Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘biografi felix mendelssohn’

MI0003736580felix-mendelssohn

FELIX MENDELSSOHN

(1809-1847)

 

 

Felix Mendelssohn lahir di Hamburg pada tanggal 3 Februari 1809. Ia adalah putra dari Leah Salomon dan Abraham Mendelssohn, seorang bankir yang kaya raya. Ia juga adalah seorang cucu dari rabi Yahudi dan filsuf Moses Mendelssohn. Terlahir dalam keluarga kaya raya dan intelektual tentu memiliki kelebihan baginya. Hal tersebut menyediakan lingkungan budaya yang ideal untuk Felix muda yang artistik dan cepat belajar. Untuk mendapatkan pendidikan yang baik, Felix dan keluarganya pun berkeliling Eropa.

Sementara Moses Mendelssohn mengecam orang Yahudi Jerman yang berpindah keyakinan menjadi seorang kristiani (dengan harapan bahwa mereka akan mendapatkan penerimaan sosial), hal ini tidak menghentikan orang tua Felix Mendelssohn untuk membaptis empat anak mereka, Fanny, Rebekah, Felix, dan Paul, di Gereja Lutheran. Ayah dan ibu Mendelssohn pun akhirnya juga berpindah keyakinan menjadi seorang Lutheran pada tahun 1816, ketika mereka berpindah dari Prancis ke Hamburg dan Berlin. Mereka juga menambahkan Bartholdy sebagai nama keluarga. Namun anehnya, Felix menolak perubahan nama tersebut. Ia tetap menggunakan Mendelssohn sebagai nama belakang.

Perpindahan mereka ke Berlin terbukti bermanfaat bagi Felix muda. Di sana ia mendapatkan pelajaran piano di bawah bimbingan Ludwig Berger dan mendalami komposisi bersama Karl F. Zelter. Sebelumnya, ia sendiri sudah mendapatkan pengajaran dari Fanny, kakak perempuannya. Mengunjungi teman-teman dari keluarga mereka di sana juga memberikan pengaruh positif untuk anak-anak keluarga Mendelssohn. Memang hampir setiap dari mereka adalah seorang intelekual yang terlibat dalam kegiatan seni dan kegiatan kultural lainnya. Sejak masih muda, Felix Mendelssohn telah menunjukkan bakat sejati yang luar biasa di bidang musik. Ia mampu memainkan piano dan biola, melukis, dan berbakat pula dalam bahasa.

Felix melakukan perjalanan ke Paris untuk mempelajari karya-karya Wolfgang Amadeus Mozart dan Johann Sebastian Bach bersama Fanny saudarinya. Ia benar-benar terinspirasi oleh para maestro, terutama Bach. Ia menggubah sebelas simfoni, lima opera, dan banyak karya lainnya untuk piano. Ini barulah permulaan untuk sang jenius muda yang mengesankan bagi para pendengar dan seniman sejawatnya lewat bakat yang luar biasa.

Pada tahun 1821, Zelter membawa muridnya yang baru berusia 12 tahun ini untuk mengunjungi penyair Jerman, Johann Wolfgang von Goethe. Kunjungan ini merupakan hal yang paling penting untuk Mendelssohn muda. Ia tinggal di rumah penulis yang telah berumur 72 tahun itu selama lebih dari dua minggu. Goethe terpesona oleh pemuda yang berbakat ini. Keduanya kemudian saling berkorespondensi melalui serangkaian surat. Beberapa saat kemudian ketika Goethe mendengar kuartet piano B minor karya Mendelssohn. Ia memberikan apresiasi yang begitu besar karena karya tersebut didedikasikan untuknya.

Ketika Felix Mendelssohn berusia 16 tahun, ia menulis oktet untuk alat musik gesek dalam skala E flat mayor, Op. 20. Karya tersebut bukan hanya impresif karena usia komponisnya, tetapi juga karena karya tersebut menjadi yang pertama dari karya-karya sejenisnya. Karya Mendelssohn menampilkan sebuah interaksi cerdik antara dua kuartet gesek yang berbeda. Satu kuartet gesek terdiri dari dua buah biola, satu biola alto, dan sebuah selo.

Selain dari karya-karya sastra Goethe, Mendelssohn juga menemukan inspirasi dari karya dramawan Inggris, William Shakespeare. Pada usia tujuh belas tahun, ia menggubah musik pembukaan (overture) untuk “A Midsummer Night’s Dream Opus 21”. Hal ini berdasarkan permainan komedi dari Bard. Karya tersebut menampilkan orkestrasi luhur dan dianggap sebagai salah satu karya paling indah dari periode Romantik dalam musik klasik.

