi potensi penularan.

Perlu dilaksanakan tindakan yang sesuai kondisi untuk pengendalian infeksi.

*)Lihat addendum

Standar 12

Pasien dengan atau yang sangat mungkin memiliki TB yang disebabkan oleh organisme yang resisten dengan obat (terutama MDR/XDR) harus diobati dengan paduan khusus yang mengandung obat anti TB lini kedua yang terjamin kualitasnya. Dosis pengobatan harus sesuai dengan rekomendasi WHO. Paduan yang dipilih dapat distandarkan atau berdasarkan dugaan atau hasil konfirmasi pola kepekaan obat. Sedikitnya diberikan lima jenis obat, Pirazinamid dan empat obat lainnya yang organismenya diketahui atau diduga masih peka, termasuk obat suntik, harus digunakan pada 6-8 bulan fase intensif, dan gunakan setidaknya 3 jenis obat yang organismenya diketahui atau diduga masih peka pada fase lanjutan.

Terapi harus diberikan 18-24 bulan setelah terjadinya konversi biakan dahak. Berbagai tindakan yang berpusat kepada pasien termasuk observasi pengobatan, diperlukan untuk memastikan kepatuhan.

Konsultasi dengan dokter spesialis yang berpengalaman dalam pengobatan MDR/XDR harus dilakukan.

Standar 13

Untuk semua pasien perlu dibuat catatan yang mudah diakses dan disusun secara sistematis mengenai: obat-obatan yang diberikan, respons bakteriologis, hasil akhir pengobatan, dan efek samping.

 

Standar untuk Penanganan TB dengan Infeksi HIV dan Kondisi Komorbid Lain

Standar 14

Konseling dan tes HIV perlu dilakukan untuk semua pasien dengan, atau yang diduga TB kecuali sudah ada konfirmasi hasil tes yang negatif dalam dua bulan terakhir. Karena hubungan yang erat antara TB dan HIV, pendekatan yang terintegrasi untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan baik infeksi TB maupun HIV direkomendasikan pada daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi.

Pemeriksaan HIV terutama penting sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin di daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi pada populasi umum, pada pasien dengan gejala dan/atau tanda kondisi terkait HIV, dan pada pasien yang memiliki riwayat risiko tinggi terpajan HIV.

Standar 15

Pada pasien dengan infeksi HIV dan TB yang menderita imunosupresi berat (hitung CD4 kurang dari 50 sel/mm³), ARV harus dimulai dalam waktu 2 minggu setelah dimulainya pengobatan TB kecuali jika ada meningitis tuberkulosis.

Untuk semua pasien dengan HIV dan TB, terlepas dari hasil hitung CD4, terapi antiretroviral harus dimulai dalam waktu 8 minggu semenjak awal pengobatan TB. Pasien dengan infeksi TB dan HIV harus diberikan kotrimoksazol untuk pencegahan infeksi lain.

Standar 16

Pasien dengan infeksi HIV yang setelah dievaluasi secara saksama tidak memiliki TB aktif harus diobati sebagai infeksi TB laten dengan Isoniazid selama setidaknya 6 bulan.

Standar 17

Semua pemberi pelayanan kesehatan harus melakukan penilaian yang menyeluruh untuk mencari kondisi komorbid dan berbagai faktor lainnya yang dapat memengaruhi respons atau hasil akhir pengobatan TB dan mengidentifikasi pelayanan tambahan yang dapat mendukung hasil akhir pengobatan yang optimal bagi masing-masing pasien.

Berbagai pelayanan ini harus digabungkan menjadi rencana pelayanan individual yang mencakup penilaian dan rujukan untuk pengobatan penyakit lainnya.

Perlu diberikan perhatian khusus pada penyakit atau kondisi yang diketahui dapat memengaruhi hasil akhir pengobatan, seperti diabetes mellitus, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, nutrisi yang buruk, dan pengguna rokok. Rujukan untuk dukungan psikososial lainnya atau pelayanan seperti pelayanan antenatal atau perawatan bayi juga perlu disediakan.

 

Standar untuk Kesehatan Masyarakat dan Pencegahan

Standar 18

Semua pemberi pelayanan kesehatan harus memastikan bahwa kontak erat dari pasien dengan TB yang menular harus dievaluasi dan ditatalaksana sesuai dengan rekomendasi internasional.

Prioritas tertinggi evaluasi kontak adalah:

  • Orang dengan gejala yang mendukung ke arah TB
  • Anak usia di bawah 5 tahun
  • Kontak dengan kondisi atau diduga memiliki kondisi imunokompromis, khususnya infeksi HIV
  • Kontak dengan pasien TB MDR/XDR

*)Lihat addendum

Standar 19

Anak usia di bawah 5 tahun dan semua individu berapa pun umurnya yang terinfeksi HIV yang merupakan kontak erat pasien TB menular dan setelah pemeriksaan secara cermat tidak memiliki TB aktif harus diobati sebagai terduga infeksi TB laten dengan Isoniazid selama sekurangnya enam bulan.

*)Lihat addendum

Standar 20

Setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang melayani pasien yang menderita atau diduga menderita TB harus mengembangkan dan menerapkan Program Pengendalian Infeksi (PPI) TB yang tepat untuk meminimalisasi kemungkinan penularan M. tuberculosis ke pasien dan tenaga kesehatan.

Standar 21

Semua penyelenggara pelayanan kesehatan harus melaporkan kasus TB baik baru maupun kasus pengobatan ulang serta hasil akhir pengobatannya ke Dinas Kesehatan setempat sesuai dengan peraturan hukum dan kebijakan yang berlaku.

