Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Dokter Keluarga dan Kesehatan Komunitas’ Category

Kapan memulai pengobatan?

Semakin cepat anak yang terinfeksi memulai pengobatan HIV, semakin cepat ia bisa mendapatkan keuntungan dari pengobatan. Secara khusus, pengobatan HIV harus dimulai sebelum anak menjadi kurang sehat. Jika anak Anda menunjukkan tanda-tanda dari sistem kekebalan tubuh yang lemah (jika mereka sering tidak enak badan, misalnya), mereka harus memulai pengobatan HIV sesegera mungkin.

Pengobatan HIV

Pengobatan HIV sangat efektif pada anak dengan HIV, membuat HIV menjadi penyakit yang dapat dikelola dalam jangka panjang. Sama seperti orang lain yang hidup dengan HIV, bayi, anak-anak dan remaja dianjurkan untuk mengambil pengobatan HIV. Di Indonesia, standar pengobatan HIV untuk anak-anak ditetapkan dalam pedoman yang diterbitkan oleh Kemenkes. Pedoman terbaru diterbitkan pada tahun 2014.

Pengobatan menggunakan kombinasi obat anti-HIV yang berbeda. Kadang-kadang obat dapat digabungkan menjadi satu tablet atau sirup. Jika obat ini digunakan dengan benar, tingkat HIV dalam darah akan menurun ke tingkat yang sangat rendah. Hal ini sering disebut viral load (jumlah virus) tidak terdeteksi dan merupakan salah satu tujuan utama pengobatan HIV.

Pilihan obat yang digunakan untuk mengobati anak Anda akan tergantung pada sejumlah faktor, termasuk usia dan berat badan anak, dan apakah anak mempunyai penyakit lain. Dokter akan mempertimbangkan kombinasi obat yang paling mudah untuk digunakan anak Anda, untuk membantu tercapainya kepatuhan. Patuh berarti anak meminum obat dengan benar, pada waktu yang tepat, dan setiap hari.

Ada berbagai jenis atau kelas obat anti-HIV. Tiap jenis obat bekerja melawan HIV dengan cara berbeda. Untuk memastikan pengobatan HIV berhasil menekan virus, biasanya seseorang harus menggunakan kombinasi tiga obat anti-HIV dan tiga obat ini berasal dari dua kelas yang berbeda.

Infeksi HIV yang tidak diobati dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Memiliki viral load yang tidak terdeteksi bukan berarti seseorang telah sembuh dari HIV. Virus ini ‘ditidurkan’ oleh pengobatan HIV. Jika anak berhenti berobat, virus baru akan segera dibuat lagi. Namun jika anak teratur berobat, jumlah virus akan sangat sedikit dalam darah dan sistem kekebalan tubuh dapat kuat melawan infeksi. Ini berarti anak akan memiliki kesempatan untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Dosis

Dosis obat anti-HIV yang diberikan kepada anak-anak akan tergantung pada berat badan atau ukuran anak. Pengobatan akan dipantau secara berkala oleh klinik untuk memastikan anak Anda menerima dosis paling aman dan paling efektif dari pengobatan mereka. Ketika anak bertumbuh dan mengalami peningkatan berat badan, dosis obat akan berubah. Oleh karena itu, penting bagi anak untuk menghadiri semua janji temu dengan dokter sehingga mereka bisa menerima dosis pengobatan yang tepat.

Kepatuhan

Meminum obat dengan benar disebut kepatuhan. Anak Anda akan mendapatkan manfaat besar dari pengobatan HIV jika digunakan dengan tepat.
Yang dimaksud dengan kepatuhan adalah:

  • Menggunakan obat yang benar
  • Pada waktu yang tepat
  • Dengan cara yang tepat (perhatikan obat yang harus dikonsumsi bersama makanan atau dalam perut kosong, atau tidak ada ada aturan makan)

Lupa minum obat atau tidak mengikuti petunjuk resep dapat mengakibatkan kerja obat tidak efektif dan jumlah virus dapat meningkat. Hal ini dapat menyebabkan perkembangan HIV yang resisten terhadap obat.

Para pemberi layanan kesehatan dapat memberikan beberapa tips atau cara memberikan obat-obatan kepada anak dan bagaimana meningkatkan peluang anak untuk menggunakan pengobatan dengan cara yang benar.

Berikut adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengajak anak meminum obat:

  • Libatkan anak Anda. Misalnya, biarkan anak Anda memilih cangkir yang digunakan untuk mengambil minuman untuk minum obat. Atau membuat bagan dan biarkan anak Anda menempel dengan stiker warna warni untuk setiap dosis obat yang digunakan;
  • Jelaskan kepada anak bahwa obat ini dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mereka;
  • Bangun rutinitas. Jika anak Anda menggunakan obat mereka pada waktu yang sama setiap hari, mereka akan terbiasa untuk melakukannya. Jelaskan bahwa kebiasaan ini sama seperti rutinitas menyikat gigi dan sesuatu yang harus dilakukan setiap hari supaya tetap kuat dan sehat di masa depan;
  • Puji anak setiap kali meminum obat;
  • Ajar anak untuk menelan pil. Pil lebih mudah digunakan dibandingkan dengan sirup. Misalnya, menaruh pil di belakang lidah kemudian meminum air yang banyak supaya pil cepat tertelan;
  • Anak dapat latihan beberapa hari sebelum menggunakan obat anti-HIV. Latih mereka untuk menelan permen yang berukuran sangat kecil dapat menjadi cara yang bermanfaat;
  • Jika anak menggunakan sirup, gunakan sendok takar obat atau pipet obat untuk memastikan anak mendapat takaran obat yang benar;
  • Jika Anda juga menjalani pengobatan HIV, Anda dan anak Anda dapat meminum obat pada waktu yang sama.

Penting bahwa Anda dan anak Anda berkomitmen untuk menjalani pengobatan dan memiliki pandangan yang positif terhadap pengobatan. Usahakan untuk tidak menekankan pada sisi negatif penggunaan obat, tetapi konsentrasikan pada manfaat pengobatan. Jika Anda merasa kesulitan membicarakan hal ini dengan anak Anda, diskusikan perasaan Anda dengan dokter, konselor atau pendukung sebaya.

