Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Respirasi’ Category

ISTC (International Standards for TB Care) telah disepakati oleh organisasi profesi untuk diterapkan dalam penanganan tuberkulosis di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, ISTC ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada demi kepentingan terbaik pasien. Beberapa masukan dari Perhimpunan Dokter Spesialis dan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia untuk penerapan di Indonesia dicantumkan sebagai addendum.

 

Standar untuk Diagnosis

Standar 1

Untuk memastikan diagnosis dini, pemberi layanan kesehatan harus mengetahui faktor risiko tuberkulosis (TB) untuk individu dan kelompok serta melakukan evaluasi klinis cepat dan uji diagnostik yang tepat untuk orang dengan gejala dan temuan yang mendukung TB.

Standar 2

Semua pasien, termasuk anak, dengan batuk yang tidak diketahui penyebabnya yang berlangsung dua minggu atau lebih atau dengan temuan lain pada foto toraks yang tidak diketahui penyebabnya yang mendukung ke arah TB harus dievaluasi untuk TB

*)Lihat addendum

Standar 3

Semua pasien, termasuk anak, yang dicurigai memiliki TB paru dan mampu mengeluarkan dahak, harus memberikan sedikitnya dua spesimen dahak untuk pemeriksaan mikroskopis atau satu spesimen dahak untuk pemeriksaan Xpert® MTB/RIF sebagai pemeriksaan diagnostik awal.

Uji serologi darah dan interferon-gamma release assays tidak boleh digunakan untuk diagnosis TB aktif.

*)Lihat addendum

Standar 4

Untuk semua pasien, termasuk anak, yang diduga memiliki TB ekstraparu, spesimen yang tepat dari bagian tubuh yang sakit sebaiknya diambil untuk pemeriksaan mikrobiologi dan histologi.

Mengingat pentingnya diagnosis cepat pada terduga meningitis TB, maka pemeriksaan Xpert® MTB/RIF cairan serebrospinal direkomendasikan sebagai uji mikrobiologi awal untuk pasien yang diduga meningitis TB.

*)Lihat addendum

Standar 5

Pada pasien yang diduga memiliki TB paru dengan BTA negatif, perlu dilakukan pemeriksaan Xpert® MTB/RIF dan/atau biakan dahak.

Pada pasien dengan BTA negatif dan Xpert® MTB/RIF negatif tetapi bukti-bukti klinis mendukung kuat ke arah TB, maka pengobatan dengan anti TB harus dimulai setelah dilakukan pengumpulan spesimen untuk pemeriksaan biakan.

Standar 6

Untuk semua anak yang diduga menderita TB intratoraks (misalnya paru, pleura, dan kelenjar getah bening mediastinum atau hilus), konfirmasi bakteriologis perlu dilakukan melalui pemeriksaan sekresi saluran pernapasan (dahak ekspektorasi, dahak hasil induksi, bilas lambung) untuk pemeriksaan mikroskopik, Xpert® MTB/RIF, dan/atau biakan.

*)Lihat addendum

 

Standar untuk Pengobatan

Standar 7

Untuk memenuhi kewajiban terhadap kesehatan masyarakat dan kewajibannya terhadap pasien, pemberi pelayanan kesehatan harus memberikan paduan pengobatan yang tepat, memantau kepatuhan terhadap paduan obat, dan jika diperlukan, membantu mengatasi berbagai faktor yang menyebabkan putusnya atau terhentinya pengobatan.

Untuk memenuhi kewajiban ini diperlukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat dan/atau organisasi lainnya.

Standar 8

Semua pasien yang belum pernah diobati dan tidak memiliki faktor risiko untuk resistensi obat harus mendapatkan pengobatan lini pertama yang sudah disetujui oleh WHO dengan menggunakan obat yang terjamin kualitasnya.

Fase intensif harus mencakup dua bulan pengobatan dengan menggunakan Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol.

Pada fase lanjutan harus diberikan Isoniazid dan Rifampisin selama 4 bulan. Dosis pengobatan harus mengikuti rekomendasi WHO. Penggunaan obat kombinasi dosis tetap dapat mempermudah pemberian obat.

*)Lihat addendum

Standar 9

Pada pengobatan semua pasien, perlu dibangun pendekatan yang berpusat pada pasien, dalam rangka mendorong kepatuhan, meningkatkan kualitas hidup, dan meringankan penderitaan.

Pendekatan ini dilakukan berdasarkan kebutuhan pasien dan rasa saling menghormati antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.

Standar 10

Respons terhadap pengobatan pada pasien dengan TB paru (termasuk pada pasien yang didiagnosis dengan pemeriksaan molekular cepat) harus dimonitor dengan pemeriksaan mikroskopis lanjutan pada saat selesainya fase intensif (dua bulan).