Dari tahun 1826 hingga 1829, Mendelssohn menempuh pendidikan di Universitas Berlin. Saat itulah ia memutuskan untuk memilih musik sebagai profesinya.

Selama tahun-tahun berikutnya, Mendelssohn melakukan berbagai perjalanan dan tampil membawakan pertunjukan di seluruh Eropa. Dia mengunjungi Inggris, Skotlandia, Italia, dan Prancis. Pada tahun 1832, Mendelssohn mempertunjukkan karyanya yang megah “Overture Hebrides” serta karya-karya penting lainnya di London. London merupakan sebuah kota yang sangat dinikmatinya untuk memberikan pertunjukan.

Pada tahun 1833, ia mendapatkan jabatan konduktor di Düsseldorf. Di sanalah ia memberikan pertunjukan konser, antara lain oratorio gubahan Handel yang berjudul “Messiah”. Pada tahun yang sama, ia menulis banyak karya vokal sendiri, termasuk Lord, Have Mercy Upon Us (Tuhan, Kasihanilah Kami), opera Trala. A frischer Bua bin i, serta Italian Symphony (Simfoni Italia).

Pada usia 26 tahun, Mendelssohn pindah ke Leipzig dan menjadi konduktor dari Leipzig Gewandhaus Orchestra. Ia memainkan karya-karya Bach dan Beethoven. Pada masa itu, hanya ada sedikit minat terhadap musik Bach. Akan tetapi, Mendelssohn mengubah semua itu. Ia menggunakan popularitasnya sendiri, empat ratus penyanyi dan solois dari Singakademie, untuk memperbaharui minat terhadap karya komposer besar itu. Sebelumnya pada tahun 1829, Mendelssohn telah melakukan debutnya sebagai maestro. Dialah yang pertama kali memainkan “St. Matthew Passion” karya Bach sejak sang komposer meninggal dunia pada tahun 1750. Lalu yang perlu dicermati juga, pertunjukan itu dilakukannya genap 100 tahun sejak pertunjukan perdana yang dilaksanakan oleh Bach sendiri.

Pada tahun 1832, Mendelssohn menikahi Cécile Jeanrenaud, putri seorang pendeta Protestan. Hidup pernikahan mereka sungguh bahagia. Mereka dikaruniai lima anak, Carl, Marie, Paul, Felix, dan Lilli. Selama tahun-tahun berikutnya, Mendelssohn sangat produktif. Ia berhasil mempertunjukkan banyak komposisinya dengan sukses. Ia pun juga berhasil dalam mempertunjukkan karya-karya para komponis besar lainnya. Mendelssohn menggubah beberapa karya untuk piano, yang saat itu memang sangat populer. Selain itu, ia juga menulis untuk berbagai kombinasi alat musik dan nyanyian.

Pada tahun 1842, Mendelssohn mempertunjukkan konser pribadinya untuk Pangeran Albert dan Ratu Victoria. Keduanya adalah pendukung kuat karya Mendelssohn. Setahun kemudian, Mendelssohn mendirikan dan memimpin Konservatori Leipzig. Di sana ia juga mengajar saat jadwalnya yang padat memberinya sedikit waktu luang. Meskipun ia seorang individualis yang bahagia dan menyenangkan, Mendelssohn kadang-kadang terlalu perfeksionis terhadap murid-muridnya. Hal ini mungkin karena ia begitu bergairah tentang musik. Ia mengalami waktu-waktu yang sulit untuk mendengarkan kesalahan pemula muridnya. Namun demikian, Konservatori Leipzig tetaplah salah satu lembaga musik yang paling bergengsi di Jerman selama setengah abad.

Selain jabatannya di konservatori, Mendelssohn juga adalah seorang direktur Bagian Musik dari Akademi Kesenian di Berlin. Ia dipilih oleh Raja Frederik dari Prusia untuk jabatan tersebut. Akan tetapi, tanggung jawab ini tak sepenuhnya menyenangkan untuk Mendelssohn. Ia kurang suka bila harus mengerjakan sebuah komposisi atas permintaan seseorang. Dia hanya memiliki sedikit waktu tersisa untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri. Syukurlah ia masih dapat membagi waktu untuk menulis karya hebat seperti overture Ruy Blas. Ia juga sempat menggubah musik panggung untuk drama Shakespeare, A Midsummer Night’s Dream. Melodi Wedding March yang sungguh terkenal sekarang ini hanyalah salah satu bagian saja dari karya tersebut. Selain itu, ia juga menggubah The Scottish Symphony (Simfoni Skotlandia), karya ketiga dari lima simfoni yang ditulis selama hidupnya.

