Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hanna: Die Liebesträume’ Category

Gent, Minggu ke-2 Musim Gugur 1886

Ludwig von Lonquich

Hanna von Leibniz

 old-piano

Helai-helai kertas tampak menumpuk di atas meja. Sebuah pustaka tebal terbuka di sampingnya. Seorang gadis di sana tengah serius menulis. Hati-hati ia menorehkan pena tinta ke atas kertas. Halaman demi halaman diisinya perlahan. Suasana sungguh sunyi hingga seseorang datang membuka pintu.

“Hanna,” panggil seorang pemuda.

Gadis tadi segera menoleh.

Ia lantas meletakkan pena ke dalam tintanya.

“Ada apa, Ludwig?” tanyanya.

Dengan malu-malu pemuda tersebut mengamati ruangan tempat gadis itu belajar. Pandangan matanya menyapu setiap sudut.

“Tidakkah engkau ingin pulang? Hari sudah senja,” kata Ludwig.

Hanna menoleh pada jendela di sudut ruangan.

Mentari musim gugur memang mulai meredup.

Ia tak menyadari karena terlalu sibuk mengerjakan tugas.

“Oh, engkau benar,” ungkap sang gadis.

Ia pun segera merapikan kertas-kertas tadi. Buku yang tebal ditutupnya. Lalu ia pun lekas-lekas mengembalikan kursi pada tempatnya semula.

“Apakah Dr. Floris sudah pulang?” tanya Hanna.

“Ya.”

Ludwig sedikit menunduk.

Dia kemudian menunggu Hanna keluar dari ruangan tersebut.

Mereka memang tak begitu banyak bicara satu sama lain. Hanna hanya mengenal Ludwig sebagai seorang putra dari kawan ayahnya. Ayah dan ibu pemuda itu sudah tiada.

Setelah Hanna keluar mendahului, Ludwig pun segera menutupkan pintu untuknya. Mereka kemudian berjalan berdua saja di antara lorong-lorong sepi gedung sekolah. Tidak ada lagi kawan mereka yang masih ada di sana.

Jalanan di senja hari itu juga sungguh sunyi. Daun-daun jingga kemerahan berguguran di jalanan. Sisa-sisa cahaya mentari memantulkan semburat emasnya. Tak jarang daun-daun tadi juga berjatuhan ke Sungai Scheldt. Lalu terbawa arus entah ke mana.

Hanna sesekali mengamati Ludwig. Pemuda itu sejenak menatapnya. Lalu ia membuang muka. Tersenyumlah sang gadis kala mengetahuinya. Tapi ia hanya bergeming meneruskan perjalanan.

“Bukankah biasanya engkau pulang pergi menaiki sepeda? Mengapa hari ini engkau berjalan kaki? Di manakah sepedamu itu?” tanya Hanna tiba-tiba.

Ludwig terhenyak.

“Oh, aku,” jawabnya, “aku tak ingin naik sepeda hari ini.”

“Aku ingin menemani engkau pulang berjalan kaki,” lanjut sang pemuda.

Hanna lagi-lagi tergelitik.

“Sungguh?” tanyanya.

Ludwig mengangguk.

“Apakah engkau tidak senang?” tanya pemuda itu.

“Aku senang.”

Hanna kemudian menarik napas dalam. Dibiarkannya udara sejuk mengisi paru-parunya yang jenuh. Juga kedua tangannya direntangkan ke samping sejenak untuk melepas lelah.

Ia lantas terus menatap ke depan hingga terlihat sebuah rumah susun di samping jalan.

“Nah, sepertinya kita berpisah di sini saja. Nyonya Gluen akan melaporkan aku pada Ibu bila melihatku berjalan bersama seorang pemuda,” tutur Hanna.

Ludwig terkejut.

Dia berhenti.

“Benarkah?”

“Ya.”

“Aku pulang dulu, ya,” lanjut Hanna.

Ludwig terdiam sejenak.

Lalu ia segera menangkap bahu sang gadis.

“Tunggu.”

“Tunggu,” ulang Ludwig.

“Hari ini adalah hari ulang tahunmu yang istimewa. Aku punya sebuah hadiah untukmu yang tak bisa kuberikan di sini,” jelas sang pemuda.

Mata Ludwig lantas menatap Hanna lekat-lekat.

“Ikutlah denganku,” pinta Ludwig.

Hanna kebingungan.

Ia pun tiba-tiba diajak berlari oleh Ludwig. Baris-barisan rumah mereka lalui. Juga beberapa persimpangan jalan.

Ternyata, pemuda itu hendak membawa sang gadis ke rumahnya.

