Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Psikiatri’ Category

 

Disadur dari:

http://suluk.wordpress.com/2009/09/16/introvert/#comment-4936

Oleh Jonathan Rauch, diterjemahkan oleh Hery Mardian

http://www.theatlantic.com/doc/200303/rauch

Pernah kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau skill basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu menghabiskan waktu sisanya untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah?

 

Kalau iya, apa menurut anda orang ini “terlalu serius”? Atau perlu ditanya, “kamu baik-baik aja?” Atau mungkin dia memang sengaja menjaga jarak, angkuh, tak sopan atau tidak bisa membawa diri? Bahkan diperlukan usaha dua kali lebih keras lagi untuk membuatnya mau menjelaskan ada apa sebenarnya.

 

Kalau jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “ya”, maka hampir pasti anda sudah bertemu dengan seorang introvert—dan hampir pasti pula bahwa anda tidak memperlakukan dia sebagaimana seharusnya.

 

Di tahun-tahun belakangan ini, sains sudah mempelajari banyak hal tentang perilaku maupun kebutuhan para introvert. Bahkan sudah diketahui pula—melalui pemindaian otak—bahwa otak orang-orang introvert mengolah informasi dengan cara yang berbeda dengan orang lain (saya tidak sedang mengada-ada!).

 

Kalau anda ternyata belum tahu fakta ini, anda memang tidak sendirian. Keberadaan orang-orang introvert mungkin sangat umum, tapi di Amerika, termasuk di dunia, mereka adalah golongan yang paling banyak disalahpahami dan dibuat merasa tertekan .

 

Saya sungguh-sungguh tahu itu. Nama saya Jonathan, dan saya seorang introvert.

 

Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya mengingkari ini. Lagipula saya adalah orang yang memiliki kemampuan sosial yang baik. Saya sama sekali bukan orang yang pemurung atau tidak suka orang lain. Umumnya, saya jauh dari pemalu. Saya sangat menyukai obrolan-obrolan panjang tentang pemikiran-pemikiran mendalam, atau tentang hal-hal menarik yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Namun akhirnya saya mengenali hal itu pada diri saya, dan tetap tampil dengan membuka diri sebagai seorang introvert pada teman-teman maupun rekan kerja. Dengan cara ini saya terbebas dari banyak sekali kesalahpahaman atau labelisasi yang menyakitkan.

 

Kini, saya ingin menjelaskan apa yang harus anda ketahui sehingga anda bisa memberikan respon yang tepat sekaligus mendukung pada keluarga, teman maupun rekan kerja anda yang introvert. Perhatikan: pasti ada dari mereka yang anda kenal, anda hormati, atau yang dengannya anda berinteraksi setiap hari, adalah seorang introvert; sementara bisa jadi anda malah “menyiksanya” bila tak paham rambu-rambunya.

 

 

Apa Itu Introversi?

Dalam tampilan modernnya, konsep ini diperkenalkan tahun 1920-an oleh Carl Jung, psikolog yang terkenal itu. Hari ini introversi adalah salah satu tiang utama dalam banyak tes identifikasi kepribadian, termasuk tes Myers-Briggs Type Indicator yang sangat banyak digunakan itu.

 

Para introvert tidak mesti pemalu. Orang pemalu merasa cemas, takut, atau mengutuki dirinya sendiri dalam lingkungan sosial; sedangkan para introvert biasanya tidak demikian. Para introvert juga bukan orang yang misantropik atau pembenci umat manusia, walaupun ada beberapa dari kami yang sepakat dengan kata-kata Sartre, “Neraka adalah adanya orang lain ketika sarapan.” Namun akan lebih tepat jika dikatakan bahwa (berinteraksi dengan) orang lain itu melelahkan bagi para introvert.

 

Para ekstrovert menjadi “hidup” dengan kehadiran orang lain, dan akan layu serta kehilangan kecemerlangan mereka jika sendirian. Ekstrovert kerap tampak seperti bosan dengan dirinya sendiri. Tinggalkan seorang ekstrovert sendirian selama dua menit, maka ia akan segera meraih ponselnya. Sebaliknya, setelah satu atau dua jam bersosialisasi, kami para introvert membutuhkan saat-saat off sejenak untuk mengisi ulang batere kami. Saya sendiri, rumus kebutuhan saya adalah dua jam off untuk setiap satu jam bersosialisasi.

 

Ini sama sekali bukan anti-sosial. Ini juga bukan tanda depresi, dan tidak membutuhan tindakan medis apa pun. Bagi para introvert, dibiarkan sendiri menyelami pikirannya itu sama menyegarkannya dengan tidur, dan sama bergizinya seperti makan. Motto kami, “Saya senang, kamu senang, sama-sama senang—sedikit tapi sering.”

 

 

Berapa Banyak Orang Introvert?

Saya melakukan riset mendalam untuk menjawab pertanyaan ini, di Google. Jawabannya: sekitar 25 persen dari seluruh populasi. Atau kurang dari setengah. Atau, —favorit saya—“Kelompok minoritas di kalangan umum, tapi mayoritas di kalangan manusia berbakat”.

 

Apakah Para Introvert Kerap Disalahpahami?

Sangat, di mana-mana. Seakan-akan itu memang sudah jadi porsi kami. “Sangat sulit bagi seorang ekstrovert untuk memahami introvert,” tulis pakar pendidikan Jill D. Burruss dan Lisa Kaenzig (mereka jugalah yang menjadi sumber kutipan kalimat favorit di akhir paragraf sebelumnya). Namun para introvert mampu memahami ekstrovert dengan sangat mudah, karena para ekstrovert menggunakan begitu banyak waktu mereka untuk berusaha keras menunjukkan siapa dirinya—dengan pembicaraan yang begitu banyak dan kadang tak bisa dihindari—ketika berinteraksi dengan orang lain. Mereka begitu terbukanya, seperti seekor anak anjing yang sedang lucu-lucunya.

 

Namun sayangnya jalan ini hanya jalan satu arah. Para ekstrovert hanya memiliki pemahaman yang sedikit, atau bahkan sama sekali tidak memahami, persoalan introversi. Mereka berasumsi bahwa kebersamaan, khususnya jika bersama mereka (yang ekstrovert), adalah hal yang selalu lebih menyenangkan bagi semua orang. Mereka tidak mampu membayangkan bagaimana mungkin ada manusia yang butuh untuk sendirian; bahkan kerap justru merasa tersinggung kepada mereka yang mengemukakan kebutuhan menyendirinya ini. Sesering saya berusaha menjelaskan hal ini kepada para ekstrovert, saya belum pernah benar-benar merasa yakin bahwa mereka sungguh-sungguh memahami. Biasanya mereka cuma mendengarkan sesaat, lalu kembali menggonggong dan mendengking lucu.

 

 

Apa Para Introvert Tersisih?

Apa boleh buat, saya harus mengatakan “ya”. Lihat satu hal, bahwa para ekstrovert sudah terlalu banyak terwakili dalam dunia politik, profesi yang sangat menyenangkan hanya bagi mereka yang gemar bicara kesana kemari. Lihat George W. Bush. Lihat Bill Clinton. Mereka seperti sangat penuh daya hidup ketika keberadaannya disekitar orang lain. Jika mengingat kembali beberapa introvert yang berhasil menyentuh puncak di dunia politik—Calvin Coolidge, Richard Nixon—justru menegaskan hal tersebut. Pengecualian, mungkin Ronald Reagan, yang terkenal menjaga jarak emosional maupun kehidupan pribadinya, bisa jadi merupakan tanda adanya garis introvert yang dalam (saya pernah baca, banyak sekali aktor adalah introvert; dan banyak introvert, ketika bersosialisasi, merasa seperti sedang akting), para introvert tidak dipandang “berbakat alami” dalam dunia politik.

 

Maka, ekstrovert lebih mendominasi dunia publik. Ini sebenarnya patut disayangkan. Jika para introvert yang menjalankan kepemimpinan di dunia, agaknya dunia akan menjadi tempat yang lebih tenang, lebih waras dan lebih damai. Konon Coolidge pernah bilang, “Tahukah anda, bahwa empat dari lima persoalan hidup akan hilang jika kita bisa duduk diam dan tenang?” (Ia juga konon pernah bilang, “Kalau seseorang diam, maka ia tidak akan diminta untuk mengulangi.” Satu hal yang paling tidak disukai introvert selain berbicara tentang dirinya, adalah mengulangi apa yang diucapkannya).

 

Karena kebutuhan akan bicara dan perhatian yang tak habis-habisnya, para ekstrovert lebih dominan dalam kehidupan sosial sehingga standar-standar pun ditetapkan secara ekstrovert. Dalam masyarakat ekstrovertis kita ini, orang yang terbukalah yang dianggap normal, sehingga orang semua orang ingin menjadi terbuka. Sifat “terbuka” menjadi ciri kebahagiaan, percaya diri, atau kemampuan memimpin. Orang yang ekstrovert kerap disebut dengan kata-kata “besar hati”, “menularkan kebahagiaan”, “hangat”, “empatik”. “Sosok yang disukai semua” menjadi sebuah pujian. Introvert, sebaliknya, umumnya dideskripsikan dengan kata-kata seperti “terlalu berhati-hati”, “penyendiri”, “lambat”, “tak suka bicara”, “tak butuh orang lain”, “pilih-pilih teman”—kata-kata yang sempit, tak ramah, kata-kata yang bermakna miskin secara emosional, atau kepribadian yang kerdil.