*)Lihat addendum

 

Addendum

Standar 2

Untuk pasien anak, selain batuk, gejala lain sebagai kecurigaan awal ke arah TB adalah berat badan yang sulit naik dalam waktu kurang lebih 2 bulan terakhir, gizi buruk, demam ≥ 2 minggu tanpa penyebab yang jelas.

Standar 3

Untuk dua spesimen dahak, salah satunya harus berasal dari dahak pagi.

Standar 4

Pada pasien anak untuk membuktikan sudah pernah terinfeksi tuberkulosis dilakukan uji tuberkulin atau interferon gamma release assays (IGRA)

Pemeriksaan ke arah TB paru seharusnya tetap dilakukan yaitu pemeriksaan dahak dan foto toraks

Standar 6

Diimplementasikan pada fasilitas kesehatan yang sudah memiliki Xpert®

Standar 8

Pada TB ekstraparu (meningitis TB, TB tulang, TB milier, TB kulit, dan lain-lain) secara umum terapi TB diberikan minimal 9 bulan.

Khusus untuk anak, regimen yang diberikan terdiri atas RHZ, ditambah E bila penyakitnya berat (BTA positif, TB HIV, TB paru dengan lesi luas, TB ekstraparu berat seperti: TB milier, TB tulang, meningitis TB, dan lain-lain). Secara umum terapi TB pada anak diberikan selama 6 bulan, tetapi pada keadaan tertentu bisa lebih lama (9-12 bulan), seperti pada meningitis TB, TB tulang, MDR TB, dan lain-lain.

Standar 10

Selama menunggu hasil pemeriksaan biakan atau uji resistensi, pengobatan dilanjutkan sesuai dengan fase lanjutan.

Standar 11

  • Belum dapat dilakukan untuk uji resistensi Fluorokuinolon dan Pirazinamid
  • Kriteria suspek TB MDR pada anak:
    • Riwayat pengobatan TB 6-12 bulan sebelumnya
    • Kontak erat dengan pasien TB MDR
    • Kontak erat dengan sumber penularan yang baru meninggal akibat TB, gagal pengobatan TB atau tidak patuh dalam pengobatan TB
    • Tidak menunjukkan perbaikan (klinis, rediologis, atau mikrobiologis) setelah pengobatan dengan OAT lini pertama (kepatuhan minum obat teratur) selama 2-3 bulan
    • Anak dengan TB-HIV yang tidak respons terhadap pemberian OAT setelah penyebab lain disingkirkan.

Standar 18

Apabila menangani TB anak maka harus dicari sumber penularnya

Standar 19

Sebaiknya diberlakukan juga pada pasien dengan berbagai kondisi imunokompromis lainnya, contohnya: sepsis berat, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, pasien dengan transplantasi, kemoterapi, imunosupresan jangka panjang, dan lain-lain.

Standar 21

Pelaksanaan pelaporan akan difasilitasi dan dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan setempat, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat.

 

Sumber:

International Standards for TB Care Edisi 3

Advertisements

Read Full Post »

 

Dalam mengasuh dan merawat ADHA selain dukungan medis dalam hal pemantauan aspek kesehatannya, dukungan moral dan kasih sayang pun sangatlah penting dan merupakan salah satu aspek yang utama.

Mendampingi dan Mendukung ADHA

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam mendampingi anak adalah:

  1. Menyatakan cinta kepada anak
  2. Mengenal kelebihan dan kekurangan anak
  3. Membangun rasa percaya diri anak
  4. Mendukung anak menjadi tangguh dalam menghadapi hidup
  5. Membangun kemampuan berpikir kritis
  6. Membantu anak menetapkan cita-cita

Bagaimana Cara Menyatakan Cinta bagi Anak?

  1. Gunakanlah bahasa cinta tiap kali akan berkomunikasi dengan anak
  2. Berikanlah pelukan kasih sayang sesering mungkin kepada anak
  3. Jadilah teman bermain bagi anak
  4. Siapkan makanan kesukaannya, jangan lupa untuk memperhatikan nutrisinya
  5. Saat anak berbuat salah atau gagal, berikanlah senyum penerimaan dan temani anak untuk mencoba dan memperbaikinya lagi
  6. Sesekali ajaklah anak dan anggota keluarga lain untuk berlibur bersama, seperti bermain ke pantai, ke kebun binatang, atau ke taman bermain.

5 Bahasa Cinta (Gary Chapman)

  • Sentuhan fisik (posisi duduk yang berdekatan, memeluk, mencium, menggandeng, memijat, mengelus kepala, mengajak tos)
  • Ucapkan kata-kata mendukung (mengatakan “aku sayang kamu”, bangga, pujian, menghibur, menulis surat cinta, menggunakan panggilan kesayangan)
  • Berikan hadiah spesial (saat ulang tahun, hadiah prestasi, hadiah kejutan)
  • Waktu bersama (menemani tidur, bekerja bersama, membacakan cerita/dongeng)
  • Pelayanan (mengantar ke sekolah, menemani mengerjakan PR, merawat ketika sakit)

Hak Dasar Seorang Anak yang Harus Mereka Peroleh?

