Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘rafael kalinowski’

Raffaele_Kalinowski

Pengantar

Santo Rafael Kalinowski adalah seorang biarawan dan imam Karmelit tak Berkasut. Ia dikanonisasi pada tanggal 17 November 1991 oleh Paus Yohanes Paulus II di Basilika St. Petrus, Vatikan. Santo Rafael Kalinowski dihormati karena kekudusannya selama ia hidup. Ia dikenal sebagai seorang yang setia memperjuangkan persatuan Gereja, ia juga dihormati sebagai seorang bapa pengakuan yang bijaksana dan penuh kasih.

Masa Kecil Hingga Remaja 

Rafael Kalinowski dilahirkan dalam sebuah keluarga bangsawan yang taat beribadah. Ia dilahirkan dengan nama Józef (Yosef) Kalinowski pada tanggal 1 September 1835 di Kota Vilna, Lithuania. Ayahnya bernama Andrzej (Andreas) Kalinowski sedangkan sang ibu bernama Józefa (Połońska) Kalinowski. Andrzej Kalinowski adalah seorang guru matematika di sebuah sekolah untuk bangsawan. Józef kecil tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang harmonis. Orang tuanya sangat mengasihi dia dan sejak kecil ia telah dididik dalam iman Katolik yang kuat. Semasa kecil Józef belajar di rumah sampai usia sembilan tahun. Setelah itu orang tuanya memasukkan dia di sebuah sekolah untuk bangsawan tempat ayahnya mengajar.

Józef yang memiliki otak cerdas itu lulus pada tahun 1850 dengan nilai yang sempurna. Oleh karena ia tumbuh dalam keluarga Katolik yang taat dan saleh, pada masa kecilnya Józef sudah mulai merasakan adanya panggilan khusus dalam dirinya. Ia merasa terpanggil untuk mengabdikan hidupnya sebagai seorang imam dan melayani Tuhan dan sesama. Niat dan pikiran itu kemudian disampaikannya kepada orang tuanya. Mendengar hal itu, sang ayah kemudian memberikan nasihat supaya ia belajar terlebih dahulu dan melanjutkan kuliahnya. Józef yang taat dan hormat kepada orang tuanya mengikuti nasihat sang ayah.

Masa Kuliah dan Penugasan

Pada masa itu untuk mencari universitas adalah hal yang tidak mudah bagi seorang Polandia. Ketika Rusia merebut Polandia dan Lithuania tahun 1795, pemerintahan Rusia menutup semua universitas Polandia dan satu-satunya universitas yang ada adalah universitas Rusia. Akhirnya pada tahun 1851 Józef kemudian memilih Institut Agronomi di Hory-Horki. Di sana ia belajar tentang ilmu kimia, pertanian dan perkembangbiakan lebah. Setelah beberapa waktu belajar di sana, Józef merasa bahwa ilmu tersebut bukan merupakan bidangnya karena ternyata ia mempunyai talenta yang sama seperti sang ayah. Menyadari hal itu, akhirnya pada tahun 1853 Józef pun segera beralih ke Akademi Teknik Militer Rusia Nicholayev di St. Petersburg. Ia masuk ke akademi itu bersama dengan seorang sepupunya, Lucian Polonski.

Tahun 1856 Józef lulus dengan jabatan letnan. Tahun 1857 dia juga ditunjuk sebagai asisten dosen matematika di akademi tersebut. Setahun kemudian ia dikirim untuk mengawasi pembangunan jalan kereta api antara Kursk, Kiev dan Odessa. Proyek pembangunan jalan kereta api ini terhenti dan tertunda pada tahun 1860. Letnan Józef kemudian ditugaskan kembali ke benteng di Brest Litovsk. Karena pekerjaannya yang baik dan pribadinya yang dewasa, pada tahun 1862 Józef dipromosikan sebagai kapten dalam kepemimpinan staf umum.

Selama tiga tahun Józef bertugas di benteng dan ia merasakan saat-saat yang menggelisahkan, ia merasa ada sesuatu yang kurang. Akhirnya, ia kemudian memulai mengajar sekolah minggu Katolik. Hal itu menyenangkan hatinya dan karena kepeduliannya yang amat tinggi kepada sesama, lebih-lebih yang menderita dan miskin maka Józef pun mulai mengurangi dan membatasi pengeluaran biaya untuk kepentingannya sendiri, sehingga ia bisa membantu kaum miskin di daerah itu. 

Masa Revolusi dan Pemberontakan

Tahun 1863, rakyat Polandia mulai bangkit untuk melawan penindasan Rusia. Saat itu Józef berada di posisi yang sulit. Dia tahu dan sadar bahwa pemberontakan dan revolusi itu akan mendatangkan banyak kerusakan dan kerugian di berbagai tempat, namun di lain pihak ia juga menyetujui tujuan dari revolusi itu untuk membebaskan rakyat Polandiaadari penindasan Rusia. Józef berpikir jika ia ikut dalam gerakan revolusi itu, mungkin ia dapat membantu untuk membatasi dan mengurangi kerusakan yang akan terjadi. Karena pertimbangan itu maka ia pun memutuskan untuk keluar dari kesatuan militer Rusia dan bergabung dengan para pemberontak Polandia. 

Józef pun meninggalkan Brest dan pergi menuju ke Warsawa. Di sana Józef diminta oleh dewan nasional untuk memimpin gerakan revolusi dan menjadi duta perang melawan Rusia untuk regio Vilna. Józef yang sangat mencintai tanah airnya sehingga menerima tugas tersebut walaupun dia sadar bahwa pemberontakan ini akan menimbulkan banyak kerugian. Dalam tugasnya kemudian Józef mengatakan bahwa ia tidak akan pernah menjatuhkan hukuman mati bagi siapapun.

Dengan keikutsertaannya dalam gerakan revolusi itu maka Józef kemudian pergi ke Vilna dan membangun markas besar di rumahnya sendiri yang tidak diketahui oleh orang lain. Di sana Józef berusaha untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Setiap hari ia pergi ke gereja, juga berdoa melalui perantaraan Bunda Maria. Ia memohon rahmat dan kekuatan dalam menjalani tugasnya sebagai duta perang.

Masa revolusi itu pun berjalan dan seperti yang telah diperkirakannya, satu persatu para pemimpin revolusi ditahan oleh orang-orang Rusia, diadili dan digantung di tengah-tengah kota. Mereka yang tertangkap dimasukkan ke dalam penjara yang dulunya adalah sebuah biara Dominikan. Józef dengan gigihnya berusaha menyelamatkan mereka. Melihat keberaniannya orang-orang Rusia pun mulai mengawasi gerak-gerik Józef. Akhirnya pada bulan Maret 1864, mereka pun menangkap Józef dan memenjarakannya.

Selama dalam penjara itu Józef menulis dalam riwayat hidupnya :

“Saya bangun setiap pagi pukul lima dan hal pertama yang terpikir olehku adalah doa kemudian meditasi. Ketika saya membaca buku meditasi, saya mendapatkan banyak penghiburan. Setiap hari saya dapat mendengarkan misa dari kejauhan. Jendela sel saya menghadap ke arah kebun yang merupakan sebuah alun-alun dan di seberangnya terletak Gereja Roh Kudus tempat misa diadakan setiap pagi. Saya kemudian membuka jendela sedikit dan saya pun dapat mengikuti seluruh perayaan Ekaristi kudus itu.”

 

Selang tiga bulan berikutnya pemerintahan Murawiew menjatuhkan hukuman mati untuk pejuang yang berani itu, namun karena Józef sangat dikenal dan mungkin akan mendapat sebutan sebagai martir jika dihukum mati maka kemudian mereka mengubah hukumannya menjadi hukuman 10 tahun kerja paksa di Siberia Timur.

 

Masa Hukuman dan Pembuangan

Pada tanggal 29 Juni 1864 Józef pun dikirim ke tempat pembuangan dan hukuman di Siberia. Ia pergi dengan berjalan kaki dan sampai di pertambangan Usolje-Sibirskoje tanggal 15 April 1864. Ia tinggal di sana sampai tahun 1868 dan pada tahun yang sama ia mendapat keringanan hukuman untuk meninggalkan daerah pembuangan. Ia kemudian dikirim ke Irkutsk dekat danau Bajkal di daerah perbatasan Mongolia. Di sinilah ia kemudian mengalami perubahan yang sangat besar dalam imannya. Józef mulai melakukan karya-karya kerasulannya, walaupun ia mendapat banyak sekali penindasan yang membuatnya menderita, baik fisik maupun batin, namun hal itu justru semakin membawanya untuk berserah pada Tuhan. Hubungan Józef dengan Tuhan pun semakin diperbaharui, semua penderitaan itu membuatnya semakin merasakan persatuan yang indah dengan Tuhan. Józef yang senantiasa mewarnai hidupnya dengan doa terus-menerus membawa dampak yang baik bagi sesama tawanan di sana. Mereka begitu senang dengan kehadiran Józef di antara mereka dan seringkali dalam doanya, mereka berseru, “Dengan perantaraan doa-doa Józef Kalinowski, bebaskanlah kami ya Tuhan.”

Tahun-tahunnya di Siberia dan di pembuangan adalah masa-masa penuh rahmat bagi Józef. Ia menunjukkan diri sebagai seorang pelayan Tuhan yang baik bagi sesamanya. Józef senantiasa menyediakan waktu untuk memberikan penghiburan bagi para tawanan dan orang-orang buangan di sana, ia menjadi seorang pembimbing rohani yang bijaksana, memberikan kekuatan melalui doa-doanya. Józef yang amat mengasihi Bunda Maria juga tidak pernah meninggalkan devosinya kepada Sang Perawan Tersuci ini. Ia percaya Bunda Maria senantiasa mendengarkan seruan anaknya dan menolong mereka.

Di tempat pembuangan ini juga Józef berteman baik dengan seorang imam Kapusin yang bernama Pastor Wacław (Wenceslaus) Novakowski, OFM Cap. Bersama dengan imam ini Józef kemudian mempersiapkan anak-anak para tawanan yang beragama Katolik untuk menerima komuni pertama. Józef dengan sabar dan penuh kasih mengajar mereka. Sementara itu Józef menyadari panggilan Tuhan yang pernah dirasakannya semasa kecil saat itu semakin tumbuh subur dan kuat. Panggilan Tuhan itu dirasakannya begitu indah dan kemudian ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah biara untuk menjadi seorang imam. 

Masa Pembebasan, Menjadi Seorang Guru 

Selama masa 10 tahun penderitaan itu Józef tidak pernah sekalipun meninggalkan meditasi dan doanya. Pada bulan April 1874 Józef dibebaskan. Pada hari pembebasannya itu, ia pertama-tama pulang ke rumahnya di Vilna, kemudian pergi ke Warsawa dan tinggal di sana dekat dengan Gabriel, saudaranya. Dari jendela rumahnya Józef dapat melihat gereja dan biara para frater Karmelit tak berkasut.

Saat itu seorang temannya semasa di pembuangan, Allesandro Oskierko menawarkan kepada Józef pekerjaan sebagai guru dan pembimbing bagi Pangeran muda Augustus Czartoryski. Józef menerima tawaran itu dan kemudian selama 3 tahun ia pun menjadi guru dan pembimbing. Pada tanggal 23 Oktober 1874 Józef bersama dengan Gucio (nama kecil dari Pangeran August) pergi ke Paris dan tinggal di sana. Selama tahun-tahun itu Józef membimbing Gucio. Ia melihat bahwa Gucio adalah seorang pemuda yang pandai namun sayangnya tubuhnya sangat lemah karena sakit. Selama itu Józef memainkan peran sebagai ayah, ibu, kakak, teman, dan perawat bagi Gucio. Dia melakukan semua itu dengan penuh perhatian dan kasih kepada pemuda itu. Józef menemani Gucio selama perjalanannya di Prancis, Polandia dan Italia, membimbing dia dengan kata-kata dan teladan hidup sebagai seorang Katolik.

Selama di Paris, Józef ikut serta dalam kegiatan sosial, bekerja bagi para pengungsi Polandia. Józef kemudian bertemu dengan seorang imam Karmelit tak berkasut, Pastor Augustine Mary dari Sakramen Mahakudus. Józef sangat mengagumi bakat musik imam ini dan terutama kehidupan rohaninya yang mendalam.

 

Menjadi Seorang Karmelit dan Imam

Sementara itu keinginannya untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengabdikan hidupnya bagi Tuhan semakin kuat. Panggilan menjadi seorang religius semakin matang dan akhirnya pada musim panas tahun 1876 ketika ia berada di Davos, Swis bersama Gucio, Józef membuat keputusan yang mengubah seluruh kehidupannya. Józef memutuskan untuk menjadi seorang Karmelit tak Berkasut. Ia didukung dan didoakan oleh Witoldowa Grocholska Czartoryska, bibi dari Gucio dan juga seorang biarawati Karmel yang bernama Sr. Mary Xavier dari Yesus. Dengan segala dukungan itu Józef semakin mantap akan pilihan hidupnya.

Pada bulan Juli 1877 Józef akhirnya meninggalkan kehidupan duniawi dan tepat tanggal 14 Juli ia masuk ke sebuah biara Karmel tak Berkasut di Linz, Austria. Tidak diingkarinya bahwa ada rasa sedih juga ketika harus berpisah dengan Gucio yang telah dibimbingnya beberapa tahun itu. Di kemudian hari Gucio bertemu dengan St. Don Bosco dan akhirnya menjadi seorang Salesian pada tahun 1887 dan meninggal dunia tahun 1893.

Tanggal 15 Juli 1877 Józef pergi ke Graz dan memulai masa novisiatnya di sana. Saat itu Józef berusia 42 tahun dan pada tanggal 26 November 1877 ia mendapat nama biara yaitu Fr. Rafael dari St. Józef Kalinowski. Dia mengucapkan kaul pertamanya setahun kemudian, setelah itu ia dikirim ke Hungaria untuk belajar filsafat dan teologi. Bulan November 1881 Józef mengucapkan kaul kekalnya dan kemudian ia dipindahkan ke Polandia ke sebuah biara tua di daerah Czerna. Di sana ia menyelesaikan studi teologinya dan akhirnya menerima tahbisan imamat pada tanggal 15 Januari 1882 oleh Uskup Krakow Albin Dunajewski.

Setelah pentahbisannya sebagai seorang imam, Pastor Rafael ditunjuk untuk menjadi pembimbing novis dan kemudian tahun 1883 ia menjadi pimpinan biara di Czerna. Selain itu Pastor Rafael juga menjadi anggota dewan provinsi dan pimpinan bagi para suster Karmel tak Berkasut dari biara di Krakow Wesola. Pastor Rafael juga dengan penuh kesabaran selalu menerima mereka yang datang untuk mengaku dosa. Ia sangat menaruh perhatian pada Sakramen pengakuan dosa. Karena perhatiannya ini maka di kemudian hari ia mendapat sebutan sebagai “martir pengakuan dosa”, seorang Bapak Pengakuan yang penuh perhatian dan bijaksana.

Pastor Rafael yang begitu bersemangat dalam pengabdian dan pelayanannya itu kemudian juga mendirikan biara-biara Karmel untuk pada suster. Atas segala usahanya akhirnya pada tahun 1884 sebuah biara Karmel Teresian berdiri di Przemysl dan pada tahun 1888 di Leopoli (Ukraina). Kemudian tahun 1990 Pastor Rafael menjadi Vikaris Provinsial dari semua biara-biara itu. 

Di kemudian hari ketika biara para frater Karmel tak Berkasut yang tadinya eksis di Berdyczow, Rusia dan Lublin hampir mati, Pastor Rafael mendirikan sebuah biara baru di Wadowice tahun 1892. Dia juga membangun sebuah gereja, pusat spiritualitas dan juga menjadi sebuah seminari yang membantu mengembangkan panggilan bagi para pemuda. 

Tahun-tahun Terakhir

Pastor Rafael dengan penuh semangat dan cinta terus memberikan dirinya dalam pelayanan bagi Tuhan dan sesama. Dia yang memancarkan kasih Tuhan itu sangat dikenal dan dikasihi oleh semua orang. Dia menyediakan waktunya untuk membimbing para pemuda dalam seminari yang dibangunnya. Dia juga tidak hentinya berdoa bagi persatuan seluruh Gereja di dunia. Pada tahun 1904 atas perintah dari superiornya, Pastor Rafael mulai menulis riwayat hidupnya. 

Pada tanggal 15 November 1907 di Wadowice Pastor Rafael meninggal dunia karena penyakit tuberkulosis. Ia meninggal dalam keadaan damai dan tenang. Berita tentang kematiannya itu dengan cepat tersebar di mana-mana dan ribuan orang datang untuk menghormati pria yang telah diramalkan akan menjadi seorang Santo. Jenazah Pastor Rafael kemudian dipindahkan ke makam biara di Czerna, Krakow.

Pada tahun 1983 oleh Paus Yohanes Paulus II ia dibeatifikasi dan pada tahun 1991 ia dikanonisasi menjadi seorang kudus, Santo Rafael Kalinowski. Pestanya diperingati setiap tanggal 19 November.

 

Teladan-teladan Hidupnya

Kehidupan rohani Santo Rafael telah dimulai sejak dini dan secara terus-menerus semakin berkembang dan berbuah. Sejak ia menyadari panggilannya dalam Karmel, ia adalah seorang Karmelit tak Berkasut yang senantiasa bersatu dengan Tuhan. Ia adalah seorang insan Allah dan selalu hidup dalam persatuan yang mesra dengan Allah. Dia adalah seorang pendoa yang tidak pernah berhenti mengingatkan para karmel yang lain bahwa kewajiban utama seorang Karmel adalah untuk melibatkan Tuhan dalam segala sesuatu. Artinya bahwa dalam segala hal, segala pekerjaan dan aktivitas, semua harus diawali dengan doa dan untuk seterusnya membawa Tuhan di dalamnya. Untuk itu maka Santo Rafael ingin memperbaharui kehidupan para suster Karmelit Teresian di Polandia. Ia ingin menekankan dasar-dasar pokok dalam kehidupan seorang Karmelit yaitu doa, kesederhanaan dalam materi dan ‘silentium’.

Selain itu ia juga menekankan hal penting lainnya yaitu: devosi dan kecintaan kepada Bunda Maria. Dia selalu mengingat Bunda Maria dalam tiap-tiap doanya, ia merasa bahwa Bunda Maria selalu mendengarkan dia dan menjadi perantara kepada Sang Putera Ilahi. Santo Rafael mengatakan kepada para suster dan fraternya bahwa menghormati Sang Perawan Suci adalah salah satu yang utama juga. Kita mengasihi dia dan meneladan keutamaan-keutamaannya yaitu: kesuciannya terutama kerendahan hati dan kesetiaannya dalam doa, serta iman dan penyerahan dirinya kepada Tuhan. Sebagai pengungkapan rasa cintanya kepada Bunda Maria, ia kemudian menulis 2 buku kecil tentang Maria yaitu “Maria zawsze i we wszyztkim” (Maria, selalu dan dalam segalanya; Krakow 1901) dan “Czesc Matki Boskiej w Karmelu Polskim” (Penghormatan kepada Bunda Allah dalam Karmel Polandia; Leopoli-Warsawa 1905).

Santo Rafael adalah orang yang bijaksana. Ia dikenal sebagai seorang pembimbing rohani yang ulung. Banyak orang dari berbagai tempat datang untuk meminta nasihat dan bimbingannya. Mereka datang karena mendengar tentang kekudusan pastor yang satu ini. Santo Rafael senantiasa mengambil kata-kata dari St. Paulus dalam Gal. 5:22 “…kasih, sukacita, damai…”. Dalam bimbingannya Santo Rafael selalu menunjukkan kasih dan perhatiannya yang besar, kata-kata yang diucapkannya memberikan ketenangan dan kedamaian bagi setiap orang yang datang, bahkan mereka yang bukan beragama Katolik pun dapat merasakan kesucian dari orang kudus ini. Dalam hal ini ia selalu mengingatkan para fraternya bahwa misi mereka adalah berdoa dan bekerja untuk persatuan Gereja dan bagi perubahan Rusia.

Sebagai seorang pembimbing rohani yang ulung, Santo Rafael juga dikenal sebagai Bapak Pengakuan yang baik. Ia dengan sukacita selalu menunggu setiap orang yang ingin mengaku dosa. Ia merasa bahwa Sakramen ini adalah salah satu yang terpenting karena dengan Sakramen Pengakuan Dosa maka hubungan kita dengan Tuhan yang rusak akibat dosa dipulihkan kembali. Ia adalah seorang “martir pengakuan dosa.”

Santo Rafael menjadi salah satu dari sekian banyak para kudus yang telah mewarnai kehidupan Gereja Katolik. Dengan kekudusannya itu ia menjadi perantara bagi banyak orang kepada Allah. Sejak kematiannya banyak kesaksian yang mengatakan bahwa doa yang dipanjatkan melalui perantaraannya seringkali terkabul. Kesucian dan kekudusan Santo Rafael telah dimulainya sejak ia masih hidup dan semakin nyata terlihat ketika ia telah meninggalkan dunia ini. Biarlah dengan bantuan doanya kita pun mau berusaha untuk mencapai kekudusan sejak dalam hidup di dunia ini.

 

“Santo Rafael Kalinowski, doakanlah kami…”

Oleh: Sr. Maria Rafaella P.Karm

Disadur dari:

http://www.carmelia.net/

Advertisements

Read Full Post »