Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘introvert’

 

Disadur dari:

http://suluk.wordpress.com/2009/09/16/introvert/#comment-4936

Oleh Jonathan Rauch, diterjemahkan oleh Hery Mardian

http://www.theatlantic.com/doc/200303/rauch

Pernah kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau skill basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu menghabiskan waktu sisanya untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah?

 

Kalau iya, apa menurut anda orang ini “terlalu serius”? Atau perlu ditanya, “kamu baik-baik aja?” Atau mungkin dia memang sengaja menjaga jarak, angkuh, tak sopan atau tidak bisa membawa diri? Bahkan diperlukan usaha dua kali lebih keras lagi untuk membuatnya mau menjelaskan ada apa sebenarnya.

 

Kalau jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “ya”, maka hampir pasti anda sudah bertemu dengan seorang introvert—dan hampir pasti pula bahwa anda tidak memperlakukan dia sebagaimana seharusnya.

 

Di tahun-tahun belakangan ini, sains sudah mempelajari banyak hal tentang perilaku maupun kebutuhan para introvert. Bahkan sudah diketahui pula—melalui pemindaian otak—bahwa otak orang-orang introvert mengolah informasi dengan cara yang berbeda dengan orang lain (saya tidak sedang mengada-ada!).

 

Kalau anda ternyata belum tahu fakta ini, anda memang tidak sendirian. Keberadaan orang-orang introvert mungkin sangat umum, tapi di Amerika, termasuk di dunia, mereka adalah golongan yang paling banyak disalahpahami dan dibuat merasa tertekan .

 

Saya sungguh-sungguh tahu itu. Nama saya Jonathan, dan saya seorang introvert.

 

Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya mengingkari ini. Lagipula saya adalah orang yang memiliki kemampuan sosial yang baik. Saya sama sekali bukan orang yang pemurung atau tidak suka orang lain. Umumnya, saya jauh dari pemalu. Saya sangat menyukai obrolan-obrolan panjang tentang pemikiran-pemikiran mendalam, atau tentang hal-hal menarik yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Namun akhirnya saya mengenali hal itu pada diri saya, dan tetap tampil dengan membuka diri sebagai seorang introvert pada teman-teman maupun rekan kerja. Dengan cara ini saya terbebas dari banyak sekali kesalahpahaman atau labelisasi yang menyakitkan.

 

Kini, saya ingin menjelaskan apa yang harus anda ketahui sehingga anda bisa memberikan respon yang tepat sekaligus mendukung pada keluarga, teman maupun rekan kerja anda yang introvert. Perhatikan: pasti ada dari mereka yang anda kenal, anda hormati, atau yang dengannya anda berinteraksi setiap hari, adalah seorang introvert; sementara bisa jadi anda malah “menyiksanya” bila tak paham rambu-rambunya.

 

 

Apa Itu Introversi?

Dalam tampilan modernnya, konsep ini diperkenalkan tahun 1920-an oleh Carl Jung, psikolog yang terkenal itu. Hari ini introversi adalah salah satu tiang utama dalam banyak tes identifikasi kepribadian, termasuk tes Myers-Briggs Type Indicator yang sangat banyak digunakan itu.

 

Para introvert tidak mesti pemalu. Orang pemalu merasa cemas, takut, atau mengutuki dirinya sendiri dalam lingkungan sosial; sedangkan para introvert biasanya tidak demikian. Para introvert juga bukan orang yang misantropik atau pembenci umat manusia, walaupun ada beberapa dari kami yang sepakat dengan kata-kata Sartre, “Neraka adalah adanya orang lain ketika sarapan.” Namun akan lebih tepat jika dikatakan bahwa (berinteraksi dengan) orang lain itu melelahkan bagi para introvert.

