Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Reproduksi Manusia’ Category

patfis-gk_LOH

 

 

manifestasi-klinis_LOH

Advertisements

Read Full Post »

hiperbilirubinemia

 

 

ikterus_neonatorum

Read Full Post »

patgen-malnutrisi

patfis-gk_kwashiorkor

 

patfis-gk_marasmus

 

Read Full Post »

Hipertensi pada Kehamilan Tanpa Proteinuria:
Tangani Secara Rawat Jalan:
  • Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), dan kondisi janin setiap minggu
  • Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia ringan
  • Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat untuk penilaian kesehatan janin
  • Beritahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala preeklampsia atau eklampsia
  • Jika tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal
Preeklampsia Ringan Kehamilan < 37 minggu:
Jika belum ada perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan:
  • Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), refleks, dan kondisi janin.
  • Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya preeklampsia dan eklampsia.
  • Lebih banyak istirahat
  • Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam)
  • Tidak perlu diberi obat-obatan
 
Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit:
  • Diet biasa
  • Pantau tekanan darah 2 kali sehari, dan urin (untuk proteinuria) sekali sehari.
  • Tidak perlu diberi obat-obatan
  • Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis, atau gagal ginjal akut 
Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan:
  • Nasihatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsia berat.
  • Kontrol 2 kali seminggu untuk memantau tekanan darah, urin, keadaan janin, serta gejala dan tanda-tanda preeklampsia berat
  • Jika tekanan diastolik naik lagi, rawat kembali
 
Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan, tetap rawat. Lanjutkan penanganan dan observasi kesehatan janin.
Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan. Jika tidak, rawat sampai aterm.
Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsia berat.
 
Preeklampsia Ringan Kehamilan > 37 Minggu:
Terminasi kehamilan:
  • Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin (misoprostol).
  • Jika serviks belum matang, lakukan pematangan dengan prostaglandin atau lakukan seksio sesarea.
 
Preeklampsia Berat dan Eklampsia
Penanganan preeklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.
 
Non Farmakologi:
  • Bersihkan jalan napas
  • Pasang sulip lidah
  • Rawat inap
  • Oksigen 4-6L/menit
  • Infus Ringer Laktat 5%
  • Pemasangan kateter untuk pemantauan diuresis
  • Observasi DJJ dengan non-stress test (kardiotokografi), periksa tanda vital ibu dan janin
  • Rujuk untuk rencana penatalaksanaan terminasi kehamilan
  • Edukasi pasien
 
Farmakologi:
  • MgSO4 40% 8 gr IM sebagai loading dose
  • MgSO4 20% 4 gr bolus IV secara perlahan
  • Dosis perawatan: MgSO4 40% 4 gr IM setiap 4 jam
 
Mekanisme kerja MgSO4 :
  • Menghambat potensial aksi selular
  • Berkompetisi dengan kalsium pada pengikatan reseptor
  • Menyebabkan kalsium interselular menurun dengan cara mengaktivasi adenilat siklase
  • Indikasi: mencegah atau mengendalikan kejang akibat eklampsia dan preeklampsia berat
 
Efek Samping:
  • Refleks patella hilang
  • Depresi pernapasan, dapat diatasi dengan kalsium glukonas 10% IV
  • Paralisis atau henti napas dan pada dosis tinggi dapat terjadi henti jantung
  • Mual, muntah
  • Mengantuk, bingung, otot lemah
  • Kolik, diare
 penatalaksanaanPreE-Eklampsia
Obat-obat Antihipertensi:
  • Metildopa
  • Hidralazin
  • Labetolol
 
Prinsip:
  • Mulailah pemberian antihipertensi, jika tekanan darah diastolik > 110 mmHg
  • Pertahankan tekanan darah diastolik 90-100 mmHg untuk mencegah perdarahan otak 
 
Rujuk ke fasilitas yang lebih lengkap bila:
  • Terdapat oligouria (<400 ml/24 jam)
  • Terdapat sindroma HELLP
  • Koma berlanjut lebih dari 24 jam setelah kejang

Read Full Post »

Kehamilan < 24 Minggu:
  • Konseling pasien
  • Terapi ekspektansi atau induksi persalinan
  • Profilaksis Streptococcus Grup B tidak direkomendasikan
  • Antibiotik
  • Kortikosteroid tidak direkomendasikan
 
Induksi persalinan: merangsang terjadinya kontraksi uterus sebelum onset persalinan yang terjadi secara spontan (misoprostol – analog E1 sintetik, oksitosin)
Terapi ekspektansi: terapi terhadap penyakit, dilakukan berdasarkan simptom (meningkatkan risiko korioamnionitis, persalinan Cesar, sepsis neonatal, kematian perinatal, kelahiran spontan)
 