Disadur dari:

Yayasan Spiritia. 2016. Pahami dan Dukunglah Kami (Panduan untuk Pengasuh). Seri Buku Kecil.

Advertisements

Read Full Post »

 

Dalam mengasuh dan merawat ADHA selain dukungan medis dalam hal pemantauan aspek kesehatannya, dukungan moral dan kasih sayang pun sangatlah penting dan merupakan salah satu aspek yang utama.

Mendampingi dan Mendukung ADHA

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam mendampingi anak adalah:

  1. Menyatakan cinta kepada anak
  2. Mengenal kelebihan dan kekurangan anak
  3. Membangun rasa percaya diri anak
  4. Mendukung anak menjadi tangguh dalam menghadapi hidup
  5. Membangun kemampuan berpikir kritis
  6. Membantu anak menetapkan cita-cita

Bagaimana Cara Menyatakan Cinta bagi Anak?

  1. Gunakanlah bahasa cinta tiap kali akan berkomunikasi dengan anak
  2. Berikanlah pelukan kasih sayang sesering mungkin kepada anak
  3. Jadilah teman bermain bagi anak
  4. Siapkan makanan kesukaannya, jangan lupa untuk memperhatikan nutrisinya
  5. Saat anak berbuat salah atau gagal, berikanlah senyum penerimaan dan temani anak untuk mencoba dan memperbaikinya lagi
  6. Sesekali ajaklah anak dan anggota keluarga lain untuk berlibur bersama, seperti bermain ke pantai, ke kebun binatang, atau ke taman bermain.

5 Bahasa Cinta (Gary Chapman)

  • Sentuhan fisik (posisi duduk yang berdekatan, memeluk, mencium, menggandeng, memijat, mengelus kepala, mengajak tos)
  • Ucapkan kata-kata mendukung (mengatakan “aku sayang kamu”, bangga, pujian, menghibur, menulis surat cinta, menggunakan panggilan kesayangan)
  • Berikan hadiah spesial (saat ulang tahun, hadiah prestasi, hadiah kejutan)
  • Waktu bersama (menemani tidur, bekerja bersama, membacakan cerita/dongeng)
  • Pelayanan (mengantar ke sekolah, menemani mengerjakan PR, merawat ketika sakit)

Hak Dasar Seorang Anak yang Harus Mereka Peroleh?

Setiap anak di dunia ini mempunyai hak-hak dasar yang dilindungi dan harusnya terpenuhi. Pada prinsipnya hak-hak itu adalah :

  1. Anak tidak boleh didiskriminasi /dibedakan berdasarkan keadaannya, contohnya ‘’Ih, kamu kok nggak bisa diam kayak anak yang lain sih!’’
  2. Anak berhak mendapatkan yang terbaik, contohnya mendapatkan perhatian cukup, mendapatkan makanan yang bernutrisi.
  3. Anak memiliki hak untuk hidup, bertumbuh, dan berkembang, misalnya anak didukung untuk bermain bola jika anak memang punya hobi bermain bola
  4. Anak memiliki hak untuk dihargai, contohnya saat anak telah merapikan mainannya sendiri orang tua memberikan pujian “Wah kamu hebat!’”

 

Membangun Rasa Percaya Diri pada Anak

  • Bantu anak untuk menuliskan kelebihan dan kekurangan dirinya.
  • Jika anak berhasil melakukan kebaikan, berilah pujian tulus atas kemampuannya tersebut, seperti ucapan “Terima kasih ya, Sayang”
  • Memuji anak ketika ia berhasil melakukan sesuatu seperti:
    • Membawa gelas minuman untuk tamu
    • Naik dan turun tangga dengan baik
    • Membuat pekerjaan rumah dengan benar
    • Membereskan mainan sendiri
    • Berhasil tidak mengompol
    • Menaruh piring dan gelas bekas makan di tempat cuci piring, dan lain-lain
    • Ucapkan “Wah, kamu hebat ya sudah bisa melakukannya dengan baik.”
    • Membuat buku Prestasi Hidup
      • Isilah buku tersebut dengan keberhasilan dan hal-hal baik yang dilakukan anak setiap hari atau setiap minggu seperti makan sendiri tanpa dibantu, mandi sendiri tanpa dibantu, tidak mengompol, dan lain-lain
    • Mendukung anak menjadi tangguh dalam menghadapi kesulitan
    • Jadilah teladan ketabahan bagi anak
    • Ceritakan kisah hidup orang tabah, misalnya seorang yang lahir tanpa kemampuan mendengar (tuli) bisa menjadi dosen sebuah universitas ternama karena semangatnya
    • Biarkan anak mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri, misalnya saat anak lupa menaruh di mana mainannya biarkan ia menemukannya dengan caranya sendiri
    • Berikan anak tugas atau tanggung jawab di rumah, misalnya merapikan mainan sendiri, membereskan tempat tidur
    • Dukung anak untuk menyelesaikan masalahnya dengan mengatakan “Ayo, kamu pasti bisa!”

Mengenalkan Rasa Syukur pada Anak

Rasa syukur membuat anak tidak mudah mengeluh dalam menjalani hidupnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mengenalkan rasa syukur pada anak:

  • Jadilah teladan syukur bagi anak. Tunjukkan rasa syukur untuk hal-hal sederhana, misalnya syukur untuk napas yang masih Tuhan beri, syukur untuk persediaan air yang dimiliki, syukur untuk sepasang baju yang masih dimiliki dan masih banyak hal sederhana lainnya.
  • Biasakan budaya berterima kasih bersama anak. Selalu mengucapkan terima kasih setiap kali anak melakukan sesuatu hal yang baik, dan mintalah anak untuk mengucapkan terima kasih setiap kali anak menerima bantuan.
  • Buatlah daftar syukur dalam hidup bersama anak. Menyebutkan 5 hal yang bisa disyukuri pada hari itu sebelum istirahat tidur malam.

