Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sistem Muskuloskeletal’ Category

Dasar Diagnosis

Anamnesis:

  • Immobilisasi dan weight bearing

  • Kurangnya tinggi badan

  • Kurangnya paparan sinar matahari

  • Kurangnya asupan kalsium dan vitamin D

  • Pemakaian obat steroid

  • Alkohol dan rokok

  • Penyakit kronik 

Pemeriksaan fisik:

  • Fraktur

  • Tinggi dan berat badan dengan BMI

  • Deformitas

Untuk mendiagnosa osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Di Indonesia dikenal 3 cara penegakan diagnosa penyakit osteoporosis, yaitu:

1. Densitometer (Lunar) menggunakan teknologi DXA (Dual-Energy X-Ray Absorptiometry).

Pemeriksaan ini merupakan gold standard diagnosa osteoporosis. Pemeriksaan kepadatan tulang ini aman dan tidak menimbulkan nyeri serta bisa dilakukan dalam waktu 5-15 menit. DXA sangat berguna untuk:

  • wanita yang memiliki risiko tinggi menderita osteoporosis
  • penderita yang diagnosisnya belum pasti
  • penderita yang hasil pengobatan osteoporosisnya harus dinilai secara akurat

2. Densitometer-USG.

Pemeriksaan ini lebih tepat disebut sebagai screening awal penyakit osteoporosis. Hasilnya pun hanya ditandai dengan nilai T dimana nilai lebih -1 berarti kepadatan tulang masih baik, nilai antara -1 dan -2,5 berarti osteopenia (penipisan tulang), nilai kurang dari-2,5 berarti osteoporosis (keropos tulang). Keuntungannya adalah kepraktisan dan harga pemeriksaannya yang lebih murah.

3. Pemeriksaan laboratorium untuk osteokalsin dan dioksipiridinolin, CTx.

Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telopeptide). CTx merupakan hasil penguraian kolagen tulang yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darah sehingga spesifik dalam menilai kecepatan proses pengeroposan tulang.

Alasan paling mungkin untuk massa tulang rendah yang terdeteksi pada pengukuran DXA atau QTC atau fraktur akibat trauma minimal adalah kegagalan mendapatkan puncak massa tulang selama masa remaja dan dewasa muda, defisiensi, atau penurunan kalsium. Dalam anamnesis, kita dapat bertanya mengenai faktor-faktor risiko yang mendukung.

Diagnosis Banding Osteoporosis

1. Osteomalasia

Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang ditandai oleh kurangnya mineral dari tulang pada orang dewasa (menyerupai penyakit  ricketsia pada anak-anak), berlangsung kronis dan dapat terjadi deformitas skeletal yang disebabkan oleh defisiensi vitamin D. Penurunan densitas tulang secara umum (pseudofraktur) merupakan pita translusens yang sempit pada tepi kortikal, dan merupakan tanda diagnostik untuk osteomalasia. Kelainan ini paling sering terlihat pada iga, skapula, ramus pubis, dan aspek medial femur proksimal.

2. Paget’s Disease

Alkali fosfatase meningkat. Kalsium meningkat. Fosfor dapat normal atau sedikit meningkat. Osteokalsin normal.

3. Multiple myeloma

Multiple myeloma merupakan tumor ganas primer pada sumsum tulang, di mana terjadi infiltrasi pada daerah yang memproduksi sumsum tulang pada proliferasi sel-sel plasma yang ganas. Tulang tengkorak, tulang belakang, pelvis, iga, skapula, dan tulang aksial proksimal merupakan yang terkena secara primer dan mengalami destruksi sumsum dan erosi pada trabekula tulang; tulang distal jarang terlibat. Saat timbul gejala sekitar 80-90% di antaranya telah mengalami kelainan tulang.

Pada gambaran radiologis akan tampak: osteoporosis umum dengan penonjolan pola trabekular tulang, terutama pada tulang belakang, yang disebabkan oleh keterlibatan sumsum pada jaringan mieloma. Hilangnya densitas tulang mungkin merupakan tanda radiologis satu-satunya pada penyakit ini. Fraktur patologis sering dijumpai.

4. Fraktur kompresi pada badan vertebra

Lesi-lesi litik yang menyebar dengan batas yang jelas, lesi yang berada di dekat korteks menghasilkan internal scalloping. Ekspansi tulang dengan perluasan melewati korteks, menghasilkan massa jaringan lunak.

5. Hiperparatiroidisme

Hiperparatiroidisme terdapat dalam dua bentuk: primer dan sekunder. Bentuk primer adalah karena fungsi yang berlebihan dari kelenjar paratiroid, biasanya adalah adenoma. Namun, sejak dikenalnya hemodialisis, penyebab yang lebih umum untuk hiperparatiroidisme adalah bentuk sekundernya, yaitu karena penyakit ginjal kronis, terutama penyakit glomerular. Penyakit tulang terlihat pada pasien ini biasanya disebut sebagai osteodystrophy ginjal.

