Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘ludwig und hanna’

Gent, Minggu ke-2 Musim Gugur 1886

Ludwig von Lonquich

Hanna von Leibniz

 old-piano

Helai-helai kertas tampak menumpuk di atas meja. Sebuah pustaka tebal terbuka di sampingnya. Seorang gadis di sana tengah serius menulis. Hati-hati ia menorehkan pena tinta ke atas kertas. Halaman demi halaman diisinya perlahan. Suasana sungguh sunyi hingga seseorang datang membuka pintu.

“Hanna,” panggil seorang pemuda.

Gadis tadi segera menoleh.

Ia lantas meletakkan pena ke dalam tintanya.

“Ada apa, Ludwig?” tanyanya.

Dengan malu-malu pemuda tersebut mengamati ruangan tempat gadis itu belajar. Pandangan matanya menyapu setiap sudut.

“Tidakkah engkau ingin pulang? Hari sudah senja,” kata Ludwig.

Hanna menoleh pada jendela di sudut ruangan.

Mentari musim gugur memang mulai meredup.

Ia tak menyadari karena terlalu sibuk mengerjakan tugas.

“Oh, engkau benar,” ungkap sang gadis.

Ia pun segera merapikan kertas-kertas tadi. Buku yang tebal ditutupnya. Lalu ia pun lekas-lekas mengembalikan kursi pada tempatnya semula.

“Apakah Dr. Floris sudah pulang?” tanya Hanna.

“Ya.”

Ludwig sedikit menunduk.

Dia kemudian menunggu Hanna keluar dari ruangan tersebut.

Mereka memang tak begitu banyak bicara satu sama lain. Hanna hanya mengenal Ludwig sebagai seorang putra dari kawan ayahnya. Ayah dan ibu pemuda itu sudah tiada.

Setelah Hanna keluar mendahului, Ludwig pun segera menutupkan pintu untuknya. Mereka kemudian berjalan berdua saja di antara lorong-lorong sepi gedung sekolah. Tidak ada lagi kawan mereka yang masih ada di sana.

Jalanan di senja hari itu juga sungguh sunyi. Daun-daun jingga kemerahan berguguran di jalanan. Sisa-sisa cahaya mentari memantulkan semburat emasnya. Tak jarang daun-daun tadi juga berjatuhan ke Sungai Scheldt. Lalu terbawa arus entah ke mana.

Hanna sesekali mengamati Ludwig. Pemuda itu sejenak menatapnya. Lalu ia membuang muka. Tersenyumlah sang gadis kala mengetahuinya. Tapi ia hanya bergeming meneruskan perjalanan.

“Bukankah biasanya engkau pulang pergi menaiki sepeda? Mengapa hari ini engkau berjalan kaki? Di manakah sepedamu itu?” tanya Hanna tiba-tiba.

Ludwig terhenyak.

“Oh, aku,” jawabnya, “aku tak ingin naik sepeda hari ini.”

“Aku ingin menemani engkau pulang berjalan kaki,” lanjut sang pemuda.

Hanna lagi-lagi tergelitik.

“Sungguh?” tanyanya.

Ludwig mengangguk.

“Apakah engkau tidak senang?” tanya pemuda itu.

“Aku senang.”

Hanna kemudian menarik napas dalam. Dibiarkannya udara sejuk mengisi paru-parunya yang jenuh. Juga kedua tangannya direntangkan ke samping sejenak untuk melepas lelah.

Ia lantas terus menatap ke depan hingga terlihat sebuah rumah susun di samping jalan.

“Nah, sepertinya kita berpisah di sini saja. Nyonya Gluen akan melaporkan aku pada Ibu bila melihatku berjalan bersama seorang pemuda,” tutur Hanna.

Ludwig terkejut.

Dia berhenti.

“Benarkah?”

“Ya.”

“Aku pulang dulu, ya,” lanjut Hanna.

Ludwig terdiam sejenak.