Membangun Kemandirian pada Anak

  • Biarkan anak bermain
    • Anak-anak belajar banyak hal ketika mereka bermain. Biarkan sesekali anak berlama-lama mandi hanya untuk mengamati gelembung air yang jatuh dari kran, atau menuangkan sabun dan shampo ke ember-ember air untuk melihat manakah yang menghasilkan gelembung paling besar. Bermain di luar ruangan dan bermain peran (kucing dan tikus, atau maling dan polisi) juga akan membantu anak untuk mencoba sesuatu yang berbeda
  • Terbukalah pada pertanyaan anak
    • Saat anak bertanya, “Darimana keluarnya adik bayi?” jawablah bahwa bayi keluar dari tubuh seorang perempuan dan pancinglah anak dengan pertanyaan pancingan baru “Kalau telur ayam darimana ya keluarnya?
  • Jangan hentikan pertanyaan anak
    • Anak mempunyai banyak pertanyaan di kepalanya. Anak akan sering menyampaikan banyak pertanyaan secara berturut-turut misalnya, ‘’Kenapa buang sampah sembarangan itu tidak boleh?’’ Sebelum pertanyaan dijawab anak akan mengajukan pertanyaan yang baru ‘’Tapi kenapa temanku kemarin buang bungkus permen di selokan?’’ ‘’Kenapa ibu temanku itu membiarkan?’’
  • Terimalah cara pandang anak yang berbeda
    • Dukung anak Anda untuk memandang segala persoalan dari cara pandang yang berbeda. Saat ia bercerita tentang seorang teman sekelas yang nakal dan dijauhi kawan-kawannya, Anda bisa mengatakan “Oh mungkin ia ingin main sama-sama, tapi nggak tahu gimana caranya supaya teman-teman mau main sama dia.”
  • Mencari sumber lain
    • Saat anak bertanya tentang arti suatu kata dalam bahasa daerah atau bahasa Inggris yang sering ditemuinya, katakan, “Coba kita tanya pada Kakak. Mungkin Kakak tahu jawabannya.” Atau jika Anda punya koneksi internet di rumah, Anda bisa bilang,”Hmmm … Apa ya? Coba Adek cari di Google Translate.”
  • Mengenalkan hubungan sebab akibat
    • Waktu anak bertanya tentang mengapa kita tidak boleh membuang sampah sembarangan, Anda dapat menjawabnya dengan, “Gimana rasanya kalo Adek uang bungkus permen di tempat tidur Adek, trus Adek tidur di situ. Enak nggak rasanya?”

 

Membantu Anak Menetapkan Cita-cita

  • Anak menyukai dan mencintai sesuatu sehingga menjadikannya sebagai cita-cita (mengenali minat anak)
  • Anak mahir melakukan sesuatu sehingga memilih hal tersebut sebagai cita-citanya (mengenali bakat anak)
  • Cita-cita tersebut dibutuhkan oleh lingkungan sekitarnya
  • Anak dibayar untuk melakukan cita-citanya (profesi anak di masa depan)

 

Berbicara dengan Anak Anda mengenai HIV

Memberikan informasi anak Anda tentang HIV akan menjadi sebuah proses. Apa yang Anda katakan akan tergantung pada usia anak, tingkat pemahaman, dan kesiapan mereka untuk mengetahui tentang HIV. Sangat penting untuk berpikir tentang bagaimana dan kapan Anda akan memberikan informasi anak Anda tentang baik mereka sendiri dan/atau infeksi HIV Anda. Sangat penting bahwa Anda menggunakan bahasa yang mudah untuk dimengerti oleh anak. Cobalah untuk jujur dan konsisten. Menyembunyikan kebenaran bisa membuat Anda mengalami masalah di kemudian hari.

Diskusikan dengan tim pemberi layanan kesehatan termasuk dokter, perawat dan psikolog jika Anda mengalami kesulitan untuk membicarakan mengenai HIV dengan anak Anda. Orang tua atau pengasuh lain dari anak dengan HIV juga dapat membantu Anda dengan berbagi pengalaman mereka dengan Anda. Anda perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi reaksi yang mungkin terjadi dan dukungan yang mungkin
Anda butuhkan.

 

Menyediakan Informasi Seiring dengan Perkembangan Anak

Kita semua ingin mendukung anak untuk tumbuh bahagia dan sehat sampai dewasa. Pengasuh dipercayakan untuk melakukan pekerjaan yang sangat penting dalam pengungkapan HIV ke anak. Proses ini dapat menjadi pengalaman
positif atau negatif dan dapat memastikan apakah anak dengan HIV hidup secara positif atau tidak. Anak memiliki hak untuk mengetahui status kesehatan sehingga mereka dapat memperoleh dan mengelola pengobatan, tetapi proses ini harus dilakukan secara memadai.

Ada banyak alasan mengapa lebih baik bagi anak untuk mengetahui bahwa dirinya HIV positif dibandingkan menyembunyikan mengenai HIV dengan anak:

  • Memungkinkan anak memainkan peran aktif dalam perawatannya
  • Meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatannya
  • Mendukung penyesuaian emosional dan kemampuan untuk mengatasinya
  • Menghargai anak
  • Menguatkan kepercayaan dan hubungan antara anak dan pengasuh
  • Membantu menghindari kekhawatiran dan kecemasan yang terpendam
  • Memungkinkan anak mencari dukungan kebutuhan yang mungkin akan dibutuhkan
  • Memungkinkan anak menyatakan kesedihan dan ketakutannya, dan mengajukan pertanyaan
  • Memungkinkan anak memiliki pengetahuan dan informasi tentang HIV yang benar dan pada akhirnya memiliki kepercayaan diri untuk mengatasi permasalahannya
  • Mengetahui yang sebenarnya akan memberdayakan anak dalam membuat pilihan hidup
  • Mengungkapkan yang sebenarnya bisa melegakan, dan mungkin tidak seburuk dengan kekhawatiran yang terpendam
  • Dapat membantu anak untuk menyikapi dampak buruk yang akan terjadi nanti
  • Dapat membantu anak menghindari kinerja sekolah yang buruk
  • Menghormati hak anak (anak memiliki hak untuk tahu)

Pada usia yang masih sangat muda, dimana anak tidak mengerti mengenai HIV, menjelaskan dengan menggunakan kata “HIV” akan menyebabkan kebingungan. Anda dapat membantu menjelaskan dengan kalimat:

  • Kita mengunjungi dokter hari ini karena adik memiliki penyakit yang terkadang membuat adik merasa tidak enak badan
  • Dokter dan perawat ingin bertemu dan melihat keadaan adik
  • Obat yang adik gunakan akan membantu adik untuk merasa lebih baik/tetap sehat
  • Setelah anak mulai menginjak usia remaja dan menjelang usia dewasa, Anda harus memberikan informasi lebih lanjut. Misalnya, Anda mungkin ingin mengatakan sesuatu seperti:
    • Alasan adik harus pergi ke klinik karena ada sesuatu dalam darah adik
    • Tes darah yang dilakukan akan melihat apa yang ada di dalam darah adik dan apa yang harus dilakukan untuk membuat adik tetap sehat
    • Obat yang digunakan akan membuat tubuh adik bekerja sebagaimana mestinya dan mencegah adik menjadi sakit
    • Obat-obatan adik bekerja sangat baik, menjaga virus dalam darah adik tidur sehingga adik tidak sakit
    • Saya juga minum obat saya juga, dan virus saya tertidur juga dan kita berdua sehat

Kebanyakan anak siap untuk memiliki percakapan terbuka mengenai HIV saat mereka berada di sekolah dasar. Umumnya, mereka harus tahu bahwa mereka memiliki HIV pada saat mereka pergi ke sekolah menengah. Informasi yang Anda berikan pada saat mereka memasuki sekolah menengah harus menyebutkan HIV sebagai “HIV”. Pikirkan tentang apa yang Anda butuhkan untuk memberitahu anak Anda. Mereka tidak perlu mengetahui banyak detail tentang HIV atau tahu semua tentang langsung penyakit. Memberikan informasi terlalu banyak hanya dapat mempersulit mereka dan membuat mereka bingung dan khawatir.

Berbicara dengan anak Anda mungkin sulit atau bahkan menyakitkan bagi Anda. Tapi hal tersebut dapat membantu anak Anda untuk merasa terlibat dan memberikan mereka rasa memiliki kontrol atas pengobatan dan perawatan mereka. Hal ini juga dapat membantu membangun rasa percaya diri dan membantu mengurangi rasa takut dan kecemasan. Cobalah untuk memberikan waktu yang rutin untuk bercakap-cakap dengan anak Anda, karena pertanyaan anak atau masalah anak-anak cenderung berubah dari waktu ke waktu.

Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditanyakan meliputi:

  • Bagaimana saya bisa mendapatkan infeksi ini?
  • Berapa lama saya akan hidup?
  • Apakah aku akan mati?
  • Apa yang akan terjadi padaku?
  • Apakah Anda juga memiliki HIV ?
  • Bagaimana kau bisa terinfeksi HIV?
  • Dapatkah saya dapat menularkan orang lain?
  • Dapatkah saya memberitahu teman-teman saya mengenai hal in?
  • Akankah HIV pernah pergi?

 

Anda mungkin dapat memikirkan banyak pertanyaan lain yang mungkin ditanyakan oleh anak Anda. Pertanyaan akan bervariasi tergantung pada berapa usia anak Anda dan berapa banyak mereka pahami, dan apakah ada anggota keluarga yang telah meninggal karena HIV. Beberapa pertanyaan ini mungkin aneh, sulit atau memalukan, tetapi jika Anda berpikir tentang pertanyaan ini, Anda bisa merasa lebih siap jika pertanyaan ini benar-benar ditanyakan. Kadang-kadang orang tua merasa sangat sulit untuk mulai berbicara secara terbuka tentang HIV kepada anak mereka. Tim di layanan kesehatan anak Anda dapat membantu Anda dengan melakukan hal ini untuk pertama kalinya, dan  mendukung Anda dan anak Anda sebagaimana pengetahuan anak Anda tentang HIV berkembang.

Banyak orang tua takut bahwa anak-anak mereka kemudian akan memberitahu orang lain bahwa mereka memiliki HIV. Pada kenyataannya, anak-anak jarang melakukan hal ini, ketika mereka didukung oleh keluarga dan para pemberi layanan kesehatan mereka untuk mengeksplorasi mengapa informasi tertentu bersifat pribadi dan siapa yang perlu tahu. Orang tua mungkin takut bahwa anak mereka akan marah bahwa mereka telah “diberikan” HIV. Reaksi ini jarang terjadi dan dalam jangka panjang, Anda dapat membantu anak Anda mengelola dampak emosional dari HIV melalui percakapan yang terbuka dan mendukung sehingga akan membantu mengurangi perasaan marah.

Sebagian besar anak-anak dan orang tua benar-benar menjadi lebih dekat, dan merasa lebih kuat terhubung ketika mencoba untuk saling mendukung satu sama lain. Anda mungkin tergoda untuk menunda memberitahu anak Anda tentang HIV. Anak biasanya mulai sangat paham tentang keadaan kesehatan mereka ketika memasuki sekolah menengah, namun percakapan terbuka harus dimulai sejak usia yang lebih muda. Ketika anak menjadi lebih dewasa mereka akan lebih merasa marah jika informasi penting mengenai tubuh dan kesehatan mereka tidak diinformasikan kepada mereka, dan hal ini tidak membantu hubungan dengan orang tua.

Jadi Perlu untuk Diingat

  • Banyak anak dengan HIV memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah dengan sangat baik, termasuk ketika mengetahui bahwa ia terinfeksi
  • Jelaskan secara perlahan-lahan. Berikan informasi secara singkat dan jelas
  • Dorong mereka untuk mengajukan pertanyaan. Jika Anda memberi mereka selebaran atau brosur untuk dibaca, berikan waktu untuk bertanya apa yang mereka pikirkan tentang informasi tersebut dan apakah mereka mengerti informasi yang mereka baca
  • Anak-anak harus mengetahui bahwa Anda selalu bersedia untuk mendukung mereka—ini akan membantu mereka merasa bahwa HIV adalah sesuatu yang dapat dibicarakan dengan Anda
  • Bicarakan dengan staf di klinik/RS anak Anda atau kelompok dukungan sebaya untuk mengetahui apakah ada seseorang yang dapat Anda hubungi jika mereka perlu untuk mengajukan pertanyaan atau jika mereka ingin berbicara dengan seseorang di luar keluarga

