Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘die liebestraume’

Ludwig von Lonquich,
31 Desember 1889.
ludwig-und-hanna
Salju telah menyelimuti seluruh rupa Kota Wina. Butir-butir salju tak hentinya melipur bumi. Aku masih senang, meski hanya kuda-kuda dalam istal yang dapat kulihat dari jendela ini. Tidak ada satu manusia pun. Jalanan sunyi senyap.
 
Kota ini sungguh beku. Namun, aku masih bisa melupakan betapa dinginnya sejenak. Yang perlu kulakukan hanyalah memainkan sebuah melodi di pianoku, Nocturne Op. 9 Nr.2-karya Frederic Chopin. Bagiku, simfoni Chopin ini adalah salah satu dari banyak karya besarnya yang menarik. Hanya dengan mengalunkan melodi ini, rasanya tubuhku sudah berpindah ke sebuah ruangan berlapiskan emas, berdansa dengan seorang yang sangat kucintai. Tanganku akan terus menari kian kemari bersama tuts hingga tak terasa aku sudah memainkannya hingga akhir.
 
Ironis sekali. Aku bahkan tak sedang bersama Hanna saat ini.
 
Sebentar aku terdiam. Lalu kututup pianoku dengan enggan. Pula kedua mataku memandang jauh ke luar jendela. Di luar sana, langit sudah mulai gelap.
 
Aku pun mulai menyalakan lentera. Kuletakkan benda tersebut di atas meja kecil. Kerdipnya tak cukup menerangi kamar besar ini. Aku terpaksa menyalakan dua buah lentera lainnya hingga seluruh ruangan menjadi terang. Lalu tak lama setelah itu, aku mendengar suara pintu dibuka.
 
“Mengapa engkau hanya duduk diam saja di situ?” tanya seseorang.
 
Suara itu datang dari Paman, Mathias von Lonquich. Usianya sepuluh tahun lebih tua daripada ayahku. Meski umurnya menjelang enam puluh tahun, perawakannya masih saja kekar. Sebelum ini, aku jarang bertemu dengannya.
 
“Tidak ada apa-apa,” jawabku, “aku hanya sedang memikirkan Kota Gent saat ini.”
 
“Dan kurasa  aku tak sedang berdiam diri, Paman. Aku baru saja bermain piano,“ lanjutku.
 
Ia hanya menggelengkan kepala.
 
“Aku benar-benar tidak mengerti. Pertama-tama Klemens, sekarang dirimu. Mengapa kalian begitu menghargai musik?”
 
“Kalau bukan musik, apa lagi yang pantas dibanggakan oleh seorang Lonquich?” tanyaku.
“Lagipula aku sudah mahir bermain pedang dan panah. Apakah yang masih kurang dan harus kulatih lagi?”
 
“Ya, engkau memang sudah hebat. Justru itu, semestinya engkau lebih giat lagi melatih fisikmu…. Engkau tidak akan menjadi sehat dengan menekan tuts piano, Ludwig…. Lakukanlah hal-hal yang lebih berguna, seperti ikut pelatihan militer—”
 
Aku hanya bisa medengarkannya secara samar-samar. Paman Mathias memang sangat sering menekankan bahwa anak muda keturunan Lonquich seharusnya menjadi seperti dirinya dahulu. Buyutku, Panglima Gregor von Lonquich, memang salah satu pejuang yang bertempur dalam Perang Suksesi Austria di tahun 1742. Sering kudengar soal kisahnya saat berperang mempertahankan Silesia. Paman Mathias, sebagai anak tertua di antara saudara-saudaranya, dipaksa oleh keluarga besarku untuk mengikuti kegiatan militer dan merasa bangga akan hal tersebut. Sebuah alasan mengapa aku jarang sekali bertemu dengan anak-anaknya yang militan juga.
 
Jarang bertemu…
Benar juga…. Sudah berapa lama aku tak jumpa dengan Hanna? Sungguh, baru dua bulan kami berpisah….
 
