Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘penatalaksanaan postpartum blues’

2.8  Penatalaksanaan Postpartum Blues

 

Postpartum blues umumnya sembuh sendiri dalam jangka waktu antara 2 minggu hingga 3 bulan. Gejala klinis dari kondisi tersebut biasanya dapat menghilang sendiri. Dukungan sosial memiliki peranan penting dalam terapi. Medikasi biasanya tidak diperlukan.

Seperti bentuk lain dari depresi, depresi postpartum dapat bertahap dan kelanjutan. Gejala dapat berkembang progresif, mulai dari depresi ringan, sedang, lalu menjadi berat. Pendekatan terapi haruslah berdasarkan keparahan gejala dan derajat pemburukan.

Terapi lini pertama adalah psikoterapi. Dua metode terapi yang telah terbukti bermanfaat adalah terapi interpersonal dan terapi kognitif-perilaku (cognitive-behavioral therapy (CBT)) jangka pendek. Terapi interpersonal memiliki durasi waktu tertentu dan berorientasi pada hubungan interpersonal. Terapi ini mungkin efektif untuk wanita dengan depresi ringan. Terapi kognitif-perilaku mendidik klien untuk mengenali dan menyadari ketidakakuratan mereka dalam berpikir sehingga mereka dapat memiliki sudut pandang yang lebih realistik terhadap dunia. Terapi ini lebih bermanfaat pada klien dengan gejala-gejala cemas yang menonjol. Terapi gabungan antara psikoterapi dan medikasi akan membawa manfaat yang lebih baik bagi banyak pasien.

Terapi lini kedua adalah terapi farmakologis. Beberapa pasien memang membutuhkan perawatan medis tersebut. Belum ada ketetapan dalam pengobatan postpartum blues. Maka itulah, depresi postpartum seringkali diterapi sebagai depresi mayor. Dosis dan periode pengobatan pada kondisi klinis ini sama dengan waktu dan dosis yang digunakan untuk depresi mayor.

Beberapa klinisi cenderung melakukan terapi yang kurang agresif untuk depresi postpartum, bila dibandingkan dengan gangguan afektif lainnya. Namun demikian, pengobatan yang tidak memadai untuk depresi postpartum akan meningkatkan risiko timbulnya gejala sisa dari gangguan afektif tersebut. Depresi dapat menjadi kronis, rekuren dan/atau refrakter. Sebagaimana gangguan afektif lainnya, penggunaan farmakoterapi harus dikombinasikan dengan konseling, kelompok dukungan, atau keduanya. Ibu yang mengalami depresi postpartum harus melanjutkan pengobatan hingga 6 sampai 12 bulan setelah melahirkan untuk memastikan pemulihan sempurna.

Tidak ada antidepresan yang telah disetujui sebagai agen kategori A untuk digunakan selama kehamilan atau laktasi. Bagaimana pun juga, antidepresan diindikasikan pada pasien dengan tanda-tanda depresi, termasuk gangguan pola tidur dan pola makan, konsentrasi lemah, atau perubahan psikomotor.

Hanya terdapat beberapa studi yang telah mengevaluasi antidepresan pada pasien postpartum. Dalam semua studi ini, jadwal dan pemberian dosis yang digunakan untuk depresi jenis lain memiliki efek terapi dan dapat ditoleransi dengan baik. Setiap wanita dalam masa laktasi harus diberi informasi bahwa semua antidepresan disekresikan dalam ASI pada kadar yang bervariasi. Paparan pada masa neonatal tampaknya memiliki tingkat efek samping yang rendah. Meski begitu, efek jangka panjang terhadap otak yang sedang berkembang belum diketahui.

Dengan adanya perubahan besar dalam faktor hormonal pada periode postpartum, maka terapi hormonal memiliki kemungkinan untuk mengobati depresi postpartum. Beberapa penulis menyarankan terapi progesteron, tetapi belum ada data yang mendukung. Penelitian terbaru telah menjelaskan manfaat pemberian estrogen transdermal, baik sebagai terapi tunggal ataupun dalam kombinasi dengan antidepresan.

Menurut Cohen dan Rosenbaum, penggunaan antidepresan trisiklik tidak menimbulkan risiko apabila digunakan pada masa kehamilan. Antidepresan trisiklik tidak berefek teratogenik, bahkan pada trimester pertama. Mereka berpendapat bahwa medikasi yang paling aman digunakan pada masa tersebut adalah nortriptilin, imipramin, dan fluoksetin. Pemilihan antidepresan untuk setiap pasien haruslah sesuai dengan gejala yang paling menonjol, seperti halnya dalam depresi berat. Jadwal dan pemberian dosis setara dengan dosis yang digunakan pada terapi depresi mayor dan tidak terkait dengan kehamilan  atau masa postpartum. Regimen pengobatan awal dapat ditingkatkan sesuai dengan simptomatologi.

Pada pasien dengan risiko bunuh diri, atau dengan ide bunuh diri, rujukan dan rawat inap diperlukan. Depresi postpartum yang telah parah menunjukkan respons yang cepat terhadap terapi elektrokonvulsif.

Pengobatan optimal untuk pasien saat ini adalah psikoterapi. Jika hasil yang optimal tidak tercapai dalam waktu yang ditentukan, medikasi akan menjadi lini terapi berikutnya. Bila gejala memburuk sebelum jangka waktu terapi telah habis, pemberian medikasi haruslah dipertimbangkan. Terapi interpersonal terbukti memperbaiki keadaan pasien. Pemberian fluoksetin dimulai dari dosis 10 mg per hari. Pasien yang telah diterapi dengan kombinasi obat dan terapi interpersonal mengalami perbaikan pola tidur, pola makan, dan energi. Libido tetap pada tingkat rendah. Semua gejala membaik dengan peningkatan dosis fluoksetin sebanyak 20 mg per hari dan dilanjutkan dengan beberapa minggu psikoterapi.

 

Sumber:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC181045/

Read Full Post »