Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘renungan katolik’

Hari Minggu Biasa ke XXVI

Bacaan Injil

Markus (9:38-43.45.47-48)

9:38 Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” 9:39 Tetapi kata Yesus: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. 9:40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

9:41. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.” 9:42 “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.
9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; 9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; 9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, 9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.

Renungan

Yohanes merasa bahwa hak untuk mengusir setan hanya milik para pengikut Yesus. Hal ini terlihat dari perbuatannya mencegah orang-orang yang tidak mengikut Yesus saat mereka hendak mengusir setan. Ketika ia menceritakannya pada Yesus, ternyata sang guru tidak melarang orang-orang itu. Yesus malah mengatakan bahwa barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

Sekarang marilah kita menilik lebih lanjut maksud perkataan Yesus itu.

Kita orang-orang Indonesia tentu mengenal Gus Dur. Beliau adalah sosok yang benar-benar mengedepankan hidup rukun antar agama. Kita dapat belajar dari beliau betapa amat baiknya bila kita dapat hidup saling toleran satu sama lain. Sejak dahulu hingga sekarang, segala hal ingin dimonopoli oleh manusia. Bahkan dalam hal spiritual. Bukankah banyak pemuka agama yang masih merasa diri paling benar? Bagi mereka, siapa saja yang bukan pengikut pastilah masuk neraka.

Tak jarang dalam kehidupan kristiani, kita menemukan orang-orang semacam itu. Mereka yakin bahwa kebaikan hanya ada dalam Gereja. Itu adalah suatu ungkapan hati yang sangat picik. Marilah kita membuka mata dan hati kita terhadap orang-orang lain. Bukankah masih banyak kebaikan di luar Gereja? Yesus sendiri mengatakan bahwa jika seseorang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.

Di antara kita masih banyak orang yang terperangkap dalam pemikiran seperti Yohanes. Kita terjebak dalam primordialisme yang mengutamakan diri dan golongan kita sendiri. Yesus mengajarkan pada kita yang sebaliknya. Ia meneladankan suatu penghargaan bagi orang-orang lain yang berada di luar kemah kita.

Marilah kita berani menghormati dan menghargai dalam keberagaman.

Read Full Post »

Bacaan Injil

9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;

9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.”

9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?”

9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:

9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Renungan

Dalam bacaan Injil, kita telah mendengar tentang para murid yang mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka. Secara sadar maupun tidak, kita pun demikian. Sejak dahulu hingga sekarang, manusia tidak henti-hentinya memikirkan untuk menjadi orang yang besar, dipandang, dihormati, dan disegani. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi “lebih” daripada yang lain. Lebih kaya, lebih pandai, lebih hebat, lebih rupawan. Hidup kita adalah untuk mencapai setiap ambisi kita.

Beberapa orang berpikir bahwa betapa malunya kita bila harus berbagi cerita dengan orang-orang lain mengenai “status-status” kita itu. Sebagai contoh, marilah kita memperhatikan para orang tua. Mereka yang merasa hebat akan berkata: anak saya ini lho, dapat peringkat satu. Anakku ini, anakku itu. Lalu dia akan bertanya: bagaimana dengan anakmu?

Tentulah orang tua yang ditanyainya itu tidak mau kalah. Kalau perlu, mereka harus lebih sombong lagi. Biarlah supaya telinga mereka sama-sama panas.

Kita sering iri hati pada orang yang lebih daripada kita. Tak jarang juga kita berpikir: mengapa orang jahat seperti dia malah sukses? Mengapa hidupnya mujur-mujur saja? Tapi orang baik seperti saya, hidupnya hancur lebur.

Yesus ingin mengajarkan pada kita untuk menjadi seorang pelayan. Barangsiapa yang terbesar di antara kita, hendaklah menjadi pelayanan. Dia ingin agar kita menjadi anak-anakNya yang rendah hati. Sebab jika kita tidak rendah hati, nafsu dan ambisilah yang akan mengendalikan hidup kita. Kita menjadi tidak peduli pada kebutuhan dan hak-hak orang di sekitar kita. Kita tidak akan lagi peduli pada setiap hati yang menderita dan membutuhkan pertolongan kita. Mata kita menjadi buta. Nurani kita menjadi tumpul.

Ibarat orang yang berlari cepat, mereka tak melihat lagi pemandangan-pemandangan indah yang dilalui. Hidup ini bukanlah sebuah perlombaan. Bukan juga suatu arena pertandingan untuk menghabisi orang-orang lain. Dalam hidup ini, kita harus belajar menjadi rendah hati. Biarlah kita peka terhadap setiap kebutuhan sesama kita. Biarlah kita mampu melayani.

Bukanlah sebuah doa, bila hanya untuk memuaskan nafsu dan keinginan kita. Bukanlah sebuah doa, bila hanya untuk kesombongan kita. Jangan memaksakan kehendak kita pada Tuhan, melainkan biarlah rahmatNya yang bersinar dalam hati kita. Bukankah bagi orang benar, Tuhan bercahaya laksana lampu di dalam gulita?

Bolehlah kita berani berkata dengan penuh iman seperti Maria: Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.

Read Full Post »

 

Hari Minggu Biasa XI

Bacaan Injil: Mrk 4:26-34

4:26 Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,

4:27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.
4:28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.

4:29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

4:30 Kata-Nya lagi: “Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?

4:31 Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi.

4:32 Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

4:33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka,

4:34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

 

Renungan

Dalam kehidupan sekarang ini, banyak sekali kita jumpai orang yang menginginkan sukses secara instan. Yang penting mereka segera sukses, tenar, dan terkenal. Namun ketika seseorang sukses, ada kalanya mereka lupa akan Tuhan. Mereka akan berkata: Saya hebat.

Sebenarnya, ingin menjadi sukses itu bukanlah hal yang salah. Hanya saja, sangat sedikit orang yang menyadari bahwa semuanya itu membutuhkan proses. Orang-orang cenderung tidak sabar. Mereka ingin segalanya serba cepat. Lihatlah, memang menjadi sukses dalam ketenaran itu mudah. Kita tinggal membuat video, tentang hal-hal yang sesungguhnya tidak penting, lalu masukkan saja dalam Youtube. Mudah saja, bukan? 

Yang ingin diajarkan Yesus pada kita adalah sebuah proses iman. Iman itu mulanya hanya kecil seperti biji sesawi. Akan tetapi, bila bertumbuh akan menjadi begitu besar dan menjadi berkat bagi sesama manusia.

Hendaklah kita memulai segala sesuatunya dari hal-hal yang sederhana. Perbuatlah hal-hal sederhana yang menyentuh hati.

Bila dikaitkan dengan pendidikan keluarga, maka sudah pasti bahwa orang tua memiliki pengaruh yang utama dalam perkembangan anak. Seorang anak butuh dikasihi. Ia butuh dilindungi dan merasa disayangi. Janganlah ada kekerasan yang sampai menyakiti hati atau membuat anak ketakutan.

Pernah suatu hari ada seorang anak yang sangat membenci ayahnya. Setiap sang ayah kesal pada istrinya, dia selalu melampiaskannya pada anaknya. Begitu juga saat sang ayah merasa frustrasi atas pekerjaannya. Hari-hari di masa kecil anak itu penuh dengan pukulan dan kekerasan dari sang ayah. Bagaimana akibatnya? Dia tidak percaya pada Tuhan Sang Bapa.

Dia tidak percaya. Dia benci pada Tuhan. Dia selalu teringat akan figur ayahnya yang jahat. Baginya, tidak ada Bapa Yang Baik itu.

Berbicara tentang ketidakpercayaan akan Tuhan, kita tentu teringat akan Nietzsche; seorang filsuf Jerman. Ternyata, dahulu Nietzsche sangat beragama. Ayahnya adalah seorang pendeta. Dia mulai tidak percaya pada Tuhan sejak dirinya sakit-sakitan. Ia berpikir dalam hatinya bahwa Tuhan tidak memihak padanya. Bahkan bahwa sebenarnya Tuhan tidak ada.

Ketidakpercayaan Nietzsche itu barulah runtuh pada saat-saat terakhir hidupnya. Dia mengerti bahwa memang ada suatu kuasa di atas manusia. Kuasa Tuhan yang dirasakannya membuatnya sadar bahwa ia pun hanya makhluk ciptaan. Ia tidak bisa mempertahankan hidupnya. Dia tidak bisa menandingi dan mengungguli Tuhan.

Oleh karena itu, baiklah bila iman yang hanya sekecil biji sesawi itu tumbuh menjadi yang terbesar. Biarlah sang pohon mengeluarkan cabang-cabangnya, hingga burung-burung di angkasa dapat bersarang dalam naungannya.

 

Read Full Post »

Bacaan Injil

Markus 1:40-45

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”

1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.

1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:

1:44 “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Renungan

Orang-orang yang terkena penyakit kusta sangat dikucilkan oleh masyarakat pada saat itu. Mereka harus memakai pakaian cabik-cabik. Rambutnya terurai, wajahnya ditutupi. Mereka biasanya juga memakai gelang di kaki. Gelang tersebut akan berbunyi ketika berjalan sehingga orang-orang bisa segera menyingkir saat mereka akan lewat.  Jelas terlihat bahwa orang kusta ini dinajiskan. Memang para penderita kusta sendiri pun merasa dirinya najis. Mereka harus tinggal jauh dari pemukiman penduduk.

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat sering kita temui orang-orang yang menderita kusta secara rohani. Setiap orang bisa saja memiliki luka hati. Mungkin karena tersinggung, tersindir, atau mendengar kata-kata yang menyayat hati.

Kala kita dihadapkan pada sebuah luka hati, ada dua bentuk reaksi yang biasa kita lakukan.

Reaksi pertama: “Saya memang tidak layak. Saya tidak bisa diterima oleh mereka. Mereka tidak suka saya. Ah, lebih baik saya pergi dari dunia mereka. Saya ditolak. Tidak ada lagi harga diri saya. Lebih baik saya pergi membawa hati yang terluka ini. “

Reaksi pertama ini biasa dilakukan oleh orang-orang yang pemalu atau orang yang takut disakiti. Biasanya, mereka akan pelan-pelan menghindar dan menarik diri. Lama kelamaan, tanpa kita sadari, mereka akan menghilang. Entah kemana. Mereka tiba-tiba sudah tidak dapat kita temui lagi.

Reaksi kedua: “Enak saja dia merendahkan saya. Saya ini masih punya harga diri. Awas, lihat apa yang akan terjadi besok. Berani-beraninya dia memaki saya dengan kata-kata demikian itu. Dia pikir dia siapa?”

Reaksi kedua ini biasanya akan mendorong orang untuk balas dendam dan menjatuhkan orang-orang yang membuatnya tersakiti. Barangkali dia tidak merasa bersalah. Mungkin juga karena gengsi.

Bagaimana dengan diri kita?

Bagaimana juga dengan orang yang lain yang kita tahu sedang terluka hatinya?

Yesus ingin mengajarkan pada kita untuk merangkul orang-orang yang bersusah hati. Dia mau menyembuhkan orang-orang yang terluka hatinya. Kita sebagai anggota Gereja juga diutus untuk menjadi pelipur lara bagi orang-orang yang dirundung kesedihan. Kita diajak untuk berani memberi kelegaan dalam hati orang lain.

Orang-orang yang putus asa ingin didengarkan. Kita memang tidak selamanya bisa memecahkan masalah mereka. Tidak bisa selalu menolong mereka. Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan di saat kita dapat melaksanakannya. Hanya Tuhan sendirilah yang dapat menyembuhkan luka hati. Dan tentunya, jika kita bersedia untuk disentuh oleh rahmat-Nya yang mengagumkan.

Read Full Post »

Bacaan Injil

Matius 25 : 1 -13

 

“Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.

Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.

Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,

sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.

Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!

Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.

Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.

Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.

Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!

Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

 

Renungan:

Sabda Yesus kali ini banyak dikaitkan dengan akhir zaman. Hal ini adalah semacam “koreksi” atas hidup kita sehari-hari. Apakah kita sudah berjaga-jaga untuk menghadapinya?

Akhir zaman yang dimaksud di sini bukan semata-mata seperti kiamat yang kita lihat di film-film layar lebar. Namun, terutama adalah kematian kita sendiri; sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Tuhan telah memberi kebebasan kepada kita untuk menjadi apa pun yang kita inginkan di dunia ini. Kita dapat memilih menjadi orang baik. Kita dapat memilih menjadi orang yang jahat. Jika kita memilih untuk menjadi jahat, sudah sepantasnya kita berani menanggung risikonya.

Orang-orang yang tidak bertobat dan senang dengan kejahatan hanya akan menemui pintu surga yang tertutup.

Oleh karena itu, kita sudah seharusnya berjaga-jaga seperti gadis-gadis bijaksana. Janganlah menjadi seperti gadis-gadis bodoh. Gadis-gadis bodoh itu  tahu bahwa menunggu pengantin adalah sesuatu yang lama. Mereka tahu bahwa pelita mereka bisa saja padam. Akan tetapi, mereka tetap tidak mau membawa cadangan minyak dalam buli-buli.

Di sini kita dapat melihat bahwa gadis-gadis yang bodoh itu mengentengkan dan menggampangkan tanggung jawabnya.

Salah satu elemen dari kebijaksanaan itu adalah tanggung jawab atas kehidupan yang diberikan Tuhan. Dalam menghadapi kematian yang tidak kita ketahui hari maupun saatnya, kita tidak bisa ceroboh. Mulai dari saat ini, kita harus mengoreksi diri. Semoga dengan ketulusan untuk berbuat baik, kita takkan ditinggalkan oleh Allah di depan pintu; melainkan masuk dalam kebahagiaan kekal bersama dia.

Jika Tuhan datang pada kita hari ini, jawaban semacam apakah yang akan kita berikan padaNya?

Read Full Post »

Hari Minggu Biasa ke-31

Bacaan Injil

Matius 23 : 1 – 12 

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;

mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;

mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan:

Sebelum kita masuk ke dalam analisis Injil, saya hendak memberikan sebuah cerita pendahuluan.

Kita tentu mengetahui bahwa para dokter muda seringkali ditugaskan di daerah pedalaman. Dokter-dokter muda itu ada yang selalu saja mengenakan jas putih setiap kali bepergian ke sana kemari di daerah tersebut. Kira-kira mengapa? Ternyata beberapa di antaranya beralasan ingin dilihat sebagai dokter. Dalam hal ini, gengsi berperan. Padahal, dokter-dokter spesialis yang sudah senior di rumah-rumah sakit internasional jarang mengenakannya. Mereka hanya memakai jas di ruang praktik. Di luar itu, mereka tampak seperti orang biasa. Tidak menunjukkan atribut atau seberapa hebat mereka.

Di dalam bacaan di atas, kita melihat Yesus yang mengkritisi para ahli Taurat. Namun, inti pengajarannya kali itu bukan pada koreksi-koreksi tersebut.

Yang ingin ditekankan oleh Yesus adalah:

“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”

Siapa pun yang merasa diri besar haruslah lebih melayani daripada orang lain. Kalimat ini bukan sebuah pengandaian. Bukan berarti bahwa agar kita menjadi orang besar, maka harus melayani orang lain. Kalimat ini begitu lugas ditujukan untuk kita semua.

Untuk menyikapinya, pertama-tama kita harus merefleksikan perbuatan diri kita sendiri. Mungkin, selama ini kita selalu ingin dihormati; disanjung; dipuji-puji; dikenal banyak orang. Yesus tidak ingin kita mengejar kekuasaan diri. Dia tidak ingin kita menjadi orang yang merasa diri terlalu hebat dan berjasa bagi kehidupan orang lain. Yesus tidak mau kita mengejar status “idola”. Ia mau supaya kita menjadi orang-orang yang rendah hati.

Dari sana, Yesus mengajak kita menjadi orang yang biasa. Dengan menjadi orang yang sederhana, kita akan lebih leluasa dalam melayani orang lain. Sudah tidak ada lagi rasa tinggi hati yang membuat kita merendahkan orang lain. Hidup kita tidak terfokus pada keagungan kita sendiri. Semua perbuatan baik yang kita lakukan adalah bagi kemuliaan Allah, bukan kemuliaan kita.

Banyak para pemusik ternama dunia – Bach, Mozart, Beethoven, Chopin, Dvorak, dan lain sebagainya – adalah orang-orang yang diilhami oleh Tuhan. Mereka menggubah bukan untuk ketenaran diri mereka sendiri. Para komposer hebat itu mengerti bahwa segala karunia dan talenta mereka yang luar biasa  merupakan pemberian Tuhan. Dari situlah berasal kerendahan hati yang meliputi karya-karya abadi mereka.

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Read Full Post »

Hari Minggu Biasa Kedua Puluh Sembilan

Bacaan Injil:

Matius 22:15-21

Sekali peristiwa, orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada Yesus, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapatMu: Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Ia lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepadaKu mata uang untuk pajak itu.” 

Mereka membawa satu dinar kepada Yesus. Yesus pun bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Renungan:

Orang-orang Farisi tahu bahwa Yesus adalah orang yang jujur dan tidak mencari muka. Mereka jelas secara sengaja ingin menjebak Yesus. Di sini Dia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat. Jika Yesus mengatakan bahwa orang-orang harus membayar pajak kepada kaisar, ia akan dimusuhi oleh para nasionalis. Jika Yesus mengatakan bahwa orang-orang tidak perlu membayar pajak pada kaisar, ia akan berhadapan dengan para pendukung Romawi. Para nasionalis di sini beranggapan bahwa tanah mereka adalah pemberian Allah. Jadi, untuk apa membayar pada kaisar?

Di sini kita dapat melihat bahwa seringkali manusia ingin menjatuhkan sesamanya. Kita kadang rela mencari segala cara, asalkan orang lain dapat dicelakakan demi kepentingan kita.

Yesus ingin mengajarkan pada kita bahwa integritas batin adalah sesuatu yang sangat penting. Ketika menghadapi serangan  berupa jebakan pertanyaan dari orang-orang Farisi, Yesus dapat berpikir dengan cerdas. Dia tidak ingin menyakiti hati kedua pihak yang tengah berseteru. Dengan mengatakan “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”, dia dapat menangkis jebakan orang-orang Farisi. Hati para nasionalis dan para pendukung Romawi, keduanya tidak tersakiti. Tidak juga timbul huru hara.

Melalui teladan Yesus ini, kita diajak untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang bijaksana. Setiap kata-kata kita jangan sampai merugikan orang lain maupun diri kita sendiri. Bila kita dapat berpikir dengan bijaksana, maka jebakan-jebakan dari orang yang berniat jahat pada diri kita pun dapat terhindarkan.

Bersyukurlah pada Tuhan karena Dia mau mengajarkan tentang kebijaksanaan ini pada kita.

Read Full Post »

Bacaan Injil

Matius 22: 1 – 14

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:

“Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan nikah itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan nikah ini.

Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.

Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan nikah telah tesedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan nikah itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruang perjamuan nikah itu dengan tamu.

Ketika raja itu masuk untuk melihat tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau bisa masuk kemari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

 

Renungan:

Yang ingin dikatakan Yesus dalam hal ini bukan menyangkut kondisi sosial seseorang. Memang di situ tertulis bahwa yang tidak berpakaian pesta, tidak boleh mengikuti perjamuan nikah.

Sekarang mari kita cermati dahulu konteksnya:

Tuhan mengundang kita semua untuk masuk dalam kebahagiaan abadi bersama Dia. Mulanya kesempatan itu hanya diberikan pada Bangsa Yahudi. Namun, Bangsa Yahudi menolaknya. Mereka bahkan membunuh hamba-hamba Tuhan yang berkarya dengan rela dan sepenuh hati. Tentu saja Tuhan menjadi murka dan sungguh kecewa. Ia pun memilih untuk memberikan kesempatan itu pada kita semua. Segala suku bangsa, segala penjuru dunia.

Dengan diundangnya kita, maka tentu diri kita harus layak untuk menjadi undangan. Kita harus memakai pakaian pesta, seperti saat menghadiri perjamuan nikah. Kita pasti tidak ingin tampil memalukan di depan banyak orang, bukan? Terutama si penyelenggara pesta.

Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan “pakaian pesta” itu?

Pakaian pesta itu adalah iman dan perbuatan baik kita di dunia. Juga termasuk sikap untuk tekun berdoa dan rela menolong orang lain. Hal-hal inilah yang pantas untuk membuat kita masuk dalam Kerajaan Surga.

Orang yang tidak bersiap-siap dan berjaga-jaga dalam kebaikan; sama saja dengan orang yang beragama, tetapi tidak beriman. Mungkin kita memang menerima agama tertentu. Lalu, sejauh manakah kita sudah menerapkan kepercayaan kita pada Tuhan dalam kehidupan nyata?

Jika kita hanya beragama, maka kita bisa saja kalah dengan seorang ateis yang baik hati; moralis. Lalu, apakah gunanya mengaku sebagai orang yang beragama? Beriman, tidak sebatas percaya bahwa Tuhan itu ada.

Read Full Post »

Hari Minggu Biasa Kedua Puluh Tiga

Minggu Kitab Suci Nasional

4 September 2011

Yehezkiel 33 : 7-9

Roma 13 : 8-10

Bacaan Injil:

Matius 18: 15-20

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lain, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sungguh, apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul demi namaKu, Aku hadir di tengah-tengah mereka.”

 

Renungan:

Dalam kehidupan, kita seringkali menemui konflik. Entah dalam lingkup keluarga, teman sebaya, atau di lingkungan kerja. Kita tidak seharusnya membiarkan konflik itu merusak dan merongrong nurani kita. Konflik-konflik sekecil apa pun harus diselesaikan. Bila konflik tersebut dibiarkan begitu saja, yang tercipta hanyalah harmoni palsu. Mungkin kita kelihatan tunduk pada seseorang. Akan tetapi, kita tidak menghormatinya dengan segenap hati. Kita pun berpura-pura menerima orang lain dengan baik karena kita takut. Barangkali karena seseorang itu hanya mau menang sendiri. Kita menjadi malas untuk menegurnya. Meskipun merasa bahwa dia bertindak sewenang-wenang, tetapi kita tak pernah mengambil tindakan lantaran takut ditindas. 

Pada masa Yesus dahulu, konflik di antara para murid juga tidak terhindarkan. Yang diinginkan Yesus di sini adalah perubahan dalam diri kita untuk menjadi orang yang proaktif. Kita mau mengkritisi kesalahan orang lain dan diri sendiri. Kita diajak untuk bisa mengoreksi sifat-sifat kita yang menghambat terciptanya kehidupan harmonis dengan orang lain. Akan tetapi, ada sebuah syarat yang tak boleh terlupakan. Jangan pernah menggunakan kata-kata makian nan kasar untuk meluruskan sesuatu. Akan lebih baik lagi bila kita mampu memberikan saran atau masukan dengan lembut. Lakukan dengan kepala dingin dan bijaksana. Hal ini sepele. Namun, masalah sepele inilah yang sering memporak-porandakan hubungan interpersonal kita. Inilah yang dimaksudkan Yesus dengan menganggap orang-orang yang tidak mendengarkan nasihat itu sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Ordo Salib Suci menerapkannya dengan kegiatan Correctio Fraterna. Para biarawan berkumpul di sebuah tempat dan saling memberikan masukan. Tentu saja, tidak boleh ada senioritas di dalamnya. Tua, muda, besar, kecil, semuanya memiliki proporsi yang sama untuk mengemukakan aspirasi pribadi. Lalu apa sebenarnya Correctio Fraterna itu? Kedua kata tersebut berasal dari bahasa Latin. Correctio berarti mengoreksi; membenarkan sesuatu yang salah. Fraterna berarti saudara. Jadi, para biarawan itu sudah terbiasa untuk saling mengoreksi batin satu sama lain.

Apakah para biarawan yang hidupnya penuh kedamaian masih membutuhkan kegiatan semacam itu?

Siapa yang mengatakan bahwa hidup membiara itu penuh dengan kedamaian? Kehidupan membiara juga tidak terlepas dari konflik. Ada berbagai masalah yang harus mereka hadapi. Masalah mereka malah jauh lebih besar daripada kaum awam. Ada kalanya, seorang biarawan/biarawati yang lebih tua biasanya akan merasa lebih hebat, lebih senior. Mereka tak ayal meremehkan para biarawan/biarawati muda. Dari situlah muncul ketidaksukaan dan konflik. Dalam kisah-kisah klasik Orang Kudus juga sering ditemui peristiwa macam itu. Saya rasa, ini adalah kebiasaan yang manusiawi. Namun demikian, bukanlah sesuatu yang patut dicontoh.

Bagaimana cara kita menerapkan sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?

Mulailah dengan keluarga terlebih dahulu. Alangkah baiknya jika diadakan perkumpulan internal keluarga. Di sini, setiap anggota berhak untuk berbicara. Ayah boleh mengoreksi anak. Anak pun boleh mengoreksi ayah. Begitu juga dengan ibu dan anggota keluarga yang lain. Ingat, tuanya usia tidak menentukan sejauh mana kebijaksanaan kita telah berkembang. Menjadi tua dan berpengalaman belum tentu juga menjadi benar. Memang, dibutuhkan kerendahan hati dan kelemahlembutan untuk mengarunginya.

Penulis: Josephine Wijaya

Read Full Post »