Apakah dia merindukanku?
Dia tidak pernah mengucapkannya, hanya memendam di dalam hati. Satu kebiasaan darinya yang kadang membuatku marah pada diri sendiri karena merasa tak bisa melakukan apa pun untuk menghibur.
 
Lalu sekarang setelah kami jauh, apakah dia merasa aku melupakannya?
 
Ingin sekali aku memeluknya saat ini juga dan mengatakan kepadanya, “Mana mungkin aku melupakanmu?”, tetapi aku tak bisa melakukan itu. Aku harus cukup lama tinggal di kota ini. Paman ingin aku mengurus surat warisan rumah Ayah dan Ibu, rumahku yang kini kosong.
 
Namun sungguh, aku benar-benar sangat merindukan Hanna.
 
“Ludwig, apa engkau mendengarkan?” tanya Paman.
“Aku akan kembali,” kataku yang masih melamun.
“Kembali? Apa maksudmu engkau akan kembali?”
 
Aku tersentak. Aku tak menyadari Paman Mathias masih berada di ruanganku. Terlalu terlena diriku ini.
 
“Sudahlah. Intinya engkau masih muda, Ludwig. Jangan sia-siakan masa mudamu dengan hal-hal seperti itu.”
“Apakah Paman kemari hanya untuk menasihatiku?” tanyaku.
“Tentu tidak, aku hanya ingin memberi tahu bahwa engkau sudah terlambat makan malam. Turunlah ke dapur sendiri bila engkau sudah lapar,” cetus Paman.
“Iya.”
 
Paman Mathias yang mulai bosan pun berjalan keluar dan menutup pintu ruangan.
 
Setelah lelah berpandangan kosong, aku pun berbaring di atas tempat tidurku. Lalu tiba-tiba aku teringat sebuah bagian dari puisi karangan Ferdinand Freiligrath yang menjadi inspirasi Liebesträume Nr. 3, karangan Franz Liszt.
“Waktunya akan datang…, ya….”
 
Aku memejamkan mata. Hanya sebuah nama yang mengada di dalam pikiranku. Itulah nama yang mengingatkanku akan seorang berparas manis dengan hati murni nan lembut.
 
Hanna….
Aku pasti akan segera kembali untukmu.
Oleh: William G.S.

(dengan berbagai perubahan)
Advertisements

Read Full Post »

Alfons van Beecke,

 

18 Juli 1887.

 NL_Liszt

 

 

Untuk engkau yang begitu manis,

 

Pertama-tama kukatakan, aku tidak mencintaimu sama sekali. Aku juga tidak menyukaimu. Aku tak senang akan paras dan penampilanmu. Rambutmu sehitam malam, aku tidak suka. Di manakah kilau keemasan yang seharusnya dimiliki oleh setiap gadis cantik itu? Mata cokelatmu, aku juga tak suka. Di manakah cahaya biru laut yang harus dimiliki oleh semua wanita memesona itu?

 

Banyak hal darimu yang menggangguku. Kakimu yang mungil, ah, seharusnya engkau memiliki kaki jenjang. Sepasang bibirmu juga biasa saja. Tidak tebal, tidak sensual, tidak juga tipis. Engkau tak menarik. Engkau juga tak seperti seorang bintang opera yang kubayangkan. Kupikir dengan suara seindah itu, engkau pastilah seorang gadis yang sungguh cantik.

 

Ternyata tidak.

 

Engkau hanya seorang gadis pintar yang bisa banyak hal. Engkau tidak mengikuti mode sebagaimana seharusnya para bintang opera. Penampilanmu kuno dan membosankan. Engkau abai terhadap parasmu yang sama sekali tidak dipoles. Oh, sungguh, mungkin Tuhan telah salah menala nada di pita suaramu. Suara malakmu terlalu indah kudengar. Tidak sebanding dengan penampilan cerdasmu. Heran rasanya, mengapa Maestro Klaapsink begitu menyayangimu?