“Masuklah, engkau tak perlu takut,” ucap Ludwig, “aku tinggal sendiri di sini.”

“Apakah engkau sungguh-sungguh?”

Ludwig mengangguk.

Dia masih saja merengkuh pergelangan tangan sang gadis.

Mulanya Hanna sungguh sangsi. Namun demikian, senyuman di wajah Ludwig membuatnya merasa nyaman dan percaya. Hanna tak khawatir, meski Ludwig kembali membawanya melalui ruangan-ruangan yang terasa asing baginya.

“Aku ingin memainkan sebuah melodi untukmu,” kata Ludwig.

Dia kemudian kembali menggandeng Hanna hingga sampai di sebuah ruang besar.

Hanya ada sebuah piano di sana.

Ludwig mencari-cari sebuah kursi untuk sang gadis. Tapi ia tak menemukannya.

“Tak apa-apa, Ludwig. Aku berdiri saja,” kata Hanna.

Sang gadis menggelengkan kepala.

Kemudian ia tertawa kecil.

“Baiklah,” sahut Ludwig pada akhirnya.

Pemuda itu lantas duduk di kursinya.

Tangan-tangannya dilemaskan.

Ia menekan beberapa tuts, memastikan semua nada telah ditala dengan sempurna. Lalu Ludwig pun membuka kumpulan partitur. Pula kertas-kertasnya kini berdiri berjajar.

“Dengarkanlah,” pinta Ludwig.

Hanna tersenyum sejenak. Kemudian ia mulai melipat tangan. Didengarkannya nada-nada yang mulai dimainkan Ludwig. Dari baris paranada pertamanya saja, sang gadis sudah tahu yang dimainkan pemuda itu. Liebesträume Nr. 3.

Jari-jemari Ludwig mulai berdansa perlahan. Tangan kanannya bergerak sedikit lebih cepat. Nadanya naik turun mengalun. Semua tuts dibidiknya dengan tenang dan khidmat. Lalu di pertengahan permainannya, jari-jarinya bergerak semakin cepat. Seolah-olah jalinan melodinya dimainkan tiga tangan.

Nocturne itu mengisahkan suatu malam yang sunyi. Lalu ratapan! Ya, ratapan akan cinta!

Hanna mengerti karya ini berarti ‘Impian Cinta’. Namun, apakah yang sebenarnya hendak dituturkan Ludwig lewat simfoninya?

Hanna tak mengerti.

Ia pun kembali mendengarkan.

Semakin lama permainan piano Ludwig menjadi semakin penuh makna. Nada-nada yang ditekannya semakin mantap. Lengan-lengan sang pemuda saling silang menyilang. Semakin cepat! Semakin menyakitkan! Namun juga, semakin penuh cinta!

Hanna memperhatikan raut wajah Ludwig saat memainkannya. Lelaki itu seperti berpandangan kosong. Apakah ia tengah bersedih?

Simfoni itu pun lambat laun mencapai akhirnya.

Nadanya menjadi pelan dan lembut.

Nadanya meredup hingga akhirnya tak terdengar sama sekali.

“Selamat ulang tahun, Hanna,” ungkap Ludwig sambil tersenyum.

Hanna menjadi heran dibuatnya.

Tadi pemuda itu sungguh nestapa. Lalu kini ia bisa tersenyum kembali. Senyuman yang sangat manis.

“Terima kasih, Ludwig,” sahut Hanna.

Ludwig mulai menghembuskan napas.

Malam semakin mendekat.

“Seumur hidupku, aku selalu memimpikan seorang sahabat yang bisa kusayangi sepenuhnya. Hanya saja dalam hidupku ini, aku terlalu naif. Aku terlalu mudah dikecewakan oleh orang-orang yang kukenal. Apalagi saat mereka salah paham dan menjauhiku,” ungkap Ludwig.

Ia kemudian memandang Hanna lekat-lekat.

“Mereka tak pernah tahu seperti engkau benar-benar mengenalku. Aku tidak mengerti harus berbuat apa lagi,” lanjut sang pemuda.

“Mengapa tak ada…, mengapa tak ada seorang pun di dunia ini yang mau menerima aku? Mengapa sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk dekat dengan mereka?” tanya Ludwig.

“Namun engkau berbeda, Hanna. Engkau tidak menjauhiku seperti orang-orang lain. Engkau tidak menganggapku orang asing. Meski sesungguhnya, aku pun merasa asing dengan diriku sendiri,” ungkap sang pemuda.

Ludwig kembali menekan beberapa tuts.

Ia hendak memainkan Liebesträume Nr. 3 sekali lagi. Namun, tak bisa.

“Mengapa aku tak pernah mendapatkan impianku, harapanku?” tanya Ludwig pedih.

