Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kasus skizofrenia hebefrenik’

Definisi

  • Gangguan psikiatrik mayor
  • Perubahan pada persepsi, afek, dan perilaku seseorang
  • Kesadaran dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara
  • Defisit kognitif tertentu dapat berkembang kemudian

Gejala Positif

  • Delusi
  • Halusinasi
  • Kekacauan pikiran
  • Gaduh gelisah
  • Perilaku aneh atau bermusuhan

Gejala Negatif

  • Alam perasaan (afek) tumpul atau mendatar
  • Menarik diri atau isolasi diri dari pergaulan
  • ‘Miskin’ kontak emosional (pendiam, sulit diajak bicara), pasif, apatis (acuh tak acuh)
  • Sulit berpikir abstrak
  • Kehilangan dorongan kehendak atau inisiatif

Epidemiologi

  • Semua kelompok masyarakat (hampir 1% populasi dewasa)
  • Onset: usia remaja akhir, awal masa dewasa
  • Laki-laki: 15-25 tahun
  • Perempuan: 25-35 tahun
  • Laki-laki > perempuan
  • Urban > rural

Etiologi

  • Genetik: quantitative trait loci (disebabkan beberapa gen yang berlokasi di tempat berbeda-beda) -> gradasi tingkat keparahan
  • Biokimia -> neurotransmiter tak seimbang (dopamin, norepinefrin, serotonin)
  • Psikologis dan sosial: hubungan orang tua – anak patogenik, trauma kejiwaan, interaksi patogenik dalam keluarga

Fase

  • Pramorbid -> kepribadian pramorbid odd/eccentric cluster (paranoid, skizoid, skizotipal)
  • Prodromal: cemas, gundah, gelisah, merasa diteror, depresi (hari-bulan)
  • Aktif: kekacauan perasaan, pikiran, dan perilaku
  • Residual: gejala sisa (menarik diri, perilaku aneh)

Pedoman Diagnostik Skizorenia (PPDGJ III)

Harus ada sedikitnya 1 gejala (biasanya 2/> bila gejala-gejala itu kurang tajam/ kurang jelas):

  • Thought of echo, thought insertion or withdrawal, thought broadcasting.
  • Delusion of control, delusion of influence, delusion of passivity, delusional perception.
  • Halusinasi auditorik
  • Waham-waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil.

Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini:

  • Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
  • Arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan, sehingga terjadi inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.
  • Perilaku katatonik.
  • Gejala-gejala negatif.
  • Selama kurun waktu 1 bulan atau lebih (tidak berlaku untuk fase nonpsikotik prodromal).
  • Halusinasi dan waham kurang menonjol.
  • Perilaku tanpa tujuan dan tanpa maksud.
  • Adanya preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat – buat mengenai agama, filsafat dan tema abstrak, yang membuat orang sukar memahami jalan pikiran pasien.
  • Afek dangkal dan tidak wajar yang disertai cekikikan atau perasaan puas diri, senyum sendiri, sikap tinggi hati, tertawa menyeringai, mengibuli atau bersenda gurau, kata yang diulang-ulang.
  • Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu dan inkoheren.
  • Perilaku tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diprediksi, menyendiri, hampa tujuan dan hampa perasaan.

Umumnya diperlukan pengamatan selama 2-3 bulan untuk memastikan menetap.

—

Heteroanamnesis

—Didapatkan pada Senin, 9 Maret 2015

—Dari:

  • Arif Warsito, SE , 51 tahun (ayah kandung)
  • Ny. Arif Warsito, 47 tahun (ibu kandung)

—Keluhan utama: sulit tidur, tidak nafsu makan, lebih sering mengurung diri di kamar, sering melamun sejak drop out dari universitas

—Keluhan tambahan:

  • —Bicara sendiri
  • —Ketika diajak bicara lebih sering senyum-senyum
  • —Kadang tertawa sendiri tanpa sebab
  • —Gampang tersinggung, merasa orang-orang membicarakannya