Jika apusan dahak masih positif di akhir fase intensif, pemeriksaan mikroskopis dilakukan lagi pada akhir bulan ketiga dan jika tetap positif, pemeriksaan kepekaan obat molekular cepat (line probe assays atau Xpert® MTB/RIF) atau biakan dengan uji kepekaan obat harus dilakukan.

Pada pasien dengan TB ekstraparu dan pada anak, respons pengobatan dinilai secara klinis.

*)Lihat addendum

Standar 11

Penilaian untuk kemungkinan resistensi obat, berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya atau pajanan dari kasus yang mungkin merupakan sumber penularan organisme resisten obat, dan survei prevalens resistensi obat di komunitas (jika diketahui), perlu dilakukan untuk semua pasien.

Uji resistensi obat perlu dilakukan saat pengobatan dimulai untuk semua pasien dengan risiko memiliki TB resisten obat. Pasien dengan BTA tetap positif setelah menyelesaikan tiga bulan pengobatan, pasien dengan pengobatan yang gagal, dan pasien yang putus pengobatan atau kambuh setelah menyelesaikan satu atau lebih pengobatan harus diperiksa untuk kemungkinan resistensi obat.

Pada pasien yang diduga memiliki resistensi obat, pemeriksaan dengan Xpert® MTB/RIF perlu dilakukan sebagai pemeriksaan diagnostik awal. Jika ditemukan resistensi terhadap Rifampisin, biakan dan uji kepekaan terhadap Isoniazid, Fluorokuinolon, dan obat-obatan suntik lini kedua harus segera dilakukan.

Konseling dan edukasi pasien dan pengobatan empiris dengan paduan lini kedua harus segera dimulai untuk meminimalisasi potensi penularan.

Perlu dilaksanakan tindakan yang sesuai kondisi untuk pengendalian infeksi.

*)Lihat addendum

Standar 12

Pasien dengan atau yang sangat mungkin memiliki TB yang disebabkan oleh organisme yang resisten dengan obat (terutama MDR/XDR) harus diobati dengan paduan khusus yang mengandung obat anti TB lini kedua yang terjamin kualitasnya. Dosis pengobatan harus sesuai dengan rekomendasi WHO. Paduan yang dipilih dapat distandarkan atau berdasarkan dugaan atau hasil konfirmasi pola kepekaan obat. Sedikitnya diberikan lima jenis obat, Pirazinamid dan empat obat lainnya yang organismenya diketahui atau diduga masih peka, termasuk obat suntik, harus digunakan pada 6-8 bulan fase intensif, dan gunakan setidaknya 3 jenis obat yang organismenya diketahui atau diduga masih peka pada fase lanjutan.

Terapi harus diberikan 18-24 bulan setelah terjadinya konversi biakan dahak. Berbagai tindakan yang berpusat kepada pasien termasuk observasi pengobatan, diperlukan untuk memastikan kepatuhan.

Konsultasi dengan dokter spesialis yang berpengalaman dalam pengobatan MDR/XDR harus dilakukan.

Standar 13

Untuk semua pasien perlu dibuat catatan yang mudah diakses dan disusun secara sistematis mengenai: obat-obatan yang diberikan, respons bakteriologis, hasil akhir pengobatan, dan efek samping.

 

Standar untuk Penanganan TB dengan Infeksi HIV dan Kondisi Komorbid Lain

Standar 14

Konseling dan tes HIV perlu dilakukan untuk semua pasien dengan, atau yang diduga TB kecuali sudah ada konfirmasi hasil tes yang negatif dalam dua bulan terakhir. Karena hubungan yang erat antara TB dan HIV, pendekatan yang terintegrasi untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan baik infeksi TB maupun HIV direkomendasikan pada daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi.

Pemeriksaan HIV terutama penting sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin di daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi pada populasi umum, pada pasien dengan gejala dan/atau tanda kondisi terkait HIV, dan pada pasien yang memiliki riwayat risiko tinggi terpajan HIV.

Standar 15

Pada pasien dengan infeksi HIV dan TB yang menderita imunosupresi berat (hitung CD4 kurang dari 50 sel/mm³), ARV harus dimulai dalam waktu 2 minggu setelah dimulainya pengobatan TB kecuali jika ada meningitis tuberkulosis.

Untuk semua pasien dengan HIV dan TB, terlepas dari hasil hitung CD4, terapi antiretroviral harus dimulai dalam waktu 8 minggu semenjak awal pengobatan TB. Pasien dengan infeksi TB dan HIV harus diberikan kotrimoksazol untuk pencegahan infeksi lain.

Standar 16

Pasien dengan infeksi HIV yang setelah dievaluasi secara saksama tidak memiliki TB aktif harus diobati sebagai infeksi TB laten dengan Isoniazid selama setidaknya 6 bulan.

Standar 17

Semua pemberi pelayanan kesehatan harus melakukan penilaian yang menyeluruh untuk mencari kondisi komorbid dan berbagai faktor lainnya yang dapat memengaruhi respons atau hasil akhir pengobatan TB dan mengidentifikasi pelayanan tambahan yang dapat mendukung hasil akhir pengobatan yang optimal bagi masing-masing pasien.