Hanna terdiam.

Dia memandangi Ludwig yang tengah sendu. Lelaki itu tak kunjung menutup pianonya. Ia hanya terdiam kelu. Putus asa.

“Ludwig,” panggil Hanna.

Lelaki itu masih saja menunduk.

Ia takut mendengar setiap kata yang akan diucapkan Hanna. Tapi ia menunggu jawaban. Ia sangat, sangat menunggu jawaban itu.

“Aku bersedia menjadi sahabatmu. Aku bersedia memberi kesempatan untukmu mengenalku,” lanjut sang gadis.

Ludwig terdiam.

Ia sangat terkejut.

Perasaannya membuncah tak keruan.

“Sungguhkah yang kudengar itu?” tanya Ludwig sambil mengangkat wajah.

Ditatapnya mata cokelat Hanna yang cerah. Juga rambutnya yang sehitam malam.

Hanna pun demikian.

Dia menatap jauh ke dalam mata hijau melankolis lelaki tersebut.

“Engkau tidak mendengarku?” tanya Hanna.

Ludwig melebarkan kedua matanya.

Dia lantas berdiri.

“Aku mendengarmu….”

“Lalu apakah…, apakah…, engkau bersedia menjadi kekasihku?” tanya Ludwig terbata-bata.

Hanna tersenyum.

“Ya, Ludwig.”

“Apakah engkau sungguh menyayangiku? Bukan karena kasihan padaku?” tanya si pemuda.

Sang gadis mengangguk.

Ludwig pun mulai gemetaran.

Dia hendak memeluk sang gadis. Tapi ia salah menumpangkan kepala Hanna di lengannya.

“Oh, maaf,” ungkap Ludwig.

Hanna kembali tertawa.

“Tak apa,” sahutnya.

Ludwig pun perlahan-lahan mendekap Hanna di dadanya. Lalu ia mencium kening sang gadis.

“Maafkan aku yang telah berani mencintaimu,” bisik Ludwig.

Hanna hanya mengangguk. Dia membalas pelukan Ludwig yang semakin erat.

“Ketahuilah Hanna, hanya engkau satu-satunya malaikat dalam hatiku. Hanya engkau cinta yang kuimpikan itu. Hanya engkau yang membuatku berani untuk kembali menatap jalan hidupku.”

 

 

Advertisements

Read Full Post »

Ludwig von Lonquich,
31 Desember 1889.
ludwig-und-hanna
Salju telah menyelimuti seluruh rupa Kota Wina. Butir-butir salju tak hentinya melipur bumi. Aku masih senang, meski hanya kuda-kuda dalam istal yang dapat kulihat dari jendela ini. Tidak ada satu manusia pun. Jalanan sunyi senyap.
 
Kota ini sungguh beku. Namun, aku masih bisa melupakan betapa dinginnya sejenak. Yang perlu kulakukan hanyalah memainkan sebuah melodi di pianoku, Nocturne Op. 9 Nr.2-karya Frederic Chopin. Bagiku, simfoni Chopin ini adalah salah satu dari banyak karya besarnya yang menarik. Hanya dengan mengalunkan melodi ini, rasanya tubuhku sudah berpindah ke sebuah ruangan berlapiskan emas, berdansa dengan seorang yang sangat kucintai. Tanganku akan terus menari kian kemari bersama tuts hingga tak terasa aku sudah memainkannya hingga akhir.
 
Ironis sekali. Aku bahkan tak sedang bersama Hanna saat ini.
 
Sebentar aku terdiam. Lalu kututup pianoku dengan enggan. Pula kedua mataku memandang jauh ke luar jendela. Di luar sana, langit sudah mulai gelap.
 
Aku pun mulai menyalakan lentera. Kuletakkan benda tersebut di atas meja kecil. Kerdipnya tak cukup menerangi kamar besar ini. Aku terpaksa menyalakan dua buah lentera lainnya hingga seluruh ruangan menjadi terang. Lalu tak lama setelah itu, aku mendengar suara pintu dibuka.
 
“Mengapa engkau hanya duduk diam saja di situ?” tanya seseorang.
 
Suara itu datang dari Paman, Mathias von Lonquich. Usianya sepuluh tahun lebih tua daripada ayahku. Meski umurnya menjelang enam puluh tahun, perawakannya masih saja kekar. Sebelum ini, aku jarang bertemu dengannya.
 
“Tidak ada apa-apa,” jawabku, “aku hanya sedang memikirkan Kota Gent saat ini.”
 
“Dan kurasa  aku tak sedang berdiam diri, Paman. Aku baru saja bermain piano,“ lanjutku.
 
