Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Klasik’ Category

MI0003736580felix-mendelssohn

FELIX MENDELSSOHN

(1809-1847)

 

 

Felix Mendelssohn lahir di Hamburg pada tanggal 3 Februari 1809. Ia adalah putra dari Leah Salomon dan Abraham Mendelssohn, seorang bankir yang kaya raya. Ia juga adalah seorang cucu dari rabi Yahudi dan filsuf Moses Mendelssohn. Terlahir dalam keluarga kaya raya dan intelektual tentu memiliki kelebihan baginya. Hal tersebut menyediakan lingkungan budaya yang ideal untuk Felix muda yang artistik dan cepat belajar. Untuk mendapatkan pendidikan yang baik, Felix dan keluarganya pun berkeliling Eropa.

Sementara Moses Mendelssohn mengecam orang Yahudi Jerman yang berpindah keyakinan menjadi seorang kristiani (dengan harapan bahwa mereka akan mendapatkan penerimaan sosial), hal ini tidak menghentikan orang tua Felix Mendelssohn untuk membaptis empat anak mereka, Fanny, Rebekah, Felix, dan Paul, di Gereja Lutheran. Ayah dan ibu Mendelssohn pun akhirnya juga berpindah keyakinan menjadi seorang Lutheran pada tahun 1816, ketika mereka berpindah dari Prancis ke Hamburg dan Berlin. Mereka juga menambahkan Bartholdy sebagai nama keluarga. Namun anehnya, Felix menolak perubahan nama tersebut. Ia tetap menggunakan Mendelssohn sebagai nama belakang.

Perpindahan mereka ke Berlin terbukti bermanfaat bagi Felix muda. Di sana ia mendapatkan pelajaran piano di bawah bimbingan Ludwig Berger dan mendalami komposisi bersama Karl F. Zelter. Sebelumnya, ia sendiri sudah mendapatkan pengajaran dari Fanny, kakak perempuannya. Mengunjungi teman-teman dari keluarga mereka di sana juga memberikan pengaruh positif untuk anak-anak keluarga Mendelssohn. Memang hampir setiap dari mereka adalah seorang intelekual yang terlibat dalam kegiatan seni dan kegiatan kultural lainnya. Sejak masih muda, Felix Mendelssohn telah menunjukkan bakat sejati yang luar biasa di bidang musik. Ia mampu memainkan piano dan biola, melukis, dan berbakat pula dalam bahasa.

Felix melakukan perjalanan ke Paris untuk mempelajari karya-karya Wolfgang Amadeus Mozart dan Johann Sebastian Bach bersama Fanny saudarinya. Ia benar-benar terinspirasi oleh para maestro, terutama Bach. Ia menggubah sebelas simfoni, lima opera, dan banyak karya lainnya untuk piano. Ini barulah permulaan untuk sang jenius muda yang mengesankan bagi para pendengar dan seniman sejawatnya lewat bakat yang luar biasa.

Pada tahun 1821, Zelter membawa muridnya yang baru berusia 12 tahun ini untuk mengunjungi penyair Jerman, Johann Wolfgang von Goethe. Kunjungan ini merupakan hal yang paling penting untuk Mendelssohn muda. Ia tinggal di rumah penulis yang telah berumur 72 tahun itu selama lebih dari dua minggu. Goethe terpesona oleh pemuda yang berbakat ini. Keduanya kemudian saling berkorespondensi melalui serangkaian surat. Beberapa saat kemudian ketika Goethe mendengar kuartet piano B minor karya Mendelssohn. Ia memberikan apresiasi yang begitu besar karena karya tersebut didedikasikan untuknya.

Ketika Felix Mendelssohn berusia 16 tahun, ia menulis oktet untuk alat musik gesek dalam skala E flat mayor, Op. 20. Karya tersebut bukan hanya impresif karena usia komponisnya, tetapi juga karena karya tersebut menjadi yang pertama dari karya-karya sejenisnya. Karya Mendelssohn menampilkan sebuah interaksi cerdik antara dua kuartet gesek yang berbeda. Satu kuartet gesek terdiri dari dua buah biola, satu biola alto, dan sebuah selo.

Selain dari karya-karya sastra Goethe, Mendelssohn juga menemukan inspirasi dari karya dramawan Inggris, William Shakespeare. Pada usia tujuh belas tahun, ia menggubah musik pembukaan (overture) untuk “A Midsummer Night’s Dream Opus 21”. Hal ini berdasarkan permainan komedi dari Bard. Karya tersebut menampilkan orkestrasi luhur dan dianggap sebagai salah satu karya paling indah dari periode Romantik dalam musik klasik.

Dari tahun 1826 hingga 1829, Mendelssohn menempuh pendidikan di Universitas Berlin. Saat itulah ia memutuskan untuk memilih musik sebagai profesinya.

Selama tahun-tahun berikutnya, Mendelssohn melakukan berbagai perjalanan dan tampil membawakan pertunjukan di seluruh Eropa. Dia mengunjungi Inggris, Skotlandia, Italia, dan Prancis. Pada tahun 1832, Mendelssohn mempertunjukkan karyanya yang megah “Overture Hebrides” serta karya-karya penting lainnya di London. London merupakan sebuah kota yang sangat dinikmatinya untuk memberikan pertunjukan.

Pada tahun 1833, ia mendapatkan jabatan konduktor di Düsseldorf. Di sanalah ia memberikan pertunjukan konser, antara lain oratorio gubahan Handel yang berjudul “Messiah”. Pada tahun yang sama, ia menulis banyak karya vokal sendiri, termasuk Lord, Have Mercy Upon Us (Tuhan, Kasihanilah Kami), opera Trala. A frischer Bua bin i, serta Italian Symphony (Simfoni Italia).

Pada usia 26 tahun, Mendelssohn pindah ke Leipzig dan menjadi konduktor dari Leipzig Gewandhaus Orchestra. Ia memainkan karya-karya Bach dan Beethoven. Pada masa itu, hanya ada sedikit minat terhadap musik Bach. Akan tetapi, Mendelssohn mengubah semua itu. Ia menggunakan popularitasnya sendiri, empat ratus penyanyi dan solois dari Singakademie, untuk memperbaharui minat terhadap karya komposer besar itu. Sebelumnya pada tahun 1829, Mendelssohn telah melakukan debutnya sebagai maestro. Dialah yang pertama kali memainkan “St. Matthew Passion” karya Bach sejak sang komposer meninggal dunia pada tahun 1750. Lalu yang perlu dicermati juga, pertunjukan itu dilakukannya genap 100 tahun sejak pertunjukan perdana yang dilaksanakan oleh Bach sendiri.

Pada tahun 1832, Mendelssohn menikahi Cécile Jeanrenaud, putri seorang pendeta Protestan. Hidup pernikahan mereka sungguh bahagia. Mereka dikaruniai lima anak, Carl, Marie, Paul, Felix, dan Lilli. Selama tahun-tahun berikutnya, Mendelssohn sangat produktif. Ia berhasil mempertunjukkan banyak komposisinya dengan sukses. Ia pun juga berhasil dalam mempertunjukkan karya-karya para komponis besar lainnya. Mendelssohn menggubah beberapa karya untuk piano, yang saat itu memang sangat populer. Selain itu, ia juga menulis untuk berbagai kombinasi alat musik dan nyanyian.

Pada tahun 1842, Mendelssohn mempertunjukkan konser pribadinya untuk Pangeran Albert dan Ratu Victoria. Keduanya adalah pendukung kuat karya Mendelssohn. Setahun kemudian, Mendelssohn mendirikan dan memimpin Konservatori Leipzig. Di sana ia juga mengajar saat jadwalnya yang padat memberinya sedikit waktu luang. Meskipun ia seorang individualis yang bahagia dan menyenangkan, Mendelssohn kadang-kadang terlalu perfeksionis terhadap murid-muridnya. Hal ini mungkin karena ia begitu bergairah tentang musik. Ia mengalami waktu-waktu yang sulit untuk mendengarkan kesalahan pemula muridnya. Namun demikian, Konservatori Leipzig tetaplah salah satu lembaga musik yang paling bergengsi di Jerman selama setengah abad.

Selain jabatannya di konservatori, Mendelssohn juga adalah seorang direktur Bagian Musik dari Akademi Kesenian di Berlin. Ia dipilih oleh Raja Frederik dari Prusia untuk jabatan tersebut. Akan tetapi, tanggung jawab ini tak sepenuhnya menyenangkan untuk Mendelssohn. Ia kurang suka bila harus mengerjakan sebuah komposisi atas permintaan seseorang. Dia hanya memiliki sedikit waktu tersisa untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri. Syukurlah ia masih dapat membagi waktu untuk menulis karya hebat seperti overture Ruy Blas. Ia juga sempat menggubah musik panggung untuk drama Shakespeare, A Midsummer Night’s Dream. Melodi Wedding March yang sungguh terkenal sekarang ini hanyalah salah satu bagian saja dari karya tersebut. Selain itu, ia juga menggubah The Scottish Symphony (Simfoni Skotlandia), karya ketiga dari lima simfoni yang ditulis selama hidupnya.

Felix Mendelssohn sangat dekat dengan keluarganya. Dari kakak perempuannya Fanny hingga ayahnya, istri, dan anak-anaknya. Ia sungguh menghargai saat-saat ia bisa menghabiskan waktu bersama mereka. Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1835, Mendelssohn merasa telah kehilangan sahabat terbaiknya. Tujuh tahun kemudian ibunya pun meninggal. Ini menambah tragedi dalam kehidupan Mendelssohn. Namun, yang terburuk belum datang.

Setelah reuni keluarga untuk merayakan Natal, Fanny saudarinya terserang stroke saat sedang berlatih untuk konser hari Minggu. Saudarinya itu akhirnya meninggal pada tanggal 14 Mei 1847. Felix Mendelssohn sendiri dikabarkan menjerit dan pingsan setelah mendengar berita duka tersebut. Ia hancur oleh rasa kehilangan. Tak dapat dimungkiri lagi, suasana hati Mendelssohn tak pernah membaik setelah kepergian Fanny. Ia sendiri pun akhirnya mengalami stroke sebanyak dua kali. Serangan yang kedua telah mengantarkannya pada kematian pada tanggal 4 November 1847. Dia berumur 38 tahun saat itu. Jasadnya dimakamkan di samping kakaknya di pemakaman Gereja Salib Suci di Berlin.

Sementara sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam kebahagiaan, tahun-tahun terakhir dalam kehidupan Mendelssohn diwarnai oleh kesedihan dan tragedi. Namun, hal ini tidak menghalangi dia untuk menulis dan menggubah komposisi. Meskipun dihadapkan pada segala kesulitan dan jadwal yang begitu sibuk, ia tetap berusaha untuk memelihara inspirasi dan kualitas karya yang sama. Beberapa kritikus mungkin berpendapat bahwa ia dapat menjadi seorang Bach atau Mozart yang lain bila ia menderita lebih banyak lagi dalam hidup. Sebuah istilah Prancis menyatakan bahwa seniman yang paling terpuruk dan menderita adalah seniman yang terbesar. Bagaimana pun tetap menarik untuk dicatat bahwa bahkan setelah kematiannya, ada insiden yang lebih tragis yang merusak reputasi Mendelssohn. Hampir seratus tahun setelah kematiannya, Nazi mencoba untuk mendiskreditkan dia. Mereka mencoba menurunkan patung Mendelssohn di Leipzig. Mereka juga sempat melarang studi dan pertunjukan musik Mendelssohn.

Tentu saja, tidak ada upaya mereka yang benar-benar berhasil untuk membungkam suara sang jenius. Mendelssohn kini diakui setara dengan Wolfgang Amadeus Mozart di abad ke-18. Banyak kritikus setuju bahwa kontribusi yang paling menonjol dari Mendelssohn adalah untuk genre musik organ dan paduan suara. Ini dimungkinkan dari kekagumannya yang mendalam terhadap Bach dan Handel. Mendelssohn tetaplah seorang komposer paling sukses pada masanya. Namun yang lebih penting lagi, orang yang sungguh berbakat seperti Mendelssohn ini sudah tentu layak disandingkan bersama komponis besar lainnya seperti Mozart, Bach, dan Beethoven.

Saya sendiri lebih menyukai musik Mendelssohn daripada musik Mozart. Musik Mendelssohn sebenarnya juga beraliran Klasik karena keteraturan dan rasa sensitifnya. Namun daripada terus berkutat untuk membandingkan keduanya, lebih baik kita menyadari fakta bahwa mereka berdua sama-sama begitu berbakat di usia muda. Itu semestinya sudah cukup memesona dan menginspirasi kita. Namun tentu saja, bakat saja tidak sebanding dengan kesuksesan. Ada banyak sekali hal yang membuat mereka menjadi seorang virtuoso. Nicole Bianchi telah menjabarkannya dengan sangat baik dalam tulisannya yang berjudul How to Become a Virtuoso: 5 Lessons from the Life of Child Prodigy Felix Mendelssohn:

 

  1. Carilah Impian Anda dan Kejarlah

 

Mendelssohn dan Mozart menemukan impian dan bakat mereka untuk musik ketika mereka berdua masih sangat muda. Mendelssohn mulai mengambil pelajaran piano saat berusia enam tahun. Orang tuanya memastikan bahwa Mendelssohn dan Fanny saudarinya (yang juga seorang anak berbakat) mendapatkan seorang guru terbaik untuk mengembangkan bakat musik mereka. Orang tua Mendelssohn tahu bahwa tanpa seorang guru pun mungkin anak-anak mereka sudah terampil. Namun, mereka pun masih berhati-hati untuk mendorong Mendelssohn berkarir dalam bidang musik. Namun akhirnya, mereka merasa yakin setelah melihat disiplin diri dan motivasi anak mereka itu terhadap musik.