Felix Mendelssohn sangat dekat dengan keluarganya. Dari kakak perempuannya Fanny hingga ayahnya, istri, dan anak-anaknya. Ia sungguh menghargai saat-saat ia bisa menghabiskan waktu bersama mereka. Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1835, Mendelssohn merasa telah kehilangan sahabat terbaiknya. Tujuh tahun kemudian ibunya pun meninggal. Ini menambah tragedi dalam kehidupan Mendelssohn. Namun, yang terburuk belum datang.

Setelah reuni keluarga untuk merayakan Natal, Fanny saudarinya terserang stroke saat sedang berlatih untuk konser hari Minggu. Saudarinya itu akhirnya meninggal pada tanggal 14 Mei 1847. Felix Mendelssohn sendiri dikabarkan menjerit dan pingsan setelah mendengar berita duka tersebut. Ia hancur oleh rasa kehilangan. Tak dapat dimungkiri lagi, suasana hati Mendelssohn tak pernah membaik setelah kepergian Fanny. Ia sendiri pun akhirnya mengalami stroke sebanyak dua kali. Serangan yang kedua telah mengantarkannya pada kematian pada tanggal 4 November 1847. Dia berumur 38 tahun saat itu. Jasadnya dimakamkan di samping kakaknya di pemakaman Gereja Salib Suci di Berlin.

Sementara sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam kebahagiaan, tahun-tahun terakhir dalam kehidupan Mendelssohn diwarnai oleh kesedihan dan tragedi. Namun, hal ini tidak menghalangi dia untuk menulis dan menggubah komposisi. Meskipun dihadapkan pada segala kesulitan dan jadwal yang begitu sibuk, ia tetap berusaha untuk memelihara inspirasi dan kualitas karya yang sama. Beberapa kritikus mungkin berpendapat bahwa ia dapat menjadi seorang Bach atau Mozart yang lain bila ia menderita lebih banyak lagi dalam hidup. Sebuah istilah Prancis menyatakan bahwa seniman yang paling terpuruk dan menderita adalah seniman yang terbesar. Bagaimana pun tetap menarik untuk dicatat bahwa bahkan setelah kematiannya, ada insiden yang lebih tragis yang merusak reputasi Mendelssohn. Hampir seratus tahun setelah kematiannya, Nazi mencoba untuk mendiskreditkan dia. Mereka mencoba menurunkan patung Mendelssohn di Leipzig. Mereka juga sempat melarang studi dan pertunjukan musik Mendelssohn.

Tentu saja, tidak ada upaya mereka yang benar-benar berhasil untuk membungkam suara sang jenius. Mendelssohn kini diakui setara dengan Wolfgang Amadeus Mozart di abad ke-18. Banyak kritikus setuju bahwa kontribusi yang paling menonjol dari Mendelssohn adalah untuk genre musik organ dan paduan suara. Ini dimungkinkan dari kekagumannya yang mendalam terhadap Bach dan Handel. Mendelssohn tetaplah seorang komposer paling sukses pada masanya. Namun yang lebih penting lagi, orang yang sungguh berbakat seperti Mendelssohn ini sudah tentu layak disandingkan bersama komponis besar lainnya seperti Mozart, Bach, dan Beethoven.

Saya sendiri lebih menyukai musik Mendelssohn daripada musik Mozart. Musik Mendelssohn sebenarnya juga beraliran Klasik karena keteraturan dan rasa sensitifnya. Namun daripada terus berkutat untuk membandingkan keduanya, lebih baik kita menyadari fakta bahwa mereka berdua sama-sama begitu berbakat di usia muda. Itu semestinya sudah cukup memesona dan menginspirasi kita. Namun tentu saja, bakat saja tidak sebanding dengan kesuksesan. Ada banyak sekali hal yang membuat mereka menjadi seorang virtuoso. Nicole Bianchi telah menjabarkannya dengan sangat baik dalam tulisannya yang berjudul How to Become a Virtuoso: 5 Lessons from the Life of Child Prodigy Felix Mendelssohn:

 

  1. Carilah Impian Anda dan Kejarlah

 

Mendelssohn dan Mozart menemukan impian dan bakat mereka untuk musik ketika mereka berdua masih sangat muda. Mendelssohn mulai mengambil pelajaran piano saat berusia enam tahun. Orang tuanya memastikan bahwa Mendelssohn dan Fanny saudarinya (yang juga seorang anak berbakat) mendapatkan seorang guru terbaik untuk mengembangkan bakat musik mereka. Orang tua Mendelssohn tahu bahwa tanpa seorang guru pun mungkin anak-anak mereka sudah terampil. Namun, mereka pun masih berhati-hati untuk mendorong Mendelssohn berkarir dalam bidang musik. Namun akhirnya, mereka merasa yakin setelah melihat disiplin diri dan motivasi anak mereka itu terhadap musik.