—

—Riwayat Penyakit Sekarang

  • —Sulit tidur, tidak nafsu makan, lebih sering mengurung diri di kamar, sering melamun
  • —Ditanyakan perubahan perilakunya -> menatap dan tidak banyak bicara
  • —Bicara sendiri, bicara tidak nyambung, ketika diajak bicara lebih sering senyum-senyum
  • —Cengengesan dan kadang tertawa sendiri tanpa sebab
  • —Pasien merasa dibicarakan dan mudah tersinggung

—

—Riwayat Penyakit Dahulu

  • 6 bulan yang lalu: pasien sulit tidur, tidak nafsu makan, lebih sering mengurung diri di kamar, sering melamun, merasa dibicarakan.
  • 2 bulan yang lalu: perilaku pasien semakin aneh, bicara sendiri, bicara tidak nyambung, cengengesan dan kadang tertawa sendiri tanpa sebab, apabila sedang sendirian sering melihat sesosok makhluk gelap di kamar yang berbicara pada dirinya.
  • 1 bulan yang lalu: tingkah seperti anak-anak, berpakaian rangkap, berlapis, tak sopan, jarang mandi, sensitif, apabila keinginannya tidak dituruti menjadi marah dan menangis.
  • 1 minggu yang lalu: berkata-kata kasar dan melempar-lempar barang serta mengatakan hal-hal aneh bahwa di dalam tubuhnya ada roh jahat
  • 5 Maret 2015: dirawat di RSJ.
  • Pasien pernah mengalami cedera kepala saat jatuh dari motor 2 tahun lalu, tidak pernah kejang-kejang. Tak memiliki riwayat asma, kencing manis, dan penyakit jantung.

—

Riwayat Keluarga

  • —Anak ke-3 dari 3 bersaudara, bungsu.
  • —Pasien kini tinggal dengan kedua orang tuanya dan kakaknya.
  • —Ayah karyawan swasta, ibu rumah tangga -> keluarga ekonomi cukup.

—Struktur keluarga yang tinggal serumah saat ini:

  • —Hubungan ayah dan ibu pasien cukup harmonis
  • —Pasien adalah anak bungsu yang paling disayang
  • —Ibunya sangat memanjakan pasien -> tidak mandiri
  • —Pasien adalah seorang pendiam, jarang menceritakan kehidupan sekolah dan pertemanannya pada kedua orang tua
  • —Tapi belakangan pasien bercerita bahwa ia dikucilkan oleh teman-temannya dan tak dapat mengikuti pelajaran

—Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga pasien yang pernah dirawat di rumah sakit karena gangguan jiwa. Tidak ada yang menggunakan obat-obatan terlarang ataupun minum alkohol.

—Riwayat Hidup Pasien

  • —Riwayat prenatal (0-1 tahun)
    • Pasien dikandung cukup bulan, merupakan anak yang diharapkan. Selama mengandung ibu pasien tidak mengalami masalah. Lahir di bidan dengan berat 3,2 kg secara normal. Tak pernah ada trauma kepala, tidak ada epilepsi.
  • —Masa kanak-kanak awal (1-3 tahun)
    • Perkembangan sesuai usia. Berjalan umur 1 tahun, berbicara 1,5 tahun.
    • —Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)
    • Masuk SD usia 6 tahun. Tak pernah tinggal kelas. Nilai rata-rata. Pasien menjadi anak kesayangan di keluarga. Ibu sangat memanjakan pasien. Pasien menjadi tidak mandiri.
  • —Masa kanak-kanak akhir (12-18 tahun)
    • Pasien melanjutkan pendidikan SMP lalu ke SMA tanpa masalah. Sehari-hari pasien adalah pribadi yang tertutup dan pendiam.  Apabila ada masalah pasien hanya diam saja, jarang sekali bercerita pada teman atau orang tuanya.