Berbagai pelayanan ini harus digabungkan menjadi rencana pelayanan individual yang mencakup penilaian dan rujukan untuk pengobatan penyakit lainnya.

Perlu diberikan perhatian khusus pada penyakit atau kondisi yang diketahui dapat memengaruhi hasil akhir pengobatan, seperti diabetes mellitus, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, nutrisi yang buruk, dan pengguna rokok. Rujukan untuk dukungan psikososial lainnya atau pelayanan seperti pelayanan antenatal atau perawatan bayi juga perlu disediakan.

 

Standar untuk Kesehatan Masyarakat dan Pencegahan

Standar 18

Semua pemberi pelayanan kesehatan harus memastikan bahwa kontak erat dari pasien dengan TB yang menular harus dievaluasi dan ditatalaksana sesuai dengan rekomendasi internasional.

Prioritas tertinggi evaluasi kontak adalah:

  • Orang dengan gejala yang mendukung ke arah TB
  • Anak usia di bawah 5 tahun
  • Kontak dengan kondisi atau diduga memiliki kondisi imunokompromis, khususnya infeksi HIV
  • Kontak dengan pasien TB MDR/XDR

*)Lihat addendum

Standar 19

Anak usia di bawah 5 tahun dan semua individu berapa pun umurnya yang terinfeksi HIV yang merupakan kontak erat pasien TB menular dan setelah pemeriksaan secara cermat tidak memiliki TB aktif harus diobati sebagai terduga infeksi TB laten dengan Isoniazid selama sekurangnya enam bulan.

*)Lihat addendum

Standar 20

Setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang melayani pasien yang menderita atau diduga menderita TB harus mengembangkan dan menerapkan Program Pengendalian Infeksi (PPI) TB yang tepat untuk meminimalisasi kemungkinan penularan M. tuberculosis ke pasien dan tenaga kesehatan.

Standar 21

Semua penyelenggara pelayanan kesehatan harus melaporkan kasus TB baik baru maupun kasus pengobatan ulang serta hasil akhir pengobatannya ke Dinas Kesehatan setempat sesuai dengan peraturan hukum dan kebijakan yang berlaku.

*)Lihat addendum

 

Addendum

Standar 2

Untuk pasien anak, selain batuk, gejala lain sebagai kecurigaan awal ke arah TB adalah berat badan yang sulit naik dalam waktu kurang lebih 2 bulan terakhir, gizi buruk, demam ≥ 2 minggu tanpa penyebab yang jelas.

Standar 3

Untuk dua spesimen dahak, salah satunya harus berasal dari dahak pagi.

Standar 4

Pada pasien anak untuk membuktikan sudah pernah terinfeksi tuberkulosis dilakukan uji tuberkulin atau interferon gamma release assays (IGRA)

Pemeriksaan ke arah TB paru seharusnya tetap dilakukan yaitu pemeriksaan dahak dan foto toraks

Standar 6

Diimplementasikan pada fasilitas kesehatan yang sudah memiliki Xpert®

Standar 8

Pada TB ekstraparu (meningitis TB, TB tulang, TB milier, TB kulit, dan lain-lain) secara umum terapi TB diberikan minimal 9 bulan.

Khusus untuk anak, regimen yang diberikan terdiri atas RHZ, ditambah E bila penyakitnya berat (BTA positif, TB HIV, TB paru dengan lesi luas, TB ekstraparu berat seperti: TB milier, TB tulang, meningitis TB, dan lain-lain). Secara umum terapi TB pada anak diberikan selama 6 bulan, tetapi pada keadaan tertentu bisa lebih lama (9-12 bulan), seperti pada meningitis TB, TB tulang, MDR TB, dan lain-lain.

Standar 10

Selama menunggu hasil pemeriksaan biakan atau uji resistensi, pengobatan dilanjutkan sesuai dengan fase lanjutan.

Standar 11

  • Belum dapat dilakukan untuk uji resistensi Fluorokuinolon dan Pirazinamid
  • Kriteria suspek TB MDR pada anak:
    • Riwayat pengobatan TB 6-12 bulan sebelumnya
    • Kontak erat dengan pasien TB MDR
    • Kontak erat dengan sumber penularan yang baru meninggal akibat TB, gagal pengobatan TB atau tidak patuh dalam pengobatan TB
    • Tidak menunjukkan perbaikan (klinis, rediologis, atau mikrobiologis) setelah pengobatan dengan OAT lini pertama (kepatuhan minum obat teratur) selama 2-3 bulan
    • Anak dengan TB-HIV yang tidak respons terhadap pemberian OAT setelah penyebab lain disingkirkan.

Standar 18

Apabila menangani TB anak maka harus dicari sumber penularnya

Standar 19

Sebaiknya diberlakukan juga pada pasien dengan berbagai kondisi imunokompromis lainnya, contohnya: sepsis berat, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, pasien dengan transplantasi, kemoterapi, imunosupresan jangka panjang, dan lain-lain.

