Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘ludwig van beethoven’

 

portrait_of_ludwig_van_beethoven_while_composing_t_poster-r814fa9f2cb1343ce9b5fdfdc1128f3d5_aipsq_400

Konsep yang mengatakan bahwa apa yang diyakini seseorang akan mempengaruhi pekerjaannya benar-benar ditunjukkan dalam kehidupan dan musik tokoh yang luar biasa besarnya dalam sejarah, Ludwig van Beethoven. Motonya adalah “Kebebasan di atas segalanya.” Ia menjadi legenda pada masa hidupnya, dan keberadaannya mendominasi keseluruhan musik abad ke-19. Semboyan Jean Jacques Rosseau, “Diriku sendiri,” menjadi seruan pendukung dari semua gerakan baru dalam bidang tulisan, lukisan, dan musik. Anda takkan dapat membayangkan Goethe dan Beethoven tanpa Voltaire, Rosseau, atau seniman-seniman awal zaman Romantik. Dengan cepat Beethoven menjadi kekuatan pendorong dan pujaan para seniman zaman Romantik. Dengan adanya “manusia gagah berani” di tengah alam semesta ini, humanisme mencapai puncaknya pada zaman Beethoven dan Goethe.

Beethoven nyaris memuja Goethe, seorang penulis Jerman yang paling terkenal. Seperti si jenius di bidang sastra itu, Beethoven meyakini bahwa seniman memiliki tugas untuk mengungkapkan kegalauan sekaligus kedamaian dalam diri seseorang dan untuk mencari kesempurnaan orang itu sendiri. Musik Beethoven penuh dengan kontras-kontras yang tajam. Renoir, pelukis asal Prancis, mengamati bahwa Beethoven “sangat tidak sopan dalam caranya mengungkapkan diri kepada orang lain; ia tidak mengecualikan kita dari sakit jantungnya atau sakit perutnya.” Musik Beethoven memiliki energi luapan perasaan yang menggila. Musiknya terdengar meletup-letup dan mengandung luapan kegembiraan yang sangat besar dan kemudian tiba-tiba meleleh dalam kelembutan dan kesedihan, lalu kembali meledak dalam kedahsyatan. Ini merupakan pencurahan langsung dari kepribadiannya.

Beethoven merupakan salah seorang pemikir teragung dalam dunia musik. Sejak dini ia telah menjauhkan diri dari kesembronoan. Rasa ingin tahunya besar, dan ia terus belajar sepanjang hidupnya. Seandainya secara bawah sadar, ia menggabungkan kedua konsep dari zaman Pencerahan dan sikap mawas diri yang gelap dari gerakan Romantik. Keduanya tercermin dalam musiknya. Individualis yang kuat ini, yang merupakan seorang antagonis tulen, memang ditentukan untuk menaklukkan. Karena menjunjung tinggi martabat manusia, secara fanatik Beethoven meyakini kebebasan tanpa batas. Romain Rolland telah berkata, “Dalam dirinya terdapat manusia super seperti Nietzsche, jauh sebelum Nietzsche ada.”

Ludwig van Beethoven dilahirkan di Bonn, Jerman, tahun 1770. Ia mulai belajar musik pada usia empat tahun, namun di bawah kondisi yang traumatis. Ayahnya dan seorang rekan musisi akan pulang ke rumah larut malam setelah mengunjungi kedai-kedai minuman. Mereka akan membangunkan Beethoven dan memaksanya untuk belajar musik hingga dini hari. Minum-minuman keras sampai berlebihan merupakan kebiasaan yang dapat diterima di rumah Beethoven. Neneknya juga seorang alkoholik.