Ketika masih remaja, Mendelssohn telah menjadi komposer yang produktif. Meskipun Mendelssohn tahu bahwa ia berbakat, ia tak pernah bersantai atas bakatnya. Ia terus menerus berlatih tanpa kenal lelah, menggubah musik, dan mempelajari karya dari komposer favoritnya, Johann Sebastian Bach. Mendelssohn dilahirkan dengan fokus dan dedikasi yang tak habis-habisnya. Tak hanya berbakat atas apa yang ia lakukan, ia juga mencintai apa yang ia lakukan. Ia bahkan mencintai proses pembelajaran yang harus dilaluinya.

Memang anak berbakat seperti dirinya adalah hal yang langka. Namun, tekad teguh mereka haruslah menginspirasi kita. Setiap orang dapat mengembangkan ketekunan dan kegigihan. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menemukan bakat dan talenta kita, lalu bekerja keras untuk mengembangkan keterampilan yang kita miliki itu. Ada sebuah peribahasa yang berkata, “Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah dua puluh tahun yang lalu. Waktu terbaik yang kedua adalah sekarang.”

 

  1. Ciptakan Karya Terbaik Anda

 

Sebuah kutipan yang dikaitkan dengan Mendelssohn menyatakan, “Sejak saya mulai menggubah, saya tetap setia pada prinsip awal saya: tak akan menulis berdasarkan kesukaan publik, atau juga bila gadis cantik menginginkannya begini atau begitu; tetapi semata-mata sebagai yang terbaik menurut saya sendiri, dan ini memberi saya kesenangan.”

Jelas, Mendelssohn tidak berpikir mengenai popularitas dan keberuntungan ketika ia menggubah suatu komposisi. Sebaliknya, ia ingin menciptakan karya sebaik yang ia mampu. Dia ingin menciptakan sesuatu yang benar-benar indah dan yang akan menginspirasi kehidupan orang lain. Memang untuk Mendelssohn, tujuan utamanya adalah memuliakan Tuhan dengan karyanya. Orang tuanya telah berpindah keyakinan dari Yudaisme menjadi seorang kristiani. Mendelssohn sendiri memang sangat religius. Ia menyusun banyak sekali karya musik sakral, termasuk dua oratorio Alkitab tentang kehidupan Elia dan Paulus. Seorang temannya, Julius Schubring menulis, “Pada suatu kesempatan, dia [Mendelssohn] dengan tegas menyatakan bahwa musik sakral, tidak berdiri lebih tinggi daripada musik lainnya; sebab semua musik, dengan caranya yang unik, seharusnya diciptakan untuk memuliakan Tuhan.”

Meskipun kita bukan terlahir sebagai seorang anak berbakat, kita semua memiliki potensi untuk menjadi besar dengan selalu mengupayakan yang terbaik, selalu bekerja untuk mewujudkan sesuatu yang bisa kita banggakan, selalu ingin meningkatkan kualitas pekerjaan kita. Kita tidak akan pernah tahu potensi sejati kita sebelum menantang diri sendiri untuk bekerja sekeras mungkin dan tetap pada kepercayaan kita, untuk menghormati Tuhan atas karunia yang telah diberikan-Nya pada kita.

 

  1. Tak Pernah Berhenti Belajar

 

Mendelssohn selalu bersemangat mempelajari karya-karya komponis besar yang hidup sebelum dia: Mozart, Bach, dan Beethoven. Ketika berumur enam belas tahun, gurunya Ignaz Moscheles mengakui bahwa hanya ada sedikit yang dapat diajarkannya pada anak lelaki itu. Namun demikian, Mendelssohn selalu menekankan pentingnya pendidikan musik. Pada tahun 1843, ia mendirikan sebuah konservatori di Leipzig yang masih ada hingga hari ini. Mendelssohn adalah teman dekat Ratu Victoria. Mendelssohn pun menjadi komponis favorit beliau. Karyanya yang berjudul “Wedding March” dimainkan pada perayaan pernikahan putri sang ratu. Mungkin hal ini jugalah yang membuat karya tersebut menjadi salah satu karyanya yang paling terkenal. Ketika sang ratu mendengar kabar atas meninggalnya Mendelssohn, ia menyatakan, “Kami merasa ngeri, terkejut, dan sedih membaca di surat kabar tentang kematian Mendelssohn, jenius musik terbesar sejak Mozart, dan dia adalah orang yang paling ramah. Kami menyukai dan menghormati pria yang sangat baik itu, dan memandang tinggi, dan menghormati sang jenius yang begitu luar biasa. Dengan itu semua, dia begitu sederhana dan rendah hati.”