Standar 21

Pelaksanaan pelaporan akan difasilitasi dan dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan setempat, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat.

 

Sumber:

International Standards for TB Care Edisi 3

Advertisements

Read Full Post »

BATUK AKUT PADA ANAK

Definisi

Batuk adalah refleks penting yang dirancang untuk meningkatkan pembukaan saluran napas atas. Bahan yang dibatukkan mungkin sebagai konsekuensi dari banyak kondisi – dari infeksi paru-paru atau sinus hingga benda asing yang tak sengaja terhirup (misalnya, makanan atau mainan kecil). Batuk juga bisa merupakan gejala dari gangguan fungsi paru (misalnya, mengi) atau mencerminkan kondisi yang langka (misalnya, malformasi anatomis).

Semua anak akan batuk sesekali. Namun batuk berulang, kesulitan bernapas dengan batuk atau batuk purulen atau berdarah memerlukan evaluasi menyeluruh dan tepat waktu. Batuk yang bersifat “basah” atau “berlendir” akan terdengar berbeda dari batuk “kering” atau “gatal” atau “menyalak”.

Kebanyakan spesialis paru akan mengkategorikan gejala batuk sebagai “akut” – yang berlangsung kurang dari dua minggu dan “kronis” – yang berlangsung lebih dari dua minggu.

Durasi Batuk

Berdasarkan durasinya, batuk dapat digolongkan menjadi (Shields, Bush, Everard, McKenzie, & Primhak, 2008):

  • Batuk akut
    • Batuk dengan onset cepat dan berlangsung selama kurang dari tiga minggu
  • Batuk subakut (prolonged acute cough)
    • Batuk yang mereda dengan perlahan selama 3-8 minggu.
  • Batuk kronis
    • Batuk yang terjadi selama lebih dari 8 minggu
  • Batuk rekuren
    • Episode batuk tanpa demam yang berulang selama lebih dari dua kali dalam setahun. Batuk rekuren ini tidak berhubungan dengan common cold, dan setiap episodenya berlangsung lebih dari 7-14 hari.

Etiologi Batuk Berdasarkan Usia

 

 cough_characteristics

Gambar 1. Etiologi Batuk Berdasarkan Usia.

Sumber: https://ainotes.wikispaces.com/

Etiologi Batuk Akut

            Penyebab batuk akut antara lain (Worrall, 2011):

  • Infeksi

Penyebab nomor satu batuk pada anak-anak adalah common cold (infeksi saluran pernapasan atas). Umumnya batuk yang diakibatkannya bersifat sekunder karena drainase lendir ke bagian belakang tenggorok sehingga merangsang pusat refleks batuk. Sebagian besar anak-anak kurang dari delapan tahun tidak bisa batuk secara efisien. Umumnya refleks batuk mereka bersifat mendorong drainase dari satu daerah dari belakang tenggorok ke tempat lain. Anak-anak umumnya akan menelan lendir setelah batuk dan saat tidur. Anak-anak biasanya akan batuk dengan kencang, dan mungkin sampai muntah, untuk mengeluarkan materi berlendir sebelumnya tertelan.

Iritasi dan pembengkakan pada daerah pita suara yang disebabkan oleh infeksi virus dapat menghasilkan karakteristik batuk menyalak. Infeksi virus seperti ini disebut croup.

Croup melibatkan gejala prodromal yang mirip dengan infeksi saluran napas atas yang semakin memburuk saat malam hari, stridor, pernapasan cuping hidung, retraksi, dan takipnea (Consolini, 2013).

Infeksi sinus umumnya merupakan komplikasi dari infeksi saluran napas atas dan mungkin terkait dengan drainase lendir dengan konsistensi tebal dan purulen (hijau atau kuning) baik ke daerah wajah atau di bagian belakang tenggorok. Drainase ini juga akan merangsang pusat batuk seperti dijelaskan di atas.

Infeksi saluran napas bagian bawah (yaitu yang berada di dalam rongga dada) termasuk penyakit virus (pneumonia, bronkitis, dan lain-lain) atau penyebab bakteri (pneumonia, pertusis batuk rejan), dan lain-lain) (Meneghetti, 2015).

Trakeitis bakterial menunjukkan gejala prodromal yang mirip seperti infeksi saluran napas atas, stridor, batuk menyalak, demam tinggi, distres pernapasan, dan sekresi yang purulen.

Bronkiolitis ditandai dengan rhinorrhea, takipnea, wheezing, crackles, retraksi, dan pernapasan cuping hidung. Dapat terjadi muntah setelah batuk (posttussive emesis). Bronkiolitis sering pada bayi berumur hingga 24 bulan dan paling sering terjadi pada bayi berusia 3-6 bulan.