 

Para perempuan introvert, menurut saya, adalah yang paling menderita. Dalam lingkungan tertentu, khususnya di dunia barat, seorang pria bisa tidak terlalu bermasalah dengan julukan-julukan yang menggambarkan sifat-sifat yang “kukuh tapi diam”. Namun perempuan introvert, karena tidak memiliki alternatif itu, akan lebih cenderung dianggap sebagai tidak percaya diri, menarik diri, atau angkuh.

 

 

Apakah Para Introvert Sombong atau Arogan?

Sangat jarang. Agaknya kesalahpahaman umum ini disebabkan oleh para introvert yang cenderung lebih cerdas, lebih perenung, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan lebih sensitif dibandingkan ekstrovert. Juga, karena kurangnya kemampuan introvert dalam berbasa-basi, kekurangan yang kerap menjadi bahan celaan oleh para ekstrovert. Introvert cenderung berpikir sebelum berbicara, sementara ekstrovert cenderung berpikir dengan bicara. Ini menjadi sebab kenapa rapat orang ekstrovert tidak akan bisa memakan waktu kurang dari enam jam.

 

“Para introvert”, tulis seorang pintar bernama Thomas P. Crouser dalam sebuah resensi onine dari buku berjudul “Why Should Extroverts Make All the Money?” (judul itu juga tidak saya buat-buat), “seringkali dikacaukan konsentrasinya dan dibuat bingung oleh dialog-dialog ‘setengah internal’ yang biasanya ditampilkan para ekstrovert. Sementara para introvert tidak akan mengeluhkan hal ini secara terbuka, mereka hanya akan mengalihkan pandangan mata dan ‘diam-diam mengutuki kegelapan’.” Begitulah memang.

 

Yang terburuk adalah, ekstrovert benar-benar tak menyadari tekanan yang mereka timpakan kepada para introvert. Kadang, sambil megap-megap mencari nafas di dalam tebalnya asap pembicaraan ekstrovert yang 98-persen-bebas-kandungan-makna itu, seorang introvert bisa bertanya-tanya apakah para ekstrovert benar-benar pernah mencoba untuk mendengarkan dirinya sendiri berbicara. Namun demikian, introvert dengan teguh kukuh berlapis baja tetap berupaya menahan dan menanggung derita ini, karena buku-buku etiket—tak ragu lagi, pasti ditulis oleh ekstrovert—menulis bahwa tidak balik membalas candaan itu tidak sopan, dan membiarkan adanya jeda diam di tengah pembicaraan adalah hal yang menimbulkan kecanggungan.

 

Kami hanya bisa berharap bahwa kelak, ketika keadaan kami ini sudah bisa dipahami secara lebih luas, ketika gerakan “tegakkan hak asasi kaum introvert” ternyata sudah berkembang dan berbuah, bukan lagi dianggap sebagai suatu hal yang tidak sopan jika seseorang mengatakan, “Saya introvert. Anda orang yang menyenangkan, dan saya senang bersama anda. Tapi sekarang, tolong diam, ssssshhht.”

 

 

Bagaimana Cara menunjukkan pada Para introvert di Kehidupan Saya, bahwa Saya Mendukung dan Menghargai Pilihannya?

Pertama, mohon dipahami bahwa itu bukan pilihan. Itu bukan sebuah gaya hidup yang dipilih. Itu adalah orientasi kepribadian.

 

Kedua, ketika melihat seorang introvert sedang diam dan menyelami pikirannya sendiri, tidak perlu bertanya, “Ada apa?” atau “Kamu baik-baik saja?”

 

Ketiga, tidak perlu berkata apa-apa juga, sih.

 

 

***

(Jonathan Rauch adalah korensponden untuk “The Atlantic” penulis senior di “National Journal”)

 

Lihat juga:

http://en.wikipedia.org/wiki/Extraversion_and_introversion

http://giftedkids.about.com/od/glossary/g/introvert.htm

http://psychology.suite101.com/article.cfm/the_introvert

Advertisements

Read Full Post »

 

 

Skizofrenia adalah penyakit otak kronis, parah, dan melumpuhkan. Sekitar 1 persen dari populasi mengembangkan skizofrenia selama hidup mereka – lebih dari 2 juta orang Amerika menderita penyakit pada tahun tertentu. Meskipun skizofrenia mempengaruhi pria dan wanita dengan frekuensi yang sama, gangguan sering muncul sebelumnya pada pria, biasanya di akhir usia belasan atau awal dua puluhan, dibandingkan pada wanita, yang umumnya terpengaruh dalam dua puluhan atau awal tiga puluhan. Orang dengan skizofrenia sering mengalami gejala mengerikan seperti mendengar suara-suara internal yang tidak didengar oleh orang lain, atau percaya bahwa orang lain membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran mereka, atau merencanakan untuk menyakiti mereka. Gejala-gejala ini mungkin membuat mereka takut dan menarik diri. Bicara mereka dan perilaku bisa begitu teratur sehingga mereka mungkin dimengerti. Mereka juga seringkali takut pada orang lain. Perawatan yang tersedia dapat meredakan banyak gejala, tetapi kebanyakan orang dengan skizofrenia terus menderita beberapa gejala sepanjang hidup mereka. Diperkirakan tidak lebih dari satu dari lima individu pulih sepenuhnya.

Penelitian secara bertahap mengarah pada pengobatan baru yang lebih aman dan mengungkap penyebab penyakit kompleks. Para ilmuwan menggunakan banyak pendekatan dari studi genetika molekuler untuk studi populasi tentang skizofrenia. Metode pencitraan struktur otak dan fungsi menjanjikan wawasan baru ke dalam gangguan tersebut.

 

Skizofrenia sebagai Sebuah Penyakit

Skizofrenia ditemukan di seluruh dunia. Tingkat keparahan gejala dan lamanya berbeda. Pola skizofrenia kronis sering menyebabkan kecacatan tingkat tinggi. Obat dan perawatan lain untuk skizofrenia, bila digunakan secara teratur dan seperti yang ditentukan, dapat membantu mengurangi dan mengendalikan gejala menyedihkan yang timbul dari penyakit ini. Namun, beberapa orang tidak sangat terbantu dengan perawatan yang tersedia atau prematur dapat menghentikan pengobatan karena efek samping yang tidak menyenangkan atau alasan lain. Bahkan ketika pengobatan efektif, konsekuensi bertahan dari penyakit (peluang yang hilang, stigma, gejala sisa, dan efek samping pengobatan) mungkin sangat mengganggu.

Tanda-tanda pertama dari skizofrenia sering membingungkan, atau bahkan mengejutkan. Contohnya perubahan perilaku. Mengatasi gejala skizofrenia bisa sangat sulit bagi anggota keluarga yang ingat betapa aktif atau lincah seseorang sebelum mereka menjadi sakit. Onset tiba-tiba gejala psikotik yang parah disebut sebagai fase “akut” dari skizofrenia. “Psikosis,” kondisi umum pada skizofrenia, adalah keadaan gangguan mental yang ditandai dengan halusinasi, gangguan persepsi sensorik, dan/atau delusi palsu. Keyakinan pribadi itu merupakan hasil dari ketidakmampuan untuk memisahkan yang nyata dan yang tidak. Gejala kurang jelas, seperti isolasi sosial atau penarikan, atau bicara yang tidak biasa, pemikiran, atau perilaku, mungkin mendahului, terlihat bersama dengan, atau mengikuti gejala psikotik.

Beberapa orang hanya memiliki satu episode psikotik. Akan tetapi, beberapa yang lain memiliki banyak episode selama seumur hidup meski hidup relatif normal selama periode interim. Namun, individu dengan skizofrenia “kronis”, atau pola berulang, sering tidak sepenuhnya pulih berfungsi normal dan biasanya membutuhkan pengobatan jangka panjang, umumnya termasuk obat, untuk mengontrol gejala.

Membuat Diagnosis

Hal ini penting untuk menyingkirkan penyakit lain. Kadang-kadang orang menderita gejala mental parah atau bahkan psikosis karena terdeteksi kondisi medis yang mendasari. Untuk alasan ini, riwayat medis harus diambil dan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala sebelum menyimpulkan bahwa seseorang memiliki skizofrenia. Selain itu, karena obat yang biasa disalahgunakan dapat menyebabkan gejala yang menyerupai skizofrenia. Sampel darah atau urin dari orang tersebut dapat diuji di rumah sakit atau kantor dokter untuk keperluan pengobatan.

