Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘cobaan’

Bacaan Pertama:

 Ayub 7:1-7

7:1 “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?

7:2 Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya,

7:3 demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.

7:4 Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari.

7:5 Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah.

7:6 Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan.

7:7 Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik.

Bacaan Injil

Markus 1: 29-39

1:29 Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.

1:30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.

1:31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.

1:32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan.

1:33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.

1:34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;

1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.”

1:38 Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”

1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Renungan

Di dalam dunia ini, banyak sekali kesedihan yang dialami oleh manusia. Kita pun pasti sering mengalami sendiri yang namanya penderitaan. Entah karena kesalahan kita sendiri atau memang karena sebab yang tidak diketahui.

Jika hanya membaca secuil kutipan dari Kitab Ayub di atas, mungkin kita akan merasa murung. Betapa tidak? Rasa-rasanya penderitaan Ayub itu tidak ada habis-habisnya. Hari-harinya berat. Malam-malamnya terentang panjang. Namun dari semuanya itu, Kitab Ayub akan mengajarkan kepada kita bagaimana harus bertindak dalam penderitaan dan kesengsaraan. Kita bahkan dapat belajar menjadi orang yang setia seperti Ayub.

Pada zaman dahulu, penderitaan seseorang dipercaya sebagai akibat dari dosa-dosa. Kepedihan yang kita alami dianggap karena kesalahan kita. Akan tetapi, akan lebih bijaksana bila kita mau menelisik lebih dalam tentang makna penderitaan. Ada kalanya, penderitaan yang kita alami itu bukan karena kejahatan kita. Juga bukan karena kesalahan orang lain. Penderitaan dan kesengsaraan adalah misteri Tuhan. Pun kalau kita berputar-putar dari satu buku ke buku yang lain, kita tidak akan menemukan jawabannya. Tidak hari ini. Tidak saat ini. Dan mungkin, tidak selama kita masih hidup.

Kadangkala kita bertanya: Mengapa saya harus menderita? Mengapa saya dan bukan orang lain? Saya tidak memiliki dosa berat. Penderitaan ini tidak setimpal dengan dosa-dosa saya. Saya orang baik. Mengapa Tuhan tega meninggalkan saya dalam jurang kekelaman dan belenggu Si Jahat?

Mengapa ini. Mengapa itu.

Sekali lagi ditekankan, semuanya adalah misteri Tuhan. 

Beberapa orang berkata bahwa Tuhan tidak pernah memberikan pencobaan yang lebih dari kekuatan kita. Bila kita masih dicobai, berarti Tuhan percaya bahwa kita dapat menanggung segala beban itu. Tuhan percaya bahwa kita akan menang melawan dosa dan maut. Santo Santa dan para martir mempersatukan segala kesengsaraan mereka dengan kesengsaraan Yesus sendiri. Mereka berharap agar dunia dapat diselamatkan dan ditebus melalui penderitaan yang mereka alami.

Jadi, siapkah kita semua untuk menderita demi orang lain? Terlebih lagi, siapkah kita untuk tetap setia pada Tuhan? Meski dinginnya malam mencekam, meski rasa sakit tak hentinya mengoyakkan jiwa kita. Percayalah, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu ada bagi kita. Bahkan di malam-malam yang tergelap dalam kehidupan kita.

Sebagaimana bintang menyinari gelapnya langit malam, cahaya surgawi Tuhan akan senantiasa menyinari jiwa kita yang setia dan tetap teguh berharap pada-Nya.

Read Full Post »