Epiglotitis memiliki onset yang tiba-tiba atau mendadak, demam tinggi, iritabilitas, ansietas yang cukup jelas, stridor, dan distres pernapasan. Anak dapat tampak pucat, sianosis, atau mengalami letargi

Pneumonia viral memiliki gejala prodromal, demam, wheezing, batuk staccato atau paroksismal, nyeri otot, dan nyeri dada pleuritik. Pneumonia menyebabkan anak-anak membutuhkan usaha lebih untuk bernapas, rales difus, rhonchi, ataupun wheezing. Pneumonia bakterial ditandai dengan adanya demam, tampak lemas, nyeri dada, napas pendek. Nyeri perut ataupun muntah dapat ditemukan pula sebagai gejala pneumonia bakterial. Tanda-tanda konsolidasi fokal termasuk rales yang terlokalisasi, rhonchi, suara napas yang meredup, egofoni, dan bunyi pekak saat perkusi.

Infeksi saluran napas atas menunjukkan gejala rhinorrhea, mukosa nasal yang bengkak dan merah, demam dan nyeri tenggorokan, serta adenopati servikal yang terdiri dari beberapa nodul kecil tidak nyeri.

  • Alergi nasal

Jumlah drainase hidung dengan konsistensi berair diproduksi sebagai konsekuensi dari alergi hidung harus dipertimbangkan. Materi tersebut sering mengalir ke bagian belakang tenggorok (drainase postnasal) dan memicu pusat batuk di bagian belakang tenggorok (Meneghetti, 2015).

  • Benda asing

Setiap objek yang tidak dapat melewati bagian belakang mulut ke kerongkongan meningkatkan risiko aspirasi ke dalam tenggorok (trakea). Hal ini paling sering terjadi pada anak muda karena kesenangan mereka dengan benda-benda yang lebih kecil dan fiksasi oral mereka yang intens. Anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa yang tidak lengkap mengunyah makanan sebelum menelan mungkin juga mengalami aspirasi. Perawatan darurat yang efektif pada situasi seperti ini sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi. Saluran napas yang tersumbat akan mengakibatkan napas yang pendek dan cepat sebagai kompensasi (Worrall, 2011).

  • Mengi

Mengi merupakan akibat penyempitan diameter fungsional dari bronkus sehingga mempersulit proses pernapasan (ekshalasi lebih buruk daripada inhalasi) dan dapat menyebabkan suara yang khas selama respirasi. Mengi adalah konsekuensi dari dua fenomena – penyempitan saluran napas sekunder karena spasme otot-otot yang membungkus di kawasan sekitar paru-paru, serta penebalan lapisan jalan napas (bronkus) sebagai akibat peradangan. Pada anak-anak pemicu yang paling umum yang menghasilkan reaksi-reaksi ini adalah virus yang menyebabkan flu biasa (common cold). Virus tertentu (misalnya, respiratory syncytial virus) juga diketahui berperan dalam hal ini. Lingkungan (rumput, debu, jamur) juga dapat memicu reaksi serupa. Pada anak yang lebih aktif, aktivitas fisik yang intens atau udara dingin juga dapat memicu episode mengi (Meneghetti, 2015).

  • Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Regurgitasi isi lambung dan/atau asam dapat memicu refleks batuk dan harus dipertimbangkan ketika penyebab yang lebih umum dari batuk telah dieliminasi. Hal ini lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Anak-anak muda dan bayi mungkin tidak tampak jelas meludah dan memuntahkan cairan atau padatan selama episode tersebut. Namun, mereka dapat menjadi sangat iritabel ketika hal itu terjadi (Meneghetti, 2015).

  • Tik motorik sederhana

Anak-anak kadang-kadang memiliki klirens tenggorok berulang sebagai manifestasi dari tik. Mereka tampaknya tidak berada dalam kesulitan apa pun selama episode ini dan tik tersebut dapat berhenti dengan sendirinya. Hal ini pun tidak terjadi selama tidur. Orang tua akan sering menggambarkan batuk anak-anaknya akibat rasa tergelitik di dalam tenggorok (Robertson, 2015).

  • Penyebab yang jarang

Berbagai penyebab batuk yang jarang perlu diperhatikan ketika mekanisme yang lebih jelas atau rutin telah dieliminasi. Sebuah daftar parsial sebagai penyebab batuk yang jarang meliputi fibrosis kistik, penyakit jantung bawaan, gagal jantung, cacat bawaan dari jalan napas, paru-paru atau pembuluh darah utama dari dada, dan lain-lain (Worrall, 2011).