Sumber:

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia Jilid III Edisi 5

http://www.scribd.com/satrio_permadi/d/71963125-Osteoporosis?olddoc=1

http://www.scribd.com/doc/61392189/Gizi-Makalah-Osteoporosis

Advertisements

Read Full Post »

Definisi: kelompok penyakit heterogen akibat deposisi kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat dalam cairan ekstraseluler

 

Epidemiologi:

  • Jarang pada pria sebelum remaja
  • Jarang pada wanita sebelum menopause

Pria:Wanita = 4:1 (di bawah 65 tahun); 3:1 (di atas 65 tahun)

Pria: 49 tahun

Wanita: 60 tahun

Pada usia 32-64 tahun, pria : wanita = 2,8% : 1,5%

 

Predileksi (biasanya satu sendi):

Jempol kaki (paling sering), kaki, pergelangan kaki, lutut, lengan, pergelangan tangan, siku dan kadang di jaringan lunak dan tendon.

Etiologi:

1. Gout primer: pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat penurunan ekskresi asam urat (defisiensi enzim PPRP amido transferase dan HGPRT, peningkatan jumlah PPRP yang tidak dipergunakan).

2. Gout sekunder: pembentukan asam urat yang berlebihan atau ekskresi asam urat yang berkurang akibat proses penyakit lain / obat-obatan (penurunan massa dan filtrasi ginjal).

3. Gout idiopatik: hiperurisemia yang tidak jelas penyebabnya

 

Faktor Risiko:

1. Suku bangsa/ras

  • Di Indonesia paling tinggi di Minahasa-Manado karena kebiasaan, pola makan, atau konsumsi alkohol

2. Konsumsi alkohol

  • Metabolisme alkohol menghasilkan efek samping berupa asam laktat. Asam laktat tersebut akan menghambat ekskresi asam urat pada ginjal. Akibatnya, kadar asam urat serum akan meningkat.

3. Konsumsi ikan laut: kadar purin tinggi

4. Penyakit: obesitas, DM, penyakit ginjal, hipertensi, dan lain-lain

5. Obat-obatan: diuretik, antihipertensi, aspirin, dan sebagainya

  • Obat diuretik akan menurunkan tekanan darah sehingga sekresi pada ginjal ikut menurun

6. Jenis Kelamin: lebih sering pada pria seperti yang sudah disebutkan di atas

7. Diet tinggi purin

  • Selain meningkatkan asam urat, juga berpengaruh pada ketidakseimbangan HDL, trigliserida, dan LDL

 

Gambaran Klinis:

1. Hiperurisemia asimptomatik

2. Stadium arthritis gout akut

  • Monoartikular, nyeri, bengkak, terasa hangat, merah. Terkadang disertai dengan gejala sistemik berupa demam, menggigil, dan merasa lemah
  • Sembuh dalam beberapa hari sampai minggu
  • Bila tidak diobati, rekuren multipel, interval antar serangan singkat

3. Stadium interkritikal (asimptomatik)

  • Dapat terjadi satu atau beberapa kali per tahun sampai 10 tahun

4. Stadium arthritis gout menahun (umum pada self medication)

  • Banyak tofi, poliartikular (cuping telinga, metatarsophalangeal I, olecranon, tendon Achilles, jari tangan)
  • Tofi menimbulkan inflamasi

Sumber:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31060/4/Chapter%20II.pdf

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia Edisi 5

Read Full Post »

Apakah perbedaan antara gejala dan tanda?

Gejala merupakan hal-hal yang dirasakan oleh penderita. Sedangkan, tanda merupakan hasil pemeriksaan medis oleh klinisi.

Gejala dan tanda osteoarthritis antara lain:

  • Nyeri

Sendi pasien mungkin terasa sakit, terasa terbakar, atau tajam. Bagi sebagian orang, rasa sakit dapat bersifat hilang timbul. Selalu kesakitan atau nyeri saat pasien tidur dapat menjadi tanda bahwa osteoarthritis memburuk.

  • Kekakuan

Bila memiliki radang sendi, bangun di pagi hari akan sulit. Sendi terasa kaku dan berderit untuk waktu yang singkat (kurang dari 1 jam), sampai dapat bergerak kembali . Kaku juga dapat terjadi karena duduk.

  • Kelemahan otot

Otot-otot sekitar sendi menjadi lebih lemah. Ini banyak terjadi pada osteoarthritis di lutut.

  • Pembengkakan

Bagian yang bengkak terasa lunak dan sakit.

  • Deformasi sendi/pembesaran sendi

Tampak bentuk yang salah dari sendi, terutama disebabkan karena osteoarthritis yang semakin memburuk.

  • Pengurangan rentang gerak dan fungsi pergerakan sendi

Jika osteoarthritis semakin memburuk, pasien tidak dapat sepenuhnya membungkuk, melakukan gerakan fleksi, ataupun ekstensi sendi. Sendi bisa juga tidak dapat digerakkan sama sekali.

  • Adanya suara retakan dan deritan (krepitus)

Kondisi ini juga dapat terjadi dalam sendi yang normal. Akan tetapi dalam banyak kasus, tidak menimbulkan rasa sakit.

  • Tanda-tanda peradangan (pembengkakan, kemerahan, panas yang merata, nyeri tekan, gangguan fungsi)
  • Perubahan cara berjalan

Sumber:

http://www.emedicinehealth.com/osteoarthritis-health/article_em.htm

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23462/4/Chapter%20II.pdf

Read Full Post »