Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kualitas hidup’

Kualitas hidup

Jonsen, 2006:

Kualitas hidup adalah bagaimana seseorang  menilai pengalaman/kenyataan hidupnya secara keseluruhan atau sebagian sebagai baik atau buruk; termasuk dalam segi fungsi fisik, interaksi sosial, dan keadaan mental.

Epilepsi

Epilepsi dapat timbul karena terjadinya pelepasan aktivitas energi yang berlebihan dan mendadak dalam otak sehingga menyebabkan terganggunya kerja otak.

Ditinjau dari penyebabnya, epilepsi dapat dibagi menjadi 2 bagian:

  1. Epilepsi primer/idiopatik: tidak diketahui penyebabnya
  2. Epilepsi sekunder/simptomatik: penyebabnya diketahui
Penyebab spesifik dari epilepsi yang diketahui adalah sebagai berikut:
  1. Kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/kehamilan ibu. Mungkin ibu menggunakan obat-obatan tertentu yang dapat merusak otak janin, mengalami infeksi, minum alkohol, cedera, maupun penyinaran
  2. Kelainan yang terjadi saat kelahiran seperti kurangnya oksigen yang mengalir ke otak (hipoksia), kerusakan karena tindakan (forsep), atau trauma lain pada otak bayi
  3. Cedera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak
  4. Tumor otak adalah penyebab infeksi yang tidak umum
  5. Penyumbatan atau kelainan pembuluh darah otak
  6. Radang atau infeksi seperti meningitis (radang selaput otak)
  7. Penyakit keturunan seperti fenilketonuria, sklerosis tuberosa, dan neurofibromatosis
  8. Kecenderungan timbulnya epilepsi yang diturunkan (kecil kemungkinannya)
Faktor Pencetus dan Ambang Rangsang Serangan:
  • Kurang tidur: mengganggu aktivitas dari sel-sel otak
  • Stres emosional: stres dapat meningkatkan frekuensi serangan
  • Infeksi: biasanya disertai dengan demam. Demam inilah yang mencetuskan perubahan kimiawi otak, sehingga mengaktifkan sel-sel epileptik yang menimbulkan serangan. Hal ini sering terjadi pada anak-anak
  • Obat tertentu: antidepresan trisiklik, obat tidur/sedatif, atau fenotiasin. Menghentikan obat penenang seperti berbiturat dan valium dapat mencetuskan kejang
  • Alkohol
  • Perubahan hormonal
  • Terlalu lelah atau stres fisik: menyebabkan hiperventilasi. Akibatnya, kadar CO2 bertambah dan terjadi penciutan pembuluh darah otak
  • Fotosensitif: ada penderita epilepsi yang fotosensitif pada kilatan sinar pada kisaran antara 10-15 Hz
Penanggulangan Epilepsi
Penanggulangan tidak hanya dengan pemberian obat-obatan, tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lainnya. Aspek-aspek tersebut ialah: psikososial, keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan sebagainya.
Tujuan penanggulangan epilepsi adalah membantu para penderita agar dapat hidup bahagia dan dapat mengembangkan diri dalam masyarakat. Dokter harus memberi penjelasan mengenai penyakit penderita, misalnya mengenai dasar dan sebabnya, harapan untuk menjadi baik, perlunya minum obat secara teratur untuk jangka panjang, cara hidup penderita dan sikap keluarga terhadap penderita. Dokter juga perlu memberi nasihat tentang pendidikan dan pekerjaan penderita.
Selain dokter, unsur penting dalam membina kehidupan penderita epilepsi adalah keluarga penderita, lingkungan sekolah dan para guru, lingkungan perkerjaan, dan sebagainya. Bantuan keluarga kepada dokter untuk diagnosis dan cara penanggulangannya sangat diperlukan. Apabila ada dugaan epilepsi, maka pemeriksaan lengkap harus dilakukan, termasuk pemeriksaan neurologik, darah, foto rontgen, dan elektroensefalografi.
Obat yang tepat  dalam dosis cukup tinggi untuk mencegah serangan tanpa menimbulkan gejala sampingan harus diminum secara teratur dan dalam waktu lama. Biasanya beberapa tahun dan kadang seumur hidup. Secara berkala harus dilakukan pemeriksaan darah untuk  mengetahui apakah terdapat kelainan akibat konsumsi obat anti-epilepsi.
Kesulitan dalam penanganan penderita epilepsi
a. Pendekatan dokter
Dokter tidak hanya memberi obat saja, tetapi juga harus memperhatikan aspek-aspek non-medis seperti psikologik dan sosial, serta menjadi penasihat bagi penderita dan keluarganya.
Amatlah penting untuk suksesnya pengobatan, bahwa dokter mampu membangkitkan rasa percaya pasien padanya. Kepribadian dan keterampilan dokter akan sangat membantu dalam hal ini. Dokter harus terus terang pada pasien dan keluarganya terutama mengenai penyakitnya, cara dan lama pengobatan, dan prognosis. Janganlah memberi harapan yang semu atau terlampau antusias, sehingga pasien terpengaruh dan mempunyai rasa percaya diri yang berlebihan.  Sebaliknya, dokter hendaknya juga tidak memberi gambaran yang pesimistik.  Perlu ditekankan bahwa pengobatan epilepsi memakan waktu yang cukup panjang serta mungkin dapat menimbulkan efek samping.  Ketaatan pasien untuk meminum obat sangat menentukan kesembuhan. Berhenti minum obat secara tiba-tiba akan menyebabkan status konvulsivus yang dapat menyebabkan kematian, jika tidak segera ditanggulangi dengan tepat.
b. Faktor pasien
Kegagalan pengobatan sering disebabkan karena pasien tidak taat minum obat secara teratur, merasa penyakitnya tak kunjung sembuh, sehingga bosan minum obat atau pergi ke dokter lain.
Prognosis
Prognosis epilepsi bergantung pada beberapa hal, di antaranya jenis epilepsi, faktor penyebab, saat pengobatan dimulai, dan ketaatan minum obat. Pada umumnya prognosis epilepsi cukup menggembirakan. Pada 50-70% penderita epilepsi, serangan dapat dicegah dengan obat-obatan. Sekitar 50% suatu waktu akan berhenti minum obat. Serangan epilepsi primer (kejang umum, melamun/absence) mempunyai prognosis terbaik. Sebaliknya, epilepsi yang serangan pertamanya mulai pada usia 3 tahun atau disertai kelainan neurologik dan/atau retardasi mental mempunyai prognosis relatif jelek.
Bagian terbesar penderita epilepsi dapat bekerja sesuai dengan bakat, pendidikan, dan keterampilannya. Dalam menentukan apakah seorang penderita epilepsi dapat melakukan suatu pekerjaan, pada banyak kasus keadaan mental si penderita merupakan kriteria yang lebih penting daripada ada atau tidak adanya serangan. Namun perlu diperhatikan, seorang penderita epilepsi hendaknya tidak melakukan jenis pekerjaan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain jika terjadi suatu serangan. Misalnya, pengemudi kendaraan bermotor, pekerjaan dengan alat-alat besar, pekerjaan pada bangunan bertingkat, dan lain-lain.
Situasi epilepsi di Indonesia
Di negara-negara berkembang, jumlah dokter spesialis masih kecil. Sebagian besar penyandang epilepsi diharapkan dapat ditanggulangi oleh dokter umum.
Sumber: Buku Ajar Neurologi Klinis dalam Harsono (Ed.), 1996, Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.

Read Full Post »