Setiap anak di dunia ini mempunyai hak-hak dasar yang dilindungi dan harusnya terpenuhi. Pada prinsipnya hak-hak itu adalah :

  1. Anak tidak boleh didiskriminasi /dibedakan berdasarkan keadaannya, contohnya ‘’Ih, kamu kok nggak bisa diam kayak anak yang lain sih!’’
  2. Anak berhak mendapatkan yang terbaik, contohnya mendapatkan perhatian cukup, mendapatkan makanan yang bernutrisi.
  3. Anak memiliki hak untuk hidup, bertumbuh, dan berkembang, misalnya anak didukung untuk bermain bola jika anak memang punya hobi bermain bola
  4. Anak memiliki hak untuk dihargai, contohnya saat anak telah merapikan mainannya sendiri orang tua memberikan pujian “Wah kamu hebat!’”

 

Membangun Rasa Percaya Diri pada Anak

  • Bantu anak untuk menuliskan kelebihan dan kekurangan dirinya.
  • Jika anak berhasil melakukan kebaikan, berilah pujian tulus atas kemampuannya tersebut, seperti ucapan “Terima kasih ya, Sayang”
  • Memuji anak ketika ia berhasil melakukan sesuatu seperti:
    • Membawa gelas minuman untuk tamu
    • Naik dan turun tangga dengan baik
    • Membuat pekerjaan rumah dengan benar
    • Membereskan mainan sendiri
    • Berhasil tidak mengompol
    • Menaruh piring dan gelas bekas makan di tempat cuci piring, dan lain-lain
    • Ucapkan “Wah, kamu hebat ya sudah bisa melakukannya dengan baik.”
    • Membuat buku Prestasi Hidup
      • Isilah buku tersebut dengan keberhasilan dan hal-hal baik yang dilakukan anak setiap hari atau setiap minggu seperti makan sendiri tanpa dibantu, mandi sendiri tanpa dibantu, tidak mengompol, dan lain-lain
    • Mendukung anak menjadi tangguh dalam menghadapi kesulitan
    • Jadilah teladan ketabahan bagi anak
    • Ceritakan kisah hidup orang tabah, misalnya seorang yang lahir tanpa kemampuan mendengar (tuli) bisa menjadi dosen sebuah universitas ternama karena semangatnya
    • Biarkan anak mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri, misalnya saat anak lupa menaruh di mana mainannya biarkan ia menemukannya dengan caranya sendiri
    • Berikan anak tugas atau tanggung jawab di rumah, misalnya merapikan mainan sendiri, membereskan tempat tidur
    • Dukung anak untuk menyelesaikan masalahnya dengan mengatakan “Ayo, kamu pasti bisa!”

Mengenalkan Rasa Syukur pada Anak

Rasa syukur membuat anak tidak mudah mengeluh dalam menjalani hidupnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mengenalkan rasa syukur pada anak:

  • Jadilah teladan syukur bagi anak. Tunjukkan rasa syukur untuk hal-hal sederhana, misalnya syukur untuk napas yang masih Tuhan beri, syukur untuk persediaan air yang dimiliki, syukur untuk sepasang baju yang masih dimiliki dan masih banyak hal sederhana lainnya.
  • Biasakan budaya berterima kasih bersama anak. Selalu mengucapkan terima kasih setiap kali anak melakukan sesuatu hal yang baik, dan mintalah anak untuk mengucapkan terima kasih setiap kali anak menerima bantuan.
  • Buatlah daftar syukur dalam hidup bersama anak. Menyebutkan 5 hal yang bisa disyukuri pada hari itu sebelum istirahat tidur malam.

Membangun Kemandirian pada Anak

  • Biarkan anak bermain
    • Anak-anak belajar banyak hal ketika mereka bermain. Biarkan sesekali anak berlama-lama mandi hanya untuk mengamati gelembung air yang jatuh dari kran, atau menuangkan sabun dan shampo ke ember-ember air untuk melihat manakah yang menghasilkan gelembung paling besar. Bermain di luar ruangan dan bermain peran (kucing dan tikus, atau maling dan polisi) juga akan membantu anak untuk mencoba sesuatu yang berbeda
  • Terbukalah pada pertanyaan anak
    • Saat anak bertanya, “Darimana keluarnya adik bayi?” jawablah bahwa bayi keluar dari tubuh seorang perempuan dan pancinglah anak dengan pertanyaan pancingan baru “Kalau telur ayam darimana ya keluarnya?
  • Jangan hentikan pertanyaan anak
    • Anak mempunyai banyak pertanyaan di kepalanya. Anak akan sering menyampaikan banyak pertanyaan secara berturut-turut misalnya, ‘’Kenapa buang sampah sembarangan itu tidak boleh?’’ Sebelum pertanyaan dijawab anak akan mengajukan pertanyaan yang baru ‘’Tapi kenapa temanku kemarin buang bungkus permen di selokan?’’ ‘’Kenapa ibu temanku itu membiarkan?’’
  • Terimalah cara pandang anak yang berbeda
    • Dukung anak Anda untuk memandang segala persoalan dari cara pandang yang berbeda. Saat ia bercerita tentang seorang teman sekelas yang nakal dan dijauhi kawan-kawannya, Anda bisa mengatakan “Oh mungkin ia ingin main sama-sama, tapi nggak tahu gimana caranya supaya teman-teman mau main sama dia.”
  • Mencari sumber lain
    • Saat anak bertanya tentang arti suatu kata dalam bahasa daerah atau bahasa Inggris yang sering ditemuinya, katakan, “Coba kita tanya pada Kakak. Mungkin Kakak tahu jawabannya.” Atau jika Anda punya koneksi internet di rumah, Anda bisa bilang,”Hmmm … Apa ya? Coba Adek cari di Google Translate.”
  • Mengenalkan hubungan sebab akibat
    • Waktu anak bertanya tentang mengapa kita tidak boleh membuang sampah sembarangan, Anda dapat menjawabnya dengan, “Gimana rasanya kalo Adek uang bungkus permen di tempat tidur Adek, trus Adek tidur di situ. Enak nggak rasanya?”