 

acute-cough_children1

acute-cough_children2

acute-cough_children3

Sumber: http://www.merckmanuals.com/professional/pediatrics/symptoms-in-infants-and-children/cough-in-children

 

Daftar Pustaka

Consolini, D. M. (2013, Agustus). Merck Manual Professional Version. Retrieved Mei 24, 2016, dari Merck Manual: http://www.merckmanuals.com/professional/pediatrics/symptoms-in-infants-and-children/cough-in-children#v1082868

Meneghetti, A. (2015, Juli 31). Upper Respiratory Tract Infection Clinical Presentation. (Z. Mosenifar, Editor) Diunduh pada Mei 17, 2016, dari Medscape: http://emedicine.medscape.com/article/302460-clinical

Robertson, W. C. (2015, September 15). Tourette Syndrome and Other Tic Disorders. Diunduh pada Mei 24, 2016, dari Medscape: http://emedicine.medscape.com/article/1182258-overview

Shields, M. D., Bush, A., Everard, M. L., McKenzie, S., & Primhak, R. (2008). Recommendations for the assessment and management of cough in children. Thorax , 63 (3), 1-15.

Worrall, G. (2011). Acute Cough in Children. Canadian Family Physician vol. 57, 315-318.

Read Full Post »

  1. Tes Mantoux

    • Pembacaan dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan

    • Disebut positif bila indurasi > 10 mm (pada gizi baik), atau > 5 mm pada gizi buruk, atau 5 mm atau lebih pada pasien dengan infeksi HIV

  1. Foto toraks

    • Perselubungan opaque tanpa air bronchogram

    • Tidak segmental

    • Volume paru bertambah (ICS melebar, trakea terdorong)

    • Sinus tumpul, meniscus sign (+)

 Massive left sided pleural effusion

  1. Sputum BTA

Skala IUATLD:

    • Tidak ditemukan BTA dalam 100 LP disebut negatif

    • Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 LP ditulis jumlah kuman yang ditemukan

    • Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 LP disebut +

    • Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 LP disebut ++

    • Ditemukan > 10 BTA dalam 1 LP disebut +++

  1. Pemeriksaan PA KGB

  2. Pemeriksaan PA jaringan pleura

  3. Pemeriksaan cairan pleura (torakosentesis, pemeriksaan makroskopik, pemeriksaan mikroskopik, tes Rivalta, dan ADA)

  4. ICT-TB (Immunochromatographic)

  • Uji serologi untuk mendeteksi antibodi M. tuberculosis dalam serum

  • Uji diagnostik TB yang menggunakan 5 antigen spesifik yang berasal dari membran sitoplasma M. tuberculosis.

  1. Kultur dan Tes Sensitivitas

 

Prosedur Torakosentesis

  1. Penderita duduk dengan posisi tegak atau bahunya disandarkan pada bantal atau duduk memeluk bantal.

  2. Tentukan tinggi cairan pleura dengan tindakan perkusi dinding toraks.

  3. Tentukan tempat pungsi, yaitu ruang interkostal/ICS 6, 7, atau 8 pada linea aksilaris posterior (ICS 8 biasanya terletak setinggi ujung skapula).

  4. Pakailah sarung tangan steril, lalu lakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah tempat akan dipungsi dengan larutan bethadine dan alkohol 70%.

  5. Tutup daerah yang akan dipungsi dengan doeck steril.

  6. Tusuk dinding toraks dengan jarum (abbocath) no 16 lalu pungsi cairan pleura dengan menggunakan syringe sebanyak 50 ml dan dimasukkan ke dalam botol-botol steril (pengambilan cairan pleura tidak boleh lebih dari 1000 ml tiap kali aspirasi).

 Thoracentesis

 

 

Pemeriksaan Makroskopik

Warna : kuning muda

Kejernihan : jernih

Bau : tak berbau

pH : 6,8 – 7,6

BJ : 1,010 – 1,026

Bekuan : negatif

 

Pemeriksaan Mikroskopik

Eritrosit : <10.000/mm3

Leukosit : <1.000/mm3

Hitung jenis leukosit : 25% neutrofil

 

Tes Rivalta

Tujuan : membedakan jenis cairan tubuh adalah suatu transudat atau eksudat

Prinsip : seromusin dalam suasana asam akan membentuk kekeruhan

Alat-alat : gelas ukur 100 ml dan pipet Pasteur

Reagen : akuades dan asam asetat glasial

 

Prosedur Kerja:

  • Isi gelas ukur dengan 100 ml akuades

  • Tambahkan 1-2 tetes asam asetat glasial ke dalam akuades tersebut

  • Teteskan cairan pleura dari ketinggian pipet 1 cm di atas permukaan cairan

  • Amati ada atau tidaknya kekeruhan pada akuades dalam gelas ukur tersebut

 

Nilai rujukan normal:

Negatif → tak tampak kekeruhan

 

Interpretasi:

Positif → timbul kekeruhan ringan hingga seperti kabut (kualitatif).

 transudat_eksudat

 plefluid

ADA (Adenosin Deaminase)

ADA merupakan enzim yang berperan dalam purine salvage pathway dan bertanggung jawab pada metabolisme adenosin. Enzim ini bekerja mengkatalisis adenosin dan deoksiadenosin menjadi inosin dan deoksiinosin. Nilai normal: 4 – 20 U/L.