Ketika masih remaja, Mendelssohn telah menjadi komposer yang produktif. Meskipun Mendelssohn tahu bahwa ia berbakat, ia tak pernah bersantai atas bakatnya. Ia terus menerus berlatih tanpa kenal lelah, menggubah musik, dan mempelajari karya dari komposer favoritnya, Johann Sebastian Bach. Mendelssohn dilahirkan dengan fokus dan dedikasi yang tak habis-habisnya. Tak hanya berbakat atas apa yang ia lakukan, ia juga mencintai apa yang ia lakukan. Ia bahkan mencintai proses pembelajaran yang harus dilaluinya.

Memang anak berbakat seperti dirinya adalah hal yang langka. Namun, tekad teguh mereka haruslah menginspirasi kita. Setiap orang dapat mengembangkan ketekunan dan kegigihan. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menemukan bakat dan talenta kita, lalu bekerja keras untuk mengembangkan keterampilan yang kita miliki itu. Ada sebuah peribahasa yang berkata, “Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah dua puluh tahun yang lalu. Waktu terbaik yang kedua adalah sekarang.”

 

  1. Ciptakan Karya Terbaik Anda

 

Sebuah kutipan yang dikaitkan dengan Mendelssohn menyatakan, “Sejak saya mulai menggubah, saya tetap setia pada prinsip awal saya: tak akan menulis berdasarkan kesukaan publik, atau juga bila gadis cantik menginginkannya begini atau begitu; tetapi semata-mata sebagai yang terbaik menurut saya sendiri, dan ini memberi saya kesenangan.”

Jelas, Mendelssohn tidak berpikir mengenai popularitas dan keberuntungan ketika ia menggubah suatu komposisi. Sebaliknya, ia ingin menciptakan karya sebaik yang ia mampu. Dia ingin menciptakan sesuatu yang benar-benar indah dan yang akan menginspirasi kehidupan orang lain. Memang untuk Mendelssohn, tujuan utamanya adalah memuliakan Tuhan dengan karyanya. Orang tuanya telah berpindah keyakinan dari Yudaisme menjadi seorang kristiani. Mendelssohn sendiri memang sangat religius. Ia menyusun banyak sekali karya musik sakral, termasuk dua oratorio Alkitab tentang kehidupan Elia dan Paulus. Seorang temannya, Julius Schubring menulis, “Pada suatu kesempatan, dia [Mendelssohn] dengan tegas menyatakan bahwa musik sakral, tidak berdiri lebih tinggi daripada musik lainnya; sebab semua musik, dengan caranya yang unik, seharusnya diciptakan untuk memuliakan Tuhan.”

Meskipun kita bukan terlahir sebagai seorang anak berbakat, kita semua memiliki potensi untuk menjadi besar dengan selalu mengupayakan yang terbaik, selalu bekerja untuk mewujudkan sesuatu yang bisa kita banggakan, selalu ingin meningkatkan kualitas pekerjaan kita. Kita tidak akan pernah tahu potensi sejati kita sebelum menantang diri sendiri untuk bekerja sekeras mungkin dan tetap pada kepercayaan kita, untuk menghormati Tuhan atas karunia yang telah diberikan-Nya pada kita.

 

  1. Tak Pernah Berhenti Belajar

 

Mendelssohn selalu bersemangat mempelajari karya-karya komponis besar yang hidup sebelum dia: Mozart, Bach, dan Beethoven. Ketika berumur enam belas tahun, gurunya Ignaz Moscheles mengakui bahwa hanya ada sedikit yang dapat diajarkannya pada anak lelaki itu. Namun demikian, Mendelssohn selalu menekankan pentingnya pendidikan musik. Pada tahun 1843, ia mendirikan sebuah konservatori di Leipzig yang masih ada hingga hari ini. Mendelssohn adalah teman dekat Ratu Victoria. Mendelssohn pun menjadi komponis favorit beliau. Karyanya yang berjudul “Wedding March” dimainkan pada perayaan pernikahan putri sang ratu. Mungkin hal ini jugalah yang membuat karya tersebut menjadi salah satu karyanya yang paling terkenal. Ketika sang ratu mendengar kabar atas meninggalnya Mendelssohn, ia menyatakan, “Kami merasa ngeri, terkejut, dan sedih membaca di surat kabar tentang kematian Mendelssohn, jenius musik terbesar sejak Mozart, dan dia adalah orang yang paling ramah. Kami menyukai dan menghormati pria yang sangat baik itu, dan memandang tinggi, dan menghormati sang jenius yang begitu luar biasa. Dengan itu semua, dia begitu sederhana dan rendah hati.”

Pada akhirnya, Mendelssohn pernah membiarkan keberhasilan pergi begitu saja dari pikirannya. Ia tetap rendah hati atas karunia yang dimilikinya. Ia selalu berusaha untuk terus belajar dari orang lain. Jika kita ingin sukses dalam bidang kita, kita juga harus tetap rendah hati. Kita mengetahui bahwa sebesar apa pun kesuksesan kita, kita tetap perlu untuk belajar. Kita harus membaca sebanyak yang kita bisa dan mencari orang-orang yang lebih pintar dari kita sehingga kita dapat belajar dari mereka.

 

  1. Kumpulkan Pengalaman di Luar Anda dan Mulailah Hobi Baru

 

Mendelssohn bukan hanya seorang komponis dan musisi yang brilian. Dia juga seorang pelukis cat air yang berbakat. Dia dapat berbicara dalam empat bahasa (Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia). Ia juga memiliki pengetahuan dalam bahasa Latin, menerjemahkan drama roman ke dalam bahasa Jerman. Ia banyak membaca, terutama tentang sejarah dalam rangka untuk menggambarkan dunia kuno secara akurat dalam oratorionya yang berjudul Santo Paulus. Lebih lanjut, dia senang melakukan perjalanan keliling Eropa dan perjalanannya itu sering memengaruhi simfoninya: The Scottish Symphony (Symphony No. 3 in A Minor) dan The Italian Symphony (Symphony No. 4 in A Major). Seperti yang diamati oleh Nicole Bianchi dalam artikelnya, memiliki beberapa hobi dapat membantu Anda menjadi lebih terampil dalam satu bidang di mana Anda memiliki bakat yang paling menonjol. Keterampilan melukis yang dipelajari Mendelssohn memberikan inspirasi terhadap musiknya. Seorang virtuoso harus menjalani kehidupan yang kaya dan memuaskan. Pengalaman dan hobi Anda akan menjadi penunjang kreativitas Anda. Hal-hal tersebut akan menstimulasi otak Anda dan membuat Anda menjadi pribadi yang utuh. Anda tak pernah tahu di mana Anda akan menemukan inspirasi.

 

  1. Bagikanlah Pekerjaan Anda pada Dunia

 

Felix Mendelssohn pernah mengatakan: “Meskipun segala sesuatu yang lain mungkin tampak dangkal dan memuakkan, bahkan tugas terkecil dalam musik sangat merasuk dan membawa kita begitu jauh dari kota, negara, bumi, dan semua hal-hal duniawi, inilah hadiah yang benar-benar terberkati oleh Tuhan.”

Ketika Mendelssohn menggubah, ia tidak berencana untuk meninggalkan lembaran musiknya di laci berdebu setelah selesai. Tujuannya adalah untuk memberikan pertunjukan di depan penonton yang akan terinspirasi dan tersanjung oleh keindahan yang telah diciptakannya. Dengan aspek religiusnya, ia berharap untuk dapat mewartakan Injil. Sebuah seni tidak akan memiliki pengaruh bila tidak ada seorang pun penontonnya. Meskipun kita harus selalu mencoba untuk melakukan pekerjaan yang terbaik, kita tak harus menjadi perfeksionis hingga takut pekerjaan kita tak akan sanggup menatap matahari. Mendelssohn mulai berbagi karyanya sejak usia yang sangat muda. Ia mampu memetik manfaat dari saran orang lain tentang perbaikan yang harus dilakukannya. Janganlah takut untuk membagikan karyamu terhadap dunia. Mendelssohn percaya bahwa ia membuat musik semata-mata bukan hanya untuk musik saja, tetapi juga untuk memuliakan Sang Pencipta dan mengubah budaya. Anda tidak pernah tahu dampak dari karya yang Anda miliki hingga Anda membiarkan dunia melihatnya.

Sumber:

http://www.felixmendelssohn.com/felix_mendelssohn_bio_001.htm

http://inkwellscholars.org/5-lessons-life-child-prodigy-felix-mendelssohn/

Advertisements

Read Full Post »

 

Tchaikovsky1

Meskipun bukan seorang pianis konser, Tchaikovsky menggubah salah satu konserto yang paling hebat, Piano Concerto in B Flat. Ia mempersembahkan konserto ini untuk temannya Nicholas Rubinstein, yang memberitahunya bahwa karya itu mustahil untuk dimainkan. Tchaikovsky tidak yakin. Ia beralih mempersembahkan karya itu kepada pianis dan dirigen Jerman Hans von Bülow yang tidak berani memainkan karya itu di Eropa, tetapi memainkannya dengan sukses untuk pertama kalinya di Boston. Dengan penguasaan Tchaikovsky atas efek orkestra, kekuatan ritmis, bakatnya untuk menciptakan efek dramatis, dan kebesaran gerakan, tepatlah jika Piano Concerto in B Flat menjadi karya yang sangat populer dan sering dimainkan. Karya itu merupakan suatu pertunjukan melodi yang indah – adikarya pertama Tchaikovsky.

Pyotr Ilyich Tchaikovsky dilahirkan pada tanggal 7 Mei 1840 di Vonkinsk, Rusia, tetapi dari mana ia mewarisi bakat musik merupakan suatu misteri. Ia mendapat sedikit pengetahuan tentang musik saat masih kecil bersama-sama dengan saudara-saudaranya, tetapi ia tak pernah mengira memiliki talenta musik yang istimewa. Tak ada jejak-jejak musik dalam keluarganya. Ia menuntut ilmu untuk menjadi pengacara dan kemudian bekerja sebagai jurnalis di Ministry of Justice, namun akhirnya talentanya yang kreatif mulai tampak jelas. Mendengarkan musik Mozart Don Giovanni membantunya memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk musik.

Pada usia 23 tahun ia mendaftarkan diri di Konservatori St. Petersburg yang baru didirikan oleh Anton Rubinstein. Tchaikovsky merupakan orang Rusia pertama yang mendapatkan pelatihan sistematis mengenai dasar-dasar musik. Setelah bekerja keras akhirnya ia menyelesaikan studinya ini dalam waktu tiga tahun. Selanjutnya ia dianjurkan oleh Rubinstein untuk mengisi posisi guru di Konservatori Moskwa pada tahun 1866, dan sekitar waktu itu ia mulai menggubah musik dengan serius. Ia tetap di sana selama dua belas tahun sebagai profesor harmoni, dan ia sangat dihormati sebagai guru. Meski melewatkan waktu-waktu yang panjang dan bekerja keras, ia terus menggubah musik.

Temperamen Tchaikovsky yang melankolis dan mawas diri tercermin dengan jelas dalam musiknya. Ia menyayangi ibunya dengan segenap kegairahan seorang anak yang sangat sensitif, dan tatkala sang ibu meninggal karena kolera manakala ia berusia empat belas tahun, emosinya sangat terpengaruh. Untuk mengurangi kesedihannya karena kematian ibunya yang mendadak dan karena sikap ayahnya yang santai yang tampak tidak peduli terhadap peristiwa itu, Tchaikovsky menggubah waltz pendek. Menenggelamkan diri dalam musik tatkala dirundung kesedihan menjadi sebuah pola dalam hidupnya. Ia menciptakan beberapa balet yang paling riang pada masa mengalami penderitaan batin.

Kehidupan Tchaikovsky diwarnai kekasaran dan naluri seksual yang tidak normal. Ia tersiksa oleh homoseksualitasnya. Ia juga menderita epilepsi, migrain, insomnia, dan serangan depresi. Hidupnya mengandung semua unsur tragedi, tetapi ia tetap menghasilkan musik dengan gairah yang tak terkendali, dan ia menjalani kehidupan yang selalu dipenuhi dengan prestasi artistik yang senantiasa meningkat. Dalam buku biografi Bowen dan Meck, Beloved Friend, mereka memasukkan kutipan dari salah satu surat Tchaikovsky: “Saya mengalami beberapa kali masa yang sangat tidak menggairahkan, tetapi kehausan yang tak terpuaskan untuk bekerja menghibur saya…. Jika seseorang tidak memiliki suasana hati yang benar, ia harus memaksa diri untuk bekerja, kalau tidak, tidak ada sesuatu pun yang dapat dicapai.” Di waktu yang lain ia pernah menulis, “Tanpa pekerjaan, hidup tidak ada artinya bagi saya.” Ia seorang yang sangat rendah hati yang jarang yakin akan keunggulan karyanya.

Sementara masih mengajar di Konservatori Moskwa, Tchaikovsky dalam usia 29 tahun menggubah fantasinya Romeo and Juliet. Ini merupakan salah satu karya terbaiknya yang menandai awal kariernya. Mengingat betapa terlambatnya Tchaikovsky mempelajari musik secara serius, maka kecepatan ia mengembangkan teknik bermusiknya sungguh menakjubkan. Ia sangat mengagumi Shakespeare dan Dickens, terutama Pickwick Papers. Tchaikovsky mendapatkan kepuasan yang besar dalam kesusastraan dan teater. Bentuk Romeo and Julietnya serupa dengan overture Mendelssohn, A Midsummer Night’s Dream. Pada mulanya Romeo and Juliet disambut dingin oleh khalayak, tetapi kini menjadi karya favorit di dunia internasional. Di dalamnya kita akan mendengar beberapa melodi Tchaikovsky yang hebat, khususnya tema sepasang kekasih, harmoninya yang matang, dan ritme yang penuh semangat.