Pada dasarnya, sulit untuk membedakan satu gangguan mental dari yang lain. Misalnya, beberapa orang dengan gejala skizofrenia menunjukkan ekstrem suasana hati gembira berkepanjangan atau depresi, dan penting untuk menentukan apakah pasien tersebut telah skizofrenia atau sebenarnya memiliki manik-depresif (atau bipolar) gangguan atau gangguan depresi mayor. Orang yang gejalanya tidak dapat dikategorikan dengan jelas kadang-kadang didiagnosis sebagai memiliki “gangguan skizoafektif.”

Dapatkah Anak Menderita Skizofrenia?

Anak di atas usia lima tahun dapat menderita skizofrenia, tetapi sangat jarang terjadi sebelum masa remaja. Meskipun beberapa orang yang kemudian terjangkit skizofrenia mungkin tampak berbeda dari anak-anak lain pada usia dini, gejala psikotik dari skizofrenia – halusinasi dan delusi – sangat jarang sebelum masa remaja.

Dunia Orang dengan Skizofrenia

Persepsi terdistorsi Realitas

Orang dengan skizofrenia mungkin memiliki persepsi realitas yang sangat berbeda dari realitas yang dilihat oleh orang lain di sekitar mereka. Hidup di dunia terdistorsi oleh halusinasi dan delusi, individu dengan skizofrenia mungkin merasa takut, cemas, dan bingung.

Sebagian karena realitas yang tidak biasa mereka alami, orang dengan skizofrenia bisa berperilaku sangat berbeda pada berbagai waktu. Kadang-kadang mereka mungkin tampak jauh, terpisah, atau sibuk dan bahkan dapat duduk sebagai kaku seperti batu, tidak bergerak selama berjam-jam atau mengeluarkan suara. Kali lain mereka bisa bergerak terus-menerus, selalu terjaga, waspada, dan waspada.

Halusinasi dan Ilusi

Halusinasi dan ilusi adalah gangguan persepsi yang umum pada orang yang menderita skizofrenia. Halusinasi adalah persepsi yang terjadi tanpa koneksi ke sumber yang tepat. Meskipun halusinasi dapat terjadi dalam bentuk apapun sensorik – pendengaran (suara), visual (penglihatan), taktil (sentuhan), pengecapan (rasa), dan penciuman (bau) – mendengar suara-suara yang orang lain tidak mendengar adalah jenis yang paling umum halusinasi dalam skizofrenia. Suara bisa menggambarkan aktivitas pasien, melakukan percakapan, memperingatkan bahaya yang akan datang, atau bahkan mengeluarkan perintah kepada individu. Ilusi, di sisi lain, terjadi ketika stimulus sensorik hadir tetapi tidak ditafsirkan oleh individu dengan benar.

Delusi

Delusi adalah keyakinan pribadi palsu yang tidak tunduk pada alasan atau bukti yang bertentangan dan tidak dijelaskan oleh konsep-konsep biasa. Delusi dapat mengambil tema yang berbeda. Sebagai contoh, pasien yang menderita jenis gejala paranoid – sekitar sepertiga orang dengan skizofrenia – sering memiliki delusi penganiayaan, atau keyakinan palsu dan irasional bahwa mereka sedang ditipu, dilecehkan, diracun, atau merasa sekelompok orang bersekongkol untuk membahayakan dirinya. Pasien-pasien ini mungkin percaya bahwa mereka, atau anggota keluarga atau seseorang yang dekat dengan mereka, adalah fokus dari penganiayaan ini. Selain itu, delusi keagungan, di mana seseorang bisa percaya dia atau dia adalah tokoh terkenal atau penting, dapat terjadi pada skizofrenia. Kadang-kadang delusi yang dialami oleh orang dengan skizofrenia yang cukup aneh, misalnya, percaya bahwa tetangga dapat mengendalikan perilaku mereka dengan gelombang magnetik, bahwa orang-orang di televisi yang mengarahkan pesan khusus kepada mereka, atau bahwa pikiran mereka sedang disiarkan dengan keras kepada orang lain.

Penyalahgunaan Zat

Penyalahgunaan zat merupakan keprihatinan umum dari keluarga dan teman-teman orang dengan skizofrenia. Beberapa orang dengan penyalahgunaan narkoba dapat menunjukkan gejala mirip dengan skizofrenia. Peneliti semakin menunjukkan bahwa beberapa obat jalanan (seperti Marijuana / ganja) secara signifikan dapat meningkatkan risiko skizofrenia. Orang-orang yang memiliki skizofrenia juga sering menyalahgunakan alkohol dan / atau obat-obatan, dan mungkin memiliki reaksi yang sangat buruk terhadap obat tertentu. Penyalahgunaan zat dapat mengurangi efektivitas pengobatan untuk skizofrenia.. Stimulan (seperti amfetamin, kokain, PCP, atau ganja) dapat menyebabkan masalah besar bagi pasien dengan skizofrenia. Bahkan, beberapa orang mengalami perburukan gejala skizofrenia mereka ketika mereka mengambil obat tersebut. Penyalahgunaan zat juga mengurangi kemungkinan bahwa pasien akan mengikuti rencana pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter mereka.

Skizofrenia dan Nikotin

Bentuk paling umum dari gangguan penggunaan narkoba pada orang dengan skizofrenia adalah ketergantungan nikotin akibat merokok. Sementara prevalensi merokok pada populasi AS adalah sekitar 25 sampai 30 persen, prevalensi di antara orang dengan skizofrenia adalah sekitar tiga kali lebih tinggi. Penelitian telah menunjukkan bahwa hubungan antara merokok dan skizofrenia adalah kompleks. Meski orang dengan skizofrenia yang merokok dapat mengobati gejala mereka, merokok akan mengganggu respon terhadap obat antipsikotik. Beberapa studi telah menemukan bahwa pasien skizofrenia yang merokok memerlukan dosis obat antipsikotik lebih tinggi. Berhenti merokok mungkin sangat sulit bagi orang dengan skizofrenia karena gejala penarikan nikotin dapat sementara memperburuk gejala skizofrenia. Namun, strategi berhenti merokok yang mencakup metode penggantian nikotin mungkin efektif. Dokter harus hati-hati memantau dosis obat dan respon ketika pasien dengan skizofrenia mulai baikan atau berhenti merokok.

Berpikir Teratur

Skizofrenia sering mempengaruhi kemampuan seseorang untuk “berpikir lurus.” Seseorang tidak mungkin dapat berkonsentrasi pada satu pikiran untuk yang waktu sangat panjang dan dapat dengan mudah terganggu, tidak mampu memusatkan perhatian.

Orang dengan skizofrenia tidak mungkin dapat memilah apa yang relevan dan apa yang tidak relevan dengan situasi. Orang mungkin tidak dapat menghubungkan pikiran menjadi urutan logis, dengan pikiran menjadi tidak teratur dan terfragmentasi. Kurangnya kontinuitas logis dari berpikir, disebut “gangguan pikiran,” bisa membuat percakapan yang sangat sulit dan dapat berkontribusi pada isolasi sosial. Jika orang tidak dapat memahami apa yang dikatakan seseorang, mereka cenderung menjadi tidak nyaman dan cenderung untuk meninggalkan orang itu sendiri.

Ekspresi Emosional

Orang dengan skizofrenia sering menunjukkan rasa “tumpul” atau “datar”. Hal ini mengacu pada pengurangan berat pada ekspresi emosional. Orang dengan skizofrenia mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda emosi yang normal, mungkin dapat berbicara dengan suara monoton, telah berkurang ekspresi wajah, dan tampak sangat apatis. Orang tersebut dapat menarik sosial, menghindari kontak dengan orang lain, dan ketika dipaksa untuk berinteraksi, ia atau dia mungkin punya apa-apa untuk mengatakan, mencerminkan “pikir miskin.” Motivasi dapat sangat menurun, seperti tiada minat atau kenikmatan hidup. Dalam beberapa kasus yang parah, seseorang bisa menghabiskan seluruh hari tanpa melakukan apa-apa sama sekali, bahkan mengabaikan kebersihan dasar. Masalah-masalah ini dengan ekspresi emosional dan motivasi, yang mungkin sangat mengganggu anggota keluarga dan teman, adalah gejala-gejala skizofrenia – bukan karakter cacat atau kelemahan pribadi.

Normal Versus Abnormal

Pada waktu tertentu, orang normal mungkin merasa, berpikir, atau bertindak dengan cara yang menyerupai skizofrenia. Kadang-kadang orang normal mungkin menjadi sangat cemas, misalnya, ketika berbicara di depan kelompok dan mungkin merasa bingung, tidak mampu untuk menarik pikiran mereka bersama-sama, dan melupakan cara “berpikir jernih.”. Ini bukan skizofrenia. Pada saat yang sama, orang dengan skizofrenia tidak selalu bertindak normal. Memang, beberapa orang dengan penyakit ini dapat muncul benar-benar normal dan sempurna bertanggung jawab, bahkan ketika mereka mengalami halusinasi atau delusi. Perilaku individu dapat berubah dari waktu ke waktu, menjadi aneh jika obat dihentikan dan kembali mendekati normal ketika menerima pengobatan yang tepat.

