Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Katolik’ Category

JezuUfamTobie

Koronka berasal dari bahasa Polandia, artinya mahkota kecil atau untaian manik-manik indah yang kita hadiahkan kepada orang yang kita kasihi secara istimewa. Pada tahun 1935, Santa Faustina mendapat suatu penglihatan akan seorang malaikat yang diutus Tuhan untuk melaksanakan murka Allah atas dunia. Santa Faustina mulai berdoa mohon belas kasihan Tuhan, namun doanya tanpa kuasa di hadapan murka ilahi. Sekonyong-konyong ia melihat Tritunggal Mahakudus dan merasakan kuasa rahmat Yesus melingkupinya. Pada saat yang sama ia mendapati dirinya memohon dengan sangat belas kasih Tuhan dengan kata-kata yang ia dengar dalam batinnya. Sementara ia terus-menerus memanjatkan doa yang diinspirasikan kepadanya, malaikat pelaksana murka ilahi menjadi tak berdaya dan tak kuasa melaksanakan hukuman yang memang sudah sepantasnya. Keesokan harinya, sementara Santa Faustina memasuki kapel, lagi ia mendengar suara dalam batinnya, “Setiap kali engkau masuk ke dalam kapel, ucapkanlah segera doa yang kemarin Ku-ajarkan kepadamu.”

Selanjutnya Yesus mengajarkan Koronka (= Rosario) Kerahiman Ilahi kepada Santa Faustina:

“Doa ini dimaksudkan sebagai sarana untuk memadamkan murka-Ku. Hendaknya engkau mendaraskannya selama sembilan hari pada rosario biasa dengan cara ini: Pertama-tama hendaknya engkau mengucapkan satu Bapa Kami, satu Salam Maria dan satu Aku Percaya, kemudian,

pada manik-manik “Bapa kami” hendaknya engkau berdoa:
`Bapa yang kekal,
kupersembahkan kepada-Mu
Tubuh dan Darah
Jiwa dan Ke-Allah-an
Putra-Mu yang terkasih,
Tuhan kami Yesus Kristus,
sebagai pemulihan dosa-dosa kami
dan dosa seluruh dunia.’

pada manik-manik “Salam Maria” hendaknya engkau berdoa:
`Demi sengsara Yesus yang pedih,
tunjukkanlah belas kasih-Mu
kepada kami dan seluruh dunia’

Sebagai penutup hendaknya engkau mendaraskan tiga kali doa berikut:
`Allah yang Kudus,
Kudus dan berkuasa,
Kudus dan kekal,
kasihanilah kami
dan seluruh dunia’ (474-476).”

Dalam penampakan-penampakan selanjutnya, Yesus menjelaskan bahwa Koronka ini tidak hanya diperuntukkan baginya, melainkan bagi seluruh dunia.

“Doronglah jiwa-jiwa untuk mendaraskan Koronka yang telah Aku berikan kepadamu (1541)…. Barangsiapa mendaraskannya akan menerima rahmat berlimpah di saat ajal (67)…. Apabila koronka ini didaraskan di hadapan seorang yang di ambang ajal, Aku akan berdiri di antara Bapa-Ku dengan dia, bukan sebagai Hakim yang adil, melainkan sebagai Juruselamat yang Penuh Belas Kasih (1541)…. Para imam akan menganjurkannya kepada para pendosa sebagai harapan keselamatan mereka yang terakhir. Bahkan andai ada seorang pendosa yang paling keras hati sekalipun, jika ia mendaraskan koronka ini sekali saja, ia akan menerima rahmat dari belas kasih-Ku yang tak terhingga (687)…. Aku hendak menganugerahkan rahmat-rahmat yang tak terbayangkan kepada jiwa-jiwa yang percaya kepada kerahiman-Ku (687)…. Melalui Koronka ini, engkau akan mendapatkan segala sesuatu, jika yang engkau minta itu sesuai dengan kehendak-Ku (1731).”

Koronka Kerahiman Ilahi adalah doa permohonan yang merupakan kelanjutan dari Kurban Ekaristi, jadi teristimewa tepat jika didaraskan setelah kita ikut ambil bagian dalam Misa Kudus. Koronka dapat didaraskan kapan saja, tetapi Tuhan kita secara khusus mengatakan kepada Santa Faustina untuk mendaraskannya selama sembilan hari berturut-turut menjelang Pesta Kerahiman Ilahi yang jatuh pada hari Minggu pertama sesudah Paskah (yaitu Minggu Paskah II). “Dengan Novena [Koronka Kerahiman Ilahi], Aku akan menganugerahkan segala rahmat yang mungkin bagi jiwa-jiwa (796).”