Lalu ia segera menangkap bahu sang gadis.

“Tunggu.”

“Tunggu,” ulang Ludwig.

“Hari ini adalah hari ulang tahunmu yang istimewa. Aku punya sebuah hadiah untukmu yang tak bisa kuberikan di sini,” jelas sang pemuda.

Mata Ludwig lantas menatap Hanna lekat-lekat.

“Ikutlah denganku,” pinta Ludwig.

Hanna kebingungan.

Ia pun tiba-tiba diajak berlari oleh Ludwig. Baris-barisan rumah mereka lalui. Juga beberapa persimpangan jalan.

Ternyata, pemuda itu hendak membawa sang gadis ke rumahnya.

“Masuklah, engkau tak perlu takut,” ucap Ludwig, “aku tinggal sendiri di sini.”

“Apakah engkau sungguh-sungguh?”

Ludwig mengangguk.

Dia masih saja merengkuh pergelangan tangan sang gadis.

Mulanya Hanna sungguh sangsi. Namun demikian, senyuman di wajah Ludwig membuatnya merasa nyaman dan percaya. Hanna tak khawatir, meski Ludwig kembali membawanya melalui ruangan-ruangan yang terasa asing baginya.

“Aku ingin memainkan sebuah melodi untukmu,” kata Ludwig.

Dia kemudian kembali menggandeng Hanna hingga sampai di sebuah ruang besar.

Hanya ada sebuah piano di sana.

Ludwig mencari-cari sebuah kursi untuk sang gadis. Tapi ia tak menemukannya.

“Tak apa-apa, Ludwig. Aku berdiri saja,” kata Hanna.

Sang gadis menggelengkan kepala.

Kemudian ia tertawa kecil.

“Baiklah,” sahut Ludwig pada akhirnya.

Pemuda itu lantas duduk di kursinya.

Tangan-tangannya dilemaskan.

Ia menekan beberapa tuts, memastikan semua nada telah ditala dengan sempurna. Lalu Ludwig pun membuka kumpulan partitur. Pula kertas-kertasnya kini berdiri berjajar.

“Dengarkanlah,” pinta Ludwig.

Hanna tersenyum sejenak. Kemudian ia mulai melipat tangan. Didengarkannya nada-nada yang mulai dimainkan Ludwig. Dari baris paranada pertamanya saja, sang gadis sudah tahu yang dimainkan pemuda itu. Liebesträume Nr. 3.

Jari-jemari Ludwig mulai berdansa perlahan. Tangan kanannya bergerak sedikit lebih cepat. Nadanya naik turun mengalun. Semua tuts dibidiknya dengan tenang dan khidmat. Lalu di pertengahan permainannya, jari-jarinya bergerak semakin cepat. Seolah-olah jalinan melodinya dimainkan tiga tangan.

Nocturne itu mengisahkan suatu malam yang sunyi. Lalu ratapan! Ya, ratapan akan cinta!

Hanna mengerti karya ini berarti ‘Impian Cinta’. Namun, apakah yang sebenarnya hendak dituturkan Ludwig lewat simfoninya?

Hanna tak mengerti.

Ia pun kembali mendengarkan.

Semakin lama permainan piano Ludwig menjadi semakin penuh makna. Nada-nada yang ditekannya semakin mantap. Lengan-lengan sang pemuda saling silang menyilang. Semakin cepat! Semakin menyakitkan! Namun juga, semakin penuh cinta!

Hanna memperhatikan raut wajah Ludwig saat memainkannya. Lelaki itu seperti berpandangan kosong. Apakah ia tengah bersedih?

Simfoni itu pun lambat laun mencapai akhirnya.

Nadanya menjadi pelan dan lembut.

Nadanya meredup hingga akhirnya tak terdengar sama sekali.

“Selamat ulang tahun, Hanna,” ungkap Ludwig sambil tersenyum.