Untuk komposisinya Francesca da Ramini yang matang dan unggul, Tchaikovsky memilih sebuah subjek dari Divine Comedy karya Dante. Kisahnya adalah tentang cinta antara Francesca dan Paolo yang Dante tempatkan di Inferno [neraka] di mana mereka dipandang sebagai dua manusia yang terhilang yang mengembara dengan penuh kesedihan. Tchaikovsky mengungkapkan kisah ini lewat musik dengan kepekaan dan penghiburan yang dalam.

Karena mengharapkan kestabilan dalam hidupnya, pada usia 37 tahun Tchaikovsky menikahi Antonina, salah seorang siswa di Konservatori Moskwa. Dengan licik Antonina mengejar Tchaikovsky, dan pernikahan mereka adalah suatu bencana. Antonina seorang yang bermusuhan dengan lingkungannya dan meninggal di rumah sakit jiwa. Ketika nyaris terkena gangguan saraf, Tchaikovsky mencoba bunuh diri. Pada saat yang sangat membutuhkan bantuan ini, Madame Nadejda von Meck, seorang janda kaya dengan sebelas anak, yang telah mendengarkan beberapa musik Tchaikovsky dan sangat tergugah dengan keindahan dan sensitivitas musiknya, menugasinya untuk menciptakan karya-karya lainnya.

Pada tahun 1877 dukungan ini mengambil bentuk yang lebih substansial berupa gaji tahunan sehingga ia bebas untuk menggubah musik. Hasil langsung dari dukungan wanita itu adalah Fourth Symphony Tchaikovsky. Madame von Meck sangat musikal dalam cara Rusia di mana seseorang tenggelam dalam musik. (Untuk waktu yang singkat ia pernah meminta Claude Debussy datang ke rumahnya yang seperti istana untuk mengajarkan musik kepada anak-anaknya.)

Dengan demikian dimulailah korespondensi yang luar biasa antara Nadejda dan Tchaikovsky yang berlangsung selama tiga belas tahun dan menjadi sumber utama dalam biografi Tchaikovsky. Beloved Friend, buku bermutu tentang Tchaikovsky, memuat surat-surat mereka yang menarik. Abad ke-19 merupakan masa orang suka menulis surat. Tchaikovsky seorang penulis surat yang kompulsif. Ia juga menyimpan buku harian yang sebagian di antaranya sudah ia musnahkan. Madame von Meck dan Tchaikovsky saling sepakat untuk tidak saling bertemu, tetapi cinta di antara mereka menjadi mendalam. Ia menghargai Madame von Meck yang memahami kebutuhannya akan privasi dan kesendirian. Melalui korespondensi mereka dan pemberian uang, Madame von Meck memberikan dorongan dan kepercayaan yang sangat dibutuhkannya. Ini merupakan salah satu persahabatan yang paling terkenal dalam sejarah, namun berakhir tragis.

Di sepanjang hidupnya Tchaikovsky terobsesi dengan pikiran bahwa ia tengah bertempur melawan nasib. Dalam Fourth Symphony, yang dipersembahkannya untuk Madame von Meck dan merupakan salah satu karya terbaiknya, kita menjumpai adanya fatalisme yang mencerminkan pesimisme keduanya. Rusia adalah daratan yang penuh penderitaan dan tragedi, yang tercermin dalam literatur dan musik negara itu. Seperti banyak orang Rusia lainnya, Tchaikovsky mempunyai kebiasaan mabuk-mabukan sebagai pelarian sementara dari dunia yang menyesakkan ini, tetapi ia bukanlah seorang alkoholik. Ia seorang yang sensitif, berperasaan halus, yang mudah tertekan dengan hidup dan pekerjaannya.

Tchaikovsky memasukkan banyak unsur Rusia dalam musiknya. Stravinsky berkata, “Tchaikovsky memang seorang Rusia yang paling sejati di antara kami semua.” Michael Glinka, yang membuat opera-opera pada awal tahun 1800-an, dipandang sebagai bapak musik Rusia yang serius. Setelah kematian Glinka, saudara perempuannya memakai lima puluh tahun hidupnya menyebarkan propaganda untuk musik Glinka. Rumah saudara Glinka ini menjadi salon untuk “The Five” – Balakirev, Cui, Rimsky-Korsakov, Borodin, dan Mussgorsky, yang hidup sezaman dengan Tchaikovsky. Mereka semua amatir kecuali pemimpin mereka, Balakirev. Balakirev mendesak Tchaikovsky untuk menciptakan Romeo and Juliet, namun kemudian menuduhnya terlalu mengagumi budaya Barat.

Seperti Dvorak dan beberapa komponis lainnya, Tchaikovsky sangat mencintai alam dan negara asalnya. Pada tahun 1885 ia membeli rumah di sekitar Moskwa setelah bertahun-tahun mengembara. Ia tinggal di sana hingga tahun sebelum kematiannya ketika ia pindah ke kota Klin di dekat situ. Rumahnya yang di Moskwa itu kini dikenal sebagai Tchaikovsky House Museum [Museum Rumah Tchaikovsky]. Selalu sebagai seorang yang dermawan, ketika mendengar bahwa tidak ada sekolah bagi anak-anak di desa, ia segera menyumbang uang untuk mendirikan sebuah sekolah. Tchaikovsky sangat patriotik, meskipun ia malu dengan kekontrasan hidup Rusia dan ketidakadilan yang diakibatkan kesalahan pemerintahan kekaisaran.

Segera setelah Madame von Meck membebaskannya dari pekerjaan mengajar, Tchaikovsky membentuk kebiasaan kerja yang terus diikutinya hingga akhir hayatnya. Bahkan ketika sedang melakukan perjalanan ia berusaha mengikuti rutinitas yang sama meski tidak selalu berhasil. Dari pukul 8 hingga 9 pagi ia akan minum teh dan membaca Alkitabnya. Kemudian dilanjutkan dengan bekerja. Pada siang harinya, ia akan keluar berjalan kaki. Setelah membaca bahwa agar tetap sehat orang seharusnya berjalan kaki dua jam sehari, hal ini ia lakukan dengan saksama. Berulang kali pada saat berjalan-jalan itulah, pekerjaan komposisinya dimulai, ide-ide diuji coba dan ditulis dengan cepat di buku catatan kecil. Ia sangat yakin bahwa seorang seniman tidak boleh mengalah pada sifat kemalasan manusia yang kuat. Seperti kebanyakan seniman, Tchaikovsky menginginkan kesendirian agar ide-idenya tidak hilang dalam perbincangan yang ramai dan kurang bermutu.

Tchaikovsky mempersembahkan Serenade for Strings untuk Madame von Meck. Pada gerakan pertama, ia mencoba mengadopsi gaya Mozart, komponis favoritnya. Gerakan keduanya menjadi contoh dari bakatnya yang menakjubkan dalam membuat melodi. Sebagaimana yang dikatakan seorang kritikus, “Selalu ada waltz dalam musiknya.” Gerakan kedua ini sesungguhnya merupakan sebuah valse triste [waltz sedih] dan mengingatkan kita pada salon abad ke-19 dengan kegembiraannya yang dangkal yang bercampur dengan sedikit melankolis.

Seperti banyak seniman dan musisi lainnya, Tchaikovsky mencintai Venesia dan Florence. Ia juga melewatkan waktu di Swis di desa Clarens dekat Montreux. Sementara orang berjalan menyusuri danau, kadang berhenti untuk memandangi pegunungan dan bunga-bunga serta memberi makan angsa-angsa, mudahlah untuk membayangkan Tchaikovsky melakukan hal yang sama. Ia selalu menggubah musik, bahkan ketika sedang dalam perjalanan ke sana kemari untuk memimpin pertunjukan musiknya. Sewaktu Carnegie Hall dibangun, Tchaikovsky diundang untuk memimpin musik di New York City dan meraih kesuksesan yang banyak dibicarakan orang. Daya tarik pribadinya yang besar dan penampilannya yang tampan membuatnya memiliki banyak teman di berbagai negara. Saint-Saëns berkata, “Ia seorang yang paling lembut dan baik hati.”

Musik Tchaikovsky merupakan perpaduan lagu rakyat, opera Italia yang kosmopolitan, balet Prancis, dan simfoni Jerman, tetapi masih sangat bergaya Rusia. Popularitasnya yang sangat luas dikarenakan kemerduan suara dan melodi indah yang menghanyutkan pendengarnya bagaikan gelombang ombak, dan juga orkestrasinya yang brilian. Ia merupakan salah seorang pembuat orkestrasi terbaik sepanjang zaman, dan Tchaikovsky paling bagus dalam menggarap musik balet. Bahkan simfoni-simfoninya memiliki sentuhan yang menyerupai musik balet. Kurangnya bentuk musik yang tampak jelas dalam simfoni-simfoninya yang awal, merupakan cacat musikalnya yang terburuk. Tchaikovsky adalah komponis Rusia pertama yang memperoleh kemashyuran internasional.

Rumah saudara perempuannya Alexandra dan suaminya beserta anak-anak mereka menyediakan tempat yang stabil dan menghibur bagi Tchaikovsky. Ia mencintai anak-anak dengan tulus. Musik baletnya yang pertama, Swan Lake, semula direncanakan sebagai hiburan untuk keponakan-keponakannya. Namun selalu di lubuk hatinya, pria yang lembut ini merasa kesepian dan frustrasi. Ia berkata, “Menyesali masa lalu dan mengharapkan masa depan tanpa pernah merasa puas dengan masa sekarang – itulah cara saya menjalani hidup.”

Tiga musik baletnya menjadi karya klasik. Dalam Swan Lake (1875-1876) Tchaikovsky berusaha keras menggabungkan gaya dongeng sederhana dengan kepiawaian teaternya agar memenuhi persyaratan balet Rusia klasik. Teknik orkestranya yang hebat dan kehalusan sentuhan membuat komposisi itu menjadi sebuah adikarya.

Pada tahun 1888 dan 1889 ia menciptakan Sleeping Beauty. Waltz di dalamnya, yang sudah selayaknya menjadi terkenal, memiliki gaya yang melodius dan beremosi kuat. Salah satu musik paling menyenangkan yang pernah diciptakannya terdapat dalam Sleeping Beauty. Tchaikovsky sangat menggemari waltz sepanjang hidupnya. Itulah caranya untuk lari dari realitas kehidupan yang sulit dan masuk ke dalam dunia balet dan musik yang menyenangkan namun semu.

Tiga tahun setelah Sleeping Beauty, Tchaikovsky menggubah The Nutcracker Suite. Ini merupakan balet malam Natal yang mengisahkan tentang seorang gadis kecil yang bermimpi bahwa hadiah alat pemecah kacang-kacangannya telah berubah menjadi seorang pangeran tampan. Dalam “Dance of The Flowers” kita mendapati orkestra modern dalam kualitas nada tersendiri dan Tchaikovsky melakukannya dengan sangat baik.

Orang dapat melihat dengan jelas betapa ia mendapatkan penghiburan untuk penderitaan pribadinya melalui menciptakan musik yang riang dan memikat, karena tak lama sebelum menggubah The Nutcracker Suite, Madame von Meck dengan cara yang kejam dan tak terduga memutuskan hubungan persahabatan mereka. Putra kesayangan Madame von Meck sakit keras, dan ia mengira bahwa ia telah mengabaikan putranya karena terlalu memberi perhatian kepada Tchaikovsky. Penulis biografi yang lain menjelaskan bahwa ia berhenti memberi gaji kepada Tchaikovsky karena berpikir bahwa dirinya bangkrut, yang sebenarnya merupakan khayalan murni. Waktu itu Tchaikovsky tidak lagi benar-benar membutuhkan uang, tetapi ia sangat terluka dengan cara wanita itu mengakhiri persahabatan mereka. Hanya dalam beberapa bulan ia tampak tua, dan menjelang kematiannya tiga tahun kemudian ia memanggil-manggil terus nama Madame von Meck. Wanita itu meninggal dunia tak lama setelah Tchaikovsky meninggal.

Madame von Meck adalah seorang ateis yang teguh, wanita yang kuat dan suka menguasai. Ia bangga atas ketidakbergantungannya pada Allah dan masyarakat dan kerap kali mencaci Tchaikovsky yang rindu untuk merasakan kebenaran kekristenan dengan lebih sungguh untuk memiliki iman yang lebih kokoh. Dalam biografi Tchaikovsky yang ditulis oleh Bowen dan Meck, mereka memasukkan kutipan berikut yang diambil dari sepucuk surat Tchaikovsky untuk Madame von Meck, “Di satu sisi pikiranku menolak untuk diyakinkan oleh dogma … di sisi lain, pendidikan yang kuperoleh dan kebiasaan yang telah mendarah daging sejak kecil, dipadukan dengan kisah tentang Kristus dan pengajaran-Nya, semuanya mempengaruhiku untuk berpaling kepada-Nya dalam doa tatkala aku bersusah hati, dan bersyukur tatkala aku berbahagia.”

Tchaikovsky menciptakan delapan opera, tetapi hanya Eugene Onegin dan The Queen of Spades yang kini dipentaskan secara tetap. Eugene Onegin, dengan adegan suratnya yang terkenal di Babak I, hanyalah keberhasilan kecil dalam pertunjukan perdananya di Moskwa, tetapi meraih popularitas yang besar di St. Petersburg berkat kekaguman sang kaisar pada karya ini. Violin Concerto merupakan salah satu karya paling populer dan salah satu yang terbaik. Dari lagu-lagu yang diciptakannya, “None but the Lonely Heart” paling terkenal. Tiga simfoni terakhir Tchaikovsky merupakan simfoni yang penting. Simfoni-simfoni itu kaya dalam isi, tekanan, dan melodi. Kecintaannya pada alat musik perkusi patut diperhatikan.