Kehamilan Minggu Ke 24-31:
  • Terapi ekspektansi 
    • Kelahiran pada minggu ke-34
    • Risiko imaturitas paru-paru
  • Profilaksis Streptococcus Grup B
  • Antibiotik
  • Kortikosteroid tunggal
  • Tokolitik (belum ada konsensus)
 
Kehamilan Minggu Ke 32-33:
  • Terapi ekspektansi
    • Kelahiran pada minggu ke-34
    • Risiko imaturitas paru-paru fetus
  • Profilaksis Streptococcus Grup B
  • Antibiotik
  • Kortikosteroid dapat digunakan
 
Kehamilan Minggu Ke >= 34:
  • Lanjutkan hingga kelahiran
  • Induksi persalinan
  • Profilaksis Streptococcus Grup B
    • Penicillin G  i.v. 5 juta unit, dilanjutkan dengan 2,5 juta unit setiap 4 jam hingga kelahiran, atau
    • Ampicillin  i.v. 2 g, dilanjutkan dengan 1 g setiap 4 jam hingga kelahiran 
Antibiotik:
  • Memperpanjang periode laten
  • Profilaksis Streptococcus Grup B pada neonatus
  • Mengurangi risiko korioamnionitis dan sepsis neonatal
Kortikosteroid:
  • Meningkatkan maturasi paru-paru
  • Mengurangi risiko respiratory distress syndrome (atelektasis paru-paru), hemoragik intraventrikel, dan necrotizing enterocolitis 
Tokolitik:
  • Menunda proses kelahiran dengan melemahkan kontraksi uterus
  • Pada beberapa kasus tidak berpengaruh
Sumber:
APGO Medical Student Educational Objectives, 9th edition, (2009), Educational Topic 25 (p52-53).
Beckman & Ling: Obstetrics and Gynecology, 6th edition, (2010), Charles RB Beckmann, Frank W Ling, Barabara M Barzansky, William NP Herbert, Douglas W Laube, Roger P Smith. Chapter 22 (p213-217).
Hacker & Moore: Hacker and Moore’s Essentials of Obstetrics and Gynecology, 5th edition (2009), Neville F Hacker, Joseph C Gambone, Calvin J Hobel. Chapter 12 (p150-153).

Read Full Post »

uterus_adnexa

Uterus nongravid biasanya terletak dalam pelvis minor, dengan corpus uteri terletak di atas vesica urinaria dan cervix uteri di antara vesica urinaria dan rectum.

Pada manusia dewasa biasanya anteversio dan anteflexio, sehingga terletak di atas vesica urinaria.

Dibagi menjadi corpus uteri dan cervix uteri.

Corpus uteri membentuk dua pertiga superior, meliputi fundus uteri, yaitu bagian membulat yang terletak superior terhadap ostium uterinum tubae uterinae. Letaknya di antara lapisan lig. latum uteri dan dapat digerakkan bebas; mempunyai dua permukaan: facies vesicalis (anterior) dan facies intestinalis (posterior). Corpus dibatasi dari cervix oleh isthmus uteri.

 

Cervix: dibedakan menjadi portio supravaginalis cervicis yang berada di antara isthmus uteri dan vagina, dan portio vaginalis cervicis yang berprotrusi ke dalam vagina.

 

Cavitas uteri: berlanjut di inferior sebagai canalis cervicis uteri.

 

Dinding corpus uteri terdiri dari tiga lapisan:

Perimetrium: tunica serosa, peritoneum yang disokong oleh lapisan tipis jaringan ikat.

Myometrium: tunica muscularis (cabang utama vasa dan nervi uterus berada dalam lapisan ini)

Endometrium: tunica mucosa, terlibat aktif dalam siklus menstruasi

 

Ligamentum uterus: ligamentum latum, ligamentum teres uteri (bagian atas uterus, caudal dari insertie tuba), ligamentum suspensorium ovarii (infundibulo pelvicum), ligamentum cardinale, (kiri kanan cervix setinggi ostium uteri internum ke dinding panggul), ligamentum sacrouterinum, ligamentum vesicouterinum.

Vasa uterus: suplai darah berasal terutama dari a. uterina, dengan suplai kolateral potensial dari a. ovarica. Vena memasuki ligamentum latum bersama a. uterina dan dibentuk oleh plexus venosus uterinus pada tiap sisi cervix uteri. Vena uterina bermuara ke v. iliaca interna.

Persarafan: kontraksi dinding uterus adalah autonom, tidak memerlukan rangsang dari susunan saraf pusat. Uterus dipengaruhi oleh serat-serat saraf parasimpatis yang menuju ganglion servikal Frankenhauser yang terletak di pangkal ligamentum sacrouterinum.

Read Full Post »

patgen_endometriosis

Read Full Post »