Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘patogenesis tuberkulosis’

tuberkulosis_pa

< 3 minggu:

  • M. tuberculosis memasuki makrofag melalui ikatan antara lipoarabinomanan (glikolipid dinding sel bakteri) dan reseptor manosa pada makrofag.
  • M. tuberculosis melakukan replikasi dalam makrofag dengan menghambat fusi fagosom dan lisosom. Fusi fagolisosom tersebut dicegah dengan menghambat sinyal kalsium dan protein mediator.
  • Pada penderita yang belum tersensitasi terjadi bakteriemia dan penyemaian di berbagai tempat.
  • Penderita dapat asimptomatik atau mengalami penyakit mirip flu.
  • Polimorfisme gen NRAMP1 (protein transmembran pada endosom dan lisosom) menjadi salah satu penyebab respon imun tidak efektif. Pada keadaan normal lisosom akan memompa kation divalen (misal. Fe) yang akan menurunkan jumlah ion yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri.

> 3 minggu:

  • T-helper 1 mengaktivasi makrofag menjadi bakterisidal. Respons tersebut diinisiasi oleh presentasi antigen mikobakterial oleh makrofag alveolar. Makrofag sendiri akan menghasilkan IL-12 karena M. tuberculosis menghasilkan beberapa molekul protein yang merupakan ligan untuk TLR2. IL-12 inilah yang menyebabkan diferensiasi sel T menjadi T-helper 1.
  • Th1 akan memproduksi IFN-γ. IFN-γ menstimulasi pembentukan fagolisosom dalam makrofag yang terinfeksi dan ekspresi iNOS (inducible nitric oxide synthase), yang akan menghasilkan nitrit oksida dan ROS (reactive oxygen species).
  • IFN-γ juga mengakibatkan diferensiasi makrofag menjadi sel epiteloid, atau bahkan berfusi sebagai giant cell, yang merupakan karakteristik respons granulomatosa.
  • Makrofag teraktivasi akan menghasilkan TNF yang merekrut lebih banyak lagi sel monosit.

 

Pada tuberkulosis laten dapat terbentuk cavitasi/caverne karena efek sitokin terhadap jaringan. Kuman Mycobacterium tidak dapat bertumbuh di lingkungan ekstraselular yang bersifat asam dan rendah oksigen. Residu akhir dari infeksi primer adalah sikariks yang mengalami kalsifikasi pada parenkim paru-paru dan nodus limfatik di hilus. Bila terjadi erosi pembuluh darah, maka dapat terjadi hemoptisis.

Sumber:

Kumar V, Abbas KA, Fausto N. 2010. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease 8th Edition. Elsevier Saunders.

Read Full Post »