 

Membantu Anak Menetapkan Cita-cita

  • Anak menyukai dan mencintai sesuatu sehingga menjadikannya sebagai cita-cita (mengenali minat anak)
  • Anak mahir melakukan sesuatu sehingga memilih hal tersebut sebagai cita-citanya (mengenali bakat anak)
  • Cita-cita tersebut dibutuhkan oleh lingkungan sekitarnya
  • Anak dibayar untuk melakukan cita-citanya (profesi anak di masa depan)

 

Berbicara dengan Anak Anda mengenai HIV

Memberikan informasi anak Anda tentang HIV akan menjadi sebuah proses. Apa yang Anda katakan akan tergantung pada usia anak, tingkat pemahaman, dan kesiapan mereka untuk mengetahui tentang HIV. Sangat penting untuk berpikir tentang bagaimana dan kapan Anda akan memberikan informasi anak Anda tentang baik mereka sendiri dan/atau infeksi HIV Anda. Sangat penting bahwa Anda menggunakan bahasa yang mudah untuk dimengerti oleh anak. Cobalah untuk jujur dan konsisten. Menyembunyikan kebenaran bisa membuat Anda mengalami masalah di kemudian hari.

Diskusikan dengan tim pemberi layanan kesehatan termasuk dokter, perawat dan psikolog jika Anda mengalami kesulitan untuk membicarakan mengenai HIV dengan anak Anda. Orang tua atau pengasuh lain dari anak dengan HIV juga dapat membantu Anda dengan berbagi pengalaman mereka dengan Anda. Anda perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi reaksi yang mungkin terjadi dan dukungan yang mungkin
Anda butuhkan.

 

Menyediakan Informasi Seiring dengan Perkembangan Anak

Kita semua ingin mendukung anak untuk tumbuh bahagia dan sehat sampai dewasa. Pengasuh dipercayakan untuk melakukan pekerjaan yang sangat penting dalam pengungkapan HIV ke anak. Proses ini dapat menjadi pengalaman
positif atau negatif dan dapat memastikan apakah anak dengan HIV hidup secara positif atau tidak. Anak memiliki hak untuk mengetahui status kesehatan sehingga mereka dapat memperoleh dan mengelola pengobatan, tetapi proses ini harus dilakukan secara memadai.

Ada banyak alasan mengapa lebih baik bagi anak untuk mengetahui bahwa dirinya HIV positif dibandingkan menyembunyikan mengenai HIV dengan anak:

  • Memungkinkan anak memainkan peran aktif dalam perawatannya
  • Meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatannya
  • Mendukung penyesuaian emosional dan kemampuan untuk mengatasinya
  • Menghargai anak
  • Menguatkan kepercayaan dan hubungan antara anak dan pengasuh
  • Membantu menghindari kekhawatiran dan kecemasan yang terpendam
  • Memungkinkan anak mencari dukungan kebutuhan yang mungkin akan dibutuhkan
  • Memungkinkan anak menyatakan kesedihan dan ketakutannya, dan mengajukan pertanyaan
  • Memungkinkan anak memiliki pengetahuan dan informasi tentang HIV yang benar dan pada akhirnya memiliki kepercayaan diri untuk mengatasi permasalahannya
  • Mengetahui yang sebenarnya akan memberdayakan anak dalam membuat pilihan hidup
  • Mengungkapkan yang sebenarnya bisa melegakan, dan mungkin tidak seburuk dengan kekhawatiran yang terpendam
  • Dapat membantu anak untuk menyikapi dampak buruk yang akan terjadi nanti
  • Dapat membantu anak menghindari kinerja sekolah yang buruk
  • Menghormati hak anak (anak memiliki hak untuk tahu)

Pada usia yang masih sangat muda, dimana anak tidak mengerti mengenai HIV, menjelaskan dengan menggunakan kata “HIV” akan menyebabkan kebingungan. Anda dapat membantu menjelaskan dengan kalimat:

  • Kita mengunjungi dokter hari ini karena adik memiliki penyakit yang terkadang membuat adik merasa tidak enak badan
  • Dokter dan perawat ingin bertemu dan melihat keadaan adik
  • Obat yang adik gunakan akan membantu adik untuk merasa lebih baik/tetap sehat
  • Setelah anak mulai menginjak usia remaja dan menjelang usia dewasa, Anda harus memberikan informasi lebih lanjut. Misalnya, Anda mungkin ingin mengatakan sesuatu seperti:
    • Alasan adik harus pergi ke klinik karena ada sesuatu dalam darah adik
    • Tes darah yang dilakukan akan melihat apa yang ada di dalam darah adik dan apa yang harus dilakukan untuk membuat adik tetap sehat
    • Obat yang digunakan akan membuat tubuh adik bekerja sebagaimana mestinya dan mencegah adik menjadi sakit
    • Obat-obatan adik bekerja sangat baik, menjaga virus dalam darah adik tidur sehingga adik tidak sakit
    • Saya juga minum obat saya juga, dan virus saya tertidur juga dan kita berdua sehat

Kebanyakan anak siap untuk memiliki percakapan terbuka mengenai HIV saat mereka berada di sekolah dasar. Umumnya, mereka harus tahu bahwa mereka memiliki HIV pada saat mereka pergi ke sekolah menengah. Informasi yang Anda berikan pada saat mereka memasuki sekolah menengah harus menyebutkan HIV sebagai “HIV”. Pikirkan tentang apa yang Anda butuhkan untuk memberitahu anak Anda. Mereka tidak perlu mengetahui banyak detail tentang HIV atau tahu semua tentang langsung penyakit. Memberikan informasi terlalu banyak hanya dapat mempersulit mereka dan membuat mereka bingung dan khawatir.