 

Saat awal aku mengenalmu, kupikir engkau akan bicara bahasaku dengan tak keruan. Aku khawatir akan mendengar dialek Bavaria aneh dari mulutmu. Bahkan aku takut engkau tak dapat mengucapkan bahasa Jerman murni.

 

Kali ini aku salah.

 

Engkau bicara bahasa Jerman dengan sangat fasih. Aku tak mendengar aksen dan dialek tertentu. Engkau bahkan bisa menggunakan bahasaku dengan baik. Engkau tak seperti seorang yang tengah merantau. Engkau seperti seorang yang asli dari kota ini, sama sepertiku.

 

Sekali lagi, aku masih belum menyukai ataupun mencintaimu. Engkau hanya mulai menarik untukku.

 

Namun setiap aku beradu peran denganmu, kulihat engkau sungguh berbeda. Engkau memang tak menyukai drama ataupun sandiwara. Namun harus kuakui, engkau memainkannya dengan sangat indah. Setiap kali menyentuh tanganmu, aku merasakan betapa lembutnya. Setiap kali kucium aroma tubuhmu yang harum, aku menjadi nyaman. Setiap saat bersamamu, aku selalu bahagia. Diriku ingin mengenalmu lebih jauh. Setidaknya menjadi temanmu.

 

Lalu ketika tahu dirimu seorang bangsawan, aku mulanya tak percaya. Tapi sedikit demi sedikit aku dapat melihat jejak-jejak darah biru itu dari tiap keanggunanmu. Juga kenyataan bahwa engkau tengah belajar di sebuah perguruan, pastilah engkau benar seorang bangsawan.

 

Mungkin karena itulah engkau tak pernah mengagumiku, tak seperti wanita lain. Engkau sudah memiliki segalanya lebih daripadaku, nona bangsawan. Engkau sepertinya hanya hendak menjadi temanku. Namun dari setiap tatap matamu, aku tahu engkau ingin lebih dekat denganku. Engkau ingin mengenalku. Engkau ingin…. Apakah engkau ingin menjadi milikku? Apakah engkau ingin kucinta?

 

Bila begitu adanya, kurasa kini tak cukup hanya menjadi temanmu. Aku mulai mengharapkan yang lebih dari hubungan kita. Itu supaya engkau tahu arti cinta yang sesungguhnya bagiku. Ketahuilah Sayang, aku tak pernah setengah-setengah memberikan cintaku untuk seorang gadis. Walau memang, semua ini telah terlambat. Terlambat. Engkau sudah memiliki seorang kekasih setia-Ludwig von Lonquich, si pemusik buruk rupa itu.

 

Engkau menyayanginya! Oh, ya! Engkau sungguh sayang padanya!

 

Yang dapat kulakukan selama berbulan-bulan hanyalah menunggu. Aku menunggu lelaki itu pergi darimu. Aku menunggu, siapa tahu hatimu akan beralih padaku. Lama-kelamaan aku menjadi hilang kesabaran. Aku tidak menyukai pria yang bersamamu saat ini. Dia sungguh-sungguh menyebalkan. Betapa dia tak pernah terus terang setiap kuajak berbicara. Betapa aku yakin dia rela mengorbankan orang lain untuk harga dirinya sendiri. Pria misterius yang keji.

 

Seseorang yang egois seperti Ludwig, bukanlah dia yang harus menjadi impian cintamu. Seorang berhati dingin itu bukan untukmu, Sayangku.

 

Aku ingin melindungimu dari lelaki itu. Aku ingin memberimu kehangatan yang tak akan pernah engkau dapatkan dari dia. Sejak awal aku tak tahu bagaimana cara Ludwig mencintaimu. Aku juga tak tahu apa yang diinginkannya darimu, dengan memilikimu….

 

Percayalah, Hanna yang manis, hanya aku yang pantas engkau cinta. Hanya aku yang bersungguh-sungguh ingin mencintaimu.

 

Tapi…, bolehkah?

Read Full Post »