—

Pemeriksaan Fisik

—Keadaan Umum

  • Kesan sakit ringan, compos mentis
  • —Tinggi badan: 170 cm, berat badan: 70 kg
  • —Tanda vital: dbn
  • —Kepala dan leher: dbn
  • —Abdomen: dbn
  • —Belum dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya

—Psikodinamika

  • —Pasien adalah seorang anak laki-laki 19 tahun.  Anak ke-3 dari 3 bersaudara.
  • —Saat kecil, pasien lahir tanpa mengalami masalah, lahir normal.  Tak pernah ada trauma kepala, tidak ada epilepsi. Perkembangan sesuai usia.
  • —Masuk SD usia 6 tahun. Tak pernah tinggal kelas. Nilai rata-rata. Pasien menjadi anak kesayangan di keluarga. Ibunya terutama paling memanjakan pasien.
  • —Pasien melanjutkan pendidikan SMP lalu ke SMA tanpa masalah. Sehari-hari pasien adalah pribadi yang tertutup dan pendiam.  
  • —Apabila ada masalah pasien hanya diam saja, jarang sekali bercerita pada teman atau orang tuanya.
  • —Pasien tidak pernah menceritakan masalahnya di sekolah bahwa ia sering dikucilkan teman-temannya dan tidak dapat mengikuti pelajaran.

—

Faktor predisposisi:

  • —Pasien memiliki sifat pendiam, tertutup dan sering memendam perasaan
  • —Pasien sangat dimanja ibunya

Faktor presipitasi:

  • —Pasien dikucilkan oleh teman-temannya
  • —Pasien enggan bersosialisasi
  • —Drop out

—

—Ringkasan

  • —Pasien seorang anak laki-laki, 19 tahun.
  • —Agama islam, pendidikan terakhir perguruan tinggi, belum menikah.
  • —Pasien dirawat di RSJ dengan keluhan: sulit tidur, tidak nafsu makan, lebih sering mengurung diri di kamar, sering melamun sejak drop out dari perguruan tinggi.
  • —Perilaku pasien semakin aneh, bicara sendiri, bicara tidak nyambung, cengengesan dan kadang tertawa sendiri tanpa sebab, apabila sedang sendirian sering melihat sesosok makhluk gelap di kamar yang berbicara pada dirinya.
  • —Tingkah seperti anak-anak, berpakaian rangkap, berlapis, tak sopan, jarang mandi, sensitif, apabila keinginannya tidak dituruti menjadi marah dan menangis.
  • —Berkata-kata kasar dan melempar-lempar barang serta mengatakan hal-hal aneh bahwa di dalam tubuhnya ada roh jahat.
  • —Gejala ini muncul setelah pasien drop out.
  • —RPD: pasien belum pernah dirawat di RSJ.
  • —Riwayat keluarga: pasien adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, merupakan anak yang paling disayang di rumah.
  • —Ibu pasien sangat memanjakannya. Pasien tidak mandiri. Tak ada yang mengalami gangguan jiwa seperti ini di keluarga. Tidak ada yang minum obat-obatan terlarang dan alkohol.

—Situasi sosial saat ini: pasien hanya diam dan melamun di rumah. Pasien tidak akrab dengan tetangga sekitar dan enggan bersosialisasi dengan teman-temannya karena merasa dibicarakan.

—Status fisik dalam batas normal.