Tepat juga mendaraskan Koronka pada “Jam Kerahiman Ilahi” – setiap jam tiga siang, guna mengenangkan wafat Kristus di salib.

Sumber: 1. “The Divine Mercy Message and Devotion” by Fr Seraphim Michalenko, MIC and Vinny Flynn; published by the Archdiocesan Divine Mercy Devotion, Singapore; 2. Marians of the Immaculate Conception; http://www.marian.org/divinemercy; 3.The Divine Mercy; http://www.thedivinemercy.org; 4. “Yesus Engkaulah Andalanku – Devosi kepada Kerahiman Ilahi” oleh Stefan Leks; penerbit Kanisius 1993; 5. “Rasul Kerahiman Ilahi – Devosi kepada Kerahiman Ilahi” oleh P. Ceslaus Osiecki, SVD, “Kemah Tabor”, Pos Mataloko 86461 – Flores; 6. tambahan dari berbagai sumber

Disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya

Yesus Kau Andalanku

Read Full Post »

Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia. – Mrk 1:17

Bacaan Injil

Markus 1:14-20

Yesus tampil di Galilea

1:14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, 1:15 kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Yesus memanggil murid-murid yang pertama

1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 1:17 Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” 1:18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 1:19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. 1:20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Renungan

Salah seorang sahabat saya adalah seorang full-timer. Ia lahir dari keluarga yang sangat religius. Orang tuanya aktif pelayanan dan saling mengingatkan untuk selalu berdoa dan ke gereja. Kakak dan adiknya semuanya menjadi full-timer. Jujur, saya merasa minder dan iri melihatnya.

Saya pernah mengatakan padanya, “Ah, kamu sih enak karena selalu didukung. Lah, kalau saya harus menanggung biaya orang tua dan lainnya. Rasanya terlalu berat kalau menjadi full-timer.” Mendengar itu, ia tertawa terbahak-bahak. Ia katakan bahwa setiap orang dipanggil untuk tugasnya masing-masing. Orang tuanya bekerja untuk biaya hidup, sekaligus biaya pelayanan anak-anaknya. Ibarat mobil, anak-anak mereka adalah mobil yang bergerak, dan bensinnya dari orang tua. Orang yang bukan full-timer memiliki tugas yang sama pentingnya dengan yang full-timer. Kalau semua jadi full-timer, siapa yang men-support?

Yesus memilih dan memanggil kedua belas murid untuk membantunya melaksanakan misinya di dunia. Kedua belas orang ini sebelumnya telah memiliki pekerjaan masing-masing. Ada kalanya panggilan Tuhan membuat kita “banting setir” dari profesi sebelumnya, seperti dari pemungut cukai menjadi murid-Nya. Namun ada pula panggilan Tuhan yang membuat kita tetap pada pekerjaan sekarang, hanya saja tujuannya menjadi lebih besar. Full-timer atau bukan, semua upahnya sama. Masing-masing satu dinar di mata Tuhan. (Ch)

Apa misi Tuhan dalam pekerjaan saya?

Sumber:

Renungan Harian Bahasa Kasih

12 Januari 2015

Read Full Post »

Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus. Mrk 1:8

Bacaan Injil

Markus 1:7-11

1:7  Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.  1:8  Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” 1:9  Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. 1:10  Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. 1:11  Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Renungan

Pembaptisan adalah hal yang sangat penting. Karena saat dibaptis, selain kita menjadi warga kerajaan Allah yang berarti kita memiliki hak sebagai anak Bapa untuk pengampunan dosa dan janji-janji-Nya, kita juga menerima Roh Kudus dalam hidup kita.

Banyak orang bertanya mengapa Yesus sebagai Anak Allah masih perlu dibaptis. Jawabannya, Yesus itu 100% Allah dan 100% manusia. Sebagai manusia, Ia perlu mengalami pembaptisan. Kisah pembaptisan inilah yang meneguhkan bahwa pembaptisan adalah sebuah bagian dalam kekristenan yang sangat penting artinya.

Kisah pembaptisan dan turunnya Roh Kudus juga mencatat betapa pentingnya peran Roh Kudus dalam kehidupan dan pelayanan umat Allah. Yesus belum memulai pelayanan apa pun sebelum Ia dibaptis. Sampai ketika Ia telah dibaptis, Yesus baru memulai pelayanan yang diberikan Bapa kepada-Nya.