Ia hanya menggelengkan kepala.
 
“Aku benar-benar tidak mengerti. Pertama-tama Klemens, sekarang dirimu. Mengapa kalian begitu menghargai musik?”
 
“Kalau bukan musik, apa lagi yang pantas dibanggakan oleh seorang Lonquich?” tanyaku.
“Lagipula aku sudah mahir bermain pedang dan panah. Apakah yang masih kurang dan harus kulatih lagi?”
 
“Ya, engkau memang sudah hebat. Justru itu, semestinya engkau lebih giat lagi melatih fisikmu…. Engkau tidak akan menjadi sehat dengan menekan tuts piano, Ludwig…. Lakukanlah hal-hal yang lebih berguna, seperti ikut pelatihan militer—”
 
Aku hanya bisa medengarkannya secara samar-samar. Paman Mathias memang sangat sering menekankan bahwa anak muda keturunan Lonquich seharusnya menjadi seperti dirinya dahulu. Buyutku, Panglima Gregor von Lonquich, memang salah satu pejuang yang bertempur dalam Perang Suksesi Austria di tahun 1742. Sering kudengar soal kisahnya saat berperang mempertahankan Silesia. Paman Mathias, sebagai anak tertua di antara saudara-saudaranya, dipaksa oleh keluarga besarku untuk mengikuti kegiatan militer dan merasa bangga akan hal tersebut. Sebuah alasan mengapa aku jarang sekali bertemu dengan anak-anaknya yang militan juga.
 
Jarang bertemu…
Benar juga…. Sudah berapa lama aku tak jumpa dengan Hanna? Sungguh, baru dua bulan kami berpisah….
 
Apakah dia merindukanku?
Dia tidak pernah mengucapkannya, hanya memendam di dalam hati. Satu kebiasaan darinya yang kadang membuatku marah pada diri sendiri karena merasa tak bisa melakukan apa pun untuk menghibur.
 
Lalu sekarang setelah kami jauh, apakah dia merasa aku melupakannya?
 
Ingin sekali aku memeluknya saat ini juga dan mengatakan kepadanya, “Mana mungkin aku melupakanmu?”, tetapi aku tak bisa melakukan itu. Aku harus cukup lama tinggal di kota ini. Paman ingin aku mengurus surat warisan rumah Ayah dan Ibu, rumahku yang kini kosong.
 
Namun sungguh, aku benar-benar sangat merindukan Hanna.
 
“Ludwig, apa engkau mendengarkan?” tanya Paman.
“Aku akan kembali,” kataku yang masih melamun.
“Kembali? Apa maksudmu engkau akan kembali?”
 
Aku tersentak. Aku tak menyadari Paman Mathias masih berada di ruanganku. Terlalu terlena diriku ini.
 
“Sudahlah. Intinya engkau masih muda, Ludwig. Jangan sia-siakan masa mudamu dengan hal-hal seperti itu.”
“Apakah Paman kemari hanya untuk menasihatiku?” tanyaku.
“Tentu tidak, aku hanya ingin memberi tahu bahwa engkau sudah terlambat makan malam. Turunlah ke dapur sendiri bila engkau sudah lapar,” cetus Paman.
“Iya.”
 
Paman Mathias yang mulai bosan pun berjalan keluar dan menutup pintu ruangan.
 
Setelah lelah berpandangan kosong, aku pun berbaring di atas tempat tidurku. Lalu tiba-tiba aku teringat sebuah bagian dari puisi karangan Ferdinand Freiligrath yang menjadi inspirasi Liebesträume Nr. 3, karangan Franz Liszt.
“Waktunya akan datang…, ya….”
 
Aku memejamkan mata. Hanya sebuah nama yang mengada di dalam pikiranku. Itulah nama yang mengingatkanku akan seorang berparas manis dengan hati murni nan lembut.
 
Hanna….
Aku pasti akan segera kembali untukmu.
Oleh: William G.S.

(dengan berbagai perubahan)

Read Full Post »

Alfons van Beecke,

 

18 Juli 1887.

 NL_Liszt

 

 

Untuk engkau yang begitu manis,

 

Pertama-tama kukatakan, aku tidak mencintaimu sama sekali. Aku juga tidak menyukaimu. Aku tak senang akan paras dan penampilanmu. Rambutmu sehitam malam, aku tidak suka. Di manakah kilau keemasan yang seharusnya dimiliki oleh setiap gadis cantik itu? Mata cokelatmu, aku juga tak suka. Di manakah cahaya biru laut yang harus dimiliki oleh semua wanita memesona itu?