—

Status Psikikus

  • —Roman muka: silly
  • —Rapport: +/ kurang adekuat
  • —Orientasi
    • Tempat: buruk
    • —Waktu: buruk
    • —Orang: buruk
  • —Perhatian: distraktibilitas
  • —Persepsi:  
    • Ilusi: tidak ada
    • —Halusinasi: auditorik (+), visual (+)
  • —Ingatan
    • Masa kini: tidak baik
    • Masa dulu: tidak baik
  • Daya ingat: tidak baik
  • Daya ulang: tidak baik
  • Paraamnesia: tidak dapat dinilai
  • Hiperamnesia: tidak dapat dinilai
  • —Intelegensia:
    • Kesan: tidak terganggu
  • —Pikiran:
    • Bentuk pikiran: autistik
    • Jalan pikiran: inkoheren (flight of idea)
    • Isi pikiran: waham bizzare (aneh)
  • Organisasi pikiran: disorganisasi proses berpikir
  • —Penilaian normo sosial: kurang baik
  • —Waham: bizzare
  • —Wawasan penyakit: buruk
  • —Afek: inappropiate (tidak wajar)
  • —Decorum
    • Sopan santun: kurang
    • Cara berpakaian: kurang
    • Kebersihan: kurang
  • —Kematangan jiwa: tidak matur
  • —Tingkah laku dan bicara:
    • Tingkah laku: autistik, infantilism
    • Bicara: inkoheren, flight of idea 

—

—Diagnosis kerja: skizofrenia hebefrenik (infantilisme, inkoheren)

 

—Diagnosis Multiaksial

Aksis I  : F 20.1 Skizofrenia hebefrenik

Diagnosis diferensial: F 25.1 Skizoafektif tipe depresif

Aksis II : tidak ada diagnosis

Aksis III: tidak ada diagnosis

Aksis IV: permasalahan sosial di sekolah

Aksis V : F 60-51 gejala sedang (moderate dan disabilitas sedang)

—

—Skizofrenia:

  • Halusinasi auditorik dan visual
  • Flight of idea
  • Inkoheren
  • Gejala negatif
  • Waham aneh
  • Gejala prodromal:  perilaku aneh, pramorbid:  pendiam

—

—Penatalaksanaan Fase Akut

  • Farmakoterapi
    • —Haloperidol 5 mg/injeksi, IM, diulang tiap setengah jam, dosis maksimum 20 mg/hari
    • —Diazepam 10 mg/injeksi, IV/IM, dosis maksimum 30 mg/hari
    • —Obat oral dari dosis anjuran lalu dinaikkan bertahap: haloperidol 0.5 mg – 2 mg, 2-3 kali sehari (5-20 mg per hari)
    • —Sampai dosis optimal yang mengendalikan gejala
  • —Psikoedukasi: mengurangi stimulus dan stressor—

—

Fase Stabilisasi

  • —Dosis optimal selama 8-10 minggu
  • —Psikoedukasi: meningkatkan keterampilan orang dengan skizofrenia, membantu keluarga dalam mengelola gejala, mengembangkan kepatuhan menjalani pengobatan

—Fase Rumatan

  • Farmakoterapi
    • —Dosis mulai diturunkan bertahap sampai diperoleh dosis minimal yang masih mampu mencegah kekambuhan
    • —Akut: 2 tahun
    • —Kronis dengan kekambuhan: 5 tahun sampai seumur hidup
  • —Psikoedukasi: mempersiapkan pasien kembali ke masyarakat
  • —Penatalaksanaan efek samping: turunkan dosis
    • Sindrom ekstrapiramidal -> << dosis, antikolinergik (triheksilfenidil, benztropin, sulfas atropin, difenhidramin)

—Prognosis

—Quo ad vitam : ad bonam

—Quo ad functionam: dubia ad malam

—Quo ad sanationam: dubia ad malam

—

Sumber:

Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan Pertama. 1993.

Cancro R, Lehmann HE. Schizophrenia: Clinical features. Dalam Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry, Sadock BJ, Sadock VA, edit, seventh ed. Lippincott Williams & Wilkins, A Wolter Kluwer Company, 2000, hal. 1169-1198.

Marder SR. Schizophrenia: Somatic treatment. Dalam Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry, Sadock BJ, Sadock VA, edit, seventh ed. Lippincott Williams & Wilkins, A Wolter Kluwer Company, 2000, hal. 1199-1231.

PDSKJI, Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia, 2011.

PDSKJI, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa/Psikiatri, 2012.

Read Full Post »