Berkenaan dengan Sixth Symphony, Tchaikovsky berkata, “Aku telah mencurahkan segenap jiwaku untuk karya ini.” Ia menggubah simfoni ini setelah mengalami keretakan hubungan yang menghancurkan dengan Madame von Meck. Lagi-lagi untuk mencari perlindungan dari penderitaan hidup, Tchaikovsky menciptakan musik terbaiknya. Dengan kehadiran Symphony No. 6, abad ke-19 lengkap sudah – mulai dari optimisme dan masa akhir kejayaan simfoni-simfoni Beethoven hingga penderitaan yang tak terpahami dari pernyataan musikal Tchaikovsky yang terakhir. Modeste, saudara lelaki Tchaikovsky, memberinya nama Pathetique.

Setelah menyelesaikan simfoni terakhirnya, ia pergi ke St. Petersburg untuk memimpin pertunjukan musiknya itu, tetapi masyarakat tidak menghargainya. Simfoni yang agung ini mendapat sambutan dingin dan acuh tak acuh, tetapi penilaian itu berbalik dengan cepat – namun terlambat bagi Tchaikovsky yang meninggal akibat kolera seperti ibunya dahulu. Saat itu ia berusia 53 tahun. Symphony No. 6 merupakan salah satu simfoni paling populer abad ke-19, dengan klimaks-klimaksnya yang menghanyutkan dan keindahannya yang tragis. Musik Tchaikovsky dengan semua kekuatan dan keindahannya bagaimana pun juga mengungkapkan pesimisme yang mewarnai tahap akhir gerakan Romantik.

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Capriccio Italien

Concerto in B Flat Minor – Piano and Orchestra

Concerto in D Major – Violin and Orchestra

Eugene Onegin – Selections

Francesca da Ramini

Marche Slave

Nutcracker Suite

1812 Overture

Romeo and Juliet

Serenade in C for Strings

Sleeping Beauty Ballet

Swan Lake Ballet

Symphony No. 4

Symphony No. 5

Symphony No. 6, Pathetique

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books)

 

Read Full Post »

chopin1

Musik senantiasa berkumandang dalam rumah Chopin, dan orang tua Frédéric merasa sedih ketika melihat bayi laki-laki mereka menangis tatkala mendengar suara nyanyian atau permainan piano dan alat musik lainnya. Mereka mengira ia membenci musik; namun suatu hari ketika ia menaiki piano dan dengan jari-jari mungilnya menekan beberapa nada, mereka mengerti dengan tawa dan air mata bahwa putra mereka itu menangis karena sukacita. Tak heran jika Frédéric Chopin tumbuh dewasa menjadi “penyair piano.” Dengan pendirian yang sangat teguh, hampir semua yang dia ciptakan adalah untuk dimainkan dengan piano. Ia menciptakan dunianya sendiri yang unik berkenaan dengan kesemarakan bunyi.

Chopin menghabiskan setengah dari kehidupannya yang singkat di Polandia dan setengahnya lagi di Paris. Seperti halnya banyak anak muda cerdas lainnya, ia mendambakan petualangan. Oleh karenanya, ia pergi ke Wina, Berlin, Munich, dan beberapa tempat lainnya, tetapi Paris adalah tempat tujuannya, dan ia tiba di sana tahun 1831. Ketika berada di Berlin ia bertemu dengan Mendelssohn tetapi terlalu malu untuk memperkenalkan dirinya. Dalam salah satu perjalanannya sebelum menuju Paris, ia mendengar “Ode for St. Cecilia’s Day” karya Handel. Ia menulis surat ke rumah, “Karya itu hampir mendekati idealku tentang musik yang agung.”

Chopin dilahirkan dekat Warsawa. Ayahnya, orang Prancis, datang ke Polandia untuk bekerja, namun setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, ia bekerja sebagai guru privat dan akhirnya mulai mendirikan kursus miliknya sendiri yang sukses. Banyak muridnya berasal dari kalangan bangsawan, dan sejak awal Frédéric suka bergaul dengan mereka yang berasal dari kalangan teratas. Ibunya adalah dayang seorang countess, dan ia sendiri adalah keturunan bangsawan.

Suasana di rumah Chopin penuh kasih sayang, sopan, dan artistik. Ada empat anak, dan keempatnya berbakat musik. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, pilihan Frédéric untuk kariernya sudah pasti. Pada usia enam tahun ia sudah menjadi pianis andal, dan dipanggil banyak orang sebagai Mozart yang lain. Pada usia delapan tahun ia melihat komposisinya yang pertama dicetak. Komposisi itu merupakan sebuah polonaise, tarian tradisional Polandia, yang semula dilakukan oleh kaum bangsawan.

Guru pertama Chopin, seorang musisi yang andal, memperkenalkan murid mudanya yang luar biasa ini kepada Bach dan juga mengizinkannya membuat improvisasi dengan bebas pada piano. Dalam tahun-tahun berikutnya Chopin memainkan bagian-bagian dari Well-Tempered Clavier karya Bach sebagai pemanasan sebelum memulai suatu konser. Ia menguasai semua komposisi itu di luar kepala.

Dengan guru berikutnya, Joseph Elsner, Chopin belajar komposisi. Ini merupakan saat yang sangat penting dalam pendidikan musiknya. Sangat wajar bagi musisi dengan pendidikan lengkap seperti Elsner untuk mendesak murid-muridnya menggubah sonata, simfoni, opera, dan bentuk-bentuk musik lainnya untuk memperluas pemahaman mereka tentang banyak kemungkinan yang ada bagi seorang komponis. Namun Elsner memiliki keputusan yang sangat bagus. Ia tidak pernah memaksa gaya bermusik Chopin dan melakukan apa saja yang ia mampu supaya bakat unik Chopin berkembang secara alami.

Di L’Abri Fellowship kami sering ditanya, “Apa maksudnya menjadi kreatif? Bagaimana Anda mendefinisikan seorang seniman yang kreatif?”

Chopin merupakan contoh yang menarik. Ia sangat berkonsentrasi pada sudut pandangnya sendiri yang khusus dan terbatas. Dalam usia muda ia memutuskan menciptakan musik semata-mata untuk alat musik yang ia cintai. Musik tidak mengalir begitu saja dengan mudah dari dirinya. Ia harus bekerja keras dan kadangkala disertai penderitaan yang berat untuk menuntaskan tujuannya. Ia lebih menyukai bentuk musik yang pendek; dan seperti tukang perhiasan mengerjakan permata yang langka, Chopin akan memoles hasil komposisinya yang relatif sedikit hingga mendekati sempurna, sesuai yang ia sanggup lakukan.

Penulis lain mengatakannya demikian, “Ia mengolah dan menanami kebunnya sendiri.” Siapa pun yang pernah melakukan persiapan menanam akan mengerti kerja keras yang harus ia lakukan untuk mengolah dan menanam bunga dan sayuran.

Saat Chopin meninggalkan Polandia dan keluarganya yang tercinta sebagai seorang pemuda berusia dua puluh tahun, tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ia tak akan kembali ke sana lagi. Penulis biografi, Huneker, berkata, “Dengan penuh dukacita Chopin meninggalkan rumah, orang tua, teman … dan pergi ke dunia dengan keyboard dan otak yang dipenuhi musik nan indah sebagai senjata satu-satunya.” Kasihnya yang tidak berubah kepada keluarganya merupakan salah satu sifatnya yang terbaik.

Orang Polandia menganggap Chopin sebagai tokoh kebudayaan tertinggi yang pernah dihasilkan negara mereka. Ia adalah jiwa musiknya Polandia. Salah satu ledakan dramatis terbesar dalam literatur piano adalah Revolutionary Etude (Op. 10, No. 12). Ia menggubahnya dengan perasaan yang mendalam tatkala ia mendengar bahwa Warsawa jatuh ke tangan orang Rusia.

Ketika Chopin tiba di Paris pada musim gugur tahun 1831, saat itu Prancis dalam kondisi stabil sementara, dan kebangkitan dan kemakmuran nasional ditunjukkan dengan berkembangnya kesenian di sana. Chopin telah menikmati kesuksesan yang terbatas, tetapi sebagai komponis ia tahu bahwa “komposisi pianonya belaka” tidak akan terlalu digemari di tengah kehidupan musik masyarakat Paris. Jadi sebelum meninggalkan Warsawa, ia telah menyelesaikan banyak komposisi, termasuk Piano Concertos in F Minor and E Minor, juga mazurka [tarian Polandia] dan sebagian besar Etude [karya yang mengandung latihan untuk mengembangkan teknik main].

Ia hanya memiliki sedikit uang tetapi dengan cepat memiliki teman-teman dari kalangan bangsawan, dan ada berita yang mengatakan bahwa Chopin bersedia memberi les piano. Hampir dengan segera ia memiliki murid lebih banyak daripada beberapa guru besar terbaik di Paris. Muridnya – Pangeran ini, Countess itu, Duke itu, dan yang semacam itu – tidak pernah membayar Chopin untuk les yang diberikan. Sebagai gantinya, diam-diam mereka menaruh dua puluh atau tiga puluh franc pada rak di atas perapian saat Chopin memandang jendela atau mengikir kuku jarinya. Ia terlalu angkuh untuk menunjukkan kenyataan bahwa ia benar-benar membutuhkan uang itu.

Sisi pengajaran dari karier Chopin tercermin dalam banyak etudenya, termasuk etude yang dianggap oleh sebagian orang sebagai melodinya yang terhebat, yaitu Etude Op. 10, No. 3, dan komposisi-komposisi yang digubah untuk dimainkan murid-muridnya. Komposisi itu mencakup prelude, nocturne [komposisi yang bersifat tenang dan halus, melukiskan suasana malam yang romantik], waltz, impromptu [karya musik yang tampak seolah-olah diimprovisasi], mazurka, dan polonaise awal. Banyak dari komposisi ini dipersembahkan kepada murid-muridnya.

Dengan cepat Chopin menghasilkan uang yang cukup untuk merawat kudanya sendiri, hidup dengan nyaman, dan berpakaian seperti seorang count. Dengan demikian ia dikenal dan disenangi di kalangan yang lebih atas, meski ia hanya memiliki sedikit teman dekat. Schumann membantu memperluas kemashyurannya, namun terlepas dari Schumann sekalipun, Chopin sudah dikenal sebagai seorang jenius. Liszt, Berlioz, Hiller, Bellini, dan Meyerbeer juga menjadi teman-teman yang mengagumkan.

Ke mana pun Chopin pergi, ia diperlakukan istimewa layaknya seorang pangeran, dan kualitas yang mulia ini dibawa ke dalam musiknya. Komposisi-komposisinya tak pernah tidak menarik atau biasa-biasa saja. Chopin bukanlah pengekor komponis lain, ia seorang pemimpin.

Walau dikenal sebagai pianis besar (improvisasinya membangkitkan rasa takjub), kesehatannya yang lemah membatasi kenyaringan suara musiknya, dan sejak awal kariernya ia menyadari bahwa sebaiknya ia tidak bermain di ruang aula yang besar. Dalam sejarah permainan piano, tak ada contoh lain tentang reputasi yang melegenda sedemikian hebat. Hal ini didasarkannya pada hanya tiga puluh kali pertunjukan di muka umum yang Chopin berikan di sepanjang kariernya. Dalam salah satu konser terakhirnya, bunyi yang dihasilkannya nyaris seperti suara berbisik dan tepuk tangan penonton hampir sama lembutnya dengan permainannya.

Karya-karya Chopin menuntut pemain piano tidak hanya menguasai teknik dan mutu dalam menekan tuts piano dengan sempurna, tetapi juga penggunaan pedal secara imajinatif dan penggunaan “tempo rubato” dengan hati-hati. Chopin menggambarkan hal ini dengan sedikit mendorong atau menahan dalam memainkan bagian kalimat lagu di tangan kanan, sementara iringan tangan kiri terus dimainkan dalam kecepatan yang tepat.

Pada pesta-pesta musik pribadi di rumah-rumah yang indah milik teman-teman bangsawannya yang banyak inilah Chopin dikenal dan dicintai sebagai pianis sekaligus komponis. Saat-saat itu pasti merupakan malam yang menggembirakan. Kita dapat membayangkan Chopin dan Liszt memainkan musik empat-tangan dengan banyak improvisasi dan mungkin Mendelssohn atau Berliozlah yang membalikkan lembaran partiturnya.

Perlu disebutkan bahwa Chopin memiliki pegangan yang kuat dalam hidup meski kesehatannya buruk. Sikap optimisnya yang riang menolongnya. Di tengah-tengah frustrasi ia masih dapat tersenyum dan bahkan bercanda tentang apa pun yang sedang menjengkelkannya. Namun orang dapat mendengar aspek sedih dari hidupnya dalam musik Romantiknya yang melankolis.

Chopin suka berteman dengan wanita, dan mereka menghargainya, namun karena kelemahan fisiknya dan sifat pendiamnya yang ekstrem, ia tidak menikah. Sebelum datang ke Paris, ia berharap untuk menikahi wanita bangsawan yang telah dikenalnya sejak kecil, tetapi ayah si gadis keberatan karena tidak ingin punya menantu seorang musisi.

Chopin pernah menjalin hubungan cinta beberapa kali, dan kerinduannya akan kasih sayang tampak pada nocturnenocturne yang digubahnya. Ketika akhirnya ia menerima kenyataan bahwa hubungan cintanya dengan countess itu berakhir, kesehatannya terganggu, dan ia menjadi sangat depresi; namun sebelum meninggalkan Polandia, ia menggubah sebuah musik waltz untuknya, Op. 69, No. 1.