 

Banyak hal darimu yang menggangguku. Kakimu yang mungil, ah, seharusnya engkau memiliki kaki jenjang. Sepasang bibirmu juga biasa saja. Tidak tebal, tidak sensual, tidak juga tipis. Engkau tak menarik. Engkau juga tak seperti seorang bintang opera yang kubayangkan. Kupikir dengan suara seindah itu, engkau pastilah seorang gadis yang sungguh cantik.

 

Ternyata tidak.

 

Engkau hanya seorang gadis pintar yang bisa banyak hal. Engkau tidak mengikuti mode sebagaimana seharusnya para bintang opera. Penampilanmu kuno dan membosankan. Engkau abai terhadap parasmu yang sama sekali tidak dipoles. Oh, sungguh, mungkin Tuhan telah salah menala nada di pita suaramu. Suara malakmu terlalu indah kudengar. Tidak sebanding dengan penampilan cerdasmu. Heran rasanya, mengapa Maestro Klaapsink begitu menyayangimu?

 

Saat awal aku mengenalmu, kupikir engkau akan bicara bahasaku dengan tak keruan. Aku khawatir akan mendengar dialek Bavaria aneh dari mulutmu. Bahkan aku takut engkau tak dapat mengucapkan bahasa Jerman murni.

 

Kali ini aku salah.

 

Engkau bicara bahasa Jerman dengan sangat fasih. Aku tak mendengar aksen dan dialek tertentu. Engkau bahkan bisa menggunakan bahasaku dengan baik. Engkau tak seperti seorang yang tengah merantau. Engkau seperti seorang yang asli dari kota ini, sama sepertiku.

 

Sekali lagi, aku masih belum menyukai ataupun mencintaimu. Engkau hanya mulai menarik untukku.

 

Namun setiap aku beradu peran denganmu, kulihat engkau sungguh berbeda. Engkau memang tak menyukai drama ataupun sandiwara. Namun harus kuakui, engkau memainkannya dengan sangat indah. Setiap kali menyentuh tanganmu, aku merasakan betapa lembutnya. Setiap kali kucium aroma tubuhmu yang harum, aku menjadi nyaman. Setiap saat bersamamu, aku selalu bahagia. Diriku ingin mengenalmu lebih jauh. Setidaknya menjadi temanmu.

 

Lalu ketika tahu dirimu seorang bangsawan, aku mulanya tak percaya. Tapi sedikit demi sedikit aku dapat melihat jejak-jejak darah biru itu dari tiap keanggunanmu. Juga kenyataan bahwa engkau tengah belajar di sebuah perguruan, pastilah engkau benar seorang bangsawan.

 

Mungkin karena itulah engkau tak pernah mengagumiku, tak seperti wanita lain. Engkau sudah memiliki segalanya lebih daripadaku, nona bangsawan. Engkau sepertinya hanya hendak menjadi temanku. Namun dari setiap tatap matamu, aku tahu engkau ingin lebih dekat denganku. Engkau ingin mengenalku. Engkau ingin…. Apakah engkau ingin menjadi milikku? Apakah engkau ingin kucinta?

 

Bila begitu adanya, kurasa kini tak cukup hanya menjadi temanmu. Aku mulai mengharapkan yang lebih dari hubungan kita. Itu supaya engkau tahu arti cinta yang sesungguhnya bagiku. Ketahuilah Sayang, aku tak pernah setengah-setengah memberikan cintaku untuk seorang gadis. Walau memang, semua ini telah terlambat. Terlambat. Engkau sudah memiliki seorang kekasih setia-Ludwig von Lonquich, si pemusik buruk rupa itu.

 

Engkau menyayanginya! Oh, ya! Engkau sungguh sayang padanya!

 

Yang dapat kulakukan selama berbulan-bulan hanyalah menunggu. Aku menunggu lelaki itu pergi darimu. Aku menunggu, siapa tahu hatimu akan beralih padaku. Lama-kelamaan aku menjadi hilang kesabaran. Aku tidak menyukai pria yang bersamamu saat ini. Dia sungguh-sungguh menyebalkan. Betapa dia tak pernah terus terang setiap kuajak berbicara. Betapa aku yakin dia rela mengorbankan orang lain untuk harga dirinya sendiri. Pria misterius yang keji.

 

Seseorang yang egois seperti Ludwig, bukanlah dia yang harus menjadi impian cintamu. Seorang berhati dingin itu bukan untukmu, Sayangku.

 

Aku ingin melindungimu dari lelaki itu. Aku ingin memberimu kehangatan yang tak akan pernah engkau dapatkan dari dia. Sejak awal aku tak tahu bagaimana cara Ludwig mencintaimu. Aku juga tak tahu apa yang diinginkannya darimu, dengan memilikimu….

