Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘esai peranan koasisten’

BAGAIMANA PERANAN, TUGAS, DAN TANGGUNG JAWAB SAYA SEBAGAI KOASISTEN DI LINGKUNGAN KERJA DI RUMAH SAKIT

 

Dokter adalah suatu profesi yang amat mulia. Terkadang tidaklah berlebihan jika seorang dokter dianggap sebagai uluran tangan Tuhan yang menyembuhkan manusia dari sakit penyakit. Selain itu, dokter juga berkewajiban memelihara dan menjaga kesehatan setiap insan. Ilmu kedokteran pun senantiasa berkembang. Dahulu pasien datang ke dokter untuk sembuh. Di era sekarang, pasien ingin sembuh dan puas. Apabila kita dapat memahami kebutuhan pasien, tentunya pasien akan semakin antusias dan mudah menerima nasihat yang kita berikan dalam usaha pemeliharaan kesehatannya.

Kebutuhan pasien tersebut hanya dapat dipenuhi oleh seorang dokter yang baik. Untuk menjadi seorang dokter yang baik, ada beberapa unsur yang harus dimiliki oleh kita sebagai tenaga medis. Seorang dokter mesti memiliki kepribadian, ilmu, dan keterampilan yang baik. Kepribadian yang baik tercermin dari perilaku yang tulus dan ikhlas dalam menolong pasien. Seorang dokter harus mampu meletakkan kepentingan pasien di atas kepentingan dirinya sendiri.

Dalam lingkungan kerja rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Immanuel, tentu kita mengenal semboyan ‘heman, geten, ka papancen’. Artinya adalah penuh kasih sayang, perhatian, dan telaten dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Semboyan tersebut sudah sepantasnya menjadi semangat bagi kita semua sebagai tenaga kesehatan. Semboyan yang sungguh mengena ini juga sudah selayaknya mampu mempersatukan seluruh dokter, perawat, dan juga karyawan yang berada di lingkungan rumah sakit.

Seperti kita ingin diperlakukan, demikianlah kita harus memperlakukan orang lain. Kita wajib memperlakukan pasien, bahkan setiap orang, dengan penuh kasih. Bila kita mampu berempati dan berbicara dengan santun, orang lain pasti akan semakin menghargai kita. Sebagai seorang dokter, tentu kita juga harus perhatian dan telaten. Kita harus sabar dan teliti dalam menghadapi penyakit maupun kebutuhan pasien. Hanya melalui ketelitianlah, maka kita bisa mengerjakan sesuatu dengan paripurna.

Dokter yang baik juga harus memiliki ilmu yang bermanfaat dan berdaya guna. Kita tak boleh bosan untuk belajar dan belajar lagi. Kita patut mengakui dengan rendah hati bahwa masih ada banyak hal yang belum sempurna dalam diri kita. Ilmu merupakan suatu fondasi yang mendasari karya kita sebagai tenaga kesehatan. Melalui ilmu inilah, kita dapat menegakkan diagnosis dan merencanakan tatalaksana yang tepat untuk pasien. Semakin banyak diagnosis yang kita pelajari, semakin banyak pula penyakit yang dapat kita tangani.

Meski telah menguasai berbagai ilmu dan teori, kita masih membutuhkan satu hal lagi untuk menggenapi peranan kita sebagai seorang dokter. Apakah itu? Jawabannya sudah pasti keterampilan yang cakap dan kompeten. Keterampilan yang cakap dan kompeten tersebut hanya dapat dicapai apabila kita mau berlatih terus menerus tanpa kenal lelah. Kita tak boleh berputus asa, apalagi menghindari kewajiban.

Kita selalu diingatkan mengenai perumpamaan tanah liat. Untuk menjadi sebuah guci yang indah, segumpal tanah liat haruslah mau dibakar, ditempa, dan dibentuk sedemikian rupa oleh sang pengrajin. Demikian juga bila kita ingin menjadi seorang dokter yang sukses. Kita harus menerima untuk melalui suatu perjuangan yang panjang dan berat. Kita perlu ditempa oleh para dokter yang lebih berpengalaman.

Melihat sebegitu banyak kewajiban yang mesti diemban sebagai seorang koasisten, kami merasa begitu dihargai. Ini menjadi bukti bahwa kami telah dipercayai untuk turut bekerja dan berkarya di lingkungan Rumah Sakit Immanuel. Walau begitu, ada kalanya kami menjadi berkecil hati. Takut, bila kami tak bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh para dosen dan dokter. Cemas, kalau-kalau kami tak dapat membanggakan orang tua dengan hasil belajar kami. Khawatir, amat, bila kami sampai lalai dalam mengerjakan setiap kewajiban.

Dahulu ketika duduk di bangku perkuliahan, kami cukup hanya mendengarkan dan mencatat teori yang diberikan oleh para dosen. Kami semata-mata harus banyak membaca untuk mencari ulasan terbaru dari suatu penyakit maupun metode pengobatannya. Lalu kami juga diberikan berbagai kasus rekaan. Tentunya kasus rekaan tersebut akan lebih mirip dengan teori dan kepustakaan yang telah ada. Namun kini berbeda, kami harus menghadapi pergumulan nyata. Kami mesti melihat kondisi pasien dan melakukan tindakan secara langsung. Ini semua supaya nantinya kami benar-benar mampu berperan sebagai seorang dokter di masyarakat.

Komunikasi yang baik adalah sarana paling efisien yang akan menghubungkan kami dengan pasien. Perilaku adalah pijakan kami dalam kehidupan sosial di lingkungan rumah sakit. Tanpa perilaku yang baik, segala macam ilmu pun tak akan berguna. Kesombongan adalah awal dari suatu kehancuran. Ketekukan akan merajut kesuksesan.

Walaupun ada begitu banyak tantangan, kami yakin bahwa tiada kesulitan yang dirancangkan Tuhan tanpa bisa kami selesaikan. Dari setiap hal yang dikurangkan bagi kita, akan ditambahkan oleh-Nya. Kami ingin terus berkarya dan memelihara kesehatan banyak orang. Saat ini kami memang tidak ada apa-apanya. Benar, kami hanyalah suatu hal sepele. Kami bagaikan segumpal tanah liat yang menanti untuk dibentuk menjadi guci yang indah oleh Sang Pengrajin.

Advertisements

Read Full Post »