Dua orang teman mendesak Chopin ikut dengan mereka ke Inggris. Mereka meyakinkannya bahwa perubahan suasana akan memulihkan dan mengangkat rohnya yang tertekan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Gabungan antara cuaca Inggris dan vitalitasnya yang sudah rendah merusak paru-parunya yang lemah. Ia kembali ke Paris dengan pikiran dan tubuh yang menderita, dan mungkin ia akan menyerah dalam keputusasaan jika penulis George Sand, salah satu wanita yang luar biasa pada abad ke-19, tidak merasuki hidupnya. Mereka bertemu dengan perantaraan Liszt pada musim dingin tahun 1836, dan hampir segera setelah kedatangannya kembali dari Inggris, mereka tampak di mana-mana berdua.

Sand lebih tua dari Chopin, dan menjelang pertemuan mereka ia berada pada puncak kemashyurannya sebagai novelis dan tokoh feminis. Bagi orang yang melihat sepintas lalu, tampaknya ia, wanita yang mampu mengatur orang lain itu, bertanggung jawab atas sang musisi. Namun sebenarnya tidaklah demikian. Chopin hidup dengan kondisi fisik yang lemah dalam sebagian besar hidupnya dan belajar seni untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Karena kelemahan fisiknya yang parah kadang-kadang, ia terpaksa bergantung pada orang lain untuk mendapatkan bantuan, tetapi dalam karya seninya ia menunjukkan tingkat kepercayaan diri dan kemandirian yang mengagumkan.

Chopin sangat mengharapkan kesempurnaan, dan keinginan ini mendominasi keseluruhan hidupnya. Dalam hubungan yang tidak seperti biasanya dengan George Sand, niscaya ia mendapatkan kestabilan emosi yang ia butuhkan, dan ia diberi waktu dan ketenangan untuk membuat komposisi. Selama sembilan tahun berikutnya Chopin memasuki salah satu masa yang paling produktif dalam hidupnya. Dalam ballade [lagu yang isinya bersifat petualangan, berjiwa pahlawan atau romantis] yang penuh gairah, scherzo [komposisi yang bersifat lelucon, ringan hati dengan tempo yang cepat dan irama yang gesit] yang imajinatif, impromptu, dan karya-karya yang terinspirasi sedemikian rupa seperti Fantaisie in F Minor, Barcarolle, dan Berceuse, orang akan menemukan kesempurnaan yang ia perjuangkan.

Pada awal November 1838, Chopin dan Sand, bersama anak-anak Sand dan seorang pembantu, pergi ke Pulau Majorca mencari sinar matahari dan kehangatan. Namun sebaliknya, pulau itu basah, dingin, dan tidak menyenangkan, terutama karena mereka tinggal di sebuah biara Carthusian yang telah lama ditinggalkan. Seratusan tahun kemudian kami yang ada di L’Abri mengunjungi biara itu pada hari yang cerah dan indah. Meski demikian, bagian dalam biara tampak dingin dan suram. Bilik kecil yang lembab dan makanan yang buruk nyaris menamatkan riwayat Chopin, dan akhirnya pelancong-pelancong yang letih ini singgah di Marseilles hingga kondisi Chopin sudah cukup baik untuk meneruskan perjalanan ke Nohant, tempat George Sand memiliki rumah musim panas.

Kendati mengalami banyak kesulitan di Majorca, Chopin kembali ke Prancis setelah menciptakan dua polonaise, C Sharp Minor Scherzo, Prelude in A Major, No. 7 (salah satu komposisinya yang paling pedih), dan 24 prelude (Op. 28). Ia memiliki salinan prelude-prelude Bach dan dengan rendah hati ia mengatakan bahwa 24 preludenya “hanyalah tulisan cakar ayam” jika disandingkan dengan 48 prelude Bach. Chopin mencurahkan segenap hatinya untuk menggubah musiknya, dan mengunci dirinya dalam kamar (atau dalam bilik kecil biara) kadangkala selama beberapa hari, untuk mengerjakan dan mengulang sebuah komposisi.

Pada tahun 1847 persahabatannya dengan George Sand berakhir dengan tiba-tiba. Dalam sebuah pertengkaran antara George dan putrinya Solange, Chopin memihak Solange, dan akhirnya George Sand tak tahan lagi. Bagi Sand, perpisahan itu tidak terlalu mengganggunya karena ia sangat disibukkan oleh kegiatan menulisnya dan berbagai sebab lainnya. Namun bagi Chopin, peristiwa itu benar-benar merupakan pukulan yang mematikan dan menandai akhir dari kreativitasnya. Kondisi fisiknya memburuk dengan cepat, dan ia tak pernah menggubah musik lagi.

Atas desakan teman Skotlandianya, Jane Stirling, salah seorang muridnya yang kaya, Chopin pergi ke Inggris dan Skotlandia di mana ia segera digemari oleh masyarakat modern. Ia berada dalam stadium terakhir penyakit tuberkulosis dan begitu kehabisan tenaga sehingga setelah memainkan musik di sebuah salon [pertemuan rutin tamu-tamu di rumah seorang wanita dari kalangan atas], ia harus dibopong menuju kamar tidurnya dan digantikan bajunya oleh pembantu prianya.

Ia kembali ke Paris di mana revolusi masih memanas. Ia hampir tidak mempunyai uang lagi, tetapi untungnya keluarga Stirling memberinya hadiah yang besar untuk menopangnya pada masa-masa akhir hidupnya. Saudara perempuannya Louise datang dari Polandia untuk merawatnya. Ia bertahan hidup dalam penderitaan yang sangat hingga dini hari tanggal 17 Oktober 1849. Negara Polandia yang selalu terbuka untuk Chopin sejak ia meninggalkan Warsawa tahun 1830 serasa ikut terkubur bersamanya. Kuburannya di Père-Lachaise Cemetery terletak di antara makam Cherubini dan Bellini.

Tak diragukan bahwa Chopin mendapatkan rasa aman dan kedamaian pikiran yang mempercepat kematangan akhir dari kejeniusannya karena kasih sayang dan perhatian George Sand. Masa yang baru dalam hidupnya diawali dengan B Flat Minor Sonata, G Major Nocturne, Op. 37, No. 2, dan F Sharp Impromptu, yang semuanya diciptakannya pada masa pertama kali ia tinggal di Nohant. Sejak itu hingga tahun 1846 saat-saat musim panasnya ia lewatkan di Nohant di mana ia tidak hanya menggubah tetapi juga menikmati kunjungan penyanyi besar Pauline Viardot dan pelukis Delacroix, yang lukisan dramatisnya atas diri Chopin kini tergantung di Louvre.

Di sepanjang hidupnya Chopin suka menyanyi, dan secara khusus ia memiliki kasih terbesar pada komponis opera Italia Bellini. Musik Frédéric Chopin menghendaki pembagian kalimat lagu yang halus dan nada yang bernyanyi. Karena keunikan gaya musiknya, orang dapat langsung mengenali musik Chopin, yang sudah sepantasnya disebut “penyair piano.”

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Ballades

Barcarolle

Concertos for Piano

Etudes, Op. 10 and 25

Mazurkas

Nocturnes

Polonaises

Preludes, Op. 28

Scherzos

Sonatas 2 and 3 for Piano

Waltzes

Fantaisie in F Minor

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books.)

Read Full Post »

 

portrait_of_ludwig_van_beethoven_while_composing_t_poster-r814fa9f2cb1343ce9b5fdfdc1128f3d5_aipsq_400

Konsep yang mengatakan bahwa apa yang diyakini seseorang akan mempengaruhi pekerjaannya benar-benar ditunjukkan dalam kehidupan dan musik tokoh yang luar biasa besarnya dalam sejarah, Ludwig van Beethoven. Motonya adalah “Kebebasan di atas segalanya.” Ia menjadi legenda pada masa hidupnya, dan keberadaannya mendominasi keseluruhan musik abad ke-19. Semboyan Jean Jacques Rosseau, “Diriku sendiri,” menjadi seruan pendukung dari semua gerakan baru dalam bidang tulisan, lukisan, dan musik. Anda takkan dapat membayangkan Goethe dan Beethoven tanpa Voltaire, Rosseau, atau seniman-seniman awal zaman Romantik. Dengan cepat Beethoven menjadi kekuatan pendorong dan pujaan para seniman zaman Romantik. Dengan adanya “manusia gagah berani” di tengah alam semesta ini, humanisme mencapai puncaknya pada zaman Beethoven dan Goethe.

Beethoven nyaris memuja Goethe, seorang penulis Jerman yang paling terkenal. Seperti si jenius di bidang sastra itu, Beethoven meyakini bahwa seniman memiliki tugas untuk mengungkapkan kegalauan sekaligus kedamaian dalam diri seseorang dan untuk mencari kesempurnaan orang itu sendiri. Musik Beethoven penuh dengan kontras-kontras yang tajam. Renoir, pelukis asal Prancis, mengamati bahwa Beethoven “sangat tidak sopan dalam caranya mengungkapkan diri kepada orang lain; ia tidak mengecualikan kita dari sakit jantungnya atau sakit perutnya.” Musik Beethoven memiliki energi luapan perasaan yang menggila. Musiknya terdengar meletup-letup dan mengandung luapan kegembiraan yang sangat besar dan kemudian tiba-tiba meleleh dalam kelembutan dan kesedihan, lalu kembali meledak dalam kedahsyatan. Ini merupakan pencurahan langsung dari kepribadiannya.

Beethoven merupakan salah seorang pemikir teragung dalam dunia musik. Sejak dini ia telah menjauhkan diri dari kesembronoan. Rasa ingin tahunya besar, dan ia terus belajar sepanjang hidupnya. Seandainya secara bawah sadar, ia menggabungkan kedua konsep dari zaman Pencerahan dan sikap mawas diri yang gelap dari gerakan Romantik. Keduanya tercermin dalam musiknya. Individualis yang kuat ini, yang merupakan seorang antagonis tulen, memang ditentukan untuk menaklukkan. Karena menjunjung tinggi martabat manusia, secara fanatik Beethoven meyakini kebebasan tanpa batas. Romain Rolland telah berkata, “Dalam dirinya terdapat manusia super seperti Nietzsche, jauh sebelum Nietzsche ada.”

Ludwig van Beethoven dilahirkan di Bonn, Jerman, tahun 1770. Ia mulai belajar musik pada usia empat tahun, namun di bawah kondisi yang traumatis. Ayahnya dan seorang rekan musisi akan pulang ke rumah larut malam setelah mengunjungi kedai-kedai minuman. Mereka akan membangunkan Beethoven dan memaksanya untuk belajar musik hingga dini hari. Minum-minuman keras sampai berlebihan merupakan kebiasaan yang dapat diterima di rumah Beethoven. Neneknya juga seorang alkoholik.

Beethoven muda adalah anak yang tidak bekerja menurut metode logis, dan bahkan sebagai anak-anak ia tampak melankolis. Namun ia mempunyai ambisi musik dan kekuatan fisik yang sangat besar. Saat masih sangat belia, ia dipekerjakan sebagai organis, meski selanjutnya ia termashyur sebagai orang yang piawai memainkan piano. Pada tahun 1787 di Wina ia bertemu dan memainkan musik untuk Mozart, yang meramalkan masa depan yang cerah baginya. Beethoven dipanggil kembali ke Bonn dengan berita menggelisahkan tentang kemunduran kesehatan ibunya. Ia meninggal karena sakit paru-paru pada usia empat puluh tahun, tak lama setelah Beethoven kembali ke rumah. Ibunya seorang yang baik hati, dan Beethoven mengasihinya. Rasa kehilangannya menghantarnya pada krisis pertama dari krisis-krisis emosional yang terjadi berulang kali sepanjang hidupnya. Ia senantiasa mencari seorang wanita yang seperti ibunya, tetapi tak pernah menemukannya. Ada banyak wanita dalam kehidupan Beethoven, terutama di antara kaum bangsawan. Seperti yang dikatakan seorang sejarawan, “Beethoven selalu jatuh cinta.” Beberapa kali ia pernah mempertimbangkan untuk menikah, tetapi karena berbagai alasan ia tetap membujang.

Lima tahun yang panjang setelah kunjungan pertamanya ke Wina, Beethoven kembali ke kota ini yang merupakan salah satu pusat dunia musik. Pada masa itu Mozart telah terbujur kaku di sebuah pekuburan orang miskin. Revolusi Prancis akan segera memasuki tahapan yang paling menakutkan, yakni masa Pemerintahan Teror. Goethe berada di Weimar sedang memimpin teater kaum bangsawan, dan Haydn sedang menikmati kemashyurannya di seluruh Eropa.

Beethoven belajar musik kepada Haydn di Wina, dan terus menggali pengetahuan secara mendalam, walau menurut pendapatnya Haydn seorang guru yang tidak cukup baik. Pastilah Haydn terlalu sibuk untuk berkonsentrasi mengajar, tetapi ia melakukan sesuatu yang baik untuk musisi muda yang tak dikenal ini. Ia mengirimkan beberapa komposisi Beethoven pada Elector of Cologne dan menganjurkan agar musisi muda ini dibiayai untuk melanjutkan kariernya sebagai komponis.

Beethoven belajar membuat komposisi seperti para pendahulunya sebelum akhirnya ia menemukan gayanya sendiri. Tidak seperti banyak komponis abad ke-20, Beethoven tak pernah memisahkan dirinya dari masa lalu. Sebagai seorang anak, ia telah menguasai Well-Tempered Clavier karya Bach, dan ia sangat menghormati musik Handel dan Mozart. Ia pernah berkata, “Handel adalah yang terbesar, yang paling terampil dari semua komponis. Sampai sekarang saya masih bisa belajar darinya.” Dan Beethoven masih belajar dari Handel pada tahun sebelum ia meninggal. Dengan selalu menjadi seorang murid, di antara semua komponis dialah yang paling tidak memiliki kecenderungan untuk mengulang karyanya. Seorang teman Beethoven pernah bertanya-tanya mengapa Beethoven tidak memiliki karya-karya Handel. Ia pun menjawab, “Bagaimana mungkin aku, orang miskin, mendapatkan karya-karyanya?” Temannya itu membutuhkan waktu dua tahun, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengirimkan musik Handel untuk Beethoven – semua karya yang dapat ia temukan. Pada bulan Desember 1826, edisi yang sangat indah karya Handel yang terdiri dari empat puluh volume tiba di rumah Beethoven. Sembari terbaring sakit beberapa bulan terakhir dari hidupnya, Beethoven menyandarkan buku-buku itu ke tembok, membuka halaman demi halaman, dan muncullah seruan sukacita dan pujian tatkala ia belajar tentang Handel.