 

Para ekstrovert menjadi “hidup” dengan kehadiran orang lain, dan akan layu serta kehilangan kecemerlangan mereka jika sendirian. Ekstrovert kerap tampak seperti bosan dengan dirinya sendiri. Tinggalkan seorang ekstrovert sendirian selama dua menit, maka ia akan segera meraih ponselnya. Sebaliknya, setelah satu atau dua jam bersosialisasi, kami para introvert membutuhkan saat-saat off sejenak untuk mengisi ulang batere kami. Saya sendiri, rumus kebutuhan saya adalah dua jam off untuk setiap satu jam bersosialisasi.

 

Ini sama sekali bukan anti-sosial. Ini juga bukan tanda depresi, dan tidak membutuhan tindakan medis apa pun. Bagi para introvert, dibiarkan sendiri menyelami pikirannya itu sama menyegarkannya dengan tidur, dan sama bergizinya seperti makan. Motto kami, “Saya senang, kamu senang, sama-sama senang—sedikit tapi sering.”

 

 

Berapa Banyak Orang Introvert?

Saya melakukan riset mendalam untuk menjawab pertanyaan ini, di Google. Jawabannya: sekitar 25 persen dari seluruh populasi. Atau kurang dari setengah. Atau, —favorit saya—“Kelompok minoritas di kalangan umum, tapi mayoritas di kalangan manusia berbakat”.

 

Apakah Para Introvert Kerap Disalahpahami?

Sangat, di mana-mana. Seakan-akan itu memang sudah jadi porsi kami. “Sangat sulit bagi seorang ekstrovert untuk memahami introvert,” tulis pakar pendidikan Jill D. Burruss dan Lisa Kaenzig (mereka jugalah yang menjadi sumber kutipan kalimat favorit di akhir paragraf sebelumnya). Namun para introvert mampu memahami ekstrovert dengan sangat mudah, karena para ekstrovert menggunakan begitu banyak waktu mereka untuk berusaha keras menunjukkan siapa dirinya—dengan pembicaraan yang begitu banyak dan kadang tak bisa dihindari—ketika berinteraksi dengan orang lain. Mereka begitu terbukanya, seperti seekor anak anjing yang sedang lucu-lucunya.

 

Namun sayangnya jalan ini hanya jalan satu arah. Para ekstrovert hanya memiliki pemahaman yang sedikit, atau bahkan sama sekali tidak memahami, persoalan introversi. Mereka berasumsi bahwa kebersamaan, khususnya jika bersama mereka (yang ekstrovert), adalah hal yang selalu lebih menyenangkan bagi semua orang. Mereka tidak mampu membayangkan bagaimana mungkin ada manusia yang butuh untuk sendirian; bahkan kerap justru merasa tersinggung kepada mereka yang mengemukakan kebutuhan menyendirinya ini. Sesering saya berusaha menjelaskan hal ini kepada para ekstrovert, saya belum pernah benar-benar merasa yakin bahwa mereka sungguh-sungguh memahami. Biasanya mereka cuma mendengarkan sesaat, lalu kembali menggonggong dan mendengking lucu.

 

 

Apa Para Introvert Tersisih?

Apa boleh buat, saya harus mengatakan “ya”. Lihat satu hal, bahwa para ekstrovert sudah terlalu banyak terwakili dalam dunia politik, profesi yang sangat menyenangkan hanya bagi mereka yang gemar bicara kesana kemari. Lihat George W. Bush. Lihat Bill Clinton. Mereka seperti sangat penuh daya hidup ketika keberadaannya disekitar orang lain. Jika mengingat kembali beberapa introvert yang berhasil menyentuh puncak di dunia politik—Calvin Coolidge, Richard Nixon—justru menegaskan hal tersebut. Pengecualian, mungkin Ronald Reagan, yang terkenal menjaga jarak emosional maupun kehidupan pribadinya, bisa jadi merupakan tanda adanya garis introvert yang dalam (saya pernah baca, banyak sekali aktor adalah introvert; dan banyak introvert, ketika bersosialisasi, merasa seperti sedang akting), para introvert tidak dipandang “berbakat alami” dalam dunia politik.