Skizofrenia bukan “Split Personality

Ada pengertian umum bahwa skizofrenia adalah sama dengan “kepribadian ganda” -Dr Jekyll Mr Hyde-Saklar dalam karakter. Ini tidak benar.

Apakah Orang Dengan Skizofrenia Mungkin Untuk Melakukan Kekerasan?

Berita dan media hiburan cenderung untuk menghubungkan penyakit mental dan kekerasan kriminal. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kecuali bagi orang-orang dengan catatan kriminal kekerasan sebelum menjadi sakit, dan orang-orang dengan masalah penyalahgunaan zat atau alkohol, orang dengan skizofrenia tidak sangat rentan terhadap kekerasan . Kebanyakan individu dengan skizofrenia tidak keras; biasanya, mereka malah menarik diri dan lebih suka dibiarkan sendiri. Kebanyakan kejahatan kekerasan tidak dilakukan oleh orang-orang dengan skizofrenia, dan kebanyakan orang dengan skizofrenia tidak melakukan kejahatan kekerasan. Penyalahgunaan zat secara signifikan meningkatkan tingkat kekerasan pada orang dengan skizofrenia, tetapi juga pada orang yang tidak memiliki penyakit mental. Orang dengan gejala paranoid dan psikotik, yang dapat menjadi lebih buruk jika obat dihentikan, mungkin juga mempunyai risiko tinggi untuk perilaku kekerasan. Ketika kekerasan terjadi, itu paling sering ditargetkan pada anggota keluarga dan teman-teman, dan lebih sering terjadi di rumah.

Tentang Bunuh Diri?

Bunuh diri merupakan bahaya serius pada orang yang memiliki skizofrenia. Jika seseorang mencoba untuk bunuh diri atau mengancam untuk melakukannya, bantuan profesional harus segera dicari. Orang dengan skizofrenia memiliki tingkat bunuh diri lebih tinggi daripada populasi umum. Sekitar 10 persen orang dengan skizofrenia (laki-laki dewasa muda khususnya) melakukan bunuh diri. Sayangnya, prediksi bunuh diri pada orang dengan skizofrenia bisa sangat sulit.

Apa Penyebab Skizofrenia?

Tidak ada penyebab tunggal yang dikenal skizofrenia. Banyak penyakit, seperti penyakit jantung, hasil dari interaksi genetik, faktor perilaku, dan lainnya, dan ini mungkin menjadi kasus untuk skizofrenia juga. Para ilmuwan belum memahami semua faktor yang diperlukan untuk menghasilkan skizofrenia, tetapi semua alat-alat penelitian biomedis modern yang digunakan untuk mencari gen, saat-saat kritis dalam perkembangan otak, dan faktor lain yang dapat menyebabkan penyakit.

Apakah Skizofrenia Diwariskan?

Telah lama diketahui bahwa skizofrenia diturunkan dalam keluarga. Orang-orang yang memiliki kerabat dekat dengan skizofrenia lebih mungkin untuk mengembangkan gangguan daripada orang yang tidak memiliki kerabat dengan penyakit. Misalnya, (identik) monozigot kembar dari orang dengan skizofrenia memiliki risiko tertinggi – 40 sampai 50 persen – untuk mengembangkan penyakit. Seorang anak yang orangtuanya skizofrenia memiliki sekitar 10 persen kesempatan. Sebagai perbandingan, risiko skizofrenia dalam populasi umum sekitar 1 persen.

Para ilmuwan sedang mempelajari faktor genetik pada skizofrenia. Tampaknya mungkin bahwa beberapa gen yang terlibat dalam menciptakan kecenderungan untuk mengembangkan gangguan ini. Selain itu, faktor seperti kesulitan kehamilan intrauterin seperti kelaparan atau infeksi virus, komplikasi perinatal, dan berbagai stressor spesifik tampaknya mempengaruhi perkembangan skizofrenia. Namun, belum dipahami bagaimana kecenderungan genetik ditransmisikan, dan belum bisa diprediksi secara akurat apakah orang yang memiliki gen skizofrenik akan atau tidak akan mengembangkan gangguan tersebut.

Beberapa daerah genom manusia sedang diselidiki untuk mengidentifikasi gen yang dapat memberikan kerentanan untuk skizofrenia. Bukti terkuat sampai saat ini adalah kromosom 13 dan 6, tetapi tetap belum dikonfirmasi. Identifikasi gen tertentu yang terlibat dalam pengembangan skizofrenia akan memberikan petunjuk penting ke dalam apa yang tidak beres di otak untuk membimbing pengembangan pengobatan baru yang lebih baik.

Apakah Skizofrenia Terkait Dengan Seorang Cacat Kimia Dalam Otak?

Pengetahuan dasar tentang kimia otak dan tautan untuk skizofrenia berkembang dengan cepat. Neurotransmiter, zat yang memungkinkan komunikasi antara sel-sel saraf, telah lama dianggap terlibat dalam perkembangan skizofrenia. Kemungkinan, meskipun belum pasti, bahwa gangguan tersebut dikaitkan dengan beberapa ketidakseimbangan sistem kimia yang kompleks yang saling terkait dari otak, mungkin melibatkan neurotransmitter dopamin dan glutamat. Daerah penelitian cukup menjanjikan.

Apakah Skizofrenia Disebabkan Oleh Kelainan Fisik Dalam Sebuah Otak?

Ada kemajuan dramatis dalam neuroimaging teknologi yang memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari struktur dan fungsi otak pada individu yang hidup. Banyak studi orang dengan skizofrenia telah menemukan kelainan pada struktur otak (misalnya, pembesaran rongga berisi cairan, yang disebut ventrikel, di bagian dalam otak, dan penurunan ukuran daerah otak tertentu) atau fungsi (misalnya, menurun metabolik aktivitas di daerah otak tertentu). Harus ditekankan bahwa kelainan ini cukup halus dan bukan karakteristik dari semua orang dengan skizofrenia, juga tidak hanya terjadi pada individu dengan penyakit ini. Studi mikroskopis jaringan otak setelah kematian juga telah menunjukkan perubahan kecil dalam distribusi atau jumlah sel-sel otak pada orang dengan skizofrenia. Tampaknya bahwa banyak (tetapi mungkin tidak semua) dari perubahan ini ada sebelum individu menjadi sakit, dan skizofrenia mungkin, sebagian, gangguan dalam perkembangan otak.

Neurobiologis perkembangan didanai oleh Institut Kesehatan Mental Nasional (NIMH) menemukan bahwa skizofrenia mungkin gangguan perkembangan yang dihasilkan ketika neuron membentuk hubungan yang tidak sempurna selama perkembangan janin. Kesalahan ini mungkin tertidur sampai pubertas, ketika perubahan dalam otak yang terjadi secara normal selama tahap kritis pematangan berinteraksi negatif dengan koneksi rusak. Penelitian ini telah mendorong upaya-upaya untuk mengidentifikasi faktor prenatal yang mungkin memiliki beberapa bantalan pada kelainan perkembangan.

Dalam penelitian lain dengan menggunakan teknik pencitraan otak, peneliti telah menemukan bukti perubahan biokimia awal yang mungkin mendahului timbulnya gejala penyakit, mendorong pemeriksaan sirkuit saraf yang paling mungkin terlibat dalam memproduksi gejala-gejala. Sementara itu, ilmuwan yang bekerja di tingkat molekuler mengeksplorasi dasar genetik untuk kelainan dalam perkembangan otak dan di sistem neurotransmitter yang mengatur fungsi otak.

Bagaimana Skizofrenia Diobati?

Karena skizofrenia mungkin bukan kondisi yang tunggal dan penyebabnya belum diketahui, metode pengobatan saat ini didasarkan pada kedua penelitian klinis dan pengalaman. Pendekatan ini dipilih berdasarkan kemampuan mereka untuk mengurangi gejala skizofrenia dan untuk mengurangi kemungkinan bahwa gejala akan kembali.

Tentang Obat?

Obat antipsikotik telah tersedia sejak pertengahan 1950-an. Mereka telah sangat meningkatkan prospek untuk setiap pasien. Obat-obat ini mengurangi gejala psikotik dari skizofrenia dan biasanya memungkinkan pasien untuk berfungsi lebih efektif dan tepat. Obat antipsikotik merupakan pengobatan terbaik sekarang tersedia, tetapi mereka tidak “menyembuhkan” skizofrenia atau memastikan bahwa tidak akan ada episode psikotik lebih lanjut. Pilihan dan dosis obat bisa dibuat hanya oleh seorang dokter berkualifikasi yang terlatih dalam pengobatan medis dari gangguan mental. Dosis obat bersifat individual untuk setiap pasien, karena orang dapat bervariasi banyak dalam jumlah obat yang dibutuhkan untuk mengurangi gejala tanpa menghasilkan efek samping merepotkan.