Berbicara dengan anak Anda mungkin sulit atau bahkan menyakitkan bagi Anda. Tapi hal tersebut dapat membantu anak Anda untuk merasa terlibat dan memberikan mereka rasa memiliki kontrol atas pengobatan dan perawatan mereka. Hal ini juga dapat membantu membangun rasa percaya diri dan membantu mengurangi rasa takut dan kecemasan. Cobalah untuk memberikan waktu yang rutin untuk bercakap-cakap dengan anak Anda, karena pertanyaan anak atau masalah anak-anak cenderung berubah dari waktu ke waktu.

Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditanyakan meliputi:

  • Bagaimana saya bisa mendapatkan infeksi ini?
  • Berapa lama saya akan hidup?
  • Apakah aku akan mati?
  • Apa yang akan terjadi padaku?
  • Apakah Anda juga memiliki HIV ?
  • Bagaimana kau bisa terinfeksi HIV?
  • Dapatkah saya dapat menularkan orang lain?
  • Dapatkah saya memberitahu teman-teman saya mengenai hal in?
  • Akankah HIV pernah pergi?

 

Anda mungkin dapat memikirkan banyak pertanyaan lain yang mungkin ditanyakan oleh anak Anda. Pertanyaan akan bervariasi tergantung pada berapa usia anak Anda dan berapa banyak mereka pahami, dan apakah ada anggota keluarga yang telah meninggal karena HIV. Beberapa pertanyaan ini mungkin aneh, sulit atau memalukan, tetapi jika Anda berpikir tentang pertanyaan ini, Anda bisa merasa lebih siap jika pertanyaan ini benar-benar ditanyakan. Kadang-kadang orang tua merasa sangat sulit untuk mulai berbicara secara terbuka tentang HIV kepada anak mereka. Tim di layanan kesehatan anak Anda dapat membantu Anda dengan melakukan hal ini untuk pertama kalinya, dan  mendukung Anda dan anak Anda sebagaimana pengetahuan anak Anda tentang HIV berkembang.

Banyak orang tua takut bahwa anak-anak mereka kemudian akan memberitahu orang lain bahwa mereka memiliki HIV. Pada kenyataannya, anak-anak jarang melakukan hal ini, ketika mereka didukung oleh keluarga dan para pemberi layanan kesehatan mereka untuk mengeksplorasi mengapa informasi tertentu bersifat pribadi dan siapa yang perlu tahu. Orang tua mungkin takut bahwa anak mereka akan marah bahwa mereka telah “diberikan” HIV. Reaksi ini jarang terjadi dan dalam jangka panjang, Anda dapat membantu anak Anda mengelola dampak emosional dari HIV melalui percakapan yang terbuka dan mendukung sehingga akan membantu mengurangi perasaan marah.

Sebagian besar anak-anak dan orang tua benar-benar menjadi lebih dekat, dan merasa lebih kuat terhubung ketika mencoba untuk saling mendukung satu sama lain. Anda mungkin tergoda untuk menunda memberitahu anak Anda tentang HIV. Anak biasanya mulai sangat paham tentang keadaan kesehatan mereka ketika memasuki sekolah menengah, namun percakapan terbuka harus dimulai sejak usia yang lebih muda. Ketika anak menjadi lebih dewasa mereka akan lebih merasa marah jika informasi penting mengenai tubuh dan kesehatan mereka tidak diinformasikan kepada mereka, dan hal ini tidak membantu hubungan dengan orang tua.

Jadi Perlu untuk Diingat

  • Banyak anak dengan HIV memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah dengan sangat baik, termasuk ketika mengetahui bahwa ia terinfeksi
  • Jelaskan secara perlahan-lahan. Berikan informasi secara singkat dan jelas
  • Dorong mereka untuk mengajukan pertanyaan. Jika Anda memberi mereka selebaran atau brosur untuk dibaca, berikan waktu untuk bertanya apa yang mereka pikirkan tentang informasi tersebut dan apakah mereka mengerti informasi yang mereka baca
  • Anak-anak harus mengetahui bahwa Anda selalu bersedia untuk mendukung mereka—ini akan membantu mereka merasa bahwa HIV adalah sesuatu yang dapat dibicarakan dengan Anda
  • Bicarakan dengan staf di klinik/RS anak Anda atau kelompok dukungan sebaya untuk mengetahui apakah ada seseorang yang dapat Anda hubungi jika mereka perlu untuk mengajukan pertanyaan atau jika mereka ingin berbicara dengan seseorang di luar keluarga

Kesimpulan

  • Jika Anda seorang perempuan yang hidup dengan HIV, sangat penting bahwa anak-anak Anda dites untuk HIV
  • Perjalanan infeksi HIV pada anak-anak berbeda dengan yang terlihat pada orang dewasa. Kesehatan anak Anda harus dipantau secara teratur
  • Pengobatan untuk HIV sangat efektif, dan anak-anak dengan HIV yang mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan dapat berharap untuk hidup yang panjang, sehat.
  • Menggunakan pengobatan secara patuh sangat penting dan klinik dapat menyarankan cara untuk membantu pengasuh dalam hal ini
  • Anak-anak dengan HIV perlu diberi informasi tentang penyakit mereka sesuai dengan usia dan perkembangan mereka
  • Keputusan untuk memberitahu orang lain bahwa anak Anda memiliki HIV adalah keputusan Anda tetapi lebih baik untuk berhati-hati tentang hal ini sebelum membuat keputusan ini. Demikian juga ketika anak Anda bertambah dewasa, mereka dapat memutuskan siapa yang tahu dan bagaimana mereka memberi tahu orang-orang, tetapi mereka mungkin membutuhkan dukungan Anda untuk merencanakan hal ini.
  • Ada banyak dukungan yang tersedia untuk membantu Anda dan anak Anda hidup dengan baik dengan HIV.