Kesimpulan

  • Jika Anda seorang perempuan yang hidup dengan HIV, sangat penting bahwa anak-anak Anda dites untuk HIV
  • Perjalanan infeksi HIV pada anak-anak berbeda dengan yang terlihat pada orang dewasa. Kesehatan anak Anda harus dipantau secara teratur
  • Pengobatan untuk HIV sangat efektif, dan anak-anak dengan HIV yang mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan dapat berharap untuk hidup yang panjang, sehat.
  • Menggunakan pengobatan secara patuh sangat penting dan klinik dapat menyarankan cara untuk membantu pengasuh dalam hal ini
  • Anak-anak dengan HIV perlu diberi informasi tentang penyakit mereka sesuai dengan usia dan perkembangan mereka
  • Keputusan untuk memberitahu orang lain bahwa anak Anda memiliki HIV adalah keputusan Anda tetapi lebih baik untuk berhati-hati tentang hal ini sebelum membuat keputusan ini. Demikian juga ketika anak Anda bertambah dewasa, mereka dapat memutuskan siapa yang tahu dan bagaimana mereka memberi tahu orang-orang, tetapi mereka mungkin membutuhkan dukungan Anda untuk merencanakan hal ini.
  • Ada banyak dukungan yang tersedia untuk membantu Anda dan anak Anda hidup dengan baik dengan HIV.

Disadur dari:

Yayasan Spiritia. 2016. Pahami dan Dukunglah Kami (Panduan untuk Pengasuh). Seri Buku Kecil.

 

Read Full Post »

BAGAIMANA PERANAN, TUGAS, DAN TANGGUNG JAWAB SAYA SEBAGAI KOASISTEN DI LINGKUNGAN KERJA DI RUMAH SAKIT

 

Dokter adalah suatu profesi yang amat mulia. Terkadang tidaklah berlebihan jika seorang dokter dianggap sebagai uluran tangan Tuhan yang menyembuhkan manusia dari sakit penyakit. Selain itu, dokter juga berkewajiban memelihara dan menjaga kesehatan setiap insan. Ilmu kedokteran pun senantiasa berkembang. Dahulu pasien datang ke dokter untuk sembuh. Di era sekarang, pasien ingin sembuh dan puas. Apabila kita dapat memahami kebutuhan pasien, tentunya pasien akan semakin antusias dan mudah menerima nasihat yang kita berikan dalam usaha pemeliharaan kesehatannya.

Kebutuhan pasien tersebut hanya dapat dipenuhi oleh seorang dokter yang baik. Untuk menjadi seorang dokter yang baik, ada beberapa unsur yang harus dimiliki oleh kita sebagai tenaga medis. Seorang dokter mesti memiliki kepribadian, ilmu, dan keterampilan yang baik. Kepribadian yang baik tercermin dari perilaku yang tulus dan ikhlas dalam menolong pasien. Seorang dokter harus mampu meletakkan kepentingan pasien di atas kepentingan dirinya sendiri.

Dalam lingkungan kerja rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Immanuel, tentu kita mengenal semboyan ‘heman, geten, ka papancen’. Artinya adalah penuh kasih sayang, perhatian, dan telaten dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Semboyan tersebut sudah sepantasnya menjadi semangat bagi kita semua sebagai tenaga kesehatan. Semboyan yang sungguh mengena ini juga sudah selayaknya mampu mempersatukan seluruh dokter, perawat, dan juga karyawan yang berada di lingkungan rumah sakit.

Seperti kita ingin diperlakukan, demikianlah kita harus memperlakukan orang lain. Kita wajib memperlakukan pasien, bahkan setiap orang, dengan penuh kasih. Bila kita mampu berempati dan berbicara dengan santun, orang lain pasti akan semakin menghargai kita. Sebagai seorang dokter, tentu kita juga harus perhatian dan telaten. Kita harus sabar dan teliti dalam menghadapi penyakit maupun kebutuhan pasien. Hanya melalui ketelitianlah, maka kita bisa mengerjakan sesuatu dengan paripurna.

Dokter yang baik juga harus memiliki ilmu yang bermanfaat dan berdaya guna. Kita tak boleh bosan untuk belajar dan belajar lagi. Kita patut mengakui dengan rendah hati bahwa masih ada banyak hal yang belum sempurna dalam diri kita. Ilmu merupakan suatu fondasi yang mendasari karya kita sebagai tenaga kesehatan. Melalui ilmu inilah, kita dapat menegakkan diagnosis dan merencanakan tatalaksana yang tepat untuk pasien. Semakin banyak diagnosis yang kita pelajari, semakin banyak pula penyakit yang dapat kita tangani.

Meski telah menguasai berbagai ilmu dan teori, kita masih membutuhkan satu hal lagi untuk menggenapi peranan kita sebagai seorang dokter. Apakah itu? Jawabannya sudah pasti keterampilan yang cakap dan kompeten. Keterampilan yang cakap dan kompeten tersebut hanya dapat dicapai apabila kita mau berlatih terus menerus tanpa kenal lelah. Kita tak boleh berputus asa, apalagi menghindari kewajiban.

Kita selalu diingatkan mengenai perumpamaan tanah liat. Untuk menjadi sebuah guci yang indah, segumpal tanah liat haruslah mau dibakar, ditempa, dan dibentuk sedemikian rupa oleh sang pengrajin. Demikian juga bila kita ingin menjadi seorang dokter yang sukses. Kita harus menerima untuk melalui suatu perjuangan yang panjang dan berat. Kita perlu ditempa oleh para dokter yang lebih berpengalaman.

Melihat sebegitu banyak kewajiban yang mesti diemban sebagai seorang koasisten, kami merasa begitu dihargai. Ini menjadi bukti bahwa kami telah dipercayai untuk turut bekerja dan berkarya di lingkungan Rumah Sakit Immanuel. Walau begitu, ada kalanya kami menjadi berkecil hati. Takut, bila kami tak bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh para dosen dan dokter. Cemas, kalau-kalau kami tak dapat membanggakan orang tua dengan hasil belajar kami. Khawatir, amat, bila kami sampai lalai dalam mengerjakan setiap kewajiban.

Dahulu ketika duduk di bangku perkuliahan, kami cukup hanya mendengarkan dan mencatat teori yang diberikan oleh para dosen. Kami semata-mata harus banyak membaca untuk mencari ulasan terbaru dari suatu penyakit maupun metode pengobatannya. Lalu kami juga diberikan berbagai kasus rekaan. Tentunya kasus rekaan tersebut akan lebih mirip dengan teori dan kepustakaan yang telah ada. Namun kini berbeda, kami harus menghadapi pergumulan nyata. Kami mesti melihat kondisi pasien dan melakukan tindakan secara langsung. Ini semua supaya nantinya kami benar-benar mampu berperan sebagai seorang dokter di masyarakat.