Sebagian besar orang dengan skizofrenia menunjukkan peningkatan yang substansial ketika diobati dengan obat antipsikotik. Beberapa pasien, bagaimanapun, tidak terbantu sangat banyak dengan obat-obatan dan beberapa tampaknya tidak membutuhkan. Sulit untuk memprediksi apakah pasien akan mendapatkan manfaat dari pengobatan dengan obat antipsikotik atau tidak.

Sejumlah obat antipsikotik baru (yang disebut “antipsikotik atipikal”) telah diperkenalkan sejak tahun 1990. Yang pertama, clozapine (Clozaril ®), telah terbukti lebih efektif daripada antipsikotik lainnya, meskipun kemungkinan efek samping berat – khususnya, suatu kondisi yang disebut agranulositosis (hilangnya sel-sel darah putih yang memerangi infeksi) – membutuhkan bahwa pasien dipantau dengan tes darah setiap satu atau dua minggu. Bahkan obat antipsikotik baru, seperti risperidone (Risperdal ®) dan olanzapine (Zyprexa ®), lebih aman dibandingkan obat tua atau clozapine, dan mereka juga mungkin lebih baik ditoleransi. Beberapa antipsikotik tambahan sedang dalam pengembangan.

Obat antipsikotik seringkali sangat efektif dalam mengobati gejala tertentu dari skizofrenia, terutama halusinasi dan delusi, sayangnya, obat-obatan mungkin tidak membantu dengan gejala lain, seperti motivasi berkurang dan ekspresi emosional. Memang, antipsikotik yang lebih tua (yang juga pergi dengan nama “neuroleptik”), obat-obatan seperti haloperidol (Haldol ®) atau klorpromazin (Thorazine ®), bahkan dapat menghasilkan efek samping yang menyerupai lebih sulit untuk mengobati gejala. Seringkali, menurunkan dosis atau beralih ke obat yang berbeda dapat mengurangi efek samping; obat-obatan baru, termasuk olanzapine (Zyprexa ®), quetiapine (Seroquel ®), dan risperidone (Risperdal ®), tampaknya kurang cenderung memiliki masalah ini. Kadang-kadang ketika orang-orang dengan skizofrenia menjadi depresi, gejala lainnya dapat muncul memburuk. Gejala-gejala dapat meningkat dengan penambahan obat antidepresan.

Pasien dan keluarga terkadang menjadi khawatir tentang obat-obatan antipsikotik yang digunakan untuk mengobati skizofrenia. Di samping kekhawatiran tentang efek samping, mereka mungkin khawatir bahwa obat tersebut dapat menyebabkan kecanduan. Namun, obat antipsikotik tidak menghasilkan perilaku “tinggi” (euforia) atau adiktif pada pasien.

Kesalahpahaman lain tentang obat-obatan antipsikotik adalah bahwa mereka bertindak sebagai semacam pengendalian pikiran. Sementara obat-obat ini dapat menenangkan, dan sementara efek ini dapat bermanfaat ketika pengobatan dimulai terutama jika seorang individu sangat gelisah, utilitas obat bukan karena obat penenang tetapi untuk kemampuan mereka untuk mengurangi halusinasi, agitasi, kebingungan, dan delusi dari episode psikotik. Jadi, obat antipsikotik akhirnya harus membantu seorang individu dengan skizofrenia untuk menghadapi dunia yang lebih rasional.

Berapa Lama Orang Dengan Skizofrenia Diobati dengan Antipsikotik?

Obat antipsikotik mengurangi risiko episode psikotik di masa depan pasien yang telah sembuh dari episode akut. Bahkan dengan terapi obat lanjutan, beberapa orang yang telah sembuh akan kambuh. Tingkat kambuh jauh lebih tinggi ketika obat dihentikan. Dalam kebanyakan kasus, terapi obat lanjutan akan “mencegah” kambuh dengan akurat, melainkan mengurangi intensitas dan frekuensi. Pengobatan gejala psikotik yang parah biasanya membutuhkan dosis yang lebih tinggi daripada yang digunakan untuk pengobatan pemeliharaan. Jika gejala muncul kembali pada dosis yang lebih rendah, peningkatan sementara dalam dosis mungkin dapat mencegah kekambuhan hebat.

Karena kekambuhan penyakit lebih mungkin ketika obat antipsikotik yang dihentikan atau tidak teratur dikonsumsi, sangat penting bahwa orang dengan skizofrenia, dokter mereka, dan anggota keluarga mematuhi rencana pengobatan mereka. Kepatuhan terhadap pengobatan mengacu pada sejauh mana pasien mengikuti terapi rencana yang direkomendasikan oleh dokter mereka. Kepatuhan yang baik melibatkan minum obat diresepkan pada dosis yang benar dan waktu yang tepat setiap hari, menghadiri janji klinik, dan / atau hati-hati mengikuti prosedur perawatan lainnya. Kepatuhan pengobatan seringkali sulit bagi orang dengan skizofrenia, tetapi dapat dibuat lebih mudah dengan bantuan beberapa strategi dan dapat menyebabkan peningkatan kualitas hidup.

Ada berbagai alasan mengapa orang dengan skizofrenia mungkin tidak patuh terhadap pengobatan. Pasien mungkin tidak percaya mereka sakit dan mungkin menyangkal kebutuhan obat, atau mereka mungkin memiliki pemikiran tidak teratur sehingga mereka tidak dapat ingat untuk mengambil dosis sehari-hari mereka. Anggota keluarga atau teman mungkin tidak memahami skizofrenia. Tidak tepat bila menyarankan orang dengan skizofrenia untuk menghentikan pengobatan ketika dia merasa lebih baik. Dokter, yang memainkan peran penting dalam membantu pasien mereka patuh terhadap pengobatan, mungkin mengabaikan untuk menanyakan pasien seberapa sering mereka mengambil obat mereka, atau mungkin tidak mau untuk mengakomodasi permintaan pasien untuk mengubah dosis atau mencoba pengobatan baru. Beberapa pasien melaporkan bahwa efek samping dari obat tampaknya lebih buruk daripada penyakit itu sendiri. Selanjutnya, penyalahgunaan zat dapat mengganggu efektivitas pengobatan, menyebabkan pasien menghentikan pengobatan. Ketika rencana perawatan yang rumit ditambahkan ke faktor ini, kepatuhan yang baik bisa menjadi lebih menantang.

Untungnya, ada banyak strategi yang pasien, dokter, dan keluarga dapat digunakan untuk meningkatkan kepatuhan dan mencegah memburuknya penyakit. Beberapa obat antipsikotik, termasuk haloperidol (Haldol ®), fluphenazine (Prolixin ®), perphenazine (Trilafon ®) dan lainnya, tersedia dalam bentuk suntik long-acting yang menghilangkan kebutuhan untuk mengambil pil setiap hari. Tujuan utama dari penelitian terkini tentang pengobatan untuk skizofrenia adalah untuk mengembangkan lebih banyak jenis long-acting antipsikotik, terutama agen yang lebih baru dengan efek samping yang ringan, yang dapat disampaikan melalui suntikan. Kalender obat atau kotak pil berlabel dengan hari dalam seminggu dapat membantu pasien dan perawat tahu kapan obat telah atau belum diambil. Menggunakan timer elektronik yang mengeluarkan bunyi bip bila obat harus diambil, atau obat pasangan mengambil dengan peristiwa rutin sehari-hari seperti makan, dapat membantu pasien mengingat dan mematuhi jadwal pemberiannya. Melibatkan anggota keluarga dalam mengamati pengobatan oral pasien dapat membantu memastikan kepatuhan. Selain itu, melalui berbagai metode lain pemantauan kepatuhan, dokter dapat mengidentifikasi saat mengambil pil adalah masalah bagi pasien mereka dan dapat bekerja dengan mereka untuk membuat kepatuhan lebih mudah. Hal ini penting untuk membantu memotivasi pasien untuk melanjutkan pengambilan obat mereka dengan baik.

Selain strategi-strategi kepatuhan, pendidikan pasien dan keluarga tentang skizofrenia, gejala, dan obat yang diresepkan untuk mengobati penyakit adalah bagian penting dari proses pengobatan dan membantu mendukung alasan untuk kepatuhan yang baik.

Tentang Efek Samping?

Obat antipsikotik, seperti hampir semua obat, memiliki efek yang tidak diinginkan bersama dengan efek yang menguntungkan mereka. Selama fase awal pengobatan, pasien mungkin akan terganggu dengan efek samping seperti mengantuk, gelisah, kejang otot, tremor, mulut kering, atau mengaburkan penglihatan. Sebagian besar dapat diperbaiki dengan menurunkan dosis atau dapat dikendalikan oleh obat lain. Pasien yang berbeda memiliki respon pengobatan yang berbeda dan efek samping berbagai obat antipsikotik untuk. Seorang pasien dapat melakukan lebih baik dengan satu obat daripada yang lain.