Sebelum saya mengalami hidup yang baru, bisa dikatakan hidup kekristenan saya hanyalah sebatas ke gereja setiap hari Minggu. Tidak ada yang saya pikirkan dan lakukan selain itu. Kitab Suci tidak lebih menjadi jimat di pinggir ranjang saya yang membuat saya sedikit tenang saat tidur malam.

Namun saat mengalami hidup yang baru, saya baru menyadari bahwa saya punya Roh Kudus yang tinggal dalam diri saya. Saya berdoa dan membiarkan Roh Kudus memimpin hidup saya dan saat itulah saya diubahkan. Hidup saya berubah secara radikal. Dosa tidak lagi menjerat, hidup menjadi penuh sukacita dan damai sejahtera. Dulunya berdoa hanya sebatas mau makan dan tidur, sekarang menjadi suatu kebutuhan. Tanpa diduga, kerinduan untuk melayani Tuhan menjadi begitu besar dan menggebu-gebu. Alleluya. (Al)

Apa yang saya alami ketika dibaptis atau mengalami hidup yang baru?

Sumber: Renungan Harian Bahasa Kasih

11 Januari 2015 

Read Full Post »

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. – Yoh 3:30

Bacaan Injil

Yohanes 3:22-30

Kesaksian Yohanes tentang Yesus

3:22 Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. 3:23 Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, 3:24 sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. 3:25 Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. 3:26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” 3:27 Jawab Yohanes: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. 3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. 3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. 3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Renungan

Yohanes Pembaptis telah dipenuhi Roh Kudus sejak dalam kandungan ibunya dan telah dipersiapkan untuk berjalan mendahului Tuhan dan mempersiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.

Dalam perjalanannya mempersiapkan jalan bagi Tuhan, ia selalu menunjuk pada Yesus yang dilayaninya. Pada saat ia bersama muridnya melihat Yesus, ia mengatakan pada muridnya “Lihatlah Anak Domba Allah”, dan kedua murid yang mendengar itu pergi mengikuti Yesus. Bagi Yohanes, tak ada rasa tersaingi, cemburu, atau niat untuk menghalangi.

Yohanes juga terkenal sebagai pribadi yang berani dan tegas. Ia tidak kompromi dan selalu lurus jalannya. Dengan misi yang dibawa sejak masih dalam rahim ibunya, ia tumbuh dan bekerja sesuai misi tersebut. Ia teguh berjalan dalam roh memenuhi misi yang diembannya. Apa pun tantangan yang menghadang, dihadapinya dengan berani. Hingga akhir dalam menjalankan misinya ia harus dipenggal, ia tetap tidak goyah. Dengan semboyan “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”, Yohanes menyelesaikan misinya.

Apakah kita menjalankan misi yang Tuhan berikan bagi kita? Apakah kita melakukannya dengan teguh dan dengan semboyan seperti Yohanes, bahwa Tuhan harus semakin besar dan kita semakin kecil?

Marilah kita renungkan apa sebenarnya misi kita di dunia ini. Misi khusus yang Tuhan berikan sejak kita masih dalam rahim ibu kita. (Ev)

Apa yang menjadi prinsip atau motivasi saya dalam melayani?

Sumber: Renungan Harian Bahasa Kasih

10 Januari 2015 

Read Full Post »

Lirik Lagu Rohani: Bayu Senja

Sailing

 

Bait:

1. Hidup bagai biduk, di laut lepas
    Aku pelaut tunggal, siap melaju

2. Arus gelombang tantang, biduk tak daya
    Hati merayu Tuhan, nada dan cemas

3. Malam kabut nan pekat, bintang pun lenyap
     Setia kunanti Dikau, wujud tak nampak

 

Refrain:
O bayu senja, hembusan Sang Ilahi
Bawa bidukku ke tepian cerah,
pantai umat tebusan

Read Full Post »

Dibacakan pada Misa Minggu Biasa VI, 14/15 Februari 2015

Saudara-Saudari terkasih,
Kita akan memasuki masa Prapaskah yang dimulai pada hari Rabu Abu, 18 Februari 2015. Setiap tahun dahi kita ditandai salib dengan abu sebagai simbol hati dan budi yang mau bertobat dengan cara bermati raga untuk mengolah diri dan beramal bakti bagi sesama seraya mendekatkan diri pada Allah.