  • Pleuritis TB > 30 U/L

  • Meningitis TB > 8 U/L

Read Full Post »

1. Pemeriksaan Fungsi Paru (Spirometri)

  • Gangguan restriksi: Vital Capacity (VC) < 80% nilai prediksi; FVC < 80% nilai prediksi.
  • Gangguan obstruksi: FEV1 < 80% nilai prediksi; FEV1/FVC < 75% nilai prediksi.
  • Gangguan restriksi dan obstruksi: FVC < 80% nilai prediksi; FEV1/FVC < 75% nilai prediksi.

2. Foto toraks:

  • Bayangan luscent, corakan paru bertambah atau masih ada,
  • Dinding toraks membesar (ICS melebar, barrel chest, costa mendatar, diafragma mendatar),
  • Jantung kelihatan kecil (tear drop appearance),
  • Puncak inspirasi diafragma > ICS V.

emfisema_ro

3. Kadar Hb:

meningkat karena hipoksemia kronis.

4. Analisis gas darah:

seringnya normal, pada kasus yang berat dapat ditemukan hipoksemia.

5. Apusan sampel dahak, kultur, dan tes sensitivitas antibiotik:

berguna pada kasus dengan eksaserbasi yang dipicu oleh bakteri.

6. EKG:

bila ada komplikasi cor pulmonale maka dapat ditemukan gelombang P pulmonal, right bundle branch block, dan right ventricular hypertrophy (dapat terjadi karena hipoksemia kronis).

7. Ekokardiografi:

mengamati fungsi jantung bila terdapat komplikasi.

8. Level α1 antitripsin dan genotipnya:

kadar normal α-1 antitripsin 100-300 mg/dl (defisiensi merupakan salah satu etiologi).

Read Full Post »

tuberkulosis_pa

< 3 minggu:

  • M. tuberculosis memasuki makrofag melalui ikatan antara lipoarabinomanan (glikolipid dinding sel bakteri) dan reseptor manosa pada makrofag.
  • M. tuberculosis melakukan replikasi dalam makrofag dengan menghambat fusi fagosom dan lisosom. Fusi fagolisosom tersebut dicegah dengan menghambat sinyal kalsium dan protein mediator.
  • Pada penderita yang belum tersensitasi terjadi bakteriemia dan penyemaian di berbagai tempat.
  • Penderita dapat asimptomatik atau mengalami penyakit mirip flu.
  • Polimorfisme gen NRAMP1 (protein transmembran pada endosom dan lisosom) menjadi salah satu penyebab respon imun tidak efektif. Pada keadaan normal lisosom akan memompa kation divalen (misal. Fe) yang akan menurunkan jumlah ion yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri.

> 3 minggu:

  • T-helper 1 mengaktivasi makrofag menjadi bakterisidal. Respons tersebut diinisiasi oleh presentasi antigen mikobakterial oleh makrofag alveolar. Makrofag sendiri akan menghasilkan IL-12 karena M. tuberculosis menghasilkan beberapa molekul protein yang merupakan ligan untuk TLR2. IL-12 inilah yang menyebabkan diferensiasi sel T menjadi T-helper 1.
  • Th1 akan memproduksi IFN-γ. IFN-γ menstimulasi pembentukan fagolisosom dalam makrofag yang terinfeksi dan ekspresi iNOS (inducible nitric oxide synthase), yang akan menghasilkan nitrit oksida dan ROS (reactive oxygen species).
  • IFN-γ juga mengakibatkan diferensiasi makrofag menjadi sel epiteloid, atau bahkan berfusi sebagai giant cell, yang merupakan karakteristik respons granulomatosa.
  • Makrofag teraktivasi akan menghasilkan TNF yang merekrut lebih banyak lagi sel monosit.

 

Pada tuberkulosis laten dapat terbentuk cavitasi/caverne karena efek sitokin terhadap jaringan. Kuman Mycobacterium tidak dapat bertumbuh di lingkungan ekstraselular yang bersifat asam dan rendah oksigen. Residu akhir dari infeksi primer adalah sikariks yang mengalami kalsifikasi pada parenkim paru-paru dan nodus limfatik di hilus. Bila terjadi erosi pembuluh darah, maka dapat terjadi hemoptisis.

Sumber:

Kumar V, Abbas KA, Fausto N. 2010. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease 8th Edition. Elsevier Saunders.

Read Full Post »

Definisi Menurut Global Initiative for Asthma (GINA) 2002:

 

Asma adalah kelainan inflamasi kronik saluran napas. Proses inflamasi ini melibatkan berbagai sel inflamasi antara lain sel mast, eosinofil, limfosit T, dan neutrofil. Pada individu yang sensitif kelainan inflamasi ini menyebabkan gejala-gejala yang berhubungan dengan obstruksi saluran napas yang menyeluruh dengan derajat yang bervariasi, yang sering membaik (reversible) secara spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi kronik ini juga menyebabkan hiperreaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan.