Hanna menjadi heran dibuatnya.

Tadi pemuda itu sungguh nestapa. Lalu kini ia bisa tersenyum kembali. Senyuman yang sangat manis.

“Terima kasih, Ludwig,” sahut Hanna.

Ludwig mulai menghembuskan napas.

Malam semakin mendekat.

“Seumur hidupku, aku selalu memimpikan seorang sahabat yang bisa kusayangi sepenuhnya. Hanya saja dalam hidupku ini, aku terlalu naif. Aku terlalu mudah dikecewakan oleh orang-orang yang kukenal. Apalagi saat mereka salah paham dan menjauhiku,” ungkap Ludwig.

Ia kemudian memandang Hanna lekat-lekat.

“Mereka tak pernah tahu seperti engkau benar-benar mengenalku. Aku tidak mengerti harus berbuat apa lagi,” lanjut sang pemuda.

“Mengapa tak ada…, mengapa tak ada seorang pun di dunia ini yang mau menerima aku? Mengapa sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk dekat dengan mereka?” tanya Ludwig.

“Namun engkau berbeda, Hanna. Engkau tidak menjauhiku seperti orang-orang lain. Engkau tidak menganggapku orang asing. Meski sesungguhnya, aku pun merasa asing dengan diriku sendiri,” ungkap sang pemuda.

Ludwig kembali menekan beberapa tuts.

Ia hendak memainkan Liebesträume Nr. 3 sekali lagi. Namun, tak bisa.

“Mengapa aku tak pernah mendapatkan impianku, harapanku?” tanya Ludwig pedih.

Hanna terdiam.

Dia memandangi Ludwig yang tengah sendu. Lelaki itu tak kunjung menutup pianonya. Ia hanya terdiam kelu. Putus asa.

“Ludwig,” panggil Hanna.

Lelaki itu masih saja menunduk.

Ia takut mendengar setiap kata yang akan diucapkan Hanna. Tapi ia menunggu jawaban. Ia sangat, sangat menunggu jawaban itu.

“Aku bersedia menjadi sahabatmu. Aku bersedia memberi kesempatan untukmu mengenalku,” lanjut sang gadis.

Ludwig terdiam.

Ia sangat terkejut.

Perasaannya membuncah tak keruan.

“Sungguhkah yang kudengar itu?” tanya Ludwig sambil mengangkat wajah.

Ditatapnya mata cokelat Hanna yang cerah. Juga rambutnya yang sehitam malam.

Hanna pun demikian.

Dia menatap jauh ke dalam mata hijau melankolis lelaki tersebut.

“Engkau tidak mendengarku?” tanya Hanna.

Ludwig melebarkan kedua matanya.

Dia lantas berdiri.

“Aku mendengarmu….”

“Lalu apakah…, apakah…, engkau bersedia menjadi kekasihku?” tanya Ludwig terbata-bata.

Hanna tersenyum.

“Ya, Ludwig.”

“Apakah engkau sungguh menyayangiku? Bukan karena kasihan padaku?” tanya si pemuda.

Sang gadis mengangguk.

Ludwig pun mulai gemetaran.

Dia hendak memeluk sang gadis. Tapi ia salah menumpangkan kepala Hanna di lengannya.

“Oh, maaf,” ungkap Ludwig.

Hanna kembali tertawa.

“Tak apa,” sahutnya.

Ludwig pun perlahan-lahan mendekap Hanna di dadanya. Lalu ia mencium kening sang gadis.

“Maafkan aku yang telah berani mencintaimu,” bisik Ludwig.

Hanna hanya mengangguk. Dia membalas pelukan Ludwig yang semakin erat.

“Ketahuilah Hanna, hanya engkau satu-satunya malaikat dalam hatiku. Hanya engkau cinta yang kuimpikan itu. Hanya engkau yang membuatku berani untuk kembali menatap jalan hidupku.”

 

 

Advertisements

Read Full Post »