Komunikasi yang baik adalah sarana paling efisien yang akan menghubungkan kami dengan pasien. Perilaku adalah pijakan kami dalam kehidupan sosial di lingkungan rumah sakit. Tanpa perilaku yang baik, segala macam ilmu pun tak akan berguna. Kesombongan adalah awal dari suatu kehancuran. Ketekukan akan merajut kesuksesan.

Walaupun ada begitu banyak tantangan, kami yakin bahwa tiada kesulitan yang dirancangkan Tuhan tanpa bisa kami selesaikan. Dari setiap hal yang dikurangkan bagi kita, akan ditambahkan oleh-Nya. Kami ingin terus berkarya dan memelihara kesehatan banyak orang. Saat ini kami memang tidak ada apa-apanya. Benar, kami hanyalah suatu hal sepele. Kami bagaikan segumpal tanah liat yang menanti untuk dibentuk menjadi guci yang indah oleh Sang Pengrajin.

Read Full Post »

clo_tet2

1. Penatalaksanaan terhadap Invasi Toksin

  • Antibiotik: memberantas kuman tetanus bentuk vegetatif
  • Beta laktam: penisilin G, ampisilin, karbenisilin, tikarsilin, dan lain-lain
  • Kloramfenikol, metronidazol, aminoglikosida, sefalosporin generasi III
  • Drug of choice: penisilin atau metronidazol

Penisilin G: 100.000 U/kgBB/hari IV (10-14 hari)
Metronidazole: loading dose 15 mg/kgBB (1 jam I), dilanjutkan 7,5 mg/kgBB selama 1 jam per infus (tiap 6 jam)
Sebelum diagnosis ditegakkan dapat diobati lebih dahulu dengan: ampisilin 150mg/kg/hari, kanamisin 15 mg/kgbb/hari

Perawatan Luka

  • Debridement: dibersihkan dari benda asing (setelah pemberian antitoksin dan sedatif)
  • Luka dibiarkan terbuka
  • Tali pusat dapat dibersihkan dengan hidrogen peroksida
  • Omfalektomi (bila perlu)

2. Netralisasi Toksin

  • Serum Antitetanus
    • Dosis: 50.000-100.000 U, setengah dosis secara IM, setengahnya diberikan IV
    • Neonatus: 10.000 unit IV
  • Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG)
    • Dosis: 3000-6000 U secara IM
    • Pengobatan utama, harus diberikan sesegera mungkin

3. Menekan Efek Toksin pada SSP

  • Benzodiazepin (drug of choice)
    • Diazepam: penenang, antikejang, pelemas otot yang kuat
    • Neonatus: 0,3-0,5 mg/kgBB/kali
    • 0,1-0,3 mg/kgBB/kali tiap 2-4 jam IV
  • Barbiturat
    • Fenobarbital IM: 30 mg tiap 8-12 jam
    • Fenobarbital IV: 5 mg/kgBB/hari, dilanjutkan 1 mg/kgBB tiap 10 menit hingga otot perut relaksasi dan spasme berkurang
    • Bersama diazepam: 10 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis (nasogastrik)
  • Fenotiazin
    • Klorpromazin: 12,5 mg IM 4x sehari

Penatalaksanaan Umum

Dirawat di rumah sakit

  • Ruangan yang tenang: unit perawatan intensif neonatus dengan stimuli minimal
  • Letakkan penderita di bawah penghangat dengan suhu 36,2-36,5 °C
  • Infus glukosa 10%
  • Elektrolit 100-125 ml/kgBB/hari
  • Nutrisi: ASI 50 mg/kgBB/hari atau 120 kal/kgBB/hari, dinaikkan bertahap
  • Pemberian oksigen melalui kateter hidung
  • Isap lendir dari hidung dan mulut
  • Trakeostomi bila terjadi obstruksi saluran napas atas akibat spasme atau sekret yang tidak hilang dengan pengisapan, dilakukan pada bayi > 2bulan
  • Neonatus: intubasi endotrakea

Sumber:

Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak edisi 3, FKUP/RSHS
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Infeksi dan Penyakit Tropis, edisi 1, IDI

Read Full Post »

Definisi

  • Informed”: telah mendapat penjelasan atau keterangan (informasi)
  • Consent”: persetujuan atau memberi izin
  • Informed consent”: suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi.
  • Persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta risiko yang berkaitan dengannya.
  • Asal

Persetujuan tindakan medik berasal dari hak asasi pasien dalam hubungan dokter-pasien yaitu:

  • Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
  • Hak untuk mendapatkan informasi

Aspek Hukum

  • Dokter dan pasien: subjek hukum
  • Jasa tindakan medis: objek hukum
  • Kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan pasien: harus dipertanggungjawabkan secara hukum
  • Tindak medis tanpa persetujuan pihak pasien: pasal 1365 KUHPer
  • Tindakan medis invasif (pembedahan, radiologi invasif) tanpa izin pihak pasien: penganiayaan (Pasal 351 KUHP)

 

Unsur Penting

  • Hubungan dokter pasien berdasarkan kepercayaan
  • Hak autonomi penderita untuk menentukan sikap setelah menerima penjelasan berdasarkan pengertian dan tanpa tekanan
  • Ikatan perjanjian untuk melakukan tindakan medis berdasarkan standar baku yang berlaku (Faden & Beauchamp, 1986)

 

Fungsi Informed Consent

  1. Penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia
  2. Promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri
  3. Mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien
  1. Menghindari penipuan dan misleading oleh dokter
  2. Mendorong pengambilan keputusan yang lebih rasional
  3. Mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan
  4. Edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan

 

 

Cakupan Informed Consent

  1. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai tindakan, terapi dan penyakitnya
  2. Pasien harus diberi tahu tentang hasil terapi yang diharapkan dan seberapa besar kemungkinan keberhasilannya
  3. Pasien harus diberi tahu mengenai beberapa alternatif yang ada dan akibat apabila penyakit tidak diobati
  4. Pasien harus diberi tahu mengenai risiko apabila menerima atau menolak terapi.
    • Risiko: efek samping obat, tindakan pemeriksaan dan operasi yang dilakukan

 

Penerapan Informed Consent

Dalam kasus-kasus:

  • Pembedahan/operasi
  • Pengobatan dengan teknologi baru yang sepenuhnya belum dipahami efek sampingnya
  • Terapi atau obat yang kemungkinan banyak efek samping, misal terapi dengan sinar laser
  • Penolakan oleh klien
  • Riset dan eksperimen dengan berobjekan pasien.