Disadur dari:

Yayasan Spiritia. 2016. Pahami dan Dukunglah Kami (Panduan untuk Pengasuh). Seri Buku Kecil.

 

Read Full Post »

Penatalaksanaan

Tujuan utama: menurunkan morbiditas dan mortalitas.
Diperlukan pengobatan untuk:

  • Menekan replikasi virus
  • Mengatasi penyakit penyerta (jamur, TB, hepatitis, toksoplasma, sarkoma kaposi, limfoma, kanker serviks)
  • Suportif: gizi, gaya hidup, dan terapi psikososial

Anjuran WHO

  • Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda
  • Program penyuluhan sebaya (peer group education) untuk berbagai kelompok sasaran
  • Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik
  • Paket pencegahan komprehensif bagi pengguna narkotika, termasuk program pengadaan jarum suntik steril
  • Program pendidikan agama dan pelatihan keterampilan hidup, layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS), promosi kondom di lokalisasi pelacuran dan panti pijat
  • Pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling, dukungan untuk anak jalanan dan pengentasan prostitusi anak, integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan, dan dukungan untuk ODHA
  • Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV.

Terapi ARV

  • Tujuan terapi ARV (antiretroviral): mencapai supresi maksimum terhadap replikasi HIV, meningkatkan CD4 limfosit, memperbaiki kualitas hidup.
  • Terapi ARV direkomendasikan untuk individu terinfeksi HIV dengan gejala atau jumlah CD4 <350 sel/µL atau HIV RNA plasma 55.000 kopi/mL tanpa melihat jumlah CD4

Prinsip umum:
Pemantauan periodik dan teratur pemeriksaan jumlah RNA HIV plasma dan hitung jumlah CD4 (menentukan progresivitas infeksi HIV, penentuan pemberian terapi ARV)

Indikasi ARV:

  • HIV stadium I dan II dengan CD4 < 350/mm3
  • HIV stadium III dan IV tanpa memandang CD4
  • Tanpa melihat CD4: HIV + TB/kehamilan/hepatitis B kronis, pasangan serodiskordan, populasi kunci (penjaja seks, pengguna narkoba suntik, pria homoseksual).
  • Indikasi nonmedis: kesiapan pasien.

Manfaat ARV: pulihnya sistem kekebalan akibat infeksi HIV dan kerentanan ODHA terhadap infeksi oportunistik/penyakit penyerta
Indikasi penggantian obat:

  • HIV RNA plasma turun kurang dari 1-log setelah 1 bulan mulai terapi
  • Terjadi peningkatan bermakna (3x lipat) HIV RNA plasma
  • Penurunan persisten hitung sel limfosit T CD4+
  • Perburukan gejala klinis
  • Efek samping yang tidak dapat ditoleransi

Agen Antiretrovirus

  • Menghambat replikasi virus dengan kombinasi agen ARV poten memberikan hasil yang baik untuk mengatasi infeksi HIV.
  • Golongan: nucleoside, nonucleoside reverse transcriptase inhibitors, protease inhibitors
  • Reverse transcriptase inhibitors: purin and pyrimidine-based nucleosides and nucleotides (NRTIs) dan yang bukan nucleoside or nucleotide based (NNRTIs).
  • Untuk lini 1 digunakan 2 NRTI dan 1 NNRTI
  • Untuk lini 2 digunakan 2 NRTI dan 1 PI
  • Tidak boleh menggunakan Zidovudin dan Stavudin bersamaan

1. Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI)

  • Zidovudine (AZT), didanosine (ddL), zal-citabine (ddC), stavudine (d4T), lamivudine (3TC), abacavir (ABC), tenofovir (TDF), dan emtricitabine (FTC).
  • Mekanisme kerja: melalui fosforilasi interselular membentuk trifosfat dan bergabung dalam DNA sehingga menghambat pemanjangan rantai RNA virus. Secara spesifik mirip dengan nukleosida.
  • Zidovudine: demensia AIDS.
  • Eliminasi melalui ginjal, tidak berinteraksi dengan obat lain yang melalui sitokrom p-450

2. Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI)

  • Nevirapine (NVP), Delavirdine (DLV), dan Efavirenz (EFV)
  • Mekanisme kerja: menghambat enzim reverse transcriptase melalui ikatan dengan tempat aktivitas enzim. Dapat menghambat atau menginduksi aktivitas sitokrom p-450 di hepar, berinteraksi dengan obat-obat lain yang melalui sitokrom p-450.
  • Reduksi metadon (gejala putus obat opiat)

3. Protease Inhibitors (PIs)

  • Indinavir (IDV), Nelfinavir (NFV), Saquinavir (SQV), Lopinavir/Ritonavir (LPV/r), Atazanavir (ATV).
  • Mekanisme kerja: menghalangi kerja enzim protease yang berfungsi memotong DNA yang dibentuk oleh virus dengan ukuran yang benar untuk memproduksi virus baru.