Sir Julius Benedict menggambarkan pandangan pertamanya atas Beethoven, “Ia seorang pria pendek dan gemuk dengan wajah sangat merah, mata kecil yang tajam menusuk, dan alis lebat, serta mengenakan mantel sangat panjang yang nyaris sampai pergelangan kakinya.” Ia juga mempunyai rambut putih panjang yang menyentuh bahunya yang lebar.

Beethoven memandang dirinya sebagai pencipta yang “terasingkan” dari orang-orang pada umumnya. Ia meremehkan apa pun atau siapa pun yang mencampuri kreativitasnya. Ia dapat memrotes dengan keras ejekan sekecil apa pun terhadap dirinya. Ia memandang rendah hampir semua orang – orang miskin, kaum aristokrat, mereka yang mengaguminya, mereka yang membencinya, rakyat biasa, dan kaum lemah. Marek berkata, “Misteri tentang kepribadian yang kompleks takkan pernah dapat terungkap secara menyeluruh, demikian pula dengan kepribadian pria sekompleks Beethoven.”

Di Wina Beethoven pindah ke tengah lingkungan kaum bangsawan, dan sederet panjang orang-orang berpengaruh menolong kariernya meski ia sombong dan sangat kasar. Pada awal kariernya, Beethoven merupakan pianis yang piawai. Dalam Second Piano Concerto, partitur orkestra paling awal yang ia anggap cocok untuk dipublikasikan, bagian terakhirnya mempunyai karakteristik yang mengingatkan kita pada musik Mozart dan Haydn.

Dari waktu ke waktu Beethoven mempunyai beberapa murid, tetapi ia pasti merupakan salah satu guru yang paling tidak sistematis yang pernah dikenal dunia, tidak sabaran, ceroboh, suka bertengkar, sensitif luar biasa, dan tak pernah tepat waktu. Pengatur musik yang mengagumkan itu adalah seorang yang paling tidak teratur. Saya katakan bahwa Mozart dan istrinya berpindah tempat tinggal dua belas kali dalam sembilan tahun; Beethoven, dalam 35 tahun di Wina, pindah setidaknya tujuh puluh kali. Dalam banyak lukisan yang menggambarkan komponis besar ini, seringkali ada grand piano di situ. Saya penasaran berapa banyak tangga yang dilalui saat menaikkan dan menurunkan piano itu selama perpindahan tempat tinggal yang sangat sering ini.

Beethoven, yang selalu bangun pagi (pukul 5 atau 6), suka bekerja di pagi hari dan mempunyai kebiasaan menggubah musik di luar ruangan sementara berjalan-jalan. Ia berkata, “Saya lebih suka pohon daripada manusia.” Beethoven menyukai dunia alam, tetapi sebagai penganut panteisme yang lebih memuja alam daripada Sang Pencipta. “Beethoven bukan orang yang mau tunduk kepada siapa pun, bahkan kepada Allah!” ungkap David Ewen. Rosseau, yang pemikiran-pemikirannya mempengaruhi Beethoven, percaya bahwa orang yang kreatif tidak akan merasa nyaman di tengah masyarakat, karena ia seharusnya mencari keheningan “untuk mengekspresikan dirinya, perasaannya” dan untuk menyelidiki alam bawah sadarnya, guna mengungkapkan misteri dalam dirinya. Pada suatu kesempatan, seorang teman membuatkan Beethoven salinan salah satu partitur musiknya. Musisi itu membubuhkan tulisan, “Berkat bantuan Allah.” Di sebelah bawahnya, Beethoven menulis dengan cakar ayam, “Oh teman, bantulah dirimu sendiri.”

Beethoven jarang harus menulis musik atas perintah orang lain. Ia dapat “berpikir dan berpikir” lalu merevisi sampai karya itu sesuai dengan keinginannya, karena ia tidak punya batas waktu penyelesaian yang harus ditepati. Namun ia menulis musiknya dengan kesulitan besar, dan ia memberikan dirinya sendiri kecaman yang keras. Ia mulai menulis dalam buku-buku catatan semasa mudanya, dan buku-buku itu penuh dengan campuran yang kacau dari ide-ide musiknya dalam semua tahapan perkembangan, sebanding dengan buku-buku catatan Leonardo da Vinci. Dalam dirinya, Beethoven merasakan suatu dorongan yang sangat besar untuk menciptakan musik. Kehidupannya merupakan satu kreativitas yang tak pernah berhenti.

Daya pendengaran Beethoven yang semakin berkurang, yang mulai terjadi awal tahun 1798 saat ia masih berusia 28 tahun, memaksanya untuk meninggalkan kariernya sebagai seorang pemain ahli dan mencurahkan segenap tenaganya untuk membuat komposisi. Gejala pertama ketuliannya pastilah membingungkan dan menakutkannya. Ia mencoba berbagai dokter dan pengobatan dan makin bertambah curiga kepada setiap orang. Sebagai penulis biografinya, Marek menceritakan bahwa Beethoven menulis surat kepada seorang temannya, “Pendengaranku yang buruk menghantuiku di mana pun aku berada; dan aku menghindari … semua masyarakat manusia.” Pada satu masa ia tergoda untuk bunuh diri. “Tapi hanya Seni yang membuatku bertahan,” jelasnya, ” karena tak mungkin bagiku untuk meninggalkan dunia ini sebelum aku menciptakan semua yang aku merasa terpanggil untuk menciptakannya.” Tak lama kemudian ketika keteguhan hatinya telah pulih, ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Aku akan mengalahkah nasib hidupku.” Ia meletakkan tantangan bagi dirinya sendiri dan sederet seniman Romantik setelahnya. “Nasib itu pasti tidak akan menundukkan dan menghancurkanku sama sekali,” ujarnya.

Pada sekitar tahun 1802 sampai 1816, Beethoven mencurahkan sangat banyak kreativitas. Keteguhan hatinya tidaklah langgeng. Ada masa-masa yang kelam, tetapi dalam empat belas tahun itu ia menggubah enam simfoni, Coriolan Overture, Fidelio, dua konserto piano terakhir, kuartet-kuartet, dan sonata-sonata piano melalui Op. 90, termasuk Appasionata.

Pada tahun 1816 ia ditunjuk sebagai wali bagi keponakannya, Karl. Walaupun ia mengasihi anak lelaki itu dengan caranya yang mendominasi dan temperamental, Karl menjadi sumber kesulitan yang terus menerus bagi Beethoven seumur hidupnya. Suatu kali Karl pernah mencoba bunuh diri. Akhirnya mereka bertengkar sangat hebat melalui waktu-waktu sebelumnya, dan Beethoven tak pernah lagi melihat keponakannya itu.

Pada tahun 1817 ia sudah tidak dapat mendengar sama sekali, tetapi kemungkinan besar ia masih mampu “mendengar” musik dengan merasakan vibrasinya. Beban dari ketuliannya itu membantunya memfokuskan perhatiannya pada apa yang menjadi salah satu tema di abad ke-19, yakni kesepian yang melanda manusia.

Tatkala Beethoven memimpin pementasan pertama Simfoni ke-9 karyanya, ia tidak dapat mendengar tepuk tangan penonton, dan seseorang harus memutar badannya agar ia dapat melihat antusiasme penonton. Sementara kreativitasnya semakin meningkat, ia pun semakin menarik diri dari pergaulan, bahkan dari teman-temannya. Kendati kemashyurannya meluas hingga ke seluruh Eropa, hidup Beethoven hampir seperti pertapa.

Dilihat dari sejarah, karya Beethoven dibangun di atas prestasi zaman Klasik, tetapi sosoknya menjulang tinggi seperti patung raksasa di abad ke-18 dan 19, yang menjadi jembatan menuju zaman Romantik. Ia merupakan orang terakhir dalam tiga serangkai komponis klasik dari Wina, yakni Haydn, Mozart, dan Beethoven. Sebelum Beethoven, para musisi menjadi pencipta-pencipta di tengah alam semesta yang teratur. Beethoven bergulat dengan takdir dan musiknya menjadi cara untuk mengekspresikan ide-idenya tentang kemanusiaan. Sebagian kritikus membicarakan dia sebagai nabi yang keras hati, dan kelemahannya adalah sifatnya yang sombong.

Pada umumnya orang sependapat bahwa musik Beethoven dapat dibagi dalam tiga periode: imitasi, eksternalisasi, dan refleksi. Periode pertama, imitasi, berlangsung sekitar tahun 1802, dan meliputi enam kuartet, Op. 18, sepuluh sonata piano pertama, dua simfoni pertama, dan dua konserto piano. Periode eksternalisasi berlangsung sekitar tahun 1802 sampai 1816. Seperti dikatakan sebelumnya, periode ini adalah tahun-tahun penuh kreativitas yang hebat. Pada periode yang terakhir, refleksi, yang berlangsung dari tahun 1817 hingga kematiannya, Beethoven menulis Missa Solemnis in D, Simfoni ke-9, sonata-sonata piano yang terakhir, dan lima kuartet terakhir. 

Piano menempati tempat yang utama dalam seni musik Beethoven. Ia menulis 32 sonata piano, yang bagi literatur piano sama artinya seperti karya-karya Shakespeare bagi drama. Bagi Beethoven, sonata piano merupakan saran untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran dalam batinnya yang terdalam dan paling berani.

Concerto No. 5 (The Emperor) ditulis saat meriam pasukan Napoleon menggempur pintu-pintu gerbang Wina. Dilaporkan bahwa Beethoven mengungsi di sebuah gudang bawah tanah dengan kepala dibenamkan di bawah bantal untuk menjaga daya pendengarannya yang tinggal sedikit.

Salah satu ciri utama musik Beethoven adalah kedalaman isinya yang emosional. Dalam Appasionata, ia menyadari sepenuhnya bahwa piano adalah alat musik perkusi. Karya itu berakhir dengan sejumlah besar trill [ragam nada hias, yaitu memainkan sebuah nada dengan mengikutsertakan satu nada di bawah nada pokok secara bergantian dengan kecepatan tinggi]. Yang khas adalah adanya kontras-kontras yang hebat antara pianissimo [sangat lembut] dan fortissimo. Hingga era Beethoven, kebanyakan musik memegang pola irama yang dapat diprediksi. Salah satu karakteristik musik yang terkenal dari Beethoven adalah adanya unsur kejutan.

Beethoven menulis sepuluh sonata biola, yang paling terkenal adalah Kreutzer Sonata. Di sini biola memiliki deklamasi perkusif. Karya ini semakin terkenal karena Tolstoy menulis sebuah novel berjudul The Kreutzer Sonata yang mengisahkan tentang suami yang suka cemburu yang membunuh istrinya.

Satu operanya, Fidelio, yang berada di tengah jajaran karya terbesar dunia, memberinya kesulitan yang lebih besar dibandingkan dengan karya-karyanya yang lain. Beethoven adalah seorang musisi drama yang hebat, tetapi ia jarang menulis dengan baik untuk musik vokal. Ia mengabaikan keterbatasan suara manusia dan menganggap suara manusia hanya merupakan alat musik lainnya. Ia sering menciptakan musik tak bervokal.

Mustahil untuk membahas simfoni-simfoni Beethoven dengan cukup lengkap dalam beberapa patah kata saja. Masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri yang utuh dan berbeda., tetapi kami akan memberi ulasan singkat untuk setiap simfoninya.

Simfoni ke-1 adalah yang paling Klasik dari sembilan yang ada.

Simfoni ke-2 ditulis selama masa ia mulai menyadari bahwa ia akan menjadi tuli. Ia menulisnya di tengah keadaannya yang depresi. Simfoni ini memperlihatkan kesederhanaan dan secercah cahaya yang energik dan menyala-nyala.

Simfoni ke-3 merupakan ekspresi abadi dari kebesaran yang heroik. Ini merupakan hasil dari keagungan dan kehebatan. Beethoven mempersembahkan simfoni ini untuk Napoleon, yang ia puja sebagai seorang pahlawan yang memimpin umat manusia menuju zaman baru kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Namun ketika Beethoven mendengar bahwa Napoleon menobatkan dirinya sendiri sebagai kaisar, dengan marah ia merobek halaman dedikasi dan mengganti judul simfoni ini menjadi Eroica.

Dilihat dari musik, zaman Napoleon (1769-1821) merupakan zaman Beethoven. Zaman Revolusi terjadi selama masa kebangkitan besar ego manusia dalam filsafat dan kesenian. Para filsuf masa Pencerahan abad ke-18 mempersiapkan jalan menuju pergolakan politik yang dahsyat yang disebut Zaman Revolusi. Simbol abad Pencerahan adalah tanda tanya, dan orang yang menjadi tokoh abad Pencerahan adalah Voltaire, salah seorang yang terbesar dari semua penulis Prancis, yang mempertanyakan keabsahan Alkitab dan meletakkan keyakinannya pada pertimbangan akal sehat manusia. Musuh Voltaire adalah Rosseau, yang menaruh sedikit kepercayaan pada akal sehat manusia. Rosseau percaya akan adanya peran, kebebasan, dan kebaikan manusia, tetapi watak dan kehidupannya sendiri tidak mencerminkan itu. Istrinya mempunyai lima anak, dan Rosseau mengirim mereka semua ke panti asuhan.

