Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘epidemiologi osteoporosis’

Epidemiologi

  • Diperkirakan 200 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit ini
  • 1/3 wanita dan 1/5 pria > 50 tahun
  • 40% penderita wanita dan 15-30% penderita pria akan mengalami patah tulang
  • Penuaan populasi di seluruh dunia berpengaruh pada peningkatan pesat insidensi osteoporosis

Prevalensi Osteoporosis di Indonesia

  • PEROSI (2007): prevalensi 28,8% pada pria, 32,3% pada wanita
  • Depkes: prevalensi osteoporosis 19,7%
  • Prevalensi osteopenia 41,7%
  • Fraktur inisial akan menjadi faktor risiko untuk fraktur baru
  • Pasien dengan fraktur vertebra: 2-3x berisiko mengalami fraktur panggul, 1,4x berisiko mengalami fraktur distal lengan

Fraktur Tulang Belakang

  • Di Eropa: prevalensi meningkat sebanyak 12% untuk masing-masing jenis kelamin
  • Pada pria lebih sering karena trauma pekerjaan
  • Fraktur baru lebih sering terjadi pada pertengahan toraks atau torakolumbalis.
  • Angka kejadian: 10,7/1000 wanita, 5,7/1000 pria berusia standar

Fraktur Tulang Panggul

  • Dapat menyebabkan kecacatan serius
  • Meningkatkan mortalitas sebesar 10-20%
  • Insidensi di seluruh dunia sekitar 1,7 juta
  • Biasa pada usia > 50 tahun

Fraktur Pergelangan Tangan

  • Lebih sering pada wanita > 65 tahun
  • Peningkatan insidensi pada usia 46-60 tahun
  • Hanya 15% terjadi pada pria (1,7/1000 pria/tahun)
  • Pada wanita: 7,3/1000 wanita/tahun

Faktor Risiko yang Tak Dapat Dimodifikasi

  • Usia: daya serap kalsium akan menurun seiring bertambahnya usia
  • Gender: wanita kehilangan massa tulang 30-50%, pria hanya 20-30%
  • Genetik: menentukan kepadatan tulang
  • Gangguan hormonal: menopause (estrogen <<), pria yang mengalami defisit testosteron (di tubuh nantinya juga akan diubah menjadi estrogen)
  • Gangguan hormonal lain seperti tiroid, paratiroid, insulin dan glukokortikoid

    • Insulin:
      • Diabetes I: massa tulang <<
      • Diabetes II: massa tulang >>, tetapi risiko fraktur >>
    • Paratiroid: resorpsi tulang untuk meningkatkan kalsium darah, meningkatkan penyerapan kalsium usus, meningkatkan reabsorbsi kalsium di ginjal
    • Glukokortikoid: menurunkan rentang waktu hidup osteoblas dan osteosit
  • Penurunan hormon estrogen secara fisiologik dimulai dari usia 35-65 tahun -> masa klimakterium
  • Ras kulit putih

Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi

  • Imobilitas: berakibat pada pengecilan tulang dan pengeluaran kalsium dari dalam tubuh
  • Postur tubuh kurus: mempengaruhi tingkat pencapaian massa tulang
  • Kebiasaan (alkohol, rokok, kopi, kafein, soda): berpotensi mengurangi penyerapan kalsium ke dalam tubuh
  • Asupan gizi rendah (kalsium, fosfor, seng, vit B6, C, D, K, fitoestrogen)
  • Kurang terkena sinar matahari: pembentukan vit D3 di kulit <<
  • Kurang aktivitas fisik: menghambat proses pemadatan massa tulang dan kekuatan tulang, tetapi tak boleh juga olahraga berlebih

 

Kortikosteroid: reduksi formasi tulang dan kelangsungan hidup osteoblas dan osteosit
Antikonvulsan: induksi enzim hepar -> 25 hidroksivitamin D menjadi metabolit inaktif

Antikoagulan: hambat vit K
Vitamin C: maturasi osteoblas untuk menjadi sel pembangun yang aktif

Vitamin B6: peran dalam metabolisme metionin menjadi sistein. Apabila kurang, maka akan tertimbun banyak homosistein. Homosistein akan menstimulasi osteoklas, tetapi tidak pada osteoblas. Hal ini akan mengakibatkan resorpsi tulang. Selain itu homosistein akan mengganggu ikatan silang kolagen yang merupakan penyusun matriks ekstraselular

Vitamin K2: menghambat apoptosis osteoblas dan memelihara jumlah osteoblas

Sumber:

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1142/MENKES/SK/XII/2008 tentang Pedoman Pengendalian Osteoporosis
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/124731-S-5792-Faktor-faktor%20yang-Pendahuluan.pdf
http://www.iofbonehealth.org/epidemiology

http://www.niams.nih.gov/Health_Info/Bone/Osteoporosis/Conditions_Behaviors/diabetes.asp

http://www.australianprescriber.com/magazine/31/2/45/9/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20226391

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17906277
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22025246

Read Full Post »