Pada akhirnya, Mendelssohn pernah membiarkan keberhasilan pergi begitu saja dari pikirannya. Ia tetap rendah hati atas karunia yang dimilikinya. Ia selalu berusaha untuk terus belajar dari orang lain. Jika kita ingin sukses dalam bidang kita, kita juga harus tetap rendah hati. Kita mengetahui bahwa sebesar apa pun kesuksesan kita, kita tetap perlu untuk belajar. Kita harus membaca sebanyak yang kita bisa dan mencari orang-orang yang lebih pintar dari kita sehingga kita dapat belajar dari mereka.

 

  1. Kumpulkan Pengalaman di Luar Anda dan Mulailah Hobi Baru

 

Mendelssohn bukan hanya seorang komponis dan musisi yang brilian. Dia juga seorang pelukis cat air yang berbakat. Dia dapat berbicara dalam empat bahasa (Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia). Ia juga memiliki pengetahuan dalam bahasa Latin, menerjemahkan drama roman ke dalam bahasa Jerman. Ia banyak membaca, terutama tentang sejarah dalam rangka untuk menggambarkan dunia kuno secara akurat dalam oratorionya yang berjudul Santo Paulus. Lebih lanjut, dia senang melakukan perjalanan keliling Eropa dan perjalanannya itu sering memengaruhi simfoninya: The Scottish Symphony (Symphony No. 3 in A Minor) dan The Italian Symphony (Symphony No. 4 in A Major). Seperti yang diamati oleh Nicole Bianchi dalam artikelnya, memiliki beberapa hobi dapat membantu Anda menjadi lebih terampil dalam satu bidang di mana Anda memiliki bakat yang paling menonjol. Keterampilan melukis yang dipelajari Mendelssohn memberikan inspirasi terhadap musiknya. Seorang virtuoso harus menjalani kehidupan yang kaya dan memuaskan. Pengalaman dan hobi Anda akan menjadi penunjang kreativitas Anda. Hal-hal tersebut akan menstimulasi otak Anda dan membuat Anda menjadi pribadi yang utuh. Anda tak pernah tahu di mana Anda akan menemukan inspirasi.

 

  1. Bagikanlah Pekerjaan Anda pada Dunia

 

Felix Mendelssohn pernah mengatakan: “Meskipun segala sesuatu yang lain mungkin tampak dangkal dan memuakkan, bahkan tugas terkecil dalam musik sangat merasuk dan membawa kita begitu jauh dari kota, negara, bumi, dan semua hal-hal duniawi, inilah hadiah yang benar-benar terberkati oleh Tuhan.”

Ketika Mendelssohn menggubah, ia tidak berencana untuk meninggalkan lembaran musiknya di laci berdebu setelah selesai. Tujuannya adalah untuk memberikan pertunjukan di depan penonton yang akan terinspirasi dan tersanjung oleh keindahan yang telah diciptakannya. Dengan aspek religiusnya, ia berharap untuk dapat mewartakan Injil. Sebuah seni tidak akan memiliki pengaruh bila tidak ada seorang pun penontonnya. Meskipun kita harus selalu mencoba untuk melakukan pekerjaan yang terbaik, kita tak harus menjadi perfeksionis hingga takut pekerjaan kita tak akan sanggup menatap matahari. Mendelssohn mulai berbagi karyanya sejak usia yang sangat muda. Ia mampu memetik manfaat dari saran orang lain tentang perbaikan yang harus dilakukannya. Janganlah takut untuk membagikan karyamu terhadap dunia. Mendelssohn percaya bahwa ia membuat musik semata-mata bukan hanya untuk musik saja, tetapi juga untuk memuliakan Sang Pencipta dan mengubah budaya. Anda tidak pernah tahu dampak dari karya yang Anda miliki hingga Anda membiarkan dunia melihatnya.

Sumber:

http://www.felixmendelssohn.com/felix_mendelssohn_bio_001.htm

http://inkwellscholars.org/5-lessons-life-child-prodigy-felix-mendelssohn/

Read Full Post »