Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘patogenesis rubeola’

patgenfis-rubeola
Gejala Klinis
  • Fase inkubasi
  • Fase prodromal  (fokus infeksi dan nekrosis epitel):
    • Epitel saluran napas: batuk, pilek (cough, coryza)
    • Konjungtiva: conjunctivitis
    • Mukosa pipi: Koplik’s spot pd mukosa pipi yang berhadapan dengan molar bawah (eksudat serosa dan proliferasi sel-sel endotel), tetapi dapat juga ditemukan pada daerah pipi lainnya dan langit-langit
    • Saluran kemih: urin keruh dan sedikit
    • Usus: nyeri perut, diare, gejala seperti apendiksitis
    • Dapat juga terjadi splenomegali
  • Fase erupsi: ruam kulit, lesi pada wajah mulai menghilang pada hari ke-2 atau 3 (lesi telah mencapai kaki)
    • Vaskulitis: mediasi oleh sel T (delayed-type hypersensitivity)
    • Dapat timbul demam karena pirogen endogen (IL-1 yang dihasilkan makrofag). Pirogen endogen akan merangsang endotelium hipotalamus untuk membentuk prostaglandin (PGE2). Prostaglandin yang terbentuk kemudian akan meningkatkan patokan termostat di pusat termoregulasi hipotalamus. Hipotalamus akan menganggap suhu sekarang lebih rendah dari suhu patokan yang baru sehingga memicu mekanisme-mekanisme untuk meningkatkan panas antara lain menggigil dan vasokonstriksi kulit. Akan terjadi peningkatan produksi panas dan penurunan pengurangan panas yang pada akhirnya akan menyebabkan suhu tubuh naik ke patokan yang baru tersebut.
  • Fase konvalesens: penyembuhan pada kulit, gejala berkurang, batuk dapat bertahan lebih lama
Pasien infeksius: 2 hari sebelum timbul gejala klinis hingga 4 hari sesudah timbul rash
Leukopenia: destruksi jaringan limfoid
CD46+: reseptor pada semua sel berinti
SLAM: ‘signalling lymphocyte activation molecule‘ reseptor pd sel B dan T

Read Full Post »