 

Epidemiologi dan Insidensi:

  • anak laki-laki lebih sering daripada perempuan,
  • setelah pubertas, perempuan sedikit lebih sering, sekitar 8% dari populasi orang dewasa di Amerika Serikat memiliki tanda dan gejala yang konsisten dengan diagnosis asma (300 juta di seluruh dunia),
  • biasanya terjadi sejak kecil,
  • prevalensi meningkat lebih dari 45% sejak akhir 1970-an,
  • peningkatan cepat terjadi pada negara yang baru mengadopsi gaya hidup industrial.

 

 

Etiologi:

belum diketahui pasti,

diperkirakan disebabkan oleh interaksi antara faktor genetik dan faktor yang didapat (pencetus dapat berupa infeksi, polusi, dan alergi).

 

Faktor Risiko Umum:

  • paparan alergen (tungau debu rumah, bulu binatang, kecoa, serbuk sari, dan jamur >> hipersensitivitas tipe I),
  • pekerjaan (toluen diisosianat >> pembuatan plastik; metilik anhidrida >> resin untuk lem, cat, dan lain-lain)
  • iritasi (asap rokok, GERD)
  • infeksi saluran pernapasan (virus >>  menurunkan ambang rangsang vagal subepitelial),
  • olahraga (CO2 >> kemoreseptor pada arcus aorta dan sinus caroticus – medula oblongata – korteks – medula spinalis – saraf efektor – otot pernapasan; suhu >> termoreseptor N. Vagus – otak – N. Vagus motorik – asetilkolin – depolarisasi Ca – pecahnya sel mast karena deposit kalsium bertambah di dalam sel itu – histamin – merupakan amin vasoaktif – bronkokonstriksi dan edema bronkus karena peningkatan permeabilitas vaskular),
  • ekspresi emosional yang kuat (meningkatkan rangsangan vagal >> parasimpatis),
  • bahan kimia dan obat-obatan (aspirin >> jalur siklooksigenase dihambat – jalur lipoksigenase berlebihan – leukotrien; beta-blocker – menghambat adrenoreseptor beta-2 di paru-paru yang berfungsi untuk bronkodilatasi, reseptor beta-1 terdapat di jantung).

Read Full Post »

 

  • Enzim ACE adalah kininase II. Penghambat ACE akan mencegah degradasi bradikinin sehingga akan meningkatkan kadar zat tersebut pada endotel vaskuler lokal (saluran napas atau paru-paru).
  • Proses tersebut melibatkan jalur kalikrein-bradikinin-prostaglandin.
  • Bradikinin bekerja lokal pada reseptor BK2 di sel endotel dan menstimulasi produksi nitrit oksida (NO) dan prostaglandin. Prostaglandin sendiri memiliki efek vasodilator. Dengan demikian, akumulasi bradikinin yang terus menerus akan menyebabkan angioedema: mukosa tampak agak edema dan pada faring posterior tampak sedikit sekret mukoid jernih.
  • Bradikinin juga merangsang kemoreseptor pada saluran napas dan menimbulkan rasa tergelitik dan gatal. Oleh karena itu, refleks batuk akan terangsang.
  • Melalui saraf aferen N. Vagus impuls diteruskan menuju pusat batuk di otak (nukleus traktus solitarius pada medula batang otak) hingga akhirnya terkoneksi dengan generator pernapasan pusat (medulla oblongata).
  • Setelah itu impuls akan meninggalkan medula melalui saraf eferen N. Vagus menuju laring dan daerah trakeobronkial.
  • Melalui saraf motorik phrenicus C3-S2, impuls akan disampaikan menuju m. intercostalis, dinding abdomen, dan diafragma.
  • Mula-mula udara akan diinspirasi secara cepat (2,5 L). Epiglotis menutup erat-erat untuk menjerat udara dalam paru-paru. Otot-otot abdomen berkontraksi dengan kuat mendorong diafragma. Otot-otot ekspirasi seperti m. intercostalis internus juga berkontraksi dengan kuat.
  • Tekanan dalam paru-paru akan meningkat secara cepat sampai lebih dari 100 mmHg.
  • Pada akhirnya, pita suara dan epiglotis tiba-tiba membuka lebar dan udara bertekanan tinggi dalam paru-paru pun meledak ke luar.

Rasa gatal yang ditimbulkan oleh bradikinin juga memberikan kecenderungan pada pasien untuk berdeham sewaktu berbicara.

Deviasi septa pada pasien merupakan suatu deformitas nasal unilateral yang disebabkan oleh gangguan proses pertumbuhan mesodermal.

Daftar Pustaka:

Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI.

Guyton, A.C. and Hall, J.E., 2006. Textbook of Medical Physiology. 11 th ed.  Philadelphia, PA, USA: Elsevier Saunders.

http://journal.publications.chestnet.org/article.aspx?articleid=1084251&issueno=1_suppl

http://www.coughjournal.com/content/7/1/10

Read Full Post »