Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘hidup untuk melayani’

Bacaan Injil

9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;

9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.”

9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?”

9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:

9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Renungan

Dalam bacaan Injil, kita telah mendengar tentang para murid yang mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka. Secara sadar maupun tidak, kita pun demikian. Sejak dahulu hingga sekarang, manusia tidak henti-hentinya memikirkan untuk menjadi orang yang besar, dipandang, dihormati, dan disegani. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi “lebih” daripada yang lain. Lebih kaya, lebih pandai, lebih hebat, lebih rupawan. Hidup kita adalah untuk mencapai setiap ambisi kita.

Beberapa orang berpikir bahwa betapa malunya kita bila harus berbagi cerita dengan orang-orang lain mengenai “status-status” kita itu. Sebagai contoh, marilah kita memperhatikan para orang tua. Mereka yang merasa hebat akan berkata: anak saya ini lho, dapat peringkat satu. Anakku ini, anakku itu. Lalu dia akan bertanya: bagaimana dengan anakmu?

Tentulah orang tua yang ditanyainya itu tidak mau kalah. Kalau perlu, mereka harus lebih sombong lagi. Biarlah supaya telinga mereka sama-sama panas.

Kita sering iri hati pada orang yang lebih daripada kita. Tak jarang juga kita berpikir: mengapa orang jahat seperti dia malah sukses? Mengapa hidupnya mujur-mujur saja? Tapi orang baik seperti saya, hidupnya hancur lebur.

Yesus ingin mengajarkan pada kita untuk menjadi seorang pelayan. Barangsiapa yang terbesar di antara kita, hendaklah menjadi pelayanan. Dia ingin agar kita menjadi anak-anakNya yang rendah hati. Sebab jika kita tidak rendah hati, nafsu dan ambisilah yang akan mengendalikan hidup kita. Kita menjadi tidak peduli pada kebutuhan dan hak-hak orang di sekitar kita. Kita tidak akan lagi peduli pada setiap hati yang menderita dan membutuhkan pertolongan kita. Mata kita menjadi buta. Nurani kita menjadi tumpul.

Ibarat orang yang berlari cepat, mereka tak melihat lagi pemandangan-pemandangan indah yang dilalui. Hidup ini bukanlah sebuah perlombaan. Bukan juga suatu arena pertandingan untuk menghabisi orang-orang lain. Dalam hidup ini, kita harus belajar menjadi rendah hati. Biarlah kita peka terhadap setiap kebutuhan sesama kita. Biarlah kita mampu melayani.

Bukanlah sebuah doa, bila hanya untuk memuaskan nafsu dan keinginan kita. Bukanlah sebuah doa, bila hanya untuk kesombongan kita. Jangan memaksakan kehendak kita pada Tuhan, melainkan biarlah rahmatNya yang bersinar dalam hati kita. Bukankah bagi orang benar, Tuhan bercahaya laksana lampu di dalam gulita?

Bolehlah kita berani berkata dengan penuh iman seperti Maria: Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.

Read Full Post »