 

Tiga Elemen Informed Consent

  1. Threshold elements
  • Syarat: pemberi consent haruslah seorang yang kompeten (cakap)
  • Dewasa, sadar, berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan
  • Dewasa: 21 tahun atau telah pernah menikah
  1. Information elements (informasi)
  • Disclosure (pengungkapan): oleh tenaga medis
  • Understanding (pemahaman): oleh pasien
  • Tenaga medis harus memberikan informasi sehingga pasien dapat mencapai pemahaman adekuat
  1. Consent elements
  • Voluntariness (kesukarelaan, kebebasan)
  • Authorization (persetujuan)
  • Kesukarelaan: tak ada tipuan, salah representasi, ataupun paksaan
  • Bebas dari tekanan tenaga medis yang seolah akan mengabaikan pasien bila menolak tawarannya

Bentuk Informed Consent

  1. Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu:
    Persetujuan tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung risiko besar, sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung risiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis serta risiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent)
  2. Persetujuan lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat noninvasif dan tidak mengandung risiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien
  3. Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya.

Proxy Consent 

Consent yang diberikan oleh orang yang bukan pasien itu sendiri, dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara pribadi, dan consent tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien, bukan untuk kebaikan orang banyak.

Umumnya yang dapat memberi proxy consent adalah suami atau istri, anak, orang tua, saudara kandung, dan seterusnya. Proxy consent hanya boleh dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan ketat.

Hal-hal yang diinformasikan dalam informed consent:

  1. Hasil pemeriksaan
  2. Risiko
  3. Alternatif
  4. Rujukan atau konsultasi
  5. Prognosis

Kasus Kegawatdaruratan dan Informed Consent

Penting untuk didokumentasikan keadaan yang terjadi saat gawat darurat. Pada keadaan tersebut, dokter harus mencatat hal-hal berikut ini:

  • Penanganan untuk kepentingan pasien
  • Terdapat situasi gawat darurat
  • Keadaan tak memungkinkan untuk mendapat persetujuan dari pasien atau dari orang lain yang memegang autoritas atas nama pasien

Keluhan pasien dan dokter terhadap informed consent:

Keluhan pasien:

  • Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan terlalu teknis
  • Perilaku dokter yang terlihat terburu-buru atau tidak perhatian, atau tidak ada waktu untuk tanya jawab
  • Pasien sedang berada dalam keadaan stres emosional sehingga tak mampu mencerna informasi
  • Pasien dalam keadaan tidak sadar atau mengantuk

Keluhan dokter:

  • Pasien tidak mau diberi tahu
  • Pasien tak mampu memahami
  • Risiko terlalu umum atau terlalu jarang terjadi
  • Situasi gawat darurat atau waktu yang sempit

 

Sumber:

Guwandi, J. 2004. Informed Consent. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Guwandi, J. 1994.Tanya Jawab Persetujuan Tindakan Medis. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Faden, Ruth R., and Tom L. Beauchamp. 1986. A History and Theory of Informed Consent. New York: Oxford University Press.
http://plato.stanford.edu/entries/informed-consent/

http://www.slideshare.net/yabniellitjingga/informed-consent2222

http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/regulasi/permenkes/permenkes-512.pdf

Read Full Post »

Epidemiologi

  • Diperkirakan 200 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit ini
  • 1/3 wanita dan 1/5 pria > 50 tahun
  • 40% penderita wanita dan 15-30% penderita pria akan mengalami patah tulang
  • Penuaan populasi di seluruh dunia berpengaruh pada peningkatan pesat insidensi osteoporosis

Prevalensi Osteoporosis di Indonesia

  • PEROSI (2007): prevalensi 28,8% pada pria, 32,3% pada wanita
  • Depkes: prevalensi osteoporosis 19,7%
  • Prevalensi osteopenia 41,7%
  • Fraktur inisial akan menjadi faktor risiko untuk fraktur baru
  • Pasien dengan fraktur vertebra: 2-3x berisiko mengalami fraktur panggul, 1,4x berisiko mengalami fraktur distal lengan

Fraktur Tulang Belakang

  • Di Eropa: prevalensi meningkat sebanyak 12% untuk masing-masing jenis kelamin
  • Pada pria lebih sering karena trauma pekerjaan
  • Fraktur baru lebih sering terjadi pada pertengahan toraks atau torakolumbalis.
  • Angka kejadian: 10,7/1000 wanita, 5,7/1000 pria berusia standar

Fraktur Tulang Panggul

  • Dapat menyebabkan kecacatan serius
  • Meningkatkan mortalitas sebesar 10-20%
  • Insidensi di seluruh dunia sekitar 1,7 juta
  • Biasa pada usia > 50 tahun

Fraktur Pergelangan Tangan

  • Lebih sering pada wanita > 65 tahun
  • Peningkatan insidensi pada usia 46-60 tahun
  • Hanya 15% terjadi pada pria (1,7/1000 pria/tahun)
  • Pada wanita: 7,3/1000 wanita/tahun

Faktor Risiko yang Tak Dapat Dimodifikasi

  • Usia: daya serap kalsium akan menurun seiring bertambahnya usia
  • Gender: wanita kehilangan massa tulang 30-50%, pria hanya 20-30%
  • Genetik: menentukan kepadatan tulang
  • Gangguan hormonal: menopause (estrogen <<), pria yang mengalami defisit testosteron (di tubuh nantinya juga akan diubah menjadi estrogen)
  • Gangguan hormonal lain seperti tiroid, paratiroid, insulin dan glukokortikoid