 

Percayalah, Hanna yang manis, hanya aku yang pantas engkau cinta. Hanya aku yang bersungguh-sungguh ingin mencintaimu.

 

Tapi…, bolehkah?

Read Full Post »

Michaela von Leibniz,

31 Desember 1889.

alexei_harlamoff

Natal yang indah sudah berlalu. Hanya tinggal dingin dan beku di akhir tahun, musim dingin di Kota Gent ini. Memang salju tak berhenti turun. Rintik-rintik hujan yang memutih dan menggigil itu terus berhamburan dari langit. Sepanjang hari yang kukerjakan hanya termenung di dalam rumah sambil membuat lukisan-lukisan. Kadang-kadang aku juga tidak menyelesaikannya. Lalu aku akan bersenandung, menyanyi, atau juga menulis. Kalau tidak begitu, aku hanya akan menemani kakakku.

Hanna.

Hanna.

Kini dia berdiri di depan jendela yang tengah terbuka. Pandangannya jauh ke luar. Rambutnya ditiup angin ke sana kemari. Namun ia hanya diam, seakan terlena oleh tarian-tarian debu salju. Aku tahu ia sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya, kalian tak perlu bertanya soal itu. Tentu saja dia memikirkan Ludwig.

Mereka sudah bersama sejak satu…, dua…, tiga…, lebih dari tiga tahun.

Tapi sudah dua bulan ini Ludwig pergi ke Wina untuk memenuhi panggilan keluarga. Aku sendiri tak tahu apa yang benar-benar dikerjakannya di sana. Dan tentu saja, saat itu kakakku telah kehilangan seorang kawan. Seorang kawan saja menjadi sangat berarti baginya. Kakak memang tak punya terlalu banyak teman.

 

Seringkali dia bertanya padaku:

“Kapankah dia akan kembali?”

“Apakah di sana dia merindukanku?”

“Apakah dia ingin selalu bersamaku?”

 

Atau paling-paling dia akan berkata:

“Tak akan lama ia pergi.”

“Tak akan lama waktu kunanti.”

“Tak akan dia melupakanku.”

(Kurasa aku mulai kasihan padanya)

 

Lalu setelah itu kakakku akan mulai menunduk. Hal ini pulalah yang dilakukannya sekarang. Dia segera menutup jendela karena angin semakin dingin. Lalu ia pun duduk di seberangku. Diletakkannya gulungan kertas yang sejak tadi dibawa, sebuah puisi karangan Ferdinand Freiligrath.

Puisi itu menjadi inspirasi Franz Liszt untuk menggubah karyanya yang terkenal, Liebesträume Nr. 3. Juga simfoni itulah yang dimainkan Ludwig di pianonya saat dia dan Kakak menjadi sepasang kekasih.

 

Begini puisinya:

O lieb, so lang du lieben kannst!
O lieb, so lang du lieben magst!
Die Stunde kommt, die Stunde kommt,
Wo du an Gräbern stehst und klagst.
 
Oh cinta, cintailah selama yang engkau mampu!
Oh cinta, cintailah selama yang engkau kehendaki!
Saatnya akan tiba, waktunya akan datang,
ketika engkau akan berdiri berduka di samping pusara.
 
Und sorge, daß dein Herz glüht
Und Liebe hegt und Liebe trägt,
So lang ihm noch ein ander Herz
In Liebe warm entgegenschlägt.
 
Dan biarlah hatimu bersinar,
Dan memupuk dan membawa cinta,
Selama masih ada satu hati itu
Yang hangat tertambat karena cintanya padamu!
 
Und wer dir seine Brust erschließt,
O tu ihm, was du kannst, zu lieb!
Und mach ihm jede Stunde froh,
Und mach ihm keine Stunde trüb.
 
Dan untuk seorang yang menumpangkan dadanya untukmu,
Oh kepadanya, lakukan yang engkau bisa, dengan penuh cinta!
Dan buatlah ia bahagia setiap saat,
Dan jangan pernah sekalipun membuatnya bersedih!
 
Und hüte deine Zunge wohl,
Bald ist ein böses Wort gesagt!
O Gott, es war nicht bös gemeint, –
Der andre aber geht und klagt.
 
Dan tutuplah mulutmu rapat-rapat,
Jangan terluput satu kata pun!
Oh Tuhan, tak seharusnya demikian, –
Tapi yang lain mundur, terluka, dan berkeluh kesah.
 
O lieb, solang du lieben kannst!
O lieb, solang du lieben magst!
Die Stunde kommt, die Stunde kommt,
Wo du an Gräbern stehst und klagst!
 