 

Maka, ekstrovert lebih mendominasi dunia publik. Ini sebenarnya patut disayangkan. Jika para introvert yang menjalankan kepemimpinan di dunia, agaknya dunia akan menjadi tempat yang lebih tenang, lebih waras dan lebih damai. Konon Coolidge pernah bilang, “Tahukah anda, bahwa empat dari lima persoalan hidup akan hilang jika kita bisa duduk diam dan tenang?” (Ia juga konon pernah bilang, “Kalau seseorang diam, maka ia tidak akan diminta untuk mengulangi.” Satu hal yang paling tidak disukai introvert selain berbicara tentang dirinya, adalah mengulangi apa yang diucapkannya).

 

Karena kebutuhan akan bicara dan perhatian yang tak habis-habisnya, para ekstrovert lebih dominan dalam kehidupan sosial sehingga standar-standar pun ditetapkan secara ekstrovert. Dalam masyarakat ekstrovertis kita ini, orang yang terbukalah yang dianggap normal, sehingga orang semua orang ingin menjadi terbuka. Sifat “terbuka” menjadi ciri kebahagiaan, percaya diri, atau kemampuan memimpin. Orang yang ekstrovert kerap disebut dengan kata-kata “besar hati”, “menularkan kebahagiaan”, “hangat”, “empatik”. “Sosok yang disukai semua” menjadi sebuah pujian. Introvert, sebaliknya, umumnya dideskripsikan dengan kata-kata seperti “terlalu berhati-hati”, “penyendiri”, “lambat”, “tak suka bicara”, “tak butuh orang lain”, “pilih-pilih teman”—kata-kata yang sempit, tak ramah, kata-kata yang bermakna miskin secara emosional, atau kepribadian yang kerdil.

 

Para perempuan introvert, menurut saya, adalah yang paling menderita. Dalam lingkungan tertentu, khususnya di dunia barat, seorang pria bisa tidak terlalu bermasalah dengan julukan-julukan yang menggambarkan sifat-sifat yang “kukuh tapi diam”. Namun perempuan introvert, karena tidak memiliki alternatif itu, akan lebih cenderung dianggap sebagai tidak percaya diri, menarik diri, atau angkuh.

 

 

Apakah Para Introvert Sombong atau Arogan?

Sangat jarang. Agaknya kesalahpahaman umum ini disebabkan oleh para introvert yang cenderung lebih cerdas, lebih perenung, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan lebih sensitif dibandingkan ekstrovert. Juga, karena kurangnya kemampuan introvert dalam berbasa-basi, kekurangan yang kerap menjadi bahan celaan oleh para ekstrovert. Introvert cenderung berpikir sebelum berbicara, sementara ekstrovert cenderung berpikir dengan bicara. Ini menjadi sebab kenapa rapat orang ekstrovert tidak akan bisa memakan waktu kurang dari enam jam.

 

“Para introvert”, tulis seorang pintar bernama Thomas P. Crouser dalam sebuah resensi onine dari buku berjudul “Why Should Extroverts Make All the Money?” (judul itu juga tidak saya buat-buat), “seringkali dikacaukan konsentrasinya dan dibuat bingung oleh dialog-dialog ‘setengah internal’ yang biasanya ditampilkan para ekstrovert. Sementara para introvert tidak akan mengeluhkan hal ini secara terbuka, mereka hanya akan mengalihkan pandangan mata dan ‘diam-diam mengutuki kegelapan’.” Begitulah memang.

 

Yang terburuk adalah, ekstrovert benar-benar tak menyadari tekanan yang mereka timpakan kepada para introvert. Kadang, sambil megap-megap mencari nafas di dalam tebalnya asap pembicaraan ekstrovert yang 98-persen-bebas-kandungan-makna itu, seorang introvert bisa bertanya-tanya apakah para ekstrovert benar-benar pernah mencoba untuk mendengarkan dirinya sendiri berbicara. Namun demikian, introvert dengan teguh kukuh berlapis baja tetap berupaya menahan dan menanggung derita ini, karena buku-buku etiket—tak ragu lagi, pasti ditulis oleh ekstrovert—menulis bahwa tidak balik membalas candaan itu tidak sopan, dan membiarkan adanya jeda diam di tengah pembicaraan adalah hal yang menimbulkan kecanggungan.