    • Insulin:
      • Diabetes I: massa tulang <<
      • Diabetes II: massa tulang >>, tetapi risiko fraktur >>
    • Paratiroid: resorpsi tulang untuk meningkatkan kalsium darah, meningkatkan penyerapan kalsium usus, meningkatkan reabsorbsi kalsium di ginjal
    • Glukokortikoid: menurunkan rentang waktu hidup osteoblas dan osteosit
  • Penurunan hormon estrogen secara fisiologik dimulai dari usia 35-65 tahun -> masa klimakterium
  • Ras kulit putih

Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi

  • Imobilitas: berakibat pada pengecilan tulang dan pengeluaran kalsium dari dalam tubuh
  • Postur tubuh kurus: mempengaruhi tingkat pencapaian massa tulang
  • Kebiasaan (alkohol, rokok, kopi, kafein, soda): berpotensi mengurangi penyerapan kalsium ke dalam tubuh
  • Asupan gizi rendah (kalsium, fosfor, seng, vit B6, C, D, K, fitoestrogen)
  • Kurang terkena sinar matahari: pembentukan vit D3 di kulit <<
  • Kurang aktivitas fisik: menghambat proses pemadatan massa tulang dan kekuatan tulang, tetapi tak boleh juga olahraga berlebih

 

Kortikosteroid: reduksi formasi tulang dan kelangsungan hidup osteoblas dan osteosit
Antikonvulsan: induksi enzim hepar -> 25 hidroksivitamin D menjadi metabolit inaktif

Antikoagulan: hambat vit K
Vitamin C: maturasi osteoblas untuk menjadi sel pembangun yang aktif

Vitamin B6: peran dalam metabolisme metionin menjadi sistein. Apabila kurang, maka akan tertimbun banyak homosistein. Homosistein akan menstimulasi osteoklas, tetapi tidak pada osteoblas. Hal ini akan mengakibatkan resorpsi tulang. Selain itu homosistein akan mengganggu ikatan silang kolagen yang merupakan penyusun matriks ekstraselular

Vitamin K2: menghambat apoptosis osteoblas dan memelihara jumlah osteoblas

Sumber:

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1142/MENKES/SK/XII/2008 tentang Pedoman Pengendalian Osteoporosis
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/124731-S-5792-Faktor-faktor%20yang-Pendahuluan.pdf
http://www.iofbonehealth.org/epidemiology

http://www.niams.nih.gov/Health_Info/Bone/Osteoporosis/Conditions_Behaviors/diabetes.asp

http://www.australianprescriber.com/magazine/31/2/45/9/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20226391

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17906277
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22025246

Read Full Post »

Kategori Triage

Prioritas 1 (Emergensi)

  • Pasien dengan kondisi mengancam nyawa, memerlukan evaluasi dan intervensi segera
  • Pasien dibawa ke ruang resusitasi
  • Waktu tunggu 0 (Nol)

Contoh:

  • Perdarahan berat
  • Asfiksia (pada tension pneumothorax, flail chest), cedera servikal, cedera pada maxilla
  • Trauma kepala dengan koma dan proses syok yang cepat
  • Fraktur terbuka (compound)
  • Luka bakar > 30 % (extensive burn)
  • Syok tipe apa pun

Prioritas 2 (Urgent)

  • Pasien dengan penyakit yang akut
  • Mungkin membutuhkan trolley, kursi roda, atau jalan kaki
  • Waktu tunggu 30 menit
  • Area critical care

Contoh:

  • Trauma toraks nonasfiksia
  • Fraktur tertutup pada tulang panjang
  • Luka bakar terbatas
  • Cedera pada bagian / jaringan lunak

Prioritas 3 (Non-urgent)

  • Pasien biasanya dapat berjalan dengan masalah medis yang minimal
  • Kondisi yang timbul sudah lama (luka lama atau yang sudah ada)
  • Area ambulatori atau ruang P3
  • Injuri minor: luka lecet, luka memar, fraktur ekstremitas atas, demam, dan lain-lain

 

Prioritas 0 (Kasus Meninggal)

  • Tidak ada respons terhadap semua rangsangan
  • Tidak ada respirasi spontan
  • Tidak ada bukti aktivitas jantung
  • Tidak ada respons pupil terhadap cahaya

Algoritma START pada Dewasa 

StartAdultTriageAlgorithm

Algoritma JumpSTART Pediatri

StartPediatricTriageAlgorithm

Casualty Collection Point

  • Casualty Collection Point atau Field Treatment Site merupakan lokasi dalam yurisdiksi (lingkungan hak dan kewajiban korban dan tim penolong)
  • Dipakai untuk unit penolong, triage, stabilisasi medis, dan evakuasi korban lanjutan.
  • Wilayah ini dapat digunakan untuk penerimaan sumber daya medis yang masuk (dokter, perawat, persediaan, dan lain-lain).
  • Sebaiknya situs mencakup atau berdekatan dengan area terbuka yang dapat digunakan sebagai landasan helikopter atau akses bantuan.

 

Kriteria CCP

  • Dekat dengan rumah sakit (terjangkau oleh staf, memudahkan pengiriman pasokan)
  • Dekat dengan daerah-daerah yang paling mungkin memiliki sejumlah besar korban.
  • Distribusi lokasi di seluruh yurisdiksi.
  • Kemudahan akses untuk staf, perlengkapan, dan korban.
  • Kemudahan evakuasi (darat, air, udara)
  • Kemampuan pemanfaatan sejumlah besar ruang terbuka sehingga penggunaan langsung bangunan tidak perlu.
  • Tak digunakan sebagai tempat perawatan massa dan penampungan
  • Kemampuan untuk mengamankan daerah tersebut.

 

Sumber:

Einav S, Feigenberg Z, Weissman C, et al. Evacuation priorities in mass casualty terror-related events. Ann Surg 2004; 239(3): 304-310. Melalui http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1356226/

https://enkripsi.wordpress.com/2011/10/06/refleksi-tentang-triage-baca-triase/

http://puskesmas-oke.blogspot.com/2008/12/sejarah-konsep-dan-kategorisasi-triage.html

http://bencana-kesehatan.net/

http://chemm.nlm.nih.gov/startadult.htm

http://chemm.nlm.nih.gov/startpediatric.htm

http://www.smgov.net/departments/oem/sems/operations/casualty-collection-point-field-treatment-site.pdf

Read Full Post »

Older Posts »