Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘penyembuhan tulang’

2.2 Fraktur dan Proses Penyembuhan Tulang

 

     Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang biasanya disertai dengan luka jaringan lunak sekitar, kerusakan otot, ruptur tendon, kerusakan pembuluh darah, dan cedera organ-organ tubuh. Fraktur ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang terkena tekanan yang lebih besar dari yang yang dapat ditanggung oleh jaringan tersebut (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

 

2.2.1 Proses Penyembuhan Fraktur Primer

 

     Pada proses penyembuhan primer, terjadi remodeling internal yang merupakan upaya langsung oleh korteks tulang untuk membangun kembali jaringannya setelah kontinuitas terganggu. Agar bagian yang mengalami fraktur dapat menyatu, tulang pada salah satu sisi korteks harus berkontak langsung dengan tulang pada sisi lainnya untuk membangun kontinuitas mekanis.

     Pada proses penyembuhan ini dibutuhkan fiksasi yang stabil. Proses penyembuhan primer terjadi melalui pembentukan ulang dari osteon dan penyatuan tepi fragmen fraktur dari tulang yang patah tanpa adanya reaksi periosteal. Pada proses penyembuhan primer ini tidak terjadi pembentukan callus. Tidak ditemukan jaringan fibrosa dan kartilago pada lokasi penyembuhan. Proses penyembuhan primer dapat terjadi dengan pembentukan vaskular primer pada tulang (Norton, et al., 2012).

 

2.2.2 Proses Penyembuhan Fraktur Sekunder

 

     Proses penyembuhan sekunder merupakan respons penyembuhan yang terjadi pada periostium dan jaringan-jaringan lunak eksternal. Proses penyembuhan fraktur ini dibedakan menjadi enam fase, yaitu: (1) fase benturan (impact), (2) fase induksi, (3) fase inflamasi, (4) fase soft callus, (5) fase hard callus, dan (6) fase remodeling (Norton, et al., 2012).

 

  1. Fase Benturan (impact)

     Pada fase ini tulang menyerap energi yang ditimpakan terhadap jaringannya. Apabila energi yang menekan tulang lebih besar daripada yang dapat ditanggung oleh jaringan tersebut, maka akan terjadi kegagalan struktural berupa diskontinuitas. Fraktur ditandai oleh adanya deformitas (kelainan bentuk), malrotasi, angulasi, dan pemendekan pada tulang (Norton, et al., 2012).

  1. Fase Induksi

     Fase induksi ditandai dengan adanya perubahan pada lingkungan mikro di sekitar tempat terjadinya jejas. Perubahan lingkungan mikro yang mungkin terjadi yaitu hipoksia (kekurangan oksigen pada jaringan tubuh) dan pH asam. Hipoksia dan pH asam tersebut akan menginduksi pembentukan osteoblas periosteal dan endosteal, serta mencetuskan terjadinya diferensiasi sel-sel mesenkim (Norton, et al., 2012).

  1. Fase Inflamasi

      Pada fase inflamasi terjadi proses peradangan akut. Jaringan fibrovaskular akan menginvasi celah fraktur dan menempatkan kolagen dan matriks pada daerah cedera. Fase inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Perdarahan pada jaringan yang mengalami cedera akan menimbulkan pembentukan hematom. Ujung fragmen tulang akan mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah hingga terjadi hipoksia dan perubahan pH menjadi asam.

     Hipoksia dan lingkungan asam ini akan menginduksi ekspresi gen dan meningkatkan pembelahan dan migrasi sel menuju tempat fraktur untuk memulai penyembuhan. Produksi sitokin akan membuat kondisi lingkungan mikro yang sesuai untuk menstimulasi pembentukan periosteal oleh osteoblas dan osifikasi intramembran pada tempat fraktur. Sitokin yang dilepaskan juga akan menstimulasi kondrosit untuk berdiferensiasi pada callus lunak dengan osifikasi endokondral yang mengiringinya (Norton, et al., 2012).

  1. Fase Callus Lunak (Soft Callus)

     Fase soft callus ditandai dengan pembentukan osteoid (tulang rawan) pada celah fraktur. Jaringan tulang kondrosit atau jaringan tulang rawan mulai tumbuh dan mencapai sisi lain dari ujung fraktur hingga celah fraktur terhubungkan (Norton, et al., 2012). Callus mulai terbentuk setelah 2-3 minggu setelah cedera dan berlangsung hingga 4-8 minggu setelah cedera. Regulasi dari pembentukan callus selama masa perbaikan fraktur dimediasi oleh ekspresi faktor-faktor pertumbuhan. Salah satu faktor yang paling dominan adalah TGF-β1 (Transforming Growth Factor-Beta 1) yang terlibat dalam pengaturan diferensiasi osteoblas dan produksi matriks ekstraselular. VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) berperan penting pada proses angiogenesis selama proses penyembuhan fraktur (Atala, Lanza, Thomson, & Nerem, 2010).

  1. Fase Callus Keras (Hard Callus)

     Fase ini mulai terjadi pada 4-8 minggu setelah cedera hingga 8-12 minggu sesudahnya. Pada fase hard callus, pembentukan tulang endokondral terus berlangsung untuk mencapai penyatuan tulang secara menyeluruh. Penyatuan tulang tersebut juga menyertai perkembangan suplai darah endosteal di sepanjang lokasi fraktur (Norton, et al., 2012).

  1. Fase Pembentukan Ulang (Remodeling)

     Fase ini dimulai pada 8-12 minggu setelah cedera dan dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Fase remodeling pada tulang berkaitan erat dengan fungsi osteoklas. Osteoklas akan melaksanakan proses pembentukan ulang terhadap callus. Perombakan oleh osteoklas ini juga disertai dengan pembentukan tulang secara simultan oleh osteoblas untuk mengubah tulang imatur (woven bone) menjadi tulang matur (lamellar bone) dengan pemulihan kanal medular. Keadaan tulang ini menjadi lebih kuat sehingga osteoklas dapat menembus jaringan debris pada daerah fraktur dan diikuti oleh osteoblas yang akan mengisi celah di antara fragmen dengan tulang yang baru (Norton, et al., 2012).

     Dalam waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terjadi proses pembentukan dan penyerapan tulang terus menerus. Lamella yang tebal akan terbentuk pada sisi dengan tekanan yang tinggi. Rongga medulla akan terbentuk kembali dan diameter tulang akan kembali pada ukuran semula atau mendekati ukuran semula. Pada keadaan ini tulang telah sembuh, baik secara klinis maupun radiologis (Atala, Lanza, Thomson, & Nerem, 2010).

 

 

Daftar Pustaka

Atala, A., Lanza, R., Thomson, J. A., & Nerem, R. (2010). Principles of Regenerative Medicine (2 ed.). New York: Elsevier.

Norton, J., Barie, P. S., Bollinger, R. R., Chang, A. E., Lowry, S., Mulvihill, S. J., et al. (2012). Surgery: Basic Science and Clinical Evidence. New York: Springer-Verlag.

Smeltzer, S. C., Bare, B., Hinkle, J. R., & Cheever, K. H. (2010). Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing (12 ed.). New York: Lippincott Williams & Wilkins.

Advertisements

Read Full Post »