 

Selain obat-obat tersebut di atas, ada juga:

  • Fusion inhibitor: Enfuvirtide (T20) dan Maraviroc (MVC)
  • Integrase inhibitor: Raltegavir (RAL) dan Elvitegavir (EVG)

Pilihan regimen yang direkomendasikan WHO (2013):

  • TDF + 3TC + EFV
  • AZT + 3TC + EFV
  • AZT + 3TC + NVP
  • TDF + 3TC + NVP

 ARVs

 

Evaluasi pengobatan:

  • Monitoring CD4 tiap 6 bulan
  • Viral load

Medikasi untuk Penyakit Penyerta

  • Kandidiasis oral: Flukonazol 150 mg 1x/hari
  • Toksoplasmosis:
    • Klindamisin (4 x 600 mg) + Pirimetamin (loading dose 200 mg 1x, lanjut 50 mg/hari) (3-6 minggu)
    • Selanjutnya Klindamisin 4 x 300 mg + Pirimetamin 50 mg (3-5 minggu)
  • PCP: Kotrimoksazol (Trimetoprim 15-20 mg/kgBB/hari 2dd) selama 6 minggu. Alternatif: Klindamisin + Primakuin
  • Tuberkulosis: regimen OAT

Obati infeksi oportunis lebih dahulu selama 2 minggu – 2 bulan, lalu mulailah terapi ARV.

Profilaksis

  • Kotrimoksazol 1×960 mg
  • Tujuan: mencegah PCP, toksoplasmosis, diare, dan ISPA yang masih sensitif terhadap kotrimoksazol.
  • Indikasi: HIV stadium II, III, IV atau jika CD4 < 200/mm3 (WHO: < 350/mm3)
  • Diberikan sampai CD4 > 200/mm3 pada 2x pemeriksaan dengan selang 6 bulan.
  • Dihentikan bila sudah diberikan 2 tahun.

Read Full Post »

Pemeriksaan Penunjang

  • Apus darah tepi
    • Tetes darah tebal
    • Lebih mudah menemukan parasit (terinfeksi/tidak)
  • Apus darah tipis
    • Eritrosit tidak lisis, parasit tidak berubah bentuk
    • Identifikasi spesies
    • Hitung retikulosit dengan brilliant cresyl blue /1000 (%): menentukan derajat hemolisis (n: 0,5-1,5%)
  • Diulang 4-6 jam pewarnaan dengan Giemsa, Leishman, Wright, Field
  • Dapat juga dilihat dari adanya pigmen cokelat granular pada monosit dan leukosit

 

 

  • QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)
    • Tes fluoresensi: protein parasit dapat mengikat Acridine Orange (terinfeksi/tidak)
  • Dipstick Test (diagnostik)

  • Serologis (Imunokromatografi)
    • Antigen HRP-2 (histidine-rich protein)
    • Antigen enzim parasit laktat dehidrogenase (p-LDH)
  • PCR: diagnosis molekular
  • Menentukan adanya komplikasi akibat sekuestrasi:
    • SGOT/SGPT: fungsi hepar
    • Ureum, kreatinin: fungsi ginjal
    • Bilirubin direk, indirek (malaria biliosa)
    • Urinalisis: hemolisis berat, hemoglobinuria, gagal ginjal (black water fever)
    • Malaria serebral: gula darah
  • Pemeriksaan lain: prothrombine time (jalur ekstrinsik dan bersama yaitu: faktor V, VII, X, protrombin, fibrinogen), serum albumin < dan globulin > 

Read Full Post »

Definisi

Demam tifoid (typhus abdominalis, typhoid fever) adalah penyakit infeksi akut akibat infeksi Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B, atau C pada saluran pencernaan (usus halus, terutama jejunum dan ileum) dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

Etiologi

  • Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B, atau C
  • Bakteri berbentuk batang, Gram (-), tidak membentuk spora, motil, berkapsul dan mempunyai flagella
  • Dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan debu
  • Mati dengan pemanasan (suhu 60°C) selama 15 – 20 menit, pasteurisasi, pendidihan dan klorinisasi

Epidemiologi

  • Demam tifoid terjadi di seluruh dunia, terutama pada negara sedang berkembang karena sanitasi yang buruk
  • Endemik di Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan Oceania
  • 80% kasus dari Bangladesh, Cina, India, Indonesia, Laos, Nepal, Pakistan, atau Vietnam
  • Di Indonesia mengenai 900 per 100.000 penduduk
  • Lebih sering pada laki-laki
  • Lebih sering pada bayi, anak usia sekolah, dan dewasa muda (5-18 tahun)
  • Menginfeksi 21,6 juta orang (3,6 per 1.000 populasi)
  • Mortalitas 200.000 orang per tahun di seluruh dunia

 

Transmisi

  • Fecal-oral: makanan atau minuman yang terkontaminasi feses dari orang terinfeksi/karier kronik (jarang melalui urin), air terkontaminasi, kelalaian menjaga higiene tangan
  • Inokulum sebanyak 100.000 organisme sudah dapat menyebabkan penyakit
  • Inkubasi 7-14 hari

 

Faktor Risiko

  • Antasida, antagonis reseptor Histamin-2, proton pump inhibitors, gastrektomi, dan aklorhidria: asam lambung <<
  • Kepadatan penduduk yang tinggi
  • Sumber air dan sanitasi yang buruk
  • Kurangnya higiene pengolahan makanan
  • Kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat (mencuci tangan, jamban keluarga)

 

 

 http://emedicine.medscape.com/article/231135-overview

Read Full Post »