Seruan yang menyertai tanda salib pada dahi adalah:

”Bertobatlah dan percayalah pada Injil!” Bertobat berarti menyelaraskan hati dan budi kita dengan apa yang Allah kehendaki sehingga seluruh energi dan materi yang kita miliki dikembangkan dan dimanfaatkan demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia. Percaya pada Injil berarti meyakini dan mengamini warta Injil yang menyerukan ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat.” (Mrk 1: 15) Seruan pertobatan dan ajakan untuk mewujudnyatakan Kerajaan Allah bukanlah sekedar refren yang diulang-ulang, tetapi merupakan komitmen setiap murid Kristus. Mewujud-nyatakan Kerajaan Allah berarti menciptakan transformasi kehidupan, yaitu perubahan konkret entah di bidang material, sosial, mental maupun spiritual yang buahnya dirasakan baik secara personal maupun komunal.

Pertobatan kita ini perlu ditempatkan dalam konteks perubahan tersebut. Saat ini banyak orang mengalami masalah dengan berbagai kesusahan yang tak kunjung selesai. Kita menjumpai orang sulit, seakan tak akan pernah berubah. Kita bertemu orang sakit berkepanjangan, seolah tak akan sembuh. Kita melihat orang yang berkubang dalam kelemahan dan bergelimang dosa, sepertinya tak akan bertobat. Semua kesusahan, penyakit, dan dosa sesungguhnya dapat diatasi. Akan tetapi, sejauh manakah orang yang bermasalah (”sakit”) mau sembuh dan sungguh berusaha untuk sembuh. Banyak orang yang bermasalah hanya duduk diam tanpa asa dan menanti tanpa usaha seraya berteriak:

”Percuma! Saya tak mungkin sembuh!”

Dalam Injil hari ini, kita diingatkan bahwa awal dari perubahan positif adalah kemauan yang didukung oleh iman. Pertama, orang yang sakit kusta harus mempunyai keinginan untuk sembuh. Ia mencari siapa yang dapat menyembuhkannya sampai ia bertemu dengan Yesus. Kedua, ia percaya bahwa selain mempunyai kuasa penyembuhan, Yesus juga akan menerimanya. Orang tersebut harus memiliki pikiran positif dan harapan kuat. Ketiga, ia sungguh beriman bahwa Yesus adalah utusan Allah yang menjadikan segalanya baik. Ia yakin bahwa penyakitnya sekalipun menahun dapat disembuhkan. Keempat, ia terbuka dengan rendah hati; tak mau memaksakan kehendak diri apalagi mendikte Yesus. Ia berserah diri pada kehendak Tuhan. Maunya sembuh, tetapi Tuhan tahu yang terbaik. Maka, orang kusta itu datang kepada Yesus dengan terbuka penuh harapan: ”Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.” Melihat iman yang demikian besar itu, Yesus menjawab: ”Aku mau, jadilah sembuh!” Kesembuhan terjadi karena si sakit mau pulih dan Tuhan menghendakinya. Iman seperti ini mengingatkan kita akan iman Maria yang berseru kepada malaikat: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataaan-Mu itu.” Kepasrahan semacam ini menghantar kita pada doa Yesus di taman Getsemani: ”Janganlah seperti yang Kuhendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Akhirnya, semua ini membawa kita pada doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus sendiri: ”Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di dalam Surga.”

Perubahan positif, yaitu kepulihan dari segala ketidak-beresan sepantasnya merupakan bagian dari usaha tobat kita yang pada tahun ini mengambil tema ”Menjadi Manusia Ber-APP.” Manusia ber-Aksi-Puasa-Pembangunan adalah pribadi yang hati dan budi serta energi dan materinya tertuju pada pembangunan umat dan masyarakat. Ungkapan tobat ditempatkan dalam upaya mengembangkan umat dan menyejahterakan masyarakat. Kita diundang untuk terlibat dalam kehidupan dan perjuangan masyarakat; bagaimana kita makin menyejahterakan orang-orang di sekitar kita. Keberhasilan pertobatan kita juga diukur dari sejauh manakah Gereja makin mengumat dan memasyarakat.