 

Kami hanya bisa berharap bahwa kelak, ketika keadaan kami ini sudah bisa dipahami secara lebih luas, ketika gerakan “tegakkan hak asasi kaum introvert” ternyata sudah berkembang dan berbuah, bukan lagi dianggap sebagai suatu hal yang tidak sopan jika seseorang mengatakan, “Saya introvert. Anda orang yang menyenangkan, dan saya senang bersama anda. Tapi sekarang, tolong diam, ssssshhht.”

 

 

Bagaimana Cara menunjukkan pada Para introvert di Kehidupan Saya, bahwa Saya Mendukung dan Menghargai Pilihannya?

Pertama, mohon dipahami bahwa itu bukan pilihan. Itu bukan sebuah gaya hidup yang dipilih. Itu adalah orientasi kepribadian.

 

Kedua, ketika melihat seorang introvert sedang diam dan menyelami pikirannya sendiri, tidak perlu bertanya, “Ada apa?” atau “Kamu baik-baik saja?”

 

Ketiga, tidak perlu berkata apa-apa juga, sih.

 

 

***

(Jonathan Rauch adalah korensponden untuk “The Atlantic” penulis senior di “National Journal”)

 

Lihat juga:

http://en.wikipedia.org/wiki/Extraversion_and_introversion

http://giftedkids.about.com/od/glossary/g/introvert.htm

http://psychology.suite101.com/article.cfm/the_introvert

Advertisements

Read Full Post »

Banyak orang memang sudah sering mendengar tentang teori pembagian temperamen. Akan tetapi, ada juga orang-orang tertentu yang tidak pernah mau mengerti dan menghargai. Oleh karena itu, saya ingin menerangkannya lagi.

Berdasarkan aspek biologis, Hippocrates membagi kepribadian menjadi 4 kelompok besar dengan fokus pada cairan tubuh yang mendominasi dan memberikan pengaruh kepada individu tersebut. Pembagiannya meliputi: empedu kuning (koleris), empedu hitam (melankolis), cairan lendir (phlegmatis) dan darah (sanguinis).

Mempelajari Kepribadian Orang Lain Melalui Belajar Tentang Diri Sendiri

  • Kita perlu berusaha memahami diri sendiri sehingga:
    • Tahu siapa diri kita yang sesungguhnya
    • Tahu mengapa kita bereaksi seperti yang kita lakukan
    • Tahu dari apa kita dibuat
    • Tahu kekuatan kita dan bagaimana cara meningkatkannya
    • Tahu kelemahan kita dan bagaimana cara mengatasinya

Buku Kepribadian Plus memberi pelajaran psikologi cepat dalam istilah yang mudah dan menyenangkan sehingga kita bisa

  1. Menyelidiki kekuatan dan kelemahan kita sendiri dan belajar bagaimana caranya menonjolkan segi positif kita dan menyingkirkan segi negatif kita.
  2. Memahami orang lain dan menyadari bahwa hanya karena orang lain berbeda tidak berarti bahwa mereka salah.
  3. Dengan memahami diri sendiri dan orang lain kita akan dapat berinteraksi secara harmonis dan produktif.