Beethoven muda adalah anak yang tidak bekerja menurut metode logis, dan bahkan sebagai anak-anak ia tampak melankolis. Namun ia mempunyai ambisi musik dan kekuatan fisik yang sangat besar. Saat masih sangat belia, ia dipekerjakan sebagai organis, meski selanjutnya ia termashyur sebagai orang yang piawai memainkan piano. Pada tahun 1787 di Wina ia bertemu dan memainkan musik untuk Mozart, yang meramalkan masa depan yang cerah baginya. Beethoven dipanggil kembali ke Bonn dengan berita menggelisahkan tentang kemunduran kesehatan ibunya. Ia meninggal karena sakit paru-paru pada usia empat puluh tahun, tak lama setelah Beethoven kembali ke rumah. Ibunya seorang yang baik hati, dan Beethoven mengasihinya. Rasa kehilangannya menghantarnya pada krisis pertama dari krisis-krisis emosional yang terjadi berulang kali sepanjang hidupnya. Ia senantiasa mencari seorang wanita yang seperti ibunya, tetapi tak pernah menemukannya. Ada banyak wanita dalam kehidupan Beethoven, terutama di antara kaum bangsawan. Seperti yang dikatakan seorang sejarawan, “Beethoven selalu jatuh cinta.” Beberapa kali ia pernah mempertimbangkan untuk menikah, tetapi karena berbagai alasan ia tetap membujang.

Lima tahun yang panjang setelah kunjungan pertamanya ke Wina, Beethoven kembali ke kota ini yang merupakan salah satu pusat dunia musik. Pada masa itu Mozart telah terbujur kaku di sebuah pekuburan orang miskin. Revolusi Prancis akan segera memasuki tahapan yang paling menakutkan, yakni masa Pemerintahan Teror. Goethe berada di Weimar sedang memimpin teater kaum bangsawan, dan Haydn sedang menikmati kemashyurannya di seluruh Eropa.

Beethoven belajar musik kepada Haydn di Wina, dan terus menggali pengetahuan secara mendalam, walau menurut pendapatnya Haydn seorang guru yang tidak cukup baik. Pastilah Haydn terlalu sibuk untuk berkonsentrasi mengajar, tetapi ia melakukan sesuatu yang baik untuk musisi muda yang tak dikenal ini. Ia mengirimkan beberapa komposisi Beethoven pada Elector of Cologne dan menganjurkan agar musisi muda ini dibiayai untuk melanjutkan kariernya sebagai komponis.

Beethoven belajar membuat komposisi seperti para pendahulunya sebelum akhirnya ia menemukan gayanya sendiri. Tidak seperti banyak komponis abad ke-20, Beethoven tak pernah memisahkan dirinya dari masa lalu. Sebagai seorang anak, ia telah menguasai Well-Tempered Clavier karya Bach, dan ia sangat menghormati musik Handel dan Mozart. Ia pernah berkata, “Handel adalah yang terbesar, yang paling terampil dari semua komponis. Sampai sekarang saya masih bisa belajar darinya.” Dan Beethoven masih belajar dari Handel pada tahun sebelum ia meninggal. Dengan selalu menjadi seorang murid, di antara semua komponis dialah yang paling tidak memiliki kecenderungan untuk mengulang karyanya. Seorang teman Beethoven pernah bertanya-tanya mengapa Beethoven tidak memiliki karya-karya Handel. Ia pun menjawab, “Bagaimana mungkin aku, orang miskin, mendapatkan karya-karyanya?” Temannya itu membutuhkan waktu dua tahun, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengirimkan musik Handel untuk Beethoven – semua karya yang dapat ia temukan. Pada bulan Desember 1826, edisi yang sangat indah karya Handel yang terdiri dari empat puluh volume tiba di rumah Beethoven. Sembari terbaring sakit beberapa bulan terakhir dari hidupnya, Beethoven menyandarkan buku-buku itu ke tembok, membuka halaman demi halaman, dan muncullah seruan sukacita dan pujian tatkala ia belajar tentang Handel.

Sir Julius Benedict menggambarkan pandangan pertamanya atas Beethoven, “Ia seorang pria pendek dan gemuk dengan wajah sangat merah, mata kecil yang tajam menusuk, dan alis lebat, serta mengenakan mantel sangat panjang yang nyaris sampai pergelangan kakinya.” Ia juga mempunyai rambut putih panjang yang menyentuh bahunya yang lebar.

Beethoven memandang dirinya sebagai pencipta yang “terasingkan” dari orang-orang pada umumnya. Ia meremehkan apa pun atau siapa pun yang mencampuri kreativitasnya. Ia dapat memrotes dengan keras ejekan sekecil apa pun terhadap dirinya. Ia memandang rendah hampir semua orang – orang miskin, kaum aristokrat, mereka yang mengaguminya, mereka yang membencinya, rakyat biasa, dan kaum lemah. Marek berkata, “Misteri tentang kepribadian yang kompleks takkan pernah dapat terungkap secara menyeluruh, demikian pula dengan kepribadian pria sekompleks Beethoven.”

Di Wina Beethoven pindah ke tengah lingkungan kaum bangsawan, dan sederet panjang orang-orang berpengaruh menolong kariernya meski ia sombong dan sangat kasar. Pada awal kariernya, Beethoven merupakan pianis yang piawai. Dalam Second Piano Concerto, partitur orkestra paling awal yang ia anggap cocok untuk dipublikasikan, bagian terakhirnya mempunyai karakteristik yang mengingatkan kita pada musik Mozart dan Haydn.

Dari waktu ke waktu Beethoven mempunyai beberapa murid, tetapi ia pasti merupakan salah satu guru yang paling tidak sistematis yang pernah dikenal dunia, tidak sabaran, ceroboh, suka bertengkar, sensitif luar biasa, dan tak pernah tepat waktu. Pengatur musik yang mengagumkan itu adalah seorang yang paling tidak teratur. Saya katakan bahwa Mozart dan istrinya berpindah tempat tinggal dua belas kali dalam sembilan tahun; Beethoven, dalam 35 tahun di Wina, pindah setidaknya tujuh puluh kali. Dalam banyak lukisan yang menggambarkan komponis besar ini, seringkali ada grand piano di situ. Saya penasaran berapa banyak tangga yang dilalui saat menaikkan dan menurunkan piano itu selama perpindahan tempat tinggal yang sangat sering ini.

Beethoven, yang selalu bangun pagi (pukul 5 atau 6), suka bekerja di pagi hari dan mempunyai kebiasaan menggubah musik di luar ruangan sementara berjalan-jalan. Ia berkata, “Saya lebih suka pohon daripada manusia.” Beethoven menyukai dunia alam, tetapi sebagai penganut panteisme yang lebih memuja alam daripada Sang Pencipta. “Beethoven bukan orang yang mau tunduk kepada siapa pun, bahkan kepada Allah!” ungkap David Ewen. Rosseau, yang pemikiran-pemikirannya mempengaruhi Beethoven, percaya bahwa orang yang kreatif tidak akan merasa nyaman di tengah masyarakat, karena ia seharusnya mencari keheningan “untuk mengekspresikan dirinya, perasaannya” dan untuk menyelidiki alam bawah sadarnya, guna mengungkapkan misteri dalam dirinya. Pada suatu kesempatan, seorang teman membuatkan Beethoven salinan salah satu partitur musiknya. Musisi itu membubuhkan tulisan, “Berkat bantuan Allah.” Di sebelah bawahnya, Beethoven menulis dengan cakar ayam, “Oh teman, bantulah dirimu sendiri.”

Beethoven jarang harus menulis musik atas perintah orang lain. Ia dapat “berpikir dan berpikir” lalu merevisi sampai karya itu sesuai dengan keinginannya, karena ia tidak punya batas waktu penyelesaian yang harus ditepati. Namun ia menulis musiknya dengan kesulitan besar, dan ia memberikan dirinya sendiri kecaman yang keras. Ia mulai menulis dalam buku-buku catatan semasa mudanya, dan buku-buku itu penuh dengan campuran yang kacau dari ide-ide musiknya dalam semua tahapan perkembangan, sebanding dengan buku-buku catatan Leonardo da Vinci. Dalam dirinya, Beethoven merasakan suatu dorongan yang sangat besar untuk menciptakan musik. Kehidupannya merupakan satu kreativitas yang tak pernah berhenti.

Daya pendengaran Beethoven yang semakin berkurang, yang mulai terjadi awal tahun 1798 saat ia masih berusia 28 tahun, memaksanya untuk meninggalkan kariernya sebagai seorang pemain ahli dan mencurahkan segenap tenaganya untuk membuat komposisi. Gejala pertama ketuliannya pastilah membingungkan dan menakutkannya. Ia mencoba berbagai dokter dan pengobatan dan makin bertambah curiga kepada setiap orang. Sebagai penulis biografinya, Marek menceritakan bahwa Beethoven menulis surat kepada seorang temannya, “Pendengaranku yang buruk menghantuiku di mana pun aku berada; dan aku menghindari … semua masyarakat manusia.” Pada satu masa ia tergoda untuk bunuh diri. “Tapi hanya Seni yang membuatku bertahan,” jelasnya, ” karena tak mungkin bagiku untuk meninggalkan dunia ini sebelum aku menciptakan semua yang aku merasa terpanggil untuk menciptakannya.” Tak lama kemudian ketika keteguhan hatinya telah pulih, ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Aku akan mengalahkah nasib hidupku.” Ia meletakkan tantangan bagi dirinya sendiri dan sederet seniman Romantik setelahnya. “Nasib itu pasti tidak akan menundukkan dan menghancurkanku sama sekali,” ujarnya.

Pada sekitar tahun 1802 sampai 1816, Beethoven mencurahkan sangat banyak kreativitas. Keteguhan hatinya tidaklah langgeng. Ada masa-masa yang kelam, tetapi dalam empat belas tahun itu ia menggubah enam simfoni, Coriolan Overture, Fidelio, dua konserto piano terakhir, kuartet-kuartet, dan sonata-sonata piano melalui Op. 90, termasuk Appasionata.

Pada tahun 1816 ia ditunjuk sebagai wali bagi keponakannya, Karl. Walaupun ia mengasihi anak lelaki itu dengan caranya yang mendominasi dan temperamental, Karl menjadi sumber kesulitan yang terus menerus bagi Beethoven seumur hidupnya. Suatu kali Karl pernah mencoba bunuh diri. Akhirnya mereka bertengkar sangat hebat melalui waktu-waktu sebelumnya, dan Beethoven tak pernah lagi melihat keponakannya itu.

Pada tahun 1817 ia sudah tidak dapat mendengar sama sekali, tetapi kemungkinan besar ia masih mampu “mendengar” musik dengan merasakan vibrasinya. Beban dari ketuliannya itu membantunya memfokuskan perhatiannya pada apa yang menjadi salah satu tema di abad ke-19, yakni kesepian yang melanda manusia.

Tatkala Beethoven memimpin pementasan pertama Simfoni ke-9 karyanya, ia tidak dapat mendengar tepuk tangan penonton, dan seseorang harus memutar badannya agar ia dapat melihat antusiasme penonton. Sementara kreativitasnya semakin meningkat, ia pun semakin menarik diri dari pergaulan, bahkan dari teman-temannya. Kendati kemashyurannya meluas hingga ke seluruh Eropa, hidup Beethoven hampir seperti pertapa.

Dilihat dari sejarah, karya Beethoven dibangun di atas prestasi zaman Klasik, tetapi sosoknya menjulang tinggi seperti patung raksasa di abad ke-18 dan 19, yang menjadi jembatan menuju zaman Romantik. Ia merupakan orang terakhir dalam tiga serangkai komponis klasik dari Wina, yakni Haydn, Mozart, dan Beethoven. Sebelum Beethoven, para musisi menjadi pencipta-pencipta di tengah alam semesta yang teratur. Beethoven bergulat dengan takdir dan musiknya menjadi cara untuk mengekspresikan ide-idenya tentang kemanusiaan. Sebagian kritikus membicarakan dia sebagai nabi yang keras hati, dan kelemahannya adalah sifatnya yang sombong.

Pada umumnya orang sependapat bahwa musik Beethoven dapat dibagi dalam tiga periode: imitasi, eksternalisasi, dan refleksi. Periode pertama, imitasi, berlangsung sekitar tahun 1802, dan meliputi enam kuartet, Op. 18, sepuluh sonata piano pertama, dua simfoni pertama, dan dua konserto piano. Periode eksternalisasi berlangsung sekitar tahun 1802 sampai 1816. Seperti dikatakan sebelumnya, periode ini adalah tahun-tahun penuh kreativitas yang hebat. Pada periode yang terakhir, refleksi, yang berlangsung dari tahun 1817 hingga kematiannya, Beethoven menulis Missa Solemnis in D, Simfoni ke-9, sonata-sonata piano yang terakhir, dan lima kuartet terakhir. 

Piano menempati tempat yang utama dalam seni musik Beethoven. Ia menulis 32 sonata piano, yang bagi literatur piano sama artinya seperti karya-karya Shakespeare bagi drama. Bagi Beethoven, sonata piano merupakan saran untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran dalam batinnya yang terdalam dan paling berani.

Concerto No. 5 (The Emperor) ditulis saat meriam pasukan Napoleon menggempur pintu-pintu gerbang Wina. Dilaporkan bahwa Beethoven mengungsi di sebuah gudang bawah tanah dengan kepala dibenamkan di bawah bantal untuk menjaga daya pendengarannya yang tinggal sedikit.

Salah satu ciri utama musik Beethoven adalah kedalaman isinya yang emosional. Dalam Appasionata, ia menyadari sepenuhnya bahwa piano adalah alat musik perkusi. Karya itu berakhir dengan sejumlah besar trill [ragam nada hias, yaitu memainkan sebuah nada dengan mengikutsertakan satu nada di bawah nada pokok secara bergantian dengan kecepatan tinggi]. Yang khas adalah adanya kontras-kontras yang hebat antara pianissimo [sangat lembut] dan fortissimo. Hingga era Beethoven, kebanyakan musik memegang pola irama yang dapat diprediksi. Salah satu karakteristik musik yang terkenal dari Beethoven adalah adanya unsur kejutan.

Beethoven menulis sepuluh sonata biola, yang paling terkenal adalah Kreutzer Sonata. Di sini biola memiliki deklamasi perkusif. Karya ini semakin terkenal karena Tolstoy menulis sebuah novel berjudul The Kreutzer Sonata yang mengisahkan tentang suami yang suka cemburu yang membunuh istrinya.

Satu operanya, Fidelio, yang berada di tengah jajaran karya terbesar dunia, memberinya kesulitan yang lebih besar dibandingkan dengan karya-karyanya yang lain. Beethoven adalah seorang musisi drama yang hebat, tetapi ia jarang menulis dengan baik untuk musik vokal. Ia mengabaikan keterbatasan suara manusia dan menganggap suara manusia hanya merupakan alat musik lainnya. Ia sering menciptakan musik tak bervokal.

Mustahil untuk membahas simfoni-simfoni Beethoven dengan cukup lengkap dalam beberapa patah kata saja. Masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri yang utuh dan berbeda., tetapi kami akan memberi ulasan singkat untuk setiap simfoninya.

Simfoni ke-1 adalah yang paling Klasik dari sembilan yang ada.

Simfoni ke-2 ditulis selama masa ia mulai menyadari bahwa ia akan menjadi tuli. Ia menulisnya di tengah keadaannya yang depresi. Simfoni ini memperlihatkan kesederhanaan dan secercah cahaya yang energik dan menyala-nyala.

Simfoni ke-3 merupakan ekspresi abadi dari kebesaran yang heroik. Ini merupakan hasil dari keagungan dan kehebatan. Beethoven mempersembahkan simfoni ini untuk Napoleon, yang ia puja sebagai seorang pahlawan yang memimpin umat manusia menuju zaman baru kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Namun ketika Beethoven mendengar bahwa Napoleon menobatkan dirinya sendiri sebagai kaisar, dengan marah ia merobek halaman dedikasi dan mengganti judul simfoni ini menjadi Eroica.

Dilihat dari musik, zaman Napoleon (1769-1821) merupakan zaman Beethoven. Zaman Revolusi terjadi selama masa kebangkitan besar ego manusia dalam filsafat dan kesenian. Para filsuf masa Pencerahan abad ke-18 mempersiapkan jalan menuju pergolakan politik yang dahsyat yang disebut Zaman Revolusi. Simbol abad Pencerahan adalah tanda tanya, dan orang yang menjadi tokoh abad Pencerahan adalah Voltaire, salah seorang yang terbesar dari semua penulis Prancis, yang mempertanyakan keabsahan Alkitab dan meletakkan keyakinannya pada pertimbangan akal sehat manusia. Musuh Voltaire adalah Rosseau, yang menaruh sedikit kepercayaan pada akal sehat manusia. Rosseau percaya akan adanya peran, kebebasan, dan kebaikan manusia, tetapi watak dan kehidupannya sendiri tidak mencerminkan itu. Istrinya mempunyai lima anak, dan Rosseau mengirim mereka semua ke panti asuhan.

Simfoni ke-4 merupakan simfoni yang energik. Di dalamnya Beethoven melepaskan kegemparan ledakan kegembiraan.

Simfoni ke-5 merupakan pelukisan musikal tentang perjuangan Beethoven dengan ketulian. Seperti halnya Goethe, Beethoven percaya akan nasib yang kejam.

Simfoni ke-6 atau Pastoral Symphony merupakan titik awal musik Romantik. Ini merupakan satu-satunya simfoni di mana Beethoven memberinya program. Masing-masing dari lima gerakan yang ada menunjukkan pemandangan kehidupan pedesaan. Beethoven memberi tahu temannya bahwa burung puyuh, burung bulbul, dan burung kecil berwarna kuning di sekitar Heiligenstadt, tempat ia melewatkan waktunya selama beberapa kali musim panas, menolongnya untuk menggubah simfoni ini.

Simfoni ke-7 berisi salah satu dari gerakan Beethoven yang paling terkenal, yaitu gerakan kedua, yang barangkali sangat berpengaruh pada komponis-komponis Romantik. Keseluruhan simfoni dikontrol oleh ide-ide ritmis yang tetap. Wagner menyebutnya “Perwujudan sempurna dari suatu tarian.” 

Simfoni ke-8 terdengar anggun dan rumit.

Simfoni ke-9 merupakan lagu pujian untuk persaudaraan manusia yang universal. Di dalamnya Beethoven menyatakan tentang datangnya sukacita melalui penderitaan. Hal baru yang paling mencolok dari simfoni ini adalah digunakannya paduan suara dan suara-suara solo seolah-olah orkestra telah sampai pada tahap perkembangan yang teratas sehingga tak dapat naik lebih tinggi lagi dan membutuhkan kolaborasi seni vokal.

Lima kuartet terakhir Beethoven, bersamaan dengan Great Fugue, dianggap sebagai puncak prestasinya. Burk berkata, “Lima kuartet terakhir dpaat dipandang sebagai puncak dari semua yang dikerjakannya selama ini, dan semua yang telah ada sebelumnya dapat dianggap sebagai persiapan.” Kuartet-kuartet ini  menyibukkan tiga tahun terakhir hidupnya. Roh Beethoven yang tersiksa dan tidak mau menyerah membutuhkan kesendirian dalam bekerja, dan kelima kuartet ini mengungkapkan pengasingan dirinya dan rasa kesepiannya yang tak terkatakan karena ia menutup dirinya dari orang lain. Musik, bagi Beethoven, menjadi masalah penarikan dirinya dari pergaulan.

Jika kita hidup di zaman seniman bertalenta luar biasa dan berdedikasi tinggi seperti Beethoven, maka kita tidak akan dapat lepas dari pengaruhnya. Grout menyatakan, “Beethoven merupakan kekuatan yang paling mengacaukan dalam sejarah musik. Karya-karyanya membuka pintu gerbang menuju dunia yang baru.” Dan menuju dunia yang hancur, jika saya boleh menambahkan. Dengan mengatakan ini, kami tidak bermaksud mengatakan bahwa musiknya tidak indah, tidak mengagumkan, tidak mulia, dan tidak agung. Allah adalah Sang Pemberi talenta, tetapi tidak semua orang yang bertalenta mengakui hal itu dan mengucap syukur kepada Allah. Baru-baru ini saya ditanya oleh seorang murid di L’Abri, “Apa hubungan filsafat dengan musik?” Salah satu tujuan penulisan buku ini adalah untuk menunjukkan betapa kepercayaan dan pemikiran kita mempengaruhi apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Fakta bahwa Beethoven menganut pandangan dunia yang meniadakan keutuhan rohani menyebabkan musiknya bergerak ke arah disintegrasi menjelang akhir hayatnya.

Sebagai komponis, ia melakukan pencarian yang tak kunjung berakhir untuk mendapatkan bentuk ideal yang akan mengekspresikan dengan lengkap kesatuan yang telah ia impikan sejak awal. Namun sebagaimana yang dijelaskan Francis Schaeffer dalam bukunya How Should We Then Live?, humanisme gagal mencapai kesatuan dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting dalam kehidupan. Kebenaran Alkitab yang dinyatakan tentang Allah Trinitas memberikan satu-satunya pandangan dunia yang menyediakan kesatuan antara hal-hal absolut yang universal dan fakta-fakta kehidupan manusia. Dalam Yesus Kristus, Allah memberikan kepada setiap orang percaya keutuhan rohani dan kepuasan intelektual yang memberi makna dan kepuasan untuk hidup.

Kuartet-kuartet terakhir Beethoven, yang konsisten dengan pandangan dunianya, berubah menjadi abstrak dan mistis. “Almarhum Beethoven,” menurut seorang penulis biografi, Alfred Einstein, “telah dipandang sebagai perusak bentuk.” Bahasa dari kuartet-kuartet terakhirnya terdengar keras dan sususannya tak dapat diprediksi. Sebagian gerakan tak biasanya dibuat panjang, dan lainnya secara mengherankan dibuat pendek. Disonansi yang sering muncul mendahului musik abad ke-20. Tatkala musik Beethoven  menjadi semakin mistis, musik itu kehilangan bentuk-bentuk tradisionalnya. Ciri lain dari karya terakhirnya adalah kontinuitas yang ia capai dengan cara mengaburkan garis-garis pembagi dengan sengaja. Seseorang akan merasakan awal dari hilangnya kategori musik.

Dalam kuartet-kuartet ini Beethoven menggunakan materi tematis yang terpisah-pisah dan tonalitas yang tidak jelas. Sebenarnya, penggunaan formal materi tematis telah ditinggalkan, dan sebagai gantinya dipakai tema yang menyela tema. Bagian-bagian melodinya divariasi, diubah bentuknya, lalu hampir dengan sengaja dihentikan dan dikembalikan. Prinsip variasi ini kemudian diambil dan diterapkan lebih lanjut oleh Arnold Schoenberg dalam variasi-variasinya yang sambung menyambung, topik yang akan dibahas di bab lain.

Kuartet-kuartet terakhir Beethoven disebut musik masa depan, dan banyak musik yang kita dengarkan sekarang merupakan hasil dari pengaruh Beethoven.

Beethoven dilahirkan sebagai seorang Katolik, tetapi ia tak pernah ke gereja. Saat terbaring dalam keadaan sekarat (ia meninggal karena komplikasi radang paru-paru, sirosis hati, dan busung air), ia menjalani sakramen terakhir, tetapi ia memandang semua pastor dengan sikap curiga. Marek menggambarkan kematian Beethoven demikian, “Hari terasa sangat dingin; salju telah turun. Sekitar pukul lima, tiba-tiba datanglah badai dahsyat di langit. Langit menjadi sangat gelap. Mendadak cahaya kilat yang besar menerangi kamar Beethoven, disertai dengan bunyi guntur yang keras. Waktu cahaya kilat itu menyambar, Beethoven membuka matanya, mengangkat tangan kanannya yang mengepal kuat-kuat, lalu tangan itu jatuh kembali, ia meninggal. Waktu itu sekitar pukul 17.15, 26 Maret 1827.” Kerumunan orang yang sangat banyak menghadiri pemakamannya. Franz Schubert adalah salah seorang pembawa obornya.

Orang-orang di seluruh dunia mengenal dan menghargai musik Beethoven. Dalam beberapa hal, musiknya menarik bagi kita karena banyak di antaranya yang mengungkapkan perjuangan dan penderitaannya, dan kita menyamakan diri dengannya. Dalam suratnya seringkali Beethoven bertanya, “Apa gunanya ini semua?” Namun ketika menggubah musik, ia jarang menanyakan hal itu hingga pada saat-saat terakhir hidupnya. Dalam banyak musiknya, Beethoven menyeimbangkan antara penderitaan dengan penghiburan sehingga memberi kesan adanya kekuatan.

Tentu saja kita perlu mendengarkan musik Beethoven. Musik itu menyatukan pikiran dan emosi yang sering kali lebih kuat daripada yang dapat kita hasilkan. Namun jangan pernah mendengarkan dengan acuh tak acuh dan tanpa kebijaksanaan. Nikmati dan hargai apa yang baik, tetapi ingatlah bahwa baik bagi para komponis maupun bagi kita semua berlaku hal ini: apa yang kita percayai mempengaruhi seluruh hidup kita.

Komposisi yang Direkomendasikan untuk Didengarkan:

Five Piano Concertos

Concerto in D for Violin

Fidelio

Last Five Quartets

Piano Sonata No. 8, Pathetique

Piano Sonata No. 14, Moonlight

Piano Sonata No. 21, Waldstein

Piano Sonata No. 23, Appasionata

Violin Sonata No. 9, Kreutzer

Nine Symphonies

(J.S. Smith and B. Carlson. 1978. The Gift of Music. Wheaton: Crossway Books.)

Read Full Post »