Kita makin mengumat kalau hidup kita sehati dan sejiwa bertekun dalam hidup persaudaraan, pewartaan, perayaan (liturgi), dan pelayanan dengan semangat berkorban. Kita makin memasyarakat kalau kita menjadi bagian dari masyarakat dengan cara aktif terlibat dalam kegiatan dan kehidupan masyarakat. Semoga berkat kehadiran Gereja yang sehati sejiwa, masyarakat sekitar mengalami perubahan positif: pangan, sandang, dan papannya makin baik; kehidupan mentalnya makin dewasa, sikapnya makin toleran dan solider; hidup keagamaannya makin takwa dan imannya makin teguh.

Sri Paus Fransiskus menekankan mutlaknya dimensi sosial dari pewartaan Injil dan dimensi komunal dari hidup spiritual. ”Iman sejati -yang tak pernah nyaman atau sepenuhnya individual selalu melibatkan hasrat mendalam untuk mengubah dunia …. Seluruh umat Kristiani, termasuk para pastor mereka, dipanggil untuk menunjukkan kepedulian membangun dunia yang lebih baik” (Evangelii Gaudium 183). Sri Paus menambahkan bahwa: ”Iman kita akan Yesus Kristus, yang menjadi miskin, dan selalu dekat dengan kaum miskin dan kaum tersingkir, adalah dasar kepedulian kita pada pengembangan seutuhnya para anggota masyarakat yang paling terabaikan.” (186) Di situlah orang yang bertobat dan percaya pada Yesus Kristus ditantang untuk secara konkret peduli dan terlibat dalam pengembangan masyarakat.

Marilah kita menjadi manusia ber-APP dengan penuh sukacita, bukan hanya melalui pantang dan puasa material (makanan dan minuman), tetapi juga secara spiritual dengan bermatiraga untuk memperbaiki diri, berdoa untuk makin dekat dengan Yang Ilahi, dan beramal untuk mengabdi sesama terutama yang membutuhkan. Semoga pantang dan puasa kita merupakan usaha untuk sehati sejiwa bersama umat terlibat dalam masyarakat. Dengan demikian, laku tobat kita pada masa Prapaskah ini membawa perubahan positif; bukan hanya diri sendiri yang disentuh dan disembuhkan, tetapi juga sesama dijamah dan diutuhkan. ”Tuhan, kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku! Jadikanlah aku manusia ber-APP!”

                   Bandung, 10 Februari 2015
                        Ut diligatis invicem

                                       
               
             Antonius Subianto Bunjamin OSC

Read Full Post »

Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. – Luk 5:16

Bacaan Injil

Lukas 5:12-16

Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta

5:12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” 5:13 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. 5:14 Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” 5:15 Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. 5:16 Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

Renungan

Ketika saya sedang mempersiapkan renungan ini, saya mendengar anak saya yang kecil dengan lantang menyerukan bahwa ia sedang membantu kakaknya mencari barangnya yang hilang. Karena sedang berkonsentrasi, saya pun tidak menghiraukannya. Saya tahu ia mengatakannya berulang-ulang dengan harapan mendapat pujian dari saya. Ketika saya sama sekali tak berkomentar, akhirnya ia pun menghampiri saya dan mengatakannya sekali lagi kepada saya. Karena tak ingin membuatnya kecewa, saya pun memberikan sedikit pujian bahwa apa yang dilakukannya baik.

Seringkali kita sebagai orang dewasa pun melakukan hal sama seperti yang dilakukan anak-anak. Ketika kita melakukan sesuatu, kita mengharapkan pujian atau tepukan tangan dari orang lain. Kita berharap orang lain memperhatikan diri dan perbuatan kita. Kita bahkan terkadang menunggu respons orang lain yang seolah bisa membuat kita lebih membusungkan dada lagi.

Mungkin … ketika hal ini terjadi pada diri kita, saatnya bagi kita untuk mengambil langkah mundur dan melihat motivasi kita. Apakah kita melakukannya untuk kemuliaan Tuhan, ataukah kita mulai lalai dan mencari kemuliaan untuk diri sendiri? Dalam Injil diceritakan bahwa Yesus sendiri, setelah melakukan mukjizat penyembuhan, Ia malah mengundurkan diri ke tempat sunyi dan berdoa. Jika Yesus yang adalah Tuhan, yang memang mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai mukjizat tidak mencari popularitas bagi diri-Nya sendiri, lalu siapakah kita yang ingin membanggakan diri karena melakukan suatu hal yang kecil bagi Tuhan? Lupakah kita kalau tanpa Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa? (Jc)

Apakah saya masih sering mencari popularitas diri dalam melakukan sesuatu?

Sumber: Renungan Harian Bahasa Kasih

9 Januari 2015

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »