Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘perdarahan saluran cerna bawah’

6.1 Patogenesis Perdarahan Gastrointestinal Bagian Bawah

     Divertikulosis, angiodisplasia, radang usus, kanker, dan penyakit anorektal berkaitan erat dengan perdarahan gastrointestinal bagian bawah.

 

  • Divertikulosis

     Divertikulosis adalah kondisi yang umum ditemui di masyarakat Barat; sekitar 50% dari orang dewasa yang lebih tua dari 60 tahun memiliki bukti penyakit ini secara radiologis. Sebuah divertikulum adalah penonjolan mukosa yang berbentuk seperti kantong dari dinding kolon yang berkembang pada titik kecil perlemahan di tempat pembuluh darah arteri menembus melalui serat otot sirkular. Pembuluh darah tersebut akan menyelubungi divertikulum dan hanya dibatasi oleh lapisan mukosa terhadap lumen usus. Trauma kronis terhadap vasa recta di sepanjang aspek luminal, serta kontraksi dan relaksasi dari tunica muscularis propria di sekitarnya, menyebabkan penipisan daerah usus yang bersangkutan. Pada akhirnya, erosi pembuluh darah dan perdarahan dapat terjadi (Yamada, Alpers, Kalloo, Kaplowitz, Owyang, & Powell, 2011).

     Divertikula paling sering terletak di colon sigmoideum dan colon descendens, dan perdarahan divertikula berasal dari vasa recta terletak di submukosa, yang dapat pecah di kubah atau leher divertikulum tersebut. Hingga 3% dari pasien dengan penyakit divertikula mengalami perdarahan. Perdarahan ini dapat berhenti secara spontan pada 80% pasien. Namun, pada 25-35% pasien dengan penyakit divertikula, pendarahan dari penyakit ini bisa berulang (Yamada, Alpers, Kalloo, Kaplowitz, Owyang, & Powell, 2011).

     Meskipun divertikula lebih sering terjadi pada sisi kiri kolon, divertikula pada sisi kanan kolon menyebabkan 70% dari perdarahan. Hal ini mungkin karena divertikula pada sisi kanan kolon memiliki leher dan kubah yang lebih luas, yang menunjukkan cedera vasa recta yang lebih hebat. Insiden divertikula sisi kanan jarang terjadi di Amerika Serikat (1% -2%), tidak seperti pada populasi Asia. Divertikula sisi kanan biasanya soliter dan berasal dari caecum anterior yang berdekatan dengan katup ileocaecal. Biasanya divertikula sisi kanan menyebabkan divertikulitis sisi kanan dan dapat salah didiagnosis sebagai appendisitis (Vernava, Longo, & Virgo, 1996).

 

  • Angiodisplasia

     Angiodisplasia kolon adalah malformasi arteriovenosa yang terletak di caecum dan colon ascendens. Lesi ini lebih sering terjadi pada orang tua di atas usia 70 tahun. Kebanyakan angiodisplasia kolon adalah lesi degeneratif yang muncul dari kontraksi usus kronis dan intermiten yang menghambat drainase vena mukosa. Seiring waktu, kapiler mukosa akan membesar, menjadi tidak kompeten, dan membentuk malformasi arteri. Angiodisplasia menyebabkan 10-40% perdarahan saluran cerna bagian bawah (Yamada, Alpers, Kalloo, Kaplowitz, Owyang, & Powell, 2011).

 

  • Kolitis

     Perdarahan masif karena penyakit radang usus (Inflammatory Bowel Disease) jarang terjadi. Kolitis ulserativa menyebabkan diare berdarah dalam banyak kasus. Pada 50% pasien dengan kolitis ulserativa, terjadi perdarahan gastrointestinal bawah yang bersifat ringan sampai sedang, dan sekitar 4% pasien dengan kolitis ulserativa memiliki perdarahan masif (Vernava, Longo, & Virgo, 1996).

     Perdarahan gastrointestinal bagian bawah pada pasien dengan penyakit Crohn tidak sesering seperti pada pasien dengan kolitis ulserativa. 1-2% dari pasien dengan penyakit Crohn dapat mengalami pendarahan masif. Frekuensi perdarahan pada pasien dengan penyakit Crohn secara signifikan lebih sering melibatkan kolon daripada melibatkan usus halus saja. Pola cedera mukosa mirip dengan yang ditemukan pada pasien dengan kolitis infeksius dan iskemik, dengan mukosa yang tampak rapuh, eritematosa, edema, dan ulserasi. Pada penyakit Crohn yang berat, proses inflamasi dapat meluas ke lapisan serosa, yang menyebabkan perforasi kolon (Yamada, Alpers, Kalloo, Kaplowitz, Owyang, & Powell, 2011).

     Kolitis iskemik adalah penyakit pada populasi lansia dan umumnya terjadi setelah dekade keenam kehidupan. Kondisi ini adalah bentuk paling umum dari cedera iskemik pada sistem pencernaan. Keadaan iskemik tersebut sering ditemukan pada flexura lienalis dan rectosigmoid junction. Iskemia menyebabkan lapisan mukosa dan separuh ketebalan dinding kolon mengalami pengelupasan, edema, dan perdarahan. Dalam kebanyakan kasus, peristiwa pemicu tidak dapat diidentifikasi. Namun meskipun sakit perut dan diare berdarah adalah manifestasi klinis utama, kolitis iskemik tidak terkait dengan kehilangan darah yang signifikan maupun hematochezia (Yamada, Alpers, Kalloo, Kaplowitz, Owyang, & Powell, 2011).

     Mekanisme patogenesis kolitis infeksi mungkin terjadi akibat invasi jaringan kolon oleh bakteri, seperti Salmonella dan Shigella, atau kerusakan yang dimediasi oleh toksin seperti pada infeksi Escherichia coli 0157: H7 (Yamada, Alpers, Kalloo, Kaplowitz, Owyang, & Powell, 2011).

 

  • Karsinoma Kolon

     Adenokarsinoma kolorektal adalah kanker paling umum ketiga di Amerika Serikat. Penyebab perdarahan samar pada karsinoma kolorektal adalah akibat ulserasi mukosa atau erosi, tetapi kejadian perdarahan besar karena karsinoma kolorektal bervariasi dari 2% sampai 26% dalam kumpulan kejadian yang berbeda (Yamada, Alpers, Kalloo, Kaplowitz, Owyang, & Powell, 2011).

 

  • Penyakit Lain

     Penyakit anorektal jinak (misalnya, wasir, fisura anal, fistula anorektal) dapat menyebabkan perdarahan dubur intermiten. Perdarahan masif dubur akibat penyakit anorektal jinak juga telah dilaporkan. Sebuah tinjauan dari data Department of Veterans Affairs (VA) mengungkapkan bahwa 11% dari pasien dengan perdarahan saluran cerna bagian bawah memiliki perdarahan akibat penyakit anorektal (Vernava, Longo, & Virgo, 1996).

     Perdarahan postpolypectomy dilaporkan terjadi pada 2% -5% dari pasien hingga 1 bulan setelah reseksi polip kolonoskopik. Berbagai kondisi intestinal, seperti penyakit Crohn, sindrom Peutz-Jeghers, hemangioma, dan adenokarsinoma intertinal, dapat menyebabkan pendarahan intertinal, tetapi perdarahan ini biasanya hanya samar (Yamada, Alpers, Kalloo, Kaplowitz, Owyang, & Powell, 2011).

 

 

 

Sumber:

Vernava, A. M., Longo, W. E., & Virgo, K. S. (1996). A nationwide study of the incidence and etiology of lower gastrointestinal bleeding. Surg Res Commun , 18, 113-20.

Yamada, T., Alpers, D. H., Kalloo, A. N., Kaplowitz, N., Owyang, C., & Powell, D. W. (2011). Principles of Clinical Gastroenterology. New York: Wiley-Blackwell.

Read Full Post »