Efek samping jangka panjang obat antipsikotik dapat menimbulkan masalah yang jauh lebih serius. Tardive dyskinesia (TD) adalah gangguan yang ditandai dengan gerakan tak terkendali yang paling sering mempengaruhi mulut, bibir, dan lidah, dan kadang-kadang batang atau bagian lain dari tubuh seperti lengan dan kaki. Ini terjadi pada sekitar 15 sampai 20 persen pasien yang telah menerima obat antipsikotik selama bertahun-tahun, tetapi TD juga dapat berkembang pada pasien yang telah diobati dengan obat-obatan untuk jangka waktu yang lebih singkat. Dalam kebanyakan kasus, gejala-gejala TD ringan, dan pasien mungkin tidak menyadari gerakan.

Obat antipsikotik dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir semua tampaknya memiliki risiko jauh lebih rendah daripada antipsikotik yang lebih tua dan tradisional. Risiko bukan nol, bagaimanapun, dan mereka dapat menghasilkan efek samping seperti perubahan berat badan. Selain itu, jika diberikan dengan dosis terlalu tinggi, obat baru dapat menyebabkan masalah seperti penarikan sosial dan gejala menyerupai penyakit Parkinson, gangguan yang mempengaruhi gerakan. Meskipun demikian, antipsikotik baru adalah kemajuan yang signifikan dalam pengobatan, dan penggunaan optimal mereka pada orang dengan skizofrenia adalah subjek penelitian yang banyak dilakukan saat ini.

Tentang Perawatan Psikososial?

Obat antipsikotik telah terbukti menjadi penting dalam meredakan gejala psikotik dari skizofrenia – halusinasi, delusi, dan inkoherensi – tetapi tidak konsisten dalam menghilangkan gejala-gejala gangguan perilaku. Bahkan ketika pasien dengan skizofrenia yang relatif bebas dari gejala psikotik, masih banyak mengalami kesulitan yang luar biasa dengan komunikasi (kepedulian diri, motivasi dalam membangun dan mempertahankan hubungan dengan orang lain). Selain itu, karena pasien dengan skizofrenia sering menjadi sakit selama karir penting pembentuk tahun hidup (misalnya, usia 18 sampai 35), mereka kurang mungkin untuk menyelesaikan pelatihan yang dibutuhkan untuk pekerjaan terampil. Akibatnya, banyak penderita skizofrenia tidak hanya mengalami kesulitan dalam hal berpikir dan emosional, tetapi juga kurang memiliki keterampilan sosial, bekerja, dan juga pengalaman.

Sementara pendekatan psikososial memiliki nilai terbatas untuk pasien psikotik akut (mereka yang keluar dari sentuhan dengan realitas atau memiliki halusinasi atau delusi yang menonjol), mereka mungkin berguna untuk pasien dengan gejala yang kurang parah atau untuk pasien dengan gejala psikotik terkontrol. Berbagai bentuk terapi psikososial tersedia untuk orang-orang dengan skizofrenia, Terapi ini terfokus pada peningkatan fungsi sosial pasien – apakah di rumah sakit atau masyarakat, di rumah, atau di tempat kerja. Sayangnya, ketersediaan berbagai bentuk pengobatan sangat bervariasi antara tempat yang satu dan tempat yang lain.

Rehabilitasi

Didefinisikan secara luas, rehabilitasi mencakup beragam intervensi nonmedis bagi mereka dengan skizofrenia. Program rehabilitasi sosial menekankan pelatihan kejuruan untuk membantu pasien dan mantan pasien mengatasi kesulitan di daerah-daerah. Program mungkin meliputi konseling kejuruan, pelatihan kerja, pemecahan masalah dan keterampilan pengelolaan uang, penggunaan transportasi publik, dan pelatihan keterampilan sosial. Pendekatan ini penting bagi keberhasilan pengobatan serta keterampilan yang diperlukan untuk memimpin kehidupan produktif di luar batas-batas terlindung dari rumah sakit jiwa.

Psikoterapi Individu

Psikoterapi individu melibatkan perundingan yang dijadwalkan secara rutin di antara pasien dan seorang profesional kesehatan mental seperti psikiater, psikolog, pekerja sosial psikiatri, atau perawat. Sesi dapat fokus pada masalah saat ini atau masa lalu, pengalaman, pikiran, perasaan, atau hubungan.

Sumber: www.schizophrenia.com

Read Full Post »

Definisi:

Suatu gangguan mental yang dikarakteristikkan dengan corak-corak maladaptif dari penyesuaian dirinya terhadap kehidupannya.

D.P.L :

Pada gangguan kepribadian terdapat kerusakan pada:

• perkembangan kepribadian

• kecenderungan patologis dalam struktur kepribadiannya

Klasifikasi (menurut DSM-IV (1994)):

Gangguan Kepribadian Paranoid

Gangguan Kepribadian Skizoid

Gangguan Kepribadian Skizotipal

Gangguan Kepribadian Antisosial

Gangguan Kepribadian Ambang

Gangguan Kepribadian Histrionik

Gangguan Kepribadian Narsisistik

Gangguan Kepribadian Menghindar

Gangguan Kepribadian Dependen

Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif

Gangguan Kepribadian yang tak dispesifikasikan di tempat lain

Ini terdiri dari :

a). Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif

b). Gangguan Kepribadian Depresif

c). Gangguan Kepribadian Sadomachistik

d). Gangguan Kepribadian Sadistik

e). Perubahan kepribadian oleh karena kondisi medik umum

f). Perubahan kepribadian sesudah mendapat pengalaman katastrofik dan sesudah penyakit psikiatrik

Etiologi :

1. Faktor lingkungan (environment)

2. Faktor Herediter

3. Faktor Psikologik (perkembangan kepribadian)

4. Faktor Neurologik (seperti adanya gambaran EEG abnormal)

Gangguan Kepribadian Paranoid

Tanda-tandanya :

  1. Kepekaan yang berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan
  2. Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak untuk memaafkan suatu penghinaan atau masalah kecil.
  3.  Kecurigaan dan kecenderungan pervasif untuk menyalahartikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu sikap permusuhan atau penghinaan
  4. Mempertahankan dengan gigih bila perlu dengan kekuatan fisik tentang hak pribadinya yang sebenarnya tak sesuai dengan keadaan sebenarnya
  5. Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar, tentang kesetiaan seksual pasangannya.
  6. Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan

Gangguan Kepribadian Skizoid

  1. Hanya sedikit saja, bila ada, aktivitas yang memberikan kebahagiaan
  2. Emosi dingin, afek datar
  3. Kurang mampu untuk menyatakan kehangatan, kelembutan atau kemarahan pada orang lain.
  4. Ketidakpedulian yang nyata terhadap pujian atau kecaman
  5.  Kurang tertarik untuk menjalin pengalamanseksual dengan orang lain (dengan memperhitungkan umur)
  6. Hampir selalu memilih aktivitas yang menyendiri
  7. Dirundung oleh fantasi dan introspeksi yang berlebihan
  8. Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab
  9. Sangat tidak sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial yang berlaku.

Gangguan Kepribadian Disosial

  1. Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
  2. Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan menetap dan tidak peduli terhadap norma, peraturan, dan kewajiban sosial
  3. Tidak mampu untuk mempertahankan hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya
  4.  Mudah menjadi frustrasi dan bertindak agresif, termasuk tindakan kekerasan
  5. Tidak mampu untuk menerima kesalahan dan belajar dari pengalaman terutama dari hukuman
  6. Sangat cenderung untuk menyalahkan oranglain atau menawarkan rasionalisasi yang dapat diterima untuk perilaku yang telah membawa pasien dalam konflik sosial

Gangguan Kepribadian Histrionik

  1. Ekspresi emosi yang didramatisasikan sendiri, teatrikalitas dan dibesar-besarkan
  2. Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau situasi
  3. Afek datar atau labil
  4. Terus-menerus mau cari kepuasan dan aktivitas di mana pasien menjadi pusat perhatian
  5.  Kegairahan yang tak pantas dalam penampilan atau perilaku
  6. Terlalu mementingkan daya tarik fisik

Gambaran penyerta :

egosentrisitas, pemuasan diri sendiri, mudah tersinggung, perilaku manipulatif yang menetap untuk

mencapai kepentingan pribadi

Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif

  1. Perasaan ragu dan hati-hati yang berlebihlebihan
  2. Keterpakuan pada rincian, peraturan, daftar, perintah atau jadwal
  3. Perfeksionisme yang menghambat penyelesaian tugas
  4. Ketelitian yang berlebihan, terlalu hati-hati
  5.  Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan sosial
  6. Kaku dan keras kepala
  7. Pemaksaan secara tidak masuk akal agar orang lain melakukan sesuatu menurut caranya
  8. Mencampuradukkan pikiran atau dorongan yang bersifat memaksa atau yang tidak disukai

Gangguan Kepribadian Cemas (Menghindar)

  1. Perasaan tegang dan takut yang menetap
  2. Merasa dirinya tidak mampu, tidak menarikatau lebih rendah dari orang lain
  3. Kekhawatiran yang berlebihan terhadapkritik dan penolakan dalam situasi sosial
  4. Keengganan untuk terlibat dengan orang, kecuali merasa yakin akan disukai
  5.  Pembatasan gaya hidup oleh karena alasan keamanan fisik
  6. Menghindari aktivitas sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak interpersonal oleh karena takut akan dikritik, tidak didukung atau ditolak