Simfoni ke-4 merupakan simfoni yang energik. Di dalamnya Beethoven melepaskan kegemparan ledakan kegembiraan.

Simfoni ke-5 merupakan pelukisan musikal tentang perjuangan Beethoven dengan ketulian. Seperti halnya Goethe, Beethoven percaya akan nasib yang kejam.

Simfoni ke-6 atau Pastoral Symphony merupakan titik awal musik Romantik. Ini merupakan satu-satunya simfoni di mana Beethoven memberinya program. Masing-masing dari lima gerakan yang ada menunjukkan pemandangan kehidupan pedesaan. Beethoven memberi tahu temannya bahwa burung puyuh, burung bulbul, dan burung kecil berwarna kuning di sekitar Heiligenstadt, tempat ia melewatkan waktunya selama beberapa kali musim panas, menolongnya untuk menggubah simfoni ini.

Simfoni ke-7 berisi salah satu dari gerakan Beethoven yang paling terkenal, yaitu gerakan kedua, yang barangkali sangat berpengaruh pada komponis-komponis Romantik. Keseluruhan simfoni dikontrol oleh ide-ide ritmis yang tetap. Wagner menyebutnya “Perwujudan sempurna dari suatu tarian.” 

Simfoni ke-8 terdengar anggun dan rumit.

Simfoni ke-9 merupakan lagu pujian untuk persaudaraan manusia yang universal. Di dalamnya Beethoven menyatakan tentang datangnya sukacita melalui penderitaan. Hal baru yang paling mencolok dari simfoni ini adalah digunakannya paduan suara dan suara-suara solo seolah-olah orkestra telah sampai pada tahap perkembangan yang teratas sehingga tak dapat naik lebih tinggi lagi dan membutuhkan kolaborasi seni vokal.

Lima kuartet terakhir Beethoven, bersamaan dengan Great Fugue, dianggap sebagai puncak prestasinya. Burk berkata, “Lima kuartet terakhir dpaat dipandang sebagai puncak dari semua yang dikerjakannya selama ini, dan semua yang telah ada sebelumnya dapat dianggap sebagai persiapan.” Kuartet-kuartet ini  menyibukkan tiga tahun terakhir hidupnya. Roh Beethoven yang tersiksa dan tidak mau menyerah membutuhkan kesendirian dalam bekerja, dan kelima kuartet ini mengungkapkan pengasingan dirinya dan rasa kesepiannya yang tak terkatakan karena ia menutup dirinya dari orang lain. Musik, bagi Beethoven, menjadi masalah penarikan dirinya dari pergaulan.

Jika kita hidup di zaman seniman bertalenta luar biasa dan berdedikasi tinggi seperti Beethoven, maka kita tidak akan dapat lepas dari pengaruhnya. Grout menyatakan, “Beethoven merupakan kekuatan yang paling mengacaukan dalam sejarah musik. Karya-karyanya membuka pintu gerbang menuju dunia yang baru.” Dan menuju dunia yang hancur, jika saya boleh menambahkan. Dengan mengatakan ini, kami tidak bermaksud mengatakan bahwa musiknya tidak indah, tidak mengagumkan, tidak mulia, dan tidak agung. Allah adalah Sang Pemberi talenta, tetapi tidak semua orang yang bertalenta mengakui hal itu dan mengucap syukur kepada Allah. Baru-baru ini saya ditanya oleh seorang murid di L’Abri, “Apa hubungan filsafat dengan musik?” Salah satu tujuan penulisan buku ini adalah untuk menunjukkan betapa kepercayaan dan pemikiran kita mempengaruhi apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Fakta bahwa Beethoven menganut pandangan dunia yang meniadakan keutuhan rohani menyebabkan musiknya bergerak ke arah disintegrasi menjelang akhir hayatnya.

Sebagai komponis, ia melakukan pencarian yang tak kunjung berakhir untuk mendapatkan bentuk ideal yang akan mengekspresikan dengan lengkap kesatuan yang telah ia impikan sejak awal. Namun sebagaimana yang dijelaskan Francis Schaeffer dalam bukunya How Should We Then Live?, humanisme gagal mencapai kesatuan dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting dalam kehidupan. Kebenaran Alkitab yang dinyatakan tentang Allah Trinitas memberikan satu-satunya pandangan dunia yang menyediakan kesatuan antara hal-hal absolut yang universal dan fakta-fakta kehidupan manusia. Dalam Yesus Kristus, Allah memberikan kepada setiap orang percaya keutuhan rohani dan kepuasan intelektual yang memberi makna dan kepuasan untuk hidup.

Kuartet-kuartet terakhir Beethoven, yang konsisten dengan pandangan dunianya, berubah menjadi abstrak dan mistis. “Almarhum Beethoven,” menurut seorang penulis biografi, Alfred Einstein, “telah dipandang sebagai perusak bentuk.” Bahasa dari kuartet-kuartet terakhirnya terdengar keras dan sususannya tak dapat diprediksi. Sebagian gerakan tak biasanya dibuat panjang, dan lainnya secara mengherankan dibuat pendek. Disonansi yang sering muncul mendahului musik abad ke-20. Tatkala musik Beethoven  menjadi semakin mistis, musik itu kehilangan bentuk-bentuk tradisionalnya. Ciri lain dari karya terakhirnya adalah kontinuitas yang ia capai dengan cara mengaburkan garis-garis pembagi dengan sengaja. Seseorang akan merasakan awal dari hilangnya kategori musik.

Dalam kuartet-kuartet ini Beethoven menggunakan materi tematis yang terpisah-pisah dan tonalitas yang tidak jelas. Sebenarnya, penggunaan formal materi tematis telah ditinggalkan, dan sebagai gantinya dipakai tema yang menyela tema. Bagian-bagian melodinya divariasi, diubah bentuknya, lalu hampir dengan sengaja dihentikan dan dikembalikan. Prinsip variasi ini kemudian diambil dan diterapkan lebih lanjut oleh Arnold Schoenberg dalam variasi-variasinya yang sambung menyambung, topik yang akan dibahas di bab lain.

Kuartet-kuartet terakhir Beethoven disebut musik masa depan, dan banyak musik yang kita dengarkan sekarang merupakan hasil dari pengaruh Beethoven.

Beethoven dilahirkan sebagai seorang Katolik, tetapi ia tak pernah ke gereja. Saat terbaring dalam keadaan sekarat (ia meninggal karena komplikasi radang paru-paru, sirosis hati, dan busung air), ia menjalani sakramen terakhir, tetapi ia memandang semua pastor dengan sikap curiga. Marek menggambarkan kematian Beethoven demikian, “Hari terasa sangat dingin; salju telah turun. Sekitar pukul lima, tiba-tiba datanglah badai dahsyat di langit. Langit menjadi sangat gelap. Mendadak cahaya kilat yang besar menerangi kamar Beethoven, disertai dengan bunyi guntur yang keras. Waktu cahaya kilat itu menyambar, Beethoven membuka matanya, mengangkat tangan kanannya yang mengepal kuat-kuat, lalu tangan itu jatuh kembali, ia meninggal. Waktu itu sekitar pukul 17.15, 26 Maret 1827.” Kerumunan orang yang sangat banyak menghadiri pemakamannya. Franz Schubert adalah salah seorang pembawa obornya.

Orang-orang di seluruh dunia mengenal dan menghargai musik Beethoven. Dalam beberapa hal, musiknya menarik bagi kita karena banyak di antaranya yang mengungkapkan perjuangan dan penderitaannya, dan kita menyamakan diri dengannya. Dalam suratnya seringkali Beethoven bertanya, “Apa gunanya ini semua?” Namun ketika menggubah musik, ia jarang menanyakan hal itu hingga pada saat-saat terakhir hidupnya. Dalam banyak musiknya, Beethoven menyeimbangkan antara penderitaan dengan penghiburan sehingga memberi kesan adanya kekuatan.

Tentu saja kita perlu mendengarkan musik Beethoven. Musik itu menyatukan pikiran dan emosi yang sering kali lebih kuat daripada yang dapat kita hasilkan. Namun jangan pernah mendengarkan dengan acuh tak acuh dan tanpa kebijaksanaan. Nikmati dan hargai apa yang baik, tetapi ingatlah bahwa baik bagi para komponis maupun bagi kita semua berlaku hal ini: apa yang kita percayai mempengaruhi seluruh hidup kita.

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Five Piano Concertos

Concerto in D for Violin

Fidelio

Last Five Quartets

Piano Sonata No. 8, Pathetique

Piano Sonata No. 14, Moonlight

Piano Sonata No. 21, Waldstein

Piano Sonata No. 23, Appasionata

Violin Sonata No. 9, Kreutzer

Nine Symphonies

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books.)

Read Full Post »

liszt1

Franz Liszt dilahirkan pada tahun munculnya komet Halley, dan kehidupannya sendiri bagaikan suatu fenomena yang cemerlang. Ia mengarungi hidup ini cukup lama di sepanjang abad ke-19, dan ia salah seorang tokoh yang paling bersemangat dalam sejarah musik dan menjadi legenda dari zaman Romantik.

Sulit melukiskan tentang dirinya karena ia seorang yang sangat kompleks. Dalam pandangan dunia, ia tampaknya memiliki segalanya: kepribadian yang menarik, energi dan kekuatan yang luar biasa, tampan, mampu mendapatkan apa yang dinginkannya dari orang-orang, ditambah bakat musik yang besar. Namun, dalam batinnya sesungguhnya ia seorang yang gelisah dan tidak bahagia.

Liszt seorang yang murah hati dan baik namun dapat dengan cepat berubah menjadi arogan dan tak terduga. Ia juga terlalu berlebihan dan ekstrem dalam melakukan segala sesuatu. Ia tak pernah menikah, tetapi selalu jatuh cinta pada beberapa putri bangsawan dan tentunya menikmati keberadaannya yang dikelilingi oleh para wanita yang cantik, kaya, dan dari kalangan ningrat. Karyanya “Liebestraum” (“Dream of Love”/”Impian Cinta”) merupakan salah satu komposisi piano terpopuler sepanjang zaman.

Franz Liszt mungkin merupakan maestro terbesar dari semua alat musik dengan papan tuts yang pernah dikenal dunia, bukan hanya karena prestasinya yang sangat banyak, melainkan juga karena tuntutan teknik yang luar biasa dalam memainkan musik pianonya. Pada puncak kemashyurannya sebagai pianis (usia 37 tahun), ia berhenti bermain di konser-konser karena ingin berkonsentrasi pada komposisi dan membantu musisi-musisi lain. Kita dapat berkata bahwa ia lebih tepat disebut sebagai komponis yang berpengaruh daripada komponis besar, dan dengan “kerajinannya yang tak pernah padam”, ia menggubah sangat banyak musik. Yang jelas, dengan not-not yang mengalir deras seperti itu, itu pun belum sampai pada kualitas maksimal.

Liszt merupakan salah satu sosok yang paling agung, menggemparkan, dan paling tidak mementingkan diri sendiri di dunia musik, dan sebagai orang yang berbakat seperti dirinya, kemurahan hatinya kepada seniman yang lain nyaris tak dapat dipercaya. Jauh lebih lazim jika orang dengan kecakapan seperti dirinya meninggikan dirinya sendiri. Ia mencintai dunia dan kesenangan duniawi, namun dalam dirinya Liszt juga haus akan hal-hal batiniah yang tentunya akan menjelaskan mengapa ia begitu memerhatikan orang lain. Franz Liszt memang seorang yang penuh kontradiksi. “Romantisisme yang bergejolak” membuatnya tak tenang dan itu berlangsung sepanjang 75 tahun kehidupannya. Dan meskipun akhirnya memperoleh empat dari tujuh jenjang keimaman yang ada, ia terus bimbang antara kerinduannya akan rasa aman spiritual dan kecintaannya akan sensasi dunia. Orang hanya dapat berharap semoga ia mendapatkan damai dengan Allah sebelum harus bertemu dengan Sang Pemcipta dan Sang Pemberi segala karunia.

Dalam surat kepada ibunya pada tahun 1862, Liszt menulis, “Engkau tahu, ibu yang tersayang, betapa di sepanjang tahun-tahun yang kulalui di masa mudaku tak ada hal-hal yang sebegitu limpah dalam kebahagiaan seperti kebaikan dan kasih sayang Allah. Walaupun aku banyak melakukan kekeliruan dalam hidupku, tak ada dan tak seorang pun yang dapat menggoyahkan imanku dalam keselamatan kekal.”

Franz Liszt dilahirkan di kota kecil Raiding di Hungaria, di mana ayahnya, Adam Liszt, seorang penggemar musik, menjadi pengurus kekayaan keluarga Esterhazy. Ayahnya masih ingat pada Haydn dan juga pernah diperkenalkan pada Hummel dan Cherubini.

Seperti kebanyakan komponis lainnya, Liszt seorang anak yang luar biasa pandai. Pada usia 7 tahun ia sudah dapat memainkan piano dengan sangat baik, usia 8 tahun ia membuat komposisi musik, usia 9 tahun ia mengadakan konser-konser, dan usia 10 tahun ia belajar musik di Wina pada Czerny dan Salieri. Ia diperkenalkan kepada Schubert dan Beethoven. Hati Beethoven bergetar tatkala mendengar permainan musik Liszt yang masih muda sehingga ia mencium kening anak itu.

Setelah masa-masa di Wina itu, keluarga Liszt pindah ke Paris. Tak lama kemudian, Liszt menjadi kesayangan di salon-salon Prancis. Lalu pada tahun 1827 ayahnya meninggal secara tiba-tiba dengan perkataan ini keluar dari mulutnya: “Ayah takut dengan para wanita karena kamu; mereka akan menyulitkan dan mendominasi hidupmu.” Peringatan itu terbukti.