Kepribadian manusia terbentuk dari banyak sekali komponen (sifat), dan setiap komponen merupakan variabel. Setiap orang memiliki kepribadian yang susunan komponennya berbeda dengan orang lain. Karena itu setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang lain. Namun demikian untuk memudahkan kepribadian itu dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu:

  1. Sanguinis yang populer
  2. Melankolis yang sempurna
  3. Koleris yang kuat
  4. Phlegmatis yang damai

Gambaran sekilas :

  • Seorang Sanguinis bersifat spontan, lincah, periang, optimistik, ekstrovert, tetapi suka pamer dan suka memerintah
  • Seorang Melankolis bersifat penuh pemikiran, setia, tekun, analitis, tetapi pesimistik dan introvert.
  • Seorang Koleris bersifat suka berpetualang, persuasif dan percaya diri, tetapi keras kepala dan kurang simpatik.
  • Seorang Phlegmatis bersifat ramah, sabar, puas, dan diplomatis, tetapi kurang bersemangat dan pemurung.

Setiap kepribadian memiliki kekuatan dan kelemahan. Semua jenis kepribadian diperlukan adanya dalam setiap sistem sosial / organisasi. Kepribadian sebagai totalitas sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang tidak bisa disebut baik atau jelek, komponen-komponennya yang bisa jelek/lemah atau baik/kuat.

Kepribadian Sanguinis Populer ( Ekstrovert – Membicara – Optimis)

Emosi Sanguinis Populer:

Kepribadian yang menarik. Suka berbicara. Menghidupkan pesta. Rasa humor yang hebat. Ingatan kuat untuk warna. Secara fisik memukau pendengar. Emosional dan demonstratif. Antusias dan ekspresif. Periang dan penuh semangat. Penuh rasa ingin tahu. Baik di panggung. Lugu dan polos. Hidup di masa sekarang. Mudah diubah. Berhati tulus. Selalu kekanak-kanakan.

Sanguinis Populer di Pekerjaan:

Sukarelawan untuk tugas. Memikirkan kegiatan baru. Tampak hebat di permukaan. Kreatif dan inovatif. Punya energi dan antusiasme. Mulai dengan cara cemerlang. Mengilhami orang lain untuk ikut. Mempesona orang lain untuk bekerja.

Sanguinis Populer Sebagai Teman:

Mudah berteman. Mencintai orang. Suka dipuji. Tampak menyenangkan. Dicemburui orang lain. Bukan pendendam. Cepat minta maaf. Mencegah saat membosankan. Suka kegiatan spontan.

Sanguinis Populer Sebagai Orangtua:

Membuat rumah menyenangkan. Disukai teman anak-anak. Mengubah bencana menjadi humor. Merupakan pemimpin sirkus.

Kepribadian Melankolis Sempurna (Introvert – Pemikir – Pesimis)

Emosi Melankolis Sempurna:

Mendalam dan penuh pikiran. Analitis. Serius dan tekun. Cenderung jenius. Berbakat dan kreatif. Artistik atau musikal. Filosofis dan puitis. Menghargai keindahan. Perasa terhadap orang lain. Suka berkorban. Penuh kesadaran. Idealis.

Melankolis Sempurna di Pekerjaan:

Berorientasi jadwal. Perfeksionis, standar tinggi. Sadar perincian. Gigih dan cermat. Tertib dan terorganisasi. Teratur dan rapi. Ekonomis. Melihat masalah. Mendapat pemecahan kreatif. Perlu menyelesaikan apa yang dimulai. Suka diagram, grafik, bagan, dan daftar.

Melankolis Sempurna Sebagai Teman:

Hati-hati dalam berteman. Puas tinggal di latar belakang. Menghindari perhatian. Setia dan berbakti. Mau mendengarkan keluhan. Bisa memecahkan masalah orang lain. Sangat memperhatikan orang lain. Terharu oleh air mata dan penuh belas kasihan. Mencari teman hidup ideal.

Melankolis Sempurna Sebagai Orang Tua:

Menetapkan standar tinggi. Ingin segalanya dilakukan dengan benar. Menjaga rumah selalu rapi. Merapikan barang anak-anak. Mengorbankan keinginan sendiri untuk yang lain. Mendorong intelegensi dan bakat.