Gangguan Kepribadian Dependen

  1. Mendorong atau membiarkan orang lain untuk mengambil sebagian besar keputusan penting bagi dirinya
  2. Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah daripada orang lain pada siapa dia bergantung dan kerelaan yang tidak semestinya terhadap keinginan mereka.
  3. Keengganan untuk mengajukan tuntutan yang layak kepada orang pada siapa dia bergantung
  4. Perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian, karena ketakutan yang dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus diri sendiri
  5. Terpaku pada ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya dan ditinggalkan agar mengurus diri sendiri
  6. Keterbatasan kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa mendapat nasihat yang berlebihan dan diyakini orang lain

Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil

  1. Kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa mempertimbangkan konsekuensi, bersamaan dengan ketidakstabilan afek
  2. Kemampuan merencanakan sesuatu mungkin minimal dan ledakan kemarahan yang hebat seringkali dapat menjurus kepada kekerasan atau ledakan perilaku. Hal ini mudah ditimbulkan jika kegiatan impulsifnya dikritik atau dihalangi orang lain

Pedoman Diagnostik Umum

Keadaan yang tidak disebabkan langsung oleh kerusakan atau penyakit otak berat atau gangguan jiwa lain, tetapi memenuhi kriteria berikut ini:

  1. Sikap dan perilaku yang amat tak serasi yangmeliputi biasanya beberapa bidang fungsi, misalnya:afek, kesadaran, pengendalian impuls, cara memandang dan berpikir, serta gaya berhubungan dengan orang lain
  2. Pola perilaku abnormal yang berlangsung lama, berjangka panjang dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa
  3. Pola perilaku abnormalnya itu pervasif & jelas maladaptif terhadap berbagai keadaan pribadi dan sosial yang luas.
  4. Manifestasi di atas selalu muncul pada masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut sampai usia dewasa
  5. Gangguannya menjurus kepada penderitaan pribadi yang berarti, tetapi hal ini mungkin hanya menjadi nyata kemudian dalam perjalanan penyakitnya
  6. Gangguan ini biasanya tetapi tidak selalu, berhubungan secara bermakna dengan masalah pekerjaan dan kinerja sosial

Terapi

  1. Psikoterapi. Khusus untuk gangguan kepribadian paranoid, psikoterapi adalah terapi pilihan
  2. Farmakoterapi;bergantung pada jenis gangguan kepribadiannya, misalnya obat: anti ansietas, antipsikotik, antidepresan, psycho stimulant

Sumber: www.library.usu.ac.id

Read Full Post »

Apakah depresi itu?

Setiap orang kadang-kadang merasa sedih. Namun, perasaan ini biasanya berumur pendek dan selesai dalam beberapa hari. Bila kita mengalami depresi, kehidupan sehari-hari akan terganggu dan menyebabkan rasa sakit bagi kita dan mereka yang peduli tentang kita. Depresi adalah penyakit umum, tetapi serius.

Banyak orang dengan penyakit depresi tidak pernah mencari pengobatan. Mayoritas penderita depresi, bahkan mereka dengan kondisi yang paling parah, bisa menjadi lebih baik dengan pengobatan. Obat-obatan, psikoterapi, dan metode lainnya dapat secara efektif mengobati depresi.

Bagaimanakah bentuk-bentuk dari depresi?

Ada beberapa bentuk gangguan depresi:

  • Gangguan depresi Mayor, atau depresi berat, dicirikan oleh kombinasi gejala yang mengganggu kemampuan seseorang untuk bekerja, tidur, belajar, makan, dan menikmati kegiatan yang baginya sangat menyenangkan. Jenis depresi ini mematikan dan menjauhkan penderita dari fungsi normalnya. Beberapa orang mungkin hanya mengalami satu episode dalam hidup mereka, tetapi dari antara mereka lebih sering memiliki beberapa episode.
  • Gangguan Dysthymic, atau dysthymia, ditandai dengan depresi jangka panjang (2 tahun atau lebih) gejala yang mungkin tidak cukup parah untuk menonaktifkan seseorang, tetapi dapat mencegah berfungsi normal atau sehat. Orang dengan dysthymia juga mungkin mengalami satu atau lebih episode depresi berat selama hidup mereka.
  • Depresi ringan ditandai dengan gejala selama 2 minggu atau lebih yang tidak memenuhi kriteria penuh untuk depresi mayor. Tanpa pengobatan, orang dengan depresi ringan berada pada risiko tinggi untuk mengembangkan gangguan depresi berat.

Beberapa bentuk depresi sedikit berbeda dan unik. Namun, tidak semua orang setuju tentang bagaimana untuk mengkarakterisasi dan menentukan bentuk-bentuk depresi. Mereka termasuk:

  • Psychotic depresi, yang terjadi ketika seseorang memiliki depresi berat ditambah beberapa bentuk psikosis, seperti memiliki keyakinan palsu yang mengganggu atau keluar dari realitas (delusi), atau mendengar atau melihat hal-hal yang tidak dapat dirasakan oleh indera orang lain.
  • Postpartum depresi, yang jauh lebih serius daripada ‘baby blues’ pada banyak wanita setelah melahirkan. Perubahan hormon, fisik, dan tanggung jawab baru merawat bayi baru lahir dapat memengaruhi kondisi mental seseorang. Diperkirakan bahwa 10 sampai 15 persen wanita mengalami depresi pasca melahirkan.
  • Seasonal Affective Disorder (SAD), yang ditandai dengan timbulnya depresi selama musim dingin. SAD dapat efektif diobati dengan terapi cahaya, tetapi hampir setengah dari mereka dengan SAD tidak membaik dengan terapi cahaya saja. Obat antidepresan dan psikoterapi dapat mengurangi gejala SAD jika dikombinasikan dengan terapi cahaya.

Gangguan bipolar, juga disebut manik-depresif, tidak sama seperti depresi berat atau dysthymia. Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan siklik dari suasana hati yang tertinggi ekstrim (misalnya, mania) ke posisi terendah ekstrim (misalnya, depresi).

Apa saja tanda dan gejala depresi?

Orang dengan penyakit depresi tidak semua mengalami gejala yang sama. Tingkat keparahan, frekuensi, dan durasi gejala bervariasi tergantung pada individu dan penyakit tertentu yang dideritanya.

Tanda dan gejala termasuk:

  • Sedih yang tak kunjung usai, cemas, atau perasaan “kosong”
  • Perasaan putus asa atau pesimisme
  • Perasaan bersalah, tidak berharga, atau tidak berdaya
  • Iritabilitas rendah, gelisah
  • Kehilangan minat dalam kegiatan atau hobi menyenangkan sekali, termasuk seks
  • Kelelahan dan penurunan energi
  • Kesulitan berkonsentrasi, mengingat rincian, dan membuat keputusan
  • Insomnia, terjaga di pagi hari, atau tidur berlebihan
  • Makan berlebihan, atau kehilangan nafsu makan
  • Pikiran bunuh diri, usaha bunuh diri
  • Nyeri atau sakit, sakit kepala, kram, atau masalah pencernaan yang tidak mudah bahkan dengan perawatan.

Apa penyakit yang sering berdampingan dengan depresi?

Penyakit lain mungkin datang sebelum depresi, menyebabkan, atau menjadi konsekuensi dari itu. Akan tetapi, depresi dan penyakit lainnya berinteraksi secara berbeda pada orang berbeda. Dalam kasus apa pun, gangguan sampingan yang terjadi perlu didiagnosa dan diobati.

Gangguan kecemasan, seperti pasca-traumatic stress disorder (PTSD), gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, fobia sosial, dan gangguan kecemasan umum, sering menyertai depresi. PTSD dapat terjadi setelah seseorang mengalami peristiwa menakutkan atau cobaan, seperti serangan kekerasan, bencana alam, kecelakaan, terorisme atau pertempuran militer. Orang yang mengalami PTSD sangat rentan untuk mengalami depresi.

Dalam Institut Nasional Kesehatan Mental (NIMH), para peneliti menemukan bahwa lebih dari 40 persen orang dengan PTSD juga mengalami depresi 4 bulan setelah kejadian traumatis.

Alkohol dan penyalahgunaan zat atau ketergantungan lainnya juga dapat berdampingan dengan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa suasana hati dan gangguan penyalahgunaan zat sering terjadi bersama.

Depresi juga dapat terjadi dengan penyakit medis lain yang serius seperti penyakit jantung, stroke, kanker, HIV / AIDS, diabetes, dan penyakit Parkinson. Orang yang mengalami depresi bersama dengan yang penyakit medis lain cenderung memiliki gejala yang lebih parah dari kedua depresi dan penyakit medis, lebih banyak kesulitan beradaptasi dengan kondisi kesehatan mereka, dan biaya medis yang lebih daripada mereka yang tidak memiliki gangguan sampingan berupa depresi. Mengobati depresi juga dapat membantu meningkatkan hasil mengobati penyakit medis.