Oh cinta, cintailah selama yang engkau mampu!
Oh cinta, cintailah selama yang engkau kehendaki!
Saatnya akan tiba, waktunya akan datang,
ketika engkau akan berdiri berduka di samping pusara.
 
Dann kniest du nieder an der Gruft
Und birgst die Augen, trüb und naß,
– Sie sehn den andern nimmermehr –
Ins lange, feuchte Kirchhofsgras.
 
Lalu engkau akan berlutut di samping pusaranya,
Dan matamu sembab dan basah,
– Engkau tak akan melihat dia lagi, –
Di antara rerumputan basah, nan liar, di pekuburan gereja.
 
Und sprichst: O schau auf mich herab,
Der hier an deinem Grabe weint!
Vergib, daß ich gekränkt dich hab!
O Gott, es war nicht bös gemeint!
 
Engkau berkata: Oh lihatlah aku di bawah sini,
Aku yang menangis di pusaramu ini!
Maafkan aku yang telah menghinamu!
Oh Tuhan, tidak seharusnya demikian!
 
Er aber sieht und hört dich nicht,
Kommt nicht, daß du ihn froh umfängst;
Der Mund, der oft dich küßte, spricht
Nie wieder: Ich vergab dir längst!
 
Namun, ia tidak melihat ataupun mendengarmu,
Engkau tak bisa menghiburnya lagi;
Bibir yang telah menciummu kerap berucap
Tidak lagi: lama aku telah memaafkanmu!
 
Er tat’s, vergab dir lange schon,
Doch manche heiße Träne fiel
Um dich und um dein herbes Wort –
Doch still – er ruht, er ist am Ziel!
 
Memang, dia telah memaafkanmu,
Tapi air matanya telah terlanjur deras mengalir,
Atasmu dan setiap kata kasarmu – 
Ah, masih! – ia beristirahat, dia menjadi masa lalu.
 
O lieb, solang du lieben kannst!
O lieb, solang du lieben magst!
Die Stunde kommt, die Stunde kommt,
Wo du an Gräbern stehst und klagst!
 
Oh cinta, cintailah selama yang engkau mampu!
Oh cinta, cintailah selama yang engkau kehendaki!
Saatnya akan tiba, waktunya akan datang,
Ketika engkau akan berdiri berduka di samping pusara.

 

 

 

Indah? Menyedihkan?

Aku tidak tahu. Yang pasti, sekarang kakakku mulai termenung dalam penantiannya. Lalu akhirnya, ia tertidur karena lelah menunggu Ludwig yang tak kunjung tiba.

Mereka-kakakku dan Ludwig-seperti satu jiwa dalam tubuh yang terpisah. Ketika yang seorang memanggil, aku yakin yang lain akan mendengarkannya. Ketika yang seorang merasa pedih, mereka berdua akan sedih bersama-sama. Aku tak mengetahui terlalu banyak hal soal hubungan mereka yang aneh ini. Aku juga tak tahu yang dilihat kakakku dari seorang Ludwig. Menurutku, Ludwig hanya seorang pianis berwajah muram, terlalu sensitif, dan selera humornya tak menyenangkan.

Terlepas dari itu, aku mengerti cintanya yang terlalu dalam untuk Kakak. Cinta yang membuatnya sering tersakiti. Cinta yang mempunyai dua mata pedang yang saling menghujamnya. Cinta yang telah menjadi bara api dalam hati gelapnya. Pun sejak dahulu aku tahu mereka saling tertarik, meski tak kunjung mengatakan cinta. Mereka saling menanti tanpa saling berkata.

Kakakku menyedihkan seperti puisi itu.

Ia akan terus mencintai kekasihnya hingga tak ada cinta lagi yang dapat diberikannya.

Read Full Post »

1980_Hanna-Die-Liebestraume-Diva-Press

Identitas Buku

Judul: Hanna Die Liebesträume

Penulis: Josephine Widya Wijaya

ISBN: 978-602-7665-76-7

Rilis: 2012

Halaman: 414

Penerbit: Diva Press

Bahasa: Indonesia

Sinopsis

Perseteruan dengan sang ayah membuat Hanna von Leibniz memendam kesedihan mendalam dan lara hati. Ayahnya yang adalah seorang jenderal ingin agar anak-anaknya membawa bakat kepemimpinan sebagaimana dirinya. Sang ayah melarang kedua putrinya untuk menjadi seniman. Namun demikian, Hanna diam-diam berkiprah sebagai penyanyi opera.

Selama ayahnya pergi berlayar, Hanna mendapat tugas untuk membantu penyelidikan kasus peredaran morfin di tengah pekerja seni opera. Bersama pianis kekasih hatinya, Ludwig von Lonquich, ia mendatangi Gedung Opera Brussel untuk bertemu seorang saksi.