Kepribadian Koleris Kuat ( Ekstrovert – Pelaku – Optimis )

Emosi Koleris Kuat:

Berbakat pemimpin. Dinamis dan aktif,.Sangat memerlukan perubahan. Harus memperbaiki kesalahan. Berkemauan kuat dan tegas. Tidak emosional dalam bertindak. Tidak mudah patah semangat. Bebas dan mandiri. Memancarkan keyakinan. Bisa menjalankan apa saja.

Koleris Kuat di Pekerjaan:

Berorientasi target. Melihat seluruh gambaran. Terorganisasi dengan baik. Mencari pemecahan praktis. Bergerak cepat untuk bertindak. Mendelegasikan pekerjaan. Menekankan pada hasil. Membuat target. Merangsang kegiatan. Berkembang karena saingan.

Koleris Kuat sebagai teman:

Tidak terlalu perlu teman. Mau bekerja untuk kegiatan. Mau memimpin dan mengorganisasi. Biasanya selalu benar. Unggul dalam keadaan darurat.

Koleris Kuat sebagai Orangtua:

Memberikan kepemimpinan kuat. Menetapkan tujuan. Memotivasi keluarga untuk kelompok. Tahu jawaban yang benar. Mengorganisasi rumah tangga.

Kepribadian Phlegmatis Damai ( Introvert – Pengamat – Pesimis )

Emosi Phlegmatis Damai:

Kepribadian rendah hati. Mudah bergaul dan santai. Diam, tenang, dan mampu. Sabar, baik keseimbangannya. Hidup konsisten. Tenang, tetapi cerdas. Simpatik dan baik hati. Menyembunyikan emosi. Bahagia menerima kehidupan. Serba guna.

Phlegmatis Damai di Pekerjaan:

Cakap dan mantap. Damai dan mudah sepakat. Punya kemampuan administratif. Menjadi penengah masalah. Menghindari konflik. Baik di bawah tekanan. Menemukan cara yang mudah.

Phlegmatis Damai Sebagai Teman:

Mudah diajak bergaul. Menyenangkan. Tidak suka menyinggung. Pendengar yang baik. Selera humor yang menggigit. Suka mengawasi orang. Punya banyak teman. Punya belas kasihan dan perhatian.

Phlegmatis Damai Sebagai Orang Tua:

Menjadi orang tua yang baik. Menyediakan waktu bagi anak-anak. Tidak tergesa-gesa. Bisa mengambil yang baik dari yang buruk. Tidak mudah marah.

Keempat tipe kepribadian tersebut, menurut Littauer, juga bisa bercampur dalam diri seseorang. Littauer mbedakannya menjadi empat: campuran alami, campuran pelengkap, campuran yang berlawanan, dan sedikit-sedikit dari segalanya. Campuran alami adalah Sanguinis Koleris dan Melankolis Phlegmatis. Campuran pelengkap yang berorientasi hubungan adalah Sanguinis Phlegmatis. Campuran pelengkap yang berorientasi tujuan adalah Koleris Melankolis.

Campuran berlawanan dianggap sebagai pertikaian batin yaitu Sanguinis Melankolis dan Koleris Phlegmatis.

Sedangkan yang mempunyai sedikit dari segalanya, dengan asumsi sudah mengikuti tes kepribadian dengan benar, dianggap mungkin Phlegmatis, mungkin orang sempurna, atau mungkin orang yang masa kecilnya terlalu diarahkan, dikontrol, dan ditindas sehingga tidak mengenali diri sendiri.

Teori enam belas tipe kepribadian yang dikembangkan oleh Carl Jung merupakan kombinasi dari keempat tipe dasar ini:

Ada begitu banyak hal yang dapat dijabarkan tentang kepribadian manusia. Namun untuk kali ini, saya rasa cukup sekian saja.

Sumber:

Littauer, Florence. 1994. Personality Plus, Terjemahan: Anton Adiwiyoto. Jakarta: Binarupa Aksara.

Read Full Post »