Diagnosis

  • Laki-laki, 24 tahun
  • Keluhan: ulkus multipel, nyeri, di daerah preputium dan meatus uretra eksterna sejak 7 hari lalu (bukan sifilis)
  • Papula eritem dengan pustula di tengahnya, kemudian pecah menjadi erosi (reaksi radang)
  • Erosi semakin lama bertambah banyak sampai ke daerah scrotum (penyebaran bakteri)
  • Ulkus bergaung, tepi ireguler, diskret dengan dasar yang rapuh, kotor, dan mudah berdarah (infeksi bakteri, toksin (cytolethal distending toxin dan hemolisin)
  • Disertai pembesaran KGB inguinal dextra dan sinistra, nyeri
  • Riwayat sosial: sering berganti pasangan sejak 20 tahun (faktor risiko)
  • Terakhir berhub seksual 2 minggu yang lalu dengan pasangan tak tetap tanpa memakai kondom (faktor risiko, lesi mukosa)
  • Penderita baru mengalami keluhan seperti ini (bukan herpes genitalis rekuren)

Tanda vital dalam batas normal (afebris)

Status generalis dalam batas normal (tak ada gejala sistemik seperti pada herpes simplex)

Status venereologi:

  • Inguinal kiri dan kanan: pada palpasi teraba benjolan dengan diameter 1-2 cm, keras, nyeri tekan (+) (limfadenopati)
  • Scrotum: ulkus multipel, diameter 2-3 cm, batas tegas, indurasi (-), tepi tak rata, bergaung, dasar ditutupi pus, krusta pustulosa, krusta sanguinolenta (eksudat dan jaringan granulasi)
  • Penis: preputium dan meatus uretra eksterna erosi, ulkus seperti pada scrotum

 

Hasil Laboratorium

  • Bahan pemeriksaan: apus ulkus
  • Gram: PMN > 50/LPB (infeksi bakteri)
  • Batang Gram (-) berderet spt rantai (khas pd Haemophilus ducreyi (school of fish))

 

Diagnosis Kerja: ulcus molle et causa Haemophilus ducreyi

Pencegahan

  • Menjaga kebersihan pribadi
  • Penggunaan kondom
  • Menghindari sikap promiskuitas

Komplikasi

  • Mixed chancre / phagedenic chancroid (infeksi campuran dengan fusospirochaeta – bakteri Gram (-) anaerob dan Spirochaetaceae): ulkus masif, destruksi jaringan
  • Limfadenitis inguinal
  • Ruptur bubo
  • Fimosis atau parafimosis

 

Prognosis

Quo ad vitam: ad bonam

Quo ad functionam: ad bonam

Quo ad sanationam: dubia

 

Read Full Post »

Kasus

  • Laki-laki, 17 tahun, tinggal di asrama
  • Keluhan: papula, nodul eritem, dan vesikel pada sela-sela jari tangan, perut dan alat kelamin sejak 3 minggu yang lalu (respons delayed-type yang dimediasi sel, terpapar ulang antigen tungau: hipersensitivitas I menyebabkan gatal)
  • Pruritus nokturnal (aktivitas tungau pada malam hari >>, suhu lembab dan panas)
  • Riwayat berobat: CTM 3×1 tablet, 4 hari tak membaik (hanya mengobati simptomatik saja, tidak menghilangkan penyebab)
  • Riwayat lingkungan: teman se-asrama ada yg mengalami gatal serupa (kontak langsung/tidak langsung)
  • Riwayat kebiasaan: mandi 1x/hari, memakai sabun dan handuk yang dipakai bersama dengan teman-temannya (2-3 hari di luar manusia)
  • Pemeriksaan fisik dalam batas normal
  • Status dermatologis
    • Distribusi: regional
    • Regio: sela jari tangan, aksila, perut bag bawah, dan glans penis (stratum korneum tipis)
    • Karakteristik lesi:
      • Jumlah: multipel
      • Susunan: diskret
      • Bentuk: bulat sampai dengan tak beraturan
      • Ukuran: lentikuler
      • Batas: tegas
      • Menimbul permukaan kulit normal
      • Sifat: kering
      • Efloresensi: papula eritem, nodul eritem, vesikel (>4 minggu: hipersensitivitas IV terhadap tungau, telur, skibala) 

Diagnosis Banding

  • Skabies
  • Pediculosis humanus pubis et corporis
  • Gigitan serangga (bedbug bites)
  • Dermatitis atopik (eksaserbasi/komplikasi oleh skabies karena imun <<)
  • Papular urtikaria (hipersensitivitas terhadap gigitan serangga)

 

Diagnosis Kerja

Skabies

Dasar Diagnosis

  • Papula, nodul eritem, dan vesikel pada sela-sela jari tangan, perut dan alat kelamin yang dirasakan sejak 3 minggu yang lalu
  • Pruritus nokturnal (kriteria diagnosis)
  • Teman se-asrama ada yang mengalami gatal serupa (kriteria diagnosis)
  • Memakai sabun dan handuk yang dipakai bersama dengan teman-temannya (faktor risiko kontak, tungau dapat berjalan dan menempel, tetapi tidak dapat melompat)
  • Pada burrow ink test ditemukan kanalikuli (tanda patognomonis, kriteria diagnosis)
  • Kerokan kulit dan pemeriksaan kulit dengan penambahan KOH 10% ditemukan tungau Sarcoptes scabiei bentuk dewasa (diagnosis pasti)

Diagnosis dapat ditegakkan bila terdapat dua gejala dari tiga kriteria diagnosis atau bila memenuhi diagnosis pasti.

Sumber:

http://emedicine.medscape.com/article/1109204-overview

Read Full Post »

Older Posts »