Hal ini diketahui Alfons van Beecke, pemuda borjuis yang begitu menginginkan Hanna. Alfons tak rela gadis kesayangannya itu bersanding dengan lelaki lain. Berbagai upaya ia lakukan untuk mendapatkan Hanna, termasuk meramu racun mematikan demi membunuh Ludwig. Sementara itu, anak seorang maestro bernama Tamara jatuh cinta pada Ludwig. Ia mengancam akan bunuh diri jika pemuda itu tak mau menjadi kekasihnya.

Mampukah sepasang kekasih ini bertahan dalam segala duka dan mara bahaya? Akankah keduanya sanggup menahan gejolak cemburu untuk mempertahankan cinta mereka?

Kisah ini menuturkan jatuh bangun para borjuis dan aristokrat di akhir abad ke-19, paruh kedua Zaman Romantik. Terinspirasi oleh karya Franz Liszt (1811-1886): Liebesträume (Impian Cinta).

“Bukanlah kasih namanya jika engkau membuatnya menjadi benci padamu. Bukanlah kasih namanya jika engkau membuat hatinya terluka.”

 

Liebesträume (bahasa Jerman untuk Impian Cinta) adalah satu set tiga karya solo piano (S/G541) oleh Franz Liszt yang diterbitkan pada tahun 1850. Awalnya tiga Liebesträume merupakan lagu yang didasari oleh puisi dari Ludwig Uhland dan Ferdinand Freiligrath. Pada tahun 1850, dua versi muncul secara bersamaan sebagai satu set lagu untuk sopran dan piano, serta sebagai transkripsi untuk piano dua tangan.

Dua puisi oleh Uhland dan satu oleh Freiligrath menggambarkan tiga bentuk cinta yang berbeda. Karya Uhland Hohe Liebe (cinta surgawi) adalah cinta suci: sang martir meninggalkan cinta duniawi dan pintu surga dibukakan untuknya. Lagu kedua Seliger Tod (kematian yang terberkati) sering dikenal dari baris pertamanya (‘Gestorben ich war’, ‘aku mati’), melambangkan cinta eros. ‘Mati’ adalah sebuah metafora yang mengacu pada hal yang dikenal sebagai ‘la petite mort’ dalam bahasa Prancis (‘aku sudah mati untuk kebahagiaan cinta, terkubur dalam pelukannya, terbangun oleh ciumannya, aku melihat surga di matanya’). Puisi Freiligrath untuk Nocturne ketiga yang terkenal melambangkan cinta tanpa syarat (‘Cintailah selama kau mampu!’, ‘O lieb, solang du lieben kannst‘).

 

Galeri

Hanna von Leibniz

(Lukisan oleh Barend Cornelis, http://www.artrenewal.org/)

portrait_of_a_young_lady-barend_cornelis

Tautan:
Musim Gugur,
https://josephinewidya.wordpress.com/2014/01/26/die-liebestraume-musim-gugur/

 

Ludwig von Lonquich

(Leo Ornstein, lukisan oleh Leon Kroll; http://www.wikimedia.org)

 

leo_ornstein_at_the_piano_color_by_leon_kroll

Tautan:

Dari Kota Wina,

https://josephinewidya.wordpress.com/2014/01/10/die-liebestraume-dari-kota-wina/

Michaela von Leibniz

(Alexei Alexeievich Harlamoff, http://rceliamendonca.wordpress.com/)

alexei_harlamoff

Tautan:

Catatan Michaela,

https://josephinewidya.wordpress.com/2014/01/08/die-liebestraume-catatan-michaela/

Alfons van Beecke

(Franz Liszt, http://www.lucernefestival.ch)

NL_Liszt

Tautan:
Surat kepada Hanna,
https://josephinewidya.wordpress.com/2014/01/10/die-liebestraume-surat-kepada-hanna/

***

Vlaamse Opera, Gent, Belgia (1888)

(http://www.vlaamseopera.be)

03_gent_gebouw_oud_07

Brussels, Belgia (1888)

(http://www.imageshack.us)

anciennegaredunordbruxerj6

La Monnaie, Brussels, Belgia (1888)

(http://www.farm1.static.flickr.com)

Brussels_La_Monnaie

***

Terima kasih istimewa untuk:

Franz Liszt (1811-1886)

Nocturne: Liebesträume Nr. 3

Jeanne d’Arc (1412-1431)

Frédéric Chopin (1810-1849)

Johanna Maria Lind (1820-1887)

O Lieb, so lang du lieben kannst….
Cintailah selama engkau masih dapat mencinta….

ludwig-und-hanna

Read Full Post »