Hubungan cintanya yang pertama dan terkenal buruk adalah dengan Countess d’Agoult. Itu terjadi saat ia berusia 22 tahun. Wanita itu meninggalkan suaminya dan lari dengan kekasih pilihannya ke Jenewa, Swis, tahun 1835. Setelah dikaruniai tiga anak, mereka berdua berpisah dalam kepahitan. Salah satu putri mereka yang didapat dari hubungan di luar nikah, Cosima, akhirnya menikah dengan murid Liszt, Hans von Bülow. Dan mengikuti jejak sang ayah, setelah beberapa lama Cosima lari dengan Wagner. Selama masa yang kacau namun bahagia ini, Liszt menciptakan Années de Pèlerinage, versi pertama dari Paganini Studies, dan kedua belas Grandes Etude. Dengan selera seninya yang bagus wanita bangsawan itu memberi pengaruh yang baik bagi Liszt, mengarahkannya pada hal-hal yang dapat ia kerjakan dengan sukses.

Beberapa tahun sebelum hubungannya dengan Countess d’Agoult, ia bertemu dengan tiga tokoh yang luar biasa, yakni Paganini, Chopin, dan Berlioz. Seluruh cara pendekatan Liszt pada musik berubah setelah ia mendengarkan Paganini, pemain biola terbesar sepanjang zaman. Selama kira-kira dua tahun, Liszt praktis menjalani kehidupan seperti seorang pertapa denga tujuan untuk dapat berlatih dengan intensitas dan kerajinan yang pernah dilakukan oleh sedikit orang sebelumnya atau sesudahnya. Setelah bekerja keras, ia pun tampil kembali dan dengan cepat dikenal sebagai Paganini-nya alat musik dengan papan tuts. Beberapa musik terbaiknya adalah Paganini Studies, yang dipersembahkan untuk Clara Schumann.

Chopin membukakan sumber baru berkenaan dengan puisi kepada Liszt, dan gayanya dalam memainkan piano didasarkan pada gaya Chopin. Dalam sepucuk surat Chopin menulis, “Liszt memainkan etude-etude saya dan mengeluarkan saya dari pikiran saya yang mulia. Seharusnya saya mencuri gaya permainannya untuk memainkan etude saya.”

Pengaruh kuat yang ketiga bagi Liszt adalah Berlioz, khususnya karyanya Symphonie Fantastique, yang disalin Liszt untuk dimainkan pada piano. Di kemudian hari Liszt menggubah simfoni Faust, ia mempersembahkannya untuk Berlioz. Simfoni ini dianggap sebagai suatu adikarya.

Tatkala berada di puncak kejayaannya sebagai pianis (1840-1848), ia membuat para penonton takjub dengan kecemerlangan dan dinamika permainan musiknya. Wanita-wanita jatuh pingsan di konsernya. Yang lainnya berjuang mendapatkan benda milik Liszt – saputangan, sekuntum bunga, atau kotak tembakau. Waktu tujuh atau delapan tahun kariernya dalam bermain piano telah membawanya ke Berlin, Kopenhagen, Konstantinopel, Leipzig, Lisbon, London, Madrid, Moskwa, St. Petersburg, dan Warsawa, serta kota-kota lain yang lebih kecil. Liszt benar-benar menciptakan kebiasaan resital piano solo.

Saat konser, ia akan mengenakan pakaian yang menakjubkan. Manakala bermain musik, ia senantiasa mengibaskan ke belakang rambutnya yang panjang, dengan bibir bergetar, dan cuping hidung bergerak-gerak. Ia menarik penonton dengan permainannya yang hebat, tetapi gayanya yang berlebihan juga membuat orang memujanya.

Novelis George Eliot menggambarkan reaksinya terhadap Liszt: “Akhirnya datang juga sesuatu yang saya rindukan – permainan musiknya. Saya duduk di dekatnya sehingga dapat melihat tangan dan wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menyaksikan inspirasi yang nyata – untuk pertama kalinya saya mendengar nada-nada piano yang sejati….”

Tahun 1847 Liszt mengadakan tur besarnya yang terakhir, dan di Kiev ia bertemu dengan Putri Carolyne Wittgenstein yang luar biasa kaya, mengisap cerutu, yang saudara lelakinya adalah kaisar Rusia. Ia menyusul Liszt di Weimar, dan membuat skandal yang membuat malu semua orang. Dari tahun 1848 hingga 1861, Liszt menjadi pemimpin musik istana di Weimar.

Sang putri membujuk Liszt agar mau menghentikan kariernya sebagai virtuoso piano keliling, yang memperburuk kondisi kesehatannya, dan berkonsentrasi pada komposisi. Selama dua belas tahun kemudian ia menciptakan atau merevisi sebagian besar karya utamanya yang membuat ia terkenal. Masa itu merupakan masa produktivitas yang luar biasa. Setelah tahun 1847, Liszt tidak menghasilkan uang meski ia bermain musik, mengajar, dan menjadi dirigen.

Liszt dan Putri Wittgenstein tinggal di villa Altenburg. Dalam masa ini Liszt menggubah dan mempublikasikan Sonata in B Minor (salah satu adikarya dalam literatur piano abad ke-19), Hungarian Rhapsodies, Paganini Etudes, dan Transcendental Etudes. Juga dalam tahun-tahun inilah ia menulis dua belas sajak simfoni (termasuk yang terkenal Les Preludes), Faust dan Dante Symphonies, dan banyak karya-karya kecil lainnya.

Sebagai pemimpin musik istana di Weimar, dengan semangat ia mendorong gerakan Romantik dengan cara mendirigeni banyak komposisi baru, termasuk karya Wagner Tannhauser dan Lohengrin. Wagner dan Liszt berteman, dan akhirnya Wagner menjadi menantunya. Kata Wagner kepada Liszt, “Musik kita adalah musik masa depan.”

Liszt benar-benar hanya menyukai musik dari zamannya. Ia hampir tidak mempunyai minat pada musik kuno, kecuali musik Bach, dan dengan menampilkan karya-karya modern dari komponis seperti Wagner, Berlioz, dan Schumann, Liszt membuat Weimar menjadi pusat musik di Eropa.

Pada masa ketika tidak ada radio, televisi, atau piringan hitam, salinan piano Liszt yang sangat sukar dan luar biasa dari opera-opera dan lagu-lagu itu tidak hanya memberi jasa yang besar bagi komponis asli, tetapi juga membantu menyebarkan minat orang pada musik yang bermutu. Sebuah contoh yang bagus adalah Grand Fantasynya yang terdapat pada opera Bellini Norma, sebuah opera yang berpengaruh besar pada Chopin, Wagner, dan Liszt.

Orang sulit memahami bagaimana mungkin Liszt masih memiliki waktu untuk murid-muridnya, tetapi memang sudah menjadi bagian dalam hidupnya bahwa ia akan mengajar dan memberi dorongan pada musisi-musisi muda. Banyak dari muridnya yang di kemudian hari memiliki karier yang sangat sukses. Nama-nama muridnya akan memenuhi banyak halaman, termasuk musisi bermutu seperti Albéniz, Bizet, Saint-Saëns, Smetana, dan lain-lain. Musisi lain yang musiknya dipublikasikan karena pengaruh Liszt adalah César Franck, Borodin, Dvorak, Vincent d’Indy, Grieg, dan MacDowell. Dunia ini semakin semarak karena para komponis ini, dan kita berutang kepada Franz Liszt. Salah satu pekerjaan tersulit bagi seniman baru adalah menerbitkan karyanya. Liszt tak pernah meminta imbalan uang atas pelajaran dan bantuan yang diberikannya.

Seperti yang sudah kami katakan sebelumnya di bab ini, sebagian dari diri Liszt tertarik pada perkara religius. Pada tahun 1841 ia telah menjadi Freemason karena mendapat dorongan dari Putri Wittgenstein, seorang religius yang mempercayai hal-hal mistis. Mereka ingin menikah tetapi gereja menentang, dan segera setelah itu mereka pun berpisah dan menempuh jalan masing-masing.

Pada tahun 1865 Liszt memperoleh empat dari tujuh jenjang keimaman. Ia tidak diizinkan menjadi pastor karena masa lalunya yang sembrono. Namun setelah ia mengenakan jubah pastornya, semua orang mengenalnya sebagai “the Abbé”. Selama ini ia menggubah musik untuk Mazmur 13, dua oratorio besar (The Legend of St. Elizabeth dan Christus), dan dua komposisi piano (“The St. Francis Legends”).

Menjadi seorang abbé tidak banyak mengubah cara hidupnya. Seorang sejarawan menggambarkan Liszt sebagai “Mephistopheles [Iblis yang kuat dalam drama Faust] yang menyamar sebagai abbé”. Mula-mula ia diberi sebuah apartemen di Vatikan yang berseberangan dengan Loggie of Raphael. Kemudian melalui seorang teman kardinalnya, tiap tahun ia melewatkan setidaknya sebagian dari tahun itu di Villa d’Este di Tivoli dan bulan-bulan sisanya di Budapes dan Weimar.

Villa d’Este memiliki satu dari tiga atau empat taman terindah di dunia. Dalam biografinya yang istimewa tentang Liszt, Sitwell berkata, “Pohon-pohon cemara raksasa di taman dan suara semua air tidak dapat lebih ditingkatkan untuk puisi dan musik. Di tengah pesona inilah usianya semakin bertambah, dan pastilah ia lebih banyak berkarya di Villa d’Este daripada di tempat lain pada tahun-tahun itu.” Komposisi piano yang indah seperti “Cyprès de la Villa d’Este” dan “Les jeux d’eaux à la Villa d’Este” terinspirasi di sana. Liszt memang terhebat dalam musik pianonya. Dua konserto pianonya tak tertandingi dalam hal kepiawaian teknik permainannya yang autentik dan agung.

Kesenangan Liszt dalam melakukan perjalanan keliling berlanjut terus hingga akhir hayatnya. Ia tak dapat tinggal di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama, dan pada salah satu kunjungannya ke Hungaria ia tinggal di rumah seorang baron yang kaya bersama dua tamu lainnya, yakni von Bülow, seorang dirigen, dan Reményi, seorang pemain biola yang berbakat luar biasa.

Begitu diteriakkan di sepanjang jalan bahwa Liszt ada di kota, dengan cepat sekelompok orang yang terdiri dari tujuh atau delapan ribu orang berkumpul di lapangan di luar rumah sang baron. Liszt mendekati jendela yang terbuka, dan bukannya berbicara dengan masyarakat, ia malah menggeser piano ke dekat jendela sehingga orang-orang dapat melihat dan mendengarnya. Mula-mula ia memainkan sebuah rapsodi bersama Reményi, kemudian “Rákóczy March” untuk empat tangan bersama von Bülow. Hal itu menimbulkan kegemparan.

Sekitar waktu itu, seorang koresponden menulis dan menanyai Liszt apakah ia akan mengakhiri musiknya setelah menjadi abbé. “Benar,” jawabnya, “bahwa aku bergabung dalam profesi kependetaan, tetapi sedikit pun bukan karena kebencian pada dunia dan keletihan pada musikku.”

Saat berusia 75 tahun, Franz Liszt melakukan tur konsernya yang terakhir, bermain di Paris dan kemudian di London untuk Ratu Victoria. Ia kembali ke Bayreuth untuk menghadiri festival musik Wagner. Di sana ia terkena radang paru-paru dan meninggal tahun 1886. Kata terakhirnya adalah “Tristan.”

Kini Franz Liszt dipandang sebagai salah satu inovator besar abad ke-19. Musiknya memiliki kekhususan dan menghadirkan suatu masa yang istimewa dalam sejarah musik di mana sang virtuoso menjadi raja dan kepiawaian teknik permainan musiknya menjadi yang terhebat. Seperti yang dikatakan Schonberg, “Musiknya diciptakan untuk dikagumi.”

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Années de Pèlerinage

Piano Concertos E flat and A

Faust Symphony

Hungarian Rhapsodies

Mephisto Waltz

Opera Transcriptions

Les Preludes

Sonata in B for Piano

Sonetti del Petrarca

Transcendental Etudes

Un Sospiro

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books)

Read Full Post »

Irish: Danny Boy Lyrics

Oh Danny boy, the pipes, the pipes are calling

From glen to glen, and down the mountain side

The summer’s gone, and all the flowers are dying

‘Tis you, ’tis you must go and I must bide.

 

But come ye back when summer’s in the meadow

Or when the valley’s hushed and white with snow

‘Tis I’ll be here in sunshine or in shadow

Oh Danny boy, oh Danny boy, I love you so.

 

And if you come, when all the flowers are dying

And I am dead, as dead I well may be

You’ll come and find the place where I am lying

And kneel and say an “Ave” there for me.

 

And I shall hear, tho’ soft you tread above me

And all my dreams will warm and sweeter be

If you’ll not fail to tell me that you love me

I’ll simply sleep in peace until you come to me.

 

I’ll simply sleep in peace until you come to me.

Read Full Post »

Heidenröslein

Sah ein Knab’ ein Röslein sethn,

Röslein auf der Heiden;

war so jung und morgenschön,

lief er schnell, es nah zu sehn, 

sah’s mit vielen Freuden.

Röslein, Röslein, Röslein rot,

Röslein auf der Heiden!

 

Knabe sprach: “Ich breche dich,

Röslein auf der Heiden”; 

Röslein sprach: “Ich steche dich, 

daß du ewig denkst an mich, 

und ich will’s nicht leiden!”

Röslein, Röslein, Röslein rot,

Röslein auf der Heiden!

 

Und der wilde Knabe brach

‘s Röslein auf der Heiden;

Röslein wehrte sich und stach,

half ihm doch kein Weh und Ach, 

mußt es eben leiden.

Röslein, Röslein, Röslein rot,

Röslein auf der Heiden! 

 

 

(Johann Wolfgang von Goethe, 1749-1832)

 

Read Full Post »

Older Posts »