Apa penyebab depresi?

Kemungkinan besar, depresi disebabkan oleh kombinasi genetik, biologis, faktor lingkungan, dan psikologis.

Penyakit depresi adalah gangguan otak. Teori-teori lama tentang depresi menunjukkan bahwa neurotransmiter penting (bahan kimia yang digunakan sel-sel otak untuk berkomunikasi) tidak seimbang dalam depresi. Namun, tetaplah sulit untuk membuktikan hal ini.

Teknologi pencitraan otak, seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI), telah menunjukkan bahwa otak orang yang mengalami depresi terlihat berbeda daripada orang yang tanpa depresi. Bagian-bagian otak yang terlibat dalam suasana hati, berpikir, tidur, nafsu makan, dan perilaku tampak berbeda. Tapi gambar-gambar ini tidak mengungkapkan mengapa depresi terjadi. Hal tersebut juga tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis depresi.

Beberapa jenis depresi cenderung diturunkan dalam keluarga. Namun, depresi juga dapat terjadi pada orang dengan keluarga tanpa riwayat depresi. Para ilmuwan sedang mempelajari gen tertentu yang mungkin membuat beberapa orang lebih rentan terhadap depresi. Beberapa penelitian genetika menunjukkan bahwa risiko untuk hasil depresi dari pengaruh beberapa gen bertindak bersama faktor-faktor tertentu seperti lingkungan. Selain itu, trauma, kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang sulit, atau situasi stres dapat memicu episode depresi. Episode depresi lain dapat terjadi dengan atau tanpa memicu jelas.

Cerita pribadi:

Ini benar-benar sulit untuk keluar dari tempat tidur di pagi hari. Aku hanya ingin bersembunyi di bawah selimut dan tidak berbicara dengan siapa pun. Aku tak ingin makan dan aku kehilangan banyak berat badan.

Semuanya tidak lagi tampak menyenangkan. Aku lelah sepanjang waktu dan aku tidak tidur nyenyak pada malam hari. Tapi aku tahu aku harus terus berjalan karena aku harus bersekolah. Aku mempunyai masa depan yang harus diperjuangkan. Aku hanya merasa begitu tidak mungkin, tidak akan ada sesuatu yang berubah. Segala sesuatunya buruk dan akan tetap begitu untuk selamanya.

Bagaimana pengalaman anak-anak dan remaja yang mengalami depresi?

Anak-anak yang mengalami depresi seringkali terus memiliki episode saat mereka memasuki usia dewasa. Anak-anak yang mengalami depresi juga lebih cenderung memiliki penyakit lebih parah lainnya di kemudian hari.

Seorang anak dengan depresi mungkin berpura-pura sakit, menolak untuk pergi ke sekolah, berpegang teguh pada orangtua, atau khawatir bahwa orangtua akan mati. Anak yang lebih tua mungkin merajuk, mendapat masalah di sekolah, menjadi negatif dan mudah tersinggung, dan merasa disalahpahami. Tanda-tanda ini dapat dilihat sebagai perubahan suasana hati yang normal khas anak-anak ketika mereka bergerak melalui tahap perkembangan. Oleh sebab itu, sulit untuk mendiagnosis orang muda dengan depresi secara akurat.

Sebelum pubertas, anak laki-laki dan perempuan sama-sama mungkin untuk mengembangkan depresi. Pada usia 15, bagaimana pun, anak perempuan memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mengalami depresi.

Depresi selama masa remaja datang pada waktu mereka berusaha mencari jati diri; ketika anak laki-laki dan perempuan membentuk sebuah identitas terpisah dari orang tua mereka, bergulat dengan isu-isu gender dan seksualitas yang muncul, dan membuat keputusan independen untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. Depresi pada remaja seringkali memiliki gangguan sampingan seperti kecemasan, gangguan makan, atau penyalahgunaan zat. Hal ini juga dapat menyebabkan peningkatan risiko untuk bunuh diri.

Percobaan NIMH (dengan dana klinis) pada 439 remaja dengan depresi berat menemukan bahwa kombinasi obat dan psikoterapi adalah pengobatan yang paling efektif.

Bagaimana depresi didiagnosis dan diobati?

Depresi, bahkan kasus yang paling parah, dapat diobati secara efektif. Pengobatan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik.

Langkah pertama untuk mendapatkan perawatan yang tepat adalah mengunjungi dokter atau spesialis kesehatan mental. Obat-obat tertentu, dan beberapa kondisi medis seperti virus atau gangguan tiroid, dapat menyebabkan gejala yang sama seperti depresi. Seorang dokter dapat menyingkirkan kemungkinan ini dengan melakukan pemeriksaan fisik, wawancara, dan tes laboratorium. Jika dokter tidak dapat menemukan kondisi medis yang dapat menyebabkan depresi, langkah berikutnya adalah evaluasi psikologis.

Dokter mungkin akan merujuk pasien ke seorang profesional kesehatan mental. Segala riwayat keluarga atau gangguan mental lainnya, dan sejarah lengkap gejala pasien akan sangat dibutuhkan dalam pengobatan. Pasien harus membahas kapan gejala dimulai, berapa lama mereka telah berlangsung, seberapa parah mereka, apakah mereka telah terjadi sebelumnya, dan bagaimana mereka ditanggapi. Para profesional kesehatan mental juga mungkin bertanya apakah pasien menggunakan alkohol, obat-obatan, atau berpikir tentang kematian dan bunuh diri.

Setelah didiagnosis, orang dengan depresi dapat diobati dengan beberapa cara. Perawatan yang paling umum adalah dengan obat-obatan antidepresan dan psikoterapi.

Bagaimana saya bisa membantu orang lain yang depresi?

Jika Anda tahu seseorang berada dalam depresi, hal itu akan memengaruhi Anda juga. Yang paling penting yang dapat Anda lakukan adalah membantu teman atau saudara Anda mendapatkan diagnosis dan pengobatan. Anda mungkin perlu membuat janji dan pergi dengan dia untuk menemui dokter. Dorong dia untuk menjalani pengobatan atau untuk mencari pengobatan yang berbeda jika tidak ada perbaikan terjadi setelah 6 sampai 8 minggu.

  • Menawarkan dukungan emosional, pemahaman, kesabaran, dan dorongan.
  • Bicara kepadanya, dan mendengarkan dengan saksama.
  • Jangan pernah mengabaikan perasaan, berikanlah harapan.
  • Jangan pernah mengabaikan komentar tentang bunuh diri, dan beritahukan mereka ke terapis atau dokter.
  • Ajak untuk berjalan-jalan, berwisata, dan kegiatan lainnya. Terus mencoba jika dia mulai down, tetapi tidak mendorong dia untuk kembali bahagia dengan terlalu cepat.
  • Memberikan bantuan dalam mendapatkan janji dokter.
  • Mengingatkan mereka bahwa dengan waktu dan perawatan, depresi akan teratasi.

Bagaimana jika diri saya sendiri mengalami depresi?

Jika Anda mengalami depresi, Anda mungkin merasa lelah, tak berdaya, dan putus asa. Ini mungkin sangat sulit untuk mengambil tindakan apa pun untuk membantu diri Anda sendiri. Bila Anda mulai mengenali depresi dan mulai pengobatan, Anda akan mulai merasa lebih baik.

  • Jangan menunggu terlalu lama untuk dievaluasi atau diobati. Ada penelitian yang menunjukkan satu lagi menunggu, semakin besar gangguan dapat terjadi. Cobalah untuk menemui ahli kesehatan mental secepat mungkin.
  • Cobalah untuk menjadi aktif dan berolahraga. Pergi ke sebuah film atau acara lain, atau kegiatan yang pernah Anda nikmati.
  • Tetapkan tujuan yang realistis untuk diri sendiri.
  • Memecah tugas besar menjadi yang kecil, menetapkan beberapa prioritas dan melakukan apa yang Anda bisa saja.
  • Cobalah untuk menghabiskan waktu dengan orang lain dan curhat dengan teman terpercaya. Cobalah untuk tidak mengisolasi diri sendiri dan biarkan orang lain membantu Anda.
  • Mengharapkan suasana hati Anda untuk meningkat secara bertahap, tidak segera. Jangan berharap untuk tiba-tiba ‘snap out’ dari depresi Anda. Sering kali selama pengobatan untuk depresi, tidur dan nafsu makan akan mulai membaik sebelum suasana hati Anda.
  • Menunda keputusan penting, seperti menikah atau bercerai atau mengubah pekerjaan, sampai Anda merasa lebih baik. Diskusikan keputusan dengan orang lain yang mengenal Anda dengan baik dan memiliki pandangan yang lebih obyektif terhadap situasi Anda.
  • Ingat bahwa berpikir positif akan menggantikan pikiran negatif. Lanjutkan dengan mendidik diri sendiri tentang depresi.
Oleh: Josephine Widya 

Read Full Post »