Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘fisiologi gastrointestinal’

Aktivitas Elektrik Otot Polos

Dua tipe dasar gelombang elektrik:

  1. Slow waves – Basic Electrical Rhythm (BER): akibat aktivitas siklik pompa Natrium/Kalium pada membran sel yang berlangsung secara ritmik (5-15 milivolt).

  2. Spike potential (potensial paku): akibat kanal Kalsium/Natrium yang berpengaruh pada kontraksi otot lurik. Potensial membran istirahat pada keadaan normal -50 sampai -65 milivolt. Bila potensial membran semakin positif (depolarisasi) → serabut otot menjadi lebih mudah dirangsang. Bila potensial membran semakin negatif (hiperpolarisasi) → serabut otot menjadi kurang mudah dirangsang.

 

 

Stimulan depolarisasi:

  • Peregangan (sesuai dengan Hukum Starling)

  • Asetil kolin

  • Parasimpatis

 

Stimulan hiperpolarisasi:

  • Norepinefrin

  • Epinefrin

  • Simpatis

 

 

Fungsi Motorik Saluran Cerna

 

Secara umum terdapat dua macam gerakan, yaitu mixing movement dan propulsive movement.

 1. Cavum oris (mengecap, mengunyah, dan membentuk bolus makanan)

Menelan:

  • Tahap volunter (gerakan lidah)

  • Tahap faringeal (mendorong bolus ke bagian atas esofagus → gelombang peristaltik cepat dari faring)

  • Tahap esofageal (gelombang peristaltik dari esofagus menuju gaster)

 2. Esofagus (transpor bolus)

 3. Gaster

  • Penyimpanan sejumlah besar makanan (storage)

  • Pencampuran makanan dengan getah lambung (mixing)

  • Pengosongan lambung: pompa pilorus oleh peristaltik antrum. Pengosongan ini memiliki dua jenis umpan balik yaitu, refleks enterogastrik dan hormonal (CCK, GIP, dan sekretin)

 

4. Intestinum tenue (pencernaan dan absorpsi sari-sari makanan (chyme))

  • Kontraksi pencampuran atau segmentasi (BER)

  • Gerakan mendorong atau peristaltik

 

5. Intestinum crassum (absorpsi, penyimpanan, dan ekskresi)

  • Gerakan mencampur, disebut juga haustrasi

  • Gerakan mendorong
    • Pergerakan lambat ke arah rectum oleh haustrasi

    • Mass movement: gerakan peristaltik yang termodifikasi

 

Defekasi:

  • Refleks intrinsik defekasi (melalui plexus myentericus): lemah dan kurang efektif.

  • Refleks ekstrinsik defekasi (melalui serabut saraf parasimpatis): sangat memperkuat gelombang peristaltik.

 

 

Read Full Post »

Fungsi sistem gastrointestinal:

  1. Motorik (gerakan saluran cerna)

  2. Sekresi dan digesti (getah pencernaan dan pencernaan makanan)

  3. Absorpsi (penyerapan hasil pencernaan, nutrien, air, dan elektrolit)

 

Motorik:

 

  1. Propulsive movement: mendorong makanan maju ke arah caudal

  2. Mixing movement: mencampur makanan dengan getah pencernaan

 

Sekresi dan digesti:

 

Karbohidrat yang terdapat dalam makanan akan dicerna di cavum oris oleh enzim ptialin. Amilum yang merupakan polisakarida akan diubah menjadi disakarida (maltosa, sukrosa, laktosa). Pencernaan karbohidrat berikutnya terjadi di usus halus. Enzim maltase akan mengubah maltosa menjadi monosakarida, yaitu glukosa.

Protein yang terdapat pada makanan mengalami pencernaan pertama di lambung oleh enzim pepsin dan asam lambung. Protein berubah menjadi bentuk yang lebih sederhana, yaitu pepton. Selanjutnya di usus halus bagian atas, enzim tripsin akan mengubah pepton menjadi polipeptida. Dengan enzim peptidase, polipeptida akan diubah menjadi asam amino.

Pencernaan lemak yang pertama terjadi di usus halus. Lemak akan diubah menjadi emulsi lemak oleh empedu. Dengan enzim lipase, emulsi tersebut pun disederhanakan menjadi asam lemak bebas dan 2 monogliserida.

 

Absorpsi:

  1. Karbohidrat

Glukosa dan galaktosa: kotranspor dengan transpor aktif natrium.

Fruktosa: difusi pasif

  1. Protein

Sodium-dependent cotransport (analog dengan absorbsi glukosa dan galaktosa).

  1. Lemak

  • Asam lemak bebas, monogliserida, dengan garam empedu akan membentuk micelles.

  • Di permukaan brush borders microvilli, asam lemak dan monogliserida berdifusi masuk ke dalam epitel intestinum.

  • Selanjutnya, akan dibentuk kembali menjadi trigliserida dalam sel epitel.

  1. Air dan elektrolit

  • Transport aktif natrium melalui membran basolateral, lalu masuk ke dalam ruang paraselular sel epitelial (menyebabkan konsentrasi natrium dalam sel epitel menurun).

  • Natrium dalam chyme akan masuk ke dalam sel epitel secara osmosis.

 

Kontrol Saraf terhadap Fungsi Gastrointestinal

 

  1. Sistem saraf enterik

a. Plexus myentericus Auerbach: mengatur pergerakan (motorik)

b. Plexus submukosa Meissner: mengatur sekresi dan aliran darah lokal

  1. Sistem saraf otonom

a. Persarafan parasimpatis: meningkatkan sebagian besar fungsi gastrointestinal

b. Persarafan simpatis: menghambat sebagian besar fungsi gastrointestinal

 

Hormon yang Mempengaruhi Fungsi Saluran Cerna

 

  1. Gastrin (gaster): merangsang sekresi asam lambung dan pertumbuhan mukosa lambung serta usus.

  2. Kolesistokinin (duodenum, jejunum): merangsang sekresi enzim pankreas dan kontraksi kandung empedu.

  3. Sekretin (duodenum, jejunum): merangsang pankreas menghasilkan bikarbonat.

  4. Pancreatic polipeptide (PP) pankreas: menghambat sekresi eksokrin pankreas.

  5. Gastric inhibitory polipeptide (duodenum): menghambat sekresi asam lambung.

  6. Vasoactive intestinal polipeptide (VIP) seluruh saluran gastrointestinal: mengatur kontraksi dan sekresi gastrointestinal.

  7. Motilin (duodenum, jejunum): merangsang kontraksi gastrointestinal.

  8. Histamin (sel mastosit mukosa gaster): potensiasi efek gastrin dan asetilkolin, serta stimulasi sekresi asam lambung.

  9. Somatostatin (seluruh saluran cerna): menghambat fungsi semua hormon gastrointestinal.

  10. Enkephalin (saraf pada mukosa dan otot polos gastrointestinal): kontraksi otot polos, menghambat sekresi cairan dan elektrolit.

 

 

Read Full Post »