Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘obesitas’

Obesitas merupakan penyakit multifaktoral, yang terjadi akibat akumulasi jaringan lemak berlebihan, sehingga dapat mengganggu kesehatan.

 

Etiologi obesitas:

  1. Genetik: 40% dari anak-anak yang kegemukan, salah satu orangtuanya kegemukan (faktor ibu lebih dominan). 80% anak akan obesitas jika kedua orangtuanya juga obesitas. Hanya 9% anak obesitas jika kedua orangtuanya tidak obesitas.
  2. Lingkungan: kebiasaan sosial, budaya, dan ekonomi.
  3. Gaya Hidup: gaya hidup santai (sedentary life) meningkatkan risiko obesitas karena kurang aktivitas.
  4. Psikologi: orang yang mengalami gangguan emosional seringkali mencari pelarian pada makanan.

Obat-obatan juga ada yang meningkatkan risiko obesitas seperti litium dan antidepresan trisiklik.

 

Mengukur lemak tubuh secara langsung sangat sulit dan sebagai penggantinya dipakai indeks massa tubuh/body mass index (BMI). BMI yang dibentuk oleh WHO tidak bisa secara tepat mengukur tingkat obesitas masyarakat Asia-Pasifik karena perbedaan fisik. Karakteristik orang Kaukasia tentu berbeda dengan orang Mongoloid. Oleh karena itu, ada klasifikasi WHO Asia-Pasifik.

Berat badan kurang: BMI < 18,5

Kisaran normal: 18,5 – 22,9

Berat badan lebih: >= 23

Berisiko: 23-24,9

Obes I : 25-29,9

Obes II: >=30

 

Cara mengukur BMI:

Berat badan (kg) / tinggi badan kuadrat (m kuadrat)

Contoh: tinggi anak 150 cm, berat badan 54

54 kg /(1,5 x 1,5) m = 24

Untuk anak-anak, hal ini termasuk obesitas. Hal ini dapat ditunjukkan melalui grafik persentil pertumbuhan berikut.

 

 

Namun, BMI ini tidak dapat digunakan untuk mengukur proporsionalitas pada atlet dan wanita hamil.

 

Obesitas memiliki dua tipe:

  1. Obesitas sentral/android: sering terjadi pada laki-laki. Penumpukan lemak terjadi di batang tubuh seperti perut (terutama) dan dada. Hal ini berbahaya bagi organ vital tubuh. Jaringan adiposa tempat berkumpulnya lemak ini akan mengeluarkan sekret sitokin yang merupakan zat pro-inflamasi. Bentuk tubuh pria dengan obesitas ginoid terlihat seperti buah apel.
  2. Obesitas ginoid: sering terjadi pada perempuan. Penumpukan lemak terjadi di pantat dan paha. Bentuk tubuh wanita dengan obesitas ginoid terlihat seperti buah pir.

 

Pada usia sekitar 30-49 tahun, obesitas banyak terjadi pada wanita. Akan tetapi pada usia 50 tahun ke atas, obesitas lebih banyak terjadi pada pria.

Risiko Obesitas:

Diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular (misal: jantung koroner, ateroklerosis, arteriosklerosis, hipertensi, dislipidemia), osteoartritis/radang sendi, psikososial, keterbatasan aktivitas, gangguan reproduksi.

 

Prediktor dan Karakteristik Anak untuk Menjadi Obese

Prediktor:

  1. BBL: berat bayi lahir
  2. Antropometik pada usia 12, 50, dan 80 bulan
  3. Kecepatan tumbuh pada tahun pertama

Karakteristik:

Anak terlihat sangat gemuk, umumnya lebih tinggi daripada anak seusianya, sering terlihat memiliki dagu yang berganda, perut menggantung ke bawah, alat kelamin anak laki-laki terlihat kecil karena tertutup  jaringan lemak panggul/pubis, dada anak perempuan terlihat mengembang.

 

Penatalaksanaan Obesitas

Cara mengatasi obesitas tidak dapat dilakukan dengan instant maupun drastis. Semuanya harus melalui tahapan-tahapan. Untuk penurunan berat badan yang aman, maksimal 4 kg per bulan.

Pola makan yang baik: diet rendah kalori (500-1000 kkal/hari)

Yang perlu diingat adalah 3J (jumlah, jadwal, dan jenis):

  1. Jumlah: konsumsi lemak harus diatur sejak usia 2 tahun. Saturated fat = 7%-10%; Total fat = 25%-30% dari total kalori; Cholesterol = kurang dari 300 mg/hari.
  2. Jadwal: disiplin dalam hal waktu makan, tidak boleh makan terlambat, jangan melewatkan jam makan, kebutuhan kalori per hari harus dibagi (20% makan pagi, 30% makan siang, 25% makan malam). Makan malam yang baik harus dibawah jam 7 malam. Jika kita kembali merasa lapar setelah makan malam, mungkin waktu tidur kita terlalu larut. Untuk camilan, yang terbaik adalah buah-buahan berair (apel, jeruk, pir, dan lain-lain).
  3. Jenis: pilihlah bahan makanan yang rendah kalori. Diet tidak berarti tidak makan. Diet yang benar adalah dengan mengganti bahan makanan kita dengan yang lebih mencukupi kebutuhan dan kualitas nutrisi. Bukan dengan tidak makan. Untuk sumber lemak: minyak kelapa, zaitun, canola, kacang-kacangan, alpukat. Untuk protein: putih telur, susu, ikan, ayam, kacang kedelai. Protein adalah zat yang paling mengenyangkan. Karbohidrat low glicemic index: apel, jeruk, pir, kacang, kentang rebus.

 

Glicemic index mengukur kadar gula darah setelah makan.

 

Tingkat aktivitas yang baik:

  1. Aktivitas dan kebiasaan sehari-hari. Contoh: membersihkan rumah, naik turun tangga, pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya.
  2. Aerobik dan aktivitas rekreasi.
  3. Latihan kelenturan dan kekuatan.
  4. Inaktivitas. Contoh: hidup santai.

Pola diet harus diimbangi dengan aktivitas. Kebiasaan sehari-hari adalah cara yang aman dan dibutuhkan dalam pengaturan pola makan.

 

Sumber:

Hutapea, Albert M. 1994. Menuju Gaya Hidup Sehat. Jakarta: Gramedia.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, Edisi 5. Jakarta: InternaPublishing.

 

 